Journal of Pharmaceutical and Sciences Electronic ISSN: 2656-3088 DOI: https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Homepage: https://journal-jps. ORIGINAL ARTICLE JPS. 2026, 9. , 88-97 Exploration of the Hydration Effect of a Lotion Enriched with Clitoria ternatea Extract on Mus musculus Skin Exposed to UV Rays Eksplorasi Efek Hidrasi Lotion Yang Diperkaya Dengan Ekstrak Clitoria Ternatea Pada Kulit Mus Musculus Yang Terpapar Sinar UV Cheryl Lucita Prabowo a. Florence Pribadi a*, and Mellyanawati a a Faculty of Medicine. Ciputra University. Surabaya. East Java. Indonesia. *Corresponding Authors: florence. pribadi@ciputra. Abstract This study aimed to evaluate the effectiveness of a lotion enriched with butterfly pea flower extract (Clitoria ternate. in improving skin hydration in mice (Mus musculu. exposed to ultraviolet (UV) light. Butterfly pea flower extract is known to contain anthocyanins and phenolic compounds, which act as antioxidants and are thought to maintain skin moisture. The study design used an experimental method. Mice were randomly allocated into five groups . = 6 per grou. , consisting of a negative control group, a positive control group, and three treatment groups receiving butterfly pea flower extract lotion at concentrations of 0. 5%, 1%, and 2%. Skin hydration levels were measured using a Scalar Moisture Checker after five minutes of UV exposure. The results showed a significant difference in hydration levels between groups. The 1% butterfly pea flower extract lotion showed a significant increase in skin hydration compared to the negative control . < 0. , indicating its optimal moisturizing efficacy among the tested formulations. These findings indicate that butterfly pea flower extract has potential as an active ingredient in lotion formulations to improve hydration in skin damaged by UV light exposure. This study provides a scientific basis for the use of butterfly pea flower extract as a natural moisturizing agent. Keywords: Dermatology, botanical extract, dry skin, antioxidant, skin hydration. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas lotion yang diperkaya ekstrak bunga telang (Clitoria ternate. dalam meningkatkan hidrasi kulit mencit (Mus musculu. yang terpapar sinar ultraviolet (UV). Ekstrak bunga telang diketahui memiliki kandungan antosianin dan senyawa fenolik yang berperan sebagai antioksidan dan diduga mampu mempertahankan kelembapan kulit. Desain penelitian menggunakan metode eksperimental. Tikus secara acak dibagi menjadi lima kelompok . = 6 per kelompo. , yang terdiri dari kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan tiga kelompok perlakuan yang menerima losion ekstrak bunga telang dengan konsentrasi 0,5%, 1%, dan 2%. Tingkat hidrasi kulit diukur menggunakan Scalar Moisture Checker setelah lima menit terpapar sinar UV. Hasil menunjukkan perbedaan signifikan dalam tingkat hidrasi antar kelompok. Losion ekstrak bunga telang 1% menunjukkan peningkatan hidrasi kulit yang signifikan dibandingkan dengan kontrol negatif . < 0,. , menunjukkan efektivitas pelembap optimal di antara formulasi yang diuji. Temuan ini menunjukkan bahwa ekstrak bunga telang berpotensi sebagai bahan aktif dalam formulasi lotion untuk meningkatkan hidrasi kulit yang mengalami kerusakan akibat paparan sinar UV. Penelitian ini memberikan dasar ilmiah dalam pemanfaatan ekstrak bunga telang sebagai agen pelembap alami. Kata Kunci: Dermatologi, ekstrak botani, kulit kering, antioksidan, hidrasi kulit. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Copyright A 2020 The author. You are free to : Share . opy and redistribute the material in any medium or forma. and Adapt . emix, transform, and build upon the materia. under the following terms: Attribution Ai You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use. NonCommercial Ai You may not use the material for commercial purposes. ShareAlike Ai If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original. Content from this work may be used under the terms of the a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4. International (CC BY-NC-SA 4. License Article History: Received: 02/11/2025. Revised: 01/12/2025. Accepted: 01/12/2025. Available Online : 20/01/2026. QR access this Article https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendahuluan Permasalahan kerusakan kulit yang disebabkan paparan sinar UV telah menjadi perhatian global, khususnya bagi negara tropis seperti negara Indonesia, yang sepanjang tahunnya menerima intensitas sinar matahari yang tinggi. Rata-rata indeks UV di Indonesia berkisar antara 8Ae12 . angat tinggi hingga ekstre. , berdasarkan pengukuran BMKG pada kondisi cerah di siang hari . Kemenkes RI menerangkan bahwa ada peningkatan prevalensi gangguan kulit yang diakibatkan oleh paparan sinar UV dalam sepuluh tahun terakhir yaitu mencapai 15% . Sementara Puri et al. dalam penelitiannya menerangkan bahwa hasil 60% dari orang dewasa di Asia Tenggara mengalami dehidrasi dan masalah kulit kering yang diakibatkan paparan sinar UV . Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa kerusakan kulit yang disebabkan sinar UV tidak sebatas menyangkut permasalahan kosmetik saja, namun pula menyangkut masalah kesehatan yang lebih luas dan membutuhkan upaya intervensi secara efektif. Kerusakan kulit tersebut timbul akibat radikal bebas berupa sinar ultra violet yang menyebabkan kulit menjadi kemerahan, pigmentasi mengalami perubahan, dan dapat menimbulkan resiko kanker dalam jangka waktu panjang, dimana kulit secara berlebihan terpapar sinar UV sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada DNA akibat dampak dari proliferasi sel yang secara terus menerus terpapar sinar UV. Efek dari radikal bebas tersebut memerlukan senyawa yang dapat menangkal radikal bebas yaitu antioksidan . Beberapa penelitian sebelumnya sudah mengidentifikasikan bahwa paparan dari sinar UV menganggu fungsi pertahanan kulit dan menurunkan kadar TEWL dan menyebabkan dehidrasi kulit . Upaya melindungi kulit dari sinar UV dapat dilakukan dengan memakai tabir surya spektrum luas SPF 30 maupun di atasnya . , mengenakan pakaian pelindung UV . , menghindari paparan matahari pukul 10-14 saat radiasi UV paling kuat . , serta menggunakan produk perawatan kulit mengandung antioksidan. Salah satunya, ekstrak yang terbukti memiliki antioksidan dan efektif untuk melindungi kulit dari radiasi UV-B adalah ekstrak bunga telang, yang mampu menekan produksi MMP-1 akibat paparan sinar UV-B, melindungi kolagen, serta menjaga kelembapan kulit. Dengan kombinasi penggunaan ekstrak tanaman ini, kulit dapat terlindungi secara alami dari kerusakan akibat paparan sinar UV . Walaupun sudah ada banyak pengembangan terkait produk tabir surya dan pelembab, akan tetapi efektivitas dari produk tersebut masih terbatas untuk memulihkan hidrasi kulit saja atau menghambat paparan sinar UV saja. Penelitian terdahulu didapatkan hasil bahwa pemberian antioksidan diketahui bisa menjadikan kadar Reactive Oxidative Stress (ROS) menurun, sehingga proses peradangan bisa terhenti dan menghasilkan adanya produksi kolagen . Penurunan kadar ROS dari beberapa penelitian diketahui bisa dibantu dengan senyawa antioksidan pada bunga telang (Clitoria ternate. Gel yang diperkaya ekstrak bunga telang terbukti memiliki potensi untuk mengurangi kerusakan kulit akibat paparan sinar UV, karena kandungan antosianin dan flavonoidnya berperan sebagai antioksidan yang menangkal radikal