JOISIE (Journal Of Information Systems And Informatics Engineerin. Vol. No. Juni 2025. Hlm 136-149 Received: 18 Maret 2025 Revised: 19 Mei 2025. Accepted: 10 Juni 2025 p- ISSN: 2503-5304 e- ISSN: 2527-3116 EVALUASI KEBERHASILAN SCRUM DALAM PENGEMBANGAN APLIKASI DIABEATS SEBAGAI E-COMMERCE PEMESANAN MAKANAN SEHAT Vernanda Ayu Prastika. Apriade Voutama. Fakultas Ilmu Komputer. Universitas Singaperbangsa Karawang. Jl. HS. Ronggo Waluyo. Puseurjaya. Telukjambe Timur. Karawang. Jawa Barat email: 1vernandaayu11@gmail. com, 2apriade. voutama@staff. Abstract This study aims to evaluate the success of implementing the Scrum method in the development of Diabeats, an e-commerce platform for ordering healthy food. The success is assessed through indicators such as team efficiency, backlog completion, adaptability to changes, and the effectiveness of development cycles. This research adopts a case study approach by analyzing three sprints conducted during the project. Data were collected from project documentation, including sprint reports, burndown charts, and retrospective sessions. The results show that 100% of the planned backlog was completed in each sprint, with a total of 243 story points achieved. Scrum proved effective in improving team adaptability, accelerating workflows, and optimizing iterative backlog management. Despite challenges such as shifting user requirements and communication barriers, the team was able to adjust development strategies through regular discussions and better risk management. This study offers practical contributions to Agile-based software development, particularly in the context of e-commerce applications, and can serve as a reference for small to medium-sized development teams implementing Scrum. Keywords: Scrum, agile development, backlog management, sprint retrospective, e-commerce. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi keberhasilan penerapan metode Scrum dalam pengembangan aplikasi Diabeats, sebuah platform e-commerce pemesanan makanan sehat. Keberhasilan dievaluasi berdasarkan indikator efisiensi tim, penyelesaian backlog, kemampuan adaptasi terhadap perubahan, serta efektivitas siklus pengembangan. Studi ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan menganalisis tiga sprint pengembangan yang dilakukan selama periode proyek. Data dikumpulkan dari dokumentasi proyek, termasuk laporan sprint, grafik burndown chart, serta hasil retrospektif tim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 100% backlog berhasil diselesaikan pada setiap sprint dengan total story point mencapai 243 poin. Scrum terbukti meningkatkan adaptabilitas tim, mempercepat alur kerja, serta mengoptimalkan manajemen backlog secara iteratif. Meskipun terdapat tantangan berupa perubahan kebutuhan pengguna dan kendala komunikasi, tim mampu menyesuaikan strategi pengembangan melalui diskusi rutin dan manajemen risiko yang lebih baik. Studi ini memberikan kontribusi praktis dalam pengembangan perangkat lunak berbasis Agile, khususnya dalam konteks e-commerce, serta dapat dijadikan acuan penerapan Scrum untuk tim pengembang dengan skala kecil hingga menengah. Keywords: Scrum. Agile Development. Backlog Management. Sprint Retrospective. E-Commerce. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital telah merevolusi cara masyarakat memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk dalam aspek konsumsi makanan sehat. Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya pola makan bergizi, teknologi berbasis e-commerce muncul sebagai solusi inovatif yang mempermudah akses masyarakat terhadap produk makanan sehat (Khalis et al. , n. Melalui aplikasi berbasis web dan mobile, pengguna kini dapat menyesuaikan pilihan makanan dengan kebutuhan nutrisi mereka secara fleksibel dan https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. 137 | Jurnal JOISIE. Volume 9. Nomor 1. Juni 2025 Untuk mewujudkan sistem digital yang responsif terhadap kebutuhan pengguna yang terus berkembang, pendekatan Agile menjadi pilihan utama, khususnya metode Scrum. Scrum adalah sebuah kerangka kerja yang digunakan oleh organisasi untuk membantu dalam mengatur, mengelola, dan mengendalikan proyek teknologi informasi, guna mencapai tujuan tertentu melalui pendekatan adaptif terhadap permasalahan yang kompleks. (Atissalam & Aji, 2. Metode ini dikenal dengan karakteristiknya yang iteratif, adaptif, dan kolaboratif yang menjadikannya efektif dalam menghadapi perubahan kebutuhan pengguna secara cepat (Fernandes & Voutama, 2. Scrum memfasilitasi pengembangan perangkat lunak dalam siklus singkat bernama sprint, memungkinkan pengujian, evaluasi, dan penyempurnaan fitur dilakukan secara berkelanjutan. Dalam konteks pengembangan perangkat lunak berbasis e-commerce. Scrum telah menjadi salah satu pendekatan yang banyak diadopsi karena kemampuannya dalam mengelola backlog secara dinamis serta menyesuaikan prioritas berdasarkan perubahan kebutuhan pengguna (Ayurira & Fajri, 2. Pendekatan ini dinilai sangat cocok diterapkan dalam proyek skala kecil dengan tim yang relatif terbatas, karena menawarkan efisiensi tinggi dalam pengelolaan tugas (Maghfirah & Suranto, 2. Selain itu. Scrum juga menekankan pentingnya kolaborasi tim dan