Ganesha Civic Education Journal Volume 8. Number 1. April 2026, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index HUBUNGAN KEARIFAN LOKAL DENGAN NILAI-NILAI PANCASILA DALAM MEMBANGUN IDENTITAS DAN KARAKTER BANGSA DI SUKU DAYAK Mahdalena Dwi Pratiwi 1 *. Athia Syakhira 2. Brigita Febbyana Madison 3. Rizky Fauzi4. Mohammad Omar Azam5. 1,2,3,4,5 Universitas Pancasila. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 25 Desember 2025 Accepted 8 April 2026 Available online 16 April 2026 Ideologi negara Pancasila memegang peranan penting dalam membentuk karakter dan identitas nasional. Namun, dalam konteks modernisasi, pemaknaan nilai-nilai Pancasila kerap bersifat normatif dan belum sepenuhnya dikaitkan dengan kearifan lokal masyarakat adat. Penelitian ini Kata Kunci: bertujuan untuk mengkaji keterkaitan antara nilai-nilai Pancasila dan Kearifan Lokal. Identitas Nasional. kearifan lokal masyarakat Dayak dalam membentuk identitas dan karakter Masyarakat Dayak. Identitas Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Nasional. Pancasila. Pendidikan Karakter tinjauan literatur terhadap berbagai sumber ilmiah yang membahas budaya Dayak, struktur sosial, ritual, serta keterkaitannya dengan lima sila Keywords: Pancasila. Hasil analisis menunjukkan bahwa spiritualitas masyarakat Local Wisdom. Natinal Identity. Dayak yang menghormati keseimbangan alam memiliki kesesuaian dengan Dayak Community. National Identity. Pancasila. Character nilai Pancasila pada sila Ketuhanan dan Kemanusiaan. Selain itu, praktik Education handep, kerja sama komunal, serta mekanisme distribusi sumber daya yang adil mencerminkan prinsip keadilan sosial yang telah diwariskan secara turun-temurun. Temuan ini menunjukkan bahwa kearifan lokal masyarakat Dayak dapat berperan sebagai dasar kontekstual dalam memperkuat Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa serta memperkokoh identitas nasional di tengah tantangan modernisasi. ABSTRACT The state ideology of Pancasila plays a crucial role in shaping national character and identity. However, in the context of modernization, the interpretation of PancasilaAos values is often normative and has not been fully connected to the local wisdom of indigenous communities. This study aims to examine the relationship between the values of Pancasila and the local wisdom of the Dayak community in shaping national identity and The research employs a qualitative approach through a literature review of various scholarly sources discussing Dayak culture, social structures, rituals, and their relationship with the five principles of Pancasila. The findings indicate that the spirituality of the Dayak community, which emphasizes harmony with nature, corresponds with the Pancasila principles of Belief in One Supreme God and Humanity. Furthermore, practices such as handep, communal cooperation, and fair resource distribution reflect the principle of social justice that has been transmitted across generations. These findings demonstrate that the local wisdom of the Dayak community can serve as a contextual foundation for strengthening Pancasila as a national philosophy of life and reinforcing national identity amid the challenges of modernization. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2026 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. Pendahuluan Indonesia merupakan negara yang kaya akan keberagaman suku, adat istiadat, dan budaya yang hidup serta berkembang dalam masyarakat. Keberagaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas nasional bangsa Indonesia. Salah satu suku yang memiliki tradisi kearifan lokal yang kuat adalah suku Dayak di Kalimantan. Kebudayaan Dayak diwariskan secara turun temurun dan memuat nilai-nilai luhur seperti musyawarah, gotong royong, penghormatan terhadap alam dan leluhur, serta solidaritas * Corresponding author. E-mail addresses: mahdalena2485@gmail. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Nilai-nilai ini tidak hanya mencerminkan cara hidup masyarakat Dayak, mengandung nilai-nilai yang sejalan dengan Pancasila. Pudjiatuti et al. menemukan bahwa masyarakat Dayak Pangkalanbun menerapkan nilai-nilai Pancasila melalui praktik kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Coomans . , masyarakat Dayak memiliki keberagaman sub-suku dengan karakteristik budaya yang berbeda-beda. Meskipun demikian, terdapat ciri-ciri umum yang serta memiliki sistem pertanian berladang. Jauh sebelum Pancasila dirumuskan sebagai dasar negara, masyarakat Dayak telah mengenal nilai-nilai luhur yang tercermin dalam kearifan lokal, salah satunya melalui Perjanjian Tumbang Anoi yang menjadi dasar perdamaian antarsuku. Hal ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kehidupan masyarakat Dayak telah mengandung prinsip-prinsip moral yang bersifat universal. Dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak, nilai-nilai yang dianut selaras dengan prinsip-prinsip Pancasila, seperti cinta kasih terhadap sesama, kesetaraan manusia tanpa diskriminasi, kebersamaan, kesetiakawanan sosial, serta kerelaan berkorban demi kepentingan bersama. Nilai-nilai tersebut juga tetap diselaraskan dengan ajaran agama dan perkembangan masyarakat modern, sebagaimana dikemukakan oleh Pudjiastuti . , sehingga adat istiadat Dayak tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi negara. Studi tentang penerapan ideologi Pancasila dalam masyarakat Dayak telah dilakukan, namun penilaian yang secara tepat menghubungkan kebijaksanaan lokal Dayak dengan pembentukan identitas dan karakter nasional masih relatif terbatas. Sebagian besar penelitian lebih berfokus pada karakteristik sosial budaya atau praktik adat tanpa mengaitkannya secara konseptual dengan penguatan identitas nasional. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kebijaksanaan lokal suku Dayak dan nilai-nilai Pancasila melalui analisis literatur, serta menjelaskan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat berkontribusi pada pembentukan identitas dan karakter negara Indonesia. Kebaruan penelitian ini terletak pada upaya mengkaji kearifan suku lokal Dayak tidak hanya sebagai praktik budaya atau adat istiadat, tetapi sebagai landasan normatif dan filosofis yang secara konseptual selaras dengan nilai-nilai Pancasila dalam pembentukan identitas dan karakter bangsa Indonesia. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang umumnya bersifat deskriptif, penelitian ini menempatkan kearifan lokal Dayak sebagai sumber nilai ideologi yang hidup dan relevan dalam penguatan Pancasila sebagai ideologi negara. Melalui analisis literatur, penelitian ini menegaskan bahwa nilai-nilai Pancasila merupalan refleksi dari kearifan budaya Nusantara yang telah lama dipraktikkan oleh masyarakat adat, sehingga memberikan konstribusi teoritis terhadap pengembangan kajian Pancasila dan penguatan karakater bangsa di tengah perlawanan globalisasi. Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur . enelitian Metode studi literatur dipahami sebagai pendekatan penelitian yang sistematis dan mandiri dalam menganalisis serta mensintesis temuan penelitian terdahulu (Snyder, 2. Metode ini dipilih untuk mengkaji berbagai referensi ilmiah terkait kebijaksanaan lokal suku Dayak dan prinsip-prinsip Pancasila, serta untuk mengevaluasi hubungan antara keduanya dalam proses pembentukan identitas dan karakter bangsa. Pada penelitian ini objek yang dicari oleh peneliti dengan mencari literatur-literatur yang sesuai dengan permasalahan yang diangkat. Peneliti mencari data dalam menjawab permasalahan yang diangkat dengan membaca berbagai referensi yang sesuai (Hakim & Darojat 2. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai literatur yang relevan dengan topik kebijaksanaan lokal suku Dayak dan nilai-nilai Pancasila. Data utama diperoleh dari artikel jurnal ilmiah, buku, laporan penelitian, dan publikasi akademik yang membahas budaya Dayak, norma adat, dan konsep kebijaksanaan lokal. Penelitian ini juga memanfaatkan literatur yang membahas teori dan penerapan nilai-nilai Pancasila. Sumber tambahan, seperti ensiklopedia budaya, serta berita atau dokumen terpercaya yang menggambarkan praktik sosial komunitas Dayak, digunakan untuk memperdalam pemahaman dan memperluas konteks pembahasan. Semua sumber dipilih berdasarkan relevansi, keandalan, dan keaktualan informasi. Pengumpulan data dilakukan dengan metode penelitian perpustakaan melalui pencarian berbagai sumber ilmiah menggunakan basis data seperti Google Scholar. DOAJ. Garuda Kemdikbud, dan repositori akademik lainnya. Setiap literatur yang ditemukan dibaca dengan cermat, kemudian dicatat, dikutip, dan diorganisasi sesuai dengan kebutuhan penelitian. Peneliti memilih sumber berdasarkan kriteria tertentu, seperti relevansi dengan tema kebijaksanaan lokal suku Dayak dan nilai-nilai Pancasila, standar kualitas ilmiah publikasi, dan periode publikasi. Mahdalena Dwi Pratiwi / Hubungan Kearifan Lokal dengan Nilai-Nilai Pancasila dalam Membangun Identitas dan Karakter Bangsa di Suku Dayak Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Teknik pengumpulan ini dilakukan secara terstruktur untuk memastikan bahwa semua data yang digunakan benar-benar mendukung analisis dan kesimpulan penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan analisis konten. Tahap awal adalah reduksi data, yang melibatkan penyaringan dan pengelompokan informasi penting dari setiap literatur, seperti konsep kebijaksanaan lokal Dayak, misalnya Huma Betang, kerja sama mutual, penghormatan terhadap alam, dan nilai-nilai tradisional lainnya serta kesesuaiannya dengan prinsip-prinsip Pancasila. Selanjutnya, data yang telah dikurangi diorganisasi dan disajikan dalam bentuk hubungan konseptual, sehingga hubungan antara nilai-nilai budaya Dayak dan prinsip-prinsip Pancasila dapat terlihat. Studi ini merupakan tinjauan konseptual-filosofis terhadap literatur yang menganalisis hubungan antara kebijaksanaan lokal suku Dayak dan nilai-nilai Pancasila. Literatur yang digunakan dalam tinjauan ini berasal dari publikasi ilmiah yang diterbitkan pada tahun 2017 hingga 2024, namun juga mempertimbangkan beberapa sumber yang memiliki kekuatan konseptual dalam studi tentang kebijaksanaan lokal dan Pancasila. Pemilihan sumber didasarkan pada kebutuhan normatif dan kontekstual. Sumber empiris yang dipilih didasarkan pada kebutuhan normatif dan kontekstual. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan tematik dan konseptual dengan landasan normatif-filosofis untuk mengkaji makna, keseragaman, dan hubungan timbal balik antara nilai-nilai budaya Dayak dengan prinsip-prinsip Pancasila dalam kerangka pemikiran nasional. Hasil dan Pembahasan Hubungan antara kearifan lokal masyarakat Dayak dan nilai-nilai Pancasila dapat dipahami sebagai landasan penting dalam proses pembentukan karakter serta identitas bangsa Indonesia, terutama dalam menghadapi arus globalisasi yang berpotensi mengikis akar budaya nasional. tengah perkembangan teknologi, perubahan sosial, dan masuknya pengaruh budaya asing secara cepat, nilai-nilai kearifan lokal Dayak tetap menunjukkan relevansinya sebagai penopang jati diri Filosofi kehidupan masyarakat Dayak yang berkembang secara turun-temurun mencerminkan prinsip religiusitas, kemanusiaan, kebersamaan, musyawarah, dan keadilan sosial, yang kemudian dirumuskan secara normatif dalam Pancasila sebagai dasar negara. Kesesuaian nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa Pancasila dapat dipahami sebagai salah satu bentuk perumusan nilai-nilai Nusantara yang telah hidup dan berkembang jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara. Dalam kehidupan sosial masyarakat Dayak, alam dipandang sebagai bagian integral dari kehidupan manusia, bukan semata-mata sebagai objek pemanfaatan. Praktik