JURNAL KEPEMIMPINAN & PENGURUSAN SEKOLAH Homepage : https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/jp Email : jkps. stkippessel@gmail. p-ISSN : 2502-6445 . e-ISSN : 2502-6437 Vol. No. September 2025 Page 1042-1048 A Author Jurnal Kepemimpinan & Pengurusan Sekolah TRANSFORMASI MANAJEMEN SEKOLAH MENUJU MODEL KOLABORATIF: MEMBANGUN BUDAYA ORGANISASI PARTISIPATIF UNTUK OPTIMALISASI PENGEMBANGAN KURIKULUM Rohid Refaldo Syah Putra1 1 Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatulah Tulungagung. Indonesia Email: rohidrefaldo0205@gmail. DOI: https://doi. org/10. 34125/jkps. Sections Info Article history: Submitted: 23 June 2025 Final Revised: 11 July 2025 Accepted: 16 August 2025 Published: 24 September 2025 Keywords: School Management Participatory Culture Curriculum Development ABSTRAK The transformation of school management towards a collaborative model grounded in participatory organizational culture is essential to address the challenges of developing relevant and adaptive curricula in modern education. The prevailing centralized management patterns in Indonesian schools limit the participation of school members in curriculum decision-making, resulting in curricula that are less contextual and do not fully meet studentsAo need. This study applies a qualitative approach using literature review and descriptive-analytical methods to examine various theoretical and empirical The findings indicate that implementing participatory culture, collaborative leadership, open communication, continuous training, and a consistent culture of evaluation and improvement are fundamental to creating a responsive curriculum. Schools adopting participatory management are proven to be more adaptive to change, enhance a sense of ownership, and strengthen collaboration among all school The study concludes that transforming organizational culture towards a participatory model is a key strategy for developing contextual, effective, and sustainable curricula, and is capable of improving the overall quality of education. ABSTRAK Transformasi manajemen sekolah menuju model kolaboratif berbasis budaya organisasi partisipatif menjadi kebutuhan utama dalam menghadapi tantangan pengembangan kurikulum yang relevan dan adaptif di era pendidikan modern. Masih dominannya pola manajemen sentralistik di sekolah-sekolah Indonesia menyebabkan rendahnya partisipasi warga sekolah dalam pengambilan keputusan kurikulum, sehingga kurikulum yang dihasilkan kurang kontekstual dan tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan peserta didik. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui metode pustaka dan analisis deskriptif-analitis terhadap literatur dan studi kasus empiris. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan budaya partisipatif, kepemimpinan kolaboratif, komunikasi terbuka, pelatihan berkelanjutan, serta budaya evaluasi dan perbaikan secara konsisten merupakan fondasi utama dalam menciptakan kurikulum yang responsif. Sekolah yang mengadopsi manajemen partisipatif terbukti lebih adaptif terhadap perubahan, meningkatkan rasa memiliki, serta memperkuat kolaborasi seluruh komponen sekolah. Simpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa transformasi budaya organisasi menuju pola partisipatif merupakan strategi kunci untuk pengembangan kurikulum yang kontekstual, efektif, dan bekerlanjutan, serta mampu meningkatkan kualitas pendidikan yang menyeluruh. Kata kunci: Manajemen Sekolah. Budaya Partisipatif. Pengembangan Kurikulum Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Tranformasi Manajemen Sekolah Menuju Model Kolaboratif: Membangun Budaya Organisasi