Jurnal Kehutanan Papuasia 4 . : 86Ae93 . Benamen, dkk INVENTARISASI POTENSI DAN BENTUK PEMANENAN HASIL HUTAN KAYU DI DAS TAMI DAN BEWAN DATARAN ARSO KABUPATEN KEEROM (Potential Inventory and Type of Timber Usage from the Forest in Tami and Bewan Watershed Areas of the Arso Plain in Keerom Administrative Distric. Bernadus Benamen1 Wolfram Y. Mofu1A dan Piter Gusbager1 Jurusan Kehutanan. Fakultas Kehutanan Universitas Papua Manokwari. Papua Barat. Tlp/Fax: 62986211065. Penulis Korespondensi: Email: wymofu@gmail. Diterima: 01 Agust 2. Disetujui: 29 Agust 2018 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan bentuk pemanenan hasil hutan kayu di daerah aliran sungai Tami dan Bewan, dataran Arso. Kabupaten Keerom. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode jalur berpetak serta wawancara semistruktural yang didesain guna menggali informasi pemanfaatan hasil hutan kayu serta nilai Hasil analisis vegetasi menunjukkan pada wilayah DAS Tami, nilai volume tertinggi untuk tingkat pohon di miliki oleh Pimeleodendron amboinicum dengan volume 13,499 m3/plot. Sementara untuk tingkat tiang berasal dari jenis Pometia pinnata dengan volume 1,074 m3/plot. Sementara pada wilayah DAS Bewan, nilai volume tertinggi diperoleh dari jenis Ficus benjamina dengan volume 123,966 m3/plot dan pada tingkat tiang dengan volume tertinggi berasal dari jenis Miristica culcata dengan volume 2,089 m3/plot. Dalam keseharian masyarakat masih memanfaatkan hasil hutan kayu untuk di jual dan untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Frekuensi pengambilan hasil hutan kayu ratarata 1 minggu sampai 2 bulan tergantung dari kebutuhan/ketersediaan hasil hutan kayu. Upaya konservasi masih dilakukan secara sederhana yaitu ditanam di areal bekas penebangan atau areal kosong. Kata kunci: DAS, struktur dan komposisi, tegakan hutan, pemanfaat kayu, nilai ekonomi. Abstract This study identifies the potency of forest structure and composition around Tami and Bewan watershed areas and economic income that potentially earned from the usage of timber extraction of the Arso plain in Keerom administrative district. The study method lies on a line plot sampling design to approach field data collection and semi-structural question lists for gaining information regarding benefit earned from the forest. From vegetation analysis standpoint, the result indicated that the highest volume at the tree stage of Tami watershed area was Pimeleodendron amboinicum . 499 m3/plo. While, at the pole stage, the highest volume was Pometia pinnata . 074 m3/plo. Whereas, the highest volume at the tree stage of Bewan watershed area was Ficus benjamina . 966 m3/plo. On the flip side, at the pole stage, the highest volume was Miristica culcata . 089 m3/plo. In daily life, local communities are still depending their live on the forest, in particular, for timber to purchase daily basic needs. The locals have been frequently accessing timber, but @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 4 . : 86Ae93 . Benamen, dkk it depends on their necessities. Conservation effort is carried out but in the traditional way by replanting in the cleared land. Keywords: Watershed, structure and composition, forest standing, timber use, economic PENDAHULUAN produksi (HP), hutan produksi konversi (HPK), hutan produksi terbatas (HPT), dan kawasan suaka alam. Luas keseluruhan kawasan hutan tersebut 857 ha . ,51% dari areal Berbagai komoditas yang dapat dikembangkan pada sub-sektor kehutanan antara lain meliputi kayu, rotan, dan kulit kayu yang dapat diolah menjadi plywood, blockboard, vener, lumber-core, poliyester (Hariyadi 2. Sektor kehutanan