Mutiara Pendidikan dan Olahraga Volume 2. Nomor 6. November 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/mupeno. Tersedia: https://ejournal. id/index. php/mupeno Perbandingan Pengaruh Latihan Plyometric Squat Jump dan Hexagon Jump terhadap Power Otot Tungkai Atlet Remaja Sepak Bola Ahmad Naufal 1*. Himawan Wismanadi 2 Ilmu Keolahragaan. Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan. Universitas Negeri Surabaya. Indonesia *Penulis Korespondensi: ahmad. 20086@mhs. Abstract. In modern soccer, lower-limb power is a crucial component that determines an athleteAos performance in sprinting, kicking, and jumping. This study aimed to compare the effects of Squat jump and Hexagon jump plyometric exercises on lower limb power in youth soccer athletes from Garuda Timur Football Academy Surabaya. The research employed a quasi-experimental method with a pretestAeposttest two group design involving 12 athletes aged 14Ae17 years. Participants were divided into two groups of six: a Hexagon jump group and a Squat jump group. Lower limb power was assessed using the vertical jump test before and after the training Data were analyzed using the Matched Subject Ordinal Pairing (MSOP) method to determine the relative effectiveness of both training types. The results indicated that both exercises significantly improved athletesAo vertical jump performance. However, the Hexagon jump exercise showed greater effectiveness, with a winning proportion of 67% . out of 6 pair. compared to 33% for the Squat jump. The superior results of the Hexagon jump group were attributed to its multidirectional movement pattern, which provides greater stimulation of coordination, balance, and neuromuscular reactivity. Therefore, it can be concluded that Hexagon jump training is more effective than Squat jump in enhancing lower limb power among youth soccer athletes. Keywords: Hexagon Jump. Leg Power. Plyometric. Squat Jump. Sprinting. Abstrak. Dalam sepak bola modern, kemampuan power otot tungkai menjadi komponen penting yang menentukan performa atlet dalam sprint, tendangan, dan lompatan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh latihan pliometrik Squat jump dan Hexagon jump terhadap power otot tungkai pada atlet remaja sepak bola Garuda Timur Football Academy Surabaya. Penelitian menggunakan metode eksperimen semu . dengan desain pretest-posttest two group design yang melibatkan 12 atlet usia 14Ae17 tahun. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing terdiri dari enam atlet: kelompok Hexagon jump dan kelompok Squat jump. Pengukuran power otot tungkai dilakukan menggunakan tes vertical jump sebelum . dan sesudah . Analisis data menggunakan metode Matched Subject Ordinal Pairing (MSOP) untuk menentukan efektivitas relatif kedua latihan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua bentuk latihan memberikan peningkatan signifikan terhadap kemampuan vertical jump atlet. Namun, latihan Hexagon jump menunjukkan hasil lebih unggul dengan proporsi kemenangan 67% . dari 6 pasanga. dibandingkan Squat jump . %). Peningkatan yang lebih besar pada kelompok Hexagon jump dikaitkan dengan pola gerakan multidireksional yang menstimulasi koordinasi, keseimbangan, dan reaktivitas neuromuskular secara lebih Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa latihan Hexagon jump lebih efektif dibandingkan Squat jump dalam meningkatkan power otot tungkai atlet sepak bola remaja. Kata kunci: Kekuatan Kaki. Lari Cepat. Lompat Jongkok. Lompat Segi Enam. Pliometrik. LATAR BELAKANG