Excellent Midwifery Journal Volume 8 No. Oktober 2025 P-ISSN: 2620-8237 E-ISSN: 26209829 ASUHAN KEBIDANAN NIFAS POST PARTUM DENGAN PELAKSANAAN PERSONAL HYGIENE DAN PERAWATAN LUKA PERINEUM DI KLINIK RIZKY PROVINSI SUMATERA UTARA Rahmi Larasati1 . Febriana Sari2 1,2STIKes Mitra Husada Medan Email: rahmilarasati25@gmail. DOI: https://doi. org/10. 55541/emj. ABSTRAK Latar Belakang: Sepsis puerperalis tetap menjadi kontributor utama kematian ibu, yang sering kali dipicu oleh kegagalan manajemen luka perineum pada fase nifas dini. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis optimasi asuhan nifas dini melalui integrasi personal hygiene dan perawatan luka perineum dalam mencegah komplikasi infeksi. Metode: yang digunakan adalah studi kasus deskriptif observasional dengan pendekatan manajemen kebidanan tujuh langkah Varney pada seorang ibu nifas 6 jam postpartum di Klinik Rizky. Sumatera Utara. Data dikumpulkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, dan observasi klinis menggunakan skala REEDA. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi edukasi terstruktur dan manajemen nyeri efektif meningkatkan kemandirian subjek dalam perawatan mandiri, yang dibuktikan dengan capaian skor REEDA minimal . pada akhir observasi. Integrasi antara kualitas pelayanan bidan dan fasilitas sanitasi yang adekuat terbukti memitigasi risiko infeksi serta mempercepat mobilisasi dini. Kesimpulan: Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa asuhan nifas dini yang integratif pada periode immediate postpartum merupakan strategi preventif krusial dalam menekan morbiditas maternal. Temuan ini merekomendasikan standardisasi protokol asuhan nifas berbasis kemandirian pasien di fasilitas kesehatan primer. Kata Kunci: Nifas. Personal Hygiene. Luka Perineum. Sepsis Puerperalis. Skor REEDA. ABSTRACT Background: Puerperal sepsis remains a major contributor to maternal mortality, often triggered by failure of perineal wound management in the early postpartum phase. Aims: This study aims to optimize early postpartum care through the integration of personal hygiene and perineal wound care to prevent infectious complications. Method: The method used a descriptive, observational case study using Varney's seven-step midwifery management approach in a postpartum woman 6 hours postpartum at the Rizky Clinic. North Sumatra. The data were collected through history taking, physical examination, and clinical observation using the REEDA Scale. Result: The results showed that structured educational interventions and pain management effectively increased the subjects' independence in self-care, as evidenced by achieving a minimum REEDA score . at the end of the observation. Integration of quality midwifery services and adequate sanitation facilities has been shown to mitigate the risk of infection and accelerate early mobilization. Conclusion: The conclusions of this study confirm that integrative early postpartum care in the immediate postpartum period is a crucial preventive strategy in reducing maternal morbidity. These findings recommend standardization of patient independence-based postpartum care protocols inprimary healthcare facilities. Keywords: Postpartum. Personal Hygiene. Perineal Wounds. Puerperal Sepsis. REEDA Score. LATAR BELAKANG Angka Kematian Ibu (AKI) tetap menjadi indikator krusial dalam menilai kualitas sistem kesehatan nasional, di mana Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam Sustainable Development Goals (SDG. Sepsis puerperalis atau infeksi masa nifas penyebab utama mortalitas maternal. Secara klinis, risiko infeksi ini meningkat drastis pada ibu dengan perlukaan jalan lahir atau luka perineum yang tidak dikelola dengan standar aseptik yang adekuat . Meskipun intervensi medis telah pencegahan infeksi di tingkat fasilitas kesehatan primer masih memerlukan komplikasi infeksi sering kali berawal dari kegagalan dalam menjaga pascapersalinan . Periode nifas dini, yang sering disebut "The Golden Hours", merupakan fase transisi kritis di mana integritas jaringan ibu sangat rentan terhadap kolonisasi