memberikan sumbangan yang pertumbuhan ekonomi daerah dan Pada tahun 2010, subsector kehutanan mampu menyumbang PDRB Kabupaten keerom sebesar 8,53 % dan menempati urutan ketiga dari sektor pertanian (Hariyadi 2. Besarnya sumbangan pada tahun 2010 menunjukan bahwa sektor kehutanan memberikan kontribusi yang sangat besar bagi daerah jika dianalisa berdasarkan luas keseluruhan hutan kabupaten keerom, sehingga perlu di lakukan penggelolaan hutan yang lebih optimal. Fakta yang terjadi sekarang menunjukan bahwa masyarakat tidak memanfaatkan hasil hutan dengan baik. Di samping hutan menyediakan beragam kebutuhan bagi masyarakat seperti obat-obatan, makanan, dan kehidupan lainnya, kenyataan di lapangan tidak seperti yang kita pikirkan bahwa masyakat yang ada di dalam dan sekitar hutan masih tergolong Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan daerah masih Hutan merupakan suatu potensi sumberdaya alam yang sangat penting Hutan dipandang sebagai suatu ekosistem dikarenakan hubungan antara masyarakat tumbuh-tumbuhan pembentuk hutan, binatang liar, dan lingkungannya tidak mempengaruhi dan sangat erat kaitannya, serta tidak dapat dipisahkan, hal ini seiring dengan terjadinya penurunan fungsi hutan. Maka pemanfaatan hasil hutan kayu harus dilakukan dengan penuh pertimbangan ekologis dan dengan berpegang pada prinsip pembangunan yang berkelanjutan (Lekitoo et al. Pembangunan berkelanjutan adalah pembangunan yang melestarikan di masa yang akan datang. Hutan juga merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dalam suatu ekosistem alam yang mempunyai peran sebagai sistem penunjang kehidupan makhluk hidup serta dalam mengatur keadaan udara dan cuaca setempat. Keerom memiliki potensi sumberdaya hutan yang sangat besar dan umumnya potensi ini belum di ketahui dan di manfaatkan dengan baik. Sebagian besar wilayah ini adalah daerah yang luasnya yaitu mencapai luas 942. 157,31 ha . ,04% dari luas kabupate. (Badan Pusat Statistik Kabupaten Keerom 2. Berdasarkan diketahui bahwa Kabupaten Keerom memiliki 5 macam kawasan hutan yang meliputi hutan lindung (HL), hutan @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 4 . : 86Ae93 . Benamen, dkk salah atau belum berpihak kepada Berdasarkan peta kawasan hutan dan perairan Kabupaten Keerom, wilayah DAS Tami dan Bewan menurut pembagian fungsi hutan termasuk dalam kawasan areal penggunaan lain (APL). Kawasan ini berfungsi sebagai kawasan menyediakan kebutuhan perkakas dan obat-obatan, setempat mengenal wilayah ini dengan sebutan segitiga emas karena sebagian besar hutan di dataran Arso telah beralih fungsi menjadi Areal perkebunan kelapa sawit . eperti di tunjukan pada pet. Oleh karena itu, perlu dilakukan suatu penelitian tentang inventarisasi dan pemanenan hasil hutan, guna memberikan pemanfaatan/pengusahaan hutan. garis berpetak dan metode jalur dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan pendekatan kuantitatif (Kusmana 1. Sementara variable yang dikaji dibagi menjadi dua yakni yang meliputi data utama berupa potensi tegakan dan teknik Sementara data penunjang meliputi keadaan umum lokasi penelitian yang diperoleh dari berbagai sumber Tahapan Penelitian Penelitian dilakukan berdasarkan prosedur berikut: Sebelum mengadakan pengumpulan data, dilakukan pengamatan lapangan meliputi keseluruhan kawasan hutan dengan tujuan melihat secara umum keadaan potensi, tegakan dan kondisi lingkungan lainnya. Pembuatan baseline: Baseline dibuat dekat DAS. Pembuatan titik ikat . enentuan Pembuatan jalur: Jalur pengamatan di desain tegak lurus terhadap baseline dengan azimuth 180A dari arah baseline ke arah hutan. Pembuatan pengambilan data