Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Peningkatan Tata kelola Lahan Desa Samar sebagai Wahana Eduwisata Melalui Diversifikasi Aneka Buah-buahan Yudhi Utomo1. Slamet Fauzan *2. Danar3. Suharti4 1,3,4 Kimia. FMIPA. Universitas Negeri Malang. Indonesia 2Akuntansi. Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Negeri Malang. Indonesia *e-mail: slamet. fe@um. Abstrak Desa Samar. Kecamatan Pagerwojo. Kabupaten Tulungagung menghadapi permasalahan serius akibat ketergantungan petani jeruk pada sistem monokultur yang menyebabkan kerentanan ekonomi tinggi, produktivitas lahan tadah hujan yang rendah, serta minimnya diversifikasi tanaman sebagai daya tarik Ketergantungan pada satu komoditas menjadikan petani rentan terhadap fluktuasi harga dan kegagalan panen. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan ketahanan ekonomi petani jeruk melalui diversifikasi tanaman buah dan penguatan kapasitas manajemen eduwisata agro berbasis pemberdayaan masyarakat. Program dilaksanakan selama tiga bulan (MaretAeMei 2. dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan 28 petani jeruk dan perangkat Desa Samar. Intervensi mencakup tiga tahap: . sosialisasi pengembangan eduwisata agro dengan menghadirkan narasumber praktisi, . inovasi diversifikasi tanaman buah melalui penataan lima spot tanaman . eruk, pisang, jambu kristal, mangga, pepay. dengan penanaman 150 bibit buah, dan . pengembangan media edukasi berupa buku saku eduwisata buah. Hasil kegiatan menunjukkan terbentuknya pola tanam beragam dengan lima spot tanaman buah seluas 0,5 hektar, partisipasi aktif 28 petani, serta peningkatan pemahaman masyarakat tentang diversifikasi sebesar 78% berdasarkan pre-test dan post-test. Program ini berhasil meningkatkan daya tarik kawasan eduwisata dan mengurangi risiko ekonomi dari ketergantungan monokultur jeruk. Kesimpulannya, diversifikasi agrowisata berbasis pemberdayaan masyarakat terbukti efektif dalam meningkatkan keberlanjutan ekonomi dan sosial desa wisata berbasis pertanian Kata kunci: Agrowisata, diversifikasi, pemberdayaan masyarakat, pertanian berkelanjutan, wisata edukasi Abstract Samar Samar Village. Pagerwojo District. Tulungagung Regency faces serious problems due to citrus farmers' dependence on monoculture systems, which cause high economic vulnerability, low productivity of rainfed farmland, and minimal crop diversification as an agro-ecotourism attraction. This community service program aimed to improve the economic resilience of citrus farmers through fruit crop diversification and strengthening of community-based agro-ecotourism management capacity. The program was conducted over three months (MarchAeMay 2. using a participatory approach involving 28 citrus farmers and village Interventions included three stages: . socialization of agro-ecotourism development, . fruit crop diversification innovation through the arrangement of five plant spots . itrus, banana, crystal guava, mango, papay. with 150 seedlings planted, and . development of a fruit ecotourism pocket book as an educational Results showed the establishment of diverse planting patterns across five fruit spots covering 0. hectares, active participation of 28 farmers, and a 78% improvement in community understanding of diversification based on pre- and post-test assessments. The program successfully enhanced the agro-ecotourism area's appeal and reduced economic risks from citrus monoculture dependency. In conclusion, community-based agrotourism diversification has proven effective in improving the economic and social sustainability of agriculture-based tourism villages Keywords: Agrotourism, community empowerment, diversification, educational tourism, sustainable PENDAHULUAN Desa Samar terletak di Kecamatan Pagerwojo. Kabupaten Tulungagung. Provinsi Jawa Timur, berada pada wilayah dataran tinggi tepatnya di perbukitan dekat Gunung Bandil. Desa ini memiliki luas 57,07 hektar area permukiman yang terdiri dari lima dusun, delapan RW, dan P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. empat puluh dua RT (Afifudin Bagus Wildani et al. , 2. Sebagai