Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 Habituasi Permainan Tradisional Sebagai Media Penguatan Pendidikan Karakter di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya Wahyuningtyas Puspita Sari1* dan Fransiscus Xaverius Sri Sadewo2 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 20026@mhs. Abstract This research analyzes the habituation of traditional games which are used as a medium to strengthen character education at SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya. The analysis in this study uses Pierre Bourdieu's habitus perspective where the habits carried out are part of the culture that develops in that society. Student background is the capital that students have to shape their attitudes and thought patterns. The purpose of this analysis is to find out how the habit of traditional games becomes a good medium for strengthening students' character. Schools are a gathering place for students from various different backgrounds with the same hopes for education. These differences in background have an influence on students' responses to getting used to traditional games. Using Lucien Goldmann's view of genetic structuralism, subjects are divided into two, namely active subjects and passive subjects. Students as active subjects can fully internalize existing rules and do not have the capacity to change them. Meanwhile, students as passive subjects are able to provide criticism of existing rules and are able to change them through collective action. The results of getting used to playing traditional games which are regulated by state regulations make students have habits that have a good effect on their character. Students externalize the values contained in each traditional game into attitudes/actions they carry out in everyday life. Penelitian ini menganalisis tentang habituasi permainan tradisional yang digunakan sebagai media penguatan pendidikan karakter di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya. Analisis pada studi ini menggunakan prespektif habitus Pierre Bourdieu dimana pembiasaan yang dilakukan merupakan bagian dari budaya yang berkembang di masyarakat tersebut. Latar belakang siwa merupakan modal yang dimiliki siswa untuk membentuk sikap dan pola pikir mereka. Tujuan dari dilakukannya analisis ini untuk mengetahui bagaimana pembiasaan permainan tradisional menjadi media yang baik untuk menguatkan karakter siswa. Sekolah menjadi tempat berkumpulnya siswa dari berbagai latar belakang yang berbeda dengan harapan yang sama untuk menempuh pendidikan. Perbedaan latar belakang tersebut memberikan pengaruh terhadap respon siswa dengan adanya pembiasaan permianan Menggunakan pandangan lucien goldmann tentang strukturalisme genetik bahwa subjek terbagi menjadi dua yaitu subjek aktif dan subjek pasif. Siswa sebagai subjek aktif dapat menginternalisasikan sepenuhnya aturan yang ada dan tidak memiliki kapasitas untuk merubahnya. Sedangkan, siswa sebagai subjek pasif mampu memberikan kritisi terhadap aturan yang ada dan mampu merubahnya melalui tidakan secara kolektif. Hasil dari pembiasaan bermain permainan tradisional yang diatur sebagai aturan Negara membuat siswa memiliki pembiasaan yang berpengaruh baik terhadap karakternya. Siswa mengekternalisasikan nilai-nilai yang terkandung dalam setiap permainan tradisional menjadi sikap/tindakan yang dilakukannya dalam kehidupan sehari-hari. Kata Kunci: Permainan Tradisional. Pendidikan Karakter, dan Habituasi Pierre Bourdieu Pendahuluan Kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter masih kurang di Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari maraknya permasalahan dan kejahatan yang dilakukan oleh anak-anak. Sudah menjadi tugas Pemerintah Indonesia untuk mewujudkan pendidikan karakter sebagai upaya membentuk insan yang memiliki akhlak mulia. Tujuan tersebut juga menjadi harapan bangsa Indonesia agar menjadi bangsa yang besar melalui adanya generasi-generasi yang berkualitas. Oleh karena itu, diperlukan suatu program untuk membenahi sistem pendidikan nasional. Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 Pembangunan Penguatan Pendidikan Karakter menjadi program priorias untuk membenahi sistem pendidikan nasional, sejak era pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Hal itu tercermin dari banyaknya porsi pendidikan karakter sebesar 70 persen dibandingkan dengan pendidikan yang mengajarkan pengetahuan (Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2. Hingga saat itu. Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter masih dilanggengkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dari tahun ke tahun. Bagi Mendikbud. Muhadjir Effendi. Gerakan Penguatan Pendidikan Karakter ini menjadi semangat utama pendidikan nasional. Tujuan dari pendidikan tidak hanya berfokus pada olah pikir , tetapi juga olah hati , olah rasa , dan olahraga. Nadiem Makarim, selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang saat ini menjabat menyampaikan agar anak-anak dapat dibekali kemampuan untuk beradaptasi dengan adanya perubahan teknologi dalam menghadapi era digital. Nadiem menjelaskan bahwa anak-anak harus dibekali keterampilan untuk berpikir kritis atau analytical thingking. Hal ini termasuk dalam bekal anak-anak untuk menempuh pendidikan karakter. Salah satu elemen penting dalam pendidikan karakter menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan adalah integrasi nilainilai kearifan lokal atau budaya setempat(Maisaroh & Hayani, 2. Ini dilakukan dengan mempelajari serta menerapkan nilai-nilai tradisional yang ada dalam masyarakat Indonesia. Kemendikbud juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam mendukung pendidikan karakter anak-anak. Pendekatan pendidikan karakter secara formal diimplementasikan melalui Kurikulum 2013 yang telah direvisi. Pendekatan Holistik ini mencoba untuk merangkul seluruh komponen dari lingkungan belajar siswa, baik di sekolah maupun di luar sekolah, dan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal dalam upaya membentuk karakter yang kokoh pada generasi muda (Rizaldi, 2. Dalam penelitian ini lokasi sekolah yang dipilih yaitu di SD Negeri Pacarkeling 1. Lingkungan sekitar sekolah merupakan area padat penduduk dan juga di area samping sekolah terdapat pasar tradisional pacarkeling. Dengan kondisi lingkungan tersebut, bisa tergambar bahwa Sekolah Dasar Negeri Pacarkeling 1 Surabaya ini memiliki siswa yang juga mayoritas adalah penduduk di lingkungan sekitar. Hal ini berpengaruh terhadap proses pembelajaran dan juga karakter siswa yang ada di sekolah tersebut. Namun, sekolah memiliki tata aturan dalam mengajar siswa. Ini disesuaikan dengan latar belakang siswa sendiri. Sekolah berusaha untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang bisa menguatkan karakter siswa. Salah satunya dengan adanya kegiatan ektrakulikuler dan lomba antarkelas. Kegiatan tersebut telah berlangsung cukup Di tahun 2022, pada bulan November Pemerintah Kota Surabaya meluncurkan suatu terobosan untuk menguatkan pendidikan karakter. Program tersebut dirancang dengan mengadaptasi kearifan lokal. Hal ini bertujuan untuk melestarikan budaya dan menjaga eksistensi dari permainan tradisional. Program tersebut adalah Sekolahe Arek Suroboyo. Berdasarkan informasi yang dimuat di jawapos. Kata AArekA merupakan akronim dari kata Aman. Rekreatif. Edukatif, dan Kegotong-royongan. Sekolah Arek Suroboyo atau yang biasa disingkat (SAS) memiliki tujuan yaitu sekolah dibina untuk meningkatkan mutu secara keseluruhan, menciptakan ekosistem lingkungan sekolah yang aman, rekreatif, edukatif, dan kegotong royongan seluruh pemangku kebijakan. Sekolahe Arek Suroboyo jadi acuan untuk mengembangkan sekolah bermutu berbasis kearifan dan keunggulan sekolah, serta untuk menguatkan partisipasi masyarakat, gotong-royong mewujudkan komunitas belajar . Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 Dinas Pendidikan Kota Surabaya menjelaskan bahwa jam pembelajaran harus tuntas maksimal pukul 12. 