Vol. 3, 3 (Juli, 2. , pp. EISSN: 3031-0881 DOI: 10. 62083/masterpiece. Peran dan Tantangan Muhammadiyah di Era Digital Harianto Ghany Rakhman1. Syaiful Ikhwan Nurdin2. Suhantok Karisma3 1Universitas Muhammadiyah Tangerang. ghany@gmail. 2Universitas Muhammadiyah Tangerang. ikhwan@gmail. AUniversitas Muhammadiyah Tangerang. icham241010@gmail. ARTICLE INFO Keywords: Peran. Tantangan. Muhammadiyah. Era Digital Article history: Received 2025-05-18 Revised 2025-07-07 Accepted 2025-07-08 Corresponding Author: Harianto Ghany Rakhman. Universitas Muhammadiyah Tangerang. ghany@gmail. CopyRight: This is an open access article under the CC BY-NC-SA license. ABSTRACT The digital era has brought major transformations to the Islamic education and da'wah system in Indonesia. Muhammadiyah, as one of the largest modernist Islamic organizations in the country, plays a crucial role in responding to these changes through educational reform . This study aims to explore the role and challenges of Muhammadiyah in navigating the digital age, particularly in the context of Islamic education. A normative research method was employed, utilizing literature review and policy analysis. The findings indicate that Muhammadiyah has embraced digital technology through online learning, digital platforms, and social media da'wah. However, challenges remain, including limited digital competence among educators, the need for curriculum reform, and the negative moral impact of digital media on youth. Strategies such as strengthening human resources, technology training, and cross-sector collaboration have been implemented. With a progressive and Islamically grounded approach. Muhammadiyah has the potential to become a leading force in adaptive and excellent Islamic education in the digital era. ABSTRAK Era digital membawa perubahan besar dalam sistem pendidikan dan dakwah Islam di Indonesia. Muhammadiyah sebagai salah satu organisasi Islam modernis terbesar di Indonesia, memiliki peran penting dalam menjawab tantangan tersebut melalui pembaruan . di bidang Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran dan tantangan Muhammadiyah dalam menghadapi era digital, khususnya dalam ranah pendidikan Islam. Metode yang digunakan adalah penelitian normatif dengan pendekatan literatur dan analisis kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah memanfaatkan teknologi digital melalui pembelajaran daring, platform digital, dan dakwah media sosial. Namun, tantangan yang dihadapi mencakup keterbatasan kompetensi digital pendidik, perlunya pembaruan kurikulum, serta pengaruh negatif media digital terhadap moral generasi muda. Strategi yang ditempuh antara lain penguatan SDM, pelatihan teknologi, dan kolaborasi lintas sektor. Dengan pendekatan progresif dan berbasis nilai Islam. Muhammadiyah berpotensi menjadi pelopor pendidikan Islam yang adaptif dan unggul di era digital. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 314 of 321 PENDAHULUAN Pendidikan merupakan suatu kegiatan unuk meningkatkan pengetahuan seseorang termasuk peningkatan penguasaan teori dan keterampilan memutuskan terhadap persoalan-persoalan yang menyangkut kegiatan untuk mencapai tujuan. Pendidikan memiliki peran yang penting dalam membentuk masa depan suatu masyarakat, memberikan bekal keterampilan dan pengetahuan bagi individu untuk berkembang dalam mengikuti perkembangan zaman. Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam yang besar dan berkontribusi dalam bidang pendidikan. Tetapi, dengan perkembangan teknologi di era digital ini banyak tantangan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. (Rambe et al. Tantangan pendidikan di era digital ini tidak terjadi pada guru, dan manajemen sekolah, tetapi banyak generasi muda yang telah kehilangan arah dan nilai-nilai yang bersumber dari identitas diri bangsa Indonesia. Perkembangan teknologi ini memberikan dampak positif dan negatif bagi pendidikan di Indonesia. Dampak positif yang diperoleh yaitu memudahkan dalam mencari informasi terkait pembelajaran, memudahkan komunikasi dengan orang lain. Terjadinya penurunan kualitas moral bangsa merupakan