desa yang terletak di kawasan pegunungan. Desa Samar memiliki kekayaan alam melimpah berupa hutan hijau, aliran sungai jernih, serta tanah subur yang sangat cocok untuk berbagai jenis tanaman. Potensi alam ini menjadikan desa ini memiliki peluang besar untuk pengembangan agrowisata yang Perekonomian Desa Samar sangat bergantung pada tiga sektor utama yaitu peternakan, pertanian, dan pariwisata. Sebagian besar penduduknya merupakan peternak sapi perah dengan susu sapi sebagai komoditas utama. Pada sektor pertanian. Desa Samar menghasilkan komoditas unggulan yang dikembangkan meliputi jeruk, durian, rambutan, dan manggis (Irawan et al. Diversifikasi agrowisata menjadi strategi penting untuk meningkatkan ketahanan ekonomi petani di negara berkembang, terutama dengan meningkatnya ketidakstabilan pasar pertanian (Armesto-Lypez et al. , 2. Penelitian menunjukkan bahwa agrowisata sebagai salah satu strategi diversifikasi dapat memberikan sumber pendapatan alternatif bagi petani sambil melestarikan tradisi pertanian dan mempromosikan budaya lokal. Pada sektor pariwisata, potensi utama Desa Samar terletak pada pengembangan agrowisata berbasis edukasi. Desa ini memiliki destinasi unggulan berupa kebun buah yang menawarkan pengalaman memetik buah langsung dari pohon, khususnya Agroeduwisata Jeruk yang memberikan pengalaman unik bagi pengunjung untuk belajar tentang budidaya jeruk sambil menikmati pemandangan alam. Pengembangan wisata agro telah terbukti menjadi faktor pendorong utama dalam peningkatan kunjungan wisatawan domestik, sebagaimana ditunjukkan dalam studi tentang peningkatan signifikan kunjungan wisatawan di berbagai destinasi agrowisata (Suharto, 2. Namun demikian, potensi eduwisata di Desa Samar masih didominasi oleh tanaman pokok dengan diversifikasi yang sangat terbatas. Ketergantungan pada satu jenis tanaman meningkatkan risiko ekonomi yang tinggi bagi petani. Gagal panen akibat perubahan cuaca, serangan hama, atau penyakit jeruk, serta fluktuasi harga pasar dapat mempengaruhi stabilitas Diversifikasi produk wisata, pengembangan pasar dan promosi, serta peningkatan sarana dan prasarana merupakan faktor penting dalam pengembangan agrowisata yang sukses (Febriana & Pangestuti, 2. Penelitian lain menunjukkan bahwa pendekatan yang melibatkan pengembangan infrastruktur, promosi, dan partisipasi masyarakat lokal dianggap efektif dalam meningkatkan daya tarik wisata (Masanda et al. , 2. Partisipasi masyarakat lokal memainkan peran penting dalam kesuksesan pengembangan agrowisata berkelanjutan. Studi menunjukkan bahwa agrowisata berbasis masyarakat tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi pemangku kepentingan lokal, tetapi juga mendorong konservasi alam dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata (Annas & Rusnaedy, 2. Pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan manajemen eduwisata agro menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan destinasi wisata. Penelitian menganalisis bahwa infrastruktur dan kewirausahaan berperan signifikan dalam pengembangan agrowisata yang berdampak positif pada kesejahteraan masyarakat (Petang & Badung, 2. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah ketergantungan pada monokultur jeruk yang sangat tinggi. Dari 28 petani yang terlibat, 23 petani . %) hanya mengandalkan satu jenis tanaman yaitu jeruk sebagai sumber pendapatan utama. Ketergantungan pada satu komoditas meningkatkan kerentanan ekonomi secara signifikan, karena petani tidak memiliki alternatif pendapatan ketika terjadi kegagalan panen atau penurunan harga pasar. Penelitian terhadap petani jeruk skala kecil menunjukkan bahwa petani yang memiliki persepsi risiko tinggi cenderung lebih termotivasi untuk melakukan diversifikasi tanaman guna mengurangi risiko pertanian dan mendukung keberlanjutan lingkungan (Chen et al. , 2. Diversifikasi tanaman terbukti menawarkan strategi berkelanjutan untuk meningkatkan ketahanan ekonomi petani dan mengurangi risiko monokultur melalui stabilisasi pendapatan dari berbagai sumber (Mihrete & Mihretu, 2. Permasalahan kedua adalah rendahnya produktivitas