Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024, Pages 50-62 ISSN: 2830-5868 (Online); ISSN: 2614-7831 (Printed); Journal Homepage: http://ejournal.stit-alkifayahriau.ac.id/index.php/arraihanah Peran Guru Dalam Mengembangkan Kemampuan Pada Anak ADHD Hiperaktif Implusif Pada Anak Usia 5 Tahun Galuh Cahya1, Dinara Safinah2, Hanesya Izza3, Zida Fardasyah4, Dania Razhika5, Clarissa Qurrotu6, Ajeng Dwi7, Mukhoiyaroh8 Info Artikel Abstract Keywords: Early childhood; Impulsive hyperactivity; ADHD; Crew; Early childhood education (ECCE) involves instruction with a focus on maturing each child's individual personality while also supporting the child's general development. Between two and four percent of school-age children in Indonesia are ADHD sufferers. A youngster with ADHD behaves differently from a typical child in a distinctive way. difficulties concentrating, hyperactivity, or attention deficit disorder. Because it affects both hyperactivity and attention deficit disorder, early childhood hyperactivity is a severe issue. The prevalence of attention deficit disorder and hyperactivity in children is rising these days. Kata kunci: Anak Usia Dini; Hiperaktif Implusif; ADHD; ABK; Abstrak Pendidikan anak usia dini (PAUD) melibatkan instruksi dengan fokus pada pematangan kepribadian masing-masing anak sementara juga mendukung perkembangan umum anak. Antara dua hingga empat persen anak usia sekolah di Indonesia adalah penderita ADHD. Seorang anak dengan ADHD berperilaku berbeda dari anak biasa dengan cara yang berbeda. kesulitan berkonsentrasi, hiperaktif, atau gangguan defisit perhatian. Karena mempengaruhi hiperaktif dan gangguan defisit perhatian, hiperaktif anak usia dini adalah masalah yang parah. Prevalensi gangguan defisit perhatian dan hiperaktif pada anak-anak meningkat akhir-akhir ini. PENDAHULUAN Para filsuf Barat dan Timur, termasuk yang berasal dari Indonesia, mengusulkan hakikat pendidikan anak usia dini (PAUD). Pada dasarnya, pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah instruksi yang dirancang untuk mendukung perkembangan anak secara keseluruhan atau untuk menempatkan penekanan kuat pada pematangan kepribadian unik setiap anak. Akibatnya, PAUD memberi anak-anak kesempatan untuk mencapai potensi penuh mereka 1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia Email: galuhcahyan17@gmail.com 2 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia Email: dinaaraasf@gmail.com 3 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia Email: hanesyaizzah22@gmail.com 4 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia Email: zfardasyah@gmail.com 5 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia Email: dania240604@gmail.com 6 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia Email: risaaaini28@gmail.com 7 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia Email: ajengdwianjarwati9@gmail.com 8 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, Indonesia Email: mukhoiyaroh@uinsa.ac.id 51 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 dan mengembangkan kepribadian mereka. Oleh karena itu, fasilitas PAUD harus menawarkan berbagai kegiatan yang dapat memajukan beberapa bidang pembangunan, termasuk bahasa, kognitif, sosial-emosional, fisik, dan motorik (Silitonga et al., 2023). Salah satu jenis gangguan yang sering mempengaruhi anak-anak di sekolah adalah salah satu yang mengganggu kegiatan belajar. gangguan hiperaktif adalah gangguan perhatian defisit, atau gangguan konsentrasi. Orang yang dekat dengan orang cacat dapat mengidentifikasi ADHD mereka sejak usia muda. Ini karena tidak seperti anak-anak pada umumnya, seorang anak dengan penyakit ADHD menunjukkan pola perilaku yang unik dan berbeda dari anak umumnya. gangguan defisit perhatian, kondisi hiperaktif, atau kesulitan berkonsentrasi. Mereka yang dekat dengan individu yang memiliki latar belakang yang spesial mampu mengenali ADHD mereka sejak usia dini. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa, mirip dengan anak-anak lain, seorang anak ADHD memiliki pola perilaku yang aneh dan tidak biasa. Guru dan orang tua harus menyadari bahwa ADHD memiliki keterbatasan dalam komponen emosional sosial, terutama dalam keterlibatan sosial. Salah satu caranya adalah dengan memulai percakapan interpersonal dengan anak. Seorang anak muda yang berjuang untuk tetap diam, mendengarkan dengan saksama, kurang fokus, menikmati bermain atau terlibat dalam kegiatan yang tampaknya tidak pantas adalah anak dengan keterampilan komunikasi dua arah yang rendah karena mereka sulit untuk mendapatkan dan menerima informasi dari orang lain. Akibatnya, intervensi yang diperlukan untuk meningkatkan