ANALISA SUDUT PANDANG CIVITAS AKADEMIKA TERHADAP KEAHLIAN AKUNTAN BERBASIS FORENSIK (STUDI EMPIRIS PADA CIVITAS AKADEMIKA STIE CENDEKIA KARYA UTAMA SEMARANG) Sugiarto. Yulia Kusumaningrum STIE Cendekia Karya Utama ABSTRACT This study aims to analyze the differences in perceptions between accounting lecturers, accounting students, and education staff regarding deductive analysis skills, critical thinking, solving unstructured problems, investigative flexibility, analytical skills, oral communication, written communication, knowledge of law, and a calm attitude. Is a relevant part of the forensic accountantAos expertise. The research objects are accounting lecturers, accounting students, and educational staff. This research is an empirical study with purposive sampling technique in data collection. Data were obtained by distributing questionnaires as many as 37 at STIE Cendekia Karya Utama Semarang consisting of 11 accountig lecturers, 16 accounting students, and 10 education staff who have provided answers. Data analysis was performed using the Independent Sample Test with the SPSS program. The results of hypothesis testing show that there is no significant difference in perceptions between accounting lecturers, accounting students, and education staff on flexibility skills, wtitten communication skills, ang legal knowledge. The results of hypothesis testing show that there are significant differences in perceptions between accounting lecturers, accounting students, and education staff on deductive analysis skills, critical thinking, problem solving, analytical skills, oral communication and being calm. Keywords: Audit forensic, critical thinking, problem solving, analytical skills, oral communication and being calm PENDAHULUAN Mencermati pemberitaan dan artikel pada media masa baik cetak maupun online dan berita-berita pada media televisi masyarakat melihat korupsi di Indonesia memprihatinkan karena melibatkan oknum-oknum yang ada eksekutif, legislate dan yudikatif. Purjono . menjelaskan bahwa Indonesia masuk daftar Political Economic Risk Consultancy Ltd (ERC) sebagai Negara terkorup di dunia. Kasus mengenai kecurangan . sudah banyak terjadi di Indonesia menurut hasil survey fraud yang dilakukan oleh Association of Fraud Examiners (ACCFE) Indonesia yang bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pencegahan Kejahatan Kerah Putih (P3K2P), korupsi merupakan kasus fraud yang paling banyak terjadi di Indonesia. Korupsi terjadi dalam 67% kasus di dalam survey tersebut, diikuti oleh pemindahan aset sebanyak 31% dan kecurangan laporan keuangan sebanyak Jumlah kerugian yang disebabkan oleh korupsi dapat mencapai hingga 10 miliar rupiah sedangkan oleh pemindahan aset mencapai lebih besar lagi dari angka tersebut. Korupsi dianggap sebagai bentuk fraud yang paling merusak dikarenakan jumlah kasusnya yang paling banyak di Indonesia. (Survey Fraud Indonesia. Akuntansi forensik merupakan ilmu baru dalam dunia akuntansi. Ilmu tersebut berkaitan dengan akuntansi, audit dan hukum yang biasa digunakan dalam penyelesaian kasus-kasus Namun sayang hanya sedikit perguruan tinggi di Indonesia yang bersedia memberikan pendidikan akuntansi forensik kepada mahasiswanya, seperti Universitas Diponegoro. Universitas Islam Negeri Sumatra Utara. Universitas Indonesia dan Universitas Gajah Mada yang menjadikan mata kuliah akuntansi forensik sebagai matakuliah pilihan dalam kurikulum perkuliahannya (Dewajaya, 2. Menurut Ramaswamy . dalam Sukanto. , & Widaryanti. , dijelaskan hal terpenting dari akuntan berbasis forensik adalah tenaga kependidikan forensik membutuhkan beberapa keahlian dan kompetensi untuk mendeteksi kecurangan. Kemampuan analitik terbukti tidak terdapat perbedaan signifikan, maka disimpulkan bahwa akademisi dan praktisi tingkat pengetahuan dan pemahaman tentang kemampuan analitik sama dalam Iprianto . Hal ini konsisten dengan penelitian sebelumnya. Menurut Digabriele . akademisi dan praktisi sama-sama setuju bahwa akuntan forensik harus memiliki kemampuan analitik. Sehubung dengan situasi diatas, adanya harapan besar pada keahlian akuntan berbasis forensik, sehingga penelitian berikut bertujuan menganalisa persepsi akademisi dan praktisi akuntansi terhadap keahlian akuntan berbasis forensik. Alasan terpenting penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan terhadap keahlian akuntan berbasis forensik. Hal ini berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini reduksi dari penelitian yang dilakukan oleh Digabriele . Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada responden yang Dalam penelitian ini menggunakan responden dari dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat behavior . Oleh karena itu, peneliti mengambil judul AuAnalisa Sudut Pandang Civitas Akademika Terhadap Akuntan Berbasis Forensik (Studi Empiris Pada Civitas Akademika STIE Cendekia Karya Utama Semaran. Ay. Rumusan Masalah Keahlian akuntansi forensik menurut Digabriele . dijabarkan sebagai berikut : Keterampilan menganalisa secara deduktif . nalisa laporan keuanga. Keterampilan berpikir kritis . embedakan antara opini dan fakt. Keterampilan memecahkan persoalan tidak sesuai pakem . idak terstruktu. Keterampilan penyidikan yang fleksibilitas . emampuan melakukan audit diluar Keterampilan analitik . ronologi dan alur praktek korups. Keterampilan berdiskusi . Keterampilan berhubungan lewat tulisan. Pengetahuan hukum . emahami proses-proses huku. Bersikap tenang . Sub bidang keilmuan akuntansi forensik salah satunya mengajarkan teknik-teknik audit forensik dan investigasi. Pada kesempatan ini, rumusan masalah penelitian terurai pada pertanyaan berikut : Apakah terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai analisis deduktif pada keahlian akuntan berbasis Apakah terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntasi, dan tenaga kependidikan mengenai berpikir kritis pada keahlian akuntan berbasis forensik? Apakah terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai pemecahan masalah tak terstruktur pada keahlian akuntan berbasis forensik? Apakah terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai fleksibilitas penyidikan pada keahlian akuntan Apakah terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai analitik pada keahlian akuntan berbasis forensik? Apakah terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan kesenjangan mengenai komunikasi lisan pada keahlian akuntan berbasis forensik? Apakah terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai komunikasi tertulis pada keahlian akuntan berbasis Apakah terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai pengetahuan hukum pada keahlian akuntan berbasis Apakah terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai bersikap tenang pada keahlian akuntan berbasis LANDASAN TEORI Teori Stewardship Teori Stewardship menggambarkan hubungan antara pemegang saham . dengan manajer (Stewar. Teori ini memiliki asumsi bahwa kepentingan personal antara manajer dan pemegang saham dapat diselaraskan melalui pencapaian tujuan organisasi. Manajer dimotivasi untuk memaksimalkan kinerja perusahaan sehingga memenuhi harapan pemegang saham dan bertindak sesuai dengan tujuan organisasi. Manajer dengan segala fasilitas dan sumber daya yang ada pada perusahaan bekerja untuk tujuan perusahaan, tidak lagi mengutamakan kepentingan pribadi atau personal. Manajer sebagai steward akan mempertanggungjawabkan asset yang di kelolanya . secara terbuka kepada pemegang saham melalui laporan keuangan (Sanchez, 2. dan Suhartati. , & Rosietta, . Peneliti akan menganalisa persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan terhadap keahlian akuntan berbasis forensik. Keahlian akuntan berbasis forensik ialah . Audeduktif analisis, kritis dalam berpikir, penyelesaian masalah tidak terstruktur, penyidikan fleksibel, keterampilan analitik, berkomunikasi lisan, komunikasi tulisan, wawasan hukum, dan bersikap tenang menjadi sudut pandang dari dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi dan tenaga kependidikanAy. Persepsi Persepsi sebagai tanggapan langsung seseorang mengetahui suatu hal melalui panca Iprianto . menjelaskan bahwa persepsi ialah proses yang melibatkan pengetahuan saat menerima dan menerjemahkan stimulus pada indera. Persepsi ialah gabungan stimulus visual dan pengalaman dari individu. Terdapat 2 . aspek dalam persepsi, yaitu pattern recognition dan attention. Dalam investigasi audit, utamanya akuntan berbasis forensik saat bertugas adalah kemampuan intelegensinya. Penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana persepsi pemahaman mahasiswa akuntansi, dosen akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai keahlian akuntan berbasis forensik. Harapan