salah satu dampak negatif adanya globalisasi ini. Seperti yang terjadi dikalangan pelajar yang banyak melakukan kenakalan remaja seperti sex bebas, penyalahgunaan narkoba, tawuran. Dalam hal ini sudah terbukti bahwa pendidikan di Indonesia belum sepenuhnya berhasil untuk membentuk karakter bangsa Indonesia yang baik. Pendidikan yang terjadi di tingkat SD. SMP. SMA maupun tingkat Universitas itu hanya memfokuskan terhadap penilian kognitif dengan mementingkan penilian sesua standar Kompetensi Kelulusan Minimal (KKM). (Akhmad. Pembentukan lembaga pendidikan maupun organisasi kemasyarakatan merupakan salah satu langkah yang dilakukan pemerintah untuk menghadapi pembentukan karakter bagi pelajar di era digital. Di Indonesia. Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam terbesar yang aktif mendorong pembaruan pemikiran, pendidikan, dan hukum Islam. Sejak berdiri pada tahun 1912. Muhammadiyah mengusung semangat tajdid . untuk menjawab tantangan zaman. Fokus Muhammadiyah pada isu-isu keilmuan dan reformasi hukum telah menjadikannya aktor penting dalam membangun peradaban Islam yang relevan dengan modernitas. (Yanti & Dewi, 2. Muhammadiyah didirikan oleh K. Ahmad Dahlan di Yogyakarta dengan semangat untuk menghidupkan kembali ajaran Islam yang murni dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Konsep tajdid yang diusung Muhammadiyah memiliki dua aspek utama yaitu pemurnian ajaran Islam dari praktik-praktik yang dianggap menyimpang . dan pembaruan dalam memahami serta mengaplikasikan syariat sesuai konteks zaman. Tajdid ini tercermin dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, kesehatan, hingga pengelolaan sosial. Filosofi ini berakar pada pandangan bahwa Islam adalah agama yang dinamis dan progresif, sehingga harus dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan budaya (Purnomo, 2. Kontribusi terbesar Muhammadiyah adalah dalam bidang Muhammadiyah mendirikan ribuan sekolah, universitas, dan lembaga pendidikan yang mengintegrasikan kurikulum agama dengan ilmu pengetahuan modern. Konsep pendidikan yang dikembangkan Muhammadiyah menekankan pada pengembangan akhlak, kecakapan intelektual, dan keterampilan teknis. Pendekatan ini bertujuan membentuk generasi yang tidak hanya taat secara religius tetapi juga mampu bersaing dalam dunia global. (Hendayani, 2. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 315 of 321 METODE Penelitian ini menggunakan metode penelitian normatif, yang berfokus pada kajian terhadap norma, prinsip, dan ajaran yang berlaku dalam konteks Muhammadiyah dan tantangan ilmu pengetahuan di era digital. Pendekatan normatif bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis pandangan-pandangan ajaran Muhammadiyah terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan dalam konteks digital. Dalam penelitian ini, berbagai sumber seperti, jurnal, dokumen resmi, artikel terkait, serta kebijakan internal organisasi akan dianalisis untuk memahami bagaimana Muhammadiyah merespons dinamika digitalisasi. Langkah pertama dalam penelitian ini adalah melakukan kajian literatur terhadap teori-teori yang relevan serta ajaran Islam yang mendasari Muhammadiyah, dengan fokus pada prinsip-prinsip yang mengatur ilmu pengetahuan dan Selain itu, penelitian ini akan membandingkan pandangan Muhammadiyah dengan pandangan organisasi atau lembaga lain terkait penerapan ilmu pengetahuan di era digital. Hal ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang bagaimana Muhammadiyah dapat mengoptimalkan pemanfaatan teknologi dalam menghadapi tantangan zaman, sekaligus tetap berpegang pada nilai-nilai Islam yang mendasari organisasi ini. Dengan pendekatan ini, diharapkan penelitian ini dapat memberikan rekomendasi kebijakan yang relevan bagi Muhammadiyah dalam menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era digital, serta membantu memperkuat posisi organisasi dalam konteks globalisasi dan digitalisasi. Hasil dan Pembahasan. TEMUAN DAN DISKUSI Perkembangan Muhammadiyah di Pendidikan Pendidikan adalah proses mengubah sikap atau perilaku seseorang untuk membentuk karakter atau kepribadiannya melalui