Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 PEDAGOGI EKOLOGI MENURUT ENSIKLIK LAUDATO SIAo DAN UPAYA MENGHIDUPINYA OLEH KELOMPOK MINAT FRATER PENCINTA ALAM DI KOMUNITAS RITAPIRET Petrus Sina. Jean Loustar Jewadut. Dominikus Sinyo Darling Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero pedrosinadasilva@yahoo. jewadutj@gmail. sinyodarling@gmail. Abstract The ecological crisis haunts modern human life. This crisis emerged as a result of human paradigms and exploitative behaviour towards In the face of the ecological crisis, creative and massive ecological pedagogy to enlighten all parties so that it leads to changes in environmentally friendly lifestyles is an urgent need. This article was written to explore the rich meaning of ecological pedagogy in the Encyclical Laudato Si' and reviewing the form of involvement of the Brother Lovers of Nature (Frapal. interest group at St. Peter Interdiocesan Major Seminary in Ritapiret in implementing ecological pedagogy at the level of pastoral practice. Using qualitative research methods, ecological pedagogy in the Encyclical Laudato Si' understood as an effort to save the environment through education, which is not only limited to theory, but continues to the concrete practice of saving the environment. Ecological pedagogy occurs within the family, educational institutions, and community The Frapala interest group in Ritapiret community seeks to live out ecological pedagogy by celebrating ecological liturgical celebrations, carrying out ecological kerygma, and realizing ecological diakonia. Through this involvement, humans become increasingly aware of the nature of the universal community of all created beings, namely that all creation is interconnected and influences each other. Keywords: ecological pedagogy. Laudato SiAo. PENDAHULUAN Kisah kunjungan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia dan Dili menjadi sebuah catatan historis yang akan diwariskan secara turun temurun untuk setiap Banyak orang merefleksikan kunjungan apostolik tersebut dan mengambil inspirasi darinya. Salah satu hal menarik dalam peristiwa kunjungan apostolik tersebut ialah kehadiran burung merpati. Saat kelompok musik di Istana Merdeka. Indonesia memainkan mars kepausan, tiba-tiba kawanan merpati putih muncul di udara. Pemandangan seperti itu tergolong langka dan tentu dapat ditafsir Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 dari sudut pandang yang berbeda-beda. Kehadiran burung merpati juga terjadi dalam kunjungan apostolik ke Dili. Seekor burung merpati putih terbang menghampiri mobil Paus lalu hinggap di bagian atap kiri kabin penumpang. Seorang penumpang menangkap lalu melepasnya terbang ke udara. Namun, merpati itu terbang kembali mendekati Bapa Suci dan hinggap di bawah kursinya. Kejadian seperti ini tergolong tidak biasa. Kehadiran burung merpati dalam kunjungan apostolik Paus Fransiskus dapat dimaknai dari perspektif ekologis. Fransiskus, namanya sebagai Paus yang diambil dari nama Santo Fransiskus Asisi, memberikan signal bahwa dirinya akan menjadi seorang Paus yang sederhana dan bersahabat dengan semua ciptaan. Belajar dari St. Fransiskus Asisi. Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk menyapa ciptaan lain sebagai saudara yang mesti dihargai dan dilestarikan. Kehadiran merpati seakan-akan mewakili kehadiran makhluk ciptaan lainnya untuk membawa pesan kepedulian dan solidaritas ekologis. Paus Fransiskus dikenal sebagai sosok yang mempunyai perhatian serius terhadap lingkungan dan kondisi kehidupan manusia. Perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, kerusakan hutan, dan polusi menciptakan krisis lingkungan. Lebih dari itu, krisis lingkungan juga memicu krisis sosial, ekonomi, dan budaya untuk manusia. Oleh karena itu. Paus Fransiskus menerbitkan Laudato SiAo . dan Laudate Deum . sebagai tanggapan atas beragam kerusakan lingkungan dan kondisi kehidupan manusia. Krisis ekologi berdampak bagi semua orang dan karena itu menuntut keterlibatan semua kalangan. Menurut Paus Fransiskus, kompleksitas krisis ekologi menuntut upaya integral yang melibatkan berbagai pihak, termasuk Gereja Katolik (LS . Krisis ekologi yang berakar pada paradigma dan perilaku manusia yang eksploitatif terhadap alam mesti disikapi oleh Gereja sebagai sebuah institusi yang bertanggung jawab dalam membentuk etika dan moralitas manusia sehingga bisa melibatkan diri dalam gerakan global untuk melestarikan lingkungan. Dalam konteks ini, pedagogi ekologi yang kreatif dan masif dapat mencerahkan semua pihak dan menjadi kebutuhan yang mendesak. Pedagogi ekologi menjadi fundamen bagi perubahan gaya hidup yang ramah lingkungan. Dalam Ensiklik Laudato Si', artikel 209Ae215. Paus Fransiskus memperkenalkan konsep pedagogi ekologi. Paus Fransiskus menyadari bahwa pendidikan kadangkadang hanya memberikan pengetahuan dan tidak membangun kebiasaan baik untuk membentuk kewarganegaraan ekologis. Aturan dan undang-undang tidak cukup untuk menghentikan perilaku buruk dalam jangka panjang, bahkan dengan kontrol yang efektif. Sebagian besar warga harus mendorong peraturan hukum dan mengubah diri mereka sendiri agar memiliki dampak signifikan dalam jangka Paus juga mengatakan bahwa sangat mulia untuk melakukan hal-hal kecil Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 setiap hari untuk menjaga ciptaan dan adalah sangat mengagumkan bahwa pendidikan dapat mendorong orang untuk menjadikannya sebagai gaya hidup. Dalam konteks pedagogi ekologi. Paus Fransiskus berharap bahwa rumahrumah pembinaan hidup bakti dan seminari-seminari memberikan pelatihan keugaharian yang bertanggung jawab, yang memungkinkan orang untuk memikirkan dunia dengan penuh rasa syukur, dan untuk memperhatikan lingkungan hidup dan kerapuhan orang miskin. Sesuai dengan harapan Paus Fransiskus, kebutuhan urgen di setiap seminari ialah pembentukan kelompok pencinta alam sebagai garda terdepan yang memberikan teladan perawatan lingkungan hidup bagi semua anggota komunitas. Sesuai