bakteri patogen . Implementasi asuhan nifas yang berfokus pada asuhan mandiri, khususnya melalui praktik personal hygiene dan perawatan luka perineum, menjadi lini pertahanan pertama dalam memutus rantai transmisi agen infekstius . Namun, optimalisasi asuhan ini tidak dapat berdiri sendiri. ia merupakan hasil integrasi antara kesiapan motorik ibu dalam mobilisasi dini, persepsi terhadap manajemen nyeri, serta kualitas edukasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan . Kegagalan dalam mengoptimalkan aspek-aspek tersebut pada jam-jam pertama memperlambat proses involusi dan akhirnya dapat memicu munculnya morbiditas jangka panjang bagi ibu . Di tingkat pelayanan kesehatan terdapat disparitas yang nyata antara ketersediaan protokol klinis dengan implementasi asuhan di lapangan. Tantangan keterbatasan fasilitas sanitasi dan alat perawatan luka sering kali menghambat efektivitas asuhan yang diberikan oleh bidan . Oleh karena itu, diperlukan sebuah pendekatan asuhan yang tidak hanya bersifat prosedural, tetapi juga integratif, lingkungan klinik dan faktor penguat Mengingat krusialnya peran preventif mengenai optimalisasi asuhan nifas dilakukan saat ini sebagai upaya strategis dalam memitigasi risiko kematian ibu di Indonesia. METODE PENELITIAN Desain Penelitian ini menggunakan observasional dengan pendekatan asuhan kebidanan berkelanjutan. Strategi penelitian difokuskan pada pemecahan masalah klinis melalui penerapan manajemen kebidanan Varney Pemilihan metode studi kasus ini bertujuan untuk mengeksplorasi secara mendalam fenomena asuhan nifas dini melalui personal hygiene dan perawatan luka perineum dalam kondisi klinis yang nyata. Fokus observasi diarahkan pada respons fisik dan perilaku individu terhadap intervensi yang diberikan pada periode kritis 6 jam postpartum. Partisipan Lokasi Subjek penelitian adalah seorang ibu nifas (Ny. L) yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu berada pada fase 6 jam postpartum dengan luka perineum tingkat II dan bersedia menjadi responden secara sukarela. Populasi penelitian bersifat spesifik . ingle cas. yang diambil secara purposive di wilayah kerja Klinik Rizky. Provinsi Sumatera Utara, pada tahun 2025. Penggunaan subjek tunggal dalam studi ini memungkinkan peneliti mendetail terhadap efektivitas teknik perawatan luka dan kepatuhan variabel eksternal yang kompleks. Instrumen Penelitian yang digunakan dalam pengumpulan data terdiri dari format pengkajian asuhan kebidanan ibu nifas, lembar observasi personal hygiene, dan skala REEDA (Redness. Edema. Ecchymosis. Discharge. Approximatio. untuk mengevaluasi kondisi luka perineum secara objektif (Utami & Rahmawati, 2. Selain itu, digunakan panduan wawancara . menggali data subjektif mengenai persepsi nyeri dan pengetahuan Validitas dijamin melalui penggunaan standar asuhan kebidanan yang mengacu protokol klinis yang berlaku di fasilitas kesehatan terkait. Prosedur Pengumpulan Data dikumpulkan melalui tujuh tahapan manajemen kebidanan Varney yang dilakukan secara berurutan: Pengumpulan Data Dasar : Melalui pemeriksaan fisik head-to-toe. Interpretasi Data : Perumusan diagnosa asuhan kebidanan post partum 6 jam, identifikasi masalah . eperti nyeri luk. , dan kebutuhan Identifikasi Diagnosa Potensial : Antisipasi terhadap risiko sepsis puerperalis akibat infeksi luka Identifikasi Tindakan Segera : Penilaian kolaborasi atau intervensi darurat. Perencanaan (Plannin. Penyusunan integratif meliputi edukasi teknik cebok yang benar, frekuensi penggantian pembalut, dan nutrisi penyembuhan luka. Implementasi Pelaksanaan tindakan asuhan sesuai rencana yang telah disusun. Evaluasi : Penilaian efektivitas asuhan terhadap kondisi klinis dan kemandirian pasien. Teknik Analisis Data dilakukan secara deskriptif dengan metode naratif-komparatif. Data diperoleh dari hasil anamnesis dan dikategorikan, dan dibandingkan dengan teori serta standar praktik evidence-based. Hasil penilaian skala REEDA dianalisis secara longitudinal untuk melihat progresivitas penyembuhan luka dari Justifikasi pemilihan analisis ini didasarkan