AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Sejarah Mula Ayam Tembaga Di Sibeybu Desa Langkuru Utara Kecamatan Pureman Kabupaten Alor Tabita PlaikariA. Silpa FanauA. Serlin Mery LetdingA. Nurlaila B ArsyadA. Umiyani Kona5. Petrus Mau Tellu Dony6 Universitas Tribuana Kalabahi Email: tabitaplaikari@gmail. comA, sipafanau@gmail. comA, serlinletding12 gmail. comA, nurlailaarsyad66@gmail. comA, umicona1128@gmail. com5, petrusdony2@gmail. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asal-usul dan peran Ayam Tembaga di Desa Langkuru Utara. Kecamatan Pureman. Kabupaten Alor, berdasarkan tradisi lisan masyarakat setempat, serta mengaitkannya dengan pandangan ilmiah. Ayam Tembaga, unggas lokal dengan bulu menyerupai logam tembaga, merupakan fenomena unik yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Menurut Anwar . , fenomena biomineralisasiAiproses biologis di mana organisme menghasilkan struktur mineral anorganikAiberpotensi terjadi pada unggas ini, meskipun sangat jarang. Dalam konteks budaya. Koentjaraningrat . menjelaskan bahwa hewan peliharaan seperti Ayam Tembaga sering kali memiliki nilai spiritual atau simbolik dalam masyarakat tradisional Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap tokoh masyarakat untuk menggali tradisi lisan dan kepercayaan lokal. Hasilnya menunjukkan bahwa Ayam Tembaga tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga menjadi simbol dalam penamaan wilayah seperti Sibeimang. Watmaney, dan Moybagul. Fenomena transformasi ayam menjadi tembaga pasca kebakaran di Sibeybu diinterpretasikan sebagai simbol sakral yang dihormati oleh masyarakat setempat. Selain itu, keberadaan Ayam Tembaga mencerminkan pentingnya unggas lokal dalam melestarikan keragaman genetik (Basa. dan mendukung ekonomi pedesaan (Daryant. Penelitian ini mengungkap hubungan erat antara tradisi lisan, budaya lokal, dan pendekatan ilmiah, sekaligus menegaskan peran Ayam Tembaga sebagai aset budaya dan genetik yang bernilai tinggi. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian unggas lokal Indonesia dan memperkuat identitas budaya masyarakat. Kata Kunci: Ayam Tembaga. PENDAHULUAN Fenomena perubahan biologis yang melibatkan biomineralisasi merupakan topik yang menarik dan terus menjadi perhatian dalam studi bioteknologi. Menurut Anwar . dalam artikelnya "Ayam Tembaga: Fenomena Langka dari Indonesia" yang diterbitkan yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 dalam Jurnal Bioteknologi Tropis, biomineralisasi adalah proses biologis di mana organisme tertentu menghasilkan struktur mineral anorganik. Proses ini biasanya ditemukan pada organisme seperti moluska atau karang, yang menghasilkan kalsium karbonat untuk membentuk cangkangnya. Namun. Anwar menyoroti bahwa transformasi mineral pada vertebrata, khususnya unggas seperti yang terjadi pada Ayam Tembaga, merupakan kejadian langka yang belum sepenuhnya dapat dijelaskan secara ilmiah. Ayam tembaga merupakan salah satu jenis ayam lokal Indonesia yang memiliki keunikan pada warna bulunya yang menyerupai logam tembaga. Keistimewaan ini tidak hanya menjadikannya bernilai tinggi sebagai hewan peliharaan hias, tetapi juga sebagai simbol budaya dan ekonomi masyarakat tradisional. Dalam konteks sejarah dan budaya, ayam tembaga sering kali dikaitkan dengan tradisi lokal yang sarat akan makna simbolik. Hal ini sejalan dengan pandangan Koentjaraningrat . , yang menjelaskan bahwa masyarakat tradisional Indonesia memiliki hubungan erat dengan hewan peliharaan, di mana hewan-hewan tertentu dianggap memiliki nilai spiritual atau simbolik. Keberadaan ayam tembaga di beberapa daerah mencerminkan adaptasi genetik dan pemeliharaan selektif unggas lokal terhadap lingkungan tropis Indonesia. Menurut Muladno Basar, unggas lokal seperti ayam tembaga berperan penting dalam melestarikan keragaman genetik unggas di Nusantara, yang terancam oleh dominasi ayam ras komersial. Di sisi lain. Arief Daryanto . menyoroti pentingnya ayam lokal sebagai bagian dari ekonomi pedesaan yang mendukung keberlanjutan agribisnis berbasis masyarakat. Namun, meskipun memiliki potensi besar, kajian ilmiah tentang ayam tembaga masih sangat Sebagian besar penelitian tentang unggas lokal lebih berfokus pada ayam kampung secara umum, sementara ayam tembaga sebagai subjek spesifik belum banyak mendapatkan perhatian. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan mengeksplorasi sejarah, nilai budaya, dan potensi ekonomi ayam tembaga di Indonesia. Dengan demikian, diharapkan hasil penelitian ini dapat yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 memberikan kontribusi bagi pelestarian dan pengembangan ayam tembaga sebagai salah satu aset unggas lokal yang bernilai tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji asal-usul Ayam Tembaga berdasarkan tradisi lisan masyarakat Desa Langkuru Utara, serta menelaah peranannya dalam membentuk identitas budaya dan toponimi lokal. Penelitian ini juga berupaya untuk menjembatani kepercayaan lokal dengan pendekatan ilmiah, dengan harapan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang fenomena unik ini. METODE PENGABDIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Analisis data penelitian menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Data yang digunakan dalam penelitian ialah data kualitatif. Teknik pengumpulan data digunakan dengan satu cara yaitu wawancara. Wawancara dilakukan dengan beberapa tokoh yaitu: . Semuel Prabila. Piternela Prabila Dengan teknik analisis data yang digunakan, yaitu analisis deskriptif kualitatif. HASIL PENELITIAN DAN PENGABDIAN Hasil wawancara menunjukkan bahwa asal mula Ayam Tembaga di Sibeybu memiliki kaitan erat dengan tradisi lisan masyarakat Desa Langkuru Utara. Ayam ini dipercaya berasal dari Timor Timur . ekarang Timor-Lest. dan memiliki perjalanan simbolis yang menciptakan nama tempat seperti Sibeimang. Watmaney, dan Moybagul. Nama-nama tersebut mencerminkan interaksi ayam dengan elemen alam sekitar, seperti waktu subuh, matahari terbit, dan pohon pisang. Proses ini menunjukkan bagaimana mitos lokal dapat memengaruhi toponimi wilayah dan memperkuat identitas budaya masyarakat Tradisi penamaan ini memiliki makna historis dan spiritual yang mendalam. Sibeimang, yang berasal dari kata Sibey . dalam bahasa Langkuru, mengaitkan waktu subuh dengan kehadiran Ayam Tembaga. Hal ini menunjukkan bagaimana masyarakat yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Langkuru Utara memadukan fenomena alam dengan simbol-simbol budaya untuk menciptakan narasi identitas lokal. Transformasi Ayam Menjadi Tembaga Fenomena perubahan Ayam Tembaga setelah kebakaran yang melanda Sibeybu menjadi inti dari mitos ini. Dalam perspektif masyarakat lokal, peristiwa ini memiliki makna spiritual yang kuat. Transformasi tersebut dianggap sebagai simbol kekuatan supranatural atau pesan gaib yang diwariskan leluhur. Ayam yang terbakar menjadi tembaga kemudian dihormati sebagai simbol sakral dan dilestarikan oleh masyarakat Dari sudut pandang ilmiah, meskipun belum ada penelitian yang membuktikan transformasi biologis ayam menjadi tembaga, fenomena ini dapat dianalisis sebagai bagian dari tradisi biomineralisasi dalam kepercayaan lokal. Dalam tradisi antropologis, objek-objek tertentu sering kali diberi makna khusus oleh masyarakat, baik sebagai simbol perlindungan maupun representasi kekuatan gaib. Hubungan Tradisi Lisan dan Identitas Budaya Ayam Tembaga tidak hanya menjadi simbol sakral tetapi juga penanda identitas masyarakat Desa Langkuru Utara. Kisah ini memperkuat nilai tradisi lisan sebagai sarana pelestarian budaya dan sejarah lokal. Sebagai contoh, nama-nama seperti Watmaney (Wat,matahari. Maney, kampun. menunjukkan bagaimana masyarakat menggunakan simbolisme alam untuk menandai tempat berdasarkan pengalaman kolektif mereka. Tradisi ini juga mencerminkan bagaimana masyarakat Langkuru Utara menjaga hubungan erat dengan lingkungan sekitar melalui kepercayaan dan narasi lokal. Narasi ini melibatkan berbagai elemen, mulai dari ayam sebagai entitas fisik hingga elemen simbolis seperti api, kebakaran, dan logam tembaga, yang menciptakan jalinan cerita penuh makna. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Perspektif Mitologis dan Ilmiah Dari sudut pandang mitologis, cerita tentang Ayam Tembaga memiliki unsur-unsur yang sejalan dengan narasi folklore di berbagai budaya, di mana hewan sering kali dianggap sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia spiritual. Tradisi seperti ini sering kali digunakan untuk menjelaskan peristiwa alam atau memberikan legitimasi pada tempat dan objek tertentu dalam budaya lokal. Namun, jika dilihat dari sudut pandang ilmiah, cerita ini menghadirkan tantangan unik. Transformasi biologis menjadi logam tidak mungkin terjadi secara alami. Kemungkinan besar, ayam yang disimpan sebagai "tembaga" adalah artefak yang terbuat dari logam, yang dianggap sebagai representasi ayam asli dalam tradisi lokal. Studi ilmiah lebih lanjut tentang objek tersebut dapat memberikan wawasan tambahan, misalnya melalui analisis material untuk memastikan apakah benar-benar ada elemen biologis yang tersisa atau apakah objek itu murni hasil kerajinan manusia. Kontribusi terhadap Warisan Budaya Ayam Tembaga kini menjadi simbol warisan budaya yang sakral. Keberadaan ayam ini membantu memperkuat rasa memiliki masyarakat Desa Langkuru Utara terhadap identitas mereka. Mitos ini juga menjadi sarana untuk mengenalkan generasi muda pada sejarah dan nilai-nilai lokal yang terkandung dalam tradisi lisan. Selain itu, keberadaan Ayam Tembaga dapat menjadi daya tarik budaya dan wisata di wilayah Kecamatan Pureman, jika dikelola dengan baik. Keterkaitan dengan Ekonomi Lokal dan Sosial Mitos Ayam Tembaga tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari identitas budaya, tetapi juga dapat mempengaruhi aspek ekonomi dan sosial masyarakat Langkuru Utara. Cerita mengenai ayam yang berubah menjadi tembaga memiliki potensi untuk menarik perhatian luar daerah, baik dari wisatawan maupun peneliti, yang tertarik pada keunikan budaya tersebut. Hal ini bisa berdampak pada peningkatan yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 perekonomian lokal melalui sektor pariwisata, pengrajin lokal, dan penyelenggaraan acara budaya yang mengangkat cerita ini. Selain itu, kisah Ayam Tembaga berfungsi sebagai sarana penguatan solidaritas sosial di dalam masyarakat, karena narasi ini dipelihara dan dibagikan dalam setiap generasi. Fungsi Edukasi dan Pembentukan Karakter Dalam konteks pendidikan, mitos ini juga memainkan peran penting dalam pembentukan karakter generasi muda. Cerita-cerita seperti ini mengajarkan nilai-nilai penting seperti penghormatan terhadap alam, keberanian, keteguhan hati, dan perlunya menjaga hubungan harmonis dengan leluhur. Proses pelestarian tradisi ini memungkinkan generasi muda untuk memahami dan menghargai sejarah mereka dengan cara yang lebih mendalam, sehingga mereka tidak hanya belajar tentang masa lalu, tetapi juga meneruskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam mitos dan cerita Simbolisme dalam Konteks Religi dan Spiritualitas Selain sebagai simbol budaya. Ayam Tembaga juga memiliki kedalaman makna religius dan spiritual. Masyarakat Langkuru Utara memandang transformasi ayam menjadi tembaga sebagai manifestasi dari kekuatan gaib atau pesan dari alam Dalam hal ini, ayam tidak hanya dianggap sebagai makhluk fisik, tetapi sebagai simbol dari hubungan antara dunia manusia dengan dunia roh. Mitos ini memberi pemahaman yang lebih luas tentang bagaimana alam semesta dipandang oleh masyarakat lokal, di mana segala sesuatu memiliki makna dan keberadaannya berhubungan dengan dunia yang lebih besar, yang melampaui pengamatan manusia Sibeybu", penjelasan ini menunjukkan bahwa Ayam Tembaga bukan hanya sekadar simbol budaya lokal, tetapi juga bagian dari fenomena budaya yang lebih besar yang melibatkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Langkuru Utara. Fakta Ayam Tembaga, yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 yang berkaitan erat dengan