DARMA CENDEKIA e-ISSN 2963-167X Vol. No. Desember 2024, hlm. http://w. com/index. php/darmacendekia/index DOI: https://doi. org/10. 60012/dc. MENULIS PANTUN BERKAIT DENGAN TEKNIK NARASI EKSPOSITORIS SEBAGAI PENGENALAN BUDAYA BETAWI Tio Zulfan Amri1*. Muhammad Fahmi Rizkian2. Jayakandi3 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Fakultas Bahasa dan Seni. Universitas Indraprasta PGRI123 amri@gmail. com1*, fahmiunindra22@gmail. com2, jayakandi87. jk@gmail. Kata Kunci: Narasi Ekspositoris. Pantun Berkait. Budaya Abstrak: Pantun sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, semakin lama terlupakan di setiap generasi. Pantun mempunyai peran penting dalam pembentukan kepribadian ataupun karakter identitas kearifan lokal. Kondisi tersebut mengkhawatirkan banyak pihak, kurangnya pemahaman terhadap budaya lokal disebabkan oleh perkembangan teknologi, pola pikir westernisasi, dan arus informasi tidak berimbang dengan kesadaran budaya lokal. Bertujuan menambah wawasan keilmuan tentang melestarikan warisan Untuk memasyarakatkan dan merevitalisasi kembali unsur budaya Betawi. Sekaligus memasyarakatkan pantun berkait sebagai kekayaan budaya Indonesia agar lebih akrab dan dipandang menarik Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah metode mendongeng, diskusi, tanyajawab dan apresiasi terhadap karya. Dengan penggunaan metode ini diharapkan pengabdian masyarakat ini dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Hasil penelitian dapat disimpulkan, para anggota Yayasan El-Nama Indonesia dapat mengembangkan, membuat dan mengaplikasikan membacakan pantun berkait untuk mendapatkan pemaknaan luhur kehidupan dan membangkitkan nilai budaya Betawi dengan teknik menulis narasi ekspositoris. Dalam rangka memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga warisan budaya jenis karya sastra agar lebih kreatif dalam menulis pantun berkait untuk mendapatkan pemaknaan luhur kehidupan dan membangkitkan nilai Betawi dalam ruang lingkup sosialisasi di lingkungan teater. Keyword: Literature. Related Poems. Culture Abstract: Pantun, as one of Indonesia's cultural heritage, is increasingly forgotten with each generation. Pantun has an important role in forming the personality or character of local wisdom identity. This condition worries many parties, the lack of understanding of local culture is caused by technological developments, westernization mindsets, and the flow of information is not balanced with local cultural awareness. Aims to increase scientific insight about preserving cultural heritage. To popularize and revitalize elements of Betawi culture. At the same time, it promotes related rhymes as a richness of Indonesian culture so that they are more familiar and seen as The methods used in this community service are storytelling, discussion, question and answer and appreciation of the work. By using this method, it is hoped that community Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Menulis Pantun Berkait dengan Teknik Narasi Ekspositoris sebagai Pengenalan Budaya Betawi service can run effectively and efficiently. The results of the research can be concluded that the members of the El-Nama Indonesia Foundation can develop, create and apply reading related rhymes to obtain the noble meaning of life and awaken Betawi cultural values using expository narrative writing In order to provide understanding and knowledge regarding the importance of preserving cultural heritage, this type of literary work is to be more creative in writing related rhymes to obtain the noble meaning of life and awaken Betawi values within the scope of socialization in the theater Diserahkan: 20-12-2024 Direvisi: 31-12-2024 Diterima: 31-12-2024 PENDAHULUAN Indonesia sangat kaya akan budaya serta adat istiadat dari seluruh nusantara. Kesenian yang merupakan bentuk budaya Indonesia misalnya seni tari, seni musik, dan literasi. Masyarakat