keterampilan komunikasi (Gunawan, n.d.) Menurut abdullah (dalam riski 2018) Menentukan kebutuhan pendidikan unik setiap siswa adalah tujuan dari Program Pendidikan Individual, atau IEP. Program lain yang dibuat khusus untuk setiap individu dengan kebutuhan berbeda adalah IEP (Amalia, 2018). Menurut (Nadzirah, 2017) yang dimaksud anak ADHD yaitu anak yang mengalami gangguan konsentrasi untuk menerima pelajaran dari gurunya, terutama ketidakmampuan untuk memfokuskan dan menjaga perhatiannya pada satu hal. Beberapa perilaku yang nampak seperti; cenderung bertindak ceroboh, mudah tersinggung, lupa pelajaran sekolah dan tugas rumah, kesulitan mengerjakan tugas disekolah maupun dirumah, kesulitan dalam menyimak, kesulitan dalam menjalankan beberapa perintah, melamun, sering keceplosan dalam berbicara, tidak memiliki kesabaran yang tinggi, sering membuat gaduh, berbelit-belit dalam berbicara, dan suka memotong serta ikut campur pembicaraan orang lain adalah bentuk perilaku umum lainnya yang menjadi ciri khas ADHD. Selain itu mereka juga cenderung bergerak terus secara konstan dan tidak bisa tenang. Menurut tentama 2012 dalam selfi (2022) Hiperaktif anak usia dini merupakan masalah serius karena berdampak pada hiperaktif dan gangguan defisit perhatian. Hari-hari ini, hiperaktif anak-anak dan gangguan defisit perhatian sedang meningkat. Antara dua hingga empat persen anak usia sekolah di Indonesia adalah penderita ADHD. Tentu saja, tidak semua orang tua diharapkan untuk menerima kenyataan ini.. Tetapi untuk memberi anak-anak mereka perawatan dan pendidikan sebaik mungkin. Orang tua harus memiliki pemahaman tentang anak-anak mereka dalam takdir ini. Ini untuk membantu orang tua menangani anak-anak mereka secara lebih positif. Beban membesarkan anak-anak hiperaktif berat bagi orang tua. Anak-anak yang hiperaktif sering menunjukkan perilaku menyimpang, yang dapat membuat frustrasi orang tua dan pendidik. Banyak orang tua mengalami 52 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 kecemasan dan kekhawatiran akan masa depan anak-anak mereka sebagai akibat dari masalah ini. Selain itu, beberapa orang tua memandang anak-anak hiperaktif sebagai anak nakal (Iftitah, 2022). Berdasarkan hasil observasi di TK, ditemukan anak yang memiliki gangguan ADHD hiperaktif implusif. Anak yang memiliki gejala tersebut akan menjadi pusat perhatian di lingkungannya karena cenderung banyak bergerak dan memiliki tingkah laku yang berbeda dari teman sebayanya. Anak-anak yang mengalami gangguan tersebut akan mengalami beberapa kesulitan dalam beberapa hal seperti sosial, emosi, kognitif dan fisik motorik, dan juga kesulitan mendengar penjelasan guru, bersosialisasi dengan teman sebayanya, beraktifitas dalam kegiatan sehari hari. Masalah-masalah tersebut dapat menghambat anak dalam kegiatan sehari-hari, mengerjakan pekerjaan sekolah. Anak yang hiperaktif seringkali di labeli sebagai anak nakal yang tidak bisa diam, susah di atur, hal tersebut sangat berpengaruh terhadap perkembangan anak khususnya dalam perkembangan sosial emosionalnya, sehingga dapat menyebabkan anak menjadi minder, emosi, tantrum, hal ini akan menimbulkan beberapa reaksi seperti bandel, melawan, dan membangkang. Apabila masalah ini tidak segera di atasi akan berdampak pada perkembangan anak . METODE Penelitian ini menerapkan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif, yang digunakan untuk mengumpulkan data asli sesuai situasi sebenarnya dan fenomena yang ada di lapangan sesuai dengan tujuan penelitian. Data primer merupakan sumber data yang digunakan pada penelitian ini. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan mengidentifikasi berdasarkan wawancara dan survei Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah model analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis data yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman terdiri dari tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman, dalam Sugiyono 2019). Triangulasi digunakan sebagai teknik pengumpulan data yang menggabungkan berbagai sumber dan metode pengumpulan data untuk memastikan validitas dan keandalan temuan penelitian. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 1. Profil Peserta Didik Profil anak ABK yang bernama IBRAHIM NARENDRA AL FAHMY atau biasa dipanggil Rendra, berjenis kelamin laki-laki, berusia 5 tahun yang bertempat tinggal di Mojokerto, sekarang duduk dibangku PAUD di RA Nur Zuhril Jannah Mojokerto. Rendra merupakan anak istimewa dengan gangguan ADHD hiperaktif impulsif. Rendra sangat aktif saat berada dikelas dan tidak bisa diam, tetapi dia tidak pernah mengganggu temannya selama tidak ada yang mengganggunya. Untuk mendengarkan pernjelasan dari guru perlu mengulang-ulang sampai dia faham dan sering menggunakan isyarat ketika berkomunikasi, misalnya jika ingin ke kamar mandi Rendra menunjuk arah ke tempat tersebut. Rendra seringkali mengalami kesulitan memperhatikan dalam tugas atau 53 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 kegiatan bermain dan seringkali gagal untuk memusatkan perhatian atau membuat kesalahan ceroboh dalam pekerjaan sekolah, atau kegiatan. Anak hiperaktif ketika berada di kelas mau memulai pelaksanaan pembelajaran harus sesuai dengan mood anak tersebut, jadi apa yang dia inginkan harus terpenuhi terlebih dahulu setelah itu dia akan mau belajar dengan baik meskipun aktif bergerak tidak mau duduk dengan tenang. 2. Pengertian dan ciri ciri anak berkebutuhan khusus ADHD hiperaktif impulsive a. Pengertian anak berkebutuhan khusus ADHD Menurut Jenifer dkk. (2014), Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan kesehatan emosional/perilaku yang paling sering didiagnosis pada anakanak. Ketika tingkat diagnosis ADHD terus meningkat, semakin besar kemungkinan bahwa konselor sekolah akan diminta untuk berkolaborasi dengan orang tua, guru, dan profesional pendidikan lainnya untuk mendukung anak-anak dengan ADHD(Amalia, 2018). Ketika kami mengacu pada anak-anak ADHD, kami menggambarkan anak-anak yang mengalami kesulitan dalam mempertahankan fokus dan perhatian, terutama ketika menerima instruksi dari guru mereka. Beberapa perilaku yang dapat diamati mungkin termasuk kecerobohan, mudah tersinggung, lupa pelajaran sekolah dan pekerjaan rumah, tantangan dalam menyelesaikan tugas baik di sekolah maupun di rumah, kesulitan mendengarkan, kesulitan mengikuti instruksi, melamun, sering diinterupsi, tidak sabar, perilaku berisik, dan kompleksitas dalam komunikasi. pembicaraan orang lain adalah bentuk perilaku umum lainnya yang menjadi ciri khas ADHD. Selain itu mereka juga cenderung bergerak terus secara konstan dan tidak bisa tenang (Amalia, 2018). Hartiningsih(2013) (dalam riska 2018) mengemukakan Meskipun anak-anak menunjukkan perilaku hiperaktif dan impulsif adalah hal yang wajar, namun ada beberapa individu yang mengalami gangguan tersebut. Perilaku yang terkait dengan ADHD akan lebih intens dan sering terjadi dibandingkan dengan perilaku yang tidak memiliki kondisi tersebut. Menurut jenifer 2014 (dalam riska 2018) Sesuai dengan Diagnostics and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM 5), seorang anak harus sudah menunjukkan gejala minimal enam bulan sebelum menerima diagnosis ADHD, dan gejala tersebut harus sudah muncul sebelum usia 12 tahun. Menurut abdullah (2013) dalam fitri ani (2022) Ketika seorang anak digambarkan memiliki kebutuhan khusus, itu merujuk secara khusus kepada mereka yang terlihat abnormal atau menyimpang dari keadaan biasa. Rata-rata anak biasanya normal dalam hal sifat perilaku fisik, mental, dan sosialnya. Anak yang memiliki kebutuhan khusus dapat dilihat dari perilaku fisik, mental dan sosialnya (Ani, n.d.) ADHD adalah gangguan yang bermanifestasi sebagai implusivitas, hiperaktif, dan kesulitan fokus, yang dapat menyulitkan seseorang untuk menyeimbangkan sebagian besar aspek kehidupan sehari-hari. Menurut dayu (2014) ciri utama dari penyakit ini adalah kecenderungan untuk beralih di antara kegiatan tanpa menyelesaikan pekerjaan di tangan dan ketidakmampuan untuk fokus secara efektif ketika melakukan tugas yang menuntut kognitif. Selain munculnya aktivitas yang tidak menentu, tidak beraturan dan main-main (Nurfadhillah et al., 2021). Sasanti (2014, 6) menyebutkan bahwa GPPH atau biasa disebut ADHD terkait dengan faktor genetik, dibuktikan dengan seringnya terdapat dalam keluarga. Daalm 54 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 penelitiannya menunjukkan bahwa 25% keluarga dekat dari anak dengan GPPH, juga menunjukkan gejala GPPH, walaupun sampai saat ini belum dapat dibuktikan adanya kromosom abnormal sebagai penyebab gangguan ini (Buku Pedoman Deteksi Dini Gangguan Pemusatan, n.d.). b. Karakteristik anak ADHD Menurut mirnawati dkk (2019,7) karakteristik anak adhd dibagi menjadi 3 1) Inatensi merupakan kesulitan untuk memfokuskan perhatian 2) Impulsivitas yakni kesulitan dalam menahan sesuatu yang di inginkan 3) Hiperaktivitas yaitu sulit untuk mengendalikan gerakan dan tidak bisa diam 1.1 Inatensi a) Kecenderungan untuk mengabaikan detail atau membuat kesalahan ceroboh dalam tugas dan kegiatan lainnya. Seringkali mengalami kesulitan memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain. b) Sering tidak memperhatikan ketika berbicara dengan tatap muka. c) Sering tidak memahami instruksi dan tidak menyelesaikan pekerjaan sekolah, bukan karena perilaku memberontak atau perilaku buruk. d) perilaku resisten atau ketidakmampuan untuk memahami instruksi dari pendidik. e) sering berusaha untuk menyelesaikan proyek dan kegiatan sering salah menaruhkan bahan atau benda penting untuk tugas, hobi, dll. f) Sering menghindari, membenci, atau enggan melakukan tugas-tugas yang membutuhkan upaya mental yang berkelanjutan, seperti menyelesaikan pekerjaan rumah atau sekolah. 