besar masyarakat untuk mengungkapkan kasus-kasus penyelewengan keuangan Negara yang ada pada penegak hukum. Penyelenggara Pendidikan dan Pengajar Penyelenggara Pemerintahan mengemban amanat rakyat melalui Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) untuk menyelenggarakan pendidikan nasional. Pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan manusia, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, berbudi pekerti luhur dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Untuk memastikan bahwa tujuan tersebut dapat dicapai maka pemerintah mengatur dan mengarahkan pendidikan dengan menerbitkan peraturan-peraturan, misal keputusan presiden, keputusan menteri, surat edaran, dan lain sebagainya (Utami, 2. Dosen akuntansi ialah pihak yang berkewajiban memberikan transfer ilmu sesuai Akuntansi forensik merupakan sub pengembangan keilmuan akuntansi. Pemahaman akuntan pendidik terhadap dunia akuntan berbasis forensik harus ditransformasikan kepada para mahasiswa akuntansi. Penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana persepsi pemahaman mahasiswa akuntansi, dosen akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai keahlian akuntan berbasis forensik. Akuntansi Forensik Tuanakotta . dalam Maulana. R, . Menjelaskan, forensik diartikan Auberkaitan dengan pengadilanAy atau Auberkaitan penerapan ilmiah pada masalah hukumAy. AuForensic AccountingAy diartikan penerapan pengetahuan AuaccountingAy pada koridor hukum. Secara sederhana, akuntansi forensik yaitu akuntansi bertujuan pada penerapan sisi yuridis. Hal ini berarti Aupengetahuan akuntansiAy dipertanggungjawabkan pada sisi hukum. Tuanakotta . dalam Gardida. Menjelaskan, akuntansi forensik awalnya digunakan dalam pembagian warisan atau sengketa perusahaan. Bermula dipergunakan akuntansi untuk keperluan memecahkan masalah-masalah hukum bersifat perdata, maka istilahnya yaitu bukan audit melainkan akuntan berbasis forensik. Perkembangan terkini erat berkaitan akuntansi, contoh pentaksiran ganti rugi, dalam sengketa maupun kerugian dari tindak pidana korupsi. Berdasarkan uraian diatas, mengapa akuntansi forensik dapat menelusuri tindakan kecurangan . , khususnya dalam tindak pidana korupsi. Maka dari itu, akuntansi forensik memiliki peran penting dalam mengungkapkan kasus-kasus keuangan di Indonesia, terutama tindak korupsi. Kompetensi Akuntan Forensik Profesi akuntan forensik sangat diperlukan para penegak hukum. Apabila terdapat indikasi transaksi mencurigakan, aparat hukum berkoordinasi dengan akuntan berbasis forensik untuk menjelaskan arus aliran dana tersebut. Profesi ini sangat berkompeten dan terus meningkatkan pengetahuan serta kemampuan dibidang investigative guna penyelesaian kasus-kasus keuangan yang terus berkembang. Ramaswamy . dan Handayani. Menjelaskan, untuk menjadi ahli akuntan berbasis forensik membutuhkan pengalaman, keterampilan dan kompetensi mengungkapkan penipuan. Haris dan Brown . dan Husen. Berpendapat, bahwa akuntan berbasis forensik mengungkap kasus kecurangan yang telah teridentifikasi, melalui pengembangan metode ilmiah diharapkan kasus tersebut dapat terungkap. Pengembangan metode ilmiah mencangkup identifikasi masalah, mengumpulkan bukti, menganalisis bukti guna di uji hipotesis, dan kesimpulan. HIPOTESIS PENELITIAN HI : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai kemampuan analisis deduktif berpengaruh pada keahlian akuntan berbasis forensik. H2 : Terdapat perbedaan persepsi pada dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai kemampuan berpikir kritis pada keahlian akuntan berbasis H3 : Terdapat perbedaan persepsi pada dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai kemampuan pemecahan masalah tak terstruktur pada keahlian akuntan berbasis forensik. H4 : Terdapat perbedaan persepsi pada dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi dan tenaga kependidikan mengenai kemampuan fleksibilitas penyidikan pada keahlian akuntan berbasis forensik. H5 :Terdapat Perbedaan Persepsi pada dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai kemampuan analitik pada keahlian akuntan berbasis H6 : Terdapat Perbedaan persepsi pada dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai kemampuan berkomunikasi lisan pada keahlian akuntan berbasis forensic H7 : Terdapat perbedaan persepsi pada dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai komunikasi tertulis pada keahlian akuntan forensik. H8 : Terdapat perbedaan persepsi pada dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai pengetahuan hukum pada keahlian akuntan berbasis forensik H9 : Terdapat perbedaan persepsi pada dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan mengenai bersikap tenang pada keahlian akuntan forensik. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS Digabriele . meneliti perilaku keahlian akuntan forensik. Dalam penelitian mereka, terdapat kesimpulan bahwa keterampilan bagi akuntan forensic adalah : Auanalisa deduktif, kritis berpikir, pemecahan masalah tidak terstruktur, penyidikan fleksibilitas, analitik tinggi, komunikasi lisan, komunikasi tulisan, wawasan hukum, dan sikap tenangAy. Theory of Reasoned Action menerangkan bahwa individu dalam berperilaku memiliki motif, minat atau alasan. Ada 3 . iSEg. komponen model teori ini yaitu :behavior intention, attitude dan subjective norm yang mempengaruhi (Ananggadipa. Maka dari itu. Auanalisa deduktif, kritis berpikir, pemecahan masalah tidak terstruktur, penyidikan fleksibilitas, analitik tinggi, komunikasi lisan, komunikasi tulisan, wawasan hukum, dan sikap tenangAy merupakan bagian dari behavior intention, attitude dan subjective norm sebagai indikator keahlian berbasis forensik. Gambar 1 Kerangka Pikir PERSEPSI Dosen Akuntansi Akuntansi Mahasiswa Akuntansi Tenaga Kependidikan Kemampuan Kemampuan berpikir Kemampuan memecahkan masalah tidak terstruktur. Kemampuan fleksibilitas Kemampuan analitik. Kemampuan berkomunikasi lisan. Kemampuan berkomunikasi tertulis. Kemampuan tentang pengetahuan hukum. Kemampuan bersikap Kemampuan Kemampuan berpikir Kemampuan memecahkan masalah tidak terstruktur. Kemampuan fleksibilitas Kemampuan analitik. Kemampuan berkomunikasi lisan. Kemampuan berkomunikasi tertulis. Kemampuan tentang pengetahuan hukum. Kemampuan bersikap Kemampuan Kemampuan berpikir Kemampuan memecahkan masalah tidak terstruktur. Kemampuan fleksibilitas Kemampuan analitik. Kemampuan berkomunikasi lisan. Kemampuan berkomunikasi tertulis. Kemampuan tentang pengetahuan hukum. Kemampuan bersikap Keahlian Akuntan Berbasis Forensik METODE PENELITIAN Desain Penelitian Survey research yaitu : Aupengujian hipotesis dengan metode deskriftif dan eksploratori data primer . Ay. Pembahasan kuesioner adalah pernyataanpernyataan tentang keahlian seorang akuntan forensik. Responden kuesioner yaitu dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan yang pernah mendapat wawasan akuntansi forensik serta tenaga kependidikan yang pernah menangani tindak pidana korupsi di Indonesia. Berdasarkan penjelasan diatas penelitian ini tergolong kualitatif komparatif Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah Civitas Akademika STIE Cendekia Karya Utama Semarang. Pengambilan sampel . dilakukan dengan menggunakan tipe non probability sampling yaitu dengan metode purposive sampling. Alasan pengambilan sampel dengan metode purposive sampling karena penelitian ini hanya akan memilih sampel yang memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang keahlian yang harus dimiliki akuntan berbasis forensik sehingga mereka dapat memberikan jawaban yang dapat mendukung jalannya penelitian ini. Sampel yang akan dipilih adalah : dosen akuntansi, mahasiswa akuntansi, dan tenaga kependidikan yang telah mempelajari akuntansi forensik dilakukan dengan metode Aupurposive samplingAy. Pengambilan sampel dengan Aupurposive samplingAy karena sampel diasumsikan memiliki pengetahuan dan pemahaman keterampilan akuntan berbasis Hal ini diharapkan memberi jawaban yang mendukung jalannya penelitian. Jumlah sampel diteliti masing-masing kelompok responden beraneka ragam jumlahnya, rulesofthumb (Sekaran, 2. Jumlah sampel dalam penelitian ini 37 responden. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN Uji t Analisis uji t parsial antara tenaga kependidikan, dosen dan mahasiswa disajikan pada tabel 1 dan 2 berikut: Tabel. Hasil Uji t antara Dosen dengan Mahasiswa Variabel t hitung Sig Keterangan Keterampilan Analisis Deduktif Keterampilan Berfikir Kritis Keterampilan Pemecahan Masalah keterampilan Fleksibilitas Keterampilan Keahlian Analitik Keterampilan Komunikasi Lisan Keterampilan Komunikasi Tertulis Pengetahuan Hukum Bersikap Tenang Sumber : Data primer diolah, 2020 Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Signifikan Tidak Signifikan Tidak Signifikan Signifikan Keahlian Akuntan Berbasis Forensik Dalam Keterampilan Analisis Deduktif Antara Dosen dan Mahasiswa HI : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi mengenai kemampuan analisis deduktif berpengaruh pada keahlian akuntan berbasis forensik. Hasil uji variabel ketrampilan analisis deduktif diperoleh t hitung sebesar 3. dengan tingkat signifikansi 0. 