vegetasi untuk fase pohon dengan ukuran plot 20 y 20 m dan untuk fase tiang dengan ukuran 10 y 10 m. Kedua petak pengamatan dibuat di dalam jalur dengan mengacu pada kiri-kanan luas jalur pengamatan masing-masing selebar 10 m. Pengambilan data: pengambilan data dilakukan sesuai dengan jumlah plot yang terbentuk, disesuaikan dengan panjang jalur pengamatan. Pengambilan data awal yaitu pada tingkat pohon dengan ukuran petak 20 y 20 m, data yang diambil yaitu nama jenis, yo . TBC METODE PENELITIAN Gambaran Umum Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kawasan daerah aliran sungai Tami dan daerah aliran sungai Bewan yang merupakan dua sungai besar di dataran Arso yang termasuk kawasan areal penggunaan lain (APL), dengan luas areal penelitian adalah A 6000 Ha. Dalam penelitian ini, digunakan intensitas sampling sebesar 0,3% guna melihat potensi dan intensitas Waktu pelaksanaan penelitian ini berlangsung selama A 1 bulan yaitu dari bulan Agustus s/d September tahun Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah jenis vegetasi tingkat tiang dan pohon yang terdapat pada wilayah DAS Tami dan DAS Bewan di dataran Arso. Kabupaten Keerom. Dalam penelitian ini digunakan metode metode @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 4 . : 86Ae93 . Benamen, dkk . inggi bebas caban. TT . inggi tota. , dan koordinat x dan y. Pengambilan data pada fase tiang dengan ukuran petak 10 y 10 m, data yang diambil yaitu nama jenis, yo . TBC . inggi bebas caban. , dan TT . inggi tota. untuk menentukan dominansi suatu jenis terhadap jenis yang lain. Nilai penting diperoleh dari penjumlahan kerapatan relatif, frekuensi relatif, dan dominansi Untuk mendapatkan nilai-nilai tersebut digunakan rumus perhitungan analisis vegetasi menurut Soerianegara dan Indrawan . Pengumpulan Data Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil penelitian selanjutnya akan diolah secara tabulasi dan dianalisis secara deskriptif. Penyajian data dalam bentuk tabel dan Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu data primer dan data sekunder. Data primer merupakan data yang diperoleh dengan cara survei langsung dan teknik sampling yang meliputi: diameter dan tinggi pohon. Sedangkan data sekunder terdiri dari jenis-jenis usaha, jumlah usaha, teknik pemanenan, pemilik usaha, mekanisme pemanenan dan pemasaran diperoleh dengan teknik wawancara. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari studi pustaka yang meliputi. fisik, sosial ekonomi, dan keadaan dan kondisi serta status hutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Jenis Bratawinata . , menjelaskan bahwa komposisi dapat diartikan sebagai suatu susunan dan jumlah jenis yang membentuk tegakan. Dilihat dari hasil inventarisasi hutan dilapangan diperoleh data pada DAS Tami untuk tingkat pohon berjumlah 136 individu yang terdiri dari 40 jenis dan 27 famili dan untuk tingkat tiang diperoleh data 160 individu yang Pengolahan Data Data hasil penelitian dikumpulkan dan kemudian diolah untuk mendapatkan indeks nilai penting (INP) yang berguna Gambar 1. Jumlah dan struktur vegetasi tegakan hutan pada tingkat pohon dan tiang di daerah aliran sungan (DAS) Tami (Gbr kir. dan DAS Bewan (Gbr kana. @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 4 . : 86Ae93 . Benamen, dkk terdiri dari 32 jenis dan 10 famili sedangkan untuk DAS Bewan untuk tingkat pohon diperoleh 120 Individu yang terdiri dari 35 jenis dan 31 famili dan untuk tingkat tiang diperoleh 182 individu yang terdiri dari 36 jenis dan 15 Jumlah jenis untuk tingkat pohon dan tingkat tiang pada DAS Tami dan DAS Bewan dapat dilihat pada Gambar 1. Kemudian jenis Ficus variegate dengan volume 0,572 m3/plot, dan posisi ke lima ditempati oleh Canarium hirsutum dengan volume 0. 