dengan namanya yaitu kelompok pencinta alam, kelompok ini memiliki minat dan perhatian yang serius terhadap masalah lingkungan hidup, baik dalam konteks internal seminari maupun konteks eksternal dalam hubungan dengan masyarakat luas. Kelompok ini berupaya menghidupi pedagogi ekologi yang termanifestasi dalam program-program kerja yang bernuansa ekologis. Beberapa peneliti sudah mengulas tema tentang pedagogi ekologi dengan fokus kajian yang berbeda-beda. Leonardo Franchi, dalam artikelnya, menegaskan bahwa pedagogi ekologi menawarkan kemungkinan adanya sudut pandang baru melalui komunitas Katolik, yang dapat mengkaji kembali maksud dan tujuan pendidikan Katolik. Untuk melakukan hal ini, pertama-tama perlu menempatkan pedagogi ekologi dalam konteks pemahaman Gereja yang terus-menerus mengenai inti ajaran pendidikan sambil memikirkan apa yang diperlukan oleh para pembuat kebijakan di lapangan. Menurut Franchi, pendidikan ekologi dapat berkontribusi pada perwujudan nilai humanisme integral (Franchi, 2016:1-. Maria F. Loffredo Roca dan Peter Blaze Corcoran menegaskan bahwa proses pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam mengupayakan perwujudan cita-cita Ensiklik Laudato Si' dan wawasannya yang kuat tentang kepedulian terhadap bumi sebagai rumah bersama. Dalam hal ini, pendidikan ekologi penting diupayakan, baik melalui jalur formal, non-formal, maupun pendidikan berbasis media agar pesan mendalamnya tidak hilang dalam dunia yang ditandai oleh perkembangan pesat di bidang media dan informasi (Roca dan Corcoran, 2021:69-. Lebih jauh. John Ken R. Francisco dan Niyo Randy C. Flores mengkaji peran lembaga-lembaga pendidikan dalam Jaringan Sekolah CICM Filipina untuk mengintegrasikan prinsip-prinsip ekologi Laudato SiAo dalam hal pengajaran agama, keterlibatan masyarakat, dan program pelayanan kampus (Francisco dan Flores, 2024:287-. Hal yang kurang mendapat perhatian pada kajian terdahulu ialah menghubungkan gagasan pedagogi ekologi dalam Ensiklik Laudato SiAo dengan kiprah organisasi yang memiliki perhatian khusus terhadap persoalan lingkungan Penelitian ini berusaha menjawab dua rumusan masalah, yaitu bagaimana Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 gagasan pedagogi ekologi dalam Ensiklik Laudato SiAo? dan bagaimana bentuk keterlibatan kelompok minat Frater Pencinta Alam (Frapal. di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus. Ritapiret-Maumere dalam menghidupi pedagogi ekologi? Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan menggali kekayaan makna pedagogi ekologi dalam Ensiklik Laudato SiAo dan meninjau bentuk keterlibatan kelompok minat Frater Pencinta Alam (Frapal. di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus dalam menghidupi pedagogi ekologi pada tataran praksis pastoral. II. PEMBAHASAN Kajian Teori Latar Belakang Masalah Penulisan Ensiklik Laudato SiAo Paus Fransiskus mempunyai perhatian yang besar terhadap lingkungan dan kondisi kehidupan manusia. Perubahan iklim, penipisan lapisan ozon, kerusakan hutan, dan polusi menciptakan krisis lingkungan. Lebih dari itu, krisis lingkungan juga memicu krisis sosial, ekonomi, dan budaya untuk manusia. Oleh karena itu. Paus Fransiskus menerbitkan Laudato SiAo sebagai tanggapan atas beragam kerusakan lingkungan dan kondisi kehidupan manusia. Pasca penerbitan. Laudato SiAo mendapatkan banyak tanggapan. Sejumlah media massa mengakui Laudato SiAo sebagai sebuah terobosan baru dalam Gereja. Mikayla Doff . mengakui bahwa melalui Ensiklik Laudato SiAo. Paus Fransiskus menginspirasi umat manusia untuk menyelamatkan diri sendiri dengan cara menyelamatkan nasib lingkungan Ensiklik Laudato SiAo disebut sebagai salah satu peristiwa paling signifikan dalam gerakan lingkungan hidup modern (Tropea-Gray, 2017:. Laudato SiAo tidak hanya memengaruhi orang-orang Katolik di seluruh dunia. Namun, juga cukup banyak memengaruhi kebijakan dan kesepakatan geopolitik. Laudato SiAo, telah memengaruhi kesepakatan Paris yang membahas masalah tentang perubahan iklim (Burke, 2016:3-. Sebelum itu. Laudato SiAo telah memengaruhi para Uskup di Amerika Serikat untuk menyuarakan dan menuntut komitmen global atas kerusakan lingkungan hidup. Selain itu, seperti dikutip oleh Yohanes Wahyu Prasetyo. Ensiklik Laudato SiAo telah menjadi pendorong dasar atas suara-suara pastoral keuskupan-keuskupan di Amerika Serikat (Prasetyo, 2. Ensiklik Laudato SiAo ditulis dengan latar belakang keprihatinan Paus Fransiskus terhadap kerusakan lingkungan hidup dan penurunan kualitas hidup manusia yang ditandai oleh sikap eksploitatif terhadap kekayaan alam. Tentang hal ini. Paus Fransiskus menulis: AuSaudari kita sekarang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena penggunaan dan penyalahgunaan kita yang tidak bertanggung jawab atas kekayaan yang telah diletakan Allah di dalamnyaAy (LS . Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Di sini. Paus Fransiskus menyoroti kerusakan alam yang disebabkan oleh gaya hidup manusia yang dipengaruhi paham antroposentrisme dan teknokratisme, yang kemudian terwujud dalam sistem ekonomi kapitalis liberal. Manusia berusaha untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dengan mengorbankan keutuhan alam. Paus Fransiskus melihat bahwa kerusakan alam ini tidak hanya menghancurkan alam, tetapi juga berdampak bagi manusia. Tentang hal ini. Paus Fransiskus menulis: AuOleh karena itu, bumi terbebani dan hancur, termasuk kaum miskin yang paling kita abaikan dan lecehkanAy (LS . Lebih lanjut. Paus Fransiskus menulis: AuSesungguhnya kerusakan lingkungan hidup dan kemerosotan masyarakat lebih mempengaruhi mereka yang paling lemah di bumi: baik pengalaman hidup sehari-hari maupun penelitian ilmiah menunjukkan bahwa dampak terburuk dari semua serangan terhadap lingkungan diderita oleh kaum miskinAy (LS . Paus Fransikus melihat bahwa kelompok yang paling rentan akibat kerusakan lingkungan adalah orang-orang miskin. Karena itu, secara khusus Paus Fransikus memberikan atensi terhadap dampak kerusakan