00 WIB. Setelah itu, program Sekolahe Arek Suroboyo dilaksanakan dengan durasi selama dua jam. Terlaksananya Sekolahe Arek Suroboyo ini diluar dari jam pembelajaran tanpa mengurangi kurikulum nasional yang berlaku. Masa tersebut sangat baik digunakan untuk membentuk pondasi pendidikan karakter. Hal tersebut selaras dengan program yang telah diusung oleh Pemkot Surabaya yaitu Sekolahe Arek Suroboyo. Sekolah Arek Suroboyo membantu siswa untuk mengekspresikan perasaan mereka melalui prilaku yang baik. Dengan ini siswa dapat terlibat langsung dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya melaksanakan SAS setiap hari mulai pukul 12. WIB. Kegiatan yang ada di Sekolahe Arek Suroboyo salah satunya yaitu Permainn Tradisional. Permainan Tradisional banyak dilaksanakan di sekolah tersebut dan juga sebagai salah satu kegiatan utama dalam Sekolahe Arek Suroboyo. Selama kurang lebih satu tahun terlaksana, permainan tradisional mulai menjadi suatu pembiasaan di antara siswa. Terbukti dengan banyaknya perubahan karakter siswa kearah yang lebih baik. Namun, dalam prosesnya tidak semudah yang dibayangkan. Butuh pembiasaan penanaman budaya yang akhirnya nanti bisa menjadi sebuah karakter yang dibawa oleh siswa sebagai identitas diri bangsa di masa depan. Walaupun SD Negeri Pacarkeling 1 telah menerapkan Permainan Tradisonal dalam program Sekolahe Arek Suroboyo, masih banyak terdapat penerimaan dan penolakan dari siswa dan juga Penerimaan dan penolakan terhadap permainan tradisional di kalangan siswa dapat Beberapa siswa mungkin antusias dan senang bermain permainan tradisional karena merasa terhubung dengan budaya dan tradisi nenek moyang mereka. Mereka menikmati aspek sosial dan interaktif dari permainan tersebut. Namun, ada juga siswa-siswa yang lebih tertarik dengan permainan modern yang menggunakan teknologi, seperti game online atau permainan Mereka mungkin merasa bahwa permainan tradisional kurang menarik atau kurang relevan dengan gaya hidup mereka yang lebih modern. Kajian Pustaka 1 Masyarakat Sekolah dalam Perencanaan Kurikulum Lokal Kurikulum merupakan sebuah perangkat dari mata pelajaran dan juga program pendidikan yang diberikan oleh lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi mengenai rancangan pelajaran yang akan diberikan pendidik kepada peserta didik dalam satu periode jenjang pendidikan (Yuyun & Ardiansyah, 2. Sedangkan, muatan lokal adalah bahan kajian atau mata pelajaran pada satuan pendidikan yang berisi muatan dan proses pembelajaran tentang potensi dan keunikan lokal (Alfi, 2. Dengan demikian, pengertian dari kurikulum muatan lokal adalah sebuah program yang dirancang sesuai dengan muatan tentang potensi dan keunikan lokal dari lingkungan masing- masing yang diselenggarakan pada proses pembelajaran secara terorganisir. Implementasi kurikulum muatan lokal dapat memberikan dampak terhadap pola perilaku siswa dan juga menjadi bahan upaya pelestarian kearifan lokal di wiliyah setempat. Kurikulum muatan lokal memiliki tujuan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa dengan memperluas cakupan pengetahuan mereka melalui konteks lokal yang relevan dan Selanjutnya, muatan lokal juga dapat membantu siswa mengembangkan keterampilan hidup yang relevan dengan kehidupan mereka di masyarakat setempat. Serta, muatan lokal dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran karena mereka memiliki minat dan keterkaitan yang lebih kuat dengan materi yang diajarkan. Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 Perencanaan kurikulum muatan lokal yang efektif memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat sekolah, termasuk guru, siswa, orang tua, dan pemangku kepentingan lainnya. Keterlibatan mereka penting untuk memastikan bahwa kurikulum yang dikembangkan relevan, kontekstual, dan mampu menjawab kebutuhan lokal. 