pembelajaran berkelanjutan, menjadikannya relevan untuk pengembangan aplikasi e-commerce seperti Diabeats (Atissalam & Aji, 2023. Sisephaputra & Alit, 2. Aplikasi Diabeats merupakan salah satu contoh implementasi metode Scrum dalam pengembangan platform pemesanan makanan sehat yang menyesuaikan preferensi kesehatan pengguna. Scrum digunakan untuk mendorong efisiensi tim dan memastikan penyempurnaan fitur berjalan secara berkesinambungan berdasarkan umpan balik pengguna. Evaluasi dalam penelitian ini berfokus pada dokumentasi pengembangan seperti product backlog, laporan sprint, burndown chart, dan catatan dari sesi Sprint Retrospective. Indikator yang digunakan mencakup tingkat penyelesaian backlog, kendala yang muncul selama sprint, dan upaya perbaikan proses (Gutama & Dirgahayu, 2. Tahapan utama dalam Scrum yang diadopsi meliputi Product Backlog. Sprint Planning. Sprint Backlog. Daily Scrum. Sprint Review, dan Sprint Retrospective. Pengembangan Diabeats diawali dengan penyusunan Product Backlog berdasarkan kebutuhan pengguna yang dikemas dalam bentuk user stories oleh Product Owner (Tohirin & Widianto, 2. Prioritas fitur ditentukan berdasarkan urgensi dan kompleksitasnya, mencakup fitur pemesanan makanan, pengelolaan transaksi, serta sistem rekomendasi menu (Trisnawati et al. Selanjutnya, proses Sprint Planning dilakukan untuk menentukan backlog yang akan dikerjakan dalam dua minggu sprint. Durasi pertemuan dirancang fleksibel antara dua hingga empat jam, tergantung kompleksitas backlog (Fernandes & Voutama, 2. Backlog yang dipilih dimasukkan dalam Sprint Backlog, dilengkapi estimasi story point sebagai gambaran usaha dan kompleksitas tugas (Azrieel & Valentino, 2024. Gutama & Dirgahayu, 2. Selama sprint, tim melakukan Daily Scrum, yakni pertemuan singkat harian untuk mengevaluasi progres kerja dan menyelesaikan kendala teknis secara cepat (Wahyudi et al. , 2. Pertemuan ini berperan penting dalam menjaga kelancaran komunikasi serta memastikan backlog tetap berjalan sesuai jadwal (Tohirin & Widianto, 2. Setelah sprint berakhir, tim menyelenggarakan Sprint Review untuk mendemonstrasikan hasil kerja kepada stakeholder (Gutama & Dirgahayu, 2. , yang kemudian dilanjutkan dengan Sprint Retrospective sebagai ruang refleksi tim untuk melakukan evaluasi proses (Khalis et al. , n. Penelitian sebelumnya telah menunjukkan keberhasilan implementasi Scrum dalam berbagai sektor pengembangan digital. Khalis et al. ), misalnya, mencatat keberhasilan digitalisasi sistem pemesanan katering sehat berbasis web, yang mampu meningkatkan efektivitas manajemen data dan memperluas jangkauan pelanggan. Di sisi lain. Fernandes & Voutama . membuktikan bahwa Scrum memudahkan tim dalam merespons perubahan spesifikasi dalam proyek teknologi pembelajaran daring. Selain itu, penelitian dari Setiawan & Supangat . menegaskan bahwa penerapan Scrum mendorong penyelesaian fungsionalitas aplikasi secara terstruktur dalam sprint. Scrum juga memperkuat komunikasi tim dan memastikan setiap iterasi menghasilkan nilai nyata bagi pengguna (Sisephaputra & Alit, 2. Dalam praktiknya, proses pengembangan dengan pendekatan Agile dimulai dari tahap perencanaan awal yang melibatkan stakeholder untuk menyusun product backlog, yang kemudian dikembangkan secara bertahap sesuai prioritas fitur (Fajri et al. , 2024. Maulana & Wahyuni, n. Dengan mempertimbangkan berbagai studi tersebut, jelas bahwa Scrum memiliki potensi besar dalam mendukung pengembangan perangkat lunak, khususnya di sektor e-commerce dengan tim berskala kecil (Maghfirah & Suranto, 2. Meskipun demikian, belum banyak penelitian yang secara mendalam mengevaluasi penerapan Scrum dalam pengembangan aplikasi pemesanan makanan sehat, khususnya dengan fokus pada evaluasi sprint secara rinci. https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. Prastika. Evaluasi Keberhasilan Scrum Dalam Pengembangan Aplikasi Diabeats Sebagai E-Commerce Pemesanan Makanan Sehat,136-. 138 Namun, masih terbatas penelitian yang secara spesifik mengevaluasi praktik Scrum dalam konteks aplikasi e-commerce untuk makanan sehat, khususnya melalui analisis sprint yang rinci. Penelitian ini hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dengan mengevaluasi sejauh mana penerapan Scrum dalam pengembangan aplikasi Diabeats mampu mendukung keberhasilan proyek baik dari sisi penyelesaian backlog, kolaborasi tim, maupun efektivitas tiap tahapan sprint. Penelitian ini tidak hanya memberikan evaluasi empiris atas penerapan Scrum, tetapi juga memberikan rekomendasi praktis untuk tim pengembang aplikasi e-commerce berbasis Agile, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah terhadap pengembangan metodologi serta panduan aplikatif bagi praktik industri. METODE PENELITIAN Pendekatan penelitian yang diterapkan mengacu pada model Scrum dalam Agile Development, yang menawarkan kerangka kerja adaptif, iteratif, cepat, fleksibel, dan efisien (Sabila et al. , 2. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus untuk menganalisis implementasi Scrum dalam pengembangan aplikasi Diabeats, sebuah platform e-commerce untuk pemesanan makanan sehat. Studi kasus dipilih karena memungkinkan analisis mendalam terhadap proses pengembangan perangkat lunak secara langsung, dengan mempertimbangkan interaksi tim pengembang, backlog yang dikerjakan, serta tantangan yang muncul selama sprint berlangsung (Khalis et al. , n. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data Data penelitian dikumpulkan dari dokumentasi proyek yang meliputi product backlog, laporan sprint, burndown chart, dan Sprint Retrospective. Penelitian ini menganalisis tiga sprint yang dilakukan selama periode enam minggu, di mana masing-masing sprint berdurasi dua minggu. Data dianalisis menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan kuantitatif sederhana: Analisis kualitatif dilakukan dengan mengekstraksi tema dari laporan retrospektif menggunakan kategori Start. Stop. Keep. Improve. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menghitung persentase backlog yang terselesaikan dari setiap sprint berdasarkan burndown chart dan story point. Efektivitas Scrum dievaluasi berdasarkan kelancaran pelaksanaan sprint, kendala yang muncul, serta peningkatan kinerja tim dari sprint ke sprint. Proses Pengembangan Scrum Sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 1, proses Scrum terdiri dari enam tahapan utama yang diikuti secara konsisten dalam pengembangan aplikasi Diabeats: Product Backlog. Sprint Planning. Sprint Backlog. Daily Scrum. Sprint Review, dan Sprint Retrospective. Gambar 1. Tahap Metode Scrum Sumber: https://poweredtemplate. com/id/scrum-process diagram-77468/ Product Backlog Product Backlog untuk pengembangan Diabeats disusun oleh Product Owner berdasarkan survei kebutuhan pengguna dan diskusi awal bersama stakeholder. Fitur yang diprioritaskan mencakup sistem https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. 139 | Jurnal JOISIE. Volume 9. Nomor 1. Juni 2025 pemesanan makanan sehat, metode pembayaran digital, fitur rekomendasi makanan berbasis kebutuhan nutrisi, dan pengelolaan riwayat pesanan. Penyusunan backlog dilakukan secara kolaboratif melalui Figma dan Trello, dan disusun berdasarkan nilai bisnis dan tingkat urgensinya. Setiap fitur dalam backlog memiliki deskripsi singkat, kriteria penerimaan, dan estimasi story point awal. Backlog bersifat dinamis dan mengalami beberapa kali perubahan selama proyek berlangsung, terutama setelah Sprint Review pertama. Sprint Planning Sprint Planning dilakukan pada awal setiap sprint secara daring melalui Google Meet, dengan melibatkan Product Owner. Scrum Master, dan anggota tim. Durasi pertemuan berkisar 2Ae4 jam tergantung kompleksitas Tim memilih item backlog yang feasible untuk diselesaikan dalam waktu 2 minggu, dan menetapkan estimasi effort dalam satuan story point menggunakan metode diskusi terbuka . anpa Planning Poker forma. Sebagai contoh, pada Sprint 1, backlog utama yang dipilih adalah fitur login/register, homepage, dan sistem pemesanan dasar. Sprint Backlog Sprint Backlog dikelola menggunakan platform Trello, yang difungsikan sebagai task board dan pusat koordinasi antar anggota tim. Setiap item didelegasikan kepada anggota berdasarkan spesialisasi, seperti team product management atau team UI/UX. Contohnya, pada Sprint 2, backlog fitur "Rekomendasi Makanan Sehat" sempat mengalami revisi karena adanya perubahan logika dari semula berdasarkan input manual pengguna menjadi berdasarkan filter kategori Perubahan ini didiskusikan kembali di pertengahan sprint dan backlog disesuaikan ulang. Daily Scrum Daily Scrum dilaksanakan secara daring setiap hari kerja pukul 16. 00 WIB melalui Google Meet. Format pertemuan mengikuti tiga pertanyaan utama yaitu apa yang dikerjakan hari ini, apa rencana besok, dan adakah Diskusi disimpan dalam teks WhatsApp agar terdokumentasi dan yang berhalangan hadir bisa membaca notulen. Pada Sprint 2, terjadi kendala pada pengembangan fitur pencarian makanan, karena integrasi komponen tidak sesuai ekspektasi. Permasalahan ini dibahas dalam Daily Scrum dan disepakati untuk dibantu pada hari Selain itu. Daily Scrum juga menjadi forum utama untuk mengecek progres dan menjaga ritme kerja tim agar tidak overload. Sprint Review Sprint Review dilakukan di akhir sprint secara daring dengan menghadirkan mentor dari program serta Product Owner. Tim mempresentasikan fitur yang sudah jadi melalui prototype interaktif di Figma. Contohnya, pada Sprint 3, tim mendemonstrasikan halaman checkout dan mendapatkan masukan bahwa urutan elemen UI membingungkan pengguna. Feedback ini diakomodasi dalam backlog sprint berikutnya, dan menjadi dasar perbaikan struktur UI di halaman tersebut. Sprint Retrospective Sprint Retrospective dilakukan secara internal oleh tim melalui sesi diskusi terbuka yang difasilitasi Scrum Master melalui Google Meet. Evaluasi dilakukan menggunakan format Start. Stop. Keep. Improve. Poin-poin retrospektif ditulis bersama di IdeaBoardz. https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. Prastika. Evaluasi Keberhasilan Scrum Dalam Pengembangan Aplikasi Diabeats Sebagai E-Commerce Pemesanan Makanan Sehat,136-. 