Indonesia sejak zaman dahulu sangat menyukai sastra sebagai salah satu bentuk seni bahasa. Hal ini banyak dijumpai adanya sastra lisan dan sastra tulis yang secara turun temurun diwariskan pada anak cucu. Puisi pada dasarnya merupakan salah satu jenis karya sastra yang cukup populer untuk berbagai kalangan. Tak jarang juga, beberapa orang membacakan puisi untuk situasi tertentu, seperti pentas, hiburan, bahkan bisa juga digunakan untuk mengungkapkan perasaan kepada seseorang. (Nuriyanti et al. Satu diantara sasaran pembangunan kebudayaan nasional adalah tergali, terpelihara dan terlestarikannya karya-karya budaya yang mengacu pada budaya bangsa, serta perlindungan hukum individual dan komunal. Dalam hal ini, budaya etnis dan budaya lokal yang dimiliki oleh kelompok-kelompok suku bangsa yang ada di Indonesia ini menjadi bagian penting dari kebudayaan bangsa yang telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi penguatan jati diri dan pembentukan karakter bangsa serta ketahanan( Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: Menurut bentuknya karya sastra terbagi atas prosa dan puisi, menurut zamannya puisi terbagi atas puisi lama dan puisi baru. Puisi lama sangat terikat dan tidak bebas, puisi lama merupakan peninggalan dari sastra melayu. Puisi ini juga dipengaruhi oleh sastra Arab dan India. Contoh-contoh puisi lama di antaranya adalah pantun. Pantun maupun cerita kuno tidak diketahui siapa pengubah dan pengarangnya sebab kepunyaan bersama (Tuti Andriani, 2. Pantun menyebar ke seluruh wilayah Indonesia. Pantun juga digunakan dalam kegiatan ritual upacara. Seluruh kekayaan budaya yang didukung komunitas di kampung adat turut dihadirkan, warnaAewarni busana, makanan dan minuman tradisional, peralatan kesenian tradisional seperti angklung, dogdog, kecapi suling, celempung, dan peralatan lain yang sudah hampir punah pada saat itu akan dimainkan. Lamanya upacara biasanya tidak kurang dari dua atau tiga hari. Selama itu pula bermacam-macam makanan dan minuman dihidangkan untuk tamu dan pengunjung. Tidak heran jika suasana yang hening, seketika menjadi semarak antara pujian kepada Sang Maha Pencipta berbaur dengan syair tradisi yang melantunkan pantun pujian bagi leluhur. Upacara adat itu sendiri terdiri atas berbagai kepentingan seperti, upacara yang berkaitan dengan keagamaan, upacara yang berkaitan dengan daur hidup manusia, upacara yang berkaitan Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Menulis Pantun Berkait dengan Teknik Narasi Ekspositoris sebagai Pengenalan Budaya Betawi dengan kearifan dalam pemeliharaan lingkungan . eren taun, bersih desa, ngugu taun dan sebagainy. (Marjanto et al. , 2. Pantun bagi masyarakat di kawasan Nusantara ibarat sesuatu yang begitu dekat, tetapi kini terasa jauh ketika budaya populer . ow cultur. makin menjadi primadona dalam industri hiburan. Dalam kondisi itu, pantun kini laksana pepatah, tak kenal maka tak sayang. Itulah yang terjadi pada pantun. Seolah- olah, ia hanya produk masa lalu yang sudah usang dan tiada berguna. Bahkan, bagi anak-anak muda di Jakarta dan beberapa kota besar di Jawa, pantun seperti tidak lebih dari sekadar produk budaya Melayu, dan oleh karena itu, dianggap hanya milik orang Melayu (Maulina, 2. Pada saat ini Suku Betawi tinggal di daerah Jakarta dan sekitarnya. Pada perkembangan kebudayaan, kota Jakarta mengalami proses akulturasi dari berbagai suku, etnis, serta budaya. Oleh sebab itu, menghasilkan produk kebudayaan yang berbeda dengan daerah lainnya. Pantun sepertinya berasal dari tradisi Melayu yang sudah begitu kuat mengakar dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan kehidupan sehari-hari Pantun boleh jadi penyebarannya sejalan dengan perkembangan bahasa Melayu yang menjadi lingua franca di kawasan Nusantara. Boleh jadi karena itu pula, dibandingkan dengan masyarakat di daerah lain, pantun bagi masyarakat Melayu sudah begitu kukuh