Partisipatif untuk Optimalisasi Pengembangan Kurikulum PENDAHULUAN Manajemen sekolah merupakan komponen strategis yang memainkan peran penting dalam menentukan arah dan keberhasilan pendidikan di tingkat satuan pendidikan. Manajemen sekolah sekarang dituntut untuk menjadi katalisator untuk inovasi yang meningkatkan kualitas pembelajaran secara keberlanjutan dari pada hanya menangani urusan administratif dan keuangan. Kepala sekolah dan tim pengelola sekolah harus bergerak dari pendekatan otoriter ke arah kerja sama demokratis dan kolaboratif sesuai dengan perkembangan paradigma abad ke-21 kini. Keterlibatan seluruh warga sekolah dalam sistem manajemen modern sangat penting untuk keberhasilan pengelolaan sekolah, termasuk dalam hal-hal penting seperti pengembangan kurikulum (Darling-Hammond et al. , 2. Dalam sistem manajemen modern, keberhasilan sekolah sangat bergantung pada keterlibatan seluruh warga sekolah, khusunya dalam aspek strategis seperti pengembangan Pengembangan kurikulum yang berbasis partisipasi merupakan salah satu praktik terbaik dalam menerapkan manajemen kolaboratif di pendidikan. Kurikulum tidak hanya berfungsi sebagai pengaturan materi dan struktur pembelajaran, tetapi juga merupakan refleksi nilai pedagogis, kebutuhan akademis, dan keadaan sosial yang dimiliki peserta didik. Oleh karena itu, proses penyusunan kurikulum harus melibatkan berbagai komponen sekolah, seperti pendidik sebagai fasilitator pembelajaran, peserta didik sebagai subjek utama proses pendidikan, orang tua sebagai peran strategis yang menjembatani antara lingkungan formal dan informal, serta tenaga pendidikan yang memahami dinamika operasional pendidikan dan aspek implementasi kurikulum. Keterlibatan aktif dan terkoordinasi dari seluruh komponen tersebut akan menghasilkan produk kurikulum yang kontekstual dan bermakna. Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukan bahwa banyak sekolah di Indonesia masih mengadopsi pola manajemen yang bersifat hierarki dan tertutup. Terdapat sekitar 65 persen sekolah di Indonesia masih menerapkan sistem pengambilan keputusan yang sentralistik, dimana kepala sekolah atau sekelompok kecil individu menjadi pengambil keputusan utama tanpa melibatkan komponen sekolah lainnya secara inklusif (Badan Pusat Statistik, 2. Sehingga, kurikulum yang dihasilkan sering kali tidak mencerminkan kebutuhan nyata peserta didik dan kurang responsif terhadap karakteristik lokal masyarakat di sekitar sekolah. Situasi ini berdampak pada menurunnya semangat serta rasa tanggung jawab kolektif dalam pelaksanaan kurikulum di dalam kelas. Oleh karena itu, penting untuk mendorong partisipasi yang lebih luas dalam proses pengembangan kurikulum agar dapat memenuhi kebutuhan semua pihak yang terlibat. Minimnya keterlibatan ini merupakan masalah teknis dan menunjukkan kegagalan budaya organisasi dalam mengelola perubahan. Tidak adanya ruang partisipatif membuat anggota komunitas sekolah merasa terasing dari proses pembelajaran. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menyebabkan kurikulum menjadi kurang efektif dan menimbulkan perbedaan antara kebijakan pendidikan dan praktik pembelajaran sehari-hari. Transformasi budaya organisasi menuju pola partisipatif menjadi sangat penting. Hal ini diperlukan agar visi manajemen sekolah dapat disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan di tingkat lokal. Solusi strategis untuk manajemen sekolah yang kompleks adalah budaya organisasi yang mendorong partisipasi. Budaya ini menekankan kerja sama, komunikasi terbuka, dan pengambilan keputusan yang melibatkan seluruh komponen sekolah sebagai pemangku kepentingan