bebas penyebab penuaan dini, serta meningkatkan kelembaban kulit secara signifikan . Bentuk sediaan lotion dipilih dalam penelitian ini karena karakteristik sistem emulsi oil-in-water (O/W) yang secara ilmiah dinilai lebih sesuai untuk kondisi kulit yang mengalami stres akibat paparan sinar UV. Emulsi O/W memiliki fase kontinu air yang memberikan sensasi sejuk dan mudah diratakan, serta fase minyak yang berperan sebagai emolien dalam membentuk film oklusif ringan pada permukaan kulit. Lapisan film ini mampu menurunkan Transepidermal Water Loss (TEWL) tanpa menghambat respirasi kulit, sehingga membantu mempertahankan kandungan air di stratum korneum setelah paparan UV . Selain itu, fase minyak dalam lotion O/W berfungsi melunakkan stratum korneum, memperbaiki integritas skin barrier, dan meningkatkan retensi air, yang tidak dapat dicapai secara optimal oleh sediaan gel yang Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. umumnya bersifat hidrofilik, minim emolien, dan lebih cepat mengalami evaporasi . Oleh karena itu, lotion O/W dianggap lebih efektif untuk pemulihan hidrasi kulit pasca paparan UV dibandingkan sediaan gel, khususnya dalam konteks perlindungan dan perbaikan fungsi barrier kulit. Berdasarkan uraian tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan efek hidrasi lotion yang diperkaya ekstrak bunga telang (Clitoria ternate. pada berbagai konsentrasi . ,5%, 1%, dan 2%) serta kontrol negatif dan positif terhadap kadar hidrasi kulit mencit jantan (Mus musculu. yang dipapar sinar UV. Metode Penelitian Alat dan bahan Bunga telang kering (Clitoria ternate. diperoleh dari penyedia bahan herbal lokal dan digunakan setelah dikeringkan ulang dalam oven (Memmert UN. pada suhu 45AC selama 24 jam. Bahan kimia lain termasuk aquades . eknis laboratoriu. , cream base oil-in-water (O/W) kosmetik grade, gliserol 5% (Brataco, pharmaceutical grad. , isopropyl myristate (Sigma-Aldrich. Ou98%), asam stearat (Sigma-Aldrich. ACS reagen. , cetyl alcohol (Merck, cosmetic grad. , glyceryl monostearate (Merck, cosmetic grad. , propyl paraben dan methyl paraben (Brataco, cosmetic grad. Seluruh bahan kosmetik dipastikan memenuhi standar aman topikal. Peralatan yang digunakan meliputi hotplate stirrer digital (IKA C-MAG HS . , water bath (Thermosafe WB-. , overhead stirrer digital IKA RW 20, oven pemanas (Memmer. , timbangan digital presisi (Ohaus PA-. , alat cukur listrik mini, serta Scalar Moisture Checker MY-808S (Scalar Corporation. Japa. sebagai instrumen pengukur hidrasi kulit. Sumber paparan sinar UV menggunakan ExoTerra Reptile UVB100 Lamp 13W (PT2. dengan output UVB A10%. UVA A30%, intensitas paparan A150Ae250 W/cmA pada jarak 10 cm. Extraction of Clitoria ternatea Ekstraksi bunga telang (Clitoria ternate. dilakukan menggunakan metode maserasi sesuai standar ekstraksi simplisia berbasis air. Sebanyak 200 g bunga telang kering dimasukkan ke dalam wadah kaca tertutup dan direndam dalam 1000 mL aquades . asio bahan:pelarut 1:5 b/. Proses maserasi dilakukan pada suhu ruang (A25AC) selama 24 jam dengan pengadukan manual setiap 6 jam untuk meningkatkan difusi senyawa aktif ke dalam pelarut. Setelah proses maserasi selesai, campuran disaring menggunakan kertas saring Whatman No. 1 untuk memisahkan filtrat dari residu. Filtrat yang diperoleh kemudian digunakan sebagai ekstrak air bunga telang dalam formulasi lotion. Karakteristik Ekstrak Karakterisasi awal ekstrak dilakukan untuk memastikan validitas ekstrak sebagai variabel bebas Rendemen ekstrak dihitung dengan membandingkan berat ekstrak kering terhadap berat simplisia awal dan dinyatakan dalam persen (%). Selain itu, uji fitokimia kualitatif dilakukan untuk mengidentifikasi keberadaan senyawa aktif utama. Uji antosianin