MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEAKTIFAN KADER POSYANDU DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MATAOLEO KAB. BOMBANA Factors Related To Liveliness Cadre Posyandu Health Work Mataoleo Kab. Bombana Anita Karlina,1 Rosmiati Pakkan,2 Syamsiah P3 Program Studi Kesehatan Masyarakat STIKES Mandala Waluya Kendari . nitakarlina096@gmail. com / 081283350. ABSTRAK Berdasarkan observasi awal data pelaksanaan kegiatan pada data profil Puskesmas Mataoleo pada tahun 2017. Puskesmas Mataoleo memiliki 11 Posyandu yang terdiri dari Posyandu Pratama 4 . ,3%). Posyandu Madya 3 . ,2%). Purnama 2 . ,1%) dan Posyandu Mandiri 2 . ,1%) dengan jumlah kader Posyandu yaitu 57 orang. Jumlah kader yang aktif 23 orang. ,35%) dan jumlah kader yang tidak aktif 34 ( 59,64%) orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keaktifan kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Mataoleo Kabupaten Bombana tahun 2018. Jenis penelitian adalah jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian Cross Sectional Study. Populasi penelitian adalah 57 orang dengan tehnik penarikan sampel proporsional random Jumlah sampel sebanyak 36 orang. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian diperoleh ada hubungan antara jarak tempuh dengan keaktifan kader posyandu dengan nilai X2 hit = 4,287. I= 0,407. Ada hubungan antara insentif dengan keaktifan kader posyandu dengan nilai X2 hit = 4,026. I= 0,393. Ada hubungan antara pelatihan dengan keaktifan kader posyandu dengan nilai X2 hit = 3,914. I=0. Diharapkan kepada pihak yang terkait khususnya Puskesmas Mataoleo untuk meningkatkan Pelatihan kepada para kader Posyandu dan memberikan insentif yang sesuai, sehingga dapat memaksimalkan kinerja para kader Posyandu. Kata Kunci : Keaktifan kader, jarak tempuh, insentif, pelatihan, puskesmas mataoleo ABSTRACT Based on preliminary observations on the implementation of data profiling data Mataoleo health center in 2017, the health center has 11 IHC Mataoleo consisting of IHC Primary 4 . 3%), IHC Madya 3 . 2%). Purnama 2 . 1% ) and IHC Independent 2 . 1%) with a number of health cadres ie 57 people. Number of active cadre of 23 people . 35%) and the number of cadres of inactive 34 . 64%) votes. This study aims to determine the factors associated with the activity of health cadres in the working area of health center Mataoleo Bombana the year 2018. This type of research is quantitative research with Cross Sectional Study Design. The study population was 57 people with sampling techniques proportional random sampling. The total sample of 36 people. Data analysis using Chi-Square test. Results showed there was a relationship between the distance traveled by the liveliness of Posyandu cadre with the value X2 hit = 4,287. I= 0,407. There is a relationship between the incentive to liveliness Posyandu cadre with the value X2 hit = 4,026. I= 0,393. There is a relationship between training cadres Posyandu liveliness to the value X2 hit = 3,914. I=0. It is expected that the parties concerned, especially the health center in the order mataoleo to improve training to cadres Posyandu and provide appropriate incentives, so as to maximize the performance of the health cadres. Keywords : Kader liveliness, mileage, incentives, training, mataoleo health center MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 (UKBM) yang dikelola dan diselenggarakan PENDAHULUAN Kesehatan merupakan hak asasi dan dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat kebutuhan dasar manusia (UUD 1945, pasal 28 H ayat 1 dan UU No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan, guna memberdayakan masyarakat. dan sekaligus sebagai investasi. Pengetahuan kader tentang Posyandu akan sehingga perlu diupayakan, diperjuangkan dan berpengaruh terhadap kemauan dan prilaku ditingkatkan oleh setiap individu dan oleh seluruh komponen bangsa, agar masyarakat Posyandu dan memberikan kemudahan kepada dapat menikmati hidup sehat, dan pada akhirnya dapat mewujudkan derajat kesehatan kesehatan dasar. Posyandu yang meliputi baik individu, keluarga maupun masyarakat program prioritas (KB. KIA. Gizi. Imunisasi yang optimal. Hal ini perlu dilakukan karena kesehatan bukanlah tanggung jawab pemerintah penurunan angka kematian bayi dan angka bersama pemerintah dan masyarakat, termasuk Penanggulangan Diar. kematian ibu. Upaya untuk meningkatkan fungsi dan Pusat kesehatan masyarakat (Puskesma. keaktifan kader Posyandu menjadi kepedulian sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan semua pihak, sehingga keberhasilan Posyandu menjadi tanggung jawab bersama. Salah satu kemandirian masyarakat dalam hal hidup sehat permasalahan Posyandu yang paling mendasar melalui pemberdayaan masyarakat. Wujud adalah rendahnya tingkat pengetahuan kader nyata dari upaya pemberdayaan masyarakat baik dari sisi akademis maupun tehnis. Kita ketahui bersama, bahwa kader adalah ujung kesehatan bersumber daya mayarakat (UKBM) di setiap wilayah kerja Puskesmas. UKBM dilaksanakan di Posyandu. Keberadaan kader yang memiliki peran nyata dan telah mampu menjadi penting dan strategis, ketika pelayanan berkembang di tengah masyarakat yaitu pos pelayanan terpadu (Posyand. Posyandu kepedulian dan partisipasi masyarakat. masyarakat dan untuk masyarakat sedangkan Penelitian sebelumnya yang dilakukan pemerintah hanya memfasilitasi. Posyandu oleh Ratih Wirapuspita, insentif uang dapat telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai suatu meningkatkan kinerja kader Posyandu di strategi untuk memperluas jangkauan pelayanan Kabupaten Penajam Paser Utara tahun 2010. kesehatan masyarakat. Sistem pengelolaan insentif oleh pemerintah Posyandu merupakan salah satu bentuk Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat dapat menurunkan sifat kerelawanan kader MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 Kinerja dan pengabdian kader Posyandu sangat dilaksanakan pada bulan September sampai baik, tetapi diperlukan pembinaan untuk dengan bulan Oktober tahun 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kader Peran serta keikutsertaan kader Posyandu posyandu yang berada pada di Wilayah Kerja melalui berbagai organisasi dalam upaya Mataoleo Kab. Bombana yang berjumlah 57 mewujudkan dan meningkatkan pembangunan Sampel penelitian ini adalah sebagian kader posyandu yang berada Di Wilayah Kerja terorganisir dan terencana dengan tepat dan Mataoleo Kab. Bombana yang berjumlah 36 Beberapa hal yang dapat atau perlu dipersiapkan oleh kader seharusnya sudah dimengerti dan dipahami sejak awal oleh kader Analisis data dilakukan dengan menggunakan Posyandu. Karena disadari atau tidak keberadan program komputerisasi IBM Statistical Product Posyandu sebuah usaha untuk meningkatkan and Service Solution (SPSS) versi 16. Analisis kesejahtraan masyarakat. Upaya Posyandu yang telah ada dan telah berjalan selama ini mampu menggunakan uji chi-square dan uji keeratan. mendukung kinerja kader. Tehnik dan lebih ditingkatkan dan dilestarikan. Jumlah Posyandu di Provinsi Sulawesi tenggara berdasarkan status Posyandu tahun umur dapat dilihat pada Tabel 1 menunjukkan Posyandu Pratama 689 . ,6%). Posyandu bahwa responden yang paling banyak yaitu Madya 1. 