lahan tadah hujan. Curah hujan musiman yang tidak merata menyebabkan risiko gagal tanam yang cukup tinggi. Keterbatasan sistem penyimpanan air hujan yang memadai untuk keperluan musim kemarau menjadi kendala P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. utama dalam mempertahankan produktivitas tanaman. Umur dan produktivitas jeruk di lahan tadah hujan . tidak sebaik di lahan sawah dengan irigasi yang memadai (Irawan et al. Permasalahan ketiga adalah lemahnya kapasitas manajemen eduwisata. Desa Samar sesungguhnya memiliki potensi agrowisata yang besar, khususnya melalui destinasi Agroeduwisata Jeruk. Namun, pengelolaan wisata masih bersifat informal dan belum terstruktur dengan baik. Rendahnya kapasitas manajemen wisata masyarakat menyebabkan potensi eduwisata belum dapat dioptimalkan secara maksimal. Penelitian menunjukkan bahwa pengembangan agrowisata berbasis masyarakat memerlukan dukungan kapasitas kelembagaan yang kuat agar memberikan manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat lokal (Wiyono, 2. Kondisi di atas mengakibatkan fluktuasi pendapatan petani yang tinggi, rendahnya daya tarik wisatawan, dan terbatasnya manfaat ekonomi dari potensi alam yang dimiliki desa. Diversifikasi pertanian tidak hanya mengurangi risiko ekonomi, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata dengan menawarkan pengalaman yang lebih beragam bagi pengunjung. Keterlibatan aktif masyarakat lokal menjadi kunci dalam menciptakan pengalaman wisata yang autentik, melestarikan tradisi pertanian, dan memastikan pembangunan pariwisata selaras dengan nilai komunitas (Trisnanto et al. , 2. Pendekatan pemberdayaan masyarakat melalui diversifikasi tanaman buah telah terbukti berhasil meningkatkan partisipasi, menumbuhkan kesadaran konservasi, serta membuka peluang ekonomi jangka panjang bagi petani pedesaan. Model pengembangan agrowisata yang melibatkan kolaborasi antara pemerintah, universitas, pelaku usaha, dan petani berfungsi sebagai katalis untuk pengembangan kawasan yang berkelanjutan, sebagaimana ditunjukkan dalam studi pengembangan agrowisata pekarangan berbasis komunitas di Jawa Timur (Trisnanto et al. , 2. Pengembangan eduwisata berbasis komunitas juga terbukti memberikan manfaat sosial dan ekonomi sekaligus mendorong konservasi alam dan meningkatkan partisipasi masyarakat lokal (Annas & Rusnaedy, 2. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk: . meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya diversifikasi tanaman buah dalam pengembangan eduwisata agro, . mengimplementasikan diversifikasi tanaman buah di lahan eduwisata Desa Samar melalui penataan spot-spot tanaman buah, dan . meningkatkan kapasitas manajemen eduwisata masyarakat sebanyak 28 petani jeruk Desa Samar melalui pendampingan dan pengembangan media edukasi. METODE Metode pelaksanaan program pengabdian kepada masyarakat di Desa Samar dirancang dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat secara aktif dalam setiap tahapan Pendekatan partisipatif dalam pengembangan agrowisata berbasis masyarakat telah terbukti efektif dalam meningkatkan keberlanjutan dan kesuksesan destinasi wisata (Srithong et , 2. Program ini memiliki misi pokok membangkitkan kembali gairah petani jeruk dan pengembangan eduwisata agro dengan mengimplementasikan IPTEKS yang mencakup tiga aspek utama. Sosialisasi Pengembangan Eduwisata Agro Tahap pertama dilaksanakan pada bulan Maret 2025 melalui kegiatan sosialisasi yang melibatkan seluruh 28 petani mitra dan perangkat desa. Kegiatan dilaksanakan di balai desa selama satu hari penuh . dengan menghadirkan dua narasumber, yaitu . pakar agrowisata dari Universitas Negeri Malang yang menyampaikan materi tentang potensi dan strategi pengembangan eduwisata agro, dan . praktisi agrowisata sukses dari Kabupaten Malang yang berbagi pengalaman lapangan. Materi sosialisasi mencakup: konsep diversifikasi tanaman buah, peluang dan tantangan pengembangan eduwisata, analisis SWOT potensi Desa Samar, serta praktik manajemen wisata berbasis komunitas. Untuk mengukur efektivitas P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. sosialisasi, dilakukan