dilakukan dengan pengamatan perubahan warna pada kondisi pH asam dan basa, sedangkan uji senyawa fenolik dilakukan menggunakan reagen FeClCE 1% yang ditandai dengan perubahan warna hijau tua hingga hitam. Hasil uji menunjukkan keberadaan antosianin dan senyawa fenolik dalam ekstrak, yang mendukung penggunaannya sebagai bahan aktif pelembap dan Preparation of Telang-Enriched Lotion Formulasi lotion disiapkan dalam tiga variasi konsentrasi ekstrak bunga telang . ,5%, 1%, dan 2%). Cream base O/W sebanyak 20 g dipanaskan pada 70AC menggunakan hotplate, kemudian ditambahkan ekstrak sesuai konsentrasi formulasi. Akuades digunakan untuk menyesuaikan volume total 10 mL untuk tiap formula. Campuran diaduk menggunakan IKA overhead stirrer hingga homogen. Sebagai pembanding, dua lotion kontrol dibuat Kelompok kontrol negatif (KO. menggunakan basis lotion O/W tanpa bahan aktif Kelompok kontrol positif (K ) menggunakan basis lotion O/W yang diperkaya gliserol 5%, dengan penyesuaian volume aquades. Kelompok perlakuan F1. F2, dan F3 menggunakan basis lotion O/W yang sama, masing-masing diperkaya ekstrak bunga telang dengan konsentrasi 0,5%, 1%, dan 2%, dengan penyesuaian volume aquades agar total volume tetap konstan. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Pendekatan ini dilakukan untuk memastikan bahwa basis lotion, emolien, dan sistem emulsi yang digunakan bersifat seragam pada seluruh kelompok, sehingga efek hidrasi yang dihasilkan dapat secara valid diatribusikan pada perbedaan konsentrasi ekstrak bunga telang atau gliserol. Animal Handling and Experimental Design Penelitian dilakukan pada 30 ekor mencit jantan (Mus musculu. , usia 2Ae3 bulan dan berat 20Ae25 gram, yang dipelihara di Animal House Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra pada OktoberAeNovember 2025. Semua prosedur penelitian telah mendapatkan persetujuan etik dari Komite Etik Penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra Surabaya dengan nomor izin etik: . asukkan kode setelah diterbitka. Hewan diaklimatisasi selama 7 hari sebelum perlakuan. Bulu pada area punggung dicukur . y3 c. Lotion diaplikasikan satu kali pada area perlakuan sesuai kelompok kemudian dipaparkan sinar UV selama 5 menit pada jarak 10 cm. Pengujian Mencit jantan (Mus musculu. Sebelum percobaan, mencit dibagi acak ke dalam 4 kelompok yakni kelompok kontrol . yang akan mendapat lotion tanpa ekstrak cair bunga telang . elompok kontro. , kelompok 1 . yang akan mendapat lotion ekstrak cair bunga telang dengan konsentrasi 0,5%, kelompok 2 . yang akan mendapat lotion ekstrak cair bunga telang dengan konsentrasi 1% dan kelompok 3 . yang akan mendapat lotion ekstrak cair bunga telang dengan konsentrasi 2%. Pada semua sampel, bulu yang berada di punggung hewan seluas 3x3cm dihilangkan dengan menggunakan alat cukur listrik minimal 24 jam sebelum perlakuan. Lotion dioleskan pada punggung kulit mencit sesuai dengan kelompok perlakuan. Daerah penelitian kemudian akan di paparkan kembali dengan lampu UV ExoTerra Reptile UVB100 13W (PT2. yang memancarkan sinar ultraviolet spektrum UVB . Ae320 n. dengan daya 13 watt, output UVB A10%, output UVA A30%, intensitas iradiasi sekitar 150Ae250 W/cmA. Lampu ini diposisikan pada jarak 10 cm dari tubuh mencit, dengan durasi paparan 5 menit untuk menstimulasi kerusakan kulit ringan akibat radiasi UV. Durasi paparan sinar UV selama 5 menit dipilih berdasarkan pertimbangan ilmiah untuk menghasilkan kerusakan kulit ringan berupa peningkatan kehilangan air transepidermal (TEWL) tanpa menimbulkan eritema berat atau luka bakar derajat satu pada kulit mencit. Paparan UVB dengan intensitas A150Ae250 W/cmA pada jarak 10 cm telah dilaporkan mampu menginduksi stres oksidatif dan gangguan