SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. https://journal. id/index. php/SEHATMAS e-ISSN 2809-9702 | p-ISSN 2810-0492 Vol. 5 No. 2 (April 2. 249-259 DOI: 10. 55123/sehatmas. Submitted: 12-02-2026 | Accepted: 26-03-2026 | Published: 15-04-2026 Konsumsi Dark Chocolate Berpengaruh dalam Menurunkan Tingkat Kecemasan Atlet Taekwondo Bondowoso Sebelum Ujian Kenaikan Tingkat Fayza Wara Az Zahra1. Cleonara Yanuar Dini2 Program Studi Gizi. Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan. Universitas Negeri Surabaya. Kota Surabaya. Indonesia Email: fayza. 21077@mhs. id, 2*cleonaradini@unesa. Abstract Anxiety is a psychological condition frequently experienced by athletes when facing evaluative situations or competitive events. This condition can affect athletesAo focus, emotional stability, and mental readiness to perform at their best. One technique that is not pharmacological has the potential to lessen feelings of anxiety is the consumption of dark chocolate, which contains bioactive compounds such as flavonoids, tryptophan, and magnesium that play a role in mood regulation. This research sought to ascertain the impact of consuming 70% dark chocolate on the anxiety levels of taekwondo athletes in Bondowoso prior to participating in a belt promotion test. The study employed a randomized controlled trial design involving 60 athletes who were split up into an experimental group and a control group. The analysis results showed that the reduction in anxiety scores in the group consuming dark chocolate was greater than in the control group, with a mean difference of 7,43 in the experimental group and 2,90 in the control group . = 0,. These findings indicate that consumption of dark chocolate with 70% cocoa content has an effect on reducing anxiety levels among Bondowoso taekwondo athletes facing promotion tests. Keywords: Anxiety. Dark Chocolate. GAD-7. Taekwondo. Abstrak Kecemasan adalah kondisi psikologis yang sering dialami oleh atlet saat menghadapi situasi evaluatif atau acara kompetitif. Kondisi ini dapat memengaruhi fokus, kestabilan emosional, dan kesiapan mental atlet untuk berprestasi optimal. Salah satu teknik nonfarmakologis yang berpotensi mengurangi perasaan cemas adalah konsumsi cokelat hitam, yang mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, triptofan, dan magnesium yang berperan dalam regulasi mood. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak konsumsi cokelat hitam 70% terhadap tingkat kecemasan atlet taekwondo di Bondowoso sebelum mengikuti ujian promosi sabuk. Studi ini menggunakan desain uji coba terkontrol acak yang melibatkan 60 atlet yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hasil analisis menunjukkan bahwa penurunan skor kecemasan pada kelompok yang mengonsumsi cokelat hitam lebih besar dibandingkan dengan kelompok Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Fayza Wara Az Zahra1. Cleonara Yanuar Dini2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 249 Ae 259 kontrol, dengan selisih rata-rata 7,43 pada kelompok eksperimen dan 2,90 pada kelompok kontrol . = 0,. Temuan ini menunjukkan bahwa konsumsi cokelat hitam dengan kandungan kakao 70% memiliki efek dalam mengurangi tingkat kecemasan di kalangan atlet taekwondo Bondowoso yang menghadapi ujian promosi sabuk. Kata Kunci: Dark Chocolate. GAD-7. Kecemasan. Taekwondo. PENDAHULUAN Salah satu jenis bela diri dari Korea adalah taekwondo yang berkembang pesat dan dipertandingkan dalam berbagai kejuaraan nasional maupun internasional (Maulana & Rahmat, 2. Olahraga ini menekankan penguasaan teknik tendangan yang cepat, tinggi, dan bervariasi yang dipadukan dengan pukulan serta tangkisan secara terstruktur. Oleh karena itu, atlet taekwondo dituntut memiliki kondisi fisik yang baik, meliputi kekuatan, kelincahan, daya tahan, fleksibilitas, serta koordinasi gerak yang optimal (Periyadi, 2. Selain kesiapan fisik, aspek psikologis juga memegang peranan