p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE. INTENSITAS MODAL, EARNING MANAGEMENT DAN BEBAN PAJAK TANGGUHAN TERHADAP TAX AVOIDANCE Siti Nurhasanah. Anggun Putri Romadhina Universitas Pamulang Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendapatkan bukti empiris pengaruh dari Good corporate governance intensitas modal earning management dan beban pajak tangguhan terhadap tax avoidance. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian ini adalah perusahaan sektor consumer non cyclical yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2023. Pemilihan sampel ini menggunakan metode purposive sampling. Jumlah data yang diperoleh sebanyak 50 data laporan keuangan. Metode analisis data yang digunakan adalah regresi linier berganda yang diolah menggunakan Eviews Versi Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa good corporate governance intensitas modal earning management dan beban pajak tangguhan secara simultan memiliki pengaruh terhadap tax avoidance. Sedangkan secara parsial good corporate governace dengan proxy dewan komisaris independen memiliki pengaruh terhadap tax avoidance, good corporate governance dengan proxy kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh terhadap tax avoidance, intensitas modal memiliki pengaruh terhadap tax avoidance. Earning management memiliki pengaruh terhadap tax avoidance dan beban pajak tangguhan tidak memiliki pengaruh terhadap tax avoidance. Keywords: Dewan Komisaris Independen. Kepemilikan Institusional. Intensitas Modal. Earning Management. Beban Pajak Tangguhan dan Tax Avoidance. PENGARUH GOOD CORPORATE GOVERNANCE. INTENSITAS MODAL, EARNING MANAGEMENT. DAN BEBAN PAJAK TANGGUHAN TERHADAP TAX AVOIDANCE This research aims to analyze and obtain empirical evidence of the influence of good corporate governance, capital intensity, earnings management, and deferred tax liabilities on tax avoidance. The type of research used is descriptive quantitative. The population of this study consists of non-cyclical consumer sector companies listed on the Indonesia Stock Exchange from 2019 to 2023. The selection of this sample uses the purposive sampling method. The number of data obtained was 50 financial report data. The data analysis method used is multiple linear regression processed using Eviews Version 12. The results of this study indicate that good corporate governance, capital intensity, earnings management, and deferred tax liabilities simultaneously have an impact on tax avoidance. Meanwhile, partially, good corporate governance with the proxy of an independent board of commissioners has an influence on tax avoidance, good corporate governance with the proxy of institutional ownership does not have an influence on tax avoidance, capital intensity has an influence on tax avoidance, earning management has an influence on tax avoidance, and deferred tax liabilities do not have an influence on tax avoidance. Keywords: Independent board of commissioners. Institutional Ownership. Capital Intensity. Earnings Management, deferred tax liabilities, and Tax Avoidance. p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara dengan populasi terbesar keempat di dunia. Dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan posisi geografis yang strategis. Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi negara berpenghasilan tinggi melalui penerapan sistem perpajakan yang efisien. Pajak memainkan peran krusial dalam perekonomian Indonesia. Sebagai sumber utama pendapatan, pajak berfungsi untuk mendanai berbagai kebutuhan pemerintah. Dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2020, misalnya, diperkirakan sekitar 70% dari total penerimaan pajak akan dialokasikan untuk pembangunan di sektor ekonomi, sosial, pendidikan, dan kesehatan (Pravita, 2. Berdasarkan informasi yang dipublikasikan oleh Kementerian Keuangan serta laporan kegiatan yang disusun oleh kementerian tersebut, berikut adalah target penerimaan pajak yang direncanakan untuk periode 2019Ae2023: Tabel 1. Persentase penerimaan pajak periode 2019 sampai 2023 (Dalam Triliun Rupia. Tahun Anggaran Capaian 1,322,67 84,5% 1,072,11 89,4% 1,278,63 104,0% 1,716,77 115,6% 1,869,23 102,8% Sumber : w. id, 2024 Tabel 1. 