Olahraga memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik dari aspek fisik, mental, maupun sosial. Melalui olahraga, seseorang tidak hanya memperoleh kebugaran jasmani, tetapi juga menumbuhkan karakter disiplin, kerja sama, dan sportivitas yang tinggi (Syafruddin et al. , 2. Salah satu cabang olahraga yang paling populer dan digemari di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, adalah sepak bola. Sepak bola tidak hanya berfungsi sebagai sarana rekreasi, tetapi juga menjadi wadah pembinaan prestasi yang dapat mengharumkan nama bangsa di kancah internasional (Schwartz, 2. Naskah Masuk: 08 September 2025. Revisi: 15 Oktober 2025. Diterima: 12 November 2025. Terbit: 14 November Perbandingan Pengaruh Latihan Plyometric Squat Jump dan Hexagon Jump terhadap Power Otot Tungkai Atlet Remaja Sepak Bola Dalam permainan sepak bola, kemampuan fisik menjadi faktor yang sangat menentukan performa atlet. Komponen fisik seperti kekuatan, kecepatan, kelincahan, keseimbangan, dan daya tahan menjadi dasar bagi atlet untuk dapat bermain secara optimal (Komarudin et al. Di antara komponen tersebut, power otot tungkai merupakan aspek yang sangat penting, karena berperan langsung dalam berbagai gerakan eksplosif seperti berlari cepat, melompat untuk menyundul bola, serta menendang dengan kekuatan maksimal. Power otot tungkai yang baik akan membantu atlet menghasilkan kecepatan dan kekuatan yang dibutuhkan untuk mendukung performa di lapangan (Zemkovy, 2. Salah satu metode latihan yang dikenal efektif untuk meningkatkan power otot tungkai adalah latihan plyometric. Plyometric merupakan bentuk latihan yang menekankan pada kontraksi otot secara cepat dan eksplosif melalui fase peregangan . tretch-shortening cycl. (Velasco, 2. Latihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan otot dalam menghasilkan daya ledak yang lebih besar dalam waktu singkat. Beberapa bentuk latihan plyometric yang umum digunakan untuk mengembangkan power tungkai antara lain squat jump dan hexagon jump (Radcliffe & Farentinos, 2. Latihan squat jump berfokus pada gerakan vertikal yang melibatkan otot-otot utama tungkai seperti quadriceps, hamstring, dan gastrocnemius. Latihan ini efektif dalam meningkatkan kekuatan dan daya ledak otot tungkai bagian bawah (Kojic et al. , 2. Sementara itu, hexagon jump merupakan latihan yang menekankan pada gerakan lateral dan multidireksional, yang dapat meningkatkan kelincahan, koordinasi, dan kemampuan berpindah arah secara cepat (Radcliffe & Farentinos, 2. Kedua jenis latihan ini memiliki karakteristik yang berbeda, namun keduanya berpotensi memberikan kontribusi terhadap peningkatan power otot tungkai. Penelitian terdahulu mendukung efektivitas latihan plyometric terhadap peningkatan power otot tungkai. Nugroho et al. menemukan bahwa latihan squat jump dapat meningkatkan power otot tungkai pada atlet bola voli hingga 32%. Kurniawan & Nasirudin . juga melaporkan bahwa latihan plyometric mampu meningkatkan kekakuan tungkai dan indeks kekuatan reaktif pada atlet muda. Selain itu. Bergamasco et al. menegaskan bahwa latihan plyometric memberikan pengaruh signifikan terhadap peningkatan daya ledak otot ekstremitas bawah. Temuan serupa juga dilaporkan oleh Farizi et al. , bahwa latihan plyometric berpengaruh positif terhadap daya ledak otot ekstensor gerak bawah pada pemain sepak bola Arema FC. Meskipun berbagai penelitian telah menunjukkan manfaat latihan plyometric terhadap peningkatan power otot tungkai, masih terdapat perbedaan efektivitas antara berbagai