penting karena atlet sering menghadapi situasi kompetitif maupun evaluatif yang menuntut kesiapan mental yang stabil (Al-Habsy et al. , 2. Salah satu bentuk evaluasi dalam pembinaan taekwondo adalah ujian kenaikan tingkat sabuk. Pada tahap ini, atlet diuji melalui berbagai materi seperti poomsae, kyorugi, hosinsul, dan kyukpa, serta penguasaan teori dan filosofi taekwondo. Seiring dengan meningkatnya tingkat sabuk, materi ujian menjadi semakin kompleks dan menuntut kemampuan fisik serta penguasaan teknik yang lebih tinggi. Kondisi tersebut sering kali menimbulkan tekanan psikologis karena atlet diharuskan menunjukkan performa terbaik di hadapan penguji dalam suasana evaluatif yang formal (Alisti et al. , 2025. Lee & Lim. Tekanan tersebut dapat memunculkan kecemasan pada atlet, yang merupakan respons psikologis terhadap situasi yang dianggap menantang atau mengancam. Fenomena kecemasan merupakan salah satu masalah kesehatan mental yang paling umum, dengan prevalensi global sekitar 4% hingga 10% dari populasi dunia, sedangkan di Indonesia tren kecemasan meningkat hingga 9. 8% pada kelompok remaja dan dewasa muda (Riskesdas, 2018. I-NAMHS, 2. Kecemasan biasanya ditandai dengan berbagai gejala seperti gemetar, berkeringat, peningkatan denyut jantung, rasa gugup, serta penurunan konsentrasi (Dharmawan, 2. Faktor pemicu kecemasan dapat berasal dari aspek eksternal, seperti keberadaan lawan atau penonton, maupun faktor internal seperti kondisi emosional individu (Abdurrahman et al. , 2024. Winarko & Sakti, 2. Apabila tidak dikelola dengan baik, kecemasan dapat berdampak pada menurunnya kontrol diri, konsentrasi, serta performa atlet dalam menjalani ujian maupun pertandingan (Virginia, 2. Berbagai upaya dapat dilakukan untuk membantu atlet mengelola kecemasan, baik melalui pendekatan psikologis maupun nutrisi. Pada konteks kesehatan masyarakat, penggunaan intervensi berbasis nutrisi . utritional psychiatr. menjadi alternatif krusial jika dibandingkan dengan farmakologis. Intervensi diet menawarkan keunggulan berupa efek samping sistemik yang minim, biaya yang murah, serta sifat non-invasif. Bagi atlet, ketiga hal ini sangat penting mengingat atlet harus menjaga integritas fisiologi tanpa risiko ketergantungan atau sedasi yang sering muncul terhadap obat-obatan axiolytik. Salah satu pendekatan nonfarmakologis yang berpotensi digunakan adalah konsumsi dark chocolate. Menurut Sobarniati . , beberapa metode yang dapat membantu menurunkan kecemasan antara lain berpikir positif, teknik relaksasi, serta konsumsi cokelat. Dark chocolate diketahui mengandung senyawa bioaktif seperti Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Fayza Wara Az Zahra1. Cleonara Yanuar Dini2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 249 Ae 259 flavonoid, polifenol, serta L-tryptophan yang berperan dalam meningkatkan produksi serotonin dan membantu regulasi suasana hati. Kandungan tersebut dapat memengaruhi aktivitas sistem saraf sehingga berpotensi menurunkan stres dan kecemasan (Kikuchi et , 2020. Sundararaj et al. , 2. Beberapa penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa konsumsi cokelat dapat memberikan efek positif terhadap kondisi psikologis individu. Penelitian Hananto dan Mashuri . menemukan bahwa pemberian cokelat berpengaruh signifikan dalam menurunkan tingkat kecemasan pada atlet sepak bola. Namun, penelitian tersebut umumnya menggunakan produk cokelat komersial dengan kadar kakao yang tidak terstandarisasi atau lebih rendah, sehingga efek farmakodinamikanya terhadap sistem saraf pusat kurang spesifik (Jackson et al. , 2. Penelitian ini memiliki distingsi pada penggunaan dark chocolate dengan kadar kakao murni 70%. Konsentrasi 70% ini kritikal karena memiliki densitas polifenol yang cukup tinggi untuk memicu pelepasan endorfin dan menghambat hormon kortisol secara efektif tanpa interferensi kadar gula yang berlebihan yang kemudian dapat memicu fluktuasi energi (Martyn et al. , 2020. Martin et , 2. Penelitian yang secara khusus mengkaji efektivitas konsumsi dark chocolate terhadap penurunan kecemasan pada atlet taekwondo yang menghadapi ujian kenaikan tingkat masih relatif terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsumsi dark chocolate 70% terhadap tingkat kecemasan atlet taekwondo dalam menghadapi ujian kenaikan tingkat. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain yang digunakan adalah uji coba terkontrol acak . re-post tes. Responden dalam penelitian ini dibagi menjadi dua kelompok yakni kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik sampling acak, yaitu pemilihan acak respons dari populasi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Intervensi diberikan kepada kelompok eksperimen berupa konsumsi bubuk dark chocolate 70% sebanyak 15 gram yang dilarutkan dalam 150 ml air hangat tanpa tambahan pemanis. Dosis 15 gram dipilih berdasarkan efektivitas asupan flavonoid harian yang mampu memodulasi aksis hypothalamic-pituitary-adrenal (HPA) untuk menekan sekresi kortisol tanpa menyebabkan gangguan metabolisme pada atlet (Martin et al. , 2. Waktu administrasi intervensi konsumsi dilakukan 2 jam sebelum pelaksanaan pre-test untuk mencapai kadar basal yang stabil, dan kembali diberikan 1 jam sebelum pelaksanaan post-test . aat menjelang ujian kenaikan tingka. Dalam intervensi ini, tidak ada pembatasan asupan kafein atau makanan lain selama penelitian. Pada tanggal 1 Juni 2025, 200 atlet dari Akademi Taekwondo Helios berpartisipasi dalam penelitian di Kodim 0822 Bondowoso, yang berlokasi di Jl. Letnan Sutarman. Bondowoso. Dengan menggunakan uji t independen . erbedaan antara dua rata-rata independe. dan parameter ukuran efek 0,80, = 0,05, dan daya 0,80, ukuran sampel dihitung menggunakan perangkat lunak G*Power, menghasilkan ukuran sampel sebesar 54 individu. Ukuran sampel total menjadi 60 responden, dengan 30 responden per kelompok, setelah 10% ditambahkan untuk memperhitungkan peserta yang mundur. Kuesioner Generalized Anxiety Disorder-7 (GAD-. , yang terdiri dari tujuh pertanyaan dengan opsi jawaban mulai dari Ausama sekali tidakAy . Aubeberapa hariAy . Aulebih dari setengah hariAy . , dan Auhampir setiap hariAy . , digunakan sebagai alat penelitian untuk mengukur tingkat kecemasan berdasarkan frekuensi gejala. (Sapra et al. , 2. Validitas instrumen ini didukung oleh penggunaan metodologi yang Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Fayza Wara Az Zahra1. Cleonara Yanuar Dini2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 249 Ae 259 terstandarisasi (Sapra et al. , 2. yang mampu mendeteksi frekuensi gejala kecemasan melalui tujuh butir pertanyaan yang relevan dengan kondisi psikologis atlet. Secara statistik, reliabilitas dan stabilitas instrumen ini dalam konteks populasi lokal dibuktikan melalui uji normalitas Kolmogorov-Smirnov yang menghasilkan nilai signifikansi . sebesar 0,064 pada kelompok kontrol dan 0,200 pada kelompok eksperimen . > 0,. Hasil tersebut menunjukkan bahwa instrumen GAD-7 memiliki konsistensi internal yang baik dan mampu menghasilkan distribusi data yang stabil, sehingga layak digunakan sebagai alat evaluasi psikologis yang akurat dalam penelitian kesehatan dan olahraga di Indonesia. Penelitian ini telah dinyatakan layak etik oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan (KEPK) guna menjamin perlindungan hak, keamanan, dan kesejahteraan subjek manusia. Prosedur dilakukan dengan menerapkan informed consent dan menjaga kerahasiaan data pribadi seluruh atlet selama proses penelitian berlangsung. HASIL Hasil penelitian ditampilkan dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase untuk masing-masing variabel yang diteliti. Untuk melakukan analisis ini, variabel usia, jenis kelamin, dan kategori pertandingan digunakan untuk menghitung median, mean, dan standar deviasi. Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Usia Jumlah Jenis Kelamin Jumlah Kategori Pertandingan Poomsae Prestasi Poomsae Semi Prestasi Kyorugi Prestasi Kyorugi Semi Prestasi Jumlah n (%) 31 . Tabel 1 menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada usia remaja awal dan hanya sebagian kecil yang tergolong dewasa, sehingga didominasi individu dalam masa pertumbuhan dan perkembangan aktif secara fisik maupun mental. Partisipasi lakilaki lebih dominan dibandingkan perempuan, meskipun perbandingannya masih relatif Selain itu, sebagian besar responden merupakan atlet kyorugi tingkat semi prestasi, yang menunjukkan bahwa cabang kyorugi lebih dominan dibandingkan poomsae, kemungkinan karena lebih sering dipertandingkan dan menekankan aspek kompetitif melalui pertarungan langsung . Selain itu, distribusi frekuensi hasil pretest dan posttest kelompok eksperimen dan kelompok kontrol disajikan pada beberapa tabel berikut. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Fayza Wara Az Zahra1. Cleonara Yanuar Dini2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 249 Ae 259 Tabel 3. Hubungan Tingkat Kecemasan Pretest Posttest GAD-7 Kelompok Kontrol Pretest Kontrol Posttest Kontrol Kategori i Skor 0-4 (Norma. 5-9 (Ringa. 10-14 (Sedan. 15-21 (Bera. Jumlah 15,63 1,752 12,73 2,132 2,90 Tabel 3 diketahui responden kelompok kontrol menunjukkan skor pre-test pada kategori kecemasan berat sebesar 77% . , lalu setelah diberikan intervensi berupa air mineral menunjukkan skor post-test pada kategori kecemasan sedang sebesar 73% . Hal ini menunjukkan bahwa pemberian intervensi air mineral tidak terlalu menurunkan tingkat kecemasan. Data penelitian memerlukan uji, seperti uji homogenitas dan uji normalitas. Uji normalitas menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov ( = 0,. Uji homogenitas menggunakan uji Levene ( = 0,. Berdasarkan hasil uji normalitas diketahui nilai p pada post tes kelompok eksperimen . = 0,167. p = 0,. > =0,05 dan kelompok kontrol . = 0,131. p = 0,. > =0,05, maka data terdistribusi normal. Hasil uji homogenitas didapatkan nilai p = 0,966 > =0,05, maka hasil pre-test dan post-test kelompok eksperimen dan kelompok kontrol identik. Selanjutnya, digunakan uji t sampel independen dan uji t sampel berpasangan. Hasil uji t sampel independen disajikan dalam tabel berikut. Tabel 4. Rerata Skor Kecemasam Sebelum dan Sesudah Perlakuan Kelompok Kontrol Kontrol Ekspe P Value Pretest Posttest Pretest Posttest Posttest (XASD) (XASD) (XASD) (XASD) 15,63A1,752 12,73A2,132 14,53A2,688 7,10A2,123 5,63 0,000 Tabel 4 menunjukkan rerata skor kecemasan pada kelompok kontrol sebelum perlakuan adalah 15,63, sedangkan rerata skor kecemasan setelah perlakuan adalah 12,73. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok kontrol mengalami penurunan kecemasan sebesar 2,90 poin tanpa adanya perlakuan khusus. Kemudian pada kelompok eksperimen menunjukkan bahwa rerata skor kecemasan pada sebelum diberikan perlakuan adalah 14,53, sedangkan setelah diberikan perlakuan rerata skor menurun menjadi 7,10. Dengan demikian, terjadi penurunan skor kecemasan sebesar 7,43 poin. Penurunan ini menggambarkan adanya pengaruh intervensi. Tabel 5. Skor Rerata Kecemasan Sesudah Perlakuan Kelompok Kontrol dan Kelompok Eksperimen Posttest Posttest Kontrol Eksperimen Perbedaan Rata-Rata P Value (XASD) (XASD) 12,73A2,132 7,10A2,123 5,63 0,000 Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Fayza Wara Az Zahra1. Cleonara Yanuar Dini2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 249 Ae 259 Pada tabel 5, dapat diintervensikan bahwa p = 0,000 < 0,05, sehingga Ha diterima. Ini berarti bahwa terdapat perbedaan signifikan dari konsumsi dark chocolate 70% terhadap tingkat kecemasan atlet. Tabel 6. Hasil Uji ANCOVA Pengaruh Intervensi terhadap Kecemasan Atlet Sumber Varians Sig. Model (Correcte. 32,021 0,000 Pre-Test GAD 7 18,942 0,000 Kelompok (Intervens. 