030 buah . ,3%). Posyandu Purnama umur 31-40 sebanyak 18 orang . %), umur 789 buah . ,3%), dan Posyandu Mandiri 181 41-50 tahun sebanyak 13 orang . dan buah . ,7%), cakupan D/S tahun 2013 adalah yang paling sedikit umur 20-30 sebanyak 5 45,9%, tahun 2014 adalah 66,7%, tahun 2015 orang . ,89%). Distribusi frekuensi responden adalah 70,3% dan pada tahun 2016 mengalami berdasarkan pendidikan dapat dilihat pada Tujuan Distribusi frekuensi responden berdasarkan peningkatan 80,3%. HASIL PENELITIAN Tabel 1 menunjukkan bahwa responden yang paling banyak adalah berpendidikan SMA mengetahui faktor-faktor yang berhubungan sebanyak 21 orang . ,33%) dan yang paling dengan keaktifan kader Posyandu di wilayah sedikit berpendidikan SMP sebanyak 15 orang . ,67%). Puskesmas Mataoleo Kabupaten Bombana. Distribusi frekuensi responden berdasarkan Pekerjaan dapat di lihat pada Tabel 1 menunjukkan bahwa responden yang paling METODE PENELITIAN Jenis yang digunakan adalah observasi IRT ,33%) dan yang paling sedikit adalah petani analitik dengan menggunakan pendekatan cross responden menurut keaktifan kader dapat Penelitian . ,89%). Distribusi MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 dilihat pada Tabel 2 menunjukkan bahwa yang paling sedikit adalah aktif sebanyak 17 responden yang paling banyak adalah yang orang . ,22%). tidak aktif sebanyak 19 orang . ,78%) dan Tabel 1. Distribusi Responden Berdasarkan Umur. Pendidikan dan Pekerjaan Di Wilayah Kerja Puskesmas Mataoleo Kab. BombanaTahun 2018 Karakteristik Umur (Tahu. 13,89 36,11 Pendidikan SMP 41,67 SMA 58,33 Pekerjaan IRT 33,33 Petani 13,89 Wiraswasta 27,78 Sumber : Data Primer, 2018 Distribusi Tabel jarak tempuhnya jauh, terdapat 9 responden ,94%) menunjukkan bahwa responden yang paling . ,48%) yang tidak aktif. Sedangkan dari 10 tempunhnya jauh sebanyak 26 orang . ,22%) terdapat 8 responden . ,6%) yang aktif dan 2 dan yang dekat jarak tempuhnya sebanyak 10 responden . ,52%) yang Tidak aktif. ,78%). Distribusi responden menurut Tabel Adapun hasil penelitian insentif dengan keaktifan kader posyandu dapat dilihat pada menunjukkan bahwa dari 36 responden dilihat Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 14 responden dari Insentif yang banyak adalah yang insentif . ,89%) yang cukup mendapatkan pelatihan, cukup sebanyak 24 orang . ,67%) dan yang terdapat 10 responden . ,82%) yang aktif dan insentif kurang sebanyak 12 orang . ,33%). 4 responden . ,06%) yang tidak aktif. Distribusi responden menurut pelatihan dapat Sedangkan dari 22 responden yang kurang dilihat pada Tabel 2 menunjukkan bahwa mendapatkan pelatihan, terdapat 7 responden responden yang paling banyak adalah yang . ,18%) kurang mendapatkan pelatihan sebanyak 22 . ,94%) yang tidak aktif. ,11%) dan yang cukup mendapatkan pelatihan sebanyak 14 orang . ,89%). Adapun hasil penelitian Pelatihan dengan keaktifan kader posyandu dapat dilihat pada Adapun hasil penelitian jarak tempuh Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 14 responden dengan keaktifan kader posyandu dapat dilihat . ,89%) yangcukup mendapatkan pelatihan, pada Tabel 2 menunjukkan bahwa dari 36 terdapat 10 responden . ,82%) yang aktif dan responden