1141 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 ANALISIS KOMPONEN 4A (ATTRACTIONS. ACCESSIBILITY. AMENITIES. DAN ANCILLARY) PADA DAYA TARIK WISATA GOA BANGKANG. DESA PRABU, KABUPATEN LOMBOK TENGAH Oleh Ihyana Hulfa1. Siti Anggriana*2 1,2,3 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Mataram. Indonesia E-mail: 1Ihyanahulfa@unram. id 2sitianggriana@staff. Article History: Received: 15-09-2025 Revised: 16-10-2025 Accepted: 19-10-2025 Keywords: Media sosial. Pokdarwis. Kunjungan Wisatawan. Abstract: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen 4A (Attractions. Accessibility. Amenities, dan Ancillar. pada daya tarik wisata Goa Bangkang yang berlokasi di Desa Prabu. Kecamatan Pujut. Kabupaten Lombok Tengah. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek attraction Goa Bangkang memiliki keunikan berupa keberadaan ribuan kelelawar, panorama alam, dan potensi wisata edukasi. Dari sisi accessibility, lokasi Goa dekat dengan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika dan mudah diakses kendaraan, namun masih minim rambu petunjuk arah serta transportasi umum. Pada aspek amenities, fasilitas dasar seperti area parkir, restoran, akomodasi, warung lokal, dan pemandu telah tersedia, tetapi fasilitas penunjang seperti ATM, klinik, dan toko cinderamata masih terbatas. Sedangkan aspek ancillary, pengelolaan dilakukan oleh pihak yang ditunjuk dan digaji oleh pemilik lahan untuk menjaga serta mengelola Goa secara mandiri dengan dukungan terbatas dari pemerintah dan lembaga pariwisata. Kesimpulannya. Goa Bangkang memiliki potensi besar sebagai destinasi ekowisata, namun perlu penguatan fasilitas, promosi, dan kolaborasi antar pemangku kepentingan agar dapat berkembang secara optimal. Kata kunci: 4A. Goa Bangkang. Desa Prabu. Daya tarik wisata PENDAHULUAN Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis yang berperan penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus memperkuat citra daerah. Indonesia dengan kekayaan alam dan budaya yang melimpah memiliki potensi besar dalam pengembangan destinasi wisata, termasuk kawasan Nusa Tenggara Barat (NTB) yang dikenal dengan panorama alam, budaya lokal, dan keindahan baharinya. Salah satu destinasi yang mulai dikenal wisatawan adalah Goa Bangkang yang terletak di Desa Prabu. Kecamatan Pujut. Kabupaten Lombok Tengah. Nusa Tenggara Barat. Goa ini memiliki keunikan berupa habitat ribuan kelelawar, keindahan formasi bebatuan alami, serta daya tarik pemandangan sunset dari kawasan sekitarnya. Dalam pengembangan destinasi wisata, salah satu konsep yang sering digunakan sebagai alat analisis adalah komponen 4A, yaitu Attractions. Accessibility. Amenities, dan Ancillary. Keempat komponen ini merupakan faktor fundamental yang menentukan kualitas dan daya saing a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 sebuah destinasi wisata (Cooper, 1993. Yoeti, 2. Tanpa adanya daya tarik yang khas, aksesibilitas yang memadai, fasilitas yang mendukung, serta lembaga pendukung yang solid, sebuah destinasi sulit berkembang secara berkelanjutan. Goa Bangkang memiliki potensi besar sebagai objek wisata berbasis alam dan edukasi. Namun, dalam praktiknya, pengembangan destinasi ini menghadapi beberapa tantangan, seperti keterbatasan fasilitas penunjang, minimnya promosi, serta dukungan kelembagaan yang belum Oleh karena itu, penting dilakukan analisis mendalam mengenai kondisi komponen 4A di Goa Bangkang untuk mengetahui kelebihan, kekurangan, serta peluang pengembangannya di masa Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis komponen 4A pada destinasi wisata Goa Bangkang. Desa Prabu. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan pariwisata berkelanjutan di Lombok Tengah, sekaligus menjadi bahan masukan bagi pemerintah daerah, kelompok sadar wisata (Pokdarwi. , dan pemangku kepentingan lainnya dalam merancang strategi pengelolaan yang lebih efektif. LANDASAN TEORI Konsep 4A dalam Pariwisata Dalam kajian pariwisata, keberhasilan suatu destinasi sangat dipengaruhi oleh komponen utama yang dikenal dengan istilah 4A, yaitu Attractions. Accessibility. Amenities, dan Ancillary. Konsep ini diperkenalkan oleh Cooper et al. sebagai kerangka kerja untuk menilai kelayakan dan daya saing destinasi wisata. Menurut Yoeti . , tanpa terpenuhinya keempat komponen tersebut secara seimbang, pengembangan destinasi akan mengalami hambatan dalam menarik dan mempertahankan kunjungan wisatawan. Menurut Cooper . , komponen pariwisata dapat disebut 4A, yang terdiri sebagai berikut: Attraction (Atraks. Merupakan komponen yang berisikan aktivitas untuk dapat menarik wisatawan agar mengunjungi tempat wisata tersebut. Suatu daerah dapat dijadikan sebagai tujuan wisata jika kondisinya mendukung dan dapat dikembangkan menjadi modal dan sumber Amenities (Amenita. mengartikan amenities sebagai rangkaian fasilitas untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, termasuk akomodasi, makanan dan minuman, tempat hiburan, tempat perbelanjaan, dan layanan lainnya (Alvianna et al 2. Accessibility (Aksesbilita. Merupakan komponen penting pada suatu kegiatan pariwisata. Akses adalah kemudahan untuk wisatawan melakukan pemindahan dari suatu daerah ke daerah tujuan. Suatu daerah dapat berpotensi dan berkembang baik jika memiliki aksesbilitas yang baik dan memadai untuk wisatawan berkunjung. Ancillary Services (Pelayanan Tambaha. Pelayanan tambahan adalah suatu pelayanan untuk mendukung sebuah kegiatan pariwisata seperti lembaga pengelolaan, informasi pariwisata . ourism informatio. , agen perjalanan, dan stakeholder yang berperan dalam kepariwisataan. Penelitian Terdahulu Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa konsep 4A (Attraction. Accessibility. Amenities, dan Ancillar. menjadi kerangka penting dalam pengembangan destinasi wisata. Sriwi dan Hulfa . menegaskan pentingnya penerapan 4A pada wisata Selong Belanak di Lombok a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Tengah, sedangkan Karni et al. menemukan bahwa Pura Tanjung Bukur memenuhi seluruh komponen tersebut. Penelitian Nurul Izati . dan Utomo et al. juga menunjukkan bahwa peningkatan aksesibilitas dan amenitas sangat berpengaruh terhadap daya tarik wisata, sementara Fahmi et al. menekankan peran masyarakat dan Pokdarwis dalam pengelolaan destinasi budaya seperti Kampung Sasak Ende. Penelitian Anggara et al. di Gunung Jae dan Wulandari et al. di Pantai Watu Karung memperkuat bahwa potensi wisata alam perlu diimbangi dengan penguatan fasilitas dan layanan penunjang agar berdaya saing. Secara keseluruhan, pendekatan 4A terbukti efektif dalam menilai potensi dan merumuskan strategi pengembangan destinasi wisata. Temuan ini menjadi dasar bagi penelitian di Goa Bangkang untuk mengidentifikasi sejauh mana penerapan keempat komponen tersebut dalam mendukung pengembangan pariwisata di Desa Prabu. Lombok Tengah. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Menurut Sukmadinata . , metode ini bertujuan untuk menggambarkan dan menjelaskan fenomena yang terjadi secara alami dengan menekankan pada karakteristik, kualitas, serta hubungan antaraktivitas. Dalam penelitian ini, metode deskriptif kualitatif digunakan untuk memahami kondisi komponen 4A (Attractions. Accessibility. Amenities, dan Ancillar. pada destinasi wisata Goa Bangkang secara mendalam melalui interaksi langsung dengan lingkungan penelitian. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi daya tarik, aksesibilitas, dan fasilitas yang tersedia di lokasi. Wawancara mendalam dilaksanakan dengan pengelola Goa Bangkang, serta wisatawan guna memperoleh informasi terkait pengalaman dan harapan mereka terhadap pengembangan destinasi. Sementara itu, dokumentasi berupa foto dan catatan lapangan digunakan sebagai data pendukung. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Daya Tarik (Attraction. Goa Bangkang yang berlokasi di Desa Prabu. Kecamatan Pujut. Kabupaten Lombok Tengah, memiliki daya tarik utama berupa keunikan alam dan keaslian lingkungan bawah tanah. Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola yaitu Bapak Mus. Goa Bangkang mulai dikenal sebagai destinasi wisata seiring dengan berkembangnya kawasan Mandalika. Fenomena keluarnya ribuan kelelawar pada siang hari menjadi magnet utama bagi wisatawan, terutama wisatawan mancanegara yang mencari pengalaman petualangan dan fotografi alam. Selain itu, di dalam goa terdapat fenomena cahaya alami yang dikenal sebagai Aucahaya bulanAy, muncul sekitar pukul 13. 00Ae 00, yang menjadi momen favorit pengunjung untuk berfoto. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Gambar 1. Goa Bangkang Desa Prabu Sumber: https://w. Goa Bangkang juga memiliki nilai edukatif, di mana wisatawan dapat mempelajari ekosistem kelelawar serta proses pembentukan stalaktit dan stalagmit. Cerita rakyat dan mitos yang masih dipercaya masyarakat setempat turut memperkaya nilai budaya dari destinasi ini. Hasil ini sejalan dengan temuan Fahmi et al. dan Wulandari et al. yang menekankan pentingnya integrasi unsur alam, edukasi, dan budaya dalam pengembangan wisata minat khusus agar memiliki daya saing yang tinggi. Aksesibilitas (Accessibilit. Goa Bangkang berjarak sekitar 7 km atau 15 menit dari kawasan Mandalika dan dapat dijangkau dengan kendaraan pribadi maupun sewaan. Berdasarkan hasil wawancara, jalan menuju lokasi sudah beraspal, meskipun pada beberapa titik masih sempit. Rambu petunjuk arah telah tersedia, namun belum merata di seluruh jalur menuju lokasi. Belum tersedia transportasi umum khusus ke Goa Bangkang, sehingga wisatawan umumnya menggunakan kendaraan pribadi atau layanan transportasi daring. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Gambar 2. Jalan raya Kuta Ae Selong Sumber: https://w. Jam kunjungan terbaik adalah pukul 13. 00Ae14. 00 siang ketika cahaya alami masuk ke dalam goa. Aktivitas eksplorasi berlangsung sekitar satu jam dengan opsi kunjungan lanjutan di hari berikutnya. Hasil ini mendukung temuan Anggara et al. bahwa aksesibilitas berperan penting dalam menarik wisatawan ke destinasi wisata alam, terutama pada lokasi-lokasi dengan minat khusus yang memerlukan waktu dan kondisi tertentu untuk dikunjungi. Fasilitas (Amenitie. Fasilitas yang tersedia di kawasan Goa Bangkang mencakup restoran, area parkir luas, toilet umum, musholla, dan beberapa unit kamar penginapan dengan berbagai tipe . ua kamar twin bed, dua kamar double bed, dan dua kamar deluxe king suit. , serta kolam renang untuk tamu yang Pengelola juga menyediakan paket wisata dengan tarif Rp 60. 000 per orang yang mencakup fasilitas helm, masker, senter, dan welcome drink setelah eksplorasi. Gambar 3. Akomodasi Sumber: Dokumentasi 2025 a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Namun, fasilitas tambahan seperti papan informasi wisata, area istirahat, dan sistem pengelolaan kebersihan masih perlu ditingkatkan. Temuan ini memperkuat penelitian Sriwi & Hulfa . dan Utomo et al. yang menyatakan bahwa peningkatan kualitas amenitas berbanding lurus dengan kepuasan dan loyalitas wisatawan. Pengembangan fasilitas yang berkelanjutan diperlukan agar wisatawan merasa nyaman dan ingin berkunjung kembali. Layanan Penunjang (Ancillar. Berdasarkan hasil wawancara, pengelolaan Goa Bangkang dilakukan secara mandiri oleh pihak swasta yang merupakan pemilik lahan. Saat ini terdapat tiga orang pemandu wisata aktif yang bertugas secara bergiliran: satu di pagi hari dan dua di siang hari. Mereka tidak hanya bertugas mengantar wisatawan menjelajahi goa, tetapi juga memberikan edukasi mengenai sejarah dan Kerja sama dengan Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Tengah telah dilakukan dalam hal promosi, namun belum ada keterlibatan langsung Pokdarwis Desa Prabu. Meskipun demikian, kegiatan wisata memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat melalui penyediaan jasa pemandu, warung, dan area parkir. Jumlah kunjungan rata-rata mencapai sekitar 25 wisatawan per bulan, didominasi wisatawan mancanegara. Kondisi ini sejalan dengan penelitian Salsabila & Puspitasari . yang menunjukkan bahwa peran kelembagaan seperti Pokdarwis dan kerja sama dengan pemerintah menjadi faktor penting dalam keberlanjutan destinasi. Dukungan kelembagaan dan promosi digital masih perlu diperkuat agar Goa Bangkang lebih dikenal luas. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa Goa Bangkang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata alam dan edukasi yang mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di Lombok Tengah. Dari aspek attractions, keunikan ribuan kelelawar dan fenomena cahaya alami menjadi daya tarik utama yang sejalan dengan konsep wisata minat khusus. Dari aspek accessibility, lokasi yang strategis dekat kawasan Mandalika mendukung kemudahan akses, meski transportasi umum dan rambu wisata perlu ditingkatkan. Pada aspek amenities, fasilitas dasar seperti restoran, penginapan, area parkir, musholla dan toilet sudah tersedia, tetapi masih memerlukan penambahan sarana informasi dan pengelolaan kebersihan yang lebih baik. Dari sisi ancillary, pengelolaan dilakukan secara mandiri oleh pihak swasta dengan dukungan terbatas dari pemerintah dan belum melibatkan Pokdarwis secara langsung. Sejalan dengan penelitian Karni et . dan Fahmi et al. , kolaborasi antara masyarakat, pemerintah daerah, dan pengelola menjadi faktor kunci dalam pengembangan destinasi berbasis alam. Oleh karena itu, peningkatan fasilitas, promosi digital, dan dukungan kelembagaan yang terintegrasi sangat dibutuhkan agar Goa Bangkang dapat berkembang sebagai destinasi wisata unggulan yang berkelanjutan di kawasan Mandalika. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 DAFTAR REFERENSI Anggara. Yuliani. , & Putra. Analisis Pengembangan Wisata Alam Gunung Jae Berdasarkan Konsep 4A. Jurnal Pariwisata Terapan, 5. , 55Ae66. Cooper. Fletcher. Gilbert. , & Wanhill. Tourism: Principles and Practice. Harlow: Longman Group Limited. Cooper. Contemporary Tourism: An International Approach. Oxford: ButterworthHeinemann. Fahmi. Pratama. , & Nuraini. Peran Pokdarwis dalam Pengelolaan Destinasi Budaya Kampung Sasak Ende. Jurnal Kepariwisataan Nusantara, 4. , 77Ae88. Karni. Utami. , & Rahmawati. Implementasi Komponen 4A pada Daya Tarik Wisata Pura Tanjung Bukur di Bali. Jurnal Kepariwisataan dan Kebudayaan, 8. , 101Ae112. Kotler. , & Keller. Marketing Management . th ed. Pearson Education International. Nasrullah. Media Sosial: Perspektif Komunikasi. Budaya, dan Sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media. Nurul Izati. Analisis Pengaruh Aksesibilitas terhadap Pengembangan Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Penelitian Kepariwisataan dan Ekonomi Kreatif, 5. , 33Ae42. Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 2021 tentang Pedoman Destinasi Pariwisata Berkelanjutan. Rangkuti. Strategi Promosi yang Kreatif dan Analisis Kasus: Integrated Marketing Communication. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Salsabila. , & Puspitasari. Peran Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. dalam Pengembangan Desa Wisata. Jurnal Kajian Ruang, 3. , 241Ae252. https://doi. org/10. 30659/jkr. Sriwi. , & Hulfa. Analisis Penerapan Komponen 4A pada Daya Tarik Wisata Selong Belanak. Lombok Tengah. Jurnal Ilmiah Pariwisata dan Bisnis, 3. , 45Ae54. Sukmadinata. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Utomo. Raharjo. , & Wibisono. Pengaruh Aksesibilitas dan Amenitas terhadap Daya Tarik Wisata di Kabupaten Sleman. Jurnal Pengembangan Pariwisata Indonesia, 9. , 121Ae132. Wulandari. Prakoso. , & Hidayat. Strategi Penguatan Fasilitas dan Layanan Wisata Alam di Pantai Watu Karung. Jurnal Destinasi dan Pengelolaan Pariwisata, 7. , 89Ae . Yoeti. Tourism Planning and Development. Jakarta: Pradnya Paramita. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 HALAMAN INI SENGAJA DI KOSONGKAN https://ejournal. id/JRT