1 menggambarkan hasil penerimaan pajak Indonesia dalam APBN periode 2019-2023. Data ini menunjukkan bahwa pencapaian target pajak di atas 100% merupakan tantangan yang cukup besar. Namun, pada tahun 2021, proporsi penerimaan pajak berhasil naik menjadi 104%, dan pada tahun 2022 melonjak menjadi 115,6%. Sayangnya, di tahun 2023, pencapaian hanya mencapai 102,8%. Meskipun terdapat tahuntahun di mana target tidak tercapai, secara keseluruhan pencapaian ini cukup memuaskan untuk memenuhi target pajak yang telah ditetapkan. Pada periode 2019Ae2020, penerimaan pajak di Indonesia belum mencapai tingkat optimal yang diharapkan, yang menjadi hambatan bagi pemerintah dalam mengoptimalkan pendapatan, salah satunya melalui penghindaran praktik penghindaran pajak. Untuk meningkatkan penerimaan pajak, pemerintah telah mengambil berbagai langkah guna memperbaiki sistem perpajakan yang p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 Salah satu upaya untuk mendukung pembiayaan pembangunan nasional yang mandiri adalah dengan memperkuat pengumpulan dari sektor pajak. TINJAUAN LITERATUR Menurut Sugiyono . 9 :. teori dapat dipahami sebagai alur logika atau penalaran yang terdiri atas serangkaian konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Teori berfungsi sebagai alat bagi profesional untuk menggambarkan fenomena tertentu, sehingga memudahkan pemikiran dan menjadi pedoman berpikir. Sebelum melakukan penelitian lebih lanjut, seorang peneliti perlu menyusun kerangka teori sebagai dasar pemikiran untuk menggambarkan perspektif penelitian serta permasalahan geografi yang Teori Agensi Teori keagenan Teori keagenan menjelaskan hubungan antara pemilik . dan manajer . dalam pengelolaan perusahaan. Principal merupakan entitas yang memberikan wewenang kepada agent untuk mengelola perusahaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan kepentingan antara principal dan agent dapat mempengaruhi berbagai aspek, termasuk kinerja perusahaan dan kebijakan pajak. Manajer, sebagai agent, cenderung berusaha untuk mendapatkan insentif atau kompensasi yang tinggi dengan cara meningkatkan laba, sementara pemegang saham lebih memilih untuk menekan pajak dengan cara menurunkan laba. Oleh karena itu, strategi penghindaran pajak sering kali diambil sebagai solusi untuk menyelaraskan perbedaan kepentingan antara kedua pihak tersebut. Teori Stakeholder stakeholder Stakeholder adalah kelompok atau individu yang memiliki kepentingan dalam kegiatan dan hasil suatu organisasi, serta pihak yang berkontribusi pada pencapaian tujuan Teori stakeholder menyatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang beroperasi semata-mata untuk kepentingan dirinya sendiri. Sebaliknya, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memberikan manfaat kepada berbagai pihak yang berkepentingan, seperti pemegang saham, kreditor, konsumen, pemasok, pemerintah, masyarakat, dan pihak lainnya. Dengan demikian, keberlangsungan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan dari semua stakeholder terhadap perusahaan tersebut. Tax Avoidance atau penghindaran pajakvadalah upaya yang dilakukan oleh wajib pajak, baik individu maupun badan hukum, untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kewajiban perpajakan mereka tanpa melanggar peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku. p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 Good corporate governance telah menjadi isu utama dalam beberapa tahun terakhir. Daya tarik suatu negara dalam menarik investasi asing sangat bergantung pada sistem Good corporate governance yang diterapkan, serta sejauh mana manajemen perusahaan menghormati dan mematuhi hak-hak hukum pemegang saham. Dewan Komisaris independen berfungsi sebagai lembaga di dalam perusahaan yang terdiri dari anggota dewan komisaris dari luar, dan bertugas untuk mengevaluasi kinerja keseluruhan perusahaan. Kepemilikan institusional merujuk pada kepemilikan saham yang dilakukan oleh lembaga atau institusi, seperti perusahaan asuransi, perusahaan investasi, perseroan terbatas (PT), bank, pemerintah, yayasan, dan institusi dan lain sebagainya. Intensitas modal adalah keputusan keuangan yang dihitung dengan membagi jumlah aset