lingkungan pada orangorang miskin. Paus menyadari bahwa orang-orang miskin tidak mempunyai jaminan perlindungan diri dari dampak negatif kerusakan lingkungan. Dengan demikian, orang-orang miskin menjadi korban pertama dari kerusakan lingkungan. Paus Fransiskus dalam Laudato SiAo menyadarkan masyarakat dunia bahwa kerusakan lingkungan dan kemerosotan hidup manusia saling berkaitan. Kerusakan lingkungan memengaruhi kehidupan manusia. Perubahan iklim, misalnya, menimbulkan kekeringan yang berdampak untuk petani. Polusi udara membunuh anak-anak yang terkontaminasi. Penebangan pohon berdampak pada kekurangan pasokan udara segar untuk manusia. Pada titik ini. Laudato SiAo tidak hanya membahas persoalan lingkungan secara sempit, melainkan menyentuh persoalan yang lebih luas, yakni martabat Ensiklik ini mengkritik mentalitas manusia modern yang cenderung mengedepankan dominasi melalui teknologi, serta struktur kekuasaan yang timbul Paus Fransiskus menyerukan perlunya mencari cara-cara alternatif dalam menata perekonomian dan pembangunan yang lebih adil, mengakui nilai intrinsik yang dimiliki setiap makhluk, serta menumbuhkan pemahaman ekologi yang Paus juga menekankan pentingnya musyawarah yang jujur dan penuh kehati-hatian, kewajiban serius dari kebijakan internasional maupun lokal, meninggalkan budaya membuang, serta mengusulkan gaya hidup sehat dan berkelanjutan (Jose, 2021:. Lebih lanjut, menurut Paus Fransiskus, upaya menyelamatkan lingkungan hidup harus berjalan beriringan dengan usaha memperbaiki nasib sesama, khususnya mereka yang miskin dan terpinggirkan. Dalam konteks misi Gereja. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Alexander Jebadu . merangkum bahwa inti misi Gereja kontemporer yang dipimpin oleh Paus Fransiskus mencakup dua pilihan fundamental, yaitu keberpihakan pada kaum miskin . ption for the poo. dan keberpihakan pada alam ciptaan . ption for creatio. Keduanya harus berjalan seiring, sambil mengkritik sistem ekonomi yang tidak adil, di mana kaum kaya kerap menjadi aktor utama dalam praktik-praktik yang menindas. Gambaran Umum Ensiklik Laudato SiAo Ensiklik Laudato SiAo terdiri atas enam bab yang membahas enam hal Pertama, tinjauan terhadap beberapa aspek dari krisis ekologi saat ini sebagai landasan konkret untuk perjalanan etis dan spiritual dalam hubungan dengan lingkungan hidup. Kedua, pertimbangan terhadap beberapa gagasan dari tradisi Yahudi-Kristen yang mendukung komitmen penyelamatan terhadap lingkungan hidup. Ketiga, pertimbangan terhadap penyebab-penyebab krisis lingkungan hidup. Keempat, tawaran pendekatan ekologi integral yang menghormati posisi khas manusia dalam relasi dengan komponen-komponen lingkungan hidup. Kelima, tawaran untuk mengadakan dialog dan tindakan praktis untuk menyelamatkan lingkungan hidup yang juga melibatkan kekuatan politik Keenam, tawaran tentang panduan untuk pembinaan manusia yang diilhami oleh pengalaman spiritualitas Kristiani. Bab pertama Ensiklik Laudato SiAo berisikan pembacaan terhadap tandatanda zaman di antaranya polusi dan perubahan iklim, masalah air, hilangnya keanekaragaman hayati, penurunan kualitas hidup manusia dan kemerosotan sosial, ketimpangan global, tanggapan-tanggapan yang lemah, dan keragaman pendapat. Injil Dalam bab dua ini. Paus Fransiskus beralih dari uraian tentang berbagai masalah yang melanda dunia dan umat manusia ke pengembangan rencana perawatan yang berakar dalam iman dan Alkitab. Bab ini membahas topik tentang cahaya yang ditawarkan iman, hikmat cerita-cerita Alkitab, misteri alam semesta, pesan setiap makhluk dalam harmoni dengan seluruh ciptaan, persekutuan universal, tujuan umum harta benda, dan tatapan Yesus. Bab tiga berbicara tentang akar manusiawi krisis lingkungan. Paradigma teknokrasi dan antroposentrisme modern, serta bagaimana keduanya memengaruhi dunia menjadi fokus utama Paus Fransiskus. Paus menyarankan beberapa topik yang harus dibahas sebelum membuat keputusan. Bab ini membahas tema tentang teknologi sebagai bentuk kreativitas dan kuasa, globalisasi paradigma teknokratis, serta krisis dan dampak antroposentrisme modern. Bab ini juga meliputi diskusi tentang relativisme praktis, perlindungan lapangan kerja, dan teknologi biologis yang baru. Bab empat berbicara tentang pentingnya lingkungan. Dalam bab ini. Paus Fransiskus menjelaskan ekologi integral sebagai jenis ekologi yang memiliki dimensi manusiawi dan sosial. Berbagai jenis ekologi, seperti ekologi lingkungan. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 ekonomi, sosial, budaya, dan ekologi hidup sehari-hari juga dijelaskan dalam bab Kesejahteraan umum dan keadilan antargenerasi adalah dua prinsip utama yang mengakhiri bab empat ini. Bab lima berbicara tentang beberapa pedoman untuk orientasi dan tindakan. Setelah memberikan gambaran tentang apa yang terjadi di bumi dan tindakan manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Paus Fransiskus mengemukakan pendapatnya tentang beberapa rute utama yang dapat diambil manusia untuk menjauh dari kerusakan lingkungan. Pendekatannya dilakukan dalam beberapa aspek penting, antara lain dialog tentang lingkungan di tingkat masyarakat internasional. transparansi dalam pengambilan keputusan. baru di tingkat nasional dan lokal. agama dan ilmu pengetahuan. serta politik dan ekonomi untuk pemenuhan manusia. Bab enam membahas pendidikan dan spiritualitas ekologis. Bab ini membahas hal-hal penting seperti menuju gaya hidup yang baru, pendidikan untuk perjanjian antara manusia dan lingkungan, pertobatan ekologis, kegembiraan dan damai, cinta dalam hal sipil dan politik, tanda-tanda sakramental dan istirahat yang dirayakan. Allah tritunggal dan hubungan antara makhluk, ratu seluruh dunia ciptaan, dan melampaui matahari. Penyebab Krisis Ekologi Menurut Ensiklik Laudato SiAo Dalam Ensiklik Laudato SiAo. Paus Fransiskus melihat antropomorfisme dengan paradigma teknokratis sebagai penyebab kerusakan lingkungan hidup. Menurut Paus Fransiskus, model ini menempatkan manusia sebagai