02 yang berarti lebih kecil dari 0. 05, maka sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan rata-rata ketrampilan analitis deduktif ditolak. dan menerima hipotesis alternative yang menyatakan ada perbedaan keterampilan analisis deduktif. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan keahlian dalam melakukan analisis. Dari hasil pengujian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa H1 didukung. Alasannya karena, secara statistik apabila dilihat dari probabilitas signifikansi dari nilai t 02 lebih kecil dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen dan mahasiswa tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam analisis deduktif. Keahlian Akuntan Berbasis Forensik Dalam Keterampilan Berfikir Kritis Antara Dosen dan Mahasiswa H2 : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi mengenai kemampuan berfikir kritis pada keahlian akuntan berbasis Hasil uji variabel ketrampilan berfikir kritis diperoleh t hitung sebesar 2. 47 dengan tingkat signifikansi 0. 021 yang berarti lebih kecil dari 0. 05, maka signifikan. hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan rata-rata ketrampilan berfikir kritis dan menerima hipotesis alternative yang menyatakan ada perbedaan ketrampilan berfikir kritis. Temuan ini menujukkan bahwa akuntan berbasis forensik mempunyai keahlian tekhnis yang berupa pengetahuan prosedural dan kemampuan kritikal lainnya dalam lingkup akuntansi dan mampu berfikir cepat untuk menggali informasi. Dari hasil pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa H2 didukung. Alasanya karena, secara statistik apabila dilihat probabilitas signifikansi dari nilai t sebesar 021 lebih kecil dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen akuntansi dan mahasiswa akuntasi tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam berfikir kritis. Keahlian Akuntan Berbasis Forensik Dalam Keterampilan Pemecahan Masalah Tidak Terstruktur Antara Dosen dan Mahasiswa H3 : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi mengenai kemampuan pemecahan masalah tidak terstruktur pada keahlian akuntan berbasis forensik Hasil uji variabel pemecahan masalah diperoleh t hitung sebesar 3. 362 dengan tingkat signifikansi 0. 002 yang berarti lebih kecil dari 0. 05, maka signifikan. hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan rata rata ketrampilan pemecahan dan menerima hipotesis alternatif uji variabel Ketrampilan Pemecahan Masalah antara dosen dengan mahasiswa yang menyatakan ada perbedaan ketrampilan pemecahan Temuan ini menunjukkan bahwa untuk menjadi akuntan berbasis forensik memerlukan keahlian investigatif sehingga mampu mengungkap korupsi yang diakibatkan oleh kebocoran yang terjadi. Dari hasil pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa H3 didukung. Alasanya karena, secara statistik apabila dilihat probabilitas signifikansi dari nilai t sebesar 002 lebih kecil dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen akuntansi dan mahasiswa akuntasi tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam pemecahan masalah tidak terstruktur. Keahlian Akuntan Berbasis Forensik Dalam Keterampilan Fleksibilitas Antara Dosen dan Mahasiswa H4 : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi mengenai kemampuan fleksibilitas pada keahlian akuntan berbasis Hasil uji variabel ketrampilan fleksibilitas antara dosen dengan mahasiswa diperoleh t hitung sebesar 0. 555 dengan tingkat signifikansi 0. 