fungsi skin barrier secara subklinis pada model hewan, yang ditandai dengan penurunan hidrasi kulit, namun masih berada dalam batas aman untuk penelitian Pengukuran kadar hidrasi kulit punggung mencit dilakukan menggunakan Scalar Moisture Checker MY-808S (Scalar Corporation. Jepan. dengan cara meletakkan alat ukur diletakkan tegak lurus di tengah area kulit punggung tikus yang sudah dicukur bulunya seluas 3x3cm. Area pengukuran kira-kira seluas 1cm2. Nilai hidrasi kulit tikus semua kelompok kemudian dicatat dan didokumentasikan secara detail untuk selanjutnya dibandingkan satu sama lain. Analisis Data Analisis data dilakukan menggunakan One Way ANOVA untuk membandingkan rerata hidrasi antar kelompok atau bila tidak normal melalui Kruskal-Wallis. Pengujian normalitas dilakukan dengan ShapiroWilk test, karena jumlah sampel dalam setiap kelompok adalah 6 (O. Tingkat signifikansi ditetapkan pada p < 0,05. Bila p < 0,05, maka secara statistik ditemukan perbedaan signifikan antara kadar hidrasi kulit tikus antar kelompok perlakuan, sehingga hipotesis diterima. Artinya, lotion dengan berbagai konsentrasi ekstrak bunga telang memiliki pengaruh terhadap hidrasi kulit tikus putih Mus musculus jantan yang dipapar sinar UV. Kebalikannya, bila p > 0,05, maka hasil penelitian dianggap tidak signifikan secara statistik, serta hipotesis penelitian ditolak. Uji homogenitas antar kelompok dengan tes Levene untuk melihat apakah varian antar kelompok homogen atau tidak. Uji perbandingan masing-masing kelompok (Post Ho. menggunakan uji Tukey HSD. Hasil dan Pembahasan Formulasi Lotion Pelaksanaan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menilai pengaruh formulasi lotion dengan diperkaya ekstrak air bunga telang terhadap kadar hidrasi kulit mencit (Mus musculu. jantan yang kemudian dipapar dengan sinar UV. Pada penelitian ini telah dibuat sediaan lotion Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. kontrol negatif tanpa ekstrak, kontrol positif dengan tambahan gliserol 5%. Formula I (F. adalah lotion kontrol negatif yang mengandung bunga telang dengan konsentrasi 0,5%, formula II (F. adalah lotion kontrol negatif yang mengandung bunga telang dengan konsentrasi 1%, dan formula i (F. adalah lotion kontrol negatif yang mengandung bunga telang dengan konsentrasi 2%. Tabel 1. Formula Lotion Komposisi Bunga Telang Gliserol 5% Cream base oil in water Metil paraben Air murni hasil reverse osmosis ad Isopropil miristat Asam stearat Poligliseril-3- metilglukosa Cetyl alkohol Gliseril monostearat Ammonium ate/VP copolymer Propil paraben Aquades Kontrol Positif Konsentrasi (%) Kontrol Negatif 20 gr 20 gr 20 gr Fungsi 20 gr Bahan aktif Humektan, emolien, dan oklusif Cream base Pengawet antimikroba Pelarut Emolien Emolien dan oklusif Agen pengemulsi Emolien dan oklusif Emolien Pengental 0,14 10 mL 10 mL 9,95mL 9,9mL 9,8mL Pengawet antimikroba Pelarut Perlakuan Terhadap Hewan Coba Sebanyak 30 ekor mencit (Mus musculu. dipelihara dan diadaptasikan selama 7 hari pada suhu ruangan dengan akses makanan dan minuman secara bebas. Mencit kemudian dikelompokkan acak ke dalam lima kelompok yang meliputi 6 ekor tiap kelompok, yakni kelompok kontrol negatif, kontrol positif, serta kelompok perlakuan F1 dengan ekstrak bunga telang 0,5%. F2 ekstrak bunga telang 1%, dan F3 ekstrak bunga telang 2%. Sebelum perlakuan, bulu pada area punggung mencit sebesar dicukur 3x3 cm. Kemudian, ditunggu selama 30 menit. Lotion sesuai kelompok dioleskan, kemudian mencit dipaparkan sinar UV menggunakan lampu Exoterra selama 5 menit. Setelah perlakuan, kadar hidrasi kulit diukur menggunakan Scalar Moisture Checker yang secara non-invasif dapat mengukur kadar kelembapan kulit secara akurat (Murtagh & Coleman, 2. Dengan