140 Contoh hasil retrospektif: Start: Mulai melakukan validasi ulang terhadap user flow bersama tim UI/UX sebelum tahap desain dimulai, untuk menghindari perbedaan persepsi. Stop: Mengasumsikan kebutuhan desain hanya berdasarkan dokumen tanpa diskusi lintas tim. Keep: Tetap menggunakan Trello sebagai alat utama pencatatan backlog dan dokumentasi tugas. Improve: Meningkatkan komunikasi dua arah dalam pertemuan harian agar semua anggota aktif menyampaikan progres dan hambatan. Retrospektif ini sangat membantu tim untuk menyadari kesalahan sprint sebelumnya dan mendorong praktik kerja yang lebih efisien dan kooperatif di sprint berikutnya. HASIL DAN PEMBAHASAN Studi ini menganalisis penerapan metode Scrum dalam tiga sprint pengembangan aplikasi Diabeats, yang merupakan platform e-commerce pemesanan makanan sehat. Setiap sprint memiliki durasi yang telah ditentukan dan dievaluasi untuk mengukur efektivitas metodologi Scrum dalam mendukung pengembangan perangkat lunak (Khalis et al. , n. Evaluasi dalam studi ini dilakukan dengan menganalisis jumlah backlog yang terselesaikan, tantangan yang dihadapi selama sprint, serta perbaikan yang diterapkan melalui Sprint Retrospective (Khalis et al. , n. Selain itu. Burndown Chart digunakan sebagai alat untuk mengukur kecepatan penyelesaian backlog, mengidentifikasi tren produktivitas tim, serta memahami hambatan yang memengaruhi alur kerja selama sprint berlangsung (Azrieel & Valentino, 2. Metode Scrum telah terbukti efektif dalam meningkatkan efisiensi tim dalam mengembangkan perangkat lunak, terutama dalam konteks e-commerce dan sistem berbasis kesehatan, di mana backlog yang kompleks dapat dikelola secara iteratif (Tohirin & Widianto, 2. 1 Pendekatan Analisis Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif Analisis kuantitatif dilakukan dengan mengukur jumlah story point yang direncanakan dan diselesaikan dalam setiap sprint, serta memvisualisasikan progres kerja menggunakan burndown chart dan tren penyelesaian backlog harian. Indikator efisiensi tim dianalisis berdasarkan konsistensi penyelesaian backlog, perubahan velocity tim, dan ketercapaian goal sprint. Sementara itu, analisis kualitatif dilakukan dengan mengekstraksi tema retrospektif dari sesi Sprint Retrospective menggunakan format Start. Stop. Keep. Improve. Tema-tema tersebut dikategorikan untuk mengidentifikasi tantangan komunikasi, hambatan kerja, serta upaya peningkatan proses kerja lintas sprint. Data yang digunakan bersumber dari dokumen proyek seperti product backlog, laporan sprint, tangkapan burndown chart harian, dan notulen diskusi retrospective. 2 Sprint 1: Perencanaan Awal dan Implementasi Dasar Sprint 1 dilaksanakan pada tanggal 21-29 November 2024 dengan fokus utama pada perancangan awal fitur inti aplikasi serta pengumpulan kebutuhan pengguna. Langkah awal yang dilakukan oleh tim adalah menyusun Product Backlog, yang mencakup pengembangan fitur utama, seperti sistem pemesanan makanan sehat, integrasi pembayaran, dan manajemen pesanan. Sebagai langkah awal, tim melakukan Sprint Planning untuk menentukan cakupan pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam durasi sprint berdasarkan prioritas kebutuhan pengguna. Setiap item backlog diberikan story points untuk mengukur kompleksitas serta usaha yang diperlukan dalam pengembangannya. Berikut adalah rincian backlog yang direncanakan dan realisasinya dalam Sprint 1: https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. 141 | Jurnal JOISIE. Volume 9. Nomor 1. Juni 2025 Tabel 1. Product Backlog Sprint 1 Item Backlog Sprint Planning Problem Research SWOT Analysis Empathy Map Sintesa Pain and Gain Prioritizing Problem User Persona Customer & User Journey Map Ideate Solution & How Might We Analisis Kano MVP Plan & Epic User Flow & Flowchart Information Architecture / Site Map Competitor UI Analysis Design Concept & Wireframe Riset Tone of Voice dari Competitor PRD Lo-Fi Prototype Lo-Fi Wireflow Sprint Activity Roadmap Sprint Review Sprint Retrospective Pitching Total Story Point (Pla. Story Point (Actua. Pada akhir Sprint 1, tim berhasil menyelesaikan seluruh backlog sesuai dengan rencana awal dengan total 104 story points terselesaikan. Sprint ini memberikan wawasan mengenai efektivitas tim dalam mengelola backlog serta memastikan penyelesaian tugas sesuai target yang telah ditentukan. Keberhasilan sprint ini mencerminkan koordinasi yang baik dalam tim, meskipun masih terdapat beberapa tantangan yang perlu diperhatikan untuk sprint berikutnya. Dalam aspek pencapaian, seluruh backlog dapat diselesaikan sesuai dengan rencana awal, mencerminkan efisiensi dalam perencanaan dan eksekusi tugas. Setiap tugas yang telah ditentukan dalam backlog dapat dituntaskan tanpa mengalami keterlambatan signifikan, yang menunjukkan bahwa tim mampu bekerja secara optimal dalam batas waktu yang telah ditentukan. Namun, tantangan tetap muncul dalam proses pengembangan. Beberapa backlog mengalami revisi akibat perubahan prioritas dari stakeholder serta pemahaman lebih mendalam terhadap kebutuhan pengguna setelah validasi awal dilakukan. Hal ini menyebabkan beberapa tugas yang sudah direncanakan harus disesuaikan kembali agar tetap relevan dengan tujuan pengembangan aplikasi. Selain itu, terdapat kendala dalam komunikasi tim, terutama dalam menyelaraskan pemahaman antar anggota terkait perubahan backlog, yang mengakibatkan perlunya revisi dalam beberapa tahapan pengerjaan. Evaluasi dari Sprint 1 menunjukkan bahwa penyelesaian backlog telah