menyatu dan sebagai media penting dalam menyampaikan nasihat berkenaan dengan tata pergaulan dalam kehidupan bermasyarakat (Maulina, 2. Pantun adalah kearifak lokal yang dimiliki oleh Indonesia, kearifan lokal menuntun setiap insan untuk memiliki nilai kepada sesama agar tercipta kedamaian dan kesejahteraan serta keharmonisan (Muhammad Rozani. Aruna Asista. Lasmi Hartati. Nela Oktarina, 2. Pantun perlu dilestarikan karena mempunyai nilai- nilai etik pergaulan yang luhur dan nilai-nilai estetik yang mengagumkan. Satu isi pantun dapat berpasangan dengan bermacam- macam sampiran, karena pada prosesnya sampiran pantun akan terpikirkan dari eksplorasi terhadap objek Selain itu, berpikir lateral untuk mengefektifkan proses penulisan pantun mahasiswa dibantu dengan media kamus rima atau daftar kosakata yang memiliki persajakan pada suku terakhir (Rahim et al. , 2. Begitu pula dengan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan gagasannya tersebut, apakah menggunakan paragraf berbentuk eksposisi, argumentasi, narasi, atau Setiap jenis karangan memiliki tujuannya sendiri. Jika penulis tidak cermat dalam memilih bentuk karangan yang akan digunakan, maka pesan yang ingin disampaikan penulis bisa tidak tercapai. Untuk menghindari tidak tersampaikannya pesan yang ingin disampaikan, mari kita lihat bentuk-bentuk karangan dan juga tujuannya (Hidayat, 2. Dalam penulisan memiliki banyak teknik, dalam abdimas ini menggunakan teknik menulis narasi ekspositoris. Narasi merupakan gaya pengungkapan yang bertujuan menceritakan atau mengisahkan rangkaian kejadian atau peristiwa--baik peristiwa kenyataan maupun peristiwa rekaan atau pengalaman hidup berdasarkan perkembangannya dari waktu ke waktu sehingga tampak seolah-olah pembaca mengalami sendiri peristiwa itu. Paragraf narasi dimaksudkan untuk memberi tahu pembaca atau pendengar tentang sesuatu yang diketahui atau dialami penulis supaya pembaca terkesan (Suladi, 2. Narasi, berdasarkan tujuannya, dapat dibedakan atas narasi ekspositoris, artistik, dan sugestif. Narasi ekspositoris berisi penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa berdasarkan data yang sebenarnya dengan tujuan memperluas pengetahuan Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Menulis Pantun Berkait dengan Teknik Narasi Ekspositoris sebagai Pengenalan Budaya Betawi orang tentang kisah seseorang . iasanya satu oran. Pelaku diceritakan mulai dari kecil sampai saat ini atau sampai terakhir dalam kehidupannya. (Suladi, 2. Narasi ekspositoris mempertimbangkan tahap-tahap kejadian, serangkaian perbuatan kepada pembaca atau pendengar. Urutan kejadian atau peristiwa yang disajikan itu bermaksud menyampaikan informasi untuk menambah pengetahuan atau pengertian pembaca atau pendengar secara tertulis atau lisan. Narasi ini bertujuan menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui hal yang dikisahkan. Sasaran utama adalah rasio, memperluas pengetahuan pembaca setelah membaca kisah tersebut. Narasi menyampaikan informasi mengenai berlangsungnya suatu peristiwa (Suparno & M. Yunus, 2. Pantun merupakan salah satu bentuk karya sastra yang terikat pada aturan oleh irama, rima, serta susunan bait dan larik. Pantun berkait adalah pantun yang selalu berkaitan antara bait satu dengan bait kedua, kemudian bait dua dengan bait ketiga, dan Untuk susunan kaitannya. baris kedua bait pertama menjadi baris pertama pada bait kedua, baris keempat bait pertama dijadikan baris ketiga pada bait kedua dan seterusnya (Maulina, 2. Kekhawatiran orang tua dan pendidik akan dampak yang lebih buruk pada anak ketika anak terlalu asyik dengan acara televisi. Youtube, atau media sosial lainnya ini semakin dikeluhkan. Pengajaran sastra di sekolah tidak cukup untuk menjangkau ini, karena terbatasnya waktu. Satu di antara sasaran pembangunan kebudayaan nasional adalah tergali, terpelihara dan terlestarikannya karya-karya budaya yang mengacu