tetap bersih dengan total aset. Sesuai dengan penelitian sebelumnya, studi ini juga menggunakan rasio antara total aset tetap terhadap total aset untuk mengukur intensitas modal. manajemen laba yang biasa dikenal juga dengan earnings management, didefinisikan sebagai suatu tindakan manajerial yang disengaja dalam proses pelaporan laba, dengan tujuan mendapatkan keuntungan pribadi tertentu. Beban pajak tangguhan yaitu yang merupakan mencerminkan utang pajak yang akan mempengaruhi jumlah kewajiban perpajakan di masa mendatang. Beban pajak tangguhan ini diakibatkan dari adanya perbedaan pengakuan penghasilan atau beban antara peraturan keuangan( fisca. dengan standar akuntansi keuangan. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data sekunder. Penelitian kuantitatif merupakan jenis penelitian lapangan yang melibatkan pengambilan data untuk dianalisis secara mendalam. Data yang diperoleh dari sampel populasi kemudian dianalisis menggunakan metode statistik yang sesuai dan diinterpretasikan (Sugiyono, 2019:. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah kuantitatif asosiatif, yang bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara dua variabel atau lebih. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat dibangun suatu teori yang mampu menjelaskan, meramalkan, dan mengontrol gejala atau fenomena tertentu (Sugiyono, 2019:. Populasi penelitian ini adalah seluruh Perusahaan sektor consumer non cyclical yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun periode 2019-2023 dengan jumlah populasi sample sebanyak 128 p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 Teknik pengambilan sampel Teknik pengambilan sampel penelitian ini berdasarkan purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan bertujuan berdasarkan kriteria tertentu. Adapun kriteria perusahaan yang dijadikan sampel oleh penulis sebagai berikut : Teknik Pengumpulan Data Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi dan studi kepustakaan Terhadap Laporan Keuangan perusahaan sektor consumer non cyclical yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada periode 2019-2023. Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mempelajari catatan Ae catatan yang terdapat dalam laporan tahunan perusahaan yang menjadi sampel penelitian. Metode kepustakaan dilakukan dengan carapenelusuran data secara langsung melalui media cetak . uku,tesis, jurnal, skrips. dan media elektronik . erpusakaan, laporan BEI, situs interne. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan Manufaktur, laporan keuangan yang dipublikasikan untuk pihak publik tahun 2019-2023 melalui website resmi w. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode dokumentasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui Pengaruh Good Corporate Governace Intensitas Modal Earning Management dan beban pajak tangguhan terhadap Tax Avoidance pada perusahaan sektor consumer non cyclical yang terdaftar pada bursa efek indonesia pada periode tahun 2019-2023. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil data laporan keuangan tahunan yang telah diaudit pada perusahaan sektor consumer non cyclical yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Pusat Referensi Pasar Modal (PRPM) gedung BEI Menara II Lantai 1 Galeri Edukasi BEI, yang beralamat di Jl. Jendral Sudirman Kav 52-53 Jakarta Selatan, yang dipublikasikan melalui situs BEI w. Dalam menentukan definisi operasional pada masing-masing variabel dalam penelitian ini adalah untuk menentukan ukuran yang dijadikan dasar, dimana alat ukur yang digunakan adalah sebagai A Variabel Terikat atau Dependent Variable (Y) A Variabel terikat adalah suatu variabel yang dipengaruhi oleh variabel lain. Variabel terikat atau variabel tidak bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah profitabilitas. p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel Penelitian Tax Avoidance Variabel tax avoidance dalam penelitian ini diukur menggunakan menggunakan CETR ( Cash effective tax rat. Pengukuran CETR Penggunaan metode Cash Effective Rate (CETR) untuk mengukur kegiatan tax avoidance oleh perusahaan dikarenakan kemampuan CETR tak berpengaruh menggunakan adanya perubahan perkiraan contohnya