pre-test sebelum kegiatan dan post-test setelah kegiatan menggunakan kuesioner terstruktur dengan 20 item pertanyaan. Inovasi Produk Diversifikasi Tanaman Buah Tahap kedua dilaksanakan pada bulan April 2025 melalui implementasi inovasi diversifikasi tanaman buah. Pemilihan jenis tanaman didasarkan pada hasil analisis: kesesuaian agroklimat lahan Desa Samar, preferensi petani mitra, nilai ekonomi tanaman, serta potensi daya tarik bagi wisatawan edukasi. Lima jenis tanaman dipilih untuk dikembangkan, yaitu jeruk . anaman existing yang dipertahankan dan diremajaka. , pisang kepok, jambu kristal, mangga arum manis, dan pepaya california. Lahan eduwisata ditata menjadi lima spot tanaman yang terorganisir. Setiap spot dirancang untuk memberikan pengalaman edukasi berbeda bagi pengunjung. Total bibit yang ditanam sebanyak 150 bibit yang terdiri dari: 30 bibit jambu kristal, 40 bibit pisang kepok, 30 bibit mangga arum manis, 30 bibit pepaya california, dan 20 bibit jeruk varietas baru untuk Proses implementasi meliputi survei teknis dan pemetaan lahan, pembuatan lubang tanam sesuai standar agronomis, persiapan media tanam . ampuran tanah, kompos, dan pupuk kandan. , dan penanaman bibit dengan pendampingan teknis. Seluruh petani mitra terlibat aktif dalam proses penanaman sebagai upaya menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap program. Pengembangan Media Edukasi dan Pemasaran Tahap ketiga dilaksanakan pada bulan Mei 2025 dengan fokus pada pengembangan media edukasi berupa buku saku eduwisata buah. Buku saku ini dirancang sebagai media pembelajaran interaktif yang memuat informasi tentang berbagai varietas buah yang ada di lokasi eduwisata, meliputi: nama dan karakteristik setiap varietas, cara budidaya dan perawatan, manfaat kesehatan, serta resep pengolahan hasil panen. Penyusunan konten buku saku dilakukan bersama petani mitra melalui diskusi terfokus (FGD) sebanyak dua sesi. Evaluasi Program Evaluasi keberhasilan program dilakukan melalui beberapa instrumen: . pre-test dan post-test pemahaman petani tentang diversifikasi tanaman dan manajemen eduwisata, . observasi tingkat partisipasi petani dalam setiap tahapan kegiatan, dan . dokumentasi capaian fisik berupa jumlah bibit tertanam, jumlah spot tanaman yang terbentuk, dan luas lahan yang Indikator keberhasilan utama yang ditetapkan adalah: minimal 80% petani mitra berpartisipasi aktif, minimal 150 bibit buah tertanam, dan peningkatan pemahaman petani minimal 50% berdasarkan pre-test dan post-test. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Desa Samar. Kecamatan Pagerwojo. Kabupaten Tulungagung. Jawa Timur, pada periode MaretAeMei 2025. Kegiatan melibatkan 28 petani jeruk sebagai penerima manfaat utama. Berikut dipaparkan hasil dan pembahasan setiap tahapan kegiatan. Survei Baseline dan Analisis Kebutuhan Survei baseline dilaksanakan pada bulan Maret 2025 sebelum program dimulai. Survey lapangan merupakan tahap krusial dalam pengembangan agrowisata untuk memahami kondisi eksisting dan potensi yang dapat dikembangkan (Siregar et al. , 2. hasil survei dan wawancara dengan 28 petani mitra, diperoleh beberapa temuan penting sebagaimana disajikan pada Gambar 1. Temuan pertama menunjukkan bahwa 23 dari 28 petani . %) hanya menanam satu jenis tanaman yaitu jeruk. Hal ini sejalan dengan temuan Chen et al. yang menunjukkan bahwa petani jeruk skala kecil cenderung bertahan pada monokultur meskipun menyadari P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Temuan kedua adalah kondisi infrastruktur air yang memprihatinkan: terdapat 3 bak penampungan air hujan yang bocor dan tidak dapat difungsikan secara optimal. Temuan ketiga adalah belum adanya penanda dan penataan spot tanaman yang jelas untuk keperluan eduwisata, meskipun beberapa pengunjung sudah mulai berdatangan secara informal. Gambar 1. Survei lapangan lokasi eduwisata Desa Samar Sosialisasi Pengembangan Eduwisata Agro Kegiatan sosialisasi dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2025 di Balai Desa Samar dan dihadiri oleh 28 petani mitra serta 7 perangkat