terdapat 26 responden . yang 4 responden . ,06%) yang tidak aktif. MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 Sedangkan dari 22 responden yang kurang . ,18%) mendapatkan pelatihan, terdapat 7 responden . ,94%) yang aktif. Tabel 2. Hubungan Jarak Tempuh. Insentif dan Pelatihan dengan Keaktifan Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Mataoleo Kab. Bombana Tahun 2018 Keaktifan kader Aktif Variabel Jarak tempuh Jauh Dekat Insentif Cukup Kurang Pelatihan Cukup Kurang Sumber : Data Primer, 2018 Jumlah Tidak aktif (LL 52,94 89,48 10,52 72,22 27,78 0,132 0,023 0,760 15,79 84,21 33,33 66,67 6,000 1,263 28,498 5,357 1,237 23,208 PEMBAHASAN UL) Kegiatan Keaktifan merupakan suatu perilaku yang biasa dilihat dari keteraturan dan kader posyandu pada setiap kegiatan yang Keaktifan berhubungan dengan posyandu, demikian akan merupakan suatau perilaku atau tindakan memberikan kontribusi yang besar, dalam nyata yang biasa dilihat dari keteraturan dan menurunkan angka kematian ibu, bayi, dan keterlibatan seorang kader dalam berbagai anak balita. posyandu maupun kegiatan diluar posyandu. Jarak yang dimaksud disini adalah jauh dekatnya jarak dari rumah atau tempat tinggal Hasil penelitian di Tabel 2 wilayah kerja ke tempat pelayanan kesehatan/ posyandu. Puskesmas Mataoleo menunjukan dari 36 jarak ke pusat pelayanan dan waktu tempuh responden terdapat 19 responden . ,78%) memiliki hubungan dengan pemanfaatan dan yang tidak aktif. Hal ini disebabkan karena kesehatan, akses kepelayanan kesehatan hanya mudah bagi mereka yang tinggal dalam jarak 1 sehingga kader tersebut dikatakan tidak aktif. atau 2 kilometer dengan pelayanan kesehatan. dan terdapat 17 responden . ,22%) yang Hasil penelitian di Tabel 2 wilayah kerja Hal ini dikarenakan kader tersebut rajin Puskesmas Mataoleo menunjukkan dari 36 responden terdapat 26 responden . ,22%) dikatakan aktif dan kader tersebut rutin yang jarak tempuhnya jauh dan terdapat 9 Posyandu MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 responden . ,94%) yang aktif. Hal ini Penelitian disebabkan karena sebagian kader mempunyai sebelumnya, jarak ke pusat pelayanan dan alat transportasi sehingga kader tersebut aktif waktu tempuh memiliki hubungan antara ke Posyandu meskipun jarak rumah kader ke keaktifan kader Posyandu di wilayah kerja Posyandu cukup jauh dan kader menyadari Puskesmas dengan pemanfaatan dan kesehatan, bahwa pekerjaan sebagai kader posyandu akses kepelayanan kesehatan hanya mudah merupakan tugas mulia untuk membantu bagi mereka yang tinggal dalam jarak 1 atau 2 . ,48%)yang Tidak aktif. Hal ini disebabkan Berdasarkan hubungan antara jarak ke pusat pelayanaan atau waktu tempuh ke Posyandu dengan sehingga kader lebih memilih melakukan keaktifan kader . <0,. pekerjaan rumah dibandingkan datang ke Kader yang tidak mampu berkunjung ke Posyandu. sepuluh responden yang . ,78%) pelayanan kesehatan, seperti posyandu dapat jarak tempuhnya dekat dan 2 responden disebabkan karena rumahnya terlalu jauh . ,78%) yang tidak aktif disebabkan karena kader tersebut tidak mempunyai pengetahuan sehingga kader tesebut tidak melaksanakan penghargaan kader adalah upah atau gaji yang tugasnya dengan baik sebagai kader Posyandu. diberikan kepada kader. Insentif berupa uang Selanjutnya Insentif memberikan motivasi tersendiri bagi kader. ,6%) yang jarak tempuhnya dekat dan aktif. Insentif dalam penelitian ini adalah imbalan Karena jarak tempuh kader ke Posyandu dekat berupa uang