penyisihan nilai juga proteksi pajak (Ajimat & Abdul,2. CETR = PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN LABA SEBELUM PAJAK Dewan Komisaris Independen Menurut kutipan dalam Sahara . komisaris independen adalah anggota dewan komisaris yang berasal dari pihak luar perusahaan dan harus memenuhi persyaratan sebagai komisaris independen sebagaimana yang berada dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No/POJK04/2014. indikator pengukuran dari komisaris independen (Ridwan & Pekerti, 2. DKI = JUMLAH KOMISARIS INDEPENDEN JUMLAH SELURUH ANGGOTA DEWAN Kepemilikan Institusional Berikut adalah indikator dari kepemilikan institusional (Ellyanti & Suwarti, 2. Ukuran yang digunakan untuk kepemilikan institusional yaitu : KI = TOTAL KEPEMILIKAN SAHAM INSTITUSI JUMLAH SAHAM BEREDAR Intensitas Modal Capital intencity dapat menggambarkan Tingkat efisiensi Perusahaan dalam menggunakan asetnya untuk menghasilkan penjualan Keputusan yang dilakukan oleh manager Perusahaan yang memiliki tujuan untuk meningkatkan profit bagi Perusahaan dengan cara ber investasi dalam bentuk asset tetap. Variabel yang digunakan untuk menghitung nilai intensitas modal adalah (CIR) Capital intensity ratio yaitu sebagai berikut INTENSITAS MODAL = TOTAL ASET TETAP TOTAL ASSET Earning Management Manajemen laba mengacu pada upaya manajer perusahaan untukmempengaruhi informasiinformasi dalam laporan keuangan dengan tujuan mengelabui stakeholder yang dan kondisi perusahaan. Manajemen Laba dalam penelitian ini diukur dengan nilai discretionary accrual (DA). Penggunaan discretionary accrual sebagai proksi manajemen laba dihitung dengan modified jones model (Henny,2. DAit = TACit Ae ND Ait Ait-1 p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 Beban Pajak Tangguhan Beban pajak tangguhan adalah beban yang timbul akibat perbedaan temporer antara perhitungan fiscal dengan perhitungan akuntansi. Perbedaan waktu ini menyebabkan perbedaan jumlah penghasilan atau beban yang dicatat dalam setiap periode akuntansi, tetapi biasanya jumlah penghasilan atau beban keuangan totalnya Dikutip dalam Adagima . beban pajak tangguhan dapat diukur dengan rumus sebagai berikut : DTEit = DEFFERED TAX EXPANSE it TOTAL ASSET it -1 Analisis Statistik Deskriptif Menurut Sugiyono . , analisis data merupakan tahap yang dilakukan setelah mengumpulkan informasi dari seluruh responden atau sumber data. Dalam penelitian ini, teknik analisis yang digunakan mencakup statistik deskriptif serta pemilihan model regresi data panel, sehingga data yang diperoleh tidak terbatas hanya pada satu periode. Statistik deskriptif adalah cabang ilmu statistik yang berfokus pada ringkasan dan penyajian data agar lebih mudah dibaca dan dipahami (Hamid,2. Melalui pengujian statistik deskriptif, kita dapat memperoleh gambaran atau deskripsi mengenai data dengan memperhatikan berbagai nilai, seperti rata-rata . , median, standar deviasi, varian, maksimum, minimum, jumlah . , rentang . , kurtosis, skewness . emencengan distribus. , kuartil, dan persentil dari sampel data yang ada. Uji asumsi Klasik Uji asumsi klasik berfungsi untuk menentukan apakah terdapat normalitas residu, multikolinearitas, autokorelasi, dan heteroskedastisitas dalam model regresi. Sebuah model regresi linear akan dianggap baik jika memenuhi beberapa asumsi klasik, yaitu distribusi normal dari data residu, bebas dari multikolinearitas, serta tidak terjadi autokorelasi dan heteroskedastisitas. Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk mengamati sejauh mana distribusi dalam model regresi pada variabel gangguan atau variabel residual mengikuti pola normal. Pentingnya uji normalitas terletak pada fakta bahwa pengabaian asumsi klasik dapat mengakibatkan hasil uji statistik menjadi tidak valid. Sebuah model regresi dianggap baik jika data residualnya terdistribusi normal. Untuk mengukur normalitas data tersebut, kita dapat menggunakan uji Jarque-Bera. Kriteria yang digunakan adalah bahwa normalitas dapat dikatakan terpenuhi jika nilai signifikan atau p-value dari uji Jarque-Bera lebih besar dari 0,05 (Fadilah, 2. Uji Multikolinearitas Uji multikolinearitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya kolerasi antara variable