2 Penerapan Teori Habitus Pierre Bourdieu dalam Pendidikan Karakter Menurut Pierre Bourdieu, habitus mengacu pada pola-pola pemikiran, perilaku, dan preferensi yang terinternalisasi secara tidak sadar oleh individu melalui proses sosialisasi. Selain itu, habitus dapat diartikan sebagai penghayatan nilai- nilai sosial- budaya yang melahirkan berbagai pola pikir, sikap, atau tindakan (Musarrofa, 2. Habitus lahir melalui aspek internal yang telah dibatinkan sejak lahir. Habitus yang diperoleh oleh individu melalui keterlibatan dalam rangkaian hubungan sosial yang spesifikasi menyediakan struktur pengertian dan motivasi bagi manusia untuk hidup di dunia ini, serta mengorganisasi tindakan- tindakan mereka. Habitus juga memengaruhi pilihan dan keputusan individu dalam berbagai aspek kehidupan, seperti pemilihan pendidikan, pekerjaan, gaya hidup, dan preferensi budaya. Individu dengan habitus yang serupa cenderung memiliki kesamaan dalam pola perilaku dan preferensi mereka. Selain itu, habitus juga berperan dalam reproduksi sosial. Artinya, individu cenderung mempertahankan dan meneruskan habitus yang mereka terima dari lingkungan sosial mereka, sehingga terjadi reproduksi ketidaksetaraan sosial dan struktur sosial yang ada. Dalam konteks pendidikan, teori habitus dapat menjelaskan mengapa individu dari latar belakang sosial dan budaya yang berbeda cenderung memiliki pola pemikiran, perilaku, dan preferensi yang berbeda pula (Soraida dkk. , 2. Hal ini dapat memengaruhi kesempatan dan hasil pendidikan yang mereka dapatkan. Teori habitus milik Bourdieu bukanlah teori yang bersifat deterministik. Individu memiliki kemampuan untuk merubah habitus mereka melalui pengalaman, refleksi, dan interaksi dengan lingkungan yang berbeda. Konsep habitus Bourdieu digunakan untuk membongkar mekanisme dan strategi dominasi yang dibatinkan selama ini akibat dari luar individu. Selain itu habitus memiliki pengaruh oleh ranah atau medan. Ranah adalah aspek eksternal yang dapat mempengaruhi habitus seseorang. Ranah atau arena adalah suatu tempat dimana para aktor/ agen sosial saling bersaing untuk mendapatkan berbagai sumber daya material ataupun kekuatan simbolis. Persaingan dalam ranah bertujuan untuk memastikan perbedaan dan juga status aktor sosial yang digunakan sebagai sumber kekuasaan simbolis (Kurniawan, 2. Sebelum berada di suatu ranah sosial aktor/ agen harus memiliki modal atau yang biasa disebut bourdieu sebagai kapital. Modal kerap dipakai untuk menguasai atau mendominasi suatu masyarakat. Kapital/ modal harus di miliki individu untuk bersaing di dalam arena. Modal bisa seperti pendidikan, jabatan, dan kelas sosial. Namun, menurut bourdieu modal yang paling penting dimiliki seorang individu adalah modal pendidikan. Hal ini dikarenakan pendidikan yang akan melahirkan pemikiran- pemikiran baru seperti saat ini. Bourdieu menjelaskan hubungan antara habitus, modal dan praktik sosial dalam bentuk suatu rumusan yakni. (Habitus x Moda. Ranah = Praktik (Fardiana, 2. Metode Penelitian Pada penelitian ini motode yang digunakan yaitu metode penelitian kualitatif model Penelitian kualitatif menggunakan pendekatan etnometodologi adalah suatu jenis penelitian kualitatif dimana peneliti melakukan studi terhadap budaya kelompok dalam kondisi alamiah. Pendekatan penelitian kualitatif etnometodologi ini digunakan karena relevan dengan topik yang akan dibahas pada penelitian ini. Pendekatan etnometodologi digunakan Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 untuk menganalisis kondisi sosial-budaya masyarakat sekolah SDN Pacarkeling 1 Surabaya terhadap Habituasi Permainan Tradisional sebagai media pembelajaran Penguatan Pendidikan Karakter. Pada penelitian ini lokasi penelitian yang dipilih yaitu di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya. Dalam penelitian ini subjek penelitian berjumlah delapan orang yang terdiri dari kepala sekolah, guru penanggung jawab Sekolah Arek Suroboyo, guru olahraga, serta siswa. Informan tersebut dibagi menjadi tiga yaitu informan utama . , informan kunci . uru penanggung jawab Sekolah Arek Suroboy. , dan informan pendukung (Kepala Sekolah. Guru Olahraga, dan Orang Tu. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dokumentasi, dan kajian literature sebagai pendukung, karena relevan dengan metode penelitian yang digunakan. Pada penelitian ini teknik analis data yang digunakan yaitu strukturalisme genetik milik Lucien Goldmann. Strukturalisme genetik Lucien Goldmann menggabungkan elemen-elemen dari strukturalisme dan marxisme untuk menganalisis hubungan antara struktur sosial dan subjektivitaas individu. Dalam strukturalisme genetik. Goldmann berpendapat bahwa struktur sosial dan kebudayaan memiliki pengaruh yang kuat terhadap cara individu memahami dunia dan membangun identitas mereka (Sigalingging, 2. Struktur sosial dan kebudayaan ini mencakup norma, nilai, sistem pemikiran, dan konvensi-konvensi sosial yang ada dalam Goldmann menekankan pentingnya melihat hubungan antara struktur sosial dan subjektivitas individu. Ia berpendapat bahwa individu tidak hanya merupakan produk dari struktur sosial, tetapi juga memiliki peran aktif dalam proses pembentukan identitas dan pemahaman mereka tentang dunia. Hasil dan Pembahasan Permainan Tradisional sebagai aturan negara Adanya permainan tradisonal dalam sekolah dasar di kota Surabaya merupakan upaya dari Pemerintah Surabaya dalam melestarikan budaya dan penguatan karakter para siswa sejak dini. Melalui koordinasi dari Dinas Pendidikan kota Surabaya dengan para kepala sekolah dasar yang berada di Surabaya menghasilkan program Berdasarkan dapatkan melalui wawancara bersama Kepala Sekolah SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya, bahwa Permainan Tradisional menjadi salah satu pembelajaran wajib di sekolah tersebut. Aturan di wajibkannya Permainan Tradisional di sekolah tersebut, berasal dari hasil koordinasi bersama Dinas Pendidikan Kota Surabaya. Seluruh Kepala Sekolah mendapatkan mandat untuk melaksanakan Program Sekolah Arek Suroboyo. Program khusus ini hanya ada di Surabaya yang bertujuan untuk mengembangkan potensi dan kearifan lokal di wilayah sekitar sekolah. Program khusus ini telah berlangsung dari tahun 2022. Dari adanya program tersebut diharapkan menjadi jembatan agar inti sari dari pelesarian budaya lokal bisa tetap berjalan meskipun beberapa sekolah masih belum menerapkan kurikulum SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya melaksanakan kegiatan Sekolah Arek Suroboyo sejak Kegiatan yang sejak awal ada dalam program tersebut adalah bermain permainan Bu Dami, selaku Kepala Sekolah menyampaikan kegiatan bermain permainan tradisional di lakukan agar anak dapat bermain secara terkontrol dan aman di lingkungan sekolah. Hal ini sangat bermanfaat dari pada anak di biarkan bermain di luar lingkungan sekolah tanpa adanya pengawasan. Permainan Tradisional sebagai pembelajaran wajib di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya, merupakan pembelajaran mengenal budaya dan memperkuat nilai-nilai karakter anak. Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 Proses Habituasi Permainan Tradisional di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya Tahapan awal habituasi permainan tradisional di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya dimulai dengan memperkenalkan adanya pembiasaan bermain permainan tradisional. Guru mulai menjelaskan bahwa kedepannya siswa akan melakukan kegiatan baru berupa bermain permainan Pembiasaan ini merupakan bagian dari kurikulum yang wajib di ikuti oleh seluruh Guru juga menyampaikan adanya perubahan jam pembelajaran di sekolah dengan adanya kegiatan ini. Setelah adanya pembiasaan tersebut siswa pulang lebih lambat. Pada pelaksanaan pembiasaan ini juga akan ada perbedaan khusunya di kelas 6. Mengingat bahwa kelas 6 lebih di fokuskan untuk pembelajaran akademik, pembiasaan permainan tradisional ini menjadi kegiatan yang hanya di lakukan sebanyak 2 kali dalam sebulan. Penerapan pembiasaan tersebut dilaksanakan pada minggu ke-1 dan ke-3. Pembiasaan bermain permainan tradisional ini mulai dilakukan dari dalam kelas. Pengenalan kegiatan tersebut dimulai dengan guru memperkenalkan Permainan Tradisional yang akan di mainkan pada hari itu. Guru menjelaskan tentang jenis permainan tradisional dan manfaatnya bagi siswa. Selain itu guru juga memberikan penjelasan mengenai makna dari permainan tradisional yang di mainkan. Guru juga menjelaskan tentang aturan bermain dan memperagakan permainan tersebut. Setelah itu, siswa bisa mulai mempraktekkan permainanpermainan tradisional yang telah diperagakan oleh guru. Selama proses habituasi, guru-guru dan staf sekolah bertindak sebagai pembina dan pengawas dalam melaksanakan permainan tradisional. Mereka memastikan bahwa permainan