jenis Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 6. November 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. latihan plyometric, khususnya antara squat jump dan hexagon jump. Hal ini menjadi penting untuk diteliti, terutama pada atlet remaja sepak bola, yang berada dalam masa pertumbuhan dan pengembangan kemampuan fisik secara optimal. Di SSB Garuda Timur Football Academy Surabaya, banyak atlet remaja yang memiliki potensi besar namun belum mendapatkan program latihan yang terarah dan berbasis ilmiah dalam meningkatkan power otot tungkai mereka. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh latihan plyometric squat jump dan hexagon jump terhadap peningkatan power otot tungkai pada atlet remaja sepak bola, sehingga dapat menjadi acuan dalam penyusunan program latihan yang lebih efektif dan efisien. KAJIAN TEORITIS Bagian ini menguraikan teori-teori relevan yang mendasari topik penelitian dan memberikan ulasan tentang beberapa penelitian sebelumnya yang relevan dan memberikan acuan serta landasan bagi penelitian ini dilakukan. Jika ada hipotesis, bisa dinyatakan tidak tersurat dan tidak harus dalam kalimat tanya. Power Otot Tungkai Otot tungkai merupakan kelompok otot besar yang berperan sebagai penggerak utama tubuh bagian bawah, meliputi otot quadriceps, hamstring, gluteus, dan gastrocnemius (Radcliffe & Farentinos, 2. Power otot tungkai adalah kemampuan otot-otot tersebut menghasilkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat singkat (Karo-Karo et al. , 2. Dengan demikian, power merupakan hasil perpaduan antara kekuatan . dan kecepatan . , yang sangat dibutuhkan untuk gerakan eksplosif seperti lompatan dan sprint. Kemampuan power otot tungkai dipengaruhi oleh kekuatan otot, kecepatan kontraksi, dan koordinasi neuromuskular. Kekuatan berperan sebagai dasar utama, sedangkan kecepatan menentukan seberapa cepat gaya dapat dihasilkan (Mustofa et al. , 2. Selain itu, faktor biomekanika dan efisiensi sistem saraf juga turut menentukan besarnya daya ledak yang Latihan Plyometric Latihan plyometric merupakan metode latihan yang bertujuan meningkatkan daya ledak otot . xplosive powe. melalui pemanfaatan mekanisme Stretch-Shortening Cycle (SSC), yaitu kontraksi eksentrik yang diikuti kontraksi konsentris dalam waktu singkat (Johan Ahmat Farizi et al. , 2. (Bergamasco et al. , 2. menjelaskan bahwa plyometric merupakan kombinasi latihan isometrik dan isotonik yang menggunakan pembebanan dinamis untuk meningkatkan kemampuan otot menghasilkan tenaga dalam waktu cepat. Perbandingan Pengaruh Latihan Plyometric Squat Jump dan Hexagon Jump terhadap Power Otot Tungkai Atlet Remaja Sepak Bola Latihan plyometric efektif meningkatkan performa karena melibatkan adaptasi neuromuskular, peningkatan rekrutmen unit motorik, dan efisiensi kontraksi otot (RamirezMontoya et al. , 2. Dalam sepak bola, latihan ini berkontribusi terhadap peningkatan vertical jump, sprint, dan kelincahan . yang penting dalam permainan (Jazvin et al. Squat Jump Training Squat Jump adalah bentuk latihan pliometrik sederhana yang menekankan gerakan eksplosif vertikal dari posisi setengah jongkok ke lompatan setinggi mungkin (Hansen et al. Gerakan ini melibatkan kontraksi kuat otot quadriceps, gluteus maximus, dan Squat Jump membantu meningkatkan kekuatan dorongan vertikal dan melatih otot untuk menghasilkan gaya dalam waktu singkat. Latihan ini cocok bagi atlet pemula karena gerakannya linier dan relatif mudah dikontrol. Beberapa penelitian menunjukkan efektivitas latihan ini terhadap peningkatan