558 m3/plot. Sementara volume untuk 32 jenis lainnya adalah 4,843 m3/plot dari keseluruhan total volume 8,657 m3/plot. Potensi DAS Bewan Tingkat Pohon Dari hasil perhitungan volume per jenis untuk tingkat pohon pada DAS Bewan diperoleh data total volume untuk tingkat pohon adalah 311,947 m3/plot, dimana nilai ini diperoleh dari penjumlah volume jenis secara keseluruhan. Total volume untuk tingkat pohon adalah 311,947 m3/plot, nilai ini diperoleh dari dapat dilihat volume tertinggi di miliki oleh Ficus benjamina dengan volume 123,966 m3/plot. Jenis Pometia pinnata di tempat kedua dengan volume 42,707 m3/plot. Ditempat ke tiga adalah jenis Pimeleodendron amboinicum 30,753 m3/plot. Kemudian jenis Oktomeles sumatrana di tempat ke empat dengan volume 22,960 m3/plot, dan di posisi ke lima ditempati oleh jenis Hernandia peltata dengan volume 13,004 m3/plot. Sementara volume untuk 31 jenis lainnya adalah 220,386 m3/plot dari keseluruhan total volume 311,947 m3/plot. Tingkat Tiang Dari hasil perhitungan volume per jenis untuk tingkat tiang pada DAS Bewan diperoleh data bahwa total volume untuk tingkat tiang adalah 8,305 m3/plot, dimana nilai ini diperoleh dari penjumlah volume jenis secara keseluruhan. dilihat bahwa volume tertinggi adalah Miristica culcata dengan volume 2,089 m3/plot. Jenis Pometia pinnata ditempat Potensi DAS Tami Tingkat Pohon Diketahui bahwa total volume untuk tingkat Pohon adalah 92,372 m3/plot. Nilai ini diperoleh dari penjumlah volume jenis secara keseluruhan. Untuk lima besar jenis dengan jumlah volume tertinggi di miliki oleh Pimeleodendron amboinicum dengan volume 13,499 m3/plot. Jenis Pometia Pinnata ditempat kedua dengan volume 10,020 m3/plot. Ditempat ke tiga adalah jenis Hernandia peltata dengan volume 6,559 m3/plot. Kemudian Jenis Ficus variegata ditempat ke empat dengan volume 5,949 m3/plot. Sementara di posisi ke lima ditempati oleh jenis Camnosperma macrophylla 5,114 m3/plot. Selanjutnya volume untuk 35 jenis lainnya adalah 51,232 m3/plot dari keseluruhan total volume 92,373 m3/plot. Tingkat Tiang Dari hasil perhitungan volume per jenis untuk tingkat tiang pada DAS Tami diperoleh bahwa total volume untuk tingkat tiang adalah 8,657 m3/plot. Nilai ini diperoleh dari penjumlah volume jenis secara keseluruhan. Dapat dilihat volume tertinggi di miliki oleh Pometia pinnata dengan volume 1,074 m3/plot. Jenis Pimeleodendron amboinicum ditempat kedua dengan volume 1,025 m3/plot, ditempat ke tiga adalah jenis Aglaia culculata dengan volume 0,585 m3/plot. @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 4 . : 86Ae93 . Benamen, dkk kedua dengan volume 0,608 m3/plot, sementara ditempat ke tiga adalah jenis Pimeleodendron amboinicum dengan volume 0,562 m3/plot. Kemudian jenis Myristica fatua var papuana ditempat ke empat dengan volume 0,436 m3/plot, dan posisi ke lima ditempati oleh Chisocheton ceramicus dengan volume 0. 383 m3/plot. Selanjutnya volume untuk 31 jenis lainnya adalah 3,695 m3/plot dari keseluruhan total volume 8,305 m3/plot. Jika dilihat dari potensi tiang dan pohon pada DAS Tami dan DAS Bewan, jenis yang memiliki volume tertinggi berbeda Ae beda dimana hal ini diduga dipengaruhi oleh variasi luas bidang dasar (LBD) tutupan hutan dan jumlah individu suatu jenis per satuan luas yang beragam. produktivitas kerja, pemanfaatan kayu, dan biaya penebangan. Peralatan yang digunakan dalam menebang kayu serta pengangkutan terdiri dari chensaw untuk menebang dan motor atau sepeda untuk mengangkut kayu hasil olahan tersebut. Pengolahan Hasil pengamatan