berjalan dengan efisien, namun masih terdapat ruang untuk peningkatan. Salah satu aspek yang perlu diperbaiki adalah peningkatan komunikasi dan koordinasi antar anggota tim, agar perubahan yang terjadi selama sprint dapat lebih terorganisir dan tidak menghambat alur pengembangan. Selain itu, perlu dilakukan strategi perencanaan yang lebih fleksibel agar backlog yang dirancang sejak awal dapat lebih mudah menyesuaikan dengan perubahan kebutuhan yang muncul selama sprint berlangsung. Hasil evaluasi ini menjadi dasar untuk optimalisasi sprint berikutnya, guna meningkatkan efektivitas kerja tim dalam mengelola backlog dan menyelesaikan tugas secara lebih terstruktur. Untuk menganalisis efisiensi sprint, digunakan dua visualisasi utama: https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. Prastika. Evaluasi Keberhasilan Scrum Dalam Pengembangan Aplikasi Diabeats Sebagai E-Commerce Pemesanan Makanan Sehat,136-. 142 Gambar 2. Day Sprint 1 Seperti ditunjukkan pada Gambar 2, tren penyelesaian backlog harian pada Sprint 1 menunjukkan distribusi penyelesaian yang konsisten tanpa lonjakan beban pada akhir sprint. Gambar tersebut dapat membantu tim dalam mengidentifikasi pola penyelesaian tugas serta mengevaluasi efektivitas sprint. Gambar 3. Grafik Sprint 1 Gambar 3 memperlihatkan hubungan antara Goal Velocity . ecepatan kerja ti. dengan backlog yang tersisa, sehingga tim dapat mengukur apakah sprint berjalan sesuai estimasi awal atau mengalami hambatan. Dari Grafik Sprint 1, terlihat bahwa backlog berhasil diselesaikan secara konsisten, dengan sedikit peningkatan kecepatan penyelesaian pada pertengahan sprint. Tidak ada backlog yang tertunda atau mengalami penundaan signifikan, menunjukkan bahwa perencanaan sprint telah dilakukan dengan baik. Namun, beberapa backlog memerlukan diskusi tambahan karena adanya perubahan pemahaman kebutuhan pengguna, yang menyebabkan revisi kecil dalam beberapa dokumen perancangan, seperti User Journey Map dan Ideate Solution. Sebagai bagian dari prinsip Scrum, tim melaksanakan sesi Sprint Retrospective untuk mengidentifikasi aspek yang telah berjalan dengan baik serta menemukan area yang perlu diperbaiki untuk meningkatkan efektivitas sprint selanjutnya. Hasil retrospective disajikan dalam Tabel 1. Retrospective Sprint 1 berikut: Tabel 2. Retropective Sprint 1 Kategori Start Stop Keep Improve Point Retropective Meningkatkan diskusi dan keterbukaan terhadap perbedaan pendapat. Mengurangi begadang agar sprint lebih efektif dan produktif. Menjaga semangat tim dan terus mengeluarkan ide-ide kreatif. Meningkatkan komunikasi untuk menghindari miskomunikasi. Mengadakan diskusi lebih sering, tidak hanya saat Daily Scrum. Membuat pembagian waktu yang lebih seimbang antara proyek dan urusan akademik. Berdasarkan hasil retrospective, tim menunjukkan tingkat kolaborasi yang baik dalam menyelesaikan backlog dan mempertahankan keterbukaan dalam diskusi. Namun, masih terdapat tantangan yang berkaitan https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. 143 | Jurnal JOISIE. Volume 9. Nomor 1. Juni 2025 dengan manajemen waktu serta efektivitas komunikasi antar anggota tim, yang dapat mempengaruhi kelancaran pengembangan produk. Salah satu kendala utama yang teridentifikasi adalah pola kerja yang kurang terstruktur, di mana beberapa anggota tim bekerja hingga larut malam. Kondisi ini berdampak pada produktivitas dan konsistensi kinerja tim selama sprint berlangsung. Selain itu, meskipun diskusi selama Daily Scrum berjalan dengan baik, frekuensi komunikasi di luar sesi tersebut masih perlu ditingkatkan agar koordinasi lebih efektif dan backlog dapat dikerjakan dengan lebih terorganisir. Untuk mengatasi tantangan tersebut, sprint berikutnya akan difokuskan pada peningkatan komunikasi internal melalui sesi diskusi tambahan di luar Daily Scrum, guna memastikan setiap anggota memiliki pemahaman yang sama terhadap backlog yang sedang dikerjakan. Selain itu, optimalisasi dokumentasi proyek akan diterapkan untuk mengurangi risiko miskomunikasi yang dapat berdampak pada revisi backlog dan keterlambatan pengembangan. Penerapan strategi manajemen waktu yang lebih sistematis juga diperlukan agar backlog dapat diselesaikan secara lebih efisien. Dapat disimpulkan. Sprint 1 berjalan dengan sukses, dengan seluruh backlog terselesaikan tepat waktu dan memberikan dasar yang kuat untuk pengembangan lebih lanjut di Sprint 2. Meskipun terdapat tantangan dalam komunikasi, estimasi backlog, dan manajemen waktu, tim telah mengidentifikasi solusi yang dapat diterapkan dalam sprint berikutnya untuk meningkatkan efektivitas pengembangan. 