desa. Koordinasi kegiatan dengan mitra dan pemerintah desa berlangsung secara intensif untuk memastikan program sesuai kebutuhan masyarakat (Gambar . Gambar 2. Koordinasi kegiatan dengan mitra dan pemerintah desa Hasil pre-test menunjukkan bahwa rata-rata skor pemahaman peserta tentang diversifikasi tanaman dan manajemen eduwisata hanya mencapai 42 dari 100. Setelah mengikuti sosialisasi, rata-rata skor post-test meningkat menjadi 75 dari 100, yang berarti terjadi peningkatan pemahaman sebesar 78%. Model pengembangan agrowisata yang melibatkan stakeholder kunci termasuk pemerintah, universitas, dan masyarakat lokal dapat meningkatkan pemahaman tentang potensi agrowisata sambil mengakui pentingnya keberlanjutan masyarakat (Krittayaruangroj et al. , 2. Testimoni dari peserta sosialisasi menunjukkan antusiasme yang tinggi. Seorang petani mitra. Bapak Rudi menyatakan: "Selama ini kami tidak menyadari bahwa tanaman pisang dan jambu yang ada di kebun bisa menjadi daya tarik wisata. Sekarang kami paham bahwa dengan P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. menata tanaman lebih baik, pengunjung akan lebih tertarik datang. " Hasil wawancara dan observasi menunjukkan perubahan persepsi yang signifikan dari mayoritas peserta terhadap potensi eduwisata desa mereka. Implementasi Diversifikasi Tanaman Buah Implementasi diversifikasi tanaman dilaksanakan sepanjang bulan April 2025. Berdasarkan hasil survei teknis dan diskusi dengan mitra, dibuat pola penanaman yang memadukan penataan tanaman lama yang dipertahankan dengan penambahan jenis tanaman buah baru. Pola ini diwujudkan dalam bentuk spot-spot tanaman yang terorganisir sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3. Gambar 3. Pola tanaman buah lokasi eduwisata Tabel 1. Realisasi Diversifikasi Tanaman Buah di Lokasi Eduwisata Desa Samar Jenis Tanaman Jumlah Bibit Luas Spot . A) Status Jeruk . Tertanam . %) Pisang Kepok Tertanam . %) Jambu Kristal Tertanam . %) Mangga Arum Manis Tertanam . %) Pepaya California Tertanam . %) Total 5 jenis tanaman Realisasi 100% Gambar 4 menunjukkan proses penanaman bibit tanaman buah yang dilakukan secara gotong royong oleh seluruh petani mitra. Diversifikasi tanaman buah tidak hanya meningkatkan daya tarik wisata tetapi juga menciptakan multiple income streams bagi petani (Vik & Mcelwee, 2. Keterlibatan 28 petani dalam proses penanaman meningkatkan rasa kepemilikan terhadap program dan komitmen untuk menjaga keberlangsungan tanaman. Pendekatan partisipatif ini selaras dengan temuan bahwa keterlibatan masyarakat dalam setiap tahapan pengembangan agrowisata meningkatkan rasa kepemilikan dan komitmen terhadap keberlanjutan program. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Gambar 4. Proses penanaman bibit tanaman buah Gambar 5. Bibit tanaman buah siap ditanam Pengembangan Media Edukasi Buku saku eduwisata buah dirancang untuk memberikan informasi edukatif kepada pengunjung tentang berbagai buah yang ada di lokasi eduwisata Desa Samar. Penyusunan konten buku saku dilakukan melalui dua sesi FGD dengan petani mitra pada bulan Mei 2025. Penggunaan media edukasi interaktif dapat meningkatkan pengalaman pembelajaran pengunjung dan memperkuat nilai edukasi dari agrowisata (Liang, 2. Konten buku saku mencakup: informasi tentang 5 varietas buah utama, panduan cara memetik dan merawat tanaman, manfaat kesehatan masing-masing buah, dan 10 resep pengolahan hasil panen. Buku saku ini sedang dalam tahap finalisasi desain grafis untuk dicetak dan didistribusikan kepada Evaluasi Dampak Program Evaluasi program dilakukan pada akhir Mei 2025. Berdasarkan observasi dan dokumentasi, seluruh 28 petani mitra . %) berpartisipasi aktif dalam minimal dua dari tiga tahapan kegiatan. Hal ini menunjukkan tingkat penerimaan dan antusiasme yang sangat tinggi terhadap program diversifikasi yang ditawarkan. Gambar 6 menampilkan tim pengabdian bersama masyarakat Desa Samar pada akhir program, dan Gambar 7 menunjukkan lokasi eduwisata yang telah dikembangkan dengan spotspot tanaman buah yang tertata rapi. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. Gambar 6. Tim pengabdian bersama masyarakat Desa Samar Gambar 7. Tim di lokasi eduwisata yang telah dikembangkan Dari sisi dampak ekonomi, diversifikasi tanaman buah memberikan potensi multiple income streams bagi petani. Agrowisata telah terbukti sebagai alat yang kuat untuk pengembangan pedesaan berkelanjutan dengan potensi diversifikasi ekonomi, pelestarian warisan budaya, dan kesadaran lingkungan (Krittayaruangroj et al. , 2. Studi tentang pengembangan agrowisata berbasis masyarakat di desa-desa Jawa Timur juga menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah lokal, kelompok tani, dan komunitas wisata merupakan faktor kunci keberhasilan program (Trisnanto et al. , 2. Dari sisi dampak sosial, kegiatan ini meningkatkan kohesi sosial masyarakat melalui kerja sama dalam pengelolaan destinasi wisata. Masyarakat menjadi lebih sadar akan potensi yang dimiliki dan termotivasi untuk terus mengembangkan agrowisata sebagai sumber pendapatan alternatif. Penelitian tentang ekowisata berbasis komunitas di desa-desa Indonesia menunjukkan bahwa model pemberdayaan petani melalui pertanian organik dan pariwisata berkelanjutan mampu meningkatkan kesejahteraan ekonomi sekaligus melestarikan nilai budaya lokal (Wiyono, 2. Meskipun capaian program sangat positif, terdapat beberapa tantangan yang dihadapi. Pertama, keterbatasan tenaga perawatan lahan pasca-penanaman menjadi kendala karena tidak semua petani memiliki waktu yang cukup untuk merawat spot tanaman baru di luar kegiatan utama mereka. Kedua, sistem penampungan air yang belum optimal membuat perawatan tanaman di musim kemarau menjadi tidak maksimal. Ketiga, akses jalan menuju beberapa spot tanaman masih perlu diperbaiki untuk memudahkan kunjungan wisata. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini berhasil menjawab permasalahan utama mitra yaitu ketergantungan pada monokultur jeruk, rendahnya produktivitas lahan tadah hujan. P-ISSN 2807-6605 | E-ISSN 2807-6567 Jurnal Abdi Masyarakat Indonesia (JAMSI) https://jamsi. jurnal-id. Vol. No. Mei 2026. Hal. DOI: https://doi. org/10. 54082/jamsi. dan minimnya kapasitas manajemen eduwisata. Program yang dilaksanakan selama MaretAeMei 2025 ini melibatkan 28 petani jeruk di Desa Samar. Kecamatan Pagerwojo. Kabupaten Tulungagung dengan tiga intervensi utama: sosialisasi eduwisata agro, diversifikasi tanaman buah, dan pengembangan media edukasi. Capaian konkret program mencakup: . peningkatan pemahaman 28 petani mitra tentang diversifikasi dan manajemen eduwisata sebesar 78% berdasarkan pre-test dan posttest, . terbentuknya lima spot tanaman buah di lahan eduwisata seluas 0,5 hektar dengan 150 bibit buah tertanam . % dari targe. , dan . tersusunnya konten buku saku eduwisata buah sebagai media pendidikan bagi pengunjung. Faktor pendukung keberhasilan program meliputi: tingginya antusiasme petani mitra . artisipasi 100%), dukungan penuh pemerintah desa, dan tersedianya lahan yang representatif untuk pengembangan eduwisata. Faktor penghambat yang perlu ditangani adalah: keterbatasan tenaga perawatan lahan, sistem penampungan air yang belum optimal, dan akses jalan yang perlu diperbaiki. Secara sosial, program ini meningkatkan kohesi masyarakat, menumbuhkan kesadaran kolektif tentang potensi desa, dan membuka peluang diversifikasi usaha berbasis wisata. Secara ekonomi, diversifikasi tanaman buah memberikan fondasi untuk multiple income streams yang mengurangi kerentanan ekonomi dari ketergantungan monokultur jeruk. Ke depan, program perlu dilanjutkan dengan penyelesaian buku saku eduwisata buah, perbaikan infrastruktur penampungan air, dan pengembangan sistem promosi digital untuk memperluas jangkauan pemasaran eduwisata Desa Samar. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Universitas Negeri Malang yang telah memberi dukungan financial terhadap pengabdian ini melalui skema Program Kemitraan Masyarakat (PkM) Non APBN UM Tahun 2025. Terima kasih juga disampaikan kepada Kepala Desa Samar. Bapak Rubik Astono, dan seluruh masyarakat Desa Samar yang telah berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengabdian ini. DAFTAR PUSTAKA