yang diberikan kepada kader. sehingga kader aktif dan kader menyadari Insentif memiliki tanggung jawab terhadap keaktifan ibu dalam melaksanakan pemantauan tumbuh kembang balita memegang peranan X2 hitung = 4,287 dan X2 tabel= 3,841 dengan meningkatkan semangat kerja. Hasil Hasil analisis Chi Square diperoleh nilai penting dalam program posyandu. Puskesmas Mataoleo dari 36 responden terdapat 12 responden . ,33%) yang insentif demikian X hitung lebih besar dari X tabel . ,287 > 3,. dengan nilai uji phi yaitu insentif kurang. Hal ini disebabkan karena 0,407. Maka H0 ditolak dan Ha diterima yang tuntutan profesi yang mengingat sebagai ibu berarti ada hubungan sedang antara jarak rumah tangga yang harus mengasuh anaknya tempuh dengan keaktifan kader Posyandu di di rumah dan terkait dengan pekerjaan sebagai Wilayah pekerja harian lepas, sehingga menyebabkan Kerja Puskesmas Kabupaten Bombana tahun 2018. Mataoleo dan 24 responden . ,67%) yang kader jarang hadir di posyandu. MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 Hasil . ,33%) terdapat 9 responden . ,94%) yang e- ISSN: 2622-7762 didapatkan yang berada pada kategori aktif sebanyak 22 responden dengan 86,5%. aktif, hal ini disebabkan insentif yang diterima Hasil analisis Chi Square diperoleh nilai berupa pengganti uang transport dianggap X2 hitung = 4,026 dan X2 tabel= 3,841 dengan bukan sesuatu yang peting karena sebagian demikian X2 hitung lebih besar dari X2 tabel . ,026 > 3,. dengan nilai uji phi yaitu 0,393. Maka H0 ditolak dan Ha diterima yang memikirkan besarnya imbalan yang di berikan berarti ada hubungan sedang antara insentif dengan keaktifan kader Posyandu di Wilayah pengabdian kepada masyrakat, dan terdapat 3 Kerja Puskesmas responden . ,79%) yang tidak aktif, hal ini Bombana tahun 2018. Mataoleo Kabupaten disebabkan karena kader menganggap insentif Insentif adalah upah atau gaji yang yang diterima tidak sesuai dengan beban kerja diberikan kepada kader. Jadi menurut asumsi sehingga membuat kader jarang hadir dalam peneliti, bahwa insentif yang diberikan kepada kegiatan posyandu dan lebih memilih bekerja kader baik itu berupa uang, barang ataupun harian untuk menambah penghasilan keluarga. penghargaan dapat menjadi salah satu motivasi Selanjutnya dari 24 responden . ,67% dan dorongan bagi kader untuk lebih giat lagi )yang insentif kurang terdapat 8 responden . ,06%) yang aktif. Hal ini karena sebagian kader tidak mengharapkan imbalan karena kader tidak aktif otomatis posyandu juga tidak mereka tergerak menjadi kader bukan karena dapat berjalan dengan lancar. menginginkan uang, karena bukan kebutuhan Jika Pelatihan adalah sesuatu yang terus- gaji yang membuat orang menjadi produktif melainkan pelatihan dan faktor kepuasan. seseorang pada hakikatnya tidak pernah terdapat 16 responden . ,21%) yang tidak Pelatihan kader merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan pengetahuan. Hal ini bahwa pemberian insentif melaksanakan tugasnya dengan sukarela. Biasanya pelatihan kader dilakukan oleh pihak Penelitian ini sejalan dengan penelitian Puskesmas ataupun Dinas Kesehatan daerah yang dilakukan sebelumnya yang mengatakan setempat, pelatihan yang didapatkan oleh bahwa faktor insentif yang pernah diterima kader Posyandu turut meningkatkan keaktifan kader posyandu mempengaruhi keaktifan kader dan partisipasi kader dalam setiap kegiatan posyandu dalam wilayah kerja puskesmas Peusangan Siblah Krueng. Berdasarkan hasil Hasil Penelitian