independent. Model yang baik adalah model yang tidak terjadi kolerasi antara variable p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 Uji Heterokedastisitas Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk mengidentifikasi apakah terdapat ketidakstabilan varian pada model regresi yang dapat terjadi ketika residual berpindah antara satu pengamatan dengan pengamatan Pada model regresi linier berganda, heteroskedastisitas muncul apabila terdapat perbedaan varian. Variabel bebas atau independen diuji melalui model regresi residual. Dalam konteks ini, tidak terdapat masalah heteroskedastisitas dalam model regresi jika nilai probabilitas masing-masing variabel melebihi 0,05. Sebaliknya, hal tersebut menunjukkan adanya masalah heteroskedastisitas (Sugiyanto, 2022:. Uji Autokorelasi Uji autokorelasi merupakan analisis statistik yang bertujuan untuk menentukan apakah variabel dalam model prediksi memiliki hubungan dengan perubahan waktu. Dengan demikian, nilai gangguan yang berpasangan akan menunjukkan autokorelasi, bukan berpasangan secara bebas, ketika asumsi autokorelasi diterapkan pada model prediksi. Uji autokorelasi sangat penting untuk data runtut waktu . ime serie. Pada sampel atau peristiwa tertentu, nilai suatu pengukuran dipengaruhi oleh nilai observasi sebelumnya, yang menjelaskan fenomena autokorelasi itu sendiri (Sugiyanto, 2022:. Cara menggunakan uji Durbin-Watson untuk mengetahui ada atau tidaknya autokorelasi adalah sebagai berikut: Tidak ada autokorelasi jika DU < DW < 4-DU dan Ho diterima Autokorelasi terjadi jika DW < DL atau DW > 4-DL dan dan Ho ditolak Tidak ada kesimpulan yang pasti jika DL < DW < DU atau 4-DU < DW < 4 DL Analisis Regresi Linear Berganda Uji regresi linier berganda bertujuan untuk mengonfirmasi dan memprediksi nilai dari variabel tak bebas (Y). Selain itu, uji ini juga dilakukan untuk memahami interaksi antara variabel bebas dan variabel terikat (Napitupulu, 2021:. Dengan demikian, analisis regresi linier berganda akan dilakukan ketika terdapat minimal dua variabel independen. Secara umum, bentuk regresi yang digunakan dalam analisis ini adalah regresi linier berganda dengan tingkat derajat kesalahan sebesar 5%. Berdasarkan rumusan masalah dan kerangka teoritis yang telah dipaparkan sebelumnya, persamaan regresi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Y=a b1X1 b2X2 b3x3 b4x4=b5x5 e Keterangan : = Tax Avoidance = konstanta = Dewan Komisaris Independen = Kepemilikan Institusional = Intensitas Modal p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 = Earning Management = Beban Pajak Tangguhan B1b2b3b4 = Besaran koefisien regresi masing masing variable = Standar error Uji Koefesien Determinasi (Adjusted R Squar. Koefisien determinasi (RA) berfungsi untuk mengukur sejauh mana tingkat ketepatan atau kecocokan dari model regresi data panel (Sugiyono, 2. Uji ini dapat digunakan untuk menilai kemampuan model dalam menjelaskan variabel independen, tetapi memiliki kelemahan, yaitu terdapat potensi bias terkait jumlah variabel independen yang dimasukkan. Setiap kali satu variabel independen ditambahkan, nilai RA cenderung meningkat, terlepas dari apakah variabel tersebut memberikan pengaruh signifikan terhadap variabel Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan Adjusted RA, yang memiliki rentang nilai antara 0 dan Semakin mendekati angka 1, semakin baik kemampuan model dalam menjelaskan variabel dependen. Uji simultan Uji F . eseluruhan atau bersama-sam. Dalam teori regresi linier, pengujian dilakukan untuk memastikan apakah model regresi yang dihasilkan dapat diterima atau tidak. Tujuan dari uji simultan adalah untuk menilai apakah terdapat hubungan linier yang signifikan antara variabel bebas X dan variabel terikat Y. Jika nilai p pada uji F menunjukkan hasil yang signifikan, maka kita dapat menyimpulkan adanya hubungan tersebut. Uji Koefesien Regresi Parsial (Uji T) Uji parsial digunakan untuk mengetahui apakah sebuah variabel bebas X benar-benar memberikan kontribusi terhadap variabel terikat Y. Selain itu, pengujian ini ingin mengetahui apakah suatu variabel X masih memberikan kontribusi yang signifikan terhadap variabel terikat Y jika digunakan secara terpisah (Napitupulu, 