pelatihan dan instruksi. Proses ini sangat penting bagi lembaga pendidikan untuk menanamkan sikap dan moral yang baik. Pendidikan juga membantu siswa menjadi warga negara yang baik, atau warga negara yang baik, sehingga mereka dapat menerapkannya dalam kehidupan bernegara. Ekonomi, keamanan, dan pendidikan adalah pilar utama suatu negara. Salah satu ukuran sumber daya manusia bangsa adalah pendidikan. Karena pendidikan memainkan peran penting dalam kemajuan suatu bangsa, pendidikan harus diprioritaskan, bahkan harus menjadi prioritas utama, untuk mencetak dan melahirkan orang-orang akademis yang akan menjadi tonggak kemajuan bangsa. Bangsa yang memiliki warganya yang berpendidikan tinggi dan maju akan maju dan disegani oleh bangsa lain. Muhammadiyah menekankan untuk meningkatkan kehidupan beragama melalui pendidikan dan kegiatan sosial. Dalam hal ini. Kyai Haji Ahmad Dahlan berhasil menyajikan model pendidikan baru sebagai alternatif dari pendidikan pesantren dan sekolah Belanda. Pendidikan Muhammadiyah telah mampu mencetak generasi muda yang lebih berbakat dibandingkan dengan alumni sekolah Belanda dan pesantren. Sistem pendidikan Muhammadiyah adalah inovasi baru yang menggabungkan aspek tradisional, seperti pondok pesantren, dengan aspek modern, yang diilhami oleh sistem pendidikan Barat. Sebagai pendiri Muhammadiyah. KH. Ahmad Dahlan mendirikan lembaga pendidikan Muhammadiyah dengan pendekatan pendidikan baru. Metodemetode ini kemudian menjadi bagian penting dari sistem pendidikan Muhammadiyah Dalam Kongres Muhammadiyah di Betawi. Jakarta, pada tahun 1936, 24 tahun setelah berdirinya Muhammadiyah pada tahun 1912, kesadaran untuk membuat garis Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 316 of 321 besar tujuan pendidikan Muhammadiyah secara resmi muncul. Meskipun demikian, perlu diingat bahwa garis besar pendidikan Muhammadiyah juga telah ada sebelumnya. Pandangan KH Ahmad Dahlan mengenai tujuan pendidikan: dadiyo kyai sing kemajuan, lan aja kesel-kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah. Dengan kata lain, jadilah ulama yang maju dan tidak kenal lelah bekerja atau berkorban untuk Muhammadiyah. Menurut Kyai Dahlan, tujuan pendidikan Muhammadiyah adalah untuk menghasilkan orang Islam yang menguasai "ilmu-ilmu agama" dan "ilmu-ilmu umum" sehingga mereka dapat menjadi individu yang cerdas . , yang siap berjuang atau bekerja untuk memecahkan masalah sosial-kemasyarakatan. (Tujuan et al. , 2. Muhammadiyah dalam mencapai tujuan tersebut, siswa harus dibekali dengan pembiasaan moral yang baik dan bernilai luhur. Pada Muhammadiyah, konsep pembentukan karakter sesuai dengan yang diusung oleh KH. Ahmad Dahlan sebagai pendirinya, yaitu membentuk individu muslim yang berpandangan luas, berbudi pekerti luhur, dan mampu berjuang untuk kepentingan umum masyarakat. (Akhmad, 2. Peran Muhammadiyah di Era Digital Meskipun Muhammadiyah telah melakukan berbagai inovasi, tantangan era digital tetap signifikan. Banyak guru dan dosen di lingkungan Muhammadiyah yang belum memiliki kompetensi digital yang memadai untuk memanfaatkan teknologi secara maksimal dalam pembelajaran. Selain itu, kurikulum yang belum sepenuhnya terintegrasi dengan kebutuhan zaman membuat proses pembelajaran cenderung ketinggalan dibandingkan dengan lembaga lain yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi. Tantangan lain datang dari ekosistem digital itu sendiri, yang sarat dengan konten hoaks, paham keagamaan yang ekstrem, dan degradasi moral yang menyasar generasi Muhammadiyah dituntut untuk tidak hanya memanfaatkan media digital, tetapi juga hadir sebagai filter moral yang mampu membendung arus negatif tersebut. Dakwah yang dilakukan secara konvensional harus bertransformasi menjadi dakwah digital yang sistematis, kreatif, dan menyentuh dimensi emosional serta intelektual generasi digital. Tantangan Muhammadiyah di Ilmu Pendidikan Pendiri Muhammadiyah. KH Ahmad Dahlan, menggunakan meja, kursi, dan kelas . uang klasi. sebagai metode belajar mengajar. Muhammadiyah juga menggabungkan pendidikan agama dengan pendidikan umum. Kombinasi ini memastikan bahwa pendidikan Muhammadiyah masih ada hingga hari ini. Tapi Muhammadiyah Pendidikan harus mampu menghadapi tantangan pendidikan yang lebih kompleks dan kompetitif di era revolusi industry 4. Revolusi industri 4. 