subjek dan alam sebagai objek. Manusia sebagai subjek memiliki prosedur yang logis dan rasional untuk mengontrol segala sesuatu di luar dirinya yang dipandang sebagai Inilah teknik kepemilikan dan penguasaan terhadap alam. Hubungan manusia dan alam semesta tidak lagi ditandai oleh keramahan. Tentang hal ini. Paus Fransiskus menulis bahwa manusia dan benda-benda alam tidak lagi mengulurkan tangan dengan ramah, hubungannya telah menjadi konfrontatif (LS . Paradigma seperti ini berdampak pada degradasi lingkungan hidup (LS . Dalam antroposentrisme modern, alam tidak dilihat sebagai ruang hidup yang diwarnai oleh keharmonisan antarciptaan yang menjadi bagian integral dari kehidupan manusia. Alam lebih dominan dilihat dan diperlakukan sebagai objek Atas dasar itu, menurut Paus Fransiskus, komitmen pelestarian lingkungan hidup mensyaratkan transformasi kemanusiaan. Tentang hal ini. Paus Fransiskus menulis bahwa tidak ada pembaruan hubungan dengan alam tanpa pembaruan kemanusiaan itu sendiri. Tidak ada ekologi tanpa antropologi yang memadai (LS . Paus Fransiskus membangkitkan kembali kesadaran kolektif bahwa antropomorfisme sama sekali tidak berakar pada pandangan iman Kristiani, tetapi berakar pada paradigma teknokratis. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Paus Fransiskus dengan tegas menyatakan bahwa pandangan KristianiYahudi justru mengedepankan aspek perawatan dan pelestarian lingkungan hidup sebagaimana terungkap secara jelas dalam kisah penciptaan (Kej. 1:1-. Tentang hal ini. Paus Fransiskus menulis bahwa manusia harus tegas menolak gagasan untuk menaklukan bumi (LS . Menurut Paus Fransiskus dalam konteks hermeneutika yang benar, narasi biblis justru mengundang manusia untuk mengusahakan dan memelihara taman eden (Kej. AuMengusahakanAy berarti menggarap, dan AumemeliharaAy berarti melindungi, menjaga, melestarikan, merawat, mengawasi (LS . Keyakinan manusia bahwa mereka adalah pusat tata ciptaan adalah penyebab kerusakan lingkungan hidup. Akibatnya, manusia merebut hak yang diberikan Tuhan atas alam ciptaan-Nya, yang sebenarnya mesti dijaga dan diolah dengan cara yang bijak untuk kebaikan bersama dan kelestarian alam. Paus Fransiskus menyebutnya dengan istilah antroposentrisme diktatorial (LS . Antroposentrisme memiliki tiga kekurangan utama. Pertama, paradigma antroposentrisme hanya melihat manusia sebagai komunitas sosial daripada makhluk ekologis yang identitasnya tidak terlepas dari alam dan turut dibentuk oleh alam (Keraf, 2006:x. Kedua, paradigma ini hanya melihat manusia sebagai makhluk sosial daripada makhluk ekologis. Akibatnya, karena alam tidak memiliki hak intrinsik yang harus dihormati secara etis, manusia dapat mengeksploitasi alam (Keraf, 2006:x. Ketiga, paradigma ilmu pengetahuan yang bercorak teknokratisreduksionistis mendukung paradigma antroposentrisme. Paradigma ini membedakan manusia sebagai subjek moral dan alam sebagai objek penelitian (Hukubun dan Apituley, 2023:. Pedagogi Ekologi Menurut Ensiklik Laudato SiAo Tidak dapat dipungkiri bahwa penyebab tindakan eksploitatif terhadap alam ialah pandangan dan perilaku manusia. Atas dasar itu, dibutuhkan pedagogi ekologi untuk mengubah paradigma dan memperbarui perilaku manusia agar menjadi lebih ramah terhadap lingkungan hidup. Paus Fransiskus memperkenalkan gagasan pedagogi ekologi dalam Ensiklik Laudato SiAo art. Tujuan pedagogi ekologi secara bertahap telah berkembang. Sekarang, pedagogi lebih cenderung mengkritik mitos modernitas yang berbasis utilitarianisme, seperti individualisme, persaingan, konsumerisme, kemajuan tanpa batas, dan pasar tanpa aturan. Pada awalnya, fokus pedagogi adalah mendorong pengetahuan ilmiah dan meningkatkan kesadaran akan bahaya lingkungan. Pemulihan keseimbangan ekologi di berbagai tingkat harus menjadi fokus pedagogi ekologi. Ini mencakup keseimbangan internal dengan dirinya sendiri, sosial dengan orang lain, alam dengan semua makhluk hidup, dan spiritual dengan Allah. Pedagogi lingkungan harus membuat manusia siap untuk menghadapi tekateki etika lingkungan. Selain itu, guru harus memiliki kemampuan untuk Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 membangun garis pedagogis untuk etika lingkungan yang membantu orang tumbuh dalam tanggung jawab, solidaritas, dan perawatan dengan penuh kasih (LS . Berbagai perilaku yang sangat penting untuk pelestarian lingkungan dapat dikembangkan melalui pendidikan tanggung jawab lingkungan, seperti menghindari penggunaan plastik dan kertas, mengurangi penggunaan air, memilah sampah, memasak secukupnya saja untuk dimakan, memperlakukan makhluk hidup lain dengan baik, menggunakan transportasi umum atau kendaraan bersama, menanam pohon, dan mematikan lampu yang tidak perlu. Itu semua merupakan bagian dari usaha kreatif yang memungkinkan manusia untuk memaksimalkan potensi terbaik mereka (LS . Pedagogi ekologi dapat ditemukan di banyak tempat, seperti sekolah, keluarga, dan masyarakat. Pedagogi ekologi juga dapat dibuat melalui media komunikasi dan dalam bentuk katekese. Pendidikan ekologi diharapkan dapat masuk dalam kurikulum sekolah. Reuel Rito N. Seyo menawarkan lima topik dari Ensiklik Laudato SiAo yang dapat dimasukkan dalam pendidikan ekologi di sekolah. Lima topik tersebut ialah ekologi integral, humanisme Kristen, mentalitas bersih saat beraktivitas, pentingnya kesabaran, keheningan, dan kedamaian (Seyo, 2018:. Paus Fransiskus ingin menekankan betapa pentingnya keluarga karena di situlah kehidupan, yang merupakan karunia Allah, dapat diterima dengan baik dan dilindungi dari berbagai ancaman, sehingga dapat berkembang dan memenuhi persyaratan pertumbuhan manusiawi yang sejati. Di tengah budaya kematian, keluarga adalah sanggar budaya kehidupan. Kebiasaan dasar yang mencintai dan melestarikan hidup ditanamkan dalam Penggunaan barang yang tepat, ketertiban dan kebersihan, rasa hormat terhadap lingkungan sekitar, dan kepedulian terhadap semua makhluk hidup adalah beberapa contoh dari ini. Keluarga adalah tempat penting untuk