Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. 2020: 22-31 Contents list available at JKP website Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JKP Uji Efektifitas Larutan Bawang Putih (Allium sativu. terhadap pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Epidermidis Sri Indrayati*. Pivin Eno Diana Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Perintis Padang. Sumatera Barat. Indonesia Article Information : Submission:Jun 2, 2020. Revised:Jun 30, 2020. Accepted:Jun 30, 2020. Available online: Jul 12, 2020 *Corresponding author : endlesofichy@gmail. ABSTRAK Bawang putih (Allium sativu. merupakan jenis tanaman umbi lapis yang memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Umumnya bawang putih dimanfaatkan sebagai bumbu dalam berbagai jenis masakan, selain itu bawang putih memiliki kandungan diallildisulfida (DADS) dan dialliltrisulfida (DATS) yang berperan sebagai anti bakteri. Acneovulgarisoatau yang lebih dikenal denganonama jerawat merupakan penyakit kulitoobstruktif danoinflamatif yangodisebabkan oleh bakteri Staphylococcus epidermidis. Tujuanodari penelitian ini untuk mengujiodaya hambat larutan bawang putihoterhadap pertumbuhan bakteri S. epidermidis serta untuk mengetahuiokonsentrasi yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Hasilopenelitian mengenaiomanfaat larutan bawang putihodalam menghambatopertumbuhan S. sehingga dapat menjadi alternatif dalam pengobatan jerawat. Jenis penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan metode disk diffusion. Penelitian ini dilakukan sebanyak enam kali pengulangan. Kontrolopositif menggunakan antibioticoamoxicillin danocontrol negatifnyaoadalah aquadestosteril sedangkan konsentrasiolarutan bawangoputih yang digunakanoadalaho10%, 40%, 70%, 100% . Hasil penelitian menunjukkan bahwa larutan bawang putih memilikiodaya hambat terhadapopertumbuhan bakteri S. epidermidis serta konsentrasi yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. epidermidis adalah pada konsentrasi Hasil penelitian iniodapat menjadi acuan bahwa larutan bawang putih dapat dijadikan sebagai penghambat pertumbuhan Staphylococcus epidermidis sehingga dapat menjadi alternatif dalam pengobatan, salahsatunya dalam pengobatan jerawat. Kata kunci : acne vulgaris. Bawang Putih (Allium sativu. ,Staphylococcus epidermidis, zona ABSTRACT Garlic (Allium sativu. is a type of bulb which has a very high economic value. Can be used as a spice in various types of dishes, besides that garlic contains diallildisulfide (DADS) and dialliltrisulfida (DATS) which are used as an anti-bacterial. Acneovulgariso or better known by the name of acne is a skin disease that is obstructive and anti-inflammatory caused by the bacterium Staphylococcus epidermidis. The purpose of this study is to discuss the inhibitory power of garlic solution on the growth of S. epidermidis bacteria and to determine the most effective concentration in inhibiting the growth of Staphylococcus epidermidis bacteria. The results of this study are expected to be a source of information for the public regarding the use of garlic in overcoming the A Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Jorna. -ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. 