2021:. Dengan melihat probabilitas t hitung, uji t ini menentukan validitas hipotesis. Ketika prob <5% atau 0,05 variabel bebas memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel terikat. II. HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Statistik Deskriptif Uji statistik deskriptif ini memberikan gambaran atas suatu data yang telah terkumpul untuk memberikan penjelasan terkait nilai rataAerata . , varian, maksimum, minimum dan standar deviasi. Statistik deskriptif bertujuan untuk mengetahui gambaran tentang distribusi dalam penelitian ini meliputi variabel tax avoidance. Dewan Komisaris Independen, kepemilikan institusional. Earning Management dan beban pajak tangguhan. Hasil pengujian statistik deskriptif dapat dilihat pada tabel sebagai berikut: p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 Tabel 3. 1 Hasil Statistik Deskriptif Sumber : data diolah oleh penulis,2024 Berdasarkan tabel 3. 1 hasil perhitungan statistik deskriptif masing masing variabel, didapat sebanyak 50 sampel data perusahaan consumer non cyclical yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2019-2023 yang akan dijelaskan rinciannya sebagai berikut: Dewan Komisaris Independen (DKI) Hasil uji statistik deskriptif pada tabel 3. 1 menunjukkan bahwa DKI memiliki rentang nilai antara 0. 602100 sampai dengan -0. Nilai minimum sebesar -0. 602100 dan nilai maksimum sebesar 0. nilai rata-rata . DKI sebesar -0. 440772 dan nilai standar deviasi sebesar 0. Kepemilikan Institusional (KI) Hasil uji statistik deskriptif pada tabel 3. 1 menunjukkan bahwa KI memiliki rentang nilai antara 1. 292600 sampai dengan -0. Nilai minimum sebesar -1. 292600 dan nilai maksimum sebesar 0. nilai rata-rata . KI sebesar -0. 419356 dan nilai standar deviasi sebesar 0. Intensitas Modal (IM) Hasil uji statistik deskriptif pada tabel 3. 1 menunjukkan bahwa IM memiliki rentang nilai antara 1. 858400 sampai dengan -0. Nilai minimum sebesar -1. 858400 dan nilai maksimum sebesar 0. nilai rata-rata . IM sebesar -0. 637654 dan nilai standar deviasi sebesar 0. Earning Management (EM) Hasil uji statistik deskriptif pada tabel 3. 1 menunjukkan bahwa EM memiliki rentang nilai antara 0. 211300 sampai dengan 0. Nilai minimum sebesar -0. 211300 dan nilai maksimum sebesar 0. nilai rata-rata . EM sebesar 0. 102734 dan nilai standar deviasi sebesar 0. p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 Beban Pajak Tangguhan (BPT) Hasil uji statistik deskriptif pada tabel 3. 1 menunjukkan bahwa BPT memiliki rentang nilai antara 3. 743300 sampai dengan -1. Nilai minimum sebesar -3. 743300 dan nilai maksimum sebesar 1. nilai rata-rata . BPT sebesar -2. 819986 dan nilai standar deviasi sebesar 0. KESIMPULAN Penelitian ini mengkaji pengaruh Good Corporate Governance yang diwakili oleh Dewan Komisaris Independen dan kepemilikan institusional, serta faktor-faktor lain seperti intensitas modal, pengelolaan laba, dan beban pajak tangguhan terhadap penghindaran pajak (Tax Avoidanc. sebagai variabel dependen. Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari laporan keuangan perusahaan sektor konsumen non-siklis yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2019-2023. Berdasarkan analisis yang telah dibahas pada bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut: Hipotesis pertama (H. menyatakan bahwa Dewan Komisaris independen. Kepemilikan Institusional. Intensitas Modal. Manajemen Laba, dan Beban Pajak Tangguhan memiliki pengaruh simultan terhadap penghindaran pajak . ax avoidanc. Hal ini dibuktikan dengan nilai F-hitung yang lebih besar daripada Ftabel pada tingkat signifikansi . ,62962 > 2,. Hasil ini diperkuat oleh nilai probabilitas F-statistik yang sangat kecil, yaitu 0,000000, yang jauh di bawah batas signifikansi yang telah ditetapkan ( = 0,. Dengan demikian, hipotesis nol (H. dapat ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa Dewan Komisaris independen. Kepemilikan Institusional. Intensitas Modal. Manajemen Laba, dan Beban Pajak Tangguhan memiliki pengaruh simultan terhadap penghindaran pajak pada perusahaan sektor konsumen non-siklis di Bursa Efek Indonesia. Oleh karena itu. H1 diterima. Hipotesis kedua (H. Berdasarkan tabel uji pengaruh variabel secara parsial dewan komisaris independen berpengaruh terhadap tax avoidance. Hasil uji t menunjukkan variabel dewan komisaris independen memperoleh t hitung sebesar -3. 