584 yang berarti lebih besar 05, maka tidak signifikan. sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan rata-rata ketrampilan fleksibelitas diterima. Temuan ini menunjukkan adanya pemahaman auditor forensik tentang adanya standar operasional prosedur yang disepakati oleh internal perusahaan atau institusi yang bersangkutan. Dari hasil pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa H4 tidak didukung. Alasanya karena, secara statistik apabila dilihat probabilitas signifikansi dari nilai t sebesar 584 lebih besar dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen akuntansi dan mahasiswa akuntasi tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam fleksibilitas. Keahlian Akuntan Berbasis Forensik Dalam Keterampilan Keahlian Analitik Antara Dosen dan Mahasiswa H5 : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi mengenai kemampuan keahlian analitik pada keahlian akuntan berbasis Hasil uji variabel ketrampilan keahlian analitik diperoleh t hitung sebesar 2. dengan tingkat signifikansi 0. 037 yang berarti lebih kecil dari 0. 05, maka signifikan. sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan rata-rata ketrampilan keahlian analitik ditolak. dan menerima hipotesis alternatif yang menyatakan ada perbedaan ketrampilan keahlian analitik diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa untuk menjadi akuntan berbasis forensik harus memahami ketrampilan sebagai auditor general. Dari hasil pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa H5 didukung. Alasanya karena, secara statistik apabila dilihat probabilitas signifikansi dari nilai t sebesar 037 lebih kecil dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen akuntansi dan mahasiswa akuntasi tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam keahlian analitik. Keahlian Akuntan Berbasis Forensik Dalam Keterampilan Komunikasi Lisan Antara Dosen dan Mahasiswa H6 : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi mengenai kemampuan komunikasi lisan pada keahlian akuntan berbasis Hasil uji variabel ketrampilan komunikasi lisan diperoleh t hitung sebesar 2. dengan tingkat signifikansi 0. 011 yang berarti lebih kecil dari 0. 05, maka signifikan. sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan rata-rata ketrampilan lisan dan menerima hipotesis alternatif yang menyatakan ada perbedaan ketrampilan keahlian lisan diterima. Temuan ini menunjukkan adanya persyaratan sebagai akuntan berbasis forensik untuk berkomunikasi dengan pihak pihak yang terkait dengan kebocoran atau siap untuk menjadi saksi ahli dalam persidangan untuk memutuskan persoalan fraud. Dari hasil pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa H6 didukung. Alasanya karena, secara statistik apabila dilihat probabilitas signifikansi dari nilai t sebesar 011 lebih kecil dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen akuntansi dan mahasiswa akuntasi tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam komunikasi lisan. Keahlian Akuntan Berbasis Forensik Dalam Keterampilan Komunikasi Tertulis Antara Dosen dan Mahasiswa H7 : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi mengenai kemampuan komunikasi tertulis pada keahlian akuntan berbasis Hasil uji variabel ketrampilan komunikasi tertulis antara dosen dengan mahasiswa diperoleh t hitung sebesar 0. 887 dengan tingkat signifikansi 0. 383 yang berarti lebih besar 05, maka tidak signifikan. sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan rata-rata pengetahuan hukum diterima. Temuan ini menunjukkan bahwa terdapat kesamaan dalam menterjemahkan laporan keuangan dasar yang terdiri dari laporan neraca, laporan kas, laporan rugi laba dan catatan perubahan kas. Kemampuan membaca laporan tertulis yang dikomunikasikan baik lewat email yang berupa file, atau hard copy yang berbentuk fisik. Dari hasil pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa H7 tidak didukung. Alasanya karena, secara statistik apabila dilihat probabilitas signifikansi dari nilai t sebesar 383 lebih besar dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen akuntansi dan mahasiswa akuntasi tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam komunikasi tertulis. Keahlian Akuntan Berbasis Forensik Dalam Keterampilan Pengetahuan Hukum Antara Dosen dan Mahasiswa H8 : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi mengenai kemampuan pengetahuan hukum pada keahlian akuntan berbasis Hasil uji variabel pengetahuan hukum antara dosen dengan mahasiswa diperoleh t hitung sebesar 1. 4 dengan tingkat signifikansi 0. 