2020: 22-31 growth of S. epidermidis so that it can be an alternative in the treatment of acne. This type of research is experimental using the disk diffusion method. This research was conducted six times. The positive control using antibioticoamoxicillin and the negative control is aquadestosteril while the concentration of garlic capsules used is 10%, 40%, 70%, 100%. The results showed that the white solution has inhibitory properties against the growth of S. epidermidis bacteria and also the most effective concentration in inhibiting the growth of S. epidermidis bacteria is at a concentration of 70%. The results of this study can be a reference about white aid can be used as an inhibitor of the growth of Staphylococcus epidermidis so that it can be an alternative in treatment, one of which is in the treatment of acne. Keywords : acne vulgaris. Garlic (Allium sativu. Staphylococcus epidermidis, inhibitory zone PENDAHULUAN Jerawat . cne vulgari. merupakan0suatu papul, pustul, komedo,dan nodul yang terjadi pada remaja danodewasa muda (Afriyanti. Jerawat hampir dialami oleh hampir setiap orang. Jerawat biasanya dialami ketika masa pubertas. Dari surveyodi kawasanoAsia Tenggaraoterdapat 4080%okasus akneovulgaris sedangkan menurut catatan studi dermatologi kosmetika Indonesia menunjukanoyaitu 60% penderita akne vulgaris pada tahun 2006, 80% terjadi pada tahun 2007odan 90% pada tahuno2009. Prevelansi tertinggi yaitu pada umur 14-17 tahun, dimana pada wanitaoberkisar 83-85% dan pada pria yaitu pada umur 16-19 tahunoberkisar 95-100%. Pada umumnya banyak remaja yang bermasalah dengan akne vulgaris yang menimbulkan keresahan (Upa et al, 2. Meskipun akne vulgaris tidak mengancam kehidupan, namun dapat menyebabkan masalah serius dalam kondisi sosial dan psikologis penderita. (Zahrah. Mustika, & Debora, 2. Walaupun masalah jerawat ini tidak memberikan akibat yang fatal, tetapi cukup merisaukan karena bagi yang kepercayaan dirinya, terutama mereka yang peduli akan penampilan (Meilina & Hasanah. Dari 317 responden yang memiliki masalah jerawat, 48,6% diantaranya merasa stres, 19,4% takut untuk berfoto, 22% takut bertemu seseorang untuk pertama kali dan 8,5% takut untuk bertemu dengan teman (Vilar et al, 2. Penyebab jerawat meliputi hiperproliferasi epidermisofolikular sehinggaoterjadi sumbatan folikel, produksi minyakoberlebihan, inflamasi, dan aktivitas bakteri. Bakteri yang dapat adalah P. acnes dan S. (Wahdaningsih. Untari, & Fauziah, 2. Bakteri S. epidermis ini secara alami hidup Bakteri S. umumnya telah resisten terhadap antibiotik Penggunaan metisilin menyebabkan resistensi terhadap antibiotik lain seperti rifamisin, gentamisin, tetrasiklin, kloramfenikol, eritromisin, clindamisin, dan Pemberian berlebihan akan menyebabkan bakteri patogen menjadi resisten, selain itu obat-obatan jenis antibiotik relatif lebih mahal (Mei, 2. Faktor utama penyebab semakin kebalnya suatu bakteri terhadap antibiotik yaitu karena penggunaan antibiotik itu sendiri. Munculnya kuman-kumanopatogen yang kebaloterhadap satu . ntimicrobacterial resistanc. ultipledrug resistanc. sangatomenyulitkan Disamping openggunaan antibiotikosecara berlebihan menyebabkanobakteri mencoba melakukan berbagai cara untuk melawan antibakteri, sehingga bakteri yangobertahan menjadiolebih kuatodan terus bertambah banyak dan semakinoberbahaya (Kurniawan & Aryana. Beragam agen yang dapat menginfeksi telah mengembangkan kekebalan, terutama fokus pada resistensi bakteri (Mardiyah, 2. Resistennya suatu bakteri terhadap antibiotik diketahui apabila tidak adanya daya hambat yang diberikan pada kadar maksimun Spesiesobakteri berkembangnya galur resisten (Gaol et al. Selainokarenaoresistensi, antibiotik, danojuga harga antibiotikoyang mahalodan juga apabilapenggunaan antibiotik tersebut dalam jangka waktu lama bisa A Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Jorna. -ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. 