pada kemampuan metode deskriptif dalam memberikan gambaran yang akurat tentang hubungan antara intervensi personal hygiene yang komplikasi masa nifas. HASIL PENELITIAN Profil Subjek dan Gambaran Klinis Awal Subjek penelitian adalah seorang primipara (Ny. L) berusia 24 tahun pada periode 6 jam postpartum dengan riwayat persalinan spontan dan mengalami laserasi perineum derajat II yang telah dilakukan penjahitan . Hasil pengkajian awal melalui anamnesis menunjukkan subjek mengeluhkan nyeri pada area luka dengan skala 6 . yeri sedan. pada Numerical Rating Scale (NRS), yang menyebabkan hambatan pada mobilisasi dini. Pemeriksaan tanda-tanda berada dalam batas normal . ekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80 x/menit, suhu 36,5AC), namun observasi awal pada area genitalia menunjukkan kondisi pembalut yang penggantian yang belum teratur sejak proses persalinan selesai. Implementasi Integrasi Personal Hygiene dan Perawatan Luka Hasil menunjukkan adanya peningkatan kepatuhan subjek setelah diberikan Subjek mampu mendemonstrasikan teknik vulva hygiene secara mandiri dengan prinsip anterior-ke-posterior menggunakan air bersih dan sabun Data peningkatan frekuensi penggantian pembalut menjadi setiap 3-4 jam atau setiap kali setelah eliminasi. Dalam asuhan dilakukan dengan menjaga kebersihan area jahitan agar tetap kering, didukung oleh fasilitas Responden tercatat mulai melakukan mobilisasi bertahap . uduk dan berjalan singka. dalam 6 jam pertama setelah diberikan bimbingan teknis mengenai manajemen nyeri saat bergerak. Evaluasi Kondisi Luka Perineum (Skor REEDA) Penilaian objektif terhadap kondisi luka perineum REEDA pada akhir observasi nifas signifikan dalam upaya pencegahan Data klinis mencatat skor total REEDA sebesar 1, dengan rincian: tidak terdapat kemerahan yang persisten (Redness: . , edema minimal pada tepi luka (Edema: . , tidak ada bercak kebiruan atau hematoma (Ecchymosis: . , tidak abnormal atau nanah (Discharge: . , dan tepi luka menyatu secara baik (Approximation: . Kondisi ini inflamasi awal berjalan secara fisiologis tanpa adanya tanda-tanda klinis sepsis puerperalis atau infeksi lokal lainnya. Capaian Target Asuhan Pencegahan Komplikasi Berdasarkan kebidanan tujuh langkah Varney, seluruh rencana tindakan preventif berhasil diimplementasikan sesuai Hasil evaluasi diagnosa ditemukannya komplikasi sepsis maupun perdarahan sekunder pada Pencapaian ditunjukkan dengan peningkatan skor pengetahuan subjek mengenai tanda bahaya nifas serta kemampuan kebersihan genitalia secara mandiri. Integrasi antara kualitas pelayanan dukungan edukasi menghasilkan luaran klinis yang stabil pada periode 6 jam postpartum pertama. PEMBAHASAN Interpretasi Kemandirian Personal Hygiene dan Percepatan Pemulihan Temuan bahwa responden (Ny. L) mengalami praktik personal hygiene berkolerasi positif dengan stabilnya kondisi luka perineum (Skor REEDA: Keberhasilan ini mengindikasikan bahwa intervensi edukasi terstruktur pada 6 jam pertama postpartum psikologis, seperti ketakutan akan nyeri saat melakukan perawatan mandiri (Sulistiyowati & Kususma. Secara teoretis, hal ini mendukung konsep Self-Care Deficit dari Dorothea Orem, di mana kemandirian pasien . Hasil ini menyatakan bahwa asuhan nifas yang berpusat pada pasien dapat infeksi melalui peningkatan efikasi diri dalam menjaga higiene genital. Manajemen Nyeri Katalisator Mobilisasi Dini Salah satu temuan krusial dalam studi ini adalah penurunan skala nyeri dari 6 ditoleransi, yang memungkinkan responden melakukan mobilisasi dini secara bertahap. Interpretasi atas fenomena ini menunjukkan bahwa teknik perawatan luka yang tepat, mengenai mekanika tubuh, efektif mengurangi ketegangan pada otototot perineum. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, temuan ini memperluas bukti bahwa mobilisasi dini bukan hanya masalah kesiapan fisik, tetapi sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi terapeutik bidan yang mampu mengubah persepsi nyeri maladaptif menjadi perilaku Hal ini mengisi gap penelitian mengabaikan aspek psikomotor ibu dalam 6 jam pertama masa nifas. Sinergi Fasilitas Klinik Kualitas Pelayanan Bidan Hasil penelitian ini menegaskan bahwa kualitas pelayanan bidan di Klinik Rizky berperan sebagai variabel ketersediaan fasilitas sanitasi dan kepatuhan higiene pasien. Meskipun sarana fisik di fasilitas kesehatan dibandingkan rumah sakit besar, temuan ini membuktikan bahwa Hal ini sejalan dengan teori menekankan bahwa enabling factors . akan menjadi efektif hanya jika didukung oleh reinforcing factors . ukungan bidan dan keluarg. Temuan ini memberikan kontribusi baru bahwa optimalisasi asuhan nifas di tingkat komunitas sangat bergantung pada kompetensi bidan dalam melakukan integrasi asuhan yang holistik. Pencegahan Sepsis Puerperalis dan Implikasi Klinis Ketiadaan tandatanda infeksi klinis pada responden selama masa observasi membuktikan bahwa protokol personal hygiene yang ketat merupakan strategi non-farmakologi paling efektif dalam mencegah sepsis puerperalis . Secara klinis, hal ini memberikan implikasi bahwa asuhan kebidanan tujuh langkah Varney yang fokus pada higiene preventif harus menjadi standar baku di setiap fasilitas kesehatan primer . Penelitian memberikan bukti bahwa langkahlangkah konsisten, seperti teknik vulva hygiene yang benar dan penggantian pembalut yang teratur, memiliki penurunan maternal secara nasional. Saran Kesimpulan Penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi asuhan nifas dini melalui model integrasi personal perineum yang terstruktur secara mengoptimalkan proses pemulihan Hasil menunjukkan bahwa intervensi yang berfokus pada 6 jam pertama masa nifas mampu mentransformasikan perilaku responden menjadi mandiri, yang dibuktikan dengan pencapaian REEDA indikator keberhasilan fase inflamasi Hal pelayanan bidan yang komprehensif, mencakup manajemen nyeri dan edukasi suportif, berperan sebagai faktor kunci dalam memitigasi risiko pelayanan primer. Lebih lanjut, integrasi antara fasilitas fisik yang memadai dan mempercepat efikasi diri responden dalam melakukan mobilisasi dini dan perawatan mandiri. Secara teoretis, penelitian ini memperkuat relevansi model promosi kesehatan dalam sementara secara praktis, temuan ini operasional prosedur (SOP) asuhan nifas dini yang preventif dan Dengan penguatan asuhan terintegrasi pada fase immediate postpartum menjadi strategi yang sangat relevan dan krusial untuk diadopsi secara luas guna menurunkan angka morbiditas serta mendukung target nasional dalam penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia. Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan bagi praktisi kebidanan di fasilitas kesehatan primer untuk mengadopsi model asuhan nifas dini terintegrasi yang mensinergikan manajemen nyeri dengan edukasi personal hygiene sebagai standar prosedur operasional tetap pada 6 jam pertama postpartum. Pengelola fasilitas kesehatan perlu memastikan ketersediaan sarana sanitasi yang adekuat serta memperkuat peran pendamping keluarga sebagai unit meningkatkan efikasi diri ibu untuk melakukan perawatan luka mandiri. Secara kebijakan, hasil studi ini dapat dijadikan basis argumen bagi organisasi profesi untuk menyusun panduan asuhan nifas preventif yang lebih menekankan pada aspek psikomotor dan kemandirian pasien guna menekan insidensi sepsis puerperalis secara dini di tingkat Selanjutnya, bagi peneliti masa depan, disarankan untuk melakukan pengembangan studi dengan desain (Randomized Controlled Tria. yang melibatkan populasi lebih besar dan efektivitas model ini secara luas. Perlu dilakukan riset lanjutan yang mengevaluasi keberlanjutan praktik personal hygiene hingga masa nifas lanjut . ate postpartu. melalui penggunaan teknologi pemantauan jarak jauh seperti aplikasi mobilehealth. Selain pascapersalinan sangat diperlukan guna menghasilkan intervensi yang lebih peka budaya. Integrasi antara teknologi ini diharapkan dapat menciptakan sistem deteksi dini komplikasi nifas yang lebih responsif dan akurat di masa mendatang. Kesehatan Primer. Jurnal Media Kesehatan Masyarakat Indonesia (MKMI), 20. , 75-84. Pratami. , & Syafira. Dinamika Granulasi Jaringan pada DAFTAR PUSTAKA