berjalan dengan lancar, menjaga ketertiban, dan memberikan bimbingan kepada siswa jika diperlukan. Melalui pendekatan yang berkelanjutan, siswa didorong untuk aktif berpartisipasi dalam permainan tradisional. Respon Siswa terhadap Pembiasaan Permainan Tradisional Respon awal siswa dengan adanya pembiasaan ini mereka semua merasa antusias. Siswa menjadi lebih leluasa untuk bermain bersama teman-temannya di sekolah. Mereka beranggapan guru memberikan kesempatan bagi mereka untuk bermain setelah jam pembelajaran. Siswa bisa meluapkan ekspresi mereka ketika bermain. Bermain menjadi cara mereka untuk menghilangkan stress dan jenuh setelah hampir setengah hari belajar. Dengan respon baik yang di berikan oleh siswa, guru menjadi lebih semangat untuk mengembangkan proses pembiasaan permainan tradisional agar nilai-nilai yang terkandung di dalam permainan tradisional bisa tercapai. Permainan Tradisional memberikan perubahan perilaku siswa ke arah positif. Keterampilan sosial siswa juga mulai terasah. Hal itu bisa terlihat dari siswa yang awalnya cendurung menyendiri menjadi lebih senang bermain bersama teman-temannya. Siswa juga mulai bisa mengekspresikan apa yang mereka rasakan dan dapat disampaikan dengan baik. Guru juga merasa lebih mudah untuk berkomunikasi dengan siswa. Hal ini juga berdampak baik terhadap daya tanggap siswa selama pembelajaran. Beberapa jenis permainan yang dimainkan di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya diantaranya engkle, egrang, terompa panjang, lompat tali, dakon, gobak sodor, dan tarik tambang. Kedepannya, jenis-jenis permainan tradisional lainnya yang masih belum dilakukan akan di coba di sesuaikan dengan kondisi. Setiap jenis permainan tradisional tersebut memiliki berbagai manfaat terhadap penguatan karakter siswa. Jenis permianan tradisional ini dilakukan secara bergantian agar siswa tidak merasa bosan dengan satu jenis permainan saja. Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 Pada proses pembiasaan permainan tradisional di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya, terdapat penolakan dan penerimaan yang dilakukan oleh siswa. Penolakan dan Penerimaan tersebut terjadi karena adanya beberapa faktor. Pertama, siswa melakukan penerimaan dilihat dari status ekonominya. Siswa menolak karena menganggap bahwa orang tua mampu membelikan permainan yang lebih mahal dan menarik. Siswa menerima karena merasa menumkan permainan yang unik dan menyenangkan. Di lihat dari proses pengenalan siswa menolak karena merasa asing dengan permainan tradisional. Siswa menerima karena merasa terhubung dengan budaya di daerahnya melalui permainan tradisional. Di lihat dari ketertarika, siswa menolak karena lebih tertarik dengan permainan gadget. Siswa menerima karena merasa senang mencoba suatu hal yang Dilihat dari pemahaman, siswa menolak karena masih belum memahami manfaat dari permainan tradisional. Siswa menerima karena menyenangi permainan tradisional sebagai bentuk pelestarian budaya. Dilihat dari pengaruh, siswa menolak karena dipengaruhi oleh teman sebaya. Siswa menerima karena melihat permainan tradisional sebagai media untuk berinteraksi bersama Analisis Habituasi Pierre Bourdieu Tabel 1 Analisis Habituasi Pierre Bourdiue Sebelum adanya pembiasaan permainan tradisional, siswa SD Negeri Pacarkeling cenderung malas dan enggan untuk belajar. Siswa tersebut juga masih sering terlambat ketika datang ke sekolah. Siswa-siswa tersebut berulang kali telah diingatkan dan di tegur. Namun, mereka masih melakukan keterlambatan dan saat di hukum untuk berdiri di belakang ketika upacara mereka masih menunjukkan sikap bercanda dengan teman yang terlambat lainnya. Setelah di lakukan penelusuran tentang latar belakang orang tua, memang rata-rata pekerjaan orang tua siswa adalah sebagai buruh dan pedagang di pasar. Mereka memandang pendidikan sebagai hal yang istimewa untuk memperbaiki nasib di masa depan. Orang tua berharap dengan menyekolahkan anak di sekolah negeri yang memiliki akreditasi bagus dapat membawa anak mereka meraih prestasi secara akademik, non akademik, maupun karakter. Meskipun mereka mungkin tidak mampu memberikan pendidikan di sekolah-sekolah swasta yang mahal, orang tua yang kurang mampu berharap agar anak-anak mereka mendapatkan pendidikan yang berkualitas di sekolah negeri atau sekolah yang tersedia secara gratis. Mereka berharap agar anak-anak mereka memiliki akses yang sama dengan anak-anak dari latar belakang ekonomi yang lebih mapan. Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 Orang tua yang kurang mampu sering berharap agar anak-anak mereka tumbuh menjadi individu yang mandiri dan tangguh. Mereka ingin anak-anak mereka memiliki kemampuan untuk mengatasi rintangan dan kesulitan dengan kekuatan karakter yang kuat. Orang tua yang ekonominya terbatas juga mengharapkan agar anak-anak mereka memiliki kecerdasan emosional dan sosial yang baik. Mereka ingin anak-anak mereka mampu memahami dan mengelola emosi mereka dengan baik, serta memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain secara Orang tua yang kurang mampu sering berharap agar anak-anak mereka memiliki komitmen yang tinggi terhadap pendidikan mereka. Mereka ingin anak-anak mereka memahami pentingnya pendidikan dalam meraih kesuksesan dan meningkatkan kualitas hidup. Meskipun mereka memiliki keterbatasan finansial, orang tua yang kurang mampu tetap memiliki harapan bahwa anak-anak mereka akan memiliki kesempatan untuk berkembang dan meraih impian Mereka ingin anak-anak mereka memiliki akses peluang pendidikan dan pekerjaan yang sama seperti orang lain. Pembelajaran secara akademik yang berulang mungkin tidak secara langsung berdampak pada pembentukan karakter siswa. Meskipun pemahaman materi akademik penting dalam pendidikan, pembelajaran yang berfokus hanya pada aspek ini mungkin tidak cukup untuk mengembangkan karakter siswa secara holistik. Untuk membentuk karakter siswa, diperlukan pendekatan pendidikan yang lebih luas yang mencakup nilai-nilai, norma-norma, dan perilaku yang diinginkan. Dengan memainkan permainan tradisional yang mengandung nilai-nilai karakter ini, siswa tidak hanya mengembangkan keterampilan fisik dan kognitif, tetapi juga memperkuat karakter siswa. Dalam pengimplementasiannya Subjek pasif menginternalisasi sepenuhnya struktur sosial yang ada dan tidak memiliki kapasitas untuk merubahnya. Sementara itu, subjek aktif mampu mengkritisi dan merubah struktur sosial melalui proses refleksi kritis dan tindakan kolektif. Dalam konteks teori Lucien Goldmann, kita dapat mengkaji sikap siswa sebagai subjek aktif dan subjek pasif dalam pembiasaan permainan tradisional. Siswa dapat dianggap sebagai subjek aktif ketika mereka secara sadar dan aktif terlibat dalam proses pembelajaran permainan tradisional. Mereka tidak hanya menerima informasi dan pengalaman secara pasif, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam aktivitas tersebut dengan keinginan yang kuat untuk belajar dan berkembang. Sedangkan subjek pasif, siswa cenderung mengalami pembelajaran permainan tradisional secara pasif, tanpa keterlibatan yang aktif atau kesadaran yang tinggi tentang proses pembelajaran yang sedang Mereka menerima informasi dan pengalaman tanpa kritis, refleksi, atau interaksi yang berarti dengan materi pembelajaran. Tabel 2 Subjek aktif dan subjek pasif Kriteria Pemahaman Subjek Aktif Subjek Pasif Berinisiatif untuk belajar dan berpartisipasi Hanya melibatkan diri dalam permainan tradisional dalam permainan tradisional. karena diwajibkan atau karena alasan eksternal, tanpa minat yang sebenarnya. Mencari Inisiatif Kreatif Tidak memahami atau menginternalisasi nilai-nilai tentang nilai-nilai karakter yang terkandung dalam permainan tradisional. Menggunakan permainan tradisional sebagai Tidak menggunakan permainan tradisional sebagai sarana untuk pengembangan keterampilan sosial, fisik, dan kognitif mereka. pertumbuhan pribadi yang lebih dalam. untuk pengembangan keterampilan atau Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 Dalam kedua kasus, sikap siswa sebagai subjek aktif atau pasif dalam pembiasaan permainan tradisional dapat memengaruhi hasil pembelajaran mereka dan dampaknya terhadap pengembangan karakter. Dalam konteks pendidikan, penting