berburu, berladang serta pengelolaan hutan dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan alam dan penghormatan terhadap Yang Maha Kuasa. Keyakinan akan keterkaitan antara manusia, alam, dan dimensi spiritual membentuk kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga ekosistem. Pandangan ini dapat dipahami memiliki keterkaitan dengan sila pertama Pancasila yang menempatkan nilai ketuhanan sebagai dasar moral kehidupan bangsa. Relasi tersebut menunjukkan bahwa spiritualitas dalam budaya Dayak tidak hanya diwujudkan melalui ritual keagamaan, tetapi juga tercermin dalam perilaku nyata yang berorientasi pada keharmonisan antara manusia dan alam. Nilai kemanusiaan juga menempati posisi penting dalam struktur sosial masyarakat Dayak. Prinsip tenggang rasa, solidaritas sosial, dan penghormatan terhadap martabat manusia diwujudkan dalam hubungan antarkeluarga maupun antarkelompok. Masyarakat Dayak memperkenalkan mekanisme adat sebagai sarana penyelesaian konflik yang mengedepankan musyawarah dan pemulihan hubungan sosial. Dalam proses ini, para tetua adat berperan sebagai penengah yang mendengarkan berbagai pihak sebelum menentukan penyelesaian yang dianggap adil dan proporsional. Pola penyelesaian konflik semacam ini mencerminkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab sebagaimana termuat dalam sila kedua Pancasila. Pendekatan tersebut menekankan pentingnya menjaga martabat manusia sekaligus memulihkan keseimbangan sosial dalam komunitas. Nilai persatuan memiliki makna strategis dalam sejarah dan kehidupan sosial masyarakat Dayak. Meskipun pada masa lalu pernah terjadi konflik antarsuku, masyarakat Dayak memiliki GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. pengalaman sejarah yang mendorong kesadaran kolektif akan pentingnya perdamaian dan solidaritas sosial. Perjanjian Tumbang Anoi tahun 1894 sering dipahami sebagai salah satu simbol kesadaran bersama untuk menghentikan konflik dan membangun hubungan sosial yang lebih Warisan budaya ini menegaskan bahwa persatuan dipandang sebagai landasan penting bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat. Prinsip tersebut sejalan dengan sila ketiga Pancasila yang menekankan pentingnya persatuan dalam keberagaman. Dalam praktiknya, nilainilai tersebut diwujudkan melalui sikap toleran, moderat, dan saling melindungi antarkelompok dalam kehidupan sosial sehari-hari. Musyawarah merupakan elemen sentral dalam sistem pengambilan keputusan masyarakat adat Dayak. Keputusan yang mencakup kepentingan umum dibahas melalui pertemuan adat yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Proses ini memberikan ruang partisipasi bagi anggota komunitas tanpa membedakan latar belakang sosial maupun usia. Musyawarah dipandang sebagai sarana untuk mencapai mufakat yang mencerminkan kepentingan kolektif. Praktik tersebut memiliki kesesuaian dengan sila keempat Pancasila yang menekankan prinsip permusyawaratan dalam pengambilan keputusan. Nilai demokrasi yang berkembang dalam masyarakat Dayak menunjukkan bahwa praktik partisipasi dan kebijaksanaan kolektif telah menjadi bagian dari budaya lokal Nusantara. Gotong royong dan keadilan sosial merupakan bentuk konkret pengalaman nilai kebersamaan dalam masyarakat Dayak. Berbagai aktivitas sosial, seperti pembangunan rumah, kegiatan pertanian, dan pelaksanaan upacara adat, dilakukan secara kolektif sebagai wujud solidaritas sosial. Keberhasilan diwujudkan sebagai hasil kerja bersama, bukan semata-mata pencapaian individu. Pola kehidupan ini mencerminkan sila kelima Pancasila yang menekankan pentingnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Distribusi peran dan hasil yang relatif merata berkontribusi dalam memperkuat kohesi sosial serta meminimalkan ketidakseimbangan dalam Hubungan antara budaya Dayak dan nilai-nilai Pancasila juga memiliki dimensi yuridis. Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan prinsip Ketuhanan. Kemanusiaan. Persatuan. Demokrasi, dan Keadilan Sosial sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara. Prinsip-prinsip tersebut memiliki kesesuaian dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat adat Dayak. Selain itu, ketentuan konstitusional mengenai penghormatan terhadap kebudayaan daerah menunjukkan bahwa pelestarian kearifan lokal merupakan bagian dari upaya menjaga identitas nasional. Dengan demikian, nilai-nilai budaya Dayak memiliki legitimasi yang tidak hanya secara filosofis dan historis, tetapi juga secara normatif dalam kerangka hukum nasional. Dalam konteks modernisasi, masyarakat Dayak menghadapi tantangan berupa perubahan gaya hidup, eksploitasi sumber daya alam, dan pergeseran nilai pada generasi muda. Meskipun demikian, berbagai komunitas Dayak menunjukkan upaya adaptif dalam mempertahankan nilainilai adat melalui pendidikan budaya, kegiatan sosial berbasis komunitas, serta pewarisan nilai secara intergenerasi. Budaya pelestarian tidak dipahami sebagai penolakan terhadap perubahan, melainkan sebagai upaya menjaga identitas sambil beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kesadaran ini mendorong internalisasi nilai-nilai kearifan lokal sebagai bagian dari pembentukan karakter generasi muda. Pendidikan berbasis karakter budaya dalam masyarakat Dayak lebih menekankan pengalaman langsung dibandingkan pendekatan konseptualisasi semata. Keterlibatan anak-anak dan generasi muda dalam kegiatan adat, gotong royong, dan pengelolaan lingkungan berfungsi sebagai sarana internalisasi nilai tanggung jawab, solidaritas, dan kepedulian sosial. Pola pendidikan ini menunjukkan bahwa nilai-nilai Pancasila dapat dihidupi melalui praktik sosial yang kontekstual dan relevan dengan kehidupan masyarakat. Dalam hal ini, budaya berperan sebagai medium yang efektif dalam membentuk kepribadian manusia Indonesia yang berkarakter dan berakar pada nilai-nilai lokal. Modernisasi membawa dampak yang bersifat ambivalen bagi masyarakat Dayak. Di satu sisi, kemajuan teknologi membuka peluang ekonomi dan akses informasi, sementara di sisi lain, tekanan terhadap tanah adat dan ruang kehidupan masyarakat semakin meningkat. Dalam menghadapi situasi tersebut, nilai-nilai kearifan lokal yang sejalan dengan Pancasila berfungsi Mahdalena Dwi Pratiwi / Hubungan Kearifan Lokal dengan Nilai-Nilai Pancasila dalam Membangun Identitas dan Karakter Bangsa di Suku Dayak Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. sebagai pedoman etis dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat secara damai. Pendekatan dialogis, musyawarah, dan pemanfaatan jalur hukum menunjukkan orientasi pada penyelesaian konflik yang beradab dan berkeadilan. Generasi Dayak masa kini menunjukkan dinamika identitas yang adaptif. Meskipun banyak yang merantau ke wilayah perkotaan, nilai-nilai adat tetap menjadi acuan moral dalam kehidupan Partisipasi generasi muda dalam komunitas budaya, organisasi sosial, serta media kreatif menunjukkan upaya aktualisasi identitas Dayak dalam konteks modern. Hal ini menegaskan bahwa kearifan lokal tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang sesuai dengan perubahan Secara keseluruhan, kearifan lokal masyarakat Dayak memiliki relevansi yang luas dalam memperkuat nilai-nilai Pancasila sebagai ideologi yang hidup dan kontekstual. Keselarasan antara budaya Dayak dan Pancasila memperkuat pandangan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar normatif negara, tetapi juga diwujudkan dalam praktik sosial masyarakat. Dengan demikian, pelestarian budaya Dayak dapat dipandang sebagai salah satu upaya dalam menjaga identitas, karakter, dan penghayatan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. Simpulan dan saran Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, kajian ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Dayak, seperti spiritualitas yang berorientasi pada keseimbangan alam, musyawarah