2020: 22-31 memberikanoefek samping. oOleh sebab itu pemanfaatan obat-obatan dari tumbuhan semakin seringoditeliti salahosatunya sebagai antibakterio(Upa et al. , 2. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada saatosekarang ini, tentunya sangat menunjang penggalian penelitian sebagaiotanaman obatoyang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Selain oharga bahan obat tradisionaloterbilangolebih murah dan bahan pemanfaatan bahan alami sebagaioobat tradisionalodinilai memilikioefekosamping yang yangoberasal dariobahan kimia. Pengobatan farmakologis telah banyak dikembangkan untuk mengatasi infeksi acne vulgaris akibat mikroorganisme terutama S. Namun menggunakanobahan-bahan alam, menjadi suatu hal yang patut dikembangkan,salah satunya denganobawang putih. Dilihat dari potensinya, bawang putih dapatodigunakan sebagai pengganti antibiotik. oKarena diaplikasikanosebagai obat, obawang putih telah menjadi salah satu tanaman tertua yang dibudidayakan manusia sehingga bawang putih dapat ditemukan di seluruh dunia. Manfaat Bawangoputihodipercaya danoantihipertensi (Salim, 2. Bawang putihodikenal sebagai antibakteri Zatobioaktif yangoberperan sebagai antibakteri dalam bawangoputih adalah allisin yang mudah menguap . dengan kandungan sulfur. Allisin terbentuk dari senyawa organosulfur utama dalam bawang putih yaitu gamma-glutamyl-s-allyl-cysteine dan Sallyl-L-cysteins sulfoxides . melalui reaksi enzimatis dengan bantuan enzim Sebagai antibakteri Allisin bekerja dengan mengubah fitur dari protein, lipid dan polysakarida pada selaput sel bakteri (Purwantiningsih et al, 2. Derivatosulfur lainnya yang tekandung dalamobawang putihoadalahoajoene, oalliin, allithiamin, . sistein, odimetilsulfida, dan dimetil trisulfida. oSelain itu kandungan senyawa aktif lainnya yang terkandung diodalam bawang putihoadalah minyak atsiri, alkaloid, tanin, saponin, dan flavonoid. oSenyawa-senyawaoaktif menghambatoproteolitik (Soraya et al, 2. Sudah dinyatakanobahwaobawang putih, bakteriogram-positif danogram-negatif Allisinoadalah senyawaosulfur teroksigenasi, oyang terbentuk ketikaosel bawang putih mengalamiokerusakan. Alliin adalah senyawa prekursorodari allisin dan disimpanodalam suatu kompartemenodalam sel bawangoputih yang terpisah darioenzimnya yaitu allinase. Ketika sel bawangoputih alliinoakanoberubah menjadioallicin (Salim. Bawang putih(Allium sativu. dapat digunakan dalam tiga bentuk, yaitu ekstrak bawang putih (EBP), minyak bawang putih (MBP), dan tepung bawang putih (TBP). Dari ketiga bentuk umum bawang putih yang sering digunakan, ternyata ada bentuk lain dari bawang putih yang juga dapat dimanfaatkan yaitu bawang putih dalam bentuk larutan atau sering disebut dengan larutan bawang putih (LBP). Beberapa menyebutkanobahwaobawang putih mampu menghambat pertumbuhan beberapa bakteri, baikobakteri Gram positif maupun Gram Prihandani, . telah melakukan Uji daya antibakteri bawang putih (Allium sativum ) terhadap tiga bakteri yaitu Staphylococcus Escherichia Salmonella typhimurium dan Pseudomonas aeruginosa Penelitian menggunakan metode difusi kertas cakram. Hasil penelitiannya menunjukkan bawang putihopada konsentrasi 50%, 25% dan 12,5% efektif menghambat pertumbuhan bakteri aureus. coli, oS. Sebelumnya (Salim, melakukan penelitian tentang Pengaruh Ekstrak BawangoPutih (Allium sativu. Terhadap pertumbuhan Bakteri Gram Positif (Staphylococcus aureu. dan Gram Negatif (Escherichia col. Secara In Vitro. Penelitian ini A Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Jorna. -ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. 