pendidikan dan tempat pematangan pribadi dibentuk (LS . Berbagai kelompok masyarakat, termasuk dunia politik, harus berusaha untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Gereja juga mengemban tugas yang sama. Setiap komunitas Kristen harus memainkan peran yang signifikan dalam pedagogi ekologi. Selain itu. Paus Fransiskus berharap bahwa rumah-rumah pembinaan hidup bakti dan seminariseminari memberikan pelatihan keugaharian yang bertanggung jawab, yang memungkinkan orang untuk memikirkan dunia dengan penuh rasa syukur, serta untuk memperhatikan lingkungan hidup dan kerapuhan orang miskin. Mengingat besarnya persoalan yang sedang dihadapi. Paus Fransiskus dalam Laudato SiAo menegaskan bahwa perlu adanya lembaga yang berwenang untuk menghukum mereka yang merusak lingkungan. Namun, tanggung jawab ini tidak semata-mata dibebankan kepada otoritas formal, setiap orang juga dipanggil untuk saling memantau dan mendidik satu sama lain dalam semangat ekologis (LS . Dalam konteks ini, hubungan antara pendidikan estetika yang baik dan Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 pelestarian lingkungan menjadi sangat penting. Mentalitas yang semata-mata berorientasi pada keuntungan praktis dapat dikikis melalui perhatian dan cinta terhadap keindahan. Seseorang cenderung memperlakukan alam sebagai objek yang bisa digunakan dan disalahgunakan tanpa rasa bersalah karena tidak pernah diajarkan untuk melihat dan menghargai keindahan. Paus Fransiskus menekankan bahwa perubahan perilaku manusia hanya dapat terjadi apabila didukung oleh transformasi pola pikir yang mendalam. Oleh sebab itu, pendidikan harus mampu menyebarkan paradigma baru tentang manusia, kehidupan, masyarakat, dan relasi dengan alam. Tanpa transformasi ini, cara pandang konsumeristik yang didukung oleh pasar dan media sosial akan terus mendominasi (LS . Pedagogi ekologi bertujuan untuk membangkitkan kesadaran akan hakikat persekutuan universal dari semua ciptaan Tuhan. Persekutuan ini mengacu pada relasi timbal balik yang erat antara seluruh komponen dalam tata ciptaan, di mana setiap makhluk hidup saling bergantung demi kesejahteraan bersama. Dalam pandangan Gaut . , kesejahteraan satu elemen ciptaan sangat bergantung pada keberlangsungan dan keseimbangan elemen ciptaan yang lain. Dengan demikian, tidak ada makhluk yang hidup dalam isolasi, semuanya terhubung dalam suatu jaringan kehidupan yang saling menopang. Pemahaman ini juga ditegaskan oleh Paus Fransiskus dalam Laudato SiAo, yang menyatakan bahwa kesatuan seluruh elemen ciptaan mencerminkan persekutuan Trinitarian. Relasi yang saling menghidupi ini bukan hanya pantas diapresiasi secara teologis, tetapi juga menjadi dasar spiritual untuk membangun spiritualitas solidaritas (LS . Metodologi Artikel ini merupakan hasil penelitian dengan pendekatan kualitatif, dengan teknik pengumpulan data yang mengikuti tahapan sebagaimana dijelaskan oleh Creswell . 6:254Ae. Proses pengumpulan data dilakukan melalui tiga langkah utama. Pertama, penulis melakukan observasi langsung di lapangan. Identitas penulis sebagai anggota komunitas Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus. Ritapiret, memberikan akses yang mendalam dan kepercayaan dari komunitas, sehingga observasi dapat dilakukan secara lebih kontekstual dan Kedua, dilakukan wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu Romo dan para Frater yang tergabung dalam kelompok minat Frapala. Wawancara ini bertujuan untuk menggali pengalaman, pandangan, dan praktik mereka terkait dengan nilai-nilai pedagogi ekologi. Ketiga, penulis melakukan studi dokumen, dengan menganalisis isi Ensiklik Laudato SiAo sebagai sumber primer untuk memahami gagasan dasar tentang pedagogi ekologi. Selain itu, sumber-sumber sekunder seperti buku, artikel jurnal, dan publikasi daring yang kredibel turut dianalisis untuk memperkuat dan memperluas pemahaman atas tema penelitian. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Pemilihan sumber dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan relevansinya terhadap rumusan masalah dan tujuan penelitian, guna memperoleh pemahaman yang menyeluruh. Proses analisis data menggunakan teknik analisis isi, yang mencakup pengkodean terhadap data yang telah dikumpulkan untuk mengidentifikasi tema-tema dan pola-pola berulang (Vaismoradi, 2013:398Ae. Metode ini memungkinkan evaluasi sistematis mengenai bagaimana nilai-nilai pedagogi ekologi dalam Laudato SiAo dihayati dan diimplementasikan oleh kelompok Frapala di komunitas Ritapiret. Analisis dilakukan secara bertahap, dimulai dari identifikasi bagian-bagian data yang relevan, pengkategorian kutipankutipan berdasarkan tema yang telah ditentukan, hingga proses interpretasi untuk merumuskan wawasan yang utuh dan koheren (Smith, 2023:45Ae. Hasil Penelitian dan Diskusi 1 Hasil Penelitian Sejarah Pembentukan dan Visi-Misi Kelompok Minat Frater Pencinta Alam di Komunitas Ritapiret Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Maumere-Flores adalah lembaga pendidikan dan pembinaan calon imam diosesan yang berasal dari enam dioses, yaitu dioses Denpasar. Labuan Bajo. Ruteng. Agung Ende. Maumere, dan Larantuka. Dalam proses formasi di lembaga ini, terdapat lima kelompok minat, yaitu kelompok minat Centro John Paul II. Rita English Club. Saint Peter AnimatorAos. Teater Tanya, dan Frapala. Para Frater menggabungkan diri ke dalam kelompok-kelompok minat tersebut berdasarkan bakat dan minat masing-masing. Nama kelompok minat pencinta alam di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret. Maumere-Flores adalah Frapala. Nama ini merupakan akronim dari Frater Pencinta Alam. Kelompok minat Frapala resmi terbentuk pada 4 Oktober Tujuan pembentukannya adalah untuk menumbuhkan semangat syukur dan cinta lingkungan hidup, serta membangun niat untuk mengembangkan perhatian khusus kepada lingkungan hidup. Motto yang dipilih yakni Lex Interna Caritatis (Hukum Cinta Kasi. dengan penekanannya pada mencintai alam dan menjadikan alam sebagai