Lilis Sumiati dan Dinda Satya U. : Revitalisasi Seni Tradisi di Rancakalong Sumedang Jawa Barat . REVITALISASI SENI TRADISI DI RANCAKALONG SUMEDANG JAWA BARAT THE REVITALIZATION OF TRADITIONAL ARTS IN RANCAKALONG, SUMEDANG. WEST JAVA Lilis Sumiati1 dan Dinda Satya Upaya Budi2 Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung lilissumiati1411@gmail. 1, 2 ABSTRAK Tari Wayang gaya Sumedang adalah karya monumental Raden Ono Lesmana Kartadikusumah yang dibuat pada tahun 1930-an. Setelah bertahan selama sekitar 90 tahun, salah satu tarian diakui sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTB) pada tahun 2022, yaitu Tari Jayengrana. Selain menari. Sumedang memiliki kekayaan alam berupa bambu, yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi ekonomi kreatif dan, berdasarkan dua faktor tersebut, termotivasi untuk melakukan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) di Rancakalong. Pemilihan tempat dipertimbangkan berdasarkan ketersediaan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang potensial dan sebagai kelanjutan dari PKL mahasiswa ISBI Bandung. Metode yang diterapkan dalam PKM ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Partisipasi (PAR) dan memiliki kesinambungan karena berisi siklus partisipasi, penelitian, dan tindakan. Partisipasi adalah bentuk sikap peduli untuk menyebarkan Tari Jayengrana lagi dan membangun komunitas pengrajin alat musik bambu. Bentuk kepedulian ini dilatarbelakangi oleh penelitian sebelumnya. Kemudian, aksi merupakan bentuk kegiatan dalam melakukan PKM melalui revitalisasi. PKM ini berfokus pada dua bentuk kegiatan, yaitu pelatihan Tari Jayengrana dan Workshop Pembuatan Alat Musik Bambu, yang secara tekstual dan kontekstual menjadi bagian penting dari masyarakat Sumedang, terutama peserta kursus yang tergabung dalam Sanggar Arimbi dan sekaligus memberdayakan Geoteater Sumedang Rancakalong. Hasil pelatihan ini kemudian dievaluasi secara internal berupa pasanggiri dan flashmob. Kata kunci: Revitalisasi. Tari Jayengrana. Alat Musik Bambu. Sumedang. ABSTRACT The Sumedang style Wayang dance is a monumental work by Raden Ono Lesmana Kartadikusumah created in the After surviving for around 90 years, one dance was recognized as part of IndonesiaAos Intangible Cultural Heritage (WBTB) in 2022, namely the Jayengrana Dance. Apart from dancing. Sumedang has a natural wealth of bamboo, which has the potential to be developed into a creative economy and, based on these two factors, motivated to do Community Service (PKM) in Rancakalong. The choice of place was considered based on the availability of potential human and natural resources and as a continuation of the ISBI Bandung student street vendors. The method applied in this PKM uses the Participation Action Research (PAR) method and has continuity because it contains participation, research, and action cycles. Participation is a form of caring attitude to spread the Jayengrana Dance again and build a community of bamboo musical instrument craftsmen. This form of concern is motivated by previous research. Then, action is a form of activity in conducting PKM through revitalization. This PKM focused on two forms of activity, namely the Jayengrana Dance training and the Workshop on Making Bamboo Musical Instruments, which textually and contextually became an essential part of the Sumedang community, especially the course participants who were members of the Arimbi Studio and at the same time empowered the Sumedang Rancakalong Geotheater. The results of this training were then evaluated internally in the form of pasanggiri and Keywords: Revitalization. Jayengrana Dance. Bamboo Musical Instruments,Sumedang. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 PENDAHULUAN Raden Ono Lesmana Kartadikusumah (Ono Lesman. sejak tahun 1930-an telah memprakarsai kehadiran Tari Wayang Gaya Sumedang. Karya yang ia hasilkan, seperti Tari Jayengrana. Tari Ekalaya. Tari Jakasona. Tari Jayengrana. Tari Abimanyu. Tari Gatotkaca. Tari Antareja. Tari Gandamanah. Tari Yudawiyata, dan Tari Srikandi (Sumiati, 2014: . Karya tersebut secara historis sudah hadir kurang lebih 93 Kehadiran karya Ono Lesmana dapat dimaknai sebagai suatu Auwarisan budaya tak bendaAy yang perlu untuk dilestarikan dengan cara dipelajari, dipentaskan maupun dialihtularkan kepada para para pewaris budaya tersebut. Salah satu vokabuler tari kreasinya yang sempat populer di masyarakat Sumedang adalah Tari Jayengrana. Tari Jayengrana, sejak lama mengalami fase kemunduran kuantitas pementasan di masyarakat Sumedang. Muncul berbagai alasan dari masyarakat terkait kondisi tersebut, seperti masyarakat yang jenuh atau bosan dengan tariannya sehingga mencari perwajahan baru, muncul ragam jenis tari-tarian baru di masyarakat Sumedang, dan kurangnya minat masyarakat untuk mengikuti kursus di sanggar/padepokan untuk mempelajari tari tersebut. Tari Jayengrana sebagai salah satu vokabuler yang telah masuk dalam daftar inventarisasi WBTB Indonesia pada tahun 2022. Tari Jayengrana juga dinobatkan dinobatkan sebagai ikon dari kearifan lokal budaya Sumedang khususnya dalam kategori Seni Tari Wayang Priangan. Kekhususan lain yang dimiliki tarian adalah ini vokabuler multi gender, sehingga dapat disajikan oleh laki-laki maupun Perempuan. Berdasarkan substansi komponen gerak dan elemen gerak yang terdapat di dalam tari Jayengrana lebih merepresentasikan prinsip Tari Wayang Gaya Sumedang berdasarkan kaidah atau patokan geraknya. Berdasarkan keunikan dan urgensi popularitasnya. Tari Jayengrana dipilih menjadi materi Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM). Implementasinya melalui praktik revitalisasi kepada masyarakat Rancakalomg Sumedang. Konsep revitalisasi menurut Sumandiyo Hadi . 8: . Autermasuk proses pelestarian, atau perlindungan, pengembangan, dan pemeliharaan, serta sekaligus dipahami sebagai proses kreativitasAy. Berkaitan dengan aktivitas pada kegiatan PKM ini, revitalisasinya dalam bentuk pemeliharaan dengan cara mendesiminasikan kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan praktik tari vokabuler tersebut. Kegiatan PKM secara khusus akan dilakukan di Rancakalong Sumedang. Adapun alasan dalam melaksanakan PKM di tempat tersebut karena adanya pembacaan potensi alam, yaitu tumbuhan bambu yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sebagai bahan pembuatan instrumen musik bambu. Kolaborasi antar keduanya selanjutnya digunakan sebagai material pelaksanaan PKM. Kolaborasi kedua material tersebut menjadi objek kegiatan PKM agar identitas ini dapat memperkuat rasa budaya . aste cultur. di antara masyarakat ketika tergabung atau berkolaborasi dengan kelompok Perihal tersebut, seperti yang diungkapkan oleh Arthur S. Nalan . 1: . bahwa Auetnisitas merupakan identitas etnik yang bersifat turun menurun dan juga berkembang, berdasarkan memori budayanya. Nilai-nilai yang diwariskan melalui praktik dan norma-norma budaya sebagai tradisi yang hidup . iving traditio. Ay. Begitu pula dengan yang disampaikan oleh Save M. Dagun . 5: . bahwa sebuah tradisi sarat akan makna sebagai suatu bentuk ciri dari identitas etnik, yang mana etnik itu sendiri diartikan sebagai ciri kelompok dari suatu masyarakat yang didasarkan atas adat istiadat, bahasa, kebudayaan, atau sejarah. Oleh karenanya karya Tari Jayengrana dan tari-tari tradisi lainnya sekaligus alat musik bambu, merupakan suatu bentuk karya seni yang bersumber dan berakar dari kebudayaan masyarakatnya itu sendiri. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Lilis Sumiati dan Dinda Satya U. : Revitalisasi Seni Tradisi di Rancakalong Sumedang Jawa Barat . Potensi yang dimiliki oleh Tari Jayengrana dan alat musik bambu tidak hanya disampaikan secara rupa atau wujudnya semata yang dapat disaksikan oleh mata dan telinga, melainkan terpancar juga melalui aspek filosofis yang tidak kentara secara fisik. Selain memuat konsep etika dan estetika cerita pewayangan, ternyata terdapat adanya jalinan korelasi atau keterhubungan yang selaras antara karakter gerak yang disusun dengan tipologi alam dan manusia dalam budaya Sunda. Seperti mata rantai yang tidak dapat dipisahkan dan terjalin erat satu dengan lainnya, begitulah analogi hubungan alam dengan manusia karena kekayaan yang dimiliki oleh alam menopang kehidupan, kepribadian yang dibentuk oleh alam melahirkan sebuah karakter, serta situasi dan kondisi alam telah melahirkan kreativitas (Sumiati, 2006: . Sanggar Arimbi menjadi tempat yang dipilih untuk melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) pada tahun 2023. Pemilihan lokasi tersebut dilandasi bahwa satu-satunya sanggar yang ada di wilayah Rancakalong sebagai wadah untuk memperkenalkan tari-tari tradisi. Selain untuk membantu memajukan Sanggar Arimbi. PKM ini juga berpartisipasi dalam memberdayakan Geotheater sebagai tempat kegiatan pelatihan dan pertunjukan tari. METODE Metode yang diterapkan dalam PKM ini menggunakan Participation Action Reseach (PAR). Metode PAR terdiri atas tiga kata yang membentuk daur . dan saling berkaitan satu dengan yang lainnya yakni partisipasi, riset, dan aksi (Norman K. Denzin, 2009: 424-. Berkaitan dengan kegiatan PKM ini, metode PAR tersebut secara langsung memiliki korelasi dengan langkah kerja dalam menerapkan dan mengimplementasikan Tari Jayengrana dan Pembuatan Alat Musik Bambu di masyarakat Sumedang. Hal ini karena di dalam metode PAR terdapat tiga siklus yaitu partisipasi, riset, dan aksi yang saling berkaitan satu sama lainnya. Siklus partisipasi merupakan sebuah bentuk sikap kepedulian partisipan . untuk merevitalisasi Tari Jayengrana dan Pembuatan Alat Musik Bambu sebagai bentuk kearifan lokal masyarakat Rancakalong Sumedang. Sudah barang tentu bahwa partisipasi dari agen ini telah melalui riset atau penelitian sebelumnya, sehingga argumentasi atau tindakannya tidak hanya sebatas wacana semata melainkan dilatarbelakangi oleh ilmu pengetahuan dan fakta di lapangan. Ketiga adalah aksi yang memuat kegiatan, aktivitas, atau tindakan agen dalam mengimplementasikan yang diterapkan melalui praktik revitalisasi Tari Jayengrana dan Pembuatan Alat Musik Bambu di masyarakat Sumedang. Implementasi aksi terkait dengan revitalisasi tari Jayengrana pada tahap penyebaran yang berupa Pelatihan ini, diikuti oleh masyarakat dari berbagai usia mulai dari TK. SD. SMP. SMA, dan Oleh karena itu, metode pelatihannya dimulai dari pengenalan tari secara teoritis terkait penjelasan secara isi tarian. Kemudian metode penerapan secara praktik dimulai dari penyampaian teknik dasar gerak dan gerak dasar setiap anggota tubuh. Tahap berikutnya, memberikan materi tari secara bertahap dan evalusi awal serta akhir pertemuan. Adapun aktivitas workshop pembuatan alat musik bambu dimulai dengan mengapresiasi materi, praktik membuat lubang sumber bunyi suling Sunda, dan membuat lubang nada. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 HASIL DAN PEMBAHASAN Proses pengabdian kepada masyarakat (PKM) diawali dengan sosialisasi dengan pemerintah dan masyarakat sekitar. Perihal ini juga sekaligus sebagai pembukaan dimulainya aktivitas pelatihan dan workshop. Gambar 1. Peresmian PKM Sosialisasi dilanjutkan dengan mengunjungi sanggar Arimbi yang dihadiri oleh Ari Budiman sebagai pemilik sanggar dan peserta didiknya/ Gambar 2. Sosialisasi dengan Pimpinan dan Peserta Sanggar Arimbi Jenis kegiatan PKM ini berupa pelatihan Tari Jayengrana sebagai bentuk revitalisasi dan workshop pembuatan alat musik bambu untuk memberikan keterampilan dan pengayaan. Bentuk pelatihan dan workshop ini diterapkan kepada siswa-siswa yang tergabung di Sanggar Arimbi dan masyarakat luas. Kelompok usia peserta berada pada tataran kelompok anak-anak, remaja, dan dewasa. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Lilis Sumiati dan Dinda Satya U. : Revitalisasi Seni Tradisi di Rancakalong Sumedang Jawa Barat . Pelatihan Tari Jayengrana Tahap awal pelaksanaan PKM dimulai dengan membuat rancangan pembelajaran pelatihan dengan cara membagi materi tarian menjadi 16 kali pertemuan. Setiap pertemuan dilakukan pengulangan materi yang sudah diberikan untuk mereview hapalan dan dievaluasi untuk mengoreksi teknik geraknya. Setelah kedua aspek tersebut tercapai, dilanjutkan memberi materi baru. Adapun sebagai panduan target capaian materi dibuat rancangannya sebagai berikut. Minggu Ke- Kemampuan Akhir Yang Diharapkan Mampu memahami isi tarian dan menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian awal dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian awal dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian awal dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian awal dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian tengah dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian tengah dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian awal dan tengah dengan diiringi kaset . Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian akhir dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian akhir dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian akhir dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian akhir dengan diiringi Bahan Kajian Menjelaskan isi tarian yang meliputi latar belakang cerita, gambaran dan tema, nama tarian, karakter, dan unsur filosofis. Tataran koreografi Jayengrana bagian awal: keupat Tataran koreografi Jayengrana bagian awal: calik sembah adegadeg riyeg. Tataran koreografi Jayengrana bagian awal: usik malik, keupat Tataran koreografi Jayengrana bagian awal: raras konda Tataran koreografi Jayengrana bagian tengah: mincid ungkleuk Tataran koreografi Jayengrana bagian tengah: mincid gigir ayun Tataran koreografi Jayengrana bagian awal dan tengah Tataran koreografi Jayengrana bagian akhir: raras randegan, tindak tilu Tataran koreografi Jayengrana bagian akhir: raras randegan, jalak Tataran koreografi Jayengrana bagian akhir: raras randegan, mincid rineka Tataran koreografi Jayengrana bagian akhir: maktal Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian akhir dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian akhir dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian akhir dengan diiringi Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana pada bagian awal sampai akhir dengan diiringi kaset Mampu menarikan tataran koreografi Jayengrana dengan diiringi kaset . valuasi akhi. pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Tataran koreografi Jayengrana bagian akhir: raras randegan. Tataran koreografi Jayengrana bagian akhir: raras randegan, baksara, mamandapani Tataran koreografi Jayengrana bagian akhir: sembah, keupat, sirig Tataran koreografi Jayengrana bagian