2020: 22-31 dilakukan denganometode kirby bauer disk diffusion, hasil penelitiannya menyatakan Bakteri gram-positif (S. dan gramnegatifo (E. diameter zona hambat lebih dari 20 mm dengan kadar 60%, 80% dan 100% menurut CLSI edisi ke-11odengan rerata diameter zona hambatoseluruh kelompok konsentrasi 23. mm untuk S. aureus dan 22. 30 mm untuk E. Selanjutnya Purwantiningsih et al. , . telahomelakukan Uji Antibakteri Ekstrak Bawang Putih untuk Menghambat Bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Uji daya hambat dilakukan dengan metode Hasilnya menunjukkan penggunaan larutan ekstrak bawang putih konsentrasi 25% mampu menghambat bakteri Escherichia coli sebaik larutan antibakteri komersial. Namun, konsentrasi 20%, 25%, dan 30% belum mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus sebaik larutan antibakteri komersial. Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, belum pernah dilaporkan pengaruh larutan bawang putih terhadap pertumbuhan bakteri yang habitatnya dipermukaan kulit seperti bakteri S. Oleh karena itu,odilakukan mengetahuiopengaruh larutanobawang putih terhadap pertumbuhan S. epidermidis serta pertumbuhanobakteri S. Penelitian mengujiodaya hambatolarutan bawang putih dalamomenghambat pertumbuhanobakteri S. konsentrasiomanakah yang paling efektif dalamomenghambat pertumbuhanobakteri S. epidermidis sehinggaodapat menjadiosumber informasi bagi masyarakat mengenai manfaat larutanobawangputih (Allium sativu. dalam menghambat pertumbuhan S. sehingga dapat menjadi alternatifodalam pengobatan jerawat. METODE PENELITIAN Penelitian menggunakan teknik Kirby-Bauer disc Tujuan penelitian ini untukomelihat pengaruholarutan bawang putih (Allium sativum ) terhadap pertumbuhano bakteri S. Penelitianoini dilaksanakan di Laborarotium Bakteriologi STIKes Perintis Padang. Sampeloyang digunakan adalah Penelitianoini menggunakan uji in vitro maka jumlah kelompok sama dengan jumlahopengulangan sesuai rumus Federer. Pada penelitian ini penelitiomenggunakan 4 kelompok pada masing-masing konsentrasi . %, 40%, 70%, 100%). Kontrol positif menggunakan amoxcillin 25 AAg dan kontrol negatif menggunakan Alat berupatabung reaksi, jarum Ose, bunsen, mikropipet, pinset, cawan petri, rak tabung, penggaris, kamera, autoclave, alat tulis, label, inkubator, lumpang dan alu, timbangan digital, sarung tangan, masker. Sedangkan bahan yang digunakan berupa larutan bawangoputih, media AgaroDarah (AD), media Mueller Hinton Agar (MHA), aquadest steril. NaCl, larutan standar 0,5 mF, alkohol 70 %, biakan bakteri S. epidermidis, cakram uji kosong, okorek api, swab kapas, tissue, kasa. Amoksilin 25 ug, dan aquadest steril. Alatoyang penelitian dicuci bersih laluodisterilisasi dengan menggunakan autoclave selama 15 menitopada suhu 121AC dengan tekanan 1,5 Sedangkanountukobawang putih yang telahodikupas, oditimbang sebanyak 350g denganotimbanganodigital kemudian bawang dimasukkanokedalam plastikodan ditumbuk hingga halus denganomenggunakan alu dan Hasil tumbukan diperas dengan menggunakan kasa yang sebelumnya telah