ELASTICITY p-ISSN: 3063-9859 e-ISSN: 3063-9468 Vol. No. 1, 2024 Journal of Applied Engineering Science ANALISIS KESESUAIAN KAWASAN WISATA HUTAN MANGROVE BERBASIS EKOWISATA DI DESA SANLEKO KABUPATEN BURU Kasmin Suneth1. Pieter Th. Berhitu2. Adnan Affan Akbar Botanri3 1, 2, 3 Universitas Pattimura. Jl. Ir. Putuhena. Poka. Ambon. Maluku, 97233. Indonesia Email: kasminsuneth077@gmail. Article History Received: 29-07-2024 Revision: 27-08-2024 Accepted: 08-09-2024 Published: 18-09-2024 Abstract. Sanleko Village is one of the villages in Namlea District. Buru Regency. Sanleko Village has mangrove potential on its coastline covering an area of 16. Ha. Judging from the current tourism conditions in the field, it is very minimal in terms of the development of tourism activities. The role of the community in the development of tourism has not been maximized from the access to bridges in mangroves that have been broken and potholes, the lack of facilities and infrastructure to support tourism. This study aims to determine the suitability of ecotourism-based mangrove forest tourism areas in Sanleko Village. Buru Regency. This study uses descriptive analysis methods and regional suitability The result obtained is that the conditions for mangrove forest tourism in Sanleko Village have beauty in the mangrove forest, in addition to that in front of the mangrove tourism there is a long sand beach. However, facilities and infrastructure such as roads made of wood and bamboo as bridges in mangrove tourism are not suitable for use. The total score results showed that the IKW values at observation stations 1. 2, and 3 were 81. 16%, 81. 16% and 73. 91%, respectively, and belonged to the S1 category (Very Appropriat. Which means that Sanleko Village mangrove tourism can be developed as Mangrove Ecotourism. Keywords: Regional Suitability Analysis. Mangrove Ecotourism Abstrak. Desa Sanleko merupakan salah satu Desa di Kecamatan Namlea Kabupaten Buru Desa Sanleko memiliki potensi mangrove pada garis pantainya seluas 16,21 Ha. Dilihat dari kondisi wisata di lapangan saat ini sangat-lah minim dalam hal pengembangan kegiatan pariwisata. Peran masyarakat dalam pengembangan wisata ini belum maksimal dilihat dari akses jembatan yang berada di dalam mangrove yang sudah patah dan berlubang, kurangnya sarana dan prasarana untuk penunjang wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian kawasan wisata hutan mangrove berbasis ekowisata di Desa Sanleko Kabupaten Buru. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis kesesuaian kawasan. Hasil yang diperoleh adalah kondisi eksiting wisata hutan mangrove Desa Sanleko memiliki keindahan pada hutan mangrove selain itu di depan wisata mangrove terdapat pantai pasir panjang. Namun sarana dan prasarana seperti jalan yang dibuat dari kayu dan bambu sebagai jembatan dalam wisata mangrove tidak layak digunakan. Total hasil skor menunjukkan bahwa nilai IKW pada stasiun pengamatan 1,2, dan 3 masing-masing adalah 81,16%, 81,16% dan 73,91% dan termasuk kategori S1 (Sangat Sesua. Yang berarti wisata mangrove Desa Sanleko bias dikembangkan sebagai Ekowisata Mangrove. Kata Kunci: Analisis Kesesuaian Kawasan. Ekowisata Mangrove. How to Cite: Suneth. Berhitu. , & Botanri. Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Hutan Mangrove Berbasis Ekowisata di Desa Sanleko Kabupaten Buru. ELASTICITY: Journal of Applied Engineering Science, 1 . , 10-17. http://doi. org/10. 54373/elastic. Suneth et al. Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Hutan MangroveA PENDAHULUAN Desa Sanleko merupakan salah satu Desa di Kecamatan Namlea Kabupaten Buru yang memiliki luas desa 1. 48 Km. Desa Sanleko memiliki potensi mangrove pada garis pantainya seluas 16,21 Ha. Udara yang segar, di tambah jalur jalan dari bambu yang dibuat menambah kenyamanan wisatawan yang berwisata ke sini. Selain itu, di depan hutan mangrove ini juga terdapat pohon kayu putih dan pantai pasir panjang yang berwarna hitam yang semakin menambah kesejukan udara dan menjadi daya tarik tambahan tempat ini. Ekosistem mangrove yang terdapat di Desa Sanleko memiliki potensi untuk dijadikan sebagai ekowisata dengan keanekaragaman jenis mangrove seperti akar tunjang. Hutan mangrove mulai dari pinggir pantai hingga pedalaman dengan keanekaragaman jenis fauna, serta pemanfaatan sumber daya mangrove secara tradisional oleh masyarakat setempat. Potensi ekosistem mangrove di Desa Sanleko dapat dikembangkan untuk berbagai kegiatan wisata. Namun, sebelum dilakukan pengembangan ekowisata mangrove, maka langkah utama yang perlu dikaji dan diidentifikasi adalah kondisi dan potensi ekowisata di kawasan tersebut. Adapun masalah di kawasan penelitian ini yaitu kondisi fasilitas kurang baik, akses dalam kawasan ekowisata seperti jembatan dan jalan menuju wisata mangrove belum diaspal dan berlubang serta masih kurangnya kerjasama antar masyarakat dalam pengelolaan wisata Mengingat konsep ekowisata lebih menekankan pada kealamian, kekhasan dan keaslian dari sumber daya alam, maka kriteria/parameter yang digunakan untuk menentukan kesesuaian lahan ekowisata harus menitik beratkan pada kondisi sumber daya ekosistem mangrove tersebut. Penentuan kesesuaian lahan ekowisata mangrove berdasarkan perkalian bobot dan skor yang diperoleh dari setiap parameter yang diukur (Yulianda, 2. Untuk mengantisipasi dampak negatif dari pengembangan ekowisata, perlu pendekatan daya dukung dalam pengelolaan ekowisata sesuai dengan batas-batas kewajaran. Daya dukung merupakan konsep pengelolaan sumber daya alam yang lestari berdasarkan ukuran kemampuannya. Perhitungan daya dukung dimaksudkan untuk membatasi pemanfaatan yang berlebihan dan mencegah kerusakan ekosistem (Nugraha et al. Tujuan penelitian: 1mengetahui kondisi eksisting pada wisata mangrove, dan menganalisis nilai kesesuaian pada wisata mangrove. METODE Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 yaitu data Kualitatif dan Kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu survey, wawancara, dan dokumentasi. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu masyarakat Desa Sanleko. Untuk Suneth et al. Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Hutan MangroveA masyarakat dengan jumlah 10 orang. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dan accidential sampling. Metode yang digunakan dalam penelitian ini antara lain: Untuk mengetahui kondisi eksisting wisata hutan mangrove di Desa Sanleko, peneliti menggunakan analisis deskriptif kuantitatif dengan melakukan observasi, wawancara. C Untuk mengetahui kesesuaian ekowisata mangrove di kawasan wisata mangrove peneliti menggunakan Analisis Kesesuaian Kawasan mengacu pada Yulianda . dengan mempertimbangkan 7 parameter dengan tiga klasifikasi penilaian. Matriks kesesuaian ekowisata mangrove dapat dilihat pada tabel 1 dibawah ini. Tabel 1. Matriks kesesuaian ekowisata mangrove Parameter Keterangan Ketebalan Mangrove >500 (Mete. >200-500 <50 Kerapatan Mangrove >15-25 . >10-15 Jenis Mangrove Pasang Surut (Mete. >1-2 >2-5 Obyek Biota C Ikan. Kepiting. Moluska. Reptil. Burung. Udang C Ikan. Kepiting. Moluska. Udang C Ikan. Moluska C Salah Satu Biota Air Sosial budaya C Penangkapan kepiting bakau, kerang bakau, pohon mangrove sebagai kayu bakar, getah C Penangkapan kepiting bakau, pohon mangrove sebagai kayu bakar, pencarian kerang bakau C Manfaat Pohon mangrove. Manfaat Daun bakau C Ekstrak tanaman bakau sebagai Skor Bobot Suneth et al. Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Hutan MangroveA Ekonomi Masyarakat C Pendapatan masyarakat di atas 000/hari C Pendapatan masyarakat di atas 000/hari C Pendapatan masyarakat di atas 000/hari C Pendapatan masyarakat di bawah 000/hari Sumber: Modifikasi Yulianda . Rumus untuk menghitung indeks kesesuaian wisata berdasarkan Yulianda . , yaitu: ycAycn IKW = Oc. cAycoycaycoy. x 100% Keterangan: Nilai maksimum IKW Nmaks = 69 = Indeks Kesesuaian Wisata Mangrove = Tidak Sesuai dengan Nilai <25%) = Nilai Parameter ke-I . obot x sko. = Nilai Maksimum dari suatu kategori wisata = Sangat Sesuai . % - 100%) = Sesuai . % -74%) = Sesuai Bersyarat . % - 49%) HASIL dan Diskusi Gambaran Umum Desa Sanleko Desa sanleko merupakan salah satu desa yang berada di Wilayah Kecamatan Namlea dengan 1 Kelurahan. Desa Sanleko mempunyai luas wilayah 1,48 Ha dan mempunyai jumlah penduduk sebanya 424 jiwa dan 88 kepala keluarga (KK) yang terbagi 2 RW. Desa Sanleko memiliki potensi mangrove pada garis pantainya seluas 16,21 Ha. Wisata mangrove yang letaknya di Desa Sanleko memiliki pesona alam yang cukup indah karena terdapat hutan mangrove yang begitu lebat di dalam rawa-rawa kemudian di depan hutan mangrove terdapat pohon kayu puti dan pantai pasir panjang berwarna putih kecoklatan yang semakin menambah kesejukan udara dan menjadi daya tarik tambahan tempat ini. Di dalam hutan mangrove sendiri terdapat jenis biota seperti kepiting dan bia polla serta reptile lainya. Wisata hutan mangrove yang direncanakan pada tahun 2017 ini di kelola oleh Pemerintah Desa, masyarakat, serta di bantu oleh organisasi Gerakan Nasional Pecinta Pariwisata Indonesia (GEMPARI). Pembangunan yang dibuat dari masyarakat dan dibantu oleh Gempari yaitu jalur jalan yang dibuat dari kayu dan bambu serata 2 gazebo untuk wisatawan. Dengan anggaran yang dikelola untuk pembangunan tersebut yaitu anggaran dari Badan Usaha Milik Desa (BUMDES). Wisata hutan mangrove di Desa Sanleko sering di kunjungi oleh wisatawan Suneth et al. Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Hutan MangroveA namun adanya covid tidak ada lagi wisatawan yang berkunjung di wisata tersebut sehingga sarana dan prasarana tidak terawat dengan baik mengakibatkan jalur jalan yang dibuat dari kayu dan bambu sudah rusak dan tidak layak digunakan. Kondisi Eksisting Wisata Mangrove Desa Sanleko Setelah melakukan penelitian dan observasi lapangan dengan melihat kondisi Eksisting pada kawasan hutan mangrove pembangunan infrastruktur pada wisata hutan mangrove dengan melihat kondisi eksisting saat ini yaitu terdapat jalur jalan yang berada di dalam hutan mangrove dan 2 gazebo. Kondisi Jalan Menuju Wisata Mangrove Berdasarkan observasi lapangan saat ini kondisi jalan menuju ke wisata hutan mangrove kurang baik dikarenakan jalan yang belum diaspal dan berbatuan. Gambar 1. Kondisi jalan menuju wisata mangrove Kondisi Jalan Wisata Mangrove Dilihat dari observasi pada kondisi jalan yang berada di dalam wisata hutan mangrove tersebut kondisi fisik jalan yang dibuat dari kayu dan bambu untuk perjalanan kaki buat wisatawan yang ingin melihat keindahan hutan mangrove sudah tidak layak digunakan untuk Karena kondisi fisik jalan yang sudah rusak. Gambar 2 Kondisi jalan wisata mangrove Suneth et al. Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Hutan MangroveA Gazebo Berdasarkan observasi lapangan kondisi gazebo saat ini dapat dilihat cukup baik dan masih bisa digunakan. Dan sampai saat ini masyarakat Desa Sanleko menggunakan gazebo sebagai tempat duduk. Gambar 3. Kondisi gazebo Gazebo Jalan Gazebo Jalan Gambar 4. Peta persebaran fasilitas wisata mangrove Analisis Kesesuaian Ekowisata Mangrove Analisis kesesuaian ekowisata mangrove menggunakan matriks kesesuaian yang disusun berdasarkan kepentingan setiap parameter untuk mendukung kegiatan pada daerah tersebut. Parameter yang digunakan dalam penelitian ini yaitu parameter ekologi untuk kesesuaian ekowisata mangrove . etebalan mangrove, kerapatan mangrove, jenis mangrove, pasang surut dan objek biot. dan parameter sosial ekonomi untuk kesesuaian wisata . osial budaya dan ekonomi masyaraka. Suneth et al. Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Hutan MangroveA Tabel 2. Hasil indeks kesesuaian ekowisata mangrove Parameter Ketebalan mangrove . Kerapatan Mangrove . Jenis Mangrove Pasang Surut (Mete. Objek Biota Sosial Budaya Ekonomi Masyarakat Jumlah Rata-Rata Nilai Indeks Kesesuaian 69% Kategori Kesesuaian Stasiun Pengamatan Bobot Skor Nilai 81,16% Sesuai Skor Nilai 81,16 % Skor Nilai 73,91 % Berdasarkan tabel 3 dapat di lihat hasil penilaian pada ketiga lokasi stasiun penelitian kawasan mangrove Desa Sanleko bias dijadikan sebagai pengembangan ekowisata karena parameter-parameter yang dihitung masuk dalam S1 yang berarti . angat sesua. Dengan Indeks Kesesuaian Wisata (IKW) pada stasiun 1 sebesar 81,16%, stasiun 2 sebesar 81,16% dan stasiun 3 73,91%. Yang dapat diartikan bahwa lokasi wisata mangrove Desa Sanleko ini dapat digunakan dan dikembangkan untuk kegiatan ekowisata. KESIMPULAN Berdasarkan hasil yang telah didapatkan, maka dapat disimpulkan bahwa kondisi eksiting lokasi wisata hutan mangrove di Desa Sanleko, sarana prasarana penunjangnya sudah tidak layak digunakan diakibatkan kurangnya pengelolaan dari pemerintah dan masyarakat Desa Sanleko sendiri. Sarana prasarana penunjang yang sudah tidak layak digunakan yang di antaranya akses jalan yang menuju wisata masih belum di aspal kondisi jalan yang berbatuan dan rusak . , jalan wisata mangrove yang sudah rusak Dan terdapat gazebo yang dilihat dari kondisi nya masih layak digunakan. iIndeks Kesesuaian Wisata (IKW) Ekowisata mangrove di Desa Sanleko Kabupaten Buru Termasuk Kategori S1 . angat sesua. dengan nilai IKW pada stasiun pengamatan 1 81,16%, 2 81,16% dan 3 73,91%. Berarti bahwa wisata hutan mangrove di Desa Sanleko Bisa dijadikan sebagai pengembangan ekowisata mangrove. Suneth et al. Analisis Kesesuaian Kawasan Wisata Hutan MangroveA REKOMENDASI Adapun beberapa rekomendasi saran yakni: Pemerintah Kabupaten Buru. agar dapat melaksanakan dan mengembangkan kembali wisata yang sudah ada dengan meningkatkan sarana dan prasarana wisata serta memperbaiki prasarana wisata mangrove Desa Sanleko. Sebagai objek wisata yang salin ter integrasi dengan wisata yang lain agar penciptanya sistem pariwisata yang salin mendukung di dunia Kepariwisataan. Masyarakat Desa Sanleko. Perlunya kesadaran dari pemerintah dan masyarakat setempat untuk mengelola sarana prasaran penunjang kawasan wisata hutan mangrove. Hal ini juga berguna untuk melestarikan hutan mangrove yang sudah ada dan menarik wisatawan datang berkunjung sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. REFERENSI