POLINOMIAL Jurnal Pendidikan Matematika Volume 5 Issue 1 . , pp. Online: https://ejournal. org/index. php/jp e-ISSN: 2830-0378 Pengembangan Modul Ajar Konten Proporsi Berbasis PBL untuk Memfasilitasi Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis Siswa Fase D Afifah Reghina Indra1. Sehatta Saragih 2*. Sakur 3 1,2,3 Universitas Riau. Indonesia *Corresponding Author: saragih@lecturer. Submitted: 25-11-2025 | Revised: 14-12-2025 | Accepted: 19-12-2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul ajar matematika berbasis Problem Based Learning (PBL) pada konten proporsi untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis (KPMM) siswa fase D. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian pengembangan (Research and Developmen. dengan model ADDIE (Analysis. Design. Development. Implementation, dan Evaluatio. Instrumen penelitian meliputi lembar validasi modul ajar serta angket respon guru dan Validitas modul ajar dinilai dari aspek muka, isi, dan konstruk, sedangkan praktikalitas dilihat dari aspek kemudahan penggunaan, penyajian materi, dan tampilan. Data dianalisis secara kuantitatif dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa modul ajar yang dikembangkan memenuhi kriteria sangat valid dengan rata-rata skor validasi sebesar 93,09 dan sangat praktis berdasarkan respon guru dan siswa dengan skor praktikalitas sebesar 92,74. Kesimpulannya, modul ajar berbasis PBL pada konten proporsi layak digunakan untuk memfasilitasi KPMM siswa Fase D. Kata Kunci: Modul Ajar. Problem Based Learning. Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis. Proporsi Abstract This study aimed to develop a mathematics instructional module based on Problem-Based Learning (PBL) on proportion content to facilitate the mathematical problem-solving skills (MPSS) of Phase D The research method employed was Research and Development (R&D) using the ADDIE model, which consists of Analysis. Design. Development. Implementation, and Evaluation stages. The research instruments included an instructional module validation sheet and response questionnaires for teachers and students. The validity of the module was evaluated in terms of face, content, and construct validity, while its practicality was assessed based on ease of use, material presentation, and visual Data were analyzed using quantitative and qualitative approaches. The results indicated that the developed instructional module met the criteria of very high validity, with an average validation score of 93. 09, and was highly practical based on teacher and student responses, achieving a practicality score of 92. In conclusion, the PBL-based instructional module on proportion content is feasible for facilitating the mathematical problem-solving skills of Phase D students. Keywords: Teaching Module. Problem Based Learning. Mathematical Problem-Solving Skills. Proportion PENDAHULUAN Kemampuan Pemecahan Masalah Matematis (KPMM) merupakan kompetensi penting yang harus dimiliki dan dikembangkan dalam pembelajaran matematika, karena peningkatan KPMM berpengaruh langsung pada pola pikir siswa (Pratiwi & Musdi, 2. KPMM tidak hanya bermanfaat pada pembelajaran matematika, tetapi juga dalam mata pelajaran lain serta kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Sawilda. Yuanita, dan Sakur . This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2025 by Author | 43 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. Afifah Reghina Indra. Sehatta Saragih. Sakur yang menyatakan bahwa KPMM merupakan keterampilan penting yang perlu dimiliki oleh siswa untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Adapun langkah-langkah pemecahan masalah yaitu: . merencanakan pemecahan masalah. melaksanakan rencana pemecahan dan . menafsirkan hasil yang diperoleh. Penerapan langkah pemecahan masalah membantu siswa untuk menyelesaikan masalah, karena siswa dibimbing melalui langkah dari memahami masalah hingga menafsirkan kembali hasil yang diperoleh. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa KPMM siswa SMP/MTs masih tergolong Penelitian Thoibah. Siregar, dan Heleni . menyatakan hanya sebagian kecil siswa yang mampu memenuhi indikator KPMM, yaitu memahami masalah 11 orang, merencanakan pemecahan masalah 9 orang, melaksanakan pemecahan masalah 9 orang, memeriksa kembali hasil yang didapatkan 4 orang. Temuan Sriwahyuni & Maryati . menyatakan persentase kesalahan tertinggi terkait KPMM terlihat pada indikator merencanakan pemecahan masalah . ,26%), melaksanakan pemecahan masalah . ,50%), dan memeriksa kembali hasil yang telah didapatkan . ,50%). Rendahnya pemahaman dan penyelesaian soal matematika berdampak pada kualitas pembelajaran (Rahma & Sutarni. KPMM siswa yang rendah dapat diatasi dengan membiasakan siswa untuk mendapat kesempatan mengembangkan ide-idenya ketika menyelesaikan masalah kontekstual. Upaya ini dapat diwujudkan dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) dalam proses Model PBL merupakan model pembelajaran yang menghadirkan permasalahan nyata kepada siswa agar dapat diselesaikan secara tepat dan logis. (Napitupulu , 2022:. Hasil penelitian Yustinaningrum . serta Putri. Rahmawati, dan Sari . menunjukkan bahwa penerapan PBL efektif dalam memfasilitasi KPMM siswa, ditandai dengan peningkatan yang signifikan dibandingkan pembelajaran konvensional. Oleh karena itu, penerapan PBL diharapkan mampu membantu siswa mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Syahril. Saragih, dan Suanto . menyatakan dalam penerapan model PBL, siswa difasilitasi untuk mengembangkan kemampuan pemecahan masalah matematisnya melalui penyajian masalah-masalah kontekstual yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Siswa difasilitasi untuk mengembangkan KPMM melalui masalah kontekstual dengan penerapan model PBL dalam pembelajaran. Model PBL mempunyai 5 fase dalam pembelajarannya, yaitu: mengorientasikan siswa pada masalah, mengorganisasi siswa untuk belajar, membimbing penyelidikan individual atau kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, serta menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Agar penerapan PBL optimal dalam memfasilitasi KPMM maka harus dikemas dalam rancangan pembelajaran, yang dalam kurikulum merdeka disebut modul ajar. Modul ajar berfungsi memandu guru mencapai tujuan pembelajaran sesuai karakteristik siswa (Gowasa, 2. , sekaligus menumbuhkan profil pelajar pancasila (Kemendikbudristek, 2. Pengembangan modul ajar perlu melalui uji kelayakan agar dapat digunakan secara Menurut Nieveen . , produk pendidikan harus memenuhi kriteria validitas, kepraktisan, dan efektivitas. Karena modul ajar ini bertujuan memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, maka aspek validitas dan praktikalitas menjadi fokus Maulana . menyatakan bahwa uji validitas merupakan prosedur yang digunakan Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 44 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. Afifah Reghina Indra. Sehatta Saragih. Sakur untuk mengetahui sejauh mana alat ukur mampu mengukur apa yang seharusnya diukur. Adapun indikator penilaian validitas modul ajar dan LKS dalam penelitian ini meliputi aspek muka, isi, dan konstruk. Arikunto . mengartikan kepraktisan dalam evaluasi pendidikan sebagai berbagai kemudahan yang terdapat pada instrumen evaluasi, baik dalam mempersiapkan, menggunakan, menginterpretasikan atau memperoleh hasil, maupun dalam Adapun indikator penilaian praktikalitas modul ajar dan LKS dalam penelitian ini meliputi aspek tampilan, penyajian materi, dan kemudahan penggunaan. Berdasarkan penjelasan diatas penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul ajar matematika berbasis problem based learning (PBL) pada konten proporsi untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis (KPMM) siswa fase D. Penelitian ini diharapkan menghasilkan modul ajar matematika berbasis problem-based learning (PBL) pada konten proporsi yang valid, praktis, dan layak digunakan dalam pembelajaran. Modul yang dikembangkan diharapkan mampu memfasilitasi peningkatan kemampuan pemecahan masalah matematis (KPMM) siswa Fase D melalui penyajian masalah kontekstual, aktivitas berpikir kritis, dan pembelajaran yang berpusat pada siswa. METODE Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan dengan model ADDIE yang meliputi tahapan: . pada tahap analysis dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan dan kebutuhan dalam proses pembelajaran melalui analisis kinerja, analisis kebutuhan, analisis kurikulum, dan perumusan tujuan pembelajaran. pada tahap design dilakukan dengan menyusun kerangka modul ajar, penyusunan asesmen, pembuatan rancangan awal . , dan penyusunan instrumen penelitian berupa lembar validasi serta angket respon guru dan . Pada tahap development dilakukan kegiatan uji validitas oleh para ahli, uji keterbacaan terhadap LKS, serta revisi berdasarkan saran dan masukan dari validator maupun siswa saat pelaksanaan uji keterbacaan. pada tahap implementation dilakukan kegiatan uji coba kelompok kecil dan uji coba kelompok besar untuk mengetahui tingkat kepratisan LKS serta penilaian guru untuk mengetahui tingkat kepraktisan modul ajar. tahap evaluation, yaitu melakukan evaluasi pada tiap tahapannya. Data dalam penelitian adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari dari hasil wawancara dengan guru pada tahap analisis, saran dan tanggapan validator pada uji validitas, serta tanggapan dsiswa pada tahap uji keterbacaan. Sementara itu, data kuantitatif diperoleh dari lembar validasi, serta dari angket respon guru dan siswa. Lembar validasi modul ajar yang menggunakan skala Likert . dan skala Guttman . , dan angket respon guru dan siswa menggunakan skala Likert . Data dianalisis menggunakan rumus, kemudian dikategorikan berdasarkan kriteria validitas dan kepraktisan. Hasil kategori uji validitas modul ajar disajikan pada Tabel 1, sedangkan hasil kategori uji praktikalitas disajikan pada Tabel 2. Analisis data validitas modul ajar dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut. ycNycyce ycO= y 100% ycNycEa Keterangan: ycNycyce = Total skor yang diperoleh ycNycEa = Total skor yang di harapkan Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 45 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. Afifah Reghina Indra. Sehatta Saragih. Sakur Tabel. 1 Kategori uji validitas modul ajar Interval 80% < ycO O 100% 60% < ycO O 80% 40% < V O 60% 20% < V O 40% 0% < V O 20% Kriteria Sangat Valid Valid Cukup Valid Kurang Valid Tidak valid Sumber: Akbar . Modul ajar dapat dikatakan valid jika skor yang diperoleh lebih dari 60% dalam kategori valid atau sangat valid (Akbar, 2. Teknik analisis data praktikalitas modul ajar diperoleh dengan rumus: ycE= ycNycyce y 100% ycNycEa Keterangan: ycNycyce = Total skor yang diperoleh ycNycEa = Total skor yang di harapkan Tabel. 2 Kategori uji praktikalitas modul ajar Interval 80% < ycE O 100% 60% < ycE O 80% 40% < ycE O 60% 20% < ycE O 40% 0% < ycE O 20% Kriteria Sangat Praktis Praktis Cukup Praktis Kurang Praktis Tidak Praktis Sumber: Akbar . Modul ajar dapat dikatakan praktis jika skor yang diperoleh lebih dari 60% dalam kategori praktis atau sangat praktis (Akbar, 2. HASIL PENELITIAN Tahap Analysis Tahap analysis dilakukan untuk menentukan kebutuhan dalam pengembangan modul ajar, meliputi analisis kinerja, analisis kebutuhan, analisis kurikulum, dan perumusan tujuan Analisis kinerja dengan melakukan wawancara dan observasi di SMP Islam Al Azhar 37 Pekanbaru dan SMP Negeri 11 Pekanbaru, ditemukan bahwa: pembelajaran sudah menggunakan kurikulum merdeka dan modul ajar, namun belum sepenuhnya sesuai standar. Bagian pendahuluan belum memuat aktivitas motivasi yang sesuai dengan pemahaman bermakna, pelaksanaan model pembelajaran tidak selalu mengikuti seluruh fase secara lengkap. LKS yang digunakan tidak konsisten diberikan dan belum memuat masalah kontekstual maupun langkah pemecahan masalah, serta siswa kesulitan membedakan perbandingan senilai dan berbalik nilai akibat kurangnya pemahaman siswa terhadap Kondisi ini menunjukkan perlunya modul ajar berbasis Problem Based Learning (PBL) yang memfasilitasi KPMM. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 46 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. Afifah Reghina Indra. Sehatta Saragih. Sakur Analisis kebutuhan dilakukan dengan wawancara terhadap guru, dengan informasi yang diperoleh bahwa LKS belum memuat masalah kontekstual dan langkah pemecahan masalah. Analisis kurikulum dilakukan untuk menganalisis kalimat CP yang tepat pada konten proporsi. Berdasarkan Keputusan Kepala BSKAP Kemendikdasmen nomor 032/H/KR/2024 dengan konten proporsi terletak pada kalimat AuPada akhir fase D, siswa dapat menggunakan faktorisasi prima dan pengertian rasio . kala, proporsi, dan laju perubaha. dalam penyelesaian masalahAy. Tahap terakhir adalah perumusan tujuan pembelajaran, yang didasarkan pada hasil analisis capaian pembelajaran. Adapun tujuan pembelajaran pada konten proporsi disajikan pada Tabel 3. Tabel 3. Tujuan Pembelajaran No. Tujuan Pembelajaran Mengidentifikasi permasalahan terkait perbandingan senilai Membuat pemodelan masalah perbandingan senilai ke dalam tabel Menentukan penyelesaian masalah perbandingan senilai Menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan perbandingan senilai Membuat grafik berdasarkan tabel permasalahan perbandingan senilai Menyelesaikan masalah kontekstual terkait grafik perbandingan senilai Mengidentifikasi permasalahan terkait perbandingan berbalik nilai Membuat pemodelan masalah perbandingan berbalik nilai ke dalam tabel Menentukan penyelesaian masalah perbandingan berbalik nilai Menyelesaikan masalah kontekstual yang berkaitan dengan perbandingan berbalik nilai Membuat grafik berdasarkan tabel permasalahan perbandingan berbalik nilai Menyelesaikan masalah kontekstual terkait grafik perbandingan berbalik nilai Tahap Design Tahap design fokus pada perancangan modul ajar dan LKS sebagai sebuah prototipe. Modul ajar konten proporsi dibagi menjadi empat bagian yakni: perbandingan senilai, grafik perbandingan senilai, perbandingan berbalik nilai, dan grafik perbandingan berbalik nilai. Pada tahap ini diawali dengan membuat format modul ajar dengan merancang kerangka dasar modul ajar dan LKS. Selanjutnya dilakukan penyusunan asesmen untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran. Selanjutnya berdasarkan format modul ajar dan kisi-kisi asesmen, dilakukan penyusunan rancangan awal. Proses dilanjutkan dengan menyusun langkah kegiatan pembelajaran modul ajar dengan model PBL dan melengkapi informasi bagian informasi umum hingga bagian lampiran serta membuat LKS sehingga menjadi Tampilan prototipe 1 berupa cover modul ajar dan halaman modul ajar disajikan pada Gambar 1 dan Gambar 2, serta cover LKS dan halaman isi LKS disajikan pada Gambar 3 dan Gambar 4. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 47 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. Afifah Reghina Indra. Sehatta Saragih. Sakur Gambar 1. Tampilan Cover Modul Ajar Gambar 2. Tampilan Halaman Modul Ajar -1 Gambar 3. Tampilan Cover LKS-1 Gambar 4. Tampilan Isi LKS-2 Pada saat yang bersamaan dengan pembuatan prototipe 1, dirancang juga lembar validasi dan angket respon sebagai instrumen penilaian terhadap validitas dan praktikalitas modul ajar yang dikembangkan. Prototipe 1 kemudian akan dikonsultasikan dengan ahli di tim peneliti untuk mendapat saran dan masukan terkait produk yang dikembangkan agar menjadi lebih baik. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 48 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. Afifah Reghina Indra. Sehatta Saragih. Sakur Tahap Development Pada tahap development, produk yang dirancang pada tahap design berupa prototipe 1 divalidasi oleh ahli untuk mengetahui tingkat validitasnya. Validasi dilakukan oleh 3 orang ahli, yaitu 2 orang dosen pendidikan matematika dan 1 orang guru matematika. Hasil validasi disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Hasil Validasi Modul Ajar Aspek Validasi Muka Isi Konstruk Rata-rata 99,38 88,79 87,50 91,89 Modul Ajar ke2 99,38 99,38 88,86 89,09 92,08 92,50 93,44 93,66 99,38 89,09 91,67 93,38 Kategori 99,38 88,96 90,94 93,09 Sangat Valid Sangat Valid Sangat Valid Sangat Valid Berdasarkan Tabel 4, diperoleh informasi bahwa setiap modul ajar memperoleh kategori sangat valid pada seluruh aspek penilaian. Temuan ini menunjukkan bahwa modul ajar telah memenuhi seluruh kriteria yang diukur, sehingga dinyatakan layak untuk digunakan dalam Aspek muka dinyatakan sangat valid dengan skor 99,38 yang menandakan bahwa seluruh komponen informasi umum, komponen inti, maupun lampiran telah tercantum lengkap sesuai dengan komponen modul ajar. Pada aspek isi, modul ajar juga dinyatakan sangat valid dengan skor 88,96. Hal ini menunjukkan bahwa komponen seperti kompetensi awal, tujuan pembelajaran, pemahaman bermakna, serta asesmen telah sesuai dengan kurikulum fase D serta topik dan aktivitas pembelajaran yang disusun sesuai dengan tujuan pembelajaran dan disajikan secara sistematis. Selanjutnya, pada aspek konstruk, modul ajar memperoleh kategori sangat valid dengan skor 90,94. Hal ini berarti struktur kegiatan yang dirancang dalam modul sudah selaras dengan tahapan PBL dan pendekatan saintifik. Keselarasan tersebut memungkinkan siswa untuk terfasilitasi dalam setiap indikator KPMM, mulai dari memahami masalah, merencanakan pemecahan masalah, melaksanakan rencana pemecahan masalah, dan menafsirkan hasil yang diperoleh. Berdasarkan hasil validasi setiap modul ajar memperoleh penilaian sangat valid, meskipun tetap memerlukan revisi kecil sesuai dengan masukan dan saran dari para validator sebelum diuji cobakan pada siswa. Pada saat yang bersamaan dengan uji validitas modul ajar, juga dilakukan uji keterbacaan LKS pada siswa. Uji keterbacaan LKS dilakukan untuk mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami isi dan petunjuk dalam LKS dengan jelas dan mudah. Uji keterbacaan dilakukan pada 6 orang siswa kelas Vi SMPN 11 Pekanbaru. Selama proses pengerjaan, siswa didampingi langsung oleh peneliti. Produk yang telah valid direvisi sesuai saran dari validator serta juga direvisi berdasarkan hasil dari uji keterbacaan LKS, sehingga produk hasil revisi menghasilkan Gambar 5 dan Gambar 6 adalah contoh perbaikan yang dilakukan terhadap modul Pada Gambar 5, validator menyarankan untuk mengganti pertanyaan pada apersepsi karena pertanyaan yang digunakan dirasa kurang relevan. Hasil revisi pertanyaan pada apersepsi terdapat pada Gambar 6. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 49 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. Afifah Reghina Indra. Sehatta Saragih. Sakur Gambar 5 Apersepsi Sebelum Revisi Gambar 6 Apersepsi Setelah Revisi Tahap Implementation Setelah dihasilkannya prototipe 2, maka selanjutnya akan dilakukan uji coba produk. Uji coba dilakukan untuk mengetahui tingkat kepraktisan dari modul ajar yang dikembangkan. coba yang dilakukan yaitu uji coba kelompok kecil, uji coba kelompok besar, serta penilaian guru terhadap modul ajar. Adapun hasil analisis angket respon guru dan siswa disajikan pada Tabel 5. Tabel 5. Hasil Analisis Angket Respon Guru dan Siswa Aspek Penilaian Tampilan Penyajian Materi Kemudahan Penggunaan Rata-rata 89,40 91,47 91,19 90,69 Modul Ajar