di Tabel 2 wilayah uji statistik dari sub variabel insentif kader Puskesmas Mataoleo dengan variabel keaktifan kader posyandu dengan nilai p-value 0,005 dari 52 responden ,89%) Hal MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 e- ISSN: 2622-7762 disebabkan karena kader posyandu yang dengan demikian X2 hitung lebih besar dari X2 pernah mengikuti pelatihan akan bekerja tabel . ,914 > 3,. dengan nilai uji phi yaitu maksimal dan berusaha untuk memberikan 0,387. Maka H0 ditolak dan Ha diterima yang pelayanan yang profesional karena pelatihan berarti ada hubungan sedang antara pelatihan merupakan salah satu proses pendidikan yang dengan keaktifan kader Posyandu di Wilayah memiliki tujuan peningkatan kemampuan dan Kerja keterampilan khusus kader posyandu. hal ini Bombana tahun 2018. sangat di butuhkan bagi kader untuk memiliki Hasil Puskesmas Mataoleo Kabupaten Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian juga hasil penelitian sebelumnya dengan hasil uji menunjukan terdapat 22 responden . ,11%) statistic diperoleh nilai p-value = 0,00 . value yang memiliki pelatihan kurang. Hal ini O ) karena kader posyandu yang tidak pernah hubungan yang bermakna antara pelatihan pelatihan, karena kader tersebut dengan keaktifan kader posyandu di wilayah memiliki masa kerja yang belum lama serta kerja puskesmas bengkol kecamatan mapanget belum pernah mengikuti pelatihan pelayanan kota manado. yang mengatakan bahwa terdapat Hasil analisis dari 14 responden yang Sesuai dengan hasil penelitian yang responden . ,82%) yang aktif, hal ini dilakukan, maka dapat disimpulkan sebagai merupakan salah satu bentuk untuk menambah berikut: ada hubungan sedang antara jarak keterampilan dalam kegitan posyandu. tempuh dengan keaktifan kader posyandu di terdapat 4 responden . ,06%) yang wilayah kerja Puskesmas Mataoleo Kabupaten aktif, hal ini disebabkan karena pelatihan Bombana, ada hubungansedang antara Insentif responden yang kurang sehingga kader tidak dengan keaktifan kader posyandu di wilayah dapat menyerap pelatihan dengan baik dan tidak dapat mengaplikasikannya di Posyandu. Bombana, sedangkan dari 22 responden yang memiliki Pelatihan dengan keaktifan kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Mataoleo Kabupaten KESIMPULAN DAN SARAN ,18%) yang tidak aktif dan 7 responden Mataoleo Kabupaten Bombana. ,18%) yang aktif, hal ini disebabkan karena Saran yang diajukan ialah diharapkan masa kerja beberapa kader yang sudah lama kepada pihak Dinas kesehatan Kabupaten Bombana untuk melakukan advokasi kepada agar mengalokasikan pengalaman dalam pelaksanaan sebagai kader insentif kader sebagai salah satu bentuk Posyandu. motivasi bagi kader agar aktif pada setiap Hasil analisis Chi Square diperoleh kegiatan posyandu. Diharapkan juga kepada nilai X2 hitung = 3,914 dan X2 tabel= 3,841 Puskesmas Mataoleo agar memaksimalkan MIRACLE Journal of Public Health. Vol 2. No. 1 Juni 2019 pendampingan dan pelatihan kader posyandu e- ISSN: 2622-7762 Wirapuspita. Ratih. Insentif Uang secara rutin setiap tahunnya, sehingga kader Tunai posyandu mengetahui perannya dan bersedia Posyandu [Skrips. Untuk keaktifan kader posyandu serta pengalaman keaktifan kader posyandu. Grace. Peningkatan Glorisa Kinerja Kader Hubungan Motivasi dan Pemberian Insentif dengan Keaktifan Kader Posyandu di Wilayah Kerja Puskesmas Sonder. Jurnal. Kementerian Kesehatan RI. Buku saku posyandu. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. DAFTAR PUSTAKA