174 yang berarti lebih besar dari 0. maka tidak signifikan. sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan ratarata pengetahuan hukum diterima. Temuan ini bahwa ada pemahaman bahwa akuntan berbasis forensik umumnya dilakukan atas permintaan atau penunjukan pengadilan dalam kasus kecurangan . sehingga akuntan berbasis forensik jelas berbeda dengan general Dari hasil pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa H7 tidak didukung. Alasanya karena, secara statistik apabila dilihat probabilitas signifikansi dari nilai t sebesar 174 lebih besar dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen akuntansi dan mahasiswa akuntasi tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam pengetahuan hukum. Keahlian Akuntan Berbasis Forensik Dalam Keterampilan Bersikap Tenang Antara Dosen dan Mahasiswa H9 : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi mengenai kemampuan bersikap tenang pada keahlian akuntan berbasis Hasil uji variabel bersikap tenang diperoleh t hitung sebesar 3. 686 dengan tingkat 001 yang berarti lebih kecil dari 0. 05, maka signifikan. sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan rata-rata bersikap tenang ditolak. dan menerima hipotesis alternatif yang menyatakan ada perbedaan bersikap tenang diterima. Temuan ini menunjukkan adanya pemahaman bahwa seorang auditor dapat menjelaskan dengan tepat, hasil audit yang dilakukan kepada pihak pihak yang berkepentingan. Dari hasil pengujian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa H1 didukung. Alasannya karena, secara statistik apabila dilihat dari probabilitas signifikansi dari nilai t 001 lebih kecil dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen dan mahasiswa tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam bersikap tenang. Tabel. Hasil Uji t Antara Dosen dan Mahasiswa Terhadap Tenaga Kependidikan Variabel Dosen dengan Tenaga Kependidikan Mahasiswa dengan Tenaga Kependidikan Sig Sig Tdk Signifikan Tdk Signifikan Tdk Signifikan Tdk Signifikan Tdk Signifikan Tdk Signifikan Tdk Signifikan Tdk Signifikan Tdk Signifikan Keterampilan Analisis Deduktif Keterampilan Berfikir Kritis Pemecahan Masalah Fleksibilitas Keterampilan Keahlian Analitik Keterampilan Komunikasi Lisan Keterampilan Komunikasi Tertulis Pengetahuan Hukum Bersikap Tenang Sumber : Data primer diolah,2020 Keterangan H1. H2. H3. H4. H5. H6. H7. H8, dan H9 : Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi terhadap tenaga kependidikan mengenai kemampuan analisis deduktif, berfikir kritis, pemecahan masalah tidak terstruktur, flesibilitas, keahlian analitik, komunikasi lisan, komunikasi tertulis, pengetahuan hukum, dan bersikap tenang pada keahlian akuntan berbasis forensik Hasil uji t antara dosen dan mahasiswa terhadap tenaga kependidikan secara parsial semua variabel diperoleh tingkat signifikansi diantara 0. 118 sampai 0. 7 lebih besar dari 05, maka tidak signifikan. sehingga hipotesis nol yang menyatakan tidak ada perbedaan rata-rata diterima. Temuan penelitian ini memberi gambaran bahwa sebagian besar jumlah tenaga kependidikan berasal dari latar belakang pendidikan diluar program akuntansi. Pengenalan akuntansi masih bersifat dasar dan belum pernah menangani persoalan kebocoran keuangan yang ditangani akuntan berbasis forensik. Dari hasil pengujian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa H1. H2. H3. H4. H5. H6. H7. H8, dan H9 tidak didukung. Alasanya karena, secara statistik apabila dilihat probabilitas signifikansi dari nilai t diantara 0. 118 sampai 0. 7 lebih besar dari = 0. Hal ini mengindikasikan bahwa tidak terdapat perbedaan persepsi yang signifikan antara dosen akuntansi dan mahasiswa akuntasi terhadap tenaga kependidikan tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam analisis deduktif, berfikir kritis, pemecahan masalah tidak terstruktur, flesibilitas, keahlian analitik, komunikasi lisan, komunikasi tertulis, pengetahuan hukum, dan bersikap tenang. Kesimpulan . Kemampuan dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi tentang keahlian akuntan berbasis forensik dalam analisis deduktif, berfikir kritis, pemecahan masalah tidak terstruktur, flesibilitas, keahlian analitik, komunikasi lisan, komunikasi tertulis, pengetahuan hukum, dan bersikap tenang pada penelitian ini terdapat beberapa persepsi yang tidak signifikan. Terdapat perbedaan persepsi dosen akuntansi dan mahasiswa akuntansi terhadap tenaga kependidikan mengenai kemampuan analisis deduktif, berfikir kritis, pemecahan masalah tidak terstruktur, flesibilitas, keahlian analitik, komunikasi lisan, komunikasi tertulis, pengetahuan hukum, dan bersikap tenang pada keahlian akuntan berbasis forensic DAFTAR PUSTAKA