2.1 Hiperaktif a) Sering memukul-mukul tangan dan kaki atau kesulitan duduk di kursi. b) Sering meninggalkan tempat duduknya selama pelajaran atau situasi lain yang mengharuskan anak tetap duduk. c) Sering kesulitan bermain dengan tenang atau melakukan aktivitas waktu senggang d) Sering “bergerak” atau bertindak seolah-olah dikendalikan oleh motor e) Banyak bicara 3.1 Impulsif a) Mereka sering menjawab pertanyaan sebelum selesai. b) Sering kesulitan menunggu giliran. c) Mereka sering mengganggu banyak orang Berdasarkan paparan diatas Anak dengan ganguan ADHD memiliki 3 karakteristik (Pendidikan Anak Adhd (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), N.D.). Menurut DSM-V (APA,2013) dalam buku chynthia (2021, 19-20) terdapat 3 tipe ADHD. (Vivian Purwanto et al., n.d.) 1. Inattentive kurang mampu memusatkan perhatian Anak dengan gangguan ADHD tipe inattentive memenuhi gejala inattentive saja selama 6 bulan terakhir. 2. Hiperaktif/impulsif 55 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Anak dengan gangguan ADHD tipe hiperaktif/impulsif memenuhi gejala hiperaktif/impulsif saja selama 6bulan terakhir. 3. Kombinasi Anak dengan gangguan ADHD tipe kombinasi memenuhi gejala inattentive dan hiperaktif/impulsif selama 6 bulan terakhir. b. Ciri-ciri anak berkebutuhan khusus dengan ADHD hiperaktif impulsif pada usia dini 1) berfokus pada konsentrasi di kelas dan menunjukkan perilaku impulsif atau terlalu aktif 2) Mudah terganggu konsentrasinya, anak mudah hilang konsentrasi atau lupa detail rutinitas sehari-hari 3) Tidak bisa duduk diam, terutama dalam lingkungan yang tenang 4) Tidak bisa diam atau hiperaktif-impulsif 5) Mudah teralihkan dan memiliki perhatian yang pendek 6) Sering kali ceroboh dalam mengerjakan sesuatu 7) Mudah lupa atau kehilangan sesuatu 8) Sulit mengikuti instruksi atau percakapan 9) Terbiasa mengatur dalam tugas 10)Sering kali direkomendasikan 11)Suka menggerakkan tubuhnya secara berlebihan 12)Sering atau banyak berbicara 13)Tidak bisa menunggu giliran 14)Sering bertindak tanpa berpikir 15)Tidak memiliki rasa takut c. Pengertian Konsentrasi Konsentrasi adalah pemusatan daya pikiran dan perbuatan pada suatu objek yang dipelajari dan mengabaikan segala hal yang tidak ada hubungannya dengan objek yang dipelajari (Surya, 2009). Sehingga, setiap individu memusatkan dan mengerahkan perhatiannya pada pekerjaannya dan aktivitasnya dalam konsentrasi. Menurut Surya (2009), ketika perilaku negatif siswa dilakukan kepada seseorang, maka hal itu akan mempengaruhi konsentrasi orang tersebut. Padahal, terjadinya proses belajar mengajar membutuhkan konsentrasi belajar para pelakunya. Santrock (2009) berpendapat juga bahwa perhatian dan konsentrasi siswa adalah aspek penting dalam proses menerima dan memahami informasi. Berdasarkan paparan di atas, konsentrasi adalah pemusatan pemikiran kepada suatu objek tertentu. Semua kegiatan kita membutuhkan konsentrasi. Dengan konsentrasi kita dapat mengerjakan pekerjaan lebih cepat dan dengan hasil yang lebih baik. Karena kurang konsentrasi hasil pekerjaan biasanya tidak dapat maksimal dan diselesaikan dalam waktu yang cukup lama. d. Pengertian Hiperaktif Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal yang disebabkan disfungsi neurologia dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Begitu pula anak hiperaktif adalah anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian. 56 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Menurut Herawan dalam Zaviera (2008: 14), "Ditinjau secara psikologis, hiperaktif adalah gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian." Anak dengan gangguan hiperaktivitas tidak bisa berkonsentrasi lama lebih dari lima menit. Dengan kata lain, ia tidak bisa diam dalam waktu lama dan mudah teralihrkan perhatiannya kepada hal lain. hiperaktif merupakan gangguan tingkah laku yang tidak normal, disebabkan disfungsi neurologis dengan gejala utama tidak mampu memusatkan perhatian. Sedangkan menurut Prasetyono (2008: 100-101): Hiperaktif adalah suatu peningkatan aktivitas motorik hingga pada tingkatan tertentu dan menyebabkan gangguan perilaku yang terjadi pada dua tempat dan suasana yang berbeda. Aktivitas anak tidak lazim, cenderung berlebihan dan ditandai dengan gangguan perasaan gelisah, selalu menggerakgerakkan jari-jari tangan, kaki, pensil, tidak dapat duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan tempat duduknya meskipun seharusnya ia duduk dengan tenang. Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hiperaktif adalah suatu tindakan atau perilaku seseorang yang sangat berlebihan dan melampaui batas kewajaran karena adanya kekurangan dalam keberhasilan mempertahankan perhatian/konsentrasi, mengontrol dorongan dan mengatur aktivitas gerak dalam merespon atau menanggapi sekitarnya dengan harapan dapat menarik perhatian orang lain di sekitarnya. 3. Faktor penyebab ganguan ADHD Faktor Penyebab/Etiologi ADHD Menurut Kaplan (1944) dalam ervina (2015, 28), penyebab ADHD adalah : 1. Faktor Genetik Kerabat anak hiperaktif adalah masyarakat umum, yaitu orang tua kandung anak tersebut mempunyai risiko dua kali lipat dibandingkan : Orang tua dengan kelainan ini memiliki risiko lebih tinggi terkena gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif dibandingkan orang tua angkat. 2. Cedera Otak Cedera otak dapat disebabkan oleh stres dan kerusakan fisik otak pada masa anak usia dini akibat gangguan peredaran darah, zat beracun, zat metabolik, faktor mekanis, dan faktor lainnya, serta infeksi, peradangan, dan trauma. 3. Faktor Neurokimia Beberapa temuan dihasilkan dari penggunaan sejumlah obat yang mempunyai efek positif pada gangguan ini. 4. Faktor Neurologis Otak manusia biasanya mengalami tingkat pertumbuhan yang besar pada berbagai usia: 3-10 bulan, 2-4 tahun, 6-8 tahun, 10-12 tahun, 14-16 tahun. 5. Beberapa anak mengalami gejala ADHD yang tampaknya bersifat sementara seiring dengan semakin matangnya perkembangan mereka seiring berjalannya waktu. 6. Faktor Psikososial Anak-anak yang berada dalam pengasuhan seringkali hiperaktif dan mempunyai rentang perhatian yang pendek. Tanda ini muncul dari perpisahan emosional yang berkepanjangan. Gejala hilang ketika faktor pemisah, seperti adopsi atau pengasuhan. Peristiwa fisik dan faktor pemicu kecemasan dalam keseimbangan keluarga berperan dalam timbulnya 57 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 atau menetapnya ADHD. Berdasarkan uraian di atas banyak faktor penyebab terjadinya gangguan ADHD pada anak (Mengenali Adhd (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Dan Penangannya Pada Anak Sejak Dini, N.D.). 4. Peran Guru untuk pendampingannya anak ADHD hiperaktif impulsif, dan bentuk Vienna Sanjaya menggambarkan peran pendidik sebagai berikut, pendidik berfungsi sebagai sumber belajar mereka memfasilitasi pembelajaran, mereka mengelola, mereka menunjukkan, mereka memberikan bimbingan, mereka menginspirasi, Mereka menentukan hasil. 29 dari tujuh tugas yang dapat dilakukan pendidik, mereka paling penting ketika datang untuk menemani peserta di taman kanak-kanak, terutama ketika datang ke anak-anak dengan ADHD. Ini karena anakanak dalam kelompok usia ini memerlukan pengawasan, motivasi, fasilitasi, sumber belajar, demonstrasi, dan evaluasi guru. dan masih membutuhkan pengawasan dan pertahanan untuk mencegah hasil yang tidak diinginkan. Menurut Sugiarmin dalam Baihaqi, pendekatan terbaik untuk mengobati anak-anak dengan ADHD adalah memilih metode yang paling cocok dan kemudian sering mempraktikkannya. Metode pertama yang digunakan adalah menyingkirkan atau meminimalkan perilaku yang tidak diinginkan (Rahmani, n.d.). Untuk mengidentifikasi permasalahan pada anak ADHD, pihak sekolah menelusuri latar belakang anak, mengamati perilaku anak, memperoleh informasi yang disampaikan dari orang tua siswa, dan mendiskusikan apakah anak tersebut sebaiknya mendapat layanan IEP. Kami kemudian memberikan penilaian dengan mengamati perilaku anak ADHD sesuai teori para ahli tentang ciri-ciri ADHD. Perawatan yang dilakukan di dalam kelas adalah : a) Mengalihkan anak ADHD dengan berlari dengan duduk di depan, bermain tekateki, bermain boneka tangan, bernyanyi, senam otak, bertepuk, dan masih banyak kegiatan Untuk membantu anak berkonsentrasi pada guru pada saat permainan asah otak dan tepuk tangan, kami menjauhkan anak dari jendela dan mainan anak yang ada di dalam kelas agar tidak mengganggu konsentrasi belajarnya. b) Memberi nasihat kepada anak ketika mereka melakukan kesalahan. c) Pastikan anak tidak terganggu oleh mainan dan jendela di kelas. d) Menenangkan anak dengan memeluknya ketika dia menangis atau memberontak e) Membantunya untuk dapat memusatkan perhatian / konsentrasi mereka Dengan brain gym, pembuatan mind mapping dalam setiap materi pelajaran dan problem solving dapat membantu meningkatkan konsentrasi anak ADHD. f) Perhatikan pola komunikasi peserta didik di