ke2 92,34 91,80 91,84 93,26 93,67 93,15 92,62 92,73 94,58 95,40 94,81 94,93 Kategori 92,03 92,99 93,20 92,74 Sangat Praktis Sangat Praktis Sangat Praktis Sangat Praktis Berdasarkan Tabel 5, diperoleh informasi bahwa setiap modul ajar memperoleh kategori sangat praktis pada seluruh aspek penilaian. Temuan ini menunjukkan bahwa modul ajar telah memenuhi seluruh kriteria yang diukur, sehingga dinyatakan layak untuk digunakan dalam Pada aspek tampilan memperoleh skor 92,03, aspek penyajian materi memperoleh skor 92,99, aspek kemudahan penggunaan memperoleh skor 93,20. Guru dan siswa menilai tampilan modul menarik dan konsisten, materi disajikan secara sistematis, dan petunjuk penggunaan mudah diikuti. Hal ini menjadikan modul ajar mudah digunakan sebagai pedoman pembelajaran di kelas. Modul ajar juga dianggap fleksibel untuk digunakan dalam berbagai kondisi pembelajaran dan sangat membantu guru dalam memfasilitasi aktivitas belajar mandiri maupun kelompok. Kesesuaian alokasi waktu dan struktur kegiatan dengan tahapan PBL menjadikan guru lebih mudah berperan sebagai fasilitator yang membimbing penyelidikan siswa, mengarahkan diskusi, serta memfasilitasi refleksi dan evaluasi. Open Access: https://ejournal. org/index. php/jp | 50 Jurnal Polinomial. Volume 5 Issue 1 . , pp. Afifah Reghina Indra. Sehatta Saragih. Sakur Tahap Evaluation Berdasarkan hasil pada tahap sebelumnya, diperoleh bahwa modul ajar berbasis PBL yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat valid dan sangat praktis menurut penilaian validator, siswa, maupun guru. Dengan demikian, produk pengembangan ini dinyatakan layak digunakan dalam pembelajaran matematika fase D khususnya pada konten proporsi untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa. Pada tahap evaluasi, dilakukan pengemasan produk agar siap digunakan oleh guru dalam proses Modul ajar dicetak dalam bentuk buku dengan ukuran kertas A4 100 gsm dan sampul softcover. Produk final tidak hanya memuat modul ajar yang telah dikembangkan, tetapi juga dilengkapi dengan kata pengantar, daftar isi. ATP, serta profil penulis. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modul ajar berbasis PBL yang dikembangkan telah memenuhi valid dan praktis untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, serta layak digunakan dalam pembelajaran matematika fase D pada konten Temuan ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan Syahril dkk. yang menegaskan bahwa pengembangan modul ajar berbasis PBL yang terbukti valid dan praktis mampu mendukung kemampuan pemecahan masalah matematis siswa, sehingga modul ajar yang dikembangkan peneliti telah layak untuk digunakan dalam pembelajaran. SIMPULAN DAN SARAN Penelitian pengembangan ini menghasilkan modul ajar konten proporsi berbasis Problem Based Learning untuk memfasilitasi kemampuan pemecahan masalah matematis siswa fase D. Modul ajar yang dikembangkan dihasilkan untuk 4 pertemuan pembelajaran. Modul ajar yang dikembangkan memperoleh rata-rata nilai validasi sebesar 93,09 dengan kategori sangat valid. Uji kepraktisan produk modul ajar memperoleh rata-rata skor praktikalitas sebesar 92,74 dengan kategori sangat praktis. Berdasarkan hasil dan pembahasan, disimpulkan bahwa modul ajar konten proporsi berbasis PBL yang dikembangkan untuk memfasilitasi KPMM siswa telah memenuhi kriteria valid dan praktis untuk dapat digunakan sebagai panduan guru dalam pembelajaran matematika fase D. Peneliti merekomendasikan agar guru mulai membiasakan siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang bersifat kontekstual, sehingga dapat mendukung pengembangan kemampuan pemecahan masalah matematis yang dimiliki siswa. Selain itu, bagi peneliti berikutnya yang berminat mengembangkan modul ajar, disarankan untuk memperluas pengembangan pada topik matematika lainnya serta memfasilitaasi kemampuan matematis DAFTAR PUSTAKA