Perasan ditampung pada cawan petri yang telah disterilkan. Selanjutnya, hasil perasan bawang putih dibagi menjadi 4 konsentrasi yaitu 10%, 40%, 70%, 100%. Sedangkanountuk kultur bakteri, dilakukan murni S. epidermidisopada media agar darah lalu diinkubasi padaosuhu 37AC selama 24 jamodidalam inkubator. Selanjutya, bakteri diencerkan dengan mencampurkan 1 ose epidermidis kedalamotabung reaksi yangotelah berisioNaCl. Selanjutnya distandarisasikanodengan skalaoMc Farland 0,5. Suspensi lalu dioleskanopada media Mueller Hinton Agar (MHA) menggunakan swab kapasosteril. Kontrol positif, okontrol negatif dan cakram uji . irendam 15-30 menit pada masingmasingokonsentrasi perasan bawang puti. diletakkan diatas permukaan media Mueller A Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Jorna. -ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. 2020: 22-31 Hinton Agar (MHA) Selanjutnyaodiinkubasi ke dalam inkubator 37AC. Selanjutnyaodiukur diametarozona hambat (Clear zon. Data yang didapatodi analis secara deskriptifodan dilihatohubungan masing-masing perlakuan dengan analisa bivariat. HASIL DAN PEMBAHASAN Larutan Bawang putih yang dihasil berwarna kuning kecoklatan. Dari 350 g bawang putih dihasilkan didapatkan 150 ml larutan bawang putih (Gambar . dari warna kuning muda pada konsentrasi 10% hingga warna coklat muda pada konsetrasi Pengaruh warna yang mendominasi pada bawang putih ini adalah karena mengandung 0,2% minyak atsiri yang berwarna kuning kecoklatan. Sampel penelitian yang digunakan merupakan bakteri epidermidis yang diperoleh laboratoriumoSTIKes Perintis Padang. (Gambar . Gambar 3. Koloni Staphylococcus epidermidis pada medium agar darah. Gambar 1. Larutan Bawang Putih Dari air larutan bawang putih tersebut dibuat larutan bawang putih dengan variasi konsentrasi 10%, 40%, 70% dan 100% (Gambar 2. ) Tujuan Pembuatan variasi konsentrasi larutan ini untuk menentukan konsentrasi yang paling efektif dalam Gambar 2 : Larutan bawang putih dalam berbagai konsentrasi . %, 40%, 70% dan 100% ) Pada gambar 2. dapat dilihat perbedaan warna dari masing-masing konsentrasi. Semakin tinggi konsentrasi larutan maka warna yang dihasilkan semakin pekat yaitu Pemeriksaan mikroskopis bakteri uji pada penelitianoini bertujuan untuk mengidentifikasi dari bakteri yang digunakan, yang dilengkapi dengan uji biokimia terhadap bakteri S. epidermidis ini. Koloni pada Staphylococcus epidermidis berbentuk bulat, cembung, putih dan unhemolisa . idak dapat menghemolisis Hasil pewarnaan gramnya adalah gram positif dengan susunan sel bergerombol seperti buah anggur. Bakteri S. epidermis ini secara alami hidup diomembran kulit dan membran mukosa manusia S. oBakteri S. epidermidis umumnya telah resisten terhadap antibiotik penisilin dan metisilin. Penggunaan terhadapoantibiotik lain seperti rifamisin, oeritromisin, oclindamisin, dan sulfonamide (Mei, 2. Hasil identifikasi bakteri uji pada lempeng agar darah setelahoinkubasi selamao24 jam pada suhu 37AC disajikanopada tabel 1. Makroskopis dari bakteri S. epidermidis, koloni bulat, cembung, berwarna putih sampai dengan abu-abu dan unhemolisa yang menandakan bahwa bakteri S. Epidermidis A Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Jorna. -ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. 