3 Sprint 2: Penyempurnaan Fitur dan Optimalisasi Kinerja Perencanaan Awal dan Implementasi Dasar Sprint 2 dilaksanakan pada tanggal 1-9 Desember 2024 dengan fokus utama pada pengembangan fitur lanjutan serta validasi awal dengan pengguna. Tim melakukan iterasi berdasarkan hasil Sprint 1 dengan tujuan untuk menyempurnakan fitur-fitur utama yang telah dikembangkan sebelumnya, meningkatkan stabilitas sistem, serta memastikan kesesuaian fitur dengan kebutuhan pengguna. Pada sprint ini, dilakukan penyempurnaan antarmuka pengguna (User Interface/UI), optimalisasi sistem untuk meningkatkan performa aplikasi, serta validasi awal fitur pencarian dan pengalaman pengguna. Selain itu, evaluasi terhadap tantangan yang dihadapi dalam Sprint 1 menjadi dasar dalam menyusun strategi pengembangan yang lebih efektif pada sprint ini. Sebagai langkah awal, tim menyusun Product Backlog Sprint 2, yang mencakup pengembangan fitur tambahan serta penyempurnaan aspek teknis yang telah diidentifikasi dalam retrospektif Sprint 1. Setiap backlog diberikan story points berdasarkan tingkat kompleksitas dan estimasi usaha yang diperlukan dalam Berikut adalah rincian backlog yang direncanakan serta realisasinya dalam Sprint 2: Tabel 3. Product Backlog Sprint 2 Item Backlog Sprint Planning Logo & Branding Lean Canvas BMC dan Perhitungan Business Model Moodboards & Color Options Look & Feel Options dan Brand Attributes Income Statement Revenue Management & Sales Projection Design Systems & General components Wireframe fitur baru & Design Hi-Fi Competitive Matrix PRD 1. Usability Testing Plan & User Scenario Testing Document Sprint Activity Roadmap Sprint Review Story Point (Pla. Story Point (Actua. https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. Prastika. Evaluasi Keberhasilan Scrum Dalam Pengembangan Aplikasi Diabeats Sebagai E-Commerce Pemesanan Makanan Sehat,136-. 144 Sprint Retrospective Pitching Total Pada akhir Sprint 2, tim berhasil menyelesaikan seluruh backlog sesuai dengan rencana awal dengan total 69 story points terselesaikan dari 69 yang direncanakan. Sprint ini memberikan wawasan penting terkait efektivitas tim dalam mengelola backlog yang lebih kompleks, serta memastikan bahwa pengembangan produk telah sesuai dengan kebutuhan pengguna. Dari sisi pencapaian, fitur-fitur utama berhasil diimplementasikan dengan baik, terutama penyempurnaan UI/UX. Namun, terdapat beberapa backlog yang mengalami perubahan prioritas, menyebabkan story points yang terealisasi sedikit lebih rendah dari target awal. Hal ini terjadi karena beberapa fitur memerlukan validasi tambahan dari pengguna sebelum dapat diterapkan secara penuh. Untuk menganalisis efisiensi sprint, digunakan dua visualisasi utama: Gambar 4. Day Sprint 2 Gambar 4 menunjukkan tren penyelesaian backlog secara harian pada Sprint 2, membantu tim mengevaluasi efektivitas sprint dan mengenali perlambatan penyelesaian tugas. Gambar 5. Grafik Sprint 2 Berdasarkan Gambar 5, grafik menunjukkan hubungan antara Goal Velocity dan backlog yang tersisa, dengan perlambatan signifikan di akhir sprint akibat kendala kesehatan tim dan kompleksitas backlog. Pada Gambar 5, terlihat bahwa Goal Velocity mengalami penurunan yang cukup stabil hingga tanggal 5 Desember 2024, sebelum akhirnya terjadi perlambatan signifikan pada hari-hari berikutnya. Evaluasi menunjukkan bahwa perlambatan ini disebabkan oleh beberapa anggota tim yang mengalami kendala kesehatan, yang berdampak pada penurunan produktivitas tim. Selain itu, beberapa fitur yang sedang dikembangkan memiliki tingkat kompleksitas yang tinggi dalam implementasi teknis dan validasi pengguna, sehingga memerlukan lebih banyak iterasi sebelum dapat diterapkan secara penuh. Sebagai langkah mitigasi, tim akan meningkatkan koordinasi serta mempercepat proses pengujian agar backlog yang direncanakan dapat terselesaikan tepat waktu pada sprint berikutnya. Selain itu, diperlukan manajemen risiko yang lebih baik untuk mengantisipasi potensi kendala yang dapat memengaruhi produktivitas tim, seperti faktor kesehatan anggota tim. Untuk mengantisipasi risiko serupa di sprint berikutnya, diperlukan perencanaan kerja yang lebih fleksibel agar tim dapat tetap produktif meskipun ada anggota yang mengalami kendala kesehatan. Beberapa langkah yang dapat diterapkan meliputi pembagian tugas yang lebih adaptif, penerapan buffer time dalam perencanaan https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. 145 | Jurnal JOISIE. Volume 9. Nomor 1. Juni 2025 sprint, serta memastikan adanya anggota cadangan yang dapat menangani backlog kritis apabila terjadi Setelah Sprint Review, tim melaksanakan Sprint Retrospective guna mengevaluasi aspek yang telah berjalan dengan baik serta mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan pada sprint berikutnya. Evaluasi ini mencakup efektivitas Daily Scrum. Sprint Review, serta koordinasi tim dalam menyelesaikan backlog. Daily Scrum pada sprint ini masih berjalan dengan baik dalam hal sinkronisasi tugas. Namun, terdapat kendala komunikasi di mana beberapa anggota tim kurang aktif dalam menyampaikan hambatan teknis yang mereka hadapi, sehingga penyelesaiannya menjadi tertunda. Selain itu, terdapat inkonsistensi dalam pencatatan progres, yang menyebabkan beberapa backlog tidak terdokumentasi dengan baik selama diskusi harian. Sementara itu, dalam Sprint Review, fitur yang dikembangkan mendapatkan umpan balik yang cukup positif dari stakeholder, meskipun beberapa fitur masih memerlukan penyempurnaan lebih lanjut berdasarkan hasil usability testing. Berikut adalah hasil evaluasi Retrospective Sprint 2: Tabel 4. Retrospective Sprint 2 Kategori Start Stop Keep Improve Point Retropective Meningkatkan diskusi dan keterlibatan aktif dalam tim. Mendorong seluruh anggota untuk berpartisipasi secara aktif dalam Mengurangi kebiasaan begadang demi menjaga kesehatan mata dan kesejahteraan anggota tim. Kualitas desain yang sangat baik. Keunggulan dalam User Interface (UI) dan User Experience (UX). Kolaborasi tim yang solid dan efektif. Kekompakan tim yang tetap terjaga. Performa Project Manager yang luar biasa dan memberikan suasana kerja yang menyenangkan. Melanjutkan diskusi di Discord agar lebih interaktif. Mendorong komunikasi yang lebih terbuka dan menghindari pembicaraan di luar forum utama. Mengoptimalkan penggunaan Trello untuk manajemen tugas. Memastikan bahwa daftar tugas di Trello dan burndown chart selalu Meningkatkan partisipasi aktif seluruh anggota tim. Berdasarkan hasil retrospective, beberapa perbaikan utama yang akan diterapkan dalam sprint berikutnya mencakup peningkatan komunikasi tim, optimalisasi manajemen tugas, serta koordinasi lebih efektif dalam validasi pengguna. Sprint 2 berhasil diselesaikan dengan seluruh backlog terselesaikan sesuai rencana, meskipun terdapat beberapa kendala dalam pengelolaan waktu dan kompleksitas backlog. Evaluasi dari sprint ini menyoroti pentingnya manajemen risiko yang lebih baik, terutama dalam menghadapi kendala kesehatan anggota tim dan perubahan prioritas fitur. Beberapa langkah yang akan diterapkan dalam sprint berikutnya meliputi peningkatan komunikasi tim, optimalisasi dokumentasi teknis, serta implementasi strategi perencanaan yang lebih fleksibel untuk meningkatkan efisiensi pengembangan. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Sprint 3 dapat berjalan lebih optimal dan menghasilkan pengembangan produk yang lebih stabil serta sesuai dengan kebutuhan pengguna. 4 Sprint 3: Penyelesaian dan Uji Sistem Sprint 3 dilaksanakan pada tanggal 10-20 Desember 2024 dengan fokus utama pada penyempurnaan fitur yang telah dikembangkan sebelumnya serta validasi lanjutan dengan pengguna. Tim berupaya meningkatkan stabilitas aplikasi dan memastikan bahwa fitur-fitur yang telah diimplementasikan dapat digunakan secara Evaluasi terhadap hasil Sprint 2 menjadi dasar dalam menyusun strategi yang lebih efektif guna menyelesaikan backlog yang tersisa. https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. Prastika. Evaluasi Keberhasilan Scrum Dalam Pengembangan Aplikasi Diabeats Sebagai E-Commerce Pemesanan Makanan Sehat,136-. 146 Pada sprint ini, dilakukan pengujian usability testing tahap kedua, penyempurnaan prototipe berdasarkan hasil pengujian, serta finalisasi dokumen pengembangan produk. Selain itu, tim juga menyusun materi presentasi yang akan digunakan untuk memaparkan hasil proyek. Sebagai langkah awal, tim menyusun Product Backlog Sprint 3, yang mencakup penyempurnaan desain antarmuka, pengoptimalan performa sistem, pembuatan video demo, serta penyusunan dokumentasi dan materi Setiap backlog diberikan story points berdasarkan tingkat kompleksitas dan upaya yang diperlukan dalam pengerjaannya. Berikut adalah rincian backlog yang direncanakan serta realisasinya dalam Sprint 3: Tabel 5. Product Backlog Sprint 3 Item Backlog Sprint Planning dan Grooming PRD Mobile App PRD Landing Page Finalisasi Product Roadmap Flowchart dan Information Architecture Website Landing Page Hi-Fi Prototype Mobile App Hi-Fi Prototype (AfterTesting . UI/UX Usability Testing 2 Analysis Usability Testing 2 Video Demo Prototype Mobile Pitch Deck Final Deck Sprint Review Sprint Retrospective Final Review & Presentation Total Story Point (Pla. Story Point (Actua. Pada akhir Sprint 3, tim berhasil menyelesaikan seluruh backlog yang direncanakan dengan total 70 story points dari 70 yang ditargetkan. Sprint ini memberikan wawasan penting mengenai efektivitas tim dalam menangani backlog yang lebih kompleks serta meningkatkan pengalaman pengguna melalui pengujian usability testing tahap kedua. Dari sisi pencapaian, fitur-fitur utama seperti optimalisasi UI/UX dan validasi fitur pencarian berhasil diterapkan dengan baik. Namun, ada backlog yang mengalami perubahan prioritas, seperti implementasi notifikasi transaksi yang masih membutuhkan sedikit penyempurnaan sebelum dapat digunakan secara optimal oleh pengguna. Untuk menganalisis efisiensi sprint, digunakan dua visualisasi utama: Gambar 6. Day Sprint 3 Seperti ditunjukkan pada Gambar 6, backlog diselesaikan dalam jumlah lebih besar menjelang akhir sprint, menandakan peningkatan intensitas kerja tim. https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. 147 | Jurnal JOISIE. Volume 9. Nomor 1. Juni 2025 Gambar 7. Grafik Sprint 3 Gambar 7 memperlihatkan fluktuasi Goal Velocity selama Sprint 3, terutama akibat revisi backlog dan tambahan iterasi berdasarkan hasil usability testing. Berdasarkan analisis pada Gambar 7, terlihat bahwa Goal Velocity mengalami sedikit fluktuasi di pertengahan sprint. Hal ini disebabkan oleh beberapa backlog yang memerlukan pengujian tambahan serta adanya revisi pada fitur tertentu akibat perubahan kebutuhan pengguna. Dari tren yang diamati, penyelesaian backlog cenderung meningkat secara signifikan menjelang akhir sprint, menandakan bahwa tim mampu beradaptasi dengan hambatan yang terjadi di tengah sprint. Namun, ada beberapa backlog yang membutuhkan iterasi tambahan, yang menyebabkan peningkatan workload pada hari-hari terakhir sprint. Sebagai langkah