leg power dan kemampuan tendangan jauh (Nugroho et al. , 2. Hexagon Jump Training Hexagon Jump merupakan bentuk latihan pliometrik multidireksional yang dilakukan dengan lompatan ke enam arah mengikuti bentuk segi enam berukuran 61 cm per sisi (Aloui et al. , 2. Latihan ini menuntut kelincahan, koordinasi, serta reaksi cepat terhadap perubahan arah. Hexagon Jump tidak hanya meningkatkan kekuatan eksplosif otot tungkai tetapi juga memperbaiki keseimbangan dan propriosepsi tubuh, yang berperan penting dalam pencegahan cedera (Karo-Karo et al. , 2. Dalam konteks sepak bola, latihan ini relevan karena meniru pola gerakan alami pemain yang sering berubah arah dan posisi dalam waktu singkat. Penelitian yang Relevan Beberapa penelitian terdahulu mendukung pentingnya latihan pliometrik dalam pengembangan power otot tungkai. Suryadi & Rubiyatno . meneliti AuPeningkatan Kemampuan Shooting Permainan Sepak Bola Melalui Latihan Kekuatan Otot TungkaiAy pada 30 siswa SMP Tunas Bangsa. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan kemampuan shooting setelah mengikuti latihan kekuatan otot tungkai berbasis sirkuit. Styawan . meneliti AuPengaruh Latihan Squat Jump dan Lunges terhadap Kemampuan Tendangan Jarak Jauh Pemain Sepak Bola SSB Browidjoyo Yogyakarta. Ay Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan kemampuan tendangan jarak jauh, dan latihan Squat Jump terbukti lebih efektif dibandingkan lunges. Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 6. November 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. Ramirez-Montoya et al. melaporkan bahwa latihan pliometrik multidireksional secara signifikan meningkatkan vertical jump, sprint, dan change of direction pada pemain sepak bola remaja. Penelitian-penelitian tersebut memperkuat dasar teoretis bahwa latihan pliometrik, baik dengan pola linier (Squat Jum. maupun multidireksional (Hexagon Jum. , dapat meningkatkan power otot tungkai yang berperan penting dalam performa sepak bola. METODE PENELITIAN Penelitian ini bersifat eksperimen dengan desain Two Groups PretestAePosttest untuk membandingkan pengaruh dua bentuk latihan plyometric . quat jump dan hexagon jum. terhadap peningkatan power otot tungkai (Sugiyono, 2. Populasi penelitian adalah atlet remaja U-17 SSB Garuda Timur Football Academy Surabaya. teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling sehingga sampel akhir berjumlah 12 atlet. Sebelum perlakuan dilakukan pretest vertical jump, kemudian sampel dipasangkan menggunakan teknik ordinal pairing . ola AAeBAeBAeA) berdasarkan skor pretest agar kedua kelompok memiliki kemampuan awal yang seimbang. Kelompok A mendapat perlakuan hexagon jump dan Kelompok B squat jump . asing-masing n=. Instrumen utama adalah tes vertical jump yang dilakukan dengan papan ukur vertical setiap atlet melakukan tiga percobaan dan nilai tertinggi dicatat . elisih antara raihan berdiri dan raihan loncatan, dalam c. Protokol tes dilakukan secara standar . osisi berdiri menyamping ke dinding, lompatan maksimal, tiga kali ulangan dengan istirahat cuku. untuk menjamin validitas dan reliabilitas pengukuran. Program intervensi dirancang seimbang . Ae100 kontak per ses. , dilaksanakan 3 kali/minggu selama 8 minggu (Senin. Rabu. Juma. , tiap sesi terdiri 4Ae5 set dengan 10Ae20 ulangan per set. squat jump menitikberatkan gerak vertikal, sedangkan hexagon jump menekankan pola lompat multidireksional/ lateral. Program telah divalidasi oleh dosen ahli. Data dikumpulkan pretestAeposttest di lapangan dan dianalisis menggunakan