saudara/saudari yang harus dihargai. Kelompok minat Frapala juga menjadikan St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung, inspirator, dan penyemangat kelompok Frapala (Berno Rani, 2. Terdapat dua alasan yang melatarbelakangi pemilihan St. Fransiskus Asisi sebagai pelindung kelompok minat Frapala. Pertama. St. Fransiskus Asisi adalah seorang tokoh religius yang menghayati jiwa kosmis dan memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam melestarikan alam. Kedua. St. Fransiskus Asisi adalah seorang pribadi yang sungguh miskin, memandang segalanya sebagai milik Pencipta, dan tidak bermaksud menyalahgunakan alam demi kepentingan pribadi (Anno Abun, 2. Visi kelompok minat Frapala yaitu menjadi organisasi calon Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 imam yang berasaskan cinta kasih Kristus untuk berjuang demi keutuhan dan kelestarian alam yang berguna bagi kesejahteraan masyarakat serta ketahanan Gereja dan bangsa. Untuk mencapai visi tersebut, ditetapkan beberapa misi yaitu membentuk kepribadian anggota kelompok minat Frapala melalui kegiatan kelompok baik jasmani maupun rohani. mengembangkan kerja sama dengan semua pihak guna mencapai tujuan pelestarian alam. mengembangkan pemahaman dan pola hidup yang berwawasan lingkungan. meningkatkan sistem kerja organisasi dalam kelompok minat Frapala. dan mendukung pembinaan dan proses pendidikan calon imam di Seminari Tinggi Interdiosesan St. Petrus Ritapiret melalui sistem kerja kelompok yang digalakkan (Aldo Dua, 2. Struktur Organisasi. Keanggotaan, dan Sistem Kerja Kelompok Minat Frapala Kelompok minat Frapala di komunitas Ritapiret dimoderatori oleh RD. Laurensius Bate Laja, seorang imam Keuskupan Maumere. Koordinator kelompok ini adalah Frater tingkat lima calon imam Keuskupan Ruteng. ketua oleh Frater tingkat tiga calon imam Keuskupan Maumere. dan bendahara oleh Frater tingkat dua calon imam Keuskupan Ruteng. Secara keanggotaan, kelompok ini terdiri atas 35 Frater yang berstatus sebagai anggota tetap dan 5 Frater lainnya sebagai simpatisan (Anno Abun, 2. Di komunitas Ritapiret, setiap Frater diberi kebebasan untuk bergabung ke dalam kelompok minat tertentu sesuai dengan bakat dan ketertarikannya. Para Frater yang memilih untuk menjadi bagian dari kelompok minat Frapala umumnya memiliki ketertarikan pada bidang lingkungan hidup. Selain anggota tetap, kelompok ini juga menerima simpatisan, yaitu Frater yang telah terdaftar sebagai anggota tetap di kelompok minat lain namun secara sukarela terlibat dalam kegiatan Frapala. Status sebagai simpatisan memungkinkan mereka untuk tetap berpartisipasi dalam kegiatan Frapala meskipun prioritas utama mereka berada pada kelompok asal (Aldo DuAoa, 2. Partisipasi para simpatisan dalam kelompok Frapala, disesuaikan dengan jadwal utama mereka sebagai anggota tetap di kelompok lain. Apabila terjadi benturan jadwal, maka simpatisan tersebut diwajibkan mengikuti kegiatan di kelompok minat asalnya (Alva Medi, 2. Sistem kerja kelompok Frapala berjalan melalui tahapan yang mencerminkan siklus organisasi yang sistematis, dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Dalam proses perencanaan, koordinator, ketua, bendahara, dan seluruh anggota terlibat dalam penyusunan program kerja selama satu semester. Setiap bulan dirancang satu program kerja yang kemudian diajukan kepada Romo moderator untuk disetujui. Setelah memperoleh pengesahan, program-program tersebut dimasukkan ke dalam kalender kegiatan komunitas Ritapiret. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Pelaksanaan program kerja melibatkan seluruh anggota tetap dan Program-program yang dilaksanakan antara lain penanaman bunga, pembibitan dan penanaman sayur-sayuran, pembuatan pupuk kompos, pembuatan eco enzyme, serta pembenahan kebun Frapala. Setiap kegiatan biasanya berlangsung selama satu hingga satu setengah jam. Seluruh anggota diwajibkan mengisi daftar hadir, dan mereka yang berhalangan wajib memberi informasi kepada ketua disertai alasan yang jelas (Aldo DuAoa, 2. Tahap evaluasi dilaksanakan melalui pertemuan rutin setiap bulan, tepatnya pada hari Rabu di minggu ketiga. Dalam pertemuan ini, setiap anggota diberi kesempatan untuk menyampaikan tanggapan dan penilaian atas program kerja yang telah dijalankan. Topik yang dibahas mencakup tingkat partisipasi anggota, tantangan yang dihadapi, peluang untuk pengembangan kegiatan, serta solusi atas kendala yang ditemukan (Gomez Aja, 2. Hasil evaluasi internal tersebut kemudian disampaikan dalam forum evaluasi komunitas pada akhir semester, di mana kelompok Frapala memperoleh berbagai masukan konstruktif yang sangat berguna bagi pengembangan dan penyempurnaan program ke depan. 2 Diskusi Pembinaan Calon Imam dan Tanggung Jawab Ekologi Calon imam merupakan calon-calon pemimpin spiritual yang diharapkan mampu menjadi teladan dalam merawat dan menjaga lingkungan hidup sebagai pemberian istimewa dari Allah. Hal serupa juga didukung oleh Ensiklik Laudato SiAy. Paus menyoroti pentingnya kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari panggilan iman. Tanggung jawab ekologi masuk dalam pembinaan aspek pastoral bagi para calon imam. Pembinaan dimensi pastoral merupakan proses pengembangan kecakapan dan keterampilan pastoral dalam diri para calon imam. Keterampilan pastoral yang dimaksud adalah keterampilan dalam pelayanan liturgi, sakramen, serta pemenuhan kebutuhan rohani umat beriman (Komisi Seminari KWI, 2002:. Pelayanan liturgi yang dimaksud tidak dipahami secara sempit dalam bingkai urusan doa atau ritus semata, melainkan dipahami secara lebih Dalam perspektif liturgi transformatif ditegaskan bahwa perayaan liturgi yang dirayakan dalam Gereja harus memiliki implikasi sosial dalam hidup sehari-hari. Liturgi transformatif adalah perayaan liturgi yang bertujuan untuk mendorong perubahan dalam hidup umat beriman. Dengan kata lain, tujuan liturgi transformatif adalah untuk mendorong pertobatan dan transformasi dari apa yang didoakan . ex orand. menjadi apa yang benar-benar diimani dan dipercaya . ex credend. dan akhirnya juga benar-benar dihidupi . ex vivend. Seseorang mempraktikkan iman dengan melakukan hal-hal seperti membela keadilan, memperjuangkan kebenaran, dan mendukung lingkungan. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Liturgi transformatif merupakan pendekatan baru dalam merayakan liturgi dari perspektif eskatologis. Liturgi yang dirayakan di dunia bukan sekadar seremoni, melainkan medan dan peristiwa yang memberi pengalaman akan liturgi Dari dimensi eskatologis inilah, liturgi transformatif tidak dimaksudkan sebagai liturgi yang semata-mata populer atau sekadar menyesuaikan diri dengan simbol-simbol zaman dan konteks masyarakat. Sebaliknya, liturgi transformatif mengarah pada pembaruan hidup yang menyentuh seluruh keberadaan manusia dalam terang Kerajaan Allah (Martasudjita, 2012:. Dalam konteks perayaan Ekaristi, umat Kristiani diajak tidak hanya berhenti pada AuEkaristi ritualAy, tetapi melanjutkannya dalam AuEkaristi kehidupanAy. Dengan demikian, nilai-nilai Kerajaan Allah yang dirayakan dalam liturgi mesti menjelma dalam tindakan nyata, termasuk perjuangan terhadap keadilan, perdamaian, compassio bagi yang menderita (Prior, 2005:. , serta komitmen terhadap pelestarian lingkungan hidup. Keterampilan pastoral tidak hanya dibentuk melalui studi filsafat dan teologi secara teoretis, tetapi perlu dikembangkan dalam praktik nyata yang bersinggungan langsung dengan konteks hidup umat. Para calon imam dituntut untuk membuka diri terhadap ilmu-ilmu lain seperti ilmu sosial, psikologi, pedagogi, dan ekologi. Keterlibatan dalam pelbagai disiplin ilmu ini dimaksudkan agar pelayanan pastoral yang mereka jalankan dapat benar-benar menyentuh kebutuhan konkret umat di tengah tantangan zaman. Dokumen Optatam Totius secara tegas menekankan bahwa formasi pastoral tidak dilakukan setelah tahapan pembentukan lainnya selesai, melainkan harus dijalankan secara integral dan simultan sejak awal masa studi calon imam, termasuk melalui pelbagai latihan pastoral (OT . Lingkungan hidup bukan sekadar latar kehidupan, tetapi menjadi bagian dari semesta relasi yang membentuk manusia dan komunitasnya. Dalam formasi calon imam, keberagaman budaya dan interaksi dengan makhluk hidup serta unsurunsur alam harus dihargai sebagai sumber pembelajaran dan refleksi iman. Sebagian masyarakat lokal memiliki kearifan budaya yang sangat dekat dengan alam, yang diekspresikan dalam ritus-ritus religius dan cara hidup yang harmonis dengan ciptaan. Kebudayaan seperti ini menjadi kekayaan yang patut dihargai dan dijadikan dasar untuk mengkritisi praktik eksploitasi terhadap alam. Paus Fransiskus dalam Laudato SiAo menegaskan bahwa setiap orang dapat mengambil bagian sebagai alat Allah untuk menjaga keutuhan ciptaan, sesuai dengan budaya, pengalaman, prakarsa, dan bakat masing-masing (LS . Karena itu, para calon imam perlu memiliki kesadaran ekologis yang kuat dan komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan. Kekayaan budaya lokal dapat menjadi referensi teologispastoral yang otentik untuk membela kehidupan dan keutuhan ciptaan di tengah ancaman ekologis global. Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 Peluang bagi Kelompok Minat Frapala dalam Menghidupi Pedagogi Ekologi Kelompok minat Frapala di komunitas Ritapiret memiliki sejumlah peluang strategis dalam menghidupi nilai-nilai pedagogi ekologi. Salah satu peluang tersebut adalah kepastian jadwal yang tercantum dalam kalenderium kerja komunitas Frater Ritapiret. Dalam satu semester, kelompok ini diberi alokasi waktu khusus untuk merancang dan melaksanakan program-program yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan hidup. Kegiatan ini tidak hanya melibatkan anggota tetap, tetapi juga Frater simpatisan yang memiliki komitmen ekologis yang kuat. Keterlibatan aktif para simpatisan turut menyukseskan pelaksanaan berbagai kegiatan seperti edukasi lingkungan hidup untuk komunitas, penanaman bunga dan tanaman pangan, aksi sosial dan advokasi lingkungan, serta perayaan Ekaristi ekologis di alam terbuka seperti di pantai (Aldo Dua, 2024. Alfa Medi, 2. Peluang lain yang signifikan adalah keberadaan struktur organisasi yang jelas dalam kelompok Frapala. Struktur yang sistematis ini memungkinkan terjalinnya kerja sama dengan pihak luar, termasuk lembaga-lembaga pemerintah dan organisasi non-pemerintah. Kelompok ini secara rutin menyusun dan mengajukan proposal kegiatan lingkungan hidup kepada pihak Seminari Ritapiret maupun dinas terkait di wilayah Maumere, khususnya Dinas Lingkungan Hidup. Respons yang diberikan sangat positif. Seminari Ritapiret senantiasa memberikan dukungan dana, sementara instansi pemerintah beberapa kali memberikan bantuan berupa bibit tanaman. Sebagai bentuk tanggung jawab, kelompok Frapala juga menyusun laporan pertanggungjawaban yang sistematis dan transparan, sehingga tetap dipercaya oleh para mitra (Beato Teda, 2. Sarana lain yang menjadi peluang penting bagi pengembangan pedagogi ekologi adalah keberadaan kebun komunitas. Kebun ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat budidaya tanaman pangan atau hias, tetapi juga menjadi sarana edukatif untuk memperkenalkan siklus alam, proses pertumbuhan tanaman, dan pentingnya keanekaragaman hayati kepada warga komunitas Ritapiret. Melalui kebun ini, nilai-nilai ekologis ditanamkan secara praktis dan kontekstual kepada para Frater, sehingga mereka terdorong untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahanlahan kosong yang ada di sekitar lingkungan Seminari (RD. Laurens Bate Laja. Selain itu, kelompok minat Frapala juga memiliki berbagai media publikasi kegiatan yang menjadi saluran penting dalam menyebarluaskan semangat Media tersebut meliputi website resmi komunitas . media sosial seperti Facebook dan Instagram . , serta majalah tahunan bertajuk Go Green. Melalui media ini, kegiatan dan refleksi ekologis yang dijalankan kelompok Frapala dapat diakses secara luas oleh publik. Media ini berperan