tradisi lisan masyarakat, memberikan gambaran yang lebih dalam tentang bagaimana kepercayaan lokal, identitas budaya, serta hubungan masyarakat dengan alam dan leluhur terwujud dalam kisah tersebut. Cerita mengenai Ayam Tembaga berfungsi sebagai alat pelestarian budaya dan pendidikan, serta memperkuat solidaritas sosial di tengah komunitas. Melalui transformasi ayam menjadi tembaga, masyarakat Langkuru Utara menghubungkan pengalaman spiritual dengan kehidupan sehari-hari, menjaga koneksi dengan leluhur dan memperkuat identitas Fakta ini juga memberikan dampak pada aspek ekonomi, di mana keberadaan Ayam Tembaga dapat berfungsi sebagai daya tarik wisata budaya yang dapat meningkatkan perekonomian lokal. Gambar Ayam Tembaga KESIMPULAN Penelitian ini mengungkap bahwa Ayam Tembaga di Desa Langkuru Utara. Kecamatan Pureman. Kabupaten Alor, memiliki nilai historis, budaya, dan spiritual yang mendalam dalam kehidupan masyarakat setempat. Berdasarkan tradisi lisan, perjalanan yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Ayam Tembaga dari Timor Timur . ini Timor-Lest. hingga menetap di Sibeybu menjadi dasar penamaan wilayah seperti Sibeimang. Watmaney, dan Moybagul, yang mencerminkan interaksi erat antara cerita mitos, lingkungan, dan bahasa lokal Langkuru. Transformasi ayam menjadi tembaga setelah kebakaran di Sibeybu dipercaya sebagai peristiwa mistis yang menandai kekuatan supranatural dan spiritual. Ayam Tembaga ini kemudian dihormati sebagai simbol sakral dan dijaga oleh masyarakat setempat sebagai bagian dari warisan leluhur. Kisah ini menunjukkan bagaimana mitos dan tradisi lisan berperan dalam membentuk identitas budaya dan memberikan makna historis pada namanama tempat di wilayah tersebut. Penelitian ini juga menegaskan pentingnya menjaga tradisi lisan sebagai salah satu cara untuk melestarikan kearifan lokal dan memperkuat identitas masyarakat. Ayam Tembaga tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga potensi untuk memperkenalkan Desa Langkuru Utara sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia kepada dunia luar. Dengan dokumentasi yang baik, kisah Ayam Tembaga dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang dan menjadi inspirasi dalam menjaga nilai-nilai lokal. Selain itu, keberadaan Ayam Tembaga dapat dikembangkan sebagai aset budaya yang mendukung promosi pariwisata berbasis kearifan lokal di Kecamatan Pureman. Kabupaten Alor. SARAN Generasi muda di Desa Langkuru Utara. Kecamatan Pureman, perlu menjaga dan menceritakan kembali kisah Ayam Tembaga serta asal usul agar tradisi ini tetap hidup. Libatkan kisah Ayam Tembaga dalam kegiatan pendidikan atau acara komunitas untuk memperkenalkan budaya lokal Desa Langkuru Utara kepada masyarakat. Jadikan Ayam Tembaga sebagai simbol kebanggaan Desa Langkuru Utara dan promosikan melalui media sosial, festival budaya, atau kegiatan lainnya di Kecamatan Pureman. yn AFADA : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat. Vol. No. 1 Februari 2025. AFADA: Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 3 No 1. Februari 2025. Hal. DOI: 10. 37216/afada. E-ISSN: 2986-0997 Hormati Ayam Tembaga sebagai warisan leluhur dengan merawat dan menjaga keberadaannya di Sibeybu sebagai bagian dari identitas Desa Langkuru Utara. Dokumentasikan kisah Ayam Tembaga dan nama-nama tempat terkait menggunakan teknologi sederhana, seperti foto atau video, agar cerita ini dapat disampaikan kepada generasi mendatang di Desa Langkuru Utara dan Kecamatan Pureman. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para tokoh masyarakat Desa Langkuru Utara. Kecamatan Pureman, yang telah bersedia meluangkan waktu untuk berbagi cerita, informasi, dan pandangan mengenai asal usul Ayam Tembaga. Informasi yang diberikan sangat berharga dalam penyelesaian penelitian ini dan menjadi kontribusi penting dalam melestarikan budaya serta tradisi lokal. Semoga pengetahuan yang telah dibagikan dapat bermanfaat bagi generasi mendatang dan menjadi inspirasi dalam menjaga warisan leluh. DAFTAR PUSTAKA