Metode Matched Subject Ordinal Pairing (MSOP) untuk sampel kecil dengan aturan pemberian skor per pasangan . untuk pemenang posttest, 0,5 untuk ser. Perbandingan Pengaruh Latihan Plyometric Squat Jump dan Hexagon Jump terhadap Power Otot Tungkai Atlet Remaja Sepak Bola HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian ini melibatkan 12 atlet remaja sepak bola dari Garuda Timur Football Academy Surabaya, yang dibagi secara acak menjadi dua kelompok perlakuan, yaitu kelompok latihan Hexagon jump dan kelompok latihan Squat jump, dengan masing-masing kelompok terdiri dari 6 atlet. Kemampuan power otot tungkai diukur menggunakan tes vertical jump pada tahap pre-test . ebelum intervens. dan post-test . etelah intervens. Tes vertical jump dipilih karena validitas dan reliabilitasnya yang tinggi dalam mengukur power otot tungkai (Markovic & Mikulic, 2. Hasil pre-test power otot tungkai pada atlet U-17 di SSB Garuda Timur Football Academy sebelum pemberian latihan pliometrik disajikan dalam Tabel 1. Data pre-test ini digunakan sebagai dasar untuk pembagian kelompok perlakuan. Tabel 1. Hasil Pre-Test. Atlet Atlet 1 Atlet 2 Atlet 3 Atlet 4 Atlet 5 Atlet 6 Atlet 7 Atlet 8 Atlet 9 Atlet 10 Atlet 11 Atlet 12 Rata-rata Tinggi Badan . Vertical Jump Sebelum . 44,25 Berdasarkan nilai pre-test yang diperoleh, responden dikelompokkan menggunakan pola A-B-B-A untuk memastikan distribusi yang seimbang antara kedua kelompok. Pembagian kelompok perlakuan ini dirangkum dalam Tabel 2. Tabel 2. Pembagian Kelompok Perlakuan. Atlet Atlet 12 Atlet 6 Atlet 3 Atlet 5 Atlet 9 Atlet 1 Atlet 11 Atlet 7 Atlet 2 Atlet 8 Atlet 4 Atlet 10 Tinggi Badan . Vertical Jump Sebelum . Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 6. November 2025 Kelompok A (Hexago. B (Squa. B (Squa. A (Hexago. A (Hexago. B (Squa. B (Squa. A (Hexago. A (Hexago. B (Squa. B (Squa. A (Hexago. e-ISSN: 3089-1302. Hal. Setelah pembagian kelompok, intervensi latihan diberikan selama periode yang ditentukan, diikuti dengan pelaksanaan post-test. Hasil post-test power otot tungkai disajikan dalam Tabel 3. Tabel 3. Hasil Post-Test. Atlet Atlet 12 Atlet 6 Atlet 3 Atlet 5 Atlet 9 Atlet 1 Atlet 11 Atlet 7 Atlet 2 Atlet 8 Atlet 4 Atlet 10 Tinggi Badan . Kelompok A (Hexago. B (Squa. B (Squa. A (Hexago. A (Hexago. B (Squa. B (Squa. A (Hexago. A (Hexago. B (Squa. B (Squa. A (Hexago. Vertical Jump Sesudah . Perbandingan antara hasil pre-test dan post-test untuk kedua kelompok ditampilkan dalam Tabel 4, yang menunjukkan peningkatan nilai vertical jump pada masing-masing atlet. Tabel 4. Hasil Pre-test dan Post-test Vertical Jump Atlet. Atlet Atlet 10 Atlet 4 Atlet 8 Atlet 2 Atlet 7 Atlet 11 Atlet 1 Atlet 5 Atlet 9 Atlet 3 Atlet 6 Atlet 12 Kelompok Hexagon Squat Squat Hexagon Hexagon Squat Squat Hexagon Hexagon Squat Squat Hexagon Pre-test . Post-test . Selisih . Secara visual, perubahan ini digambarkan melalui diagram batang pada Gambar 1, yang mengilustrasikan tren peningkatan power otot tungkai setelah intervensi. Gambar 1. Diagram Batang Pre-Test dan Post-Test. Perbandingan Pengaruh Latihan Plyometric Squat Jump dan Hexagon Jump terhadap Power Otot Tungkai Atlet Remaja Sepak Bola Kelompok latihan Squat jump menunjukkan peningkatan rata-rata vertical jump sebesar 5,33 cm, sedangkan kelompok latihan Hexagon jump mencatat peningkatan rata-rata sebesar 5,67 cm. Temuan ini mengindikasikan bahwa kedua jenis latihan pliometrik efektif dalam meningkatkan power otot tungkai, meskipun terdapat variasi antar-kelompok. Untuk menentukan