utama. Sekolah-sekolah yang menggunakan pendekatan partisipatif cendurung lebih mampu mengadaptasi dinamika perubahan. Mereka juga memiliki kemampuan untuk membuat kebijakan kurikulum yang beradaptasi dengan kebutuhan kontekstual. Lebih jauh, pendekatan ini mengubah identitas sekolah dari sekadar entitas administratif menjadi Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Tranformasi Manajemen Sekolah Menuju Model Kolaboratif: Membangun Budaya Organisasi Partisipatif untuk Optimalisasi Pengembangan Kurikulum komunitas pembelajaran yang hidup dan signifikan. Esai ini akan menganalisis secara menyeluruh bagaimana budaya organisasi partisipatif dapat memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kurikulum dan optimalisasi keterlibatan seluruh komponen sekolah dalam proses pendidikansekolah agar kebijakan yang lahir relevan dengan kebutuhan peserta METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka dan analisis desktiptif. Pendekatan ini berfokus untuk menganalisis konsep transformasi manajemen sekolah menuju model kolaboratif dan dampaknya terhadap pengembangan kurikulum berdasarkan kajian teoretis dan empiris yang telah ada. Penelitian ini mengadopsi desain penelitian deskriptif-analitis yang bertujuan untuk mendeskripsikan konsep budaya organisasi partisipatif dalam konteks manajemen sekolah, menganalisis hubungan antara kepemimpinan kolaboratif dengan efektivitas pengembangan kurikulum, serta mensintesis temuan-temuan empiris dari berbagai studi yang relevan. Metode kepustakaan dalam penelitian ini dilakukan dengan pendekatan penelitian kualitatif yang didasarkan pada literature atau referensi pustaka untuk mendapatkan informasi, analisis, dan pemahaman melalui berbagai sumber, termasuk buku, artikel, jurnal, dan sumber akademik lainnya, yang dapat ditemukan di perpustakaan, basis data penelitian, atau mesin pencari akademik. HASIL DAN PEMBAHASAN Budaya Organisasi Partisipatif sebagai Fondasi Pengembangan Kurikulum yang Responsif Budaya organisasi partisipatif di lingkungan sekolah merupakan argumen utama dan landasan fundamental dalam pengembangan kurikulum yang efektif, relevan, dan adaptif. Budaya partisipatif memungkinkan keterlibatan aktif seluruh komponen sekolah dalam proses pengambilan keputusan, perencanaan, dan evaluasi kurikulum. Keterlibatan ini terbukti meningkatkan kesesuaian dan keefektivitasan kurikulum terhadap kebutuhan peserta didik, karakteristik lokal, dan kondisi lingkungan sekolah. Seperti studi kasus di MI Negeri 1 Bandung Barat menunjukkan bahwa pelaksanaan lokakarya tahunan yang melibatkan berbagai pihak dalam perencanaan kurikulum berhasil meningkatkan kualitas dan kontekstualitas kurikulum yang dihasilkan (Ropik & Nugraha, 2. Hasil penelitian tersebut juga menegaskan bahwa keterlibatan para pemangku kepentingan adalah faktor utama dalam mengembangkan kurikulum yang sesuai dan selaras dengan kebutuhan masyarakat. Bukti empiris ini memperjelas bahwa budaya partisipatif bukan hanya sekadar wacana atau idealisme, melainkan kebutuhan mendesak dan nyata untuk menjawab tantangan pendidikan masa kini yang semakin kompleks dan dinamis, sehingga kurikulum harus dapat menjawab tantangan pendidikan kontemporer. Transformasi Peranan Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Kolaboratif Transformasi peranan kepala sekolah dari pemimpin otoriter menjadi pemimpin yang kolaboratif merupakan aspek krusial dalam manajemen sekolah saat ini. Gaya kepemimpinan yang mengedepankan partisipasi, dimana kepala sekolah berperan sebagai fasilitator dan motivator, terbukti mampu menciptakan lingkungan sekolah yang inovatif dan adaptif. Pendekatan ini