adat, gotong royong, serta mekanisme keadilan berbasis pemulihan sosial, memiliki kesesuaian yang kuat dengan nilai-nilai Pancasila. Kesesuaian tersebut dapat dipahami melalui dimensi filosofis, historis, dan yuridis, sehingga memperlihatkan bahwa Pancasila dapat dipandang tidak terlepas dari nilai-nilai lokal Nusantara yang telah hidup dan berkembang dalam praktik sosial masyarakat adat. Secara teoritis, kajian ini berkontribusi dalam memperkaya pemahaman mengenai Pancasila dengan menempatkan kearifan lokal Dayak sebagai sumber nilai yang relevan dalam pembentukan identitas dan karakter bangsa. Temuan ini menujukkan bahwa Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai dasar normatif negara, tetapi juga sebagai ideologi yang hidup dan kontekstual, yang tercermin dalam nilai-nilai yang dipraktikkan oleh masyarakat adat. Dari sisi praktis, hasil kajian ini menegaskan pentingnya integrasi kearifan lokal ke dalam pendidikan karakter serta kebijakan pelestarian budaya sebagai bagian dari upaya memperkuat nilai-nilai kebangsaan di tengah dinamika modernisasi. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan agar nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Dayak diintegrasikan secara kontekstual dalam pendidikan karakter, khususnya bagi generasi muda, guna menanamkan nilai kebersamaan, keadilan sosial, dan penghormatan terhadap lingkungan. Selain itu, diperlukan kebijakan yang lebih berpihak pada perlindungan masyarakat adat dan wilayah adat sebagai bagian dari pelestarian identitas nasional. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan kajian ini melalui pendekatan empiris atau studi lapangan yang lebih mendalam guna memperkaya perspektif mengenai hubungan antara kearifan lokal dan ideologi Pancasila. Daftar Rujukan Coomans. Ethnography of Dayak Culture. Singapore: South Asia Cultural Press. Coomans. Manusia Dayak: Dahulu. Sekarang. Masa Depan. Jakarta: Gramedia. Darmadi. Dayak Asal Usul dan Penyebarannya di Bumi Borneo. Social Horizon: Jurnal Pendidikan Islam. : 322-340. Hakim. , and Darojat. Pendidikan Multikulturas dalam Mmembentuk Karakter dan Identitas Nasional. Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan. : 1337-1346. Pratiwi. Moral Internlization in Local Cultural Practices. Indonesian Journal of Cultural Ethics. : 102-118. Pudjiastuti. Nilai-Nilai Budaya Dayak dan Implementasinya dalam Kehidupan Sosial. Yogyakarta: Pustaka Nusantara. Pudjiatuti. Implementasi Nilai-Nilai Pancasila bagi Generasi Milenial. Journal Tim Dosen Pancasila dan Kewarganegaraan. Vol 4: 65-88. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2026, pp. Pudjiastuti. Hasaruddin. , and Setyorini. Implementasi Nilai-Nilai Pancasila Berbasis Kearifan Lokal pada Masyarakat Dayak Pangkalanbun. Kalimantan Tengah. Jurnal Citizenship Virtues 4. Pudjiastuti. Hadi. Arfani. Akbar. Tajudin. The Culture and Local Wisdum of the Indigenous People Kasepuhan Sinar Resmi. JHSS (Journal of Humanities and Social Studie. : 198-202. Rahman. Lokal Wisdom and National Ideology. Jurnal of Indonesian Cultural Studies, 8. : 15-29. Republik Indonesia, . Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 Tentang Pemajuan Kebudayaan. Republik Indonesia, . Undang-Undang Dasar Negara Indonesia Tahun 1945 Pasal 32. Siregar. The Role of Local Wisdom in National Identity Formation. Journal of National Character Education, 5. : 67-84. Snyder. Literature Review as a Research Methodology: An Overview and Guidelines. Journal of Business Research, 104: 333-339. Subekti. Traditional Economy and Fair Resource Sharing in Dayak Villages. Pontianak: Kalimantan Heritage Press. Sudarsono. Ekologi Spiritual dalam Budaya Indonesia. Jakarta: Gramedia Widiasarana. Wahid. Character Education Trough Indigenous Knowledge. Malang: Bumo Aksara Nusantara. Mahdalena Dwi Pratiwi / Hubungan Kearifan Lokal dengan Nilai-Nilai Pancasila dalam Membangun Identitas dan Karakter Bangsa di Suku Dayak