keunggulan relatif antara latihan Hexagon jump dan Squat jump, dilakukan analisis menggunakan metode Matched Subject Ordinal Pairing (MSOP). Prosedur ini melibatkan pengurutan nilai pre-test dari terkecil hingga terbesar, diikuti dengan pemadanan pasangan atlet dari kedua kelompok berdasarkan posisi urutan yang berdekatan. Hasil analisis MSOP dirangkum dalam Tabel 5. Tabel 5. Analisis MSOP. Pasangan Hexagon (Pre Ie Pos. 40 Ie 45 43 Ie 48 44 Ie 49 46 Ie 51 46 Ie 53 49 Ie 55 Squat (Pre Ie Pos. 41 Ie 46 42 Ie 47 44 Ie 50 45 Ie 50 47 Ie 52 48 Ie 54 Pemenang Skor MSOP Squat Hexagon Squat Hexagon Hexagon Hexagon Berdasarkan analisis tersebut, latihan Hexagon jump unggul pada 4 pasangan, sementara latihan Squat jump unggul pada 2 pasangan, tanpa adanya hasil seri. Proporsi kemenangan kelompok Hexagon jump mencapai 4 dari 6 pasangan, atau setara dengan 0,67 . %). Hasil ini menunjukkan bahwa, secara ordinal, latihan Hexagon jump lebih dominan dalam memberikan peningkatan power otot tungkai dibandingkan latihan Squat jump pada atlet remaja sepak bola Garuda Timur Football Academy. Meskipun kedua latihan sama-sama berkontribusi terhadap peningkatan vertical jump, latihan Hexagon jump menunjukkan pengaruh yang lebih konsisten dan signifikan. Pembahasan Berdasarkan hasil analisis dengan metode Matched Subject Ordinal Pairing (MSOP), diperoleh temuan bahwa latihan Hexagon jump unggul pada empat pasangan, sedangkan Squat jump unggul pada dua pasangan, dan tidak terdapat hasil seri. Dengan demikian, proporsi kemenangan yang dicapai oleh kelompok Hexagon jump adalah sebesar 4 dari 6 pasangan atau setara dengan 0,67 . %). Hasil ini menunjukkan bahwa secara ordinal, latihan Hexagon jump lebih dominan dibandingkan Squat jump dalam memberikan peningkatan power otot tungkai pada atlet remaja sepak bola Garuda Timur Football Academy. Dengan kata lain, meskipun kedua jenis latihan sama-sama mampu meningkatkan hasil vertical jump. Hexagon jump terbukti memberikan pengaruh yang lebih konsisten dan signifikan dibandingkan Squat jump. Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 6. November 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. Secara umum, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa baik latihan Hexagon jump maupun Squat jump mampu meningkatkan kemampuan vertical jump atlet remaja sepak bola. Temuan tersebut memperkuat teori bahwa latihan pliometrik merupakan salah satu metode yang efektif untuk meningkatkan power otot tungkai (Fischetti et al. , 2. Seorang pemain memerlukan power tungkai untuk melakukan sprint, melakukan lompatan dalam duel udara, menendang bola dengan keras, serta melakukan perubahan arah secara eksplosif (Jazvin et al. Oleh karena itu, peningkatan nilai vertical jump dapat dijadikan indikator peningkatan kemampuan biomotor yang relevan dengan kebutuhan performa dalam pertandingan sepak Hasil penelitian ini juga sejalan dengan meta-analisis yang dilakukan oleh RamirezCampillo et al. yang menyimpulkan bahwa latihan pliometrik secara signifikan meningkatkan performa vertical jump, sprint, dan agility pada atlet remaja maupun dewasa. Dengan demikian, baik Hexagon jump maupun Squat jump terbukti memberikan stimulus yang efektif untuk meningkatkan kapasitas eksplosif otot tungkai. Latihan Squat jump merupakan bentuk latihan pliometrik sederhana yang menekankan pada gerakan eksplosif vertikal dari posisi setengah jongkok menuju lompatan setinggi Latihan ini terutama melibatkan otot quadriceps, gluteus maximus, dan hamstring, yang merupakan kelompok