0 adalah pendidikan yang mengutamakan penggunaan teknologi digital atau digitalisasi dalam proses pembelajaran, juga dikenal sebagai sistem siber. Pembelajaran menjadi lebih cepat, lebih mudah, dan berlangsung secara berkelanjutan . tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga dapat dilakukan dimanapun. Masuknya era digital saat ini, seiring dengan perkembangan zaman yang begitu cepat, pasti akan mengubah paradigma dalam pendidikan. Dalam dunia pendidikan, akan ada efek yang baik dan buruk. Pembelajaran Islam, termasuk pendidikan Muhammadiyah, tidak terkecuali. Dalam era pendidikan tradisional, guru memainkan peran penting dalam proses belajar mengajar. namun, dalam era pendidikan digital, guru bertindak sebagai (Amirudin, 2. Pengembangan pendidikan Islam di Indonesia adalah perjalanan panjang yang penuh dengan tantangan. Ini terutama karena Muhammadiyah memiliki peran penting Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 317 of 321 dalam memberikan pendidikan berkualitas tinggi yang sejalan dengan nilai-nilai Islam. Berikut adalah beberapa tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut:(Hatija, 2. Pengaruh globalisasi Perkembangan globalisasi untuk pendidikan bukanlah suatu hal yang buruk bagi Muhammadiyah, karena dengan perkembangan globalisasi ini dapat memberikan hal positif bagi perkembangan Muhammadiyah. Namun, globalisasi ini juga dapat memberikan dampak negatif yang bisa mempengaruhi pendidikan. Muhammadiyah harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pendidikan dengan mempertahankan nilai-nilai tradisional Islam. Globalisasi juga membuat sulit untuk menjaga keaslian budaya dan identitas Islam dalam pendidikan, sehingga pendekatan yang bijak dan seimbang diperlukan. Berkembangnya IT dan Media Sosial Perkembangan IT yang terus meningkat menjadi tantangan tersendiri bagi Muhammadiyah dalam kegiatan dakwah. Jika dakwah yang dilakukan masih dilakukan dengan cara konvensional yaitu dari masjid ke masjid, dari majelis ke majelis, maka dengan perlahan aktivitas dakwah Muhammadiyah akan tertinggal. Di saat yang sama, organisasi lain telah melakukan digitalisasi pada setiap dakwahnya melalui media sosial. Berbagai macam aplikasi yang digunakan untuk menyebarkan pemahaman yang menjadi doktrin dari suatu kelompok. Dengan penggunaan media sosial ini sering dijumpai tindakan kejahatan, penipuan, mengumbar aurat. Hal tersebut yang menjadi suatu tantangan bagi muhammadiyah dalam era digitalisasi ini. Dan Muhammadiyah harus bias mengikuti perkembangan media sosial untuk melakukan penyebaran hal yang positif, seperti dakwah melalui media sosial. Tantangan dalam hal pembaruan kurikulum. Agar pendidikan Islam relevan dan memenuhi kebutuhan masyarakat kontemporer, ia harus disesuaikan dengan perubahan zaman. Tantangan ini mencakup menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memberikan kesempatan kepada siswa Muhammadiyah untuk bersaing di tingkat nasional dan internasional. Untuk mengubah kurikulum, guru harus dilatih dan dikembangkan agar mereka dapat memberikan pendidikan yang sesuai dengan tuntutan zaman. Keterampilan Teknologi Banyak guru yang belum memiliki keterampilan teknologi yang memadai untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran. Mereka perlu mempelajari dan menguasai alat-alat dan aplikasi teknologi yang relevan dengan pembelajaran, seperti platform pembelajaran online, perangkat lunak produktivitas, dan multimedia Tantangan ini memerlukan upaya pengembangan profesional dan pelatihan yang berkelanjutan bagi guru. Muhammadiyah menghadapi beberapa masalah terkait pendidikan, seperti peningkatan pesat jumlah lembaga Muhammadiyah meskipun tidak sebanding dengan kualitas pendidikan yang ada. Menjamurnya sekolah dan universitas Muhammadiyah di tanah air tidak diikuti oleh peningkatan kualitas, sehingga tidak memberikan kontribusi yang signifikan kepada bangsa. Pendidikan Muhammadiyah