rumah dan di kelas. g) Memberikan aturan dengan melihatkan contoh kesedihan kalau anak melakukan kesalahan dan ekspresi senyum kalau mereka mengerjakan tugas dengan benar. h) Perhatikan anak dengan ADHD terutama selama proses pembelajaran Teknik atau cara yang telah diterapkan oleh guru diatas, dirasa mampu untuk meringankan dan penanganan tingkah laku yang dialami oleh anak ADHD di kelas maupun di luar kelas. Guru merupakan pengajar yang inovatif dan kreatif dalam 58 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 memberikan strategi-strategi pembelajaran bagi setiap anak yang berbeda-beda. Sehingga berjalannya proses kegiatan belajar mengajar dengan baik. 5. Peran Konselor Sekolah membantu meningkatkan konsentrasi siswa hiperaktif ADHD Siswa hiperaktif bukan karena kesengajaan, melainkan karena ketidakmampuan fisik diri. Siswa hiperaktif jika dibiarkan dalam jangka panjang dan tanpa penanganan khusus, maka gangguan tersebut dapat menjadi faktor penghambat bagi terbentuknya kepribadian yang matang pada usia dewasa. Selain itu juga dapat mengalami kesulitan untuk melakukan proses belajarnya. Hal ini bisa terjadi karena siswa cenderung bersikap tidak sewajarnya dan semaunya sendiri sehingga tidak ada motivasi untuk belajar dan akan mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian dan konsentrasi belajarnya. Konselor Sekolah berusaha membantu siswa hiperaktif dengan batasan-batasan dan profesionalitas seorang konselor sekolah dengan penekanan pada peningkatan konsentrasi belajarnya karena konsentrasi belajar merupakan ranah penanganan konselor. Menurut Sugiarmin dalam (Baihaqi, 2008: 68) dalam menerapkan teknik/cara untuk menangani siswa hiperaktif adalah pilihlah yang paling tepat lalu latihlah secara berulang-ulang. Jika teknik tertentu tidak memberikan hasil, ganti atau tambahlah dengan teknik yang lain. Sugiarmin dalam Baihaqi (2008: 68- 71) juga menyebutkan teknik yang digunakan yaitu: a. Menghilangkan atau mengurangi tingkah laku yang tidak dikehendaki Pertama carilah alasan mengapa siswa melakukan hal-hal tersebut, setelah itu tingkah laku yang tidak dikehendaki tadi diubah ke hal-hal yang lebih positif. b. Mengembangkan tingkah laku yang dikehendaki. Mengambangkan tingkah laku yang dikehendaki dilakukan dengan cara memberikan ulangan penguatan (reinforcement). Konselor Sekolah dalam membantu meningkatkan konsentrasi siswa adalah dengan menggunakan Brain gym maupun dengan Mind mapping yang bisa dikaitkan dengan tema maupun materi dalam pelajaran maupun dalam Bimbingan dan Konseling. Brain gym bisa menjadi alternatif dalam penanganan siswa hiperaktif. Brain gym dapat membantu siswa hiperaktif mengalihkan perilaku hiperaktifnya. Brain gym juga membantu mensinergikan kinerja otak kanan dan kiri. Gunawan (2007: 270) menjelaskan bahwa brain gym merupakan serangkaian gerakan tubuh yang sederhana yang digunakan untuk memadukan semua bagian otak untuk meningkatkan kemampuan belajar, membangun harga diri dan rasa kebersamaan. Gerakan dalam brain gym ini dilakukan dengan menggambar simbol infinity atau tak berhingga. Simbol ini berupa angka 8 tetapi digambarkan dalam bentuk melintang. Gerakan ini disebut gerakan lazy 8. Gerakan ini berfungsi untuk mengaktifkan mata kiri dan kanan secara bersamaan serta memadukan bidang penglihatan kanan dan kiri. Gerakan ini dilakukan dengan jari tangan, siku, pundak, dengan menjentikkan jari, dilantai, di meja, dengan menggenggam kedua tangan, gerakan gajah, dengan kepala ditempelkan dibahu, dan mengatupkan tangan secara terbalik. Senam otak (brain gym) diatas mampu berdampak pada perilaku hiperaktif. Brain gym ini untuk mangalihkan aktivitas59 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 aktivitas berlebih yang ingin dilakukan anak-anak ADHD dan mengontrol sikap dan tingkah lakunya. Selain itu juga penerapan peta pikiran (mind map) berguna untuk membantu siswa hiperaktif dalam meningkatkan konsentrasinya. Peta Pikiran (Mind Map) dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Tiap materi pelajaran mempunyai pokokpokok bahasan terpenting. Pokok bahasan tersebut yang akan digunakan dalam pembuatan peta pikiran (mind map). Peta pikiran (mind map) menjadi cara mencatat/ meringkas yang mengakomodir cara kerja otak secara natural. Berbeda dengan catatan konvensional yang ditulis dalam daftar panjang ke bawah, maka pada konsep mind map akan mengajak pikiran untuk membayangkan suatu subjek sebagai satu kesatuan yang saling berhubungan. Peta pikiran (Mind Map) adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan mengambil informasi ke luar otak. Mind Map adalah cara mencatat yang kreatif, efektif dan secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran. 6. Permasalahan Pada Anak Dengan Gangguan ADHD Anak dengan gangguan ADHD sering kali mengalami kesulitan, beberapa permasalahan yang di alami anak dengan gangguan ADHD yakni. 