otot utama penggerak tungkai bawah (Struminger et al. , 2. Dalam penelitian ini, kelompok Squat jump mengalami peningkatan rata-rata vertical jump sebesar 5,33 cm. Peningkatan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Hasanuddin & Syahruddin . , yang menemukan bahwa latihan Squat jump efektif meningkatkan kemampuan eksplosif vertikal pada atlet muda setelah program latihan selama enam minggu. Efektivitas Squat jump dapat dijelaskan melalui mekanisme motor unit recruitment, di mana latihan ini melatih aktivasi simultan sejumlah besar unit motorik sehingga otot dapat menghasilkan gaya secara cepat (Orantes-Gonzalez et al. , 2. Selain itu, karena gerakannya bersifat linear dan fokus pada arah vertikal. Squat jump cocok digunakan sebagai latihan dasar bagi atlet pemula yang baru diperkenalkan pada latihan pliometrik. Namun, keterbatasan latihan ini adalah sifatnya yang unidireksional, sehingga transfer efek latihan terhadap situasi pertandingan yang bersifat multidireksional masih terbatas. Sementara itu, latihan Hexagon jump menunjukkan hasil peningkatan yang lebih besar dengan rata-rata kenaikan vertical jump sebesar 5,67 cm dan dominasi pada 67% pasangan dalam analisis MSOP. Hasil ini menegaskan bahwa Hexagon jump lebih efektif dalam meningkatkan power otot tungkai dibandingkan Squat jump. Hexagon jump melibatkan lompatan berulang ke enam arah yang berbeda dalam pola berbentuk heksagon, sehingga Perbandingan Pengaruh Latihan Plyometric Squat Jump dan Hexagon Jump terhadap Power Otot Tungkai Atlet Remaja Sepak Bola menuntut koordinasi, keseimbangan, dan reaktivitas neuromuskular yang tinggi. Gerakan multidireksional ini sesuai dengan karakteristik sepak bola yang menuntut kemampuan pemain untuk bergerak cepat dalam berbagai arah (Negra et al. , 2. Menurut Aloui et al. latihan pliometrik multidireksional lebih efektif dalam meningkatkan agility dan power pada pemain muda dibandingkan latihan linear, karena sistem neuromuskular menerima stimulus yang lebih kompleks dan beragam. Selain itu. Hexagon jump juga melatih kemampuan propriosepsi atau kesadaran posisi tubuh, yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan dan mencegah cedera (Karo-Karo et al. , 2. Keunggulan latihan Hexagon jump dalam penelitian ini juga konsisten dengan temuan Ramirez-Campillo et al. , yang melaporkan bahwa program latihan pliometrik multidireksional pada pemain sepak bola remaja memberikan peningkatan signifikan dalam kemampuan vertical jump, kecepatan sprint, dan kemampuan perubahan arah . hange of directio. dibandingkan dengan latihan tradisional. Dengan demikian. Hexagon jump bukan hanya meningkatkan kemampuan eksplosif vertikal, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan aspek fisik yang relevan dengan performa dalam permainan sepak bola. Perbedaan efektivitas antara Hexagon jump dan Squat jump dapat dijelaskan melalui beberapa faktor fisiologis dan biomekanis. Kompleksitas gerakan Hexagon jump memberikan stimulus yang lebih bervariasi pada otot tungkai, tidak hanya mengaktifkan quadriceps, tetapi juga adductor, abductor, gluteus medius, serta otot-otot stabilisator pergelangan kaki yang berperan dalam gerakan lateral dan diagonal (Radcliffe & Farentinos, 2. Hal ini menyebabkan adaptasi neuromuskular yang lebih luas dibandingkan dengan latihan Squat Selain itu, dalam konteks sepak bola yang menuntut perubahan arah dan kecepatan secara konstan, latihan Hexagon jump memberikan transfer gerak yang lebih relevan terhadap kebutuhan pertandingan (Aloui et al. , 2. Durasi