83,373 0,000 Jenis Kelamin 0,037 0,848 Usia 1,972 0,166 Jenis Kelamin 0,169 0,683 * Usia Error Total Hasil uji ANCOVA menunjukkan adanya perbedaan skor kecemasan yang sangat signifikan antara kelompok eksperimen dan kontrol [F. , . = 83,373. p < 0,. dengan ukuran efek yang besar (Partial Eta Squared = 0,. Variabel skor awal . re-tes. berperan sebagai kovariat yang signifikan . < 0,. , namun variabel jenis kelamin . = 0,. dan usia . = 0,. tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap hasil Selain itu, tidak ditemukan adanya interaksi antara kelompok dengan usia . = 0,. , yang menegaskan bahwa efektivitas dark chocolate 70% bersifat konsisten lintas karakteristik demografi atlet. Tabel 7. Estimated Marginal Means Skor Kecemasan Post-Test Kelompok Mean (Adjuste. * Std. Error 95% Confidence Interval Eksperimen 7,179 0,381 6,414 Ae 7,944 Kontrol 12,745 0,464 11,815 Ae 13,675 *Nilai Mean di atas telah disesuaikan . dengan nilai kovariat: Pre-test GAD-7 = 15,08 dan Usia = 19,30. Tabel 3 menunjukkan rata-rata skor post-test yang telah disesuaikan (Estimated Marginal Mean. Setelah mengontrol pengaruh skor awal . re-tes. dan usia, kelompok eksperimen menunjukkan tingkat kecemasan yang secara signifikan lebih rendah (M = 7,. dibandingkan kelompok kontrol (M = 12,. Perbedaan rata-rata sebesar 5,56 poin ini mengonfirmasi efektivitas intervensi dark chocolate 70% dalam mereduksi kecemasan atlet secara murni. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan dalam tingkat kecemasan antara atlet taekwondo yang mengonsumsi minuman bubuk dark chocolate 70% sebelum ujian kenaikan tingkat dengan atlet yang tidak mengonsumsinya. Rerata skor GAD-7 pada kelompok eksperimen mengalami penurunan yang sangat bermakna, yaitu dari 14,53 pada pretest menjadi 7,10 pada posttest, yang menunjukkan perubahan kategori kecemasan dari tingkat sedang menuju ringan. Sebaliknya, kelompok kontrol hanya mengalami penurunan skor dari 15,63 menjadi 12,73, yang menunjukkan bahwa tanpa intervensi khusus, penurunan kecemasan terjadi dalam tingkat yang relatif Perbedaan efektivitas diperkuat oleh hasil uji independent sample t-test 0,000 < Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Fayza Wara Az Zahra1. Cleonara Yanuar Dini2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 249 Ae 259 0,05, dapat disimpulkan bahwa konsumsi dark chocolate 70% berpengaruh signifikan terhadap penurunan kecemasan atlet taekwondo. Akurasi temuan ini diperkuat melalui uji ANCOVA untuk mengontrol variabel pengganggu yang mungkin memengaruhi hasil akhir. Hasil uji Tests of Between-Subjects Effects menunjukkan bahwa setelah mengontrol skor awal . re-tes. dan usia, intervensi dark chocolate 70% tetap memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap penurunan kecemasan atlet [F. , . = 83,373, p < 0,001 ]. Besarnya kontribusi intervensi ini ditunjukkan oleh nilai Partial Eta Squared sebesar 0,607, yang berarti 60,7% variansi penurunan skor GAD-7 murni disebabkan oleh konsumsi dark chocolate, sementara faktor demografi seperti jenis kelamin . = 0,. dan usia . = 0,. tidak ditemukan memengaruhi efektivitas intervensi tersebut secara signifikan. Analisis Estimated Marginal Means (EMM) memberikan gambaran yang lebih presisi mengenai efektivitas ini dengan menyetarakan titik awal . kedua kelompok secara statistik. Setelah disesuaikan dengan nilai kovariat, kelompok eksperimen menunjukkan rata-rata skor kecemasan akhir (Adjusted Mea. sebesar 7,18, yang jauh lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol sebesar 12,74. Selisih mean sebesar 5,56 poin ini mengonfirmasi bahwa keunggulan kelompok eksperimen bukan disebabkan oleh kondisi awal yang lebih tenang, melainkan murni merupakan dampak biologis dari kandungan bioaktif dalam dark chocolate 70%. Secara fisiologis dan neurobiologis, mekanisme kerja dark chocolate dalam menurunkan kecemasan didukung oleh berbagai penelitian ilmiah. Sundararaj et al. menjelaskan bahwa kandungan flavonoid dan polifenol dalam cokelat berperan dalam meningkatkan aktivitas