sebagai sarana edukatif dan promosi yang strategis dalam Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 membentuk kesadaran ekologis di kalangan masyarakat serta mendukung gerakan ekologi yang lebih luas (Gomez Aja, 2. Upaya Menghidupi Pedagogi Ekologi oleh Kelompok Minat Frapala Kelompok minat Frapala di komunitas Ritapiret tidak hanya terdorong oleh fakta krisis lingkungan, tetapi terlebih oleh panggilan iman untuk turut melindungi ciptaan Tuhan. Sebagai bagian dari persekutuan umat Allah yang bersumber dari persekutuan trinitaris, kelompok ini memiliki tanggung jawab sebagai bagian dari Gereja dan lembaga seminari untuk aktif mengupayakan pelestarian lingkungan Dalam praktiknya. Frapala berperan dalam menghidupi pedagogi ekologi sesuai dengan amanat Ensiklik Laudato SiAo. Keterlibatan mereka diwujudkan melalui perayaan liturgi ekologis yang memandang liturgi bukan hanya sebagai peringatan hubungan Allah dan manusia, tetapi sebagai perayaan pertemuan antara Allah dengan seluruh ciptaan-Nya. Dalam liturgi. Allah hadir menyapa dan menguduskan semua makhluk. Simbol-simbol alam seperti minyak untuk krisma dan tahbisan, air untuk pembaptisan, serta roti dan anggur dalam Ekaristi menunjukkan kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Pemahaman terhadap komponen ekologis dalam liturgi ini menggarisbawahi bahwa penggunaan unsur alam bukan sekadar dekorasi, melainkan wujud keterlibatan langsung dalam memuliakan Allah. Liturgi ekologis mengajak umat untuk merayakan persaudaraan semesta ciptaan yang bersujud di hadapan Sang Khalik dan bersatu dalam persekutuan kasih Allah Tritunggal. Dalam hal ini, manusia diajak terbuka untuk belajar dan terinspirasi dari ciptaan lain dalam semangat persaudaraan universal. Selain itu, kelompok Frapala aktif menjalankan kerygma ekologis melalui animasi, sosialisasi, dan katekese yang bertemakan Melalui katekese ini, mereka menumbuhkan kesadaran akan tugas manusia untuk menjaga dan merawat alam. Kelompok ini khususnya menyasar pelajar dalam sosialisasi dan katekese dengan tema-tema praktis seperti pengolahan sampah, pemanfaatan air secara bijak, pembuatan pupuk kompos, serta penggunaan sisa makanan untuk pembuatan eco enzyme. Media sosial juga dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi untuk menyebarkan gagasan ekologi kepada masyarakat Di samping itu. Frapala menjalankan diakonia ekologis sebagai bagian integral dari pembinaan Kristiani. Pemahaman diakonia yang selama ini berfokus pada pelayanan kemanusiaan diperluas oleh Ensiklik Laudato SiAo menjadi pelayanan bagi seluruh ciptaan yang juga mengalami penderitaan. Oleh karena itu, diakonia ekologis menjadi kebutuhan mendesak. Kelompok Frapala secara aktif mengemban tanggung jawab menjaga lingkungan dan ciptaan sebagai manifestasi dari tindakan keadilan dan partisipasi dalam transformasi dunia. Hal ini juga mencerminkan dimensi konstitutif Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 pemberitaan Injil. Keterlibatan kelompok Frapala dalam aktivitas ekologi telah berkontribusi nyata terhadap visi Ensiklik Laudato SiAo yang menekankan tanggung jawab sektor pendidikan dalam mengubah kesadaran menjadi tindakan praktis. Keikutsertaan ini bukan semata memenuhi tuntutan pembinaan pastoral sebagai calon imam yang peka terhadap lingkungan, melainkan juga bertujuan menanamkan nilai-nilai ekologi pada generasi muda. Dasar dari keterlibatan ini adalah keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan dengan tujuan memajukan keadilan dan perdamaian serta melindungi lingkungan. Dengan demikian, kelompok Frapala turut berperan dalam membangun masyarakat yang menjunjung tinggi martabat manusia dan keutuhan ciptaan sebagai wujud nyata Kerajaan Tuhan di dunia. Dalam praktiknya, kelompok minat Frapala tidak hanya melakukan diakonia ekologis yang bersifat kuratif seperti penghijauan dan pengolahan sampah, tetapi juga menerapkan diakonia ekologis yang bersifat preventif, antara lain melalui pembuatan pupuk organik, pembuatan eco enzyme, dan praktik pertanian organik yang berkelanjutan. PENUTUP Kesimpulan Diskursus tentang pedagogi ekologi menjadi sangat penting mengingat kerusakan lingkungan hidup yang semakin meluas dan mengancam keseimbangan Diskursus ini tidak boleh berhenti pada ranah teori semata, melainkan harus diterjemahkan ke dalam tindakan nyata yang bersifat pastoral dan praktis. Pedagogi ekologi hendaknya selalu berujung pada aksi konkret dalam rangka menyelamatkan lingkungan hidup, sehingga nilai-nilai ekologis tidak hanya menjadi wacana tetapi juga menjadi pengalaman hidup yang nyata. Kelompok minat Frapala di komunitas Ritapiret merupakan sebuah organisasi yang menunjukkan kepedulian mendalam terhadap nasib lingkungan Para Frater pencinta alam ini berkomitmen mengimplementasikan nilai-nilai pedagogi ekologi melalui aksi pastoral yang nyata dan berkelanjutan. Kehadiran mereka dan keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan lingkungan memberikan contoh yang inspiratif bagi masyarakat luas bahwa upaya penyelamatan lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam lingkup keluarga, sekolah, dan Melalui proses ini, manusia diajak untuk semakin menyadari hakikat persekutuan universal seluruh ciptaan, di mana semua makhluk saling terhubung dan saling memengaruhi dalam ekosistem kehidupan. Saran Salah satu keterbatasan penelitian ini ialah lebih memfokuskan perhatian pada upaya kelompok minat Frapala dalam menghidupi pedagogi ekologi menurut Ensiklik Laudato SiAo tanpa menghubungkannya dengan pedagogi ekologi dalam Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK) Vol. No. Oktober 2025 Jurnal Pendidikan Agama Katolik (JPAK). Vol. 25 No. Oktober 2025 https://doi. org/10. 34150/jpak. p-ISSN: 2085-0743 e-ISSN: 2655-7665 keluarga dan pemerintah. Peneliti selanjutnya dapat mengelaborasi tema tentang kerja sama lintas lembaga, yaitu antara lembaga keluarga, lembaga pendidikan, dan lembaga pemerintah dalam mengupayakan perwujudan nilai-nilai pedagogi DAFTAR PUSTAKA