bagi pendidik untuk mendorong keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran, sehingga mereka dapat memperoleh manfaat yang maksimal dari pengalaman pembelajaran yang diberikan. Berdasarkan pembahasan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa habitus permainan tradisional cocok untuk siswa SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya dalam penguatan karakter Sebagai bagian dari budaya lokal, permainan tradisional dapat membantu siswa memahami dan menghargai warisan budaya mereka sendiri. Hal ini dapat memperkuat identitas siswa dengan budaya mereka dan meningkatkan rasa kebanggaan terhadap warisan budaya Indonesia. Permainan tradisional sering kali mengajarkan nilai-nilai karakter yang penting seperti kerjasama, kejujuran, kedisiplinan, dan kesabaran. Melalui permainan ini, siswa dapat belajar dan memperkuat nilai-nilai ini secara praktis dalam konteks yang menyenangkan. Bermain permainan tradisional mendorong interaksi sosial yang positif antara siswa. Mereka belajar bekerja sama, berbagi, dan berkomunikasi dengan teman-teman mereka, yang merupakan keterampilan sosial penting yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Bermain permainan tradisional juga dapat membantu pengembangan keterampilan fisik dan kognitif siswa. Mereka belajar koordinasi, keterampilan motorik, dan strategi permainan yang memperkuat kemampuan mereka dalam berbagai aspek. Karena permainan tradisional dapat dimainkan oleh orang-orang dari berbagai latar belakang dan kemampuan, mereka menciptakan lingkungan yang inklusif di mana setiap siswa dapat berpartisipasi dan merasa dihargai. Dengan demikian, habitus permainan tradisional cocok untuk siswa SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya karena tidak hanya memberikan kesempatan untuk memperkuat nilai-nilai karakter, tetapi juga meningkatkan interaksi sosial, pengembangan keterampilan, dan inklusi dalam lingkungan belajar mereka. Hal ini dapat membantu siswa menjadi individu yang lebih seimbang dan berkarakter kuat untuk masa depan mereka. Kesimpulan Habituasi Permainan Tradisional memberikan dampak pada pembentukkan kebiasaan positif Dengan terlibat secara teratur dalam permainan tradisional, siswa mulai menginternalisasi nilai-nilai karakter yang diajarkan melalui aktivitas tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembiasaan permainan tradisional di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya memiliki dampak positif dalam penguatan pendidikan karakter. Melalui pembiasaan ini, siswa memiliki kesempatan untuk mempraktikkan nilai-nilai seperti kerjasama, kejujuran, keberanian, dan disiplin. Permainan tradisional menjadi media yang efektif untuk memperkenalkan dan memperkuat budaya lokal di kalangan siswa. Pembiasaan permainan tradisional memungkinkan siswa untuk terhubung dengan warisan budaya mereka sendiri dan meningkatkan rasa memiliki terhadap komunitas mereka. Pembiasaan permainan tradisional juga meningkatkan keterlibatan sosial di antara siswa. Mereka belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan saling mendukung satu sama lain dalam konteks bermain permainan tradisional, yang membentuk hubungan yang lebih dekat di antara mereka. Melalui pembiasaan permainan tradisional, siswa juga mengembangkan keterampilan kehidupan yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, seperti keterampilan sosial, keterampilan kepemimpinan, dan keterampilan pemecahan masalah. Penelitian ini menunjukkan bahwa Paradigma. Volume 13. Number 02, 2024 pembiasaan permainan tradisional merupakan pendekatan yang relevan dan efektif dalam penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah. Hal ini menggarisbawahi pentingnya memanfaatkan budaya lokal dan tradisi dalam upaya pendidikan karakter. Dengan demikian, kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pembiasaan permainan tradisional memiliki dampak yang positif dalam penguatan pendidikan karakter di SD Negeri Pacarkeling 1 Surabaya. Hal ini menegaskan pentingnya memperkenalkan dan mempraktikkan nilai-nilai budaya lokal dalam pembelajaran karakter di sekolah. Daftar Pustaka