pada budaya bangsa. Pada hal ini, budaya etnis dan budaya lokal yang dimiliki oleh kelompokkelompok suku bangsa yang ada di Indonesia ini menjadi bagian penting dari kebudayaan bangsa yang telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi penguatan jati diri dan pembentukan karakter bangsa serta ketahanan budaya bangsa (Direktorat Jendral Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan: 2. Pernyataan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan semangat positif bagi upaya pelestarian karya-karya budaya daerah, seperti pantun kedaerahan. Hal ini seharusnya menjadi titik terang untuk mewujudkan sasaran dari pembangunan kebudayaan nasional. Karya sastra lama hendaknya dilestarikan dan dikembangkan sesuai dengan kearifan budaya tiap daerah. Hal ini tidak dapat berjalan tanpa dukungan dan partisipasi seluruh masyarakat. Pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh tim abdimas Universitas PGRI mengangkat judul AuTeknik Menulis Pantun Narasi Ekspositoris Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang SelatanAy. Hal ini juga merupakan partisipasi tim abdimas sebagai anggota masyarakat yang turut berperan membantu membaca pantun pada generasi muda. Agar pantun yang dibaca oleh para remaja ini selalu menjadi kebanggaan mereka akan hasil kreatifitas karya sastra. Permasalahan pada Anggota Yayasan El-NaAoma Indonesia Ciputat Tangerang Selatan, khususnya anak-anak yang menjelang remaja yang sudah berpikir mengarah pada proses mewujudkan cita-cita, sehingga masih kurang tertariknya menggunakan rangkaian kata-kata indah yang dijadikan makna hidup. Padahal memahami makna hidup dapat digunakan untuk memotivasi diri dalam proses menggapai cita-cita Hal ini diantaranya dipengaruhi oleh. Kurangnya motivator untuk menyemangati anak-anak dan remaja menggunakan moto sebagai media motivasi dalam hidup Kurangnya pemahaman tentang fungsi makna syair dalam hidup Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Menulis Pantun Berkait dengan Teknik Narasi Ekspositoris sebagai Pengenalan Budaya Betawi Kurangnya kepekaan sosial untuk mewujudkan makna hidup dalam kehidupan. Hal ini juga yang menjadi permasalahan yang akan tim abdimas untuk memberikan solusi dengan melakukan memasyarakatkan AuTeknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang SelatanAy. Khususnya remaja yang sudah dalam tahap pemahaman dalam proses mewujudkan cita-cita. Pantun sebagai karya sastra yang sudah tidak asing dalam masyarakat sebagai keterampilan yang mengarah pada bidang sastra sebagai sarana berekspresi masih kurang diberikan ruang. Padahal, produk kreatifitas mereka atau ide dan gagasan yang diekspresikan melalui karya dapat membuat tingkat berpikir lebih kritis dan bisa dijadikan keterampilan berbahasa melalui tulisan juga lisan pada pribadi mereka. Permasalahan kedua adalah kurangnya pengetahuan sastra dan apresiasi sastra pada masyarakat umum, walaupun dalam pembelajaran formal mendapatkan materi dalam bidang sastra. Sehingga tidak bisa memanfaatkan dengan maksimal budaya kearifan lokal atau warisan sastra berupa cerita-cerita rakyat Indonesia yang seharusnya menjadi jati diri dari masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, kegiatan ini juga dapat memberikan ruang bagi Anggota Yayasan El-NaAoma Indonesia Ciputat Tangerang Selatan. Kurangnya informasi tentang Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan, maka sebagai mitra kerja tim abdimas akan memberikan Wawasan tentang teknik menulis pantun berkait sebagai pengenalan budaya betawi pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan. Mengenalkan kembali pantun berkait kepada anggota Yayasan El-NaAoma Indonesia. Sebagai cerminan salah satu budaya di Indonesia. Untuk merealisasikan hal di atas, maka tim abdimas menyusun rencana kegiatan tersebut yang disesuaikan dengan hari libur anggota Yayasan El-NaAoma Indonesia. Sehingga menjadi perhatian