demikian, mendapatkan gambaran apakah penggunaan lotion ekstrak bunga telang dapat digunakan sebagai pencegahan dari kerusakan UV. Hasil Formulasi Lotion Pada penelitian ini telah dibuat sediaan lotion kontrol negatif tanpa ekstrak, kontrol positif dengan tambahan gliserol 5%. Formula I (F. adalah lotion kontrol negatif yang mengandung bunga telang dengan konsentrasi 0,5%, formula II (F. adalah lotion kontrol negatif yang mengandung bunga telang dengan konsentrasi 1%, dan formula i (F. adalah lotion kontrol negatif yang mengandung bunga telang dengan konsentrasi 2%. Variasi formula tersebut bertujuan untuk melihat pengaruh konsentrasi ekstrak bunga telang terhadap karakteristik fisik sediaan lotion, terutama pada aspek warna, homogenitas, konsistensi, dan kestabilan visual. Hasil formulasi dapat dilihat pada Gambar 1. Berdasarkan pengamatan visual, terdapat perbedaan yang cukup jelas di antara formula, terutama pada aspek warna. Formula kontrol negatif menunjukkan warna putih kecrem khas lotion tanpa kandungan pewarna alami. Kontrol positif dengan gliserol 5% juga menunjukkan tampilan yang hampir serupa, dengan tekstur yang tampak lebih lembap dan glossy akibat sifat humektan Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Sementara itu, formula yang mengandung ekstrak bunga telang (F1. F2, dan F. menunjukkan perubahan intensitas warna biru yang semakin kuat seiring meningkatnya konsentrasi ekstrak. Hal ini sesuai dengan karakteristik antosianin sebagai senyawa aktif utama dalam bunga telang yang bersifat memberikan pigmen berwarna biru alami (Hidalgo et al. , 2. F3 dengan konsentrasi ekstrak 2% menunjukkan warna paling pekat, sedangkan F1 dengan konsentrasi 0,5% tampak lebih pucat. Gambar 1. Hasil Formulasi Lotion Statistika Deskriptif Hasil dari analisa deskriptif menunjukkan bahwa kadar hidrasi kulit tikus berbeda nyata antar kelompok perlakuan. Kelompok Kontrol Negatif memiliki rerata hidrasi terendah, yaitu 35,83 dengan rentang 33,10 hingga 39,80, menandakan kondisi hidrasi dasar tanpa perlakuan. Kontrol Positif memberikan peningkatan hidrasi yang cukup besar dengan rerata 58,50. Formula uji menunjukkan hasil yang lebih tinggi, di mana F1 memiliki rerata 64,42. F2 menjadi kelompok dengan rerata tertinggi sebesar 67,02, dan F3 memiliki rerata 61,87. Seluruh kelompok memiliki interval kepercayaan 95 persen yang relatif sempit, menunjukkan kestabilan data pada setiap Secara keseluruhan, dari total 30 sampel, rerata hidrasi adalah 57,53 dengan rentang 33,10 hingga 68,10. Hasil ini mengindikasikan bahwa perlakuan F1. F2, dan F3 secara umum meningkatkan kadar hidrasi kulit, dan F2 memberikan efek paling optimal dibandingkan kelompok Tabel 2. Statiska Deskriptif Nama Kontrol Negatif Formula 1 Formula 2 Formula 3 Kontrol Positif Jumlah Sampel Rata-rata 35,8333 64,4167 67,0167 61,8667 58,5000 Standard Devisiasi 2,2304 1,4400 0,6765 0,68313 2,9879 Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Kadar Hidrasi Kontrol Negatif Kontrol Posiitf Formula Gambar 2. Grafik Hasil Uji Kadar Hidrasi Gambar 2. Grafik rerata kadar hidrasi kulit mencit setelah perlakuan. Data disajikan sebagai rerata A standar deviasi (SD). Tanda asterisk (*) menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik berdasarkan uji post hoc Games-Howell . < 0,. Uji Normalitas Mengacu analisis SPSS dengan memanfaatkan uji normalitas Shapiro-Wilk . = . , diperoleh nilai p dari data kadar hidrasi kulit mencit post-test untuk kelompok kontrol negatif, kontrol positif, kelompok 1, kelompok 2, dan kelompok 3 seluruhnya bernilai melebihi 0,05. Maka, bisa didapatkan kesimpulan bahwa distribusi seluruh data adalah normal. ANOVA Satu Arah Berdasarkan hasil SPSS, uji homogenitas varians dengan LeveneAos Test menunjukkan bahwa varians antar kelompok kadar hidrasi kulit tikus tidak homogen. Hal ini ditunjukkan oleh nilai signifikansi berdasarkan mean 0,012 < 0,05. Meskipun uji Levene menunjukkan bahwa varians antar kelompok tidak homogen . = 0,012 < 0,. , analisis One Way ANOVA tetap dianggap cukup robust karena jumlah sampel pada setiap kelompok sama . = . dan data berdistribusi normal. Oleh karena itu, penggunaan uji lanjut Games-Howell sebagai metode post hoc dinilai tepat karena tidak mensyaratkan kesamaan varians antar kelompok. Uji One Way ANOVA didapatkan hasil yaitu ada perbedaan sangat signifikan pada kadar hidrasi kulit tikus antar kelompok perlakuan. Nilai F 650 dengan signifikansi < 0,001 mengindikasikan bahwa variasi rata-rata antar kelompok jauh melebihi varians dalam kelompok. Dengan kata lain, jenis perlakuan yang diberikan memberikan pengaruh yang berbeda secara nyata terhadap hidrasi kulit tikus. Temuan ini menjadi dasar untuk melanjutkan analisis menggunakan uji post hoc Games-Howell, mengingat varians antar kelompok tidak homogen, untuk mengidentifikasi kelompok mana yang berbeda signifikan satu sama lain. Pembahasan Hasil dari pelaksanaan penelitian ini jelas memperlihatkan bahwa pemberian lotion ekstrak bunga telang (Clitoria ternate. memberikan pengaruh sangat signifikan terhadap peningkatan hidrasi kulit mencit yang dipapar sinar UV. Hal ini dibuktikan dengan hasil uji One Way ANOVA yang menghasilkan nilai F sebesar 278,650 dengan signifikansi p < 0,001. Nilai ini mengindikasikan bahwa variasi rata-rata kadar hidrasi kulit antar kelompok perlakuan jauh lebih besar dibandingkan variasi di dalam kelompok, sehingga dapat disimpulkan bahwa jenis perlakuan lotion yang Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. diberikan benar-benar memberikan pengaruh yang berbeda secara nyata. Temuan ini konsisten dengan prinsip dasar sediaan pelembap, di mana kombinasi senyawa dalam suatu formulasi, termasuk basis lotion itu sendiri, berperan dalam memperbaiki fungsi skin barrier dan mencegah TEWL, sehingga pada akhirnya meningkatkan integritas dan kelembapan kulit . Analisis lanjutan dengan uji post hoc Games-Howell mengungkap pola yang menarik. Seperti yang diharapkan, semua kelompok lotion yang mengandung bahan aktif . ontrol positif gliserol 5%. F1. F2, dan F. menunjukkan efek hidrasi yang secara signifikan lebih baik dibandingkan dengan kontrol negatif . otion basi. Hal ini membuktikan keefektifan baik gliserol maupun ekstrak bunga telang sebagai agen pelembap. Gliserol, sebagai humektan andalan, berfungsi dengan menarik dan mengikat molekul air, sehingga meningkatkan hidrasi kulit . Temuan yang paling krusial adalah bahwa lotion dengan ekstrak bunga telang 1% (F. menunjukkan efektivitas hidrasi yang paling optimal, bahkan melampaui formulasi dengan konsentrasi 2% (F. dan setara atau sedikit lebih baik daripada kontrol positif gliserol 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lotion dengan ekstrak bunga telang konsentrasi 1% (F. memberikan efek hidrasi tertinggi, sedangkan peningkatan konsentrasi menjadi 2% (F. tidak menghasilkan peningkatan hidrasi yang lebih besar. Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara konsentrasi ekstrak dan efek hidrasi tidak bersifat linier, melainkan memiliki titik optimal. Penurunan efektivitas hidrasi pada konsentrasi 2% diduga disebabkan oleh beberapa mekanisme yang umum dilaporkan pada penggunaan ekstrak herbal topikal. Salah satu kemungkinan adalah tercapainya saturasi optimal penyerapan senyawa aktif pada kulit, sehingga peningkatan konsentrasi tidak lagi diikuti oleh peningkatan penetrasi senyawa bioaktif ke dalam stratum Selain itu, peningkatan konsentrasi ekstrak berpotensi menyebabkan perubahan sifat fisikokimia formulasi lotion, seperti peningkatan viskositas atau perubahan struktur emulsi, yang dapat menghambat pelepasan dan difusi bahan aktif ke dalam kulit . Ekstrak herbal mengandung senyawa bioaktif seperti polifenol, flavonoid, dan polisakarida yang berperan sebagai humektan sekaligus memperbaiki fungsi barrier kulit. Konsentrasi ekstrak herbal yang terlalu tinggi dapat menyebabkan saturasi pada lapisan kulit sehingga menurunkan efektivitas hidrasi, namun secara keseluruhan masih lebih baik dibanding gliserol, karena ekstrak juga meningkatkan produksi lipid dan faktor pelembap alami dan memberikan proteksi antioksidan dari paparan UV. Gliserol hanya berfungsi sebagai humektan pasif yang menarik air tanpa memperbaiki struktur kulit . Selain itu, polisakarida dalam ekstrak meningkatkan kadar hyaluronic acid kulit, memperkuat barrier, dan memperpanjang efek hidrasi . Pada konsentrasi optimal . %), efek humektan dan antioksidan dari bunga telang tampak dominan dalam meningkatkan hidrasi kulit. Namun, pada konsentrasi yang lebih tinggi . %), efek astringent dan antioksidan yang berlebihan dapat mengurangi fleksibilitas stratum korneum dan berpotensi menghambat retensi air maksimal pada kulit, mirip dengan mekanisme yang dijelaskan pada herbal astringent lainnya . Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ekstrak bunga telang 1% merupakan konsentrasi optimal yang berhasil menyeimbangkan antara kapasitas humektan dan efek astringent-nya untuk memberikan hidrasi kulit yang maksimal pada model kulit kering akibat paparan UV. Kesimpulan Penelitian ini menunjukkan bahwa lotion yang diperkaya ekstrak bunga telang (Clitoria ternate. memberikan peningkatan hidrasi kulit yang signifikan pada mencit (Mus musculu. yang dipapar sinar Di antara konsentrasi yang diuji, formulasi dengan konsentrasi ekstrak 1% memberikan efek hidrasi paling optimal dibandingkan konsentrasi 0,5%, 2%, serta kontrol positif gliserol 5%. Temuan ini mengindikasikan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan efektivitas, dan terdapat konsentrasi optimal yang memberikan manfaat hidrasi maksimal pada kondisi kulit yang mengalami stres akibat paparan UV. Electronic ISSN : 2656-3088 Homepage: https://w. journal-jps. Journal of Pharmaceutical and Sciences 2026. , . - https://doi. org/10. 36490/journal-jps. Secara implikatif, hasil penelitian ini mendukung potensi penggunaan ekstrak bunga telang sebagai bahan aktif alami dalam formulasi produk perawatan kulit, khususnya sediaan lotion pelembap untuk kulit yang terpapar sinar UV. Penelitian ini juga memberikan dasar ilmiah awal bagi pengembangan produk kosmetik berbasis bahan alam dengan klaim hidrasi dan perlindungan kulit. Namun demikian, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain penggunaan model hewan coba yang belum sepenuhnya merepresentasikan respons kulit manusia, tidak dilakukannya analisis fitokimia kuantitatif terhadap ekstrak, serta keterbatasan parameter yang diukur hanya pada hidrasi kulit tanpa evaluasi tambahan seperti TEW, kandungan kolagen, atau perubahan histologis kulit. Selain itu, durasi penelitian yang relatif singkat juga membatasi interpretasi efek jangka panjang. Oleh karena itu, penelitian lanjutan disarankan untuk mencakup uji klinis pada manusia, analisis fitokimia yang lebih komprehensif, pengukuran parameter biologi kulit yang lebih luas, serta eksplorasi formulasi kombinasi dengan bahan aktif lain guna memahami mekanisme kerja dan potensi aplikasinya secara lebih mendalam. Conflict of Interest Penulis menyatakan tidak adanya konflik kepentingan terkait penelitian ini. Seluruh proses penelitian dilakukan secara independen tanpa intervensi dari pihak eksternal. Referensi