kontak kaki dengan tanah . round contact tim. yang lebih singkat pada Hexagon jump juga melatih kecepatan reaksi SSC lebih efektif. Seperti dikemukakan oleh Falch et al. , semakin cepat waktu kontak kaki dengan tanah, maka semakin besar peningkatan power eksplosif yang dihasilkan. Meskipun demikian. Squat jump tetap memiliki keunggulan tersendiri sebagai latihan dasar yang sederhana, mudah diajarkan, dan relatif aman bagi pemula. Oleh karena itu, latihan Squat jump dapat dijadikan fondasi dalam program latihan sebelum atlet diperkenalkan pada bentuk latihan pliometrik yang lebih kompleks seperti Hexagon jump. Pendekatan bertahap ini akan memungkinkan pengembangan kekuatan dan koordinasi secara progresif dan aman. Hasil penelitian ini memiliki implikasi praktis yang penting bagi pelatih dan pembina sepak bola usia remaja. Pelatih dapat memanfaatkan Hexagon jump sebagai latihan inti untuk Mutiara Pendidikan dan Olahraga Ae Volume 2. Nomor 6. November 2025 e-ISSN: 3089-1302. Hal. meningkatkan power otot tungkai dan kemampuan multidireksional atlet, terutama dalam fase latihan fisik dasar . eneral physical preparatio. Di sisi lain. Squat jump tetap relevan digunakan sebagai latihan pendukung bagi pemain yang baru memulai latihan pliometrik atau sedang dalam tahap pemulihan cedera. Bagi atlet, latihan pliometrik yang dilakukan secara konsisten dengan teknik yang benar dapat meningkatkan performa pertandingan, seperti kemampuan melakukan heading lebih tinggi, sprint lebih cepat, dan tendangan lebih kuat. Selain itu, latihan multidireksional seperti Hexagon jump juga membantu meningkatkan stabilitas sendi lutut dan pergelangan kaki, sehingga menurunkan risiko cedera (HernyndezDavo et al. , 2. Walaupun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu Pertama, subjek penelitian tidak diasramakan, sehingga ada kemungkinan beberapa peserta melakukan latihan mandiri di luar pengawasan pelatih, yang dapat memengaruhi hasil. Kedua, jumlah sampel relatif kecil, yaitu hanya 12 atlet berusia 14Ae17 tahun, sehingga hasil penelitian ini belum dapat digeneralisasikan secara luas. Ketiga, terdapat faktor-faktor lain seperti kondisi fisik, faktor psikologis, atau kelelahan yang tidak dapat dikendalikan sepenuhnya dan mungkin memengaruhi hasil pengukuran power otot tungkai. Keterbatasan ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam penelitian selanjutnya agar hasil yang diperoleh semakin komprehensif dan dapat digeneralisasikan dengan lebih baik. KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, latihan plyometric Hexagon jump dan Squat jump terbukti efektif dalam meningkatkan power otot tungkai pada atlet remaja Garuda Timur Football Academy. Kedua bentuk latihan menunjukkan peningkatan signifikan pada hasil vertical jump dari pre-test ke post-test. Latihan Hexagon jump, dengan pola gerakan multidireksional, memberikan peningkatan yang lebih besar terhadap koordinasi, kelincahan, dan kemampuan eksplosif otot tungkai dibandingkan Squat jump. Sementara itu, latihan Squat jump tetap berkontribusi dalam memperkuat otot-otot utama tungkai dan meningkatkan kekuatan dorongan vertikal. Hasil analisis menunjukkan bahwa Hexagon jump memiliki efektivitas lebih tinggi secara keseluruhan, sehingga dapat disimpulkan bahwa latihan plyometric khususnya Hexagon jump merupakan metode yang efisien untuk meningkatkan kemampuan eksplosif atlet sepak bola remaja. Perbandingan Pengaruh Latihan Plyometric Squat Jump dan Hexagon Jump terhadap Power Otot Tungkai Atlet Remaja Sepak Bola Saran