1. Masalah sosial Menurut wender & tomb, 2017) dalam buku chynthia (2021, 19-20) Anak dengan gangguan ADHD sering kali kurang dapat mengontrol diri atau temperamennya, sehingga ia dapat melakukan agresi atau BB mengganggu orang lain. Sehingga menyebabkan orang lain menjadi marah, menghukum dan menolak anak, ketika anak merasa ditolak, ia menjadifrustrasi dan melakukan agresi. Selain itu, anak dengan gangguan ADHD cenderung kurang peka terhadap perasaan orang lain dan masalah pada koordinasi tubuhjuga menyebabkan anak kesulitan untuk turut serta dalam permainan tertentu . 2. Masalah belajar Menurut wender & tomb, 2017) dalam buku chynthia (2021, 19-20) Anak dengan gangguan ADHD sering kali kesulitan dalam berkonsentrasi untuk waktu yang lama, kurang dapat mempelajari sesuatu secara terstruktur, serta kesulitan mengatur jadwal, sehingga ia sering mengalami kesulitan dalam memahami materi. Akibatnya, anak dengangangguan ADHD cenderung kurang berprestasi atau underachiever. Permasalahan ini menjadi semakin buruk ketika ia mendapatkan kritik, baik dari guru, orang tua, atau orang lain di sekitarnya. Anak akan memiliki harga diri yang rendah dan menjadi kurang antusias ketika belajar. Akibatnya, hasil belajar anak menjadi lebih buruk. 7. Analisis perilaku anak dengan gangguan ADHD Cara Menganalisis Perilaku anak dengan ganguan ADHD; (Buku Pedoman Deteksi Dini Gangguan Pemusatan, n.d.) a. Memahami motivasi dan fungsi perilaku anak relatif sederhana: mengetahui apa yang disukainya misalnya pujian, perhatian, hadiah materi dan aktivitas menarik lainnya. Untuk menghindari sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti kutukan, pengabaian, hukuman, atau aktivitas yang tidak menyenangkan. 60 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 b. Mampu memahami motivasi di balik perilaku anak membantu guru memutuskan metode mana yang akan digunakan untuk mengubah perilaku anak. Hal ini juga memungkinkan guru untuk memprediksi metode mana yang lebih efektif. c. Menganalisis anteseden dan konsekuensi. Anteseden adalah peristiwa yang terjadi segera sebelum suatu tindakan terjadi. Hal ini bisa berupa orang, lingkungan, atau peristiwa dan dapat menjadi pemicu perilaku tersebut. Konsekuensi mengacu pada peristiwa yang terjadi segera setelah suatu tindakan terjadi, misalnya anak menerima imbalan atau kehilangan hak tertentu. Anteseden dan konsekuensi merupakan faktor penting yang mempengaruhi terjadinya suatu perilaku. Jika permasalahan tersebut dapat diselesaikan, guru dapat mencoba hal berikut: 1) Mengubah prasyarat tetapkan aturan yang mengharuskan tangan diangkat sebelum menjawab pertanyaan. 2) Mengubah Hasil Jika anak Anda menangis, jangan biarkan mereka menjawab pertanyaan Anda. Sebaliknya, gunakan strategi pengelolaan di bagian selanjutnya untuk mengurangi perilaku yang tidak diinginkan pada anak Anda. Jika anak Anda mengikuti aturan dan mengangkat tangannya sebelum menjawab pertanyaan, pujilah dia dan dorong dia untuk memperkuat perilaku yang Anda inginkan. 8. Problem dan solusi Guru dalam membimbing anak berkebutuhan khusus ADHD hiperaktif Impulsif Menurut fajar miftahul selaku guru pembimbing ibrahim anak yang mengalami gangguan ADHD hiperaktif implusif. Terdapat banyak problem dalam menangani murid yang meiliki gangguan ini. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru pembimbing, fajar selaku guru mengemukakan kesulitan-kesulitan ketika kegiatan belajar mengajar berlangsung, berikut ini beberapa kesulitan yang di alami oleh guru pembimbing. a. Perhatian anak mudah teralihkan Ketika guru menjelaskan jika ada suara yang dapat mengganggu konsentrasinya, anak tersebut akan mendatangi atau mencari sumber suara. Sehingga dibutuhkan lebih dari satu guru endamping untuk mengawasi anak tersebut. b. Kesulitan dalam berkomunikasi Anak dengan gangguan ADHD hiperaktif implusif yang di temui penulis mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, seorang guru memberikan beberapa pertanyaaan secara berturut anak tersebut tidak bisa menjawab, dan anak tersebut mengalami keterlambatan dalam mengenal huruf sehingga kesulitan untuk berbicara dengan orang lain. c. Penurunan daya ingat Normalnya anak usia dini meiliki daya ingat yang bagus. Tetapi tidak untuk anak yang mengalami gangguan ADHD hiperaktif implusif. Guru pembimbing memberikan informasi bahwa anak tersebut memiliki daya ingat yang kurang bagus, anak tersebut akan lupa kegiatan apa yang telah di lakukan sebelumnya. d. Kontrol emosional Anak dengan gangguan ADHD hiperaktif implusif tidak dapat mengkontrol emosional dalam dirinya. Jika anak tersebut di ganggu oleh teman sebayanya maka emosinya tidak terkendali. 61 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 9. Solusi guru pembimbing mengatasi anak dengan gangguan ADHD hiperaktif implusif Beberapa solusi menurut para ahli a. Menurut Dannison brain gym seperangkat latihan fisik yang mudah dipelajari yang meningkatkan kemampuan kognitif anak-anak melalui penggunaan perhatian. Adapun gerakan yang terlibat dalam brain gym, Prasetyo dan Shandy menyatakan bahwa itu dirancang untuk merilekskan otak di bagian depan dan belakang (dimensi fokus), mengaktifkan daerah lateral dan fokus otak, dan merangsang sistem emosional dan perasaan otak, khususnya daerah atas dan bawah (dimensi konsentrasi). Di antara banyak keuntungan dari brain gym adalah kemampuan untuk fokus pada keadaan saat ini. Menurut pendapat berbeda Nuryana dan Purwanto, brain gym dapat membantu anak-anak lebih memperhatikan di kelas dan temuan penelitian oleh Di antara banyak keuntungan dari brain gym adalah kemampuan untuk fokus pada keadaan saat ini. Brain gym terbukti meningkatkan konsentrasi belajar anak, menurut pendapat Nuryana dan Purwanto. Penelitian Harini tentang dampak brain gym terhadap perilaku(Iftitah, 2022) b. Terapi Back In Control Profesional medis dan dokter dapat memberikan perawatan.Namun, Anda juga dapat menggunakan Terapi Kembali dalam Kontrol Gregory Bodenhamer.Hal ini didasarkan pada pedoman yang diberikan kepada orang tua dengan harapan dapat menetapkan pedoman di rumah untuk membantu anak penderita ADHD berperilaku lebih baik. Lebih baik lagi, bermitralah dengan orang tua, sekolah, dan guru kelas untuk menerapkan program yang menyediakan aktivitas menarik dan menetapkan pedoman yang jelas untuk diikuti oleh anak usia dini c. buat program IEP Tujuan dari Program Pendidikan Individual, atau IEP, adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan pendidikan spesifik setiap siswa. IEP adalah program lain yang dirancang khusus untuk setiap orang dengan kondisi tertentu (Iftitah, 2022). KESIMPULAN Dapat disimpulkan berdasarkan beberapa pendapat para ahli dan studi kasus yang terdapat dalam artikel ini, bahwa program terapi Back in Control dan program IEP memiliki peran penting dalam membantu anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti ADHD. Peran guru dan orang tua sangat vital dalam pengembangan kemampuan anak ADHD, baik di sekolah maupun di rumah. Guru harus berperan sebagai sumber belajar dan motivator, sementara orang tua perlu memberikan dukungan yang tepat. Teknik seperti Brain Gym juga dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan perilaku anak ADHD. Dengan kerjasama antara petugas kesehatan, dokter, guru, orang tua, dan program-program terapi yang sesuai, diharapkan anak-anak dengan kebutuhan khusus dapat menerima pendidikan dan perawatan yang optimal. DAFTAR KEPUSTAKAAN Amalia, R. (2018). Intervensi Terhadap Anak Usia Dini Yang Mengalami Gangguan Adhd Melalui Pendekatan Kognitif Perilaku Dan Alderian Play Therapy. Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 2(1), 27. Https://Doi.Org/10.31004/Obsesi.V2i1.4 62 Jurnal Ar-Raihanah: Pendidikan Islam Anak Usia Dini Volume 4 Nomor 1 Juni 2024 E-ISSN: 2830-5868 P-ISSN: 2614-7831 Gunawan, L. (N.D.). Komunikasi Interpersonal Pada Anak Dengan Gangguan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (Adhd). Iftitah, S. L. (2022). Upaya Guru Dalam Membimbing Anak Hiperaktif Di Tk Pkk Tanjung Pademawu Pamekasan. Jurnal Anak Usia Dini Holistik Integratif (Audhi) , 5(1), 15. Https://Doi.Org/10.36722/Jaudhi.V5i1.950 Rahmani, S. (N.D.). Peran Guru Dalam Penanganan Anak Attention Deficit And Hyperactivity Disorder. Silitonga, K., Sibagariang, R. U., & Herlina, E. S. (2023). Pola Asuh Orang Tua Dalam Penanganan Adhd (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Pada Anak Usia Dini . 2. Hidayati, R. (2014). Peran Konselor Sekolah Dalam Meningkatkan Konsentrasi Pada Siswa Hiperaktif (Adhd). Refleksi Edukatika: Jurnal Ilmiah Kependidikan, 4 (1). Edward, Caroline. 2009. Mind Mapping Untuk Anak Sehat Dan Cerdas. Yogyakarta: Sakti. Chanet, G. D., & Utami, A. B. (2021). Menurunkan Perilaku Adhd Dengan Melakukan Aktivitas Fisik Pada Anak Usia Dini. Syntax Idea, 3(2), 291-297. Nurfadhillah, S., Oktavia, A., Hadisumarno, R., Kusumawati, N. I., Fauziah, S., & Ismawati, S. (2021). Analisis Peranan Guru Kelas Dalam Menangani Siswa Adhd Di Sdn Tanah Tinggi 3. Ani, F. (2022). Intervensi Terhadap Anak Usia Dini Yang Mengalami Gangguan Adhd Melalui Pendekatan Kognitif. Jurnal Judikhu, 2(1), 21-29 63