2020: 22-31 Tabel 1. Identifikasi bakteri Staphylococcus epidermidis pada lempeng Agar Darah, inkubasi 1y24 jam dengan suhu 37AC. UJI Pewarnaan Gram Susunan sel Morfologi Koloni Tes Katalase Tes Mannit HASIL Coccus gram positif ( ) Bergerombol seperti buah Koloni bulat, cembung, putih. Positif ( ) Negatif ( - ) Koagulase Negatif ( - ) tidak dapat menghemolisis darah. Mikroskopis dari S. epidermidisomerupakan bakteri gram positif berbentuk coccuso . yang tersusun bergerombol seperti buah anggur, berdiameter 0,5 Ae 1,5 AAm. Tes katalase positif. Gelembung yang dihasilkan pada tes ini adalah Oksigen. Gelembung Oksigen merupakan hasilopenguraian H2 O2 (Hidrogen peroksid. diurai menjadi air dan oksigen. Bakteri dengan katalase positif memilki enzim katalase yang mampu menguraikan H2 O2 (Hidrogen Tes Biokimia pada media Mannitol salt bersifat negatif. Mannitol salt merupakan media selektif karena memiliki konsentrasi NaCl yang tinggi . ,5%). Bakteri S. epidermidis tidak mampu bertahanohidup dilingkunganodengan kadar garam yang tinggi . Bakteri S. epidermis memiliki karakteristik fisiologis yaituopada media manitol salt agar yaitu koloninyaobulat cembung berwarna putih kekuningan Gramopositif, berbentuk bulat, bergerombol, berdiameter 0,5Ae 1,5 m dan non motil dan untuk karakteristik biokimia yaituokatalase positif, koagulase negatif dan memfermentasioManitol (Karimela. Metode disk diffusion menggunakan piringan kertas cakram yangoberisikan agen antimikrobaodan ditanamodi atas media agar. Inkubasi dilakukan selama 18Ae24 jamopada suhu 37oC. Interpretasiodari ujioini akan ditumbuhi olehopembiakan bakteri diomedia agar yang disebutosebagai zona hambat, jika semakin besarozona hambat yangoterbentuk tersebut (Purwantiningsih et al. , 2. Hasil pengamatan uji daya hambat larutan epidermidis denganometoda disk diffusionodapat dilihat pada tabel 2. Hasil pada menunjukkan larutan bawang putih dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. Tabel 2. Hasil PenelitianUji DayaoHambat Bakteri Staphylococcus epidermidis Diameter Daya hambat . Pengulanga Kontrol (-) Kontrol ( ) Rata-rata Hal ini dapatodilihat dari zonaohambat yang dihasilkan dari berbagai Larutan bawang putih pada konsentrasi 10 %, 40%, 70% dan 100% berbeda beda. oSemakin tinggi konsentrasi larutan bawang putih yang digunakan, omaka semakin besarozona hmabat yangodihasilkan. A Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Jorna. -ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. 2020: 22-31 Hasil pengamatan uji daya hambat larutan bawang putih padaokonsetrasi 10%, 40%, 70% dan 100% terhadapopertumbuhan bakteri 1y24 jamopadaosuhu 37AC pada mediumoMHA dapat dilihat pada gambar 3. Gambar 3. Hasil uji daya hambat larutan bawang putih terhadap pertumbuhan Staphylococcus yangodiikubasi 1x24 jamopada suhu 37AC. Metode difusiocakram yang prinsipnya mikroorganisme yangodiujikan. Zona hambat akanoterlihat sebagai daerah jernih di sekitar daerah yang mengandung zat antibakteri. Sensitivitasobakteri terhadap zat antibakteri ditandai dengan terbentuknya diameter zona hambat diosekitar kertas cakram. Zonaoyang terbentuk pada aktifitas anti bakteri dengan terhadapopertumbuhan bakteri S. Untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap zona hambat larutan bawang putih terhadapopertumbuhan bakteri S. dianalisis dengan uji oneoway anova. Dari hasil analisisodapat diketahui bahwa larutan bawang putih berpengaruh signifikan dalam Uji selanjutnya menyatakan bahwa konsentrasi 10% dan 40% menunjukkan perbedaan secara signifikan, konsentrasi 40% dan 70% juga menunjukkan perbedaan secara Dan selanjutnya konsentrasi 70% dan 