dapat meningkatkan motivasi guru, memperkuat solidaritas kelompok, dan mempercepat proses penerapan pada perubahan kurikulum. Penelitian terbaru menegaskan bahwa model kepemimpinan bersama . hared leadershi. di SDN 030/XI Sungai Penuh mampu Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Tranformasi Manajemen Sekolah Menuju Model Kolaboratif: Membangun Budaya Organisasi Partisipatif untuk Optimalisasi Pengembangan Kurikulum menciptakan lingkungan belajar yang inklusif, produktif, dan adaptif terhadap kebutuhan semua komponen sekolah (Yenti & Nurzen, 2. Indikator utama keberhasilan model ini adalah transparansi, komunikasi terbuka, partisipasi aktif, serta pembagian tanggung jawab yang merata antara kepala sekolah, guru, staf, peserta didik, dan orang tua peserta didik. Sekolah yang menerapkan kepemimpinan kolaboratif tersebut lebih mudah menerima dan menjalankan inovasi karena seluruh anggota merasa dilibatkan dan memiliki dalam proses perubahan tersebut. Keterbukaan Komunikasi dan Penguatan Rasa Memiliki Komunikasi terbuka dalam organisasi sekolah memainkan peran krusial dalam memperkuat rasa memiliki terhadap kurikulum sekaligus meningkatkan efektivitas sekolah secara keseluruhan. Ketika seluruh warga sekolah diberi ruang untuk menyampaikan pendapat dan terlibat dalam diskusi, mereka merasa dihargai dan memiliki tanggung jawab bersama terhadap keberhasilan implementasi kurikulum. Hal ini didukung oleh studi di SDN 1 Karangsari Waled Cirebon yang menunjukkan bahwa budaya organisasi yang kuat, termasuk keterbukaan komunikasi, memiliki korelasi positif dengan efektivitas sekolah dengan koefisien hubungan sebesar 0,521 (Karlina et al. , 2. Selain itu, penelitian lain menunjukkan bahwa budaya organisasi yang kuat juga mampu meningkatkan kepuasan, motivasi, dan komitmen anggota terhadap intitusi pendidikan (Wiyono, 2. Data ini menunjukkan bahwa komunikasi terbuka tidak hanya mendukung keberhasilan dalam implementasi kurikulum, tetapi juga berperan dalam membentuk ekosistem pendidikan yang sehat dan produktif. Pelatihan dan Pengembangan Kapasitas Berkelanjutan Pelatihan dan pengembangan kapasitas secara berkelanjutan merupakan salah satu pondasi bagi peningkatan kualitas manajemen sekolah dan pengembangan kurikulum yang Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelatihan guru yang dilaksanakan secara rutin dan berkesinambungan memberi dampak besar terhadap peningkatan keterampilan pedagogis, penguasaan teknologi pendidikan, serta kemampuan manajemen kelas para pendidik (Ahmad, 2. Dalam konteks pendidikan Indonesia, pengembangan kapasitas tidak hanya terbatas pada peningkatan kompetensi guru, tetapi juga mencakup seluruh kompenen sekolah. Pentingnya pelatihan berkelanjutan bagi guru dalam pengembangan kurikulum juga diperkuat oleh penelitian di SD Inpres Jenebatu. Kabupaten Gowa. Studi ini menunjukkan bahwa pelatihan guru yang terstruktur dan berkelanjutan sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman dan kemampuan guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka Belajar. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pelatihan yang diberikan mampu meningkatkan penguasaan dan implementasi kurikulum dengan kategori AuSangat TinggiAy, serta memberikan pengaruh signifikan terhadap keberhasilan pelaksanaan kurikulum di sekolah tersebut. Data statistik menunjukkan nilai signifikansi 0. 004 (<0. dan R2 sebesar 84,3%, yang menandakan kontribusi besar pelatihan terhadap variabel dependen, yaitu implementasi kurikulum (Novelti et al. , 2. Ini menunjukkan bahwa investasi dalam pelatihan berkelanjutan menghasilkan peningkatan nyata pada kualitas pengajaran dan pengembangan kurikulum. Budaya Evaluasi dan Perbaikan Keberlanjutan Budaya evaluasi dan perbaikan keberlanjutan merupakan elemen vital dan fondasi penting bagi sekolah yang ingin terus berkembang, beradaptasi dengan perubahan zaman, serta memastikan bahwa setiap inovasi dan perubahan yang diimplementasikan dapat terus disempurnakan dan disesuaikan dengan kebutuhan kontemporer. Evaluasi yang dilakukan Jurnal Kepemimpinan dan Pengurusan Sekolah: https://ejurnal. stkip-pessel. id/index. php/kp Tranformasi Manajemen Sekolah Menuju Model Kolaboratif: Membangun Budaya Organisasi Partisipatif untuk Optimalisasi Pengembangan Kurikulum secara rutin, berkelanjutan, dan sistematis mampu mendorong perbaikan kinerja organisasi secara konsisten, sekaligus memungkinkan sekolah mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan dalam pelaksanaan program serta merancang strategi perbaikan yang efektif. Studi kasus di Madrasah Ibtidaiyah Hasanuddin menunjukkan bahwa strategi evaluasi berkelanjutan tidak semata-mata berperan sebagai instrumen penilaian retrospektif, melainkan juga sebagai mekanisme adaptif terhadap perubahan dan mampu memberikan umpan balik kontruktif untuk perbaikan berkelanjutan (Basri, 2. Sementara itu, studi di SMPN 1 Tulungagung menunjukkan bahwa evaluasi pengembangan kapasitas dilakukan melalui supervisi berkala untuk memastikan kesesuaian antara perencanaan dan implementasi program, serta mendorong perbaikan keberlanjutan berdasarkan hasil evaluasi tersebut (Junaris, 2. Bukti-bukti tersebut menegaskan bahwa budaya evaluasi harus menjadi bagian integral dari tata kelola sekolah modern, yang akan membangun ekosistem pendidikan yang adaptif dan inovatif. Evaluasi yang berbasis data dan umpan balik nyata dari lapangan akan mempermudah pengambilan keputusan yang lebih tepat, fleksibel, dan responsif terhadap keperluan akademik peserta didik serta perkembangan lingkungan eksternal. Dengan demikian, evaluasi juga mendorong terciptanya siklus perbaikan berkelanjutan yang menjadi ciri khas organisasi pembelajaran, memastikan bahwa sekolah dapat terus berkembang dan memberikan pelayanan pendidikan berkualitas tinggi yang sesuai dengan tuntutan zaman. KESIMPULAN Penelitian ini menegaskan bahwa transformasi budaya organisasi sekolah menuju pola partisipatif dan kolaboratif merupakan kunci utama dalam pengembangan kurikulum yang relevan, responsif, dan adaptif terhadap kebutuhan peserta didik serta dinamika lingkungan Keterbukaan komunikasi dan penguatan rasa memiliki terbukti memperkuat partisipasi aktif seluruh warga sekolah, sehingga tercipta ekosistem pendidikan yang sehat, inovatif, dan produktif. Pelatihan dan pengembangan kapasitas berkelanjutan bagi guru dan tenaga kependidikan menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kualitas manajemen sekolah serta kesiapan menghadapi perubahan kurikulum dan teknologi pendidikan. Selain itu, budaya evaluasi dan perbaikan berkelanjutan yang terintegrasi dalam tata kelola sekolah mendorong terciptanya siklus perbaikan yang adaptif dan inovatif, serta memastikan setiap kebijakan dan program pendidikan selalu relevan dengan kebutuhan kontemporer. Studi kasus yang diangkat dalam penelitian ini memperkuat argument bahwa sekolah-sekolah yang mengedepankan partisipasi, kolaborasi, pelatihan berkelanjutan, serta evaluasi sistematis memiliki daya tahan dan kesiapan lebih baik dalam menghadapi tantangan pendidikan abad ke-21 ini. Oleh karena itu, seluruh komponen pendidikan perlu berkomitmen untuk membangun dan mengembangkan budaya organisasi yang partisipatif, komukatif, dan adaptif demi optimalisasi mutu di Indonesia. REFERENSI