neurotransmiter seperti serotonin dan dopamin, yang berfungsi dalam regulasi suasana hati, peningkatan rasa nyaman, serta penurunan respons Selain itu, kakao mengandung triptofan, yaitu asam amino esensial yang merupakan prekursor utama serotonin, sehingga konsumsi dark chocolate dapat mendukung sintesis serotonin secara alami di dalam tubuh. Peningkatan kadar serotonin berkontribusi terhadap stabilisasi emosi, peningkatan rasa tenang, serta penurunan gejala kecemasan. Tidak hanya itu. Kuebler et al. juga melaporkan bahwa konsumsi cokelat hitam mampu menurunkan kadar hormon kortisol, yaitu hormon stres utama yang dalam konteks olahraga berhubungan dengan peningkatan ketegangan, gangguan fokus, serta penurunan performa. Dengan demikian, secara teoritis, kombinasi efek neurokimia tersebut menjelaskan mengapa intervensi dark chocolate mampu memberikan dampak signifikan terhadap kondisi psikologis atlet. Mekanisme penurunan kecemasan ini juga dapat dijelaskan melalui interaksi kompleks pada sumbu usus-otak . ut-brain axi. Flavonoid dan polifenol dalam dark chocolate 70% berperan sebagai prebiotik yang memodulasi mikrobiota usus, yang pada gilirannya memengaruhi sistem saraf pusat melalui saraf vagus (Sorrenti et al. , 2. Secara biokimia, saluran cerna merupakan tempat produksi sekitar 90-95% serotonin Kandungan triptofan dalam cokelat diserap di usus dan dikonversi menjadi 5hydroxytryptophan . -HTP) sebelum menjadi serotonin. Proses ini distimulasi oleh flavonoid yang mengurangi peradangan neurogenik, sehingga memfasilitasi jalur sinyal kimia dari sel enterochromaffin di usus menuju otak (Mawe dan Hoffman, 2. Hubungan dua arah ini memastikan bahwa kesehatan lingkungan pencernaan yang terpapar senyawa bioaktif cokelat berkontribusi langsung pada stabilitas emosi dan reduksi kecemasan kognitif pada atlet. Efektivitas dark chocolate dalam menurunkan skor GAD-7 berkaitan erat dengan regulasi aksis Hypothalamic-Pituitary-Adrenal (HPA). Konsumsi flavonoid dosis tinggi . gram dalam kadar 70%) bekerja sebagai inhibitor alami terhadap sekresi Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Fayza Wara Az Zahra1. Cleonara Yanuar Dini2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 249 Ae 259 glukokortikoid (Sunni dan Latif, 2. Penurunan kadar hormon kortisol secara sistemik ini sangat krusial bagi atlet taekwondo sebelum ujian, karena kadar kortisol yang tinggi dapat memicu katabolisme otot dan gangguan fokus mental . rain fo. Dengan menekan lonjakan kortisol, dark chocolate membantu mempertahankan keseimbangan homeostasis tubuh, sehingga atlet tidak hanya merasa lebih tenang secara psikologis, tetapi juga secara fisiologis memiliki kesiapan fisik yang lebih optimal (Nemoto et al. , 2. Penurunan hormon stres ini memperkuat temuan bahwa intervensi nutrisi ini bekerja secara sinergis antara modulasi neurotransmiter di otak dan regulasi endokrin di tingkat sistemik. Temuan studi ini selaras dengan Hananto dan Mashuri . menemukan bahwa pemberian cokelat berpengaruh signifikan dalam menurunkan kecemasan atlet sepak Penelitian Claresta dan Purwoko . pada mahasiswa juga menunjukkan adanya penurunan kecemasan setelah konsumsi cokelat, meskipun menggunakan milk chocolate. Hasil serupa dilaporkan oleh Oktavia dan Ulfa . yang menyatakan bahwa konsumsi dark chocolate efektif dalam menurunkan tingkat kecemasan, serta oleh Robaina de Barros et al. yang menegaskan bahwa kandungan triptofan dalam cokelat berperan dalam sintesis dan regulasi serotonin yang bertanggung jawab terhadap munculnya perasaan sejahtera . ell-bein. dan berkurangnya kecemasan. Konsistensi hasil penelitian ini memperkuat validitas temuan bahwa intervensi berbasis nutrisi, khususnya dark chocolate dengan kadar kakao tinggi, dapat menjadi strategi alternatif yang efektif dan aman dalam pengelolaan kecemasan. Sementara itu, penurunan skor kecemasan pada kelompok kontrol dari 15,35 menjadi 13,49 kemungkinan besar disebabkan oleