ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. GAMBARAN FASILITAS SANITASI PADA BALITA STUNTING DI DESA NEKBAUN KECAMATAN AMARASI BARAT Magdalena Gemagalgani Moi1. Mustakim Sahdan2. Agus Setyobudi3. Sintha Lisa Purimahua4 Fakultas Kesehatan Masyarakat1,2,3 magdalenaelmamoi@gmail. ABSTRAK Stunting merupakan gambaran keadan gagal tumbuh kembang pada balita yang terjadi dalam jangka waktu lama, yang dapat terlihat dari kondisi balita lebih pendek dibanding tinggi badan pada umumnya . ang seusi. Permasalahan Stunting merupakan permasalahan multidimensional, yang terdiri dari penyebab langsung, penyebab tidak langsung dan penyebab yang mendasari. Sanitasi merupakan salah satu faktor tidak langsung yang mempengaruhi kejadian Stunting, akses terhadap sanitasi layak yang tidak terpenuhi membuat tubuh mudah terserang penyakit infeksi seperti diare dan cacingan. Berdasarkan data, dari 27,67% balita Stunting 11% nya mengalami diare yang dipengaruhi oleh penyebab tidak langsung yakni sebesar 22,39% kepala keluarga belum mengakses sanitasi layak (Riskesdas, 2. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang di kaji secara kuantitatif. Penelitian ini dilakukan untuk memaparkan kondisi gambaran fasilitas sanitasi pada balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat yang dilakukan pada bulan Populasi dalam penelitian ini berjumlah 50 balita Stunting yang semuanya dijadikan sampel menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semuanya . %) responden telah memiliki fasilitas air bersih yang memenuhi syarat. Terdapat 90% responden memiliki fasilitas jamban tidak memenuhi syarat. Terdapat 100% atau semua responden tidak memiliki fasilitas cuci tangan pakai sabun yang memenuhi syarat. Terdapat 100% fasilitas penyimpanan air minum tidak memenuhi syarat dan 54% penyimpanan makanan tidak memenuhi Terdapat 100% fasilitas penampungan sampah rumah tangga tidak memenuhi syarat. Terdapat 100% fasilitas saluran pembuangan air limbah rumah tangga tidak memenuhi syarat. Diharapkan optimalisasi dukungan pemerintah dan dinas terkait dalam berbagai bentuk peraturan guna mendukung ketersediaan fasilitas sanitasi di setiap rumah tangga. Kata Kunci : Fasilitas. Sanitasi. Stunting ABSTRACT Stunting is a condition of growth failure in toddlers that occurs over a long period of time, which can be seen from the condition of toddlers who are shorter than the average height . or their ag. Stunting is a multidimensional issue, comprising direct causes, indirect causes, and underlying Sanitation is one of the indirect factors influencing stunting incidence. inadequate access to adequate sanitation makes the body more susceptible to infectious diseases such as diarrhea and parasitic infections. According to data, out of 27. 67% of stunted infants, 11% experienced diarrhea influenced by indirect causes, with 22. 39% of household heads not having access to adequate sanitation (Riskesdas, 2. The type of research used is descriptive research analyzed This study was conducted to describe the condition of sanitation facilities for stunted children in Nekbaun Village. Amarasi Barat Sub-district, carried out in June 2025. The population in this study consisted of 50 stunted children, all of whom were selected as samples using total sampling technique. The results of the study show that all . %) respondents have access to clean water facilities that meet the requirements. However, 90% of respondents have toilet facilities that do not meet the requirements. All . %) respondents do not have handwashing facilities with soap that meet the requirements. All . %) water storage facilities do not meet the requirements, and 54% of food storage facilities do not meet the requirements. There were 100% of household waste storage facilities that did not meet the standards. There were 100% of household wastewater drainage facilities that did not meet the standards. It is hoped that the government and relevant ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. agencies will optimize their support through various regulations to ensure the availability of sanitation facilities in every household. Keywords: Facilities. Sanitation. Stunting PENDAHULUAN Stunting merupakan gambaran keadan gagal tumbuh kembang pada balita yang terjadi dalam jangka waktu lama, yang dapat terlihat dari kondisi balita lebih pendek dibanding tinggi badan pada umumnya . ang seusi. Stunting ada sebagai akibat dari kekurangan gizi kronis, infeksi berulang dalam jangka waktu yang panjang, dan stimulasi psikososial yang tidak cukup, yang dapat terjadi sejak didalam kandungan dan setelah anak Berdasarkan data Riskesdas 2018. Provinsi NTT mengalami penurunan proporsi status gizi pendek dan sangat pendek pada balita menurut provinsi tahun 2018 dengan presentasi 42,6% dan menduduki peringkat tertinggi di Indonesia. Dalam rangka upaya menurunkan angka stunting pemerintah NTT dalam hal ini melalui Dinas Kesehatan provinsi dan Badan perencanaan dan pembangunan daerah (Bapelitbangd. membentuk kelompok kerja penanganan dan pencegahan stunting. Data terbaru menunjukan terjadi penurunan angka stunting di wilayah NTT menjadi 30,3% pada tahun 2019, dan tetap konsisten menurun pada tahun 2020 menjadi 28,2%. Kabupaten kupang memiliki jumlah balita stunting pada tahun 2021 sebanyak 674 atau 22,3% lalu menurun pada tahun 2022 menjadi 6. 118 atau 19,8% dan menurun lagi menjadi 4. 899 atau 16,1% pada februari 2023. Kecamatan Amarasi Barat menjadi salah satu penyumbang stunting tertinggi dan mengalami kenaikan peringkat dalam tiga tahun terakhir. Pada tahun 2021 menurut Laporan. Kecamatan Amarasi Barat berada di urutan ke-6 dengan jumlah balita stunting 410 atau 31,2% dari 1. 313 balita yang diukur, lalu meningkat ke posisi ke-2 tahun 2022 menjadi 456 atau 34,1% dari 1. 336 balita yang diukur, dan naik menduduki posisi pertama pada februari 2023 dengan 395 atau 29,7% balita stunting dari 1. 326 balita yang diukur (Dinas Kesehatan Kabupaten Kupang, 2021februari 2. Desa Nekbaun menjadi salah satu desa dengan jumlah balita stunting pada tahun 2020 sampai 2021 tidak menurun yakni di angka 77 balita Stunting dari 162 balita yang diukur tinggi badan, angka ini menurun pada tahun 2022 menjadi 69 balita stunting dari 150 balita yang diukur. Dari data diatas dapat dilihat bahwa adanya penurunan namun tidak Sanitasi merupakan upaya mencegah terjadinya masalah gangguan kesehatan akibat faktor lingkungan yang dapat berpotensi merugikan kesehatan (Chandra. Budiman, 2007 dalam Syamsuddin. Ulfah, vol. 20 no. 2, 2. Provinsi NTT termasuk dalam urutan tiga daerah terendah presentase rumah tangga yang memiliki akses terhadap sanitasi layak menurut Provinsi Tahun 2017 dengan presentase 45,31% . umber: susenas. BPS 2. Berdasarkan data, dari 27,67% balita Stunting 11% nya mengalami diare yang dipengaruhi oleh penyebab tidak langsung yakni sebesar 22,39% kepala keluarga belum mengakses sanitasi layak (Riskesdas, 2. Ketersediaan fasilitas sanitasi seperti akses ke toilet yang bersih dan aman penting untuk mencegah penyakit. Ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari juga berpengaruh terhadap resiko anak dan keluarga terkena penyakit dan kurang gizi, fasilitas sanitasi yang memadai membantu mengurangi paparan patogen. Praktek kebersihan yang buruk berkaitan dengan kebiasaan mencuci tangan terutama sebelum makan dan setelah ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. menggunakan toilet dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan. sehingga infeksi yang sering terjadi dapat mengganggu penyerapan nutrisi yang berbuntut panjang pada kejadian Stunting. Pencegahan dan penanganan Stunting saat ini berfokus pada peningkatan asupan gizi balita dan masih terbatasnya penanganan pada factor sanitasi. Dalam rangka menemukan kontribusi dari aspek sanitasi agar dapat menentukan langkah pengendalian yang tepat bagi penurunan angka kejadian Stunting pada balita maka, peneliti tertarik meneliti tentang Gambaran fasilitas sanitasi pada balita stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat. METODE Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian deskripif yang dikaji secara kuantitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk menggambarkan atau mendeskripsikan suatu fenomena secara objektif yang terjadi di masyarakat (Notoadmodjo, 2. Penelitian ini dilakukan untuk memaparkan kondisi gambaran fasilitas sanitasi pada balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat HASIL DAN PEMBAHASAN Fasilitas Air Bersih Tabel 1 Distribusi Fasilitas Air Bersih Pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Fasilitas Air Bersih Jumlah Presentase Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Total Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa fasilitas air bersih pada balita stunting umumnya memenuhi syarat dengan presentase 100%. Fasilitas Jamban Tabel 2 Distribusi Fasilitas Jamban Pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Fasilitas Jamban Jumlah Presentase Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Total Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa fasilitas jamban pada balita stunting tidak memenuhi syarat yakni berjumlah 45 balita dengan presentase sebesar 90% Fasilitas Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Tabel 9 Distribusi Fasilitas Cuci Tangan Pakai Sabun Pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Fasilitas CTPS Jumlah Presentase Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. Total Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa fasilitas cuci tangan pakai sabun pada balita Stunting tidak memenuhi syarat atau dengan kata lain 50 responden tidak memenuhi syarat cuci tangan pakai sabun dengan presentase sebesar 100% Fasilitas penampungan Air Minum dan Makanan Tabel 4 Distribusi fasilitas penampungan Air Minum Pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Pengolahan Air Minum Jumlah Presentase Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Total Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa fasilitas penampungan air minum pada balita stunting tidak memenuhi syarat dengan presentase sebesar 100% Tabel 5 Distribusi fasilitas penyimpanan Makanan Pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Pengolahan Makanan Jumlah Presentase Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Total Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa dari 50 responden yang diteliti, terdapat 27 . %) responden fasilitas penyimpanan makanannya tidak memenuhi syarat, sedangkan 23 . %) responden lainnya telah memenuhi syarat. Fasilitas Penampungan Sampah Rumah Tangga Tabel 5 Distribusi Fasilitas Penampungan Sampah Pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Pengolahan Sampah Jumlah Presentase Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Total Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa fasilitas penampungan sampah seluruhnya tidak memenuhi syarat dengan presentase sebesar 100%. Fasilitas Saluran Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga Tabel 6 Distribusi Fasilias Saluran Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga Pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Fasilitas Air Bersih Jumlah Presentase Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Total Berdasarkan tabel diatas menunjukan bahwa fasilitas pembuangan air limbah rumah tangga pada 50 responden yang diteliti tidak memenuhi syarat dengan presentase sebesar 100%. ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. Gambaran Fasilitas Penyediaan Air Bersih pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Pada umumnya sumber air bersih responden berasal dari mata air dengan presentase sebesar 100%. Air bersih dari mata air dialirkan ke bak-bak umum menggunakan sistem perpipaan sebelum di Distribusikan ke masing-masing rumah Fasilitas penyaluran air bersih ke rumah responden menggunakan selang. Pada penelitian Ilahi, dkk . , menyatakan bahwa balita dengan keluarga yang mendapakan air bersih dari sumber yang tidak terlindungi, berisiko tujuh kali lebih besar untuk mengalami Stunting jika dibandingkan dengan balita yang mengkonsumsi air minum dari sumber air yang terlindungi. kualitas fisik air bersih pun memenuhi syarat fisik yakni tidak berbau, tidak berwarna dan tidak berasa dengan presentase 100%. Dalam wawancara bersama respoden peneliti mendapatkan hasil bahwa akses ke sumber air bersih untuk seluruhnya terbilang mudah setiap tahun dengan presentase 100%. Hasil penelitian Irawan dan Hastutty . , menunjukan bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas fisik air dengan kejadian Stunting pada balita di wilayah kerja Puskesmas Arso. Jika diukur berdasarkan tingkat penggunaan air bersih untuk kebutuhan rumah tangga rata-rata responden yakni sebesar 80-100 liter per hari dengan presentase sebesar 56% dan 60-80 liter per hari dengan presentase sebesar 44%. Apabila merujuk pada perhitungan WHO bahwa kebutuhan air masyarakat di pedesaan negara berkembang seperti Indonesia antara 30-60 liter per orang per hari, maka dari segi kuantitas fasilitas air bersih pada balita Stunting di Desa Nekbaun memenuhi syarat. Keperluan air dalam rumah tangga harus memenuhi dua syarat yaitu, kuantitas dan Sarana air bersih digunakan untuk keperluan sehari-hari harus memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Ketersediaan air bersih yang dapat di jangkau dan berkelanjutan menjadi bagian penting bagi setiap orang. Ketersediaan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari juga berpengaruh terhadap resiko anak dan keluarga terkena penyakit infeksi yang menyebabkan stunting. Kondisi air bersih layak yang memenuhi syarat dalam rumah tangga dapat mengurangi resiko penyakit diare, sebaliknya kondisi air bersih yang buruk meningkatkan resiko penyakit diare yang mengakibatkan beralihnya zat gizi untuk pertumbuhan kepada perlawanan tubuh menghadapi infeksi, terhambatnya pertumbuhan membuat balita lebih beresiko menderita stunting. Gambaran kondisi fasilitas jamban pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Pada penelitian ini menunjukan bahwa masih terdapat fasilitas jamban yang dimiliki oleh setiap keluarga dengan balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat tidak memenuhi syarat dengan presentase sebesar 90% sedangkan 10% lainnya telah memenuhi syarat. Apabila ditinjau dari jenis jamban, berdasarkan hasil penelitian ini rata-rata jenis jamban yang ada tidak memenuhi syarat dengan presentase sebesar 86%. Jenis jamban yang banyak digunakan adalah jamban jongkok dimana, jenis jamban ini tidak memiliki penutup sehingga berpeluang memberikan akses bagi vektor penyebab penyakit seperti lalat, dan kecoa untuk masuk kedalam lubang penampungan kotoran. Vektor yang telah terkonaminasi dengan kotoran manusia dapat menyebarkan bacteri pada peralatan makan, sehingga berisiko menyebabkan diare. Diare berulang pada balita dapat meningkatkan risiko kejadian Stunting. Berdasarkan hasil penelitian Anggraini, dkk . di wilayah kerja Puskesmas Aruran Mumpo Kabupaten Bengkulu tengah menunjukan bahwa ibu yang tidak memiliki ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. akses jamban memenuhi syarat mengalami balita stunting sebanyak 10 orang dan ibu yang memiliki akses jamban sehat memenuhi syarat mengalami balita stunting sebanyak 8 orang, dengan analisis chi-squere didapatkan p-value 0,024 yang berarti ada hubungan antara akses jamban dengan kejadian stunting pada balita di wilayah kerja Pusksmas Aruran Mumpo Kabupaten Bengkulu tengah. Gambaran fasilitas cuci tangan pakai sabun (CTPS) pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Kabupaten Kupang Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktek cuci tangan pakai sabun yang dilakukan oleh ibu balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat tidak memenuhi syarat sebanyak 50 balita presentase sebesar 100%. Tiga faktor yang dapat berperan sebagai penghubung cuci tangan pakai sabun dengan kejadian Stunting antara lain, diare, infeksi cacing tanah, dan kondisi subklinis saluran cerna. Kejadian diare berkaitan dengan kegagalan pertumbuhan anak, hal ini dapat dijelaskan dengan dua arah yaitu diare berulang dapat menyebabkan malnutrisi sedangkan malnutrisi dapat menyebabkan kerentanan diare, diare berulang dapat menjadi faktor penyebab stunting pada balita (Cumming & Cairncross, 2016 . Siti Helmyati, dkk : 2. Berdasarkan penelitian Sinatrya . di wilayah kerja Puskesmas Kotakulon. Kabupaten Bondowoso menyatakan bahwa kebiasaan cuci tangan merupakan faktor risiko dari Stunting pada balita dengan risiko 0,12 kali lebih besar bagi ibu yang memiliki kebiasaan cuci tangan kurang baik. Kebiasaan mencuci tangan merupakan salah satu faktor resiko kejadian Stunting, dengan praktek cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir menggunakan 6 langkah yang benar pada 6 waktu yang tepat dapat memutuskan mata rantai penyebaran penyakit. Kebiasaan mencuci tangan dapat mempengaruhi ibu dalam mengolah makanan, menyajikan makanan dan memberikan makanan pada balita. Tidak terciptanya kebiasaan mencuci tangan ini dapat berisiko tinggi untuk terjadinya penyebaran bacteri yang menimbulkan berbagai penyaki infeksi yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan balita. Gambaran fasilitas penyimpanan air minum dan makanan pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Pada hasil penelitian, peneliti mendapatkan hasil bahwa pengolahan makanan pada responden terbanyak tidak memenuhi syarat dengan presentase sebesar 54% dan yang memenuhi syarat sebesar 46%. Pada tabel pengolahan makanan pada balita Stunting di Desa Nekbaun. Kecamatan Amarasi Barat didapati beberapa aspek dalam pengolahan makanan sudah baik seperti bahan makanan dalam keadaan segar, tidak busuk dan rusak pada semua responden dengan presentase sebesar 100% hal ini dikarenakan, bahan makanan lebih banyak dipetik dari kebun sendiri dan apabila membeli tidak dalam jumlah banyak untuk dsimpan melainkan sekali beli untuk sekali masak. Namun, pada aspek penyimpanan makanan dengan wadah tertutup hasil penelitian menunjukan masih sebagian responden tidak memenuhi syarat dengan presentase 50%. Merupakan hal yang penting untuk menjaga makanan dalam kondisi yang aman dan higienis dengan menggunakan penutup . maupun wadah penyimpanan makanan yang langsung dilengkapi dengan penutup, hal ini membantu mencegah kontaminasi microba dan penurunan kualitas Berdasarkan penelitian dari Adriany et al. , . ibu yang mengelola makanan dengan kurang baik balitanya memiliki risiko untuk menderita Stunting sebesar 0,008 kali dibandingkan dengan ibu yang mengelola makanan dengan baik. Berdasarkan penelitian pada balita stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat didapati hasil 50% responden tidak memenuhi syarat pengolahan air minum dan 50% ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. responden telah memenuhi syarat dalam mengelola air. Hasil penelitian Nazadia,dkk . pada balita Stunting di Kabupaten Aceh besar menunjukan air minum yang dikonsumsi balita stunting baik dengan presentase 93,3%. Air minum yang dikonsumsi menurut hasil penelitian pada balita Stunting di Desa Nekbaun Amarasi Barat semuanya telah melalui proses perebusan air sebelum dikonsumsi dengan presentase 100%. Namun. Berdasarkan hasil penelitian ini, peneliti mendapatkan beberapa faktor yang memengaruhi pengolahan air minum tidak memenuhi syarat pada balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat, yakni pada faktor wadah penampungan air yang tidak dilengkapi dengan kran masih banyak dengan presentase 94%, adapun faktor lain seperti wadah penampungan air yang tidak berleher sempit dengan presentase 94%. Peneliti menemukan bahwa cara responden mengambil air dari wadah penampungan dengan cara menggayung menggunakan gelas setiap kali ingin minum. Gambaran Fasilitas penampungan sampah pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Pengelolaan sampah harus di lakukan secara baik agar tercipta lingkungan hidup yang sehat. berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Peneliti pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat ditemukan bahwa pengolahan sampah tidak memenuhi syarat dengan persentase sebesar 100%. Hasil observasi peneliti, beberapa aspek pengolahan sampah yang masih tidak memenuhi syarat antara lain rata-rata respoden memiliki tempat sampah dengan persentase 100% akan tetapi lebih banyak responden tidak melakukan pemisahan antara sampah organik dan sampah non organik dengan persentase sebesar 94%, dari aspek jenis tempat sampah yang digunakan pun bervariasi yakni jenis kantong plastik sebanyak 28%, tong . lastik/kayu/bes. sebanyak 12% dan lainnya seperti dus bekas, ember bekas, dan keranjang bekas sebesar 60%. Dari jenis tempat sampah tersebut dapat diketahui bahwa tempat sampah tidak memiliki tutupan dengan presentase sebesar 100%. Gambaran fasilitas saluran pembuangan air limbah rumah tangga pada Balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa 84% responden tidak memiliki saluran pembuangan air limbah (SPAL) sehingga air limbah dialirkan bebas ke area pekarangan rumah dan hanya 16% yang menggunakan SPAL. Dari hasil wawancara peneliti dengan responden ditemukan bahwa air limbah yang berasal dari bekas cucian piring contohnya langsung dibuang ke halaman ataupun digunakan untuk menyiram tanaman atau dengan kata lain . Pada penelitian yang dilakukan oleh Hasmia . menunjukan bahwa saluran pembuangan ari limbah memiliki hubungan signifikan dengan kejadian Stunting pada balita. SIMPULAN Kesimpulan berdasarkan penelitian tentang gambaran fasilitas sanitasi pada balita Stunting di Desa Nekbaun Kecamatan Amarasi Barat adalah sebagai berikut : Sebanyak 50 responden yang terlibat dalam penelitian, semuanya . %) memiliki fasilitas air bersih yang memenuhi syarat Sebanyak 5 responden . %) fasilitas jamban yang memenuhi syarat dan 45 responden . %) tidak memenuhi syarat Sebanyak 50 responden yang telibat dalam penelitian, semuanya . %) tidak memiliki fasilitas cuci tangan pakai sabun yang memenuhi syarat Sebanyak 50 responden yang telibat dalam penelitian, semuanya . %) memiliki fasilitas penyimpanan air minum yang tidak memenuhi syarat, sedangkan untuk fasilitas ARTIKEL PENELITIAN Jurnal Kesehatan. Vol. 14 No. ISSN 2086-9266 e-ISSN 2654-587x DOI 10. 37048/kesehatan. penyimpanan makanan 23 reponden . %) memenuhi syarat dan 27 responden . %) tidak memenuhi syarat. Sebanyak 50 responden yang telibat dalam penelitian, semuanya . %) memiliki fasilitas penampungan sampah yang tidak memenuhi syarat Sebanyak 50 responden yang telibat dalam penelitian, semuanya . %) tidak memiliki fasilitas saluran pembuangan air limbah yang memenuhi syarat. UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan Terimakasih kepada Desa Nekbaun yang telah memberi izin sehingga penelitian ini dapat dilakukan. Terimas kasih kepada responden yang bersedia memberikan informasi. Terima kasih kepada pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan kepada saya dalam proses penelitian hingga pembuatan manuscript ini. DAFTAR PUSTAKA