mitigasi, tim akan meningkatkan koordinasi antar anggota dan melakukan perencanaan yang lebih fleksibel agar backlog yang tersisa dapat diselesaikan dengan lebih efisien. Selain itu, strategi pengelolaan risiko yang lebih baik diperlukan untuk mengantisipasi potensi perubahan kebutuhan pengguna di masa mendatang. Setelah Sprint Review, tim melaksanakan Sprint Retrospective untuk mengevaluasi aspek yang telah berjalan dengan baik serta mengidentifikasi area yang perlu memerlukan perbaikan pada sprint berikutnya. Evaluasi ini mencakup efektivitas Daily Scrum. Sprint Review, serta koordinasi tim dalam menyelesaikan Berikut adalah hasil evaluasi Retrospective Sprint 3: Tabel 6. Retrospective Sprint 3 Kategori Point Retropective Membangun interaksi sosial di luar proyek, seperti bertukar akun media sosial. Meningkatkan komunikasi dan diskusi dalam tim untuk berbagi pendapat serta memberikan dukungan satu sama lain. Menjaga semangat dalam menyelesaikan sprint dan menyambut tahap Tidak ada catatan mengenai aspek yang perlu dihentikan. Kompak dalam menyelesaikan proyek dengan dedikasi tinggi. Menjaga semangat kerja tim serta mempertahankan kerja keras yang telah dilakukan sejak sprint pertama hingga sprint ketiga. Memberikan apresiasi terhadap hasil kerja tim dan menilai kinerja rekan dengan objektif dalam penilaian peer-to-peer. Kekompakan tim yang tetap terjaga. Start Stop Keep Improve Tidak ada catatan mengenai aspek yang perlu diperbaiki. Berdasarkan hasil retrospective. Sprint 3 berjalan dengan baik tanpa hambatan signifikan. Tim menunjukkan dedikasi tinggi dalam menyelesaikan proyek, dengan kolaborasi yang tetap solid sejak sprint Selain itu, adanya apresiasi terhadap kerja tim melalui penilaian peer-to-peer menjadi faktor motivasi yang meningkatkan semangat dalam menyelesaikan proyek. https://doi. org/10. 35145/joisie. JOISIElicensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License (CC BY-SA 4. Prastika. Evaluasi Keberhasilan Scrum Dalam Pengembangan Aplikasi Diabeats Sebagai E-Commerce Pemesanan Makanan Sehat,136-. 148 Sprint 3 berhasil diselesaikan dengan seluruh backlog terselesaikan sesuai rencana, meskipun terdapat fluktuasi dalam penyelesaian backlog akibat iterasi tambahan dari usability testing. Evaluasi dari sprint ini menyoroti pentingnya strategi mitigasi risiko yang lebih baik, terutama dalam menghadapi perubahan kebutuhan pengguna yang muncul setelah proses pengujian. Beberapa langkah yang akan diterapkan untuk meningkatkan efisiensi pengembangan di masa depan meliputi percepatan proses pengujian, optimalisasi dokumentasi hasil usability testing, serta penjadwalan iterasi pengujian lebih awal dalam siklus sprint. Dengan penerapan langkah-langkah ini, diharapkan proses pengembangan produk dapat berlangsung lebih optimal, menghasilkan output yang lebih stabil, serta selaras dengan kebutuhan pengguna. SIMPULAN Studi ini mengevaluasi implementasi metode Scrum dalam pengembangan aplikasi Diabeats, sebuah platform e-commerce pemesanan makanan sehat. Hasil menunjukkan bahwa penerapan Scrum secara umum berhasil meningkatkan efisiensi kerja tim dan mendukung pengembangan fitur secara iteratif. Hal ini tercermin dari capaian penyelesaian 100% backlog pada Sprint 1 . story point. , serta penyelesaian backlog Sprint 2 dan Sprint 3 masing-masing sebesar 69 dan 70 story points, yang seluruhnya selesai tepat waktu sesuai rencana. Efektivitas Scrum juga tampak melalui peningkatan kolaborasi tim dan kemampuan adaptasi terhadap perubahan backlog. Misalnya, pada Sprint 2, tim mampu melakukan penyesuaian backlog fitur AuRekomendasi MakananAy di tengah sprint tanpa mengganggu timeline utama. Namun, tantangan tetap muncul, terutama dalam hal hambatan komunikasi, seperti keterlambatan penyampaian progres tugas harian dan kurang aktifnya beberapa anggota dalam menyampaikan kendala teknis selama Daily Scrum. Hal ini sempat mempengaruhi penyelesaian backlog dengan kompleksitas tinggi, terutama pada Sprint 2 dan Sprint 3, di mana diperlukan iterasi tambahan dan penjadwalan ulang validasi Berdasarkan temuan ini, beberapa rekomendasi untuk pengembangan proyek serupa antara lain: Meningkatkan komunikasi dua arah selama proses sprint, termasuk dokumentasi progres harian yang lebih disiplin. Menambahkan buffer time dan task contingency dalam perencanaan sprint untuk mengantisipasi hambatan tak terduga. Mengintegrasikan sesi evaluasi lintas-tim untuk menyelaraskan interpretasi backlog dan memperkuat pemahaman konteks pengguna Adapun untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk: Melakukan komparasi efektivitas Scrum dengan metodologi Agile lainnya . eperti Kanban atau XP) dalam konteks pengembangan e-commerce. Meneliti lebih lanjut pengaruh dinamika peran . isalnya kolaborasi PO dan desaine. terhadap keberhasilan sprint. Menambahkan metrik tambahan seperti velocity rata-rata, jumlah revisi backlog per sprint, atau indeks kepuasan tim (Team Morale Inde. untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh Dengan hasil dan rekomendasi ini, diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi praktis dan akademis terhadap implementasi Scrum dalam proyek digital berbasis Agile, khususnya di sektor e-commerce. DAFTAR PUSTAKA