awal sampai akhir: Tataran koreografi Jayengrana . valuasi akhi. Proses pelatihan berjalan sesuai rencana, dengan target peserta latihan dapat menguasai koreografi sesuai dengan iringan musiknya. Untuk kebutuhan evaluasi akhir, selain penguasaan koreografi dan iringan, setiap peserta dilengkapi dengan pemakaian rias busana. Adapun bentuk pertunjukannya berupa flashmob dan pasanggiri. Gambar 3. Pelatihan Tari Jayengrana Workshop Alat Musik Bambu Workshop alat musik bambu diarahkan pada pembuatan suling lubang enam. Pertimbangan tersebut berdasarkan pada realitas di lapangan bahwa alat yang berupa suling diperlukan di setiap daerah, mengingat keberadaan kacapi suling itu sendiri pada umumnya tumbuh di masyarakat. Selain itu, bahan Bambu Tamiang mudah didapatkan dan pengerjaannya tidak begitu sulit. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Lilis Sumiati dan Dinda Satya U. : Revitalisasi Seni Tradisi di Rancakalong Sumedang Jawa Barat . Target Akhir Yang Diharapkan Bahan Kajian Mampu memahami dan mengidentifikasi struktur atau bagian-bagian alat musik bambu, serta mekanika dasar klasifikasi alat musik Aerofon Penjelasan mengenai berbagai bentuk alat musik tiup Penjelasan mengenai mekanika dasar instrumen tiup sederhana (Suling Sunda Lubang enam Penjelasan tentang teknik menggunakan perangkat pembuatan alat musik bambu Suling Sunda Lubang enam . Penjelasan tentang bahan utama dan bahan tambihan dalam pembuatan alat musik bambu Suling Sunda Lubang enam . Penjelasan tentang bagianbagian penting pada lubang sumber bunyi Penjelasan tentang Tahapantahapan penting dalam proses pembuatan lubang sumber Penjelasan tentang bentuk dan ukuran lubang sumber bunyi Penjelasan tentang Tahapantahapan penting dalam proses pembuatan lubang nada Penjelasan tentang bentuk dan ukuran lubang nada Penjelasan tentang pelarasan lubang nada Mampu memahami pengerjaan sumber bunyi suling bambu lubang enam . Mampu mempraktikkan pembuatan lubang sumber bunyi Mampu mempraktikkan pembuatan lubang Nada Evaluasi Mampu memahami dan mengidentifikasi struktur atau bagian-bagian alat musik bambu Idiofon Mampu memahami mekanika dasar perkusi tabung bambu Mampu mempraktikkan pengerjaan perkusi bambu Mampu mengadaptasi produk hasil Evaluasi Penjelasan tentang bentuk dan ukuran lubang sumber bunyi Penjelasan tentang bentuk dan ukuran lubang sumber bunyi Penjelasan tentang Tahapantahapan penting dalam proses pembuatan perkusi tabung bambu Pengaplikasian alat musik produk Konser sederhana Evaluasi akhir dari workshop ini bersifat pameran alat musik hasil karya para peserta. Selain itu, dibuat juga konser sederhana sebagai pembukaan sebelum flashmob dan pasanggiri tari Jayengrana. Volume 15 No. 1 Juni 2024 Abdi Seni Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat pISSN: 2087-1759 eISSN: 2723-2468 Gambar 4. Workshop Alat Musik Bambu KESIMPULAN Kegiatan PKM sejak awal sampai akhir kegiatan berjalan dengan lancar dan masyarakat sekitar termasuk pemerintah sangat menyambut dengan baik. Pelatihan Tari Jayegrana dan workshop musik bambu memberi manfaat secara pengetahuan dan praktik. Aspek pengetahuan dalam bidang tari, didapat dari penyampaian isi tari Jayengrana yang meliputti latar belakang cerita, tema dan gambaran, judul tarian, karakter, dan unsur filosofis. Adapun pengetahuan yang diberikan dalam workshop musik bambu bentuk alat musik tiup . , mekanika dasar instrumen tiup sederhana. Tahapan-tahapan penting dalam proses pembuatan lubang sumber bunyi dan sebagainya. Aspek keterampilan terkait dengan penguasaan secara teknik gerak dalam bidang tari dan teknik dalam pembuatan alat musik dengan berbahan bambu. DAFTAR PUSTAKA