terkesan stagnan meskipun Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 318 of 321 beberapa lembaganya mengalami peningkatan kualitas dan kualitas pendidikan. Di bidang pendidikan, juga belum banyak yang melakukan inovasi dan improvisasi. Secara keseluruhan, pendidikan Muhammadiyah tampaknya tidak memiliki kemampuan untuk bersaing secara nasional atau internasional. Jumlah guru yang tidak memadai di lembaga pendidikan Muhammadiyah adalah masalah lain yang dihadapi Muhammadiyah. Pembelajaran Islam Kemuhammadiyahan (AIK) adalah salah satu tantangan besar yang dihadapi lembaga pendidikan Muhammadiyah. Selain itu, lembaga pendidikan Muhammadiyah harus memperbaiki metode pengajaran dan fasilitas pendidikannya. Dua topik ini adalah ruh Muhammadiyah, jadi mereka harus diajarkan dan ditanamkan kepada siswa di lembaga Muhammadiyah dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Untuk menghadapi tantangan yang ada, pendidikan Muhammadiyah harus menjawabnya dengan langkah-langkah dan program progresif. (Wulan Tri Hutami et al. , 2. Sebagai organisasi Islam modernis. Muhammadiyah memainkan peran strategis dalam menghadirkan pendidikan dan dakwah yang relevan dengan perkembangan zaman, termasuk di era digital. Melalui berbagai lembaga pendidikan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Muhammadiyah telah mulai memanfaatkan teknologi digital seperti Learning Management System (LMS), kelas virtual, dan platform pembelajaran daring untuk menjawab tantangan akses dan kualitas pendidikan. Inisiatif digital ini mencerminkan semangat tajdid . yang menjadi ciri khas gerakan ini sejak awal Selain di bidang pendidikan. Muhammadiyah juga berperan aktif dalam dakwah Penggunaan media sosial. YouTube, podcast, dan website resmi organisasi menjadi sarana penyebaran nilai-nilai Islam yang moderat, rasional, dan berkemajuan. Melalui kanal seperti Suara Muhammadiyah Digital dan TVMu. Muhammadiyah menyampaikan pesanpesan keislaman yang mencerahkan secara lebih luas dan menjangkau generasi muda yang akrab dengan media digital. Dengan demikian. Muhammadiyah tidak hanya bertahan di era digital, tetapi juga berkontribusi dalam membentuk peradaban digital yang beretika dan berbasis nilai-nilai Islam. Strategi Muhammadiyah di Era Digital Sistem pendidikan di Muhammadiyah saat ini harus selalu berkembang dengan terus mengikuti perkembangan zaman. Era digital dan disrupsi digital memaksa kita untuk selalu terus bergerak maju agar tidak tertinggal oleh zaman. Muhammadiyah harus mampu menjawab segala tantangan yang ada di hadapan kita, terutama di masa disrupsi dimana seluruh aktivitas normal umat manusia tergantikan oleh teknologi yang ada. Muhammadiyah juga harus mampu memberikan kesempatan kepada generasi pelajar untuk mempunyai harapan dan menyediakan lembaga yang dapat memberikan pendidikan yang baik agar dapat bersaing dengan lembaga pendidikan lainnya. Muhammadiyah meningkatkan dan memajukan kualitas pendidikan di era digital saat ini dengan menggunakan strategi model pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif adalah istilah yang mengacu pada metode dan strategi pembelajaran yang inovatif yang digunakan untuk membantu siswa belajar. Model ini dirancang untuk menggunakan teknologi dan pendekatan yang sesuai dengan tuntutan zaman untuk meningkatkan keterlibatan, motivasi, pemahaman, dan keterampilan siswa. Pembelajaran kreatif mendorong siswa untuk bekerja sama dan berinteraksi satu sama lain untuk meningkatkan pemahaman mereka. Model ini memungkinkan siswa bekerja sama, berbicara, dan bekerja sama secara langsung atau melalui platform pembelajaran online. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 319 of 321 . Penggunaan Teknologi. Teknologi digunakan dalam model pembelajaran baru untuk meningkatkan interaksi dan kolaborasi dalam kelas, meningkatkan akses ke informasi, dan meningkatkan pengalaman belajar. Contoh teknologi ini termasuk penggunaan perangkat mobile, platform pembelajaran online, aplikasi pendidikan, media interaktif, dan alat pendukung lainnya. Aktif dan Partisipatif Pembelajaran inovatif mengutamakan partisipasi aktif siswa dalam proses Siswa didorong untuk berpartisipasi secara langsung dalam proses pembelajaran melalui upaya seperti mengeksplorasi, membuat, dan berbicara. Guru membantu siswa memahami dan menguasai keterampilan. Beberapa strategi termasuk terus berkomitmen untuk meningkatkan investasi dalam kemampuan digital, menggunakan prototype teknologi terbaru melalui metode learning by doing secara kontinu, dan membangun kolaborasi baru dalam pendidikan untuk meningkatkan kemampuan digital dengan orang lain. Sebagai gerakan dakwah dan tajdid di bidang pendidikan. Muhammadiyah harus melakukan revitalisasi intelektualitas untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, wawasan, dan pemikiran yang juga merupakan semangat Islam. Selain itu, pendidikan Muhammadiyah telah membuat rencana strategis untuk meningkatkan SDM. IPTEK, dan mengeksplorasi aspek-aspek kehidupan bercirikan Islam untuk kemajuan dan keunggulan di tingkat nasional dan internasional, seperti yang dinyatakan dalam tanfidz Muhammadiyah. Ini dicapai melalui pengembangan peta konsep atau roadmap pengembangan IPTEK Muhammadiyah, mendorong penelitian dan kerja sama dengan lembaga penelitian yang ada, dan mengutamakan kualitas pendidikan. (Salmin et al. , 2. Menghadapi tantangan tersebut. Muhammadiyah perlu membangun strategi transformasi digital yang terstruktur, dimulai dari peningkatan kapasitas sumber daya Pelatihan intensif mengenai teknologi pendidikan bagi guru, pengembangan konten pembelajaran berbasis digital, serta investasi pada infrastruktur teknologi menjadi langkah awal yang harus diambil. Pendekatan learning by doing dengan prototipe teknologi sederhana juga dapat membantu lembaga pendidikan Muhammadiyah untuk melakukan inovasi yang berkelanjutan. Selain itu. Muhammadiyah dapat memperkuat kolaborasi dengan pihak eksternal, seperti startup edukasi, lembaga riset, atau pemerintah untuk mempercepat digitalisasi pendidikan dan dakwah. Pemanfaatan big data untuk memahami kebutuhan peserta didik dan tren digital masyarakat juga dapat menjadi dasar dalam perumusan kebijakan pendidikan dan keagamaan yang relevan. Dengan strategi yang adaptif dan kolaboratif. Muhammadiyah akan mampu memainkan peran sentral sebagai pelopor pendidikan Islam berbasis digital di Indonesia. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian yang telah disampaikan, dapat disimpulkan, sebagai berikut: Pertama. Perkembangan Islam Moderat Di Indonesia, dalam perspektif pendidikan moderasi beragama merupakan hal yang sangat penting dan strategis, karena dengan adanya penguatan moderasi beragama dalam pendidikan Di Indonesia, bukan hanya dapat menjawab dan menjadi solusi dalam membangun harmoni yang berkeseimbangan dan berkeadilan atas kondisi Bangsa Indonesia yang plural, multikultur, multi ras, multi bahasa. Masterpiece: Journal of Islamic Studies and Social Sciences 320 of 321 dan multi agama, tetapi lebih dari itu, bahwa ajaran moderasi beragama yang menjadi nilaiAe nilai dalam penerapan Islam Moderat Di Indonesia telah dicontohkan dalam praktik kehidupan sehari-hari oleh para Tokoh Islam sebagai Pendahulu Bangsa seperti K. Ahmad Dahlan. Hasyim AsyAoari. Walisongo, dan lain Ae lain, bahkan telah dicontohkan oleh para Pendahulu sejak Islam dilahirkan, dan ini merupakan ajaran Agama Islam yang berdasarkan pada Al-qurAoan dan Hadis. Kedua. PilarAepilar dalam pendidikan moderasi beragama, yaitu . adanya sikap komitmen kebangsaan, . adanya sikap toleransi, . adanya sikap anti kekerasan, serta . adanya sikap akomodatif terhadap nilaiAenilai budaya lokal. Keempat pilar tersebut, sangat sesuai dan sejalan dengan prinsipAeprinsip dan ruh yang dipraktikankan dalam Islam Moderat yaitu prinsip tawassuth . engambil jalan tenga. , iAotidal . ersikap objektif dan adi. , tasamuh . , musyawarah, ishlah . enjaga kebaikan dan kedamai. , qudwah . epeloporan peran dalam memimpi. , muwathohah . inta tanah ai. , dan tawazun . Dalam perspektif ini maka perkembangan penerapan nilaiAenilai Islam Moderat Di Indonesia sangat dipengaruhi oleh keberhasilan penguatan pelaksanaan pendidikan moderasi beragama Di Indonesia. DAFTAR PUSTAKA