PARADOKS Jurnal Ilmu Ekonomi Vol. 8 No. Mei 2025 e-ISSN : 2622-6383 Pengaruh Inflasi Dan Suku Bunga Terhadap Harga Saham Dengan Finansial Distress Sebagai Variabel Mediasi Mulia Saleh1*. Hardiyanto2. Risa Rukmana3. Suriani4. St Ramlah5 andimulya987@gmail. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Tri Dharma Nusantara,Makassar. Indonesia 1. 2,3,4,5 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh inflasi dan suku bunga terhadap harga saham dengan financial distress sebagai variabel mediasi pada perusahaan konsumsi non primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Jenis penelitian berupa penelitian kuantitatif yang dilakukan pada perusahaan konsumsi non primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2020-2021. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 40 perusahaan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data sekunder. Teknik analisis yang digunakan adalah path analisis dengan bantuan IBM SPSS 22. Hasil penelitian menunjukkan inflasi dan suku bunga tidak berpengaruh terhadap financial distress, inflasi tidak berpengaruh terhadap harga saham, suku bunga dan financial distress berpengaruh terhadap harga saham. financial distress tidak mampu memediasi inflasi terhadap harga saham, financial distress mampu memediasi suku bunga terhadap harga saham. Kata Kunci: Inflasi. Suku Bunga. Financial Distress. Harga saham Karya ini dilisensikan di bawah lisensi Creative Commons Atribusi 4. 0 Lisensi Internasional . Pendahuluan Seiring dengan berkembangnya teknologi mampu memberikan informasi yang akurat, salah satunya informasi tentang investasi. Berinvestasi merupakan upaya menanamkan modal maupun dana dengan harapan dapat memperoleh keuntungan . dimasa mendatang (Idris, 2. Alternatif investasi yang dapat dipilih oleh para investor yakni berinvestasi pada pasar modal. Adapun investasi yang tergolong menarik yang dapat dilakukan pada pasar modal yakni berinvestasi pada saham. Ketika berinvestasi dalam bentuk saham, investor perlu memperhatikan pergerakan harga saham, dimana pergerakannya menunjukkan kinerja perusahaan tersebut. Apabila kinerjanya baik, maka keuntungan yang diperoleh akan semakin besar dan begitupun sebaliknya (Ningsih, et. , 2. Namun, seiring dengan terjadinya wabah pandemi Covid-19 yang menyebar ke seluruh dunia mampu mempengaruhi harga saham pada pasar saham. Hal ini menyebabkan harga di pasar saham menurun, terlebih ketika presiden secara resmi mengumumkan dua orang warga Indonesia yang terdampak Covid-19 pada 3 maret Kebijakan pemerintah untuk menerapkan social distancing, work from home, kebijakan PSBB dan PPKM akibat pandemi Covid-19 juga berdampak pada melemahnya harga saham dan juga beberapa perusahaan mengalami kerugian. Adapun pergerakan pendapatan perusahaan sektor konsumsi non primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak diumumkannya kasus pandemi covid-19 di Indonesia, terdapat beberapa perusahaan yang memiliki pendapatan negatif. Penurunan pendapatan yang berdampak pada kerugian mengakibatkan perusahaan mengalami kesulitan keuangan . inancial distres. , umumnya perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan akan mengalami penurunan harga saham secara signifikan (Wawo & Nirwana, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Ningsih, et. , . dengan judul pengaruh makro ekonomi terhadap harga saham dengan financial distress sebagai variabel mediasi. Hasil Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 15 penelitiannya menunjukkan bahwa inflasi dan suku bunga tidak berpengaruh terhadap financial distress. Inflasi , suku bunga dan financial distress berpengaruh terhadap harga Financial distress tidak mampu memediasi inflasi terhadap harga saham dan financial distress tidak mampu memediasi suku bunga terhadap harga saham. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah peneliti menambahkan tahun 2021 sebagai data penelitian. Penggunaan variabel financial distress adalah untuk melihat apakah ada pengaruh inflasi dan suku bunga terhadap harga saham melalui financial distress. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan path analysis . nalisis jalu. Metode Analisis Penelitian akan dilakukan pada perusahaan sektor konsumsi non primer yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dapat diakses melalui website w. selama periode 2020 dan 2021. Terpilihnya perusahaan tersebut dikarenakan melihat dampak besar dari penyebaran pandemic covid-19. Data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data yang diambil dari website Bursa Efek Indonesia (BEI). Jadi jenis data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yang bertujuan untuk memperoleh sampel sesuai kriteria sebagai berikut: Perusahaan konsumsi non primer Perusahaan yang menerbitkan laporan tahunan 2020 dan 2021 Perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan kriteria diatas diperoleh 40 perusahaan yang memenuhi syarat sehingga pada penelitian ini ada 40 perusahaan sebagai sampel penelitian sebagai Tabel 1. Daftar perusahaan yang diteliti No. Nama perusahaan Kode perusahaan 1 Sona Topas Tourism Industry Tbk. SONA 2 Ramayana Lestari Sentosa Tbk. RALS 3 Panorama Sentrawisata Tbk. PANR 4 Ace Hardware Indonesia Tbk. ACES 5 Pembangunan Graha Lestari Tbk. PGLI 6 Media Nusantara Citra Tbk. MNCN 7 PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk RISE 8 Catur Sentosa Adiprana Tbk. CSAP 9 Erajaya Swasembada Tbk. ERAA 10 Matahari Department Store Tbk. LPPF 11 PT Fast Food Indonesia Tbk. FAST 12 Goodyear Indonesia Tbk. GDYR 13 PT Hartadinata Abadi Tbk. HRTA 14 Tifico Fiber Indonesia Tbk. TFCO 15 Indomobil Sukses Internasional Tbk. IMAS 16 PT Integra Indocabinet Tbk. WOOD 17 Pembangunan Jaya Ancol Tbk. PJAA 18 Pudjiadi And Sons Tbk. PNSE 19 Mega Perintis Tbk. ZONE 20 Gajah Tunggal Tbk. GJTL 21 Bayu Buana Tbk. BAYU 22 Multistrada Arah Sarana Tbk. MASA 23 Kedaung Indah Can Tbk. KICI Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 16 24 PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk. 25 PT Asia Pacific Investama Tbk. 26 Prima Alloy Steel Universal Tbk 27 PT Sarimelati Kencana Tbk. 28 Jakarta Setiabudi Internasional Tbk 29 Tunas Ridean Tbk. 30 PT Citra Putra Realty Tbk. 31 PT Chitose Internasional Tbk. 32 MNC Land Tbk. 33 Fortune Indonesia Tbk 34 Gema Grahasarana Tbk. 35 Eratex Djaja Tbk. 36 PT Electronic City Indonesia Tbk. 37 Langgeng Makmur Industri Tbk. 38 Multi Indocitra Tbk. 39 Pioneerindo Gourmet International Tbk 40 Ricky Putra Globalindo Tbk Sumber: Data BEI 2025 MPMX MYTX PRAS PZZA JSPT TURI CLAY CINT KPIG FORU GEMA ERTX ECII LMPI MICE PTSP RICY Hasil dan Pembahasan Perhitungan dan Penentuan Variabel Penelitian Variabel penelitian memiliki sifat beragam . Selain bervariasi, variabel penelitian juga harus dapat diukur. Mengingat penelitian kuantitatif mengharuskan hasil penelitiannya bersifat objektif, terukur dan dapat selalu terbuka untuk diuji. Berikut ini hasil perhitungan variabel penelitian menggunakan SPSS dan microsoft excel: Tahu Perusahaa SONA RALS PANR ACES PGLI MNCN RISE CSAP ERAA LPPF FAST GDYR HRTA TFCO IMAS WOOD PJAA PNSE ZONE Tabel 2. Hasil perhitungan variabel penelitian Inflasi Suku Bunga Financial Distress (X. (X. (Z) Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 17 Harga Saham (Y) GJTL BAYU MASA KICI MPMX MYTX PRAS PZZA JSPT TURI CLAY CINT KPIG FORU GEMA ERTX ECII LMPI MICE PTSP RICY SONA RALS PANR ACES PGLI MNCN RISE CSAP ERAA LPPF FAST GDYR HRTA TFCO IMAS WOOD PJAA PNSE ZONE GJTL BAYU MASA KICI MPMX MYTX PRAS PZZA Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 18 JSPT TURI CLAY CINT KPIG FORU GEMA ERTX ECII LMPI MICE PTSP RICY Sumber : Data diolah Uji F Uji hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah semua variabel bebas memiliki pengaruh terhadap variabel terikatnya. Untuk pengujian dalam SPSS sebagai berikut: Tabel 3. Hasil uji F Model Sum of Squares Mean Square Regression Residual Total Sig. Sumber : Data diolah Dari hasil output SPSS pada tabel 8 diperoleh nilai F hitung 17,225 > F tabel 3,114 dengan tingkat signifikan 0,000 < dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen (Inflasi dan Suku bung. berpengaruh terhadap variabel dependen (Harga Uji t Kemudian untuk menguji hipotesis bertujuan untuk mengetahui pengaruh signifikan pada variabel bebas terhadap variabel terikat dilakukan perbandingan antara T-hitung dengan T-tabel dengan taraf nyata 0,05 . %). Untuk pengujiannya menggunakan SPSS sebagai berikut: Tabel 4. Hasil uji t Unstandardized Coefficients Model 1 (Constan. Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Inflasi Suku Bunga Sumber : Data diolah Dari hasil output SPSS pada tabel 4 menunjukkan pengaruh antara variabel independen terhadap variabel dependen sebagai berikut: Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 19 a. Inflasi memiliki nilai t-hitung sebesar 1,472 < dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikan 0,145 > 0,05 artinya secara parsial inflasi tidak berpengaruh terhadap harga Suku bunga memiliki nilai t-hitung sebesar 2,644 > dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikan 0,010 < 0,05 artinya secara parsial suku bunga berpengaruh terhadap harga saham. Koefisien Determinasi (R. Uji Koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel bebas yaitu inflasi dan suku bunga secara serentak atau bersamasama terhadap variabel terikat yaitu harga saham. Berikut ini adalah hasil output SPSS Tabel 5. Hasil uji koefisien determinasi Model R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Sumber : Data diolah Hasil uji pada tabel 10 menunjukkan bahwa nilai R square adalah 0,309, artinya variabel dependen harga saham (Y) dipengaruhi oleh variabel independen inflasi dan suku bunga (X) sebesar 30,9% sementara sebesar 69,1 dipengaruhi oleh variabel lain. Analysis Path (Analisis Jalu. Model ini mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung seperangkat variabel bebas terhadap variabel terikat (Sani dan Maharani : 2. Analisis ini dibantu dengan b antuan software SPSS 22. 0, dengan ketentuan uji F pada Alpha = 0,05 sebagai taraf signifikansi F . F) sedangkan untuk uji t taraf signifikansi Alpha = 0,05. Adapun pengujiannya menggunakan SPSS sebagai berikut: Pengaruh langsung Model R Square Model Regression Residual Model Tabel 6. Hasil uji regresi model I (Constan. Inflasi Suku bunga Sumber : Data diolah Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Sum of Squares Mean Square Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Sig. Berdasarkan tabel 6 akan dihitung koefisien jalur model I, adapun penjelasannya sebagai berikut: Z = 1,721 0,000X1 0,000X2 = 1,721 , artinya jika nilai inflasi (X. dan suku bunga (X. Maka financial distress (Z) sebesar 1,721. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 20 . Mengacu pada hasil regresi model I pada bagian tabel coefficients dapat diketahui bahwa nilai signifikansi dari dua variabel yaitu X1= 0,816 > 0,05 dan X2 = 0,470 > 0,05. Hasil ini memberikan kesimpulan bahwa regresi model I, yakni variabel X1 dan X2 tidak berpengaruh terhadap Z. Diperoleh nilai F hitung 0,377 < F tabel 3,114 dengan tingkat signifikan 0,687 > dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel inflasi dan suku bunga tidak berpengaruh terhadap variabel financial distress. Inflasi (X. memiliki nilai t-hitung sebesar 0,233 dan suku bunga (X. memiliki t hitung 0,727 < dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikan X1 sebesar 0,816 >0,05 dan X2 sebesar 4,70 > 0,05 artinya secara parsial inflasi dan suku bunga tidak berpengaruh terhadap Financial Distress. Besarnya nilai R square yang terdapat pada tabel model summary adalah sebesar 0,010, hal ini menunjukkan bahwa sumbangan pengaruh X1 dan X2 terhadap Z adalah sebesar 1% sementara sisanya 99% merupakan kontribusi dari variabelvariabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian. Dengan demikian diperoleh diagram jalur model struktur I sebagai berikut: 0,040 0,125 Gambar 1. Diagram jalur model struktur I Sumber : Data diolah, 2025 Pengaruh tidak langsung Model Tabel 7. Hasil Regresi model II Adjusted R R Square Square Std. Error of the Estimate Model Regression Residual Sum of Squares Total Model (Constan. Inflasi Suku Bunga Financial Distress Sumber : Data diolah Mean Square Unstandardized Coefficients Std. Error Standardized Coefficients Beta Sig. Sig. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 21 Berdasarkan tabel 7 akan dihitung koefisien jalur model II, adapun penjelasannya sebagai berikut: Y= 543,639 0,225X1 0,336X2 212,120Z = 1,721 , artinya jika nilai inflasi (X. , suku bunga (X. dan financial distress (Z) adalah 0,12. Maka Harga saham (Y) sebesar 543,639. Berdasarkan hasil regresi model II pada bagian tabel coefficients, diketahui bahwa nilai signifikansi dari ketiga variabel yaitu X1= 0,151 > 0,05. X2 = 0,005 < 0,05 dan Y= 0,33 < 0,05. Hasil ini memberikan kesimpulan bahwa regresi model II, yakni variabel X1 melalui Z tidak berpengaruh signifikan terhadap Y, variabel X2 melalui Z berpengaruh signifikan terhadap Y dan Z berpengaruh signifikan terhadap Y. Diperoleh nilai F hitung 13,602 > F tabel 3,115 dengan tingkat signifikan 0,000 < dari 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa variabel . inflasi (X. dan suku bunga (X. melalui financial distress (Z) berpengaruh terhadap variabel Harga Saham (Y). Inflasi (X. melalui financial distress (Z) memiliki nilai t-hitung sebesar 1,449 < dari t tabel 1,668 dengan tingkat signifikan 0,151 artinya secara parsial inflasi (X. melalui financial distress (Z) tidak berpengaruh terhadap harga saham (Y). Suku bunga (X. melalui financial distress (Z) memiliki t hitung 2,876 > dari t-tabel 1,668 dengan tingkat signifikan 0,005 < 0,05 artinya secara parsial suku bunga (X. melalui financial distress (Z) berpengaruh terhadap harga saham (Y). Financial distress (Z) memiliki t hitung 2,168 > t tabel 1,668 dengan tingkat signifikan 0,033 < 0,05 artinya secara parsial financial distress (Z) berpengaruh terhadap harga saham(Y). Besarnya nilai R square yang terdapat pada tabel model summary adalah sebesar 0,349, hal ini menunjukkan bahwa sumbangan pengaruh X1. X2 melalui Z terhadap Y adalah sebesar 34,9% sementara sisanya 65,1% merupakan kontribusi dari variabel-variabel lain yang tidak dimasukkan dalam penelitian. Dengan demikian diperoleh diagram jalur model struktur II sebagai berikut: Gambar 4: Diagram jalur model struktur II 0,203 0,040 0,202 0,125 0,405 Gambar 2. Diagram jalur model struktur II Sumber: Data diolah Pembahasan Hipotesis pertama dalam penelitian ini menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif terhadap financial distress memiliki nilai t-hitung sebesar 0,233 < dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikan 0,816 > 0,05 artinya secara parsial inflasi tidak berpengaruh terhadap financial distress, dengan demikian hipotesis pertama ditolak. Semakin tinggi tingkat inflasi maka harga barang secara umum akan naik, hal ini akan berpengaruh pada penurunan daya beli masyarakat hingga penurunan penjualan perusahaan. Sehingga laba yang diperoleh perusahaan berkurang dan memicu terjadinya financial Menurut Nababan. Mangantar, & Maramis . jika inflasi di suatu negara lebih dari 10%, maka hal tersebut akan berpengaruh terhadap risiko bisnis perusahaan. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 22 Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika inflasi di suatu negara tidak bergerak secara fluktuatif dan masih di bawah 10%, maka tingkat financial distress perusahaan yang beroperasi makin kecil. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori signal dimana inflasi akan memberikan sinyal kepada investor dalam mengambil keputusan berinvestasi. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ningsih, et. , . dan Priyatnasari & Hartono, . , dengan hasil bahwa inflasi tidak berpengaruh terhadap financial Hipotesis kedua menyatakan suku bunga berpengaruh positif terhadap financial Hasil uji t menunjukkan bahwa pengaruh suku bunga terhadap Financial distress memiliki nilai t-hitung sebesar 0,727 < dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikansi 0,492 > 0,05 artinya secara parsial suku bunga tidak berpengaruh terhadap financial distress, dengan demikian hipotesis kedua ditolak. Suku bunga tidak dapat dijadikan ukuran dalam menilai kondisi financial distress pada suatu perusahaan. Hal ini disebabkan karena tidak semua perusahaan terdampak atas perubahan suku bunga, karena biaya bunga yang harus dikeluarkan perusahaan telah disepakati awal kontrak pinjaman, sehingga tidak mempengaruhi stabilitas keuangan perusahaan. Tingkat suku bunga per tahun 2020-2021 juga cukup stabil, sehingga tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kondisi financial distress. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori signal dimana suku bunga akan memberikan sinyal kepada investor dalam mengambil keputusan Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ningsih, et,. , . , dan Rohiman et. , al. , . , dengan hasil bahwa suku bunga tidak berpengaruh terhadap financial distress. Hipotesis ketiga dalam penelitian ini menyatakan bahwa financial distress berpengaruh positif terhadap harga saham. Hasil uji t menunjukkan bahwa pengaruh financial distress terhadap harga saham memiliki nilai t-hitung sebesar 2,168 > dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikansi 0,033 < 0,05 artinya secara parsial financial distress berpengaruh terhadap harga saham dengan demikian hipotesis ketiga diterima. Model Altman Z-Score adalah salah satu alat uji untuk memprediksi kebangkrutan dalam sebuah perusahaan. Prediksi kebangkrutan bermanfaat bagi pihak investor agar mempunyai gambaran mengenai perkembangan usaha. Hal ini dapat mempengaruhi pergerakan saham perusahaan tersebut sehingga dapat membuat para investor melakukan peninjauan kembali sebelum melakukan transaksi. rendahnya pergerakan harga saham dapat disebabkan karena adanya pertimbangan Kondisi yang menjadi pertimbangan seperti kinerja suatu perusahaan yang baik atau tidak mengalami kesulitan keuangan akan mempengaruhi harga saham. Penelitian ini sesuai dengan teori sinyal dimana financial distress akan memberikan sinyal kepada investor dalam mengambil keputusan berinvestasi. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sitorus & Marcella . , dengan hasil bahwa financial distress berpengaruh terhadap harga saham. Hipotesis keempat dalam penelitian ini menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif terhadap harga saham. Hasil uji t menunjukkan bahwa pengaruh inflasi terhadap harga saham memiliki nilai t-hitung sebesar 1,472 < dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikansi 0,145 > 0,05 artinya secara parsial inflasi tidak berpengaruh terhadap harga saham, dengan demikian hipotesis keempat ditolak. Peningkatan inflasi secara relatif merupakan sinyal negatif bagi pemodal di pasar modal. Hal ini berarti, jika inflasi naik maka akan menurunkan harga saham dan sebaliknya jika inflasi menurun akan menaikkan harga saham. Kondisi inflasi yang terjadi pada periode yang diteliti masih berada di angka yang tidak terlalu tinggi sehingga investor pun tetap berinvestasi dan membeli saham perusahaan sektor konsumsi non primer. Sehingga walaupun inflasi mengalami kenaikan, harga saham perusahaan konsumsi non primer tetap memberikan nilai yang tinggi sehingga return yang didapatkan pun menarik bagi para investor. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Susanto . dengan hasil bahwa inflasi tidak berpengaruh terhadap harga saham. Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 23 Hipotesis kelima menyatakan bahwa tingkat suku bunga berpengaruh positif terhadap harga saham. Hasil uji t menunjukkan bahwa pengaruh suku bunga terhadap harga saham memiliki nilai t-hitung sebesar 2,644 > dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikansi 0,010 < 0,05 artinya secara parsial suku bunga berpengaruh terhadap harga saham, dengan demikian hipotesis kelima diterima. Suku bunga mempunyai hubungan yang erat dengan tingkat inflasi, pada tahun 2020 suku bunga mempunyai nilai 3,75% dengan tingkat inflasi sebesar 1,68% dan pada tahun 2021 suku bunga mempunyai nilai 3,50% dengan tingkat inflasi sebesar 1,87%. Tingkat inflasi yang lebih kecil dari suku bunga menjadikan daya beli masyarakat lebih besar sehingga perusahaan memperoleh pendapatan yang lebih besar. Peningkatan suku bunga dengan tingkat inflasi yang lebih kecil menjadikan laba perusahaan lebih besar sehingga investor akan tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan. Hasil ini sejalan dengan teori signal bahwa perubahan suku bunga akan memberikan sinyal kepada investor mengenai keputusan untuk Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ningsih, et. dan Hidayat et al. , . dengan hasil bahwa suku bunga berpengaruh terhadap harga saham. Hipotesis keenam menyatakan bahwa inflasi berpengaruh positif terhadap harga saham melalui financial distress. Hasil uji t menunjukkan bahwa pengaruh inflasi terhadap harga saham melalui financial distress memiliki nilai t-hitung sebesar 1,449 < dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikansi 0,151 > 0,05 artinya secara parsial inflasi tidak berpengaruh terhadap harga saham melalui financial distress dengan demikian hipotesis keenam ditolak. Inflasi yang terjadi pada periode penelitian berada pada level dibawah 10% dan tergolong rendah dan stabil. Pada tahun 2020 tingkat inflasi sebesar 1,68% dan pada tahun 2021 tingkat inflasi sebesar 1,87% , tingkat inflasi yang kecil dan masih di bawah 10%. Bila dilihat dari sudut pandang investor tingkat inflasi tersebut dinilai wajar dan stabil. Serta bukan penentu atau penjelas perubahan harga saham. Sehingga investor lebih memperhatikan bagaimana cara perusahaan menghasilkan laba yang tinggi agar menghasilkan return yang tinggi (Andes et al. , 2. , laba yang tinggi akan menghindari perusahaan dari kondisi kesulitan keuangan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ningsih, et. , . dan Jannah & Khoiruddin, . , dengan hasil bahwa inflasi melalui financial distress tidak berpengaruh terhadap harga saham. Hipotesis ketujuh menyatakan bahwa suku bunga berpengaruh positif terhadap harga saham melalui financial distress. Hasil uji t menunjukkan bahwa pengaruh suku bunga terhadap harga saham melalui financial distress memiliki nilai t-hitung sebesar 2,876 > dari t-tabel sebesar 1,668 dengan tingkat signifikansi 0,005 < 0,05 artinya secara parsial suku bunga berpengaruh terhadap harga saham melalui financial distress, dengan demikian hipotesis ketujuh diterima. Perubahan tingkat suku bunga jika dilihat dari sudut pandang investor, investor cukup dengan membandingkan modal internal dengan modal pinjaman dari luar perusahaan untuk mengetahui kondisi perusahaan, jika modal internal lebih besar daripada modal pinjaman mengindikasikan perusahaan terhindar dari financial distress yang dapat berakibat terhadap bangkrutnya perusahaan. Kinerja suatu perusahaan yang baik atau tidak mengalami kesulitan keuangan akan mempengaruhi harga saham. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Jannah & Khoiruddin, . dengan hasil bahwa suku bunga melalui financial distress berpengaruh terhadap harga saham. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian dan pengujian hipotesis yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa . Inflasi tidak berpengaruh terhadap financial distress. Suku bunga tidak berpengaruh terhadap financial distress. Financial distress berpengaruh Paradoks: Jurnal Ilmu Ekonomi 8. | 24 positif terhadap harga saham. Inflasi tidak berpengaruh terhadap harga saham. Suku bunga berpengaruh positif terhadap harga saham. Financial distress tidak mampu memediasi pengaruh inflasi terhadap harga saham. Financial distress mampu memediasi pengaruh suku bunga terhadap harga saham. Referensi