315877 < t-tabel 2. nilai prob sebesar 0. 0018 dengan nilai nilai tersebut lebih kecil dari nilai signifikasi yang ditelah ditentukan ( = 0,. Hal ini menujukkan bahwa H2 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa dewan komisaris independen berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance. Hal ini dikarenakan dewan komisaris independen memiliki cukup besar potensi untuk berkurangnya praktik dari penghindaran pajak. Namun, efektivitas yang dilakukan oleh para dewan komisaris sangat bergantung dengan kualitas dan independen mereka disertai juga dengan lingkungan bisnis yang Dimana Perusahaan tersebut beroperasi. Hipotesis ketiga (H. Berdasarkan tabel uji pengaruh variabel secara parsial kepemilikan institusional tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Hasil uji t menunjukkan variabel kepemilikan institusional memperoleh t hitung sebesar 1. 203925 < t-tabel 2. nilai prob sebesar 0. 2351 dengan nilai koefisien p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 nilai tersebut lebih besar dari nilai signifikasi yang ditelah ditentukan ( = 0,. Hal ini menujukkan bahwa H3 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa kepemilikan institusional tidak berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance. Hal ini dapat disebabkan karena pemilik institusional kurang peduli dengan nilai citra Perusahaan. Sehingga nantinya apapun Keputusan manajemen asalkan hal itu bisa memaksimalkan kesejahteraan mereka maka Upaya apapun akan didukung meskipun Keputusan tersebut termasuk melakukan penghindaran pajak atau Tax Avoidance. Hipotesis keempat (H. Berdasarkan tabel uji pengaruh variabel secara parsial intensitas modal berpengaruh terhadap tax avoidance. Hasil uji t menunjukkan variabel intensitas modal memperoleh t hitung 505841 < t-tabel 2. nilai prob sebesar 0. 0000 dengan nilai koefisien -0. tersebut lebih kecil dari nilai signifikasi yang ditelah ditentukan ( = 0,. Hal ini menujukkan bahwa H4 Hal ini menunjukkan bahwa intensitas modal berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar aset tetap yang dimiliki perusahaan tidak memberikan efek yang cukup besar dalm upaya praktik Tax Avoidance, karena perusahaan lebih memfokuskan aset tetap untuk operasional perusahaan Hipotesis kelima (H. Berdasarkan tabel uji pengaruh variabel secara parsial earning management berpengaruh terhadap tax avoidance. Hasil uji t menunjukkan variabel earning management memperoleh t hitung sebesar 2. 853382 > t-tabel 2. nilai prob sebesar 0. 0066 dengan nilai koefisien 0. tersebut lebih kecil dari nilai signifikasi yang ditelah ditentukan ( = 0,. Hal ini menujukkan bahwa H5 Hal ini menunjukkan bahwa earning management berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance. Hal ini dikarenakan seringkali manajemen laba dengan penghindaran pajak berjalan secara beriringan. Perusahaan yang melakukan manajemen laba cenderung juga dapat melakukan penghindaran pajak untuk meminimalisirkan beban pajak yang harus dibayar oleh Perusahaan. Oleh karena itu, sangat penting bagi regulator dan investor untuk berhati hati dengan praktik praktik ini. Hipotesis keenam (H. Berdasarkan tabel uji pengaruh variabel secara parsial beban pajak tangguhan tidak berpengaruh terhadap tax avoidance. Hasil uji t menunjukkan variabel beban pajak tangguhan memperoleh t hitung sebesar -0. 310235 > t-tabel 2. nilai prob sebesar 0. 7578mdengan nilai koefisien nilai tersebut lebih besar dari nilai signifikasi yang ditelah ditentukan ( = 0,. Hal ini menujukkan bahwa H6 ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa beban pajak tangguhan tidak berpengaruh signifikan terhadap tax avoidance. Hal ini dikarenakan pada beban pajak tangguhan dinilai ada sedikit perbedaan antara laba akuntansi dengan laba pajak atau dengan kata lain memiliki diskresi yang rendah bagi manajemen sehingga manajemen diskresi yang rendah tidak dapat mendeteksi penghindaran pajak. p-ISSN : 2714-5557 e-ISSN : 2714-8165 Jurnal Akuntansi & Perpajakan. Volume 06. No. Januari 2025 REFERENCES