100% juga menunjukkan perbedaan secara signifikan. Berdasarkan Respon Hambat Pertumbuhan bakteri dapat diklasifikasikan, diameter >20 mm menunjukkan respon diameter 10-15 mm menunjukkan respon hambat lemah, odan <10 mm menujukkan respon hambat kurang efektif. (Mulyadi. Wuryanti, & Sarjono, 2. Jadi, dari hasil nilai rata-rata diameter hambat dapat diketahui bahwa larutan bawang putih 10% dan 40% mempunyai daya hambat lemah terhadap bakteri S. Sedangkan konsentrasi 70% dan 100% memberikan daya hambat yang sedang terhadap bakteri S. Jika dibandingkan dengan kontrolonegatif dapat dilihat pada tabel tidak menghasilkan zona Sedangkan kontrol positif sebagai pembanding ternyata menghasilkan daya hambat yang terhadap bakteri S. Dari hasil diatas dapat kita simpulkan dalamomenghambat pertumbuhan bakteri S. epidermidis adalah konsentrasi 70%. Karena konsentrasi 10% dan 40% daya hambat yang dalamomenghambat pertumbuhan bakteri S. Sedangkan untuk konsentrasi 70% dan 100% sama-sama menunjukkan diameter hambat yang sedang, namun tentu dari kedua konsentrasi ini konsentrasi 70% dinyatakan lebih efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri S. Epidermidis karena konsentrasi larutan bawang putih yang digunakan lebih kecil. Dari hasil penelitian ini, bisa kita lihat larutan bawang putih dapat digunakan dalam menghambat pertumbuhan S. Pemanfaatan bahan alami ini sebagai obat tradisionalolebih dinilai memiliki efek samping yang lebihokecil dibandingkanodengan obat yang berasal dari bahan kimia, disamping itu harga bahan obat tradisional terbilang lebih murahodan bahan bakunya mudah untuk Uji Terhadap pertumbuhan Staphylococcus epidermidis dapat dilihat pada Berdasarkan tabel 3 hasil pengolahan data menunjukkan bahwa konsentrasi 10% dibandingkan dengan kosentrasi 40%, 70%. A Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Jorna. -ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. 2020: 22-31 Tabel 3. Uji efektivitas Staphylococcus epidermidis (I) Kosentrasi (J) Kosentrasi Mean Difference (I-J) Std. Error Terhadap pertumbuhan 95% Confidence Interval Sig. Upper Bound Lower Bound 000(*) 000(*) 167(*) 000(*) 000(*) 167(*) 000(*) 000(*) 167(*) 167(*) 167(*) 167(*) Konsentrasi 40% dibandingkan dengan konsentrasi 10% dan 100% terdapat perbandingaan dengan konsentrasi 70% tidak terdapat perbedaan bermakna Konsentrasi 70% dibandingkan dengan konsentrasi 10% dan 100% terdapat perbedaan bermakna sedangkan perbandingan dengan konsentrasi 40% tidak terdapat perbedaan bermakna. Konsentrasi 100% dibandingkan dengan konsentrasi 10%, 40%, 70% terdapat perbedaan bermakna. Diagram pertumbuhan bakteri pada Media Mueller Hinton dengan 6 kali pengulangan dapat dilihat pada gambar 4. Gambar 4. Signifikasi Pertumbuhan Bakteri Value 0,000 Setelah efektifitas larutanobawang putih (Allium sativu. terhadap pertumbuhan bakteri S. epidermidis maka diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa larutan bawang putih mampu menghasilkan daya hambat terhadap pertumbuhan bakteri S. Hal ini dapatodilihat dari terbentuknya daerah bening bebas kuman disekitar cakram yang telah direndam dengan larutan bawang putih dengan berbagai konsentrasi. Konsentrasi larutan bawang putih yang digunakan sangat mempengaruhi daerah bening yang terbentuk disekitar cakram uji. Pada penelitian ini konsentrasi larutan bawang putih yang digunakan adalah 10%, 40%, 70%, 100% dengan kontrol negatif menggunakan positifomenggunakan antibiotik amoxycillin. Sensitifitas bakteri terjadi pada larutan bawang putih dengan keempat konsentrasi 10%, 40%, 70 % dan 100%. Berdasarkan dilakukan terhadap pengukuran diameter masing-masing konsentrasi dengan enam kali pengulangan, menunjukkan bahwa larutan bawang putih pada konsentrasi 70% merupakan konsentrasi A Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Jorna. -ISSN : 2622-4135. All rights reserved Jurnal Kesehatan Perintis (PerintisAos Health Journa. 