yang besar dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat dan kegiatan tersebut penting dilaksanakan. Untuk itu, solusi lain yang ditawarkan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah: Memasyarakatkan Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia. Ciputat. Tangerang Selatan dalam hal ini sebagai salah satu melestarikan kearifan lokal yang perlu dijaga dan dilestarikan dalam lingkungan Yayasan El-NaAoma Indonesia Ciputat Tangerang Selatan. Meningkatkan keterampilan dan kreativitas melalui kegiatan bersastra dengan Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan sebagai usaha melestarikan kearifan lokal ,serta diharapkan dapat menggali kreatifitas anggota Yayasan El-NaAoma Indonesia. Target yang akan dicapai dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang berjudul AuMenulis Pantun Berkait dengan Teknik Narasi Ekspositoris sebagai Pengenalan Budaya BetawiAy adalah sebagai berikut: Para Anggota Yayasan El-NaAoma Indonesia. Ciputat. Tangerang Selatan mengenal dan mendapatkan pemahaman pentingnya menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia. Para Anggota Yayasan El-NaAoma Indonesia mendapatkan pemahaman berkenaan teknik menulis pantun berkait sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Menulis Pantun Berkait dengan Teknik Narasi Ekspositoris sebagai Pengenalan Budaya Betawi Para Anggota Yayasan El-NaAoma Indonesia mendapatkan peningkatan kreatifitas melalui penggunaan bahasa, yaitu penggunaan variasi diksi, intonasi, ritme, dan kosakata melalui kegiatan yang dilaksanakan oleh tim abdimas. METODE Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah metode mendongeng, diskusi, tanya-jawab dan apresiasi terhadap karya. Dengan penggunaan metode ini diharapkan pengabdian masyarakat ini dapat berjalan dengan efektif dan efisien. Pengabdian masyarakat ini akan diselenggarakan pada Anggota Yayasan ElNaAoma Indonesia Ciputat Tangerang Selatan. Cara pemilihan mitra berdasarkan hasil observasi pada Anggota Yayasan El-NaAoma Indonesia Ciputat Tangerang Selatan yang mempunyai kompetensi dan kreatifitas tetapi belum mempunyai ruang serta wadah dalam mengapresiasikan kegiatan kegiatan sastra, khususnya dalam melestarikan karya sastra yang berhubungan dengan kearifan lokal dan keragaman budaya sehingga sangat tepat untuk dilaksanakan Pengabdian Kepada Masyarakat dengan judul AuMenulis Pantun Berkait dengan Teknik Narasi Ekspositoris sebagai Pengenalan Budaya BetawiAy. Mitra berpastisipasi dengan menyiapkan alat-alat yang digunakan dalam pelatihan ini kerjasama antara tim abdimas dan mitra. Mitra menyediakan ruangan dan pengeras suara, sedangkan tim abdimas menyiapkan laptop serta alat tulis dan buku sebagai pendukung untuk peserta abdimas. Kegiatan pengabdian masyarakat ini rencananya akan dilaksanakan pada bulan April sampai dengan bulan Juli 2024. Mengenai waktu, akan disesuaikan dengan j adwal yang diizinkan oleh pihak penyedia tempat yaitu mitra abdimas. HASIL Berdasarkan hasil AuPKM Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan. Dalam rangka memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga dan memasyarakatkan warisan budaya puisi sebagai media pendidikan karakter adalah sebagai berikut. Para anggota tertarik pada Teknik Menulis Pantun Narasi Ekspositoris Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan sebagai media pendidikan karakter cerita, sehingga diharapkan tergerak untuk melestarikan dan ikut memasyarakatkan puisi pada ruang lingkup perkembangan Para anggota dapat mengembangkan, membuat dan mengaplikasikan membacakan pantun berkait untuk mendapatkan pemaknaan luhur kehidupan dan membangkitkan nilai budaya Betawi kepada anggota Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan. Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Menulis Pantun Berkait dengan Teknik Narasi Ekspositoris sebagai Pengenalan Budaya Betawi Gambar 1 Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait PEMBAHASAN Pantun sebagai salah satu warisan budaya Indonesia, semakin lama terlupakan di setiap Pantun mempunyai peran penting dalam pembentukan kepribadian ataupun karakter identitas kearifan lokal. Kondisi tersebut mengkhawatirkan banyak pihak, kurangnya pemahaman terhadap budaya lokal disebabkan oleh perkembangan teknologi, pola pikir westernisasi, dan arus informasi tidak berimbang dengan kesadaran budaya Nilai dan norma budaya yang dapat diterapkan atau yang masih dimanfaatkan oleh komunitas untuk menata kehidupan sosial secara arif perlu digali, dilestarikan, dan bahkan direvitalisasi. Berupaya menggali dan mengkaji kearifan lokal berdasarkan hubungan struktur teks, ko-teks, dan konteks dalam suatu peristiwa atau performansi tradisi lisan atau tradisi budaya (Sibarani, 2. Banyak masyarakat terutama yang berasal dari kota-kota besar bahkan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa komunikasi keseharian mereka. Selain itu, gaya hidup kebarat-baratan pun mulai diterapkan. Sementara itu, bahasa Indonesia ialah bagian dari identitas nasional bangsa Indonesia yang sangat konsekuensial. Jika tidak segera diambil langkah antisipasi, hal ini tentu saja akan menimbulkan krisis identitas nasional (Alfiana & Najicha, 2. Gambar 2 Pemberian Materi Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Darma Cendekia is licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License. Darma Cendekia Vol. 3 No. 2 Desember 2024 hlm. Tio Zulfan Amri. Muhammad Fahmi Rizkian. Jayakandi Menulis Pantun Berkait dengan Teknik Narasi Ekspositoris sebagai Pengenalan Budaya Betawi Adapun materi dipaparkan beberapa hal, antara lain: Penjelasan Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan merasa tertarik dan antusias dalam menyampaikan kembali kepada para anggota sebagai upaya pelestarian budaya Indonesia. Tanya jawab dengan para anggota yang pada kegiatan ini sebagai peserta abdimas menjadi salah satu bukti adanya komunikasi harmonis yang terjalin dalam proses kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan ElNama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan. Mengajak para anggota untuk membuat Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan yang sudah dipaparkan oleh penyaji, sebagai bentuk pemahaman pada materi yang sudah dipaparkan Pemahaman terhadap teknik pembuatan Teknik Menulis Narasi Ekspositoris Pantun Berkait Sebagai Pengenalan Budaya Betawi Pada Yayasan El-Nama Indonesia Ciputat Tangerang Selatan dianggap sudah tercapai,ditandai dengan mampunya para anggota teater sebagai peserta kegiatan abdimas dalam membacakan pantun berkait menggunakan teknik yang dipaparkan oleh penyaji. SIMPULAN Hasil dari kegiatan abdimas ini bertujuan untuk mengembangkan kreatifitas para anggota dalam menulis pantun berkait untuk mendapatkan tata cara penulisan pantun berkait. Memberikan pengetahuan, memasyarakatkan, merevalitasi budaya Betawi kepada anggota teater untuk menambah keilmuan dalam seni tutur. Tentunya penulisan yang diciptakan memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai dengan tema yang akan disampaikan serta memperhatikan teknik penulisan pantun berkait. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini juga bertujuan sebagai langkah nyata melestarikan warisan budaya bangsa Indonesia. Dalam rangka memberikan pemahaman dan pengetahuan mengenai pentingnya menjaga warisan budaya jenis karya sastra agar lebih kreatif dalam menulis pantun berkait. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan rasa syukur penulis kepada Allah Swt. yang telah memberikan kemudahan dalam Pelaksanaan pengabdian Masyarakat ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Universitas Indraprasta PGRI sebagai instansi yang menaungi penulis serta Yayasan ElNama Indonesia yang telah mendukung kami sehingga kegiatan ini dapat terselesaikan dengan baik. REFERENSI