pada responden bahwa ukuran kayu yang dibuat berupa bantalan dan balok dengan ukuran 10 y 20 cm untuk bantalan dan 20 y 20 cm untuk balok. Ukuran kayu tersebut diolah pada saat di dalam hutan dan diangkut keluar ke Tpn. Satu pohon dapat menghasilkan 6 sampai 8 kubik sortimen kayu dengan ukuran yang telah disebutkan di atas. Kayu-kayu tersebut diangkut keluar dari hutan dan dijual pada sawmill-sawmill yang berada di sekitar Kabupaten Keerom maupun di Kabupaten Jayapura. Untuk setiap kayu yang dibawa dan dijual diberi harga sekitar Rp. 000 per mA. Pengangkutan Pengangkutan hasil hutan atau disebut pengangkutan jarak jauh . isebut hauling atau transportatio. merupakan tahap terakhir dari kegiatan pemanenan hasil hutan . hususnya yang berupa kay. Pengangkutan dalam penelitian ini menggunakan motor atau sepeda yang sudah dimodifikasi kesesuaiannya secara khusus untuk mengangkut kayu hasil olahan tersebut. Sepeda atau motor yang dipakai dapat mengangkut 8 bantalan maupun balok dengan komposisi 4 disisi kanan dan 4 disisi kiri. hal ini dibuat agar berat kayu tersebut seimbang dan tidak mudah jatuh. Bentuk Pemanenan Penebangan Dari hasil pengamatan responden di lapangan, diperoleh informasi bahwa teknik penebangan pohon diawali dengan penentuan arah rebah pohon. Arah rebah yang benar menurut Juta . dalam Hartono . akan menghasilkan rebahnya pohon sesuai dengan yang Selain itu kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan juga dapat Setelah arah rebah ditentukan dilanjutkan dengan membuat takik rebah yang meliputi alas takik dan atap takik. Kemudian membuat takik balas untuk merebahkan pohon. Pembuatan takik rebah diusahakan serendah mungkin. Hal ini dikarenakan dapat mempengaruhi pemanfaatan kayu secara keseluruhan. Efisiensi yang dimaksud meliputi @ Asosiasi Peneliti Biodiversitas Papuasia - Fakultas Kehutanan UNIPA Jurnal Kehutanan Papuasia 4 . : 86Ae93 . Benamen, dkk Gambar 2. Pengangkutan sortimen kayu balok menggunakan sepeda. Sistem rel Sistem rel terdiri dari dua jenis yaitu sistem rel bantalan dan sistem sling: Sistem Rel bantalan adalah sistem jalan atau rute yang terbuat dari bantalan kayu yang sudah tidak mempunyai nilai Sistem rel inilah tempat untuk meletakan alat penggangkut kayu . epeda Namun pengangkutan kayu lewat sistem rel ini tidak menggunakan alat penggangkut tetapi sebagai pengantinya dipakaitnaga manusia yakni dengan cara memikulnya. Sementara sistem sling merupakan sistem yang terbuat dari tali winch, dan papan atau balok penyanggah yang diikatkan pada sling untuk selanjutnya digerakan. bijuga diperoleh nilai uang sebesar Rp. 4,913,848,800. Nilai tersebut diperoleh dari kubikasi kayu sesuai dengan potensi yang ada pada Kawasan hutan yang kemudian dikalikan dengan harga kayu per kubik sesuai dengan kelompok jenis kayu dimana untuk kelompok jenis kayu rimba campuran harga per kubiknya adalah Rp. 300,000, kelompok jenis kayu Pometia pinnata harga per kubiknya adalah Rp. 400,000 dan kelompok jenis kayu Intsia bijuga Rp. 500,000. Dari hasil tersebut dapat diduga jika masyarakat pengelola hutan mampu mengelola seluruh potensi yang ada pada Kawasan hutan tersebut, maka pendapatan yang diperoleh masyarakat sangat besar. Hal itu dapat menujukkan potensi tingkat kesejahteraan masyarakat tersebut melalui pengelolaan hutan secara lebih baik. Pendugaan Pendapatan Masyarakat Berdasarkan pendapatan masyarakat pengelola hutan dengan luasan mencapai 6000 ha, diperoleh hasil sebagai berikut: untuk jenis rimba campuran diperoleh nilai uang sebesar Rp. 605,521,481,040. untuk jenis Pometia pinnata diperoleh nilai uang Rp. 1,033,939,200. dan untuk jenis Intsia DAFTAR PUSTAKA