2020: 22-31 Stahpylococcus Dengan menunjukkanodaya hambat yang sedang terhadap pertumbuhan Namun, jikaodibandingkan dengan konsentrasi 100% memang memberikan diameter hambat yang lebih tinggi tapi konsentrasinya terlalu tinggi, namun kategori daya hambat yang diberikan oleh 100% juga masih tergolong pertumbuhan S. Adanya bakteriodalam larutan bawang putih terhadap Staphylococcus Semakin bawang putih, semakin besar diameter daya hambat (DDH) yangodihasilkan, oartinya (Purwantiningsih et al. , 2. Hasil penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh (Mardiyah, 2. menunjukkan bahwa pada konsentrasi perasan 100%, 50%, dan 25% tidak ditemukan pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus pada media MSA. Berdasarkan hal ini konsentrasi 100%, 50%, dan 25% dikatakan sebagai daya bunuh. Daya bunuh bakteri terjadi padaokonsentrasi 25%, kandungant zat anti mikroba pada konsentrasi perasan bawang putih tersebutosangatoefektif membunuh bakteri Staphylococcus aureus. Semakin tinggiokonsentrasi yang digunakan menghasilkan daya bunuh semakin besar. Selanjutnya Salim . menyimpulkan hasilopenelitiannyaoBakteri gram-positif (S. dan gram-negatif (E. tergolong 20mm dengan kadar 60%, 80% dan 100%. Semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka diameterozona hambat yang dihasilkan jugaosemakin besar. Purwantiningsih et al. , . melaporkan penggunaan larutan ekstrak bawang putih konsentrasi 25% mampu menghambat bakteri Escherichia coli sebaik larutan antibakteri Namun, larutan ekstrak bawang putih konsentrasi 20%, 25%, dan 30% belum mampu menghambat bakteri Staphylococcus aureus sebaik larutan antibakteri komersial. Semakin tinggi konsentrasi maka semakin besar pula jumlah senyawa aktif yang terkandung didalamnya sehingga daya hambat terhadap pertumbuhan kuman semakin besar. Sebaliknya dengan penurunan konsentrasi maka semakin sedikit pula senyawa aktif yang terkandung didalamnya sehingga daya hambat pertumbuhanpun semakin kecil. Efekoantibakteri dari bawang putih disebabkan oleh karenaoadanya allicin yang merupakanoderivat dari kandunganosulfur. Senyawa antibakteri ini yang terdapat pada larutan bawang putih yang bekerja dengan cara merusak dinding sel danomelisiskan sel oDerivat sulfur lainnya yang tekandung dalam bawang putih adalahoajoene, alliin, allithiamin,sistein. Selain kandunganosenyawa dalamobawang putih adalah atsiri, alkaloid, tanin, saponin, dan flavonoid. Senyawasenyawaoaktif sinergisosebagai antibakteri dengan cara merusak dinding sel dan melisiskan sel bakteri, oserta menghambat proteolitik. Bawang putih dipercaya memiliki manfaat bakteriostatik, antiviral, antihelmintik dan antihipertensi(Salim, 2. KESIMPULAN Larutan bawang putih dapat menghambat Staphylococcus epidermidis pada konsentrasi 10%, 40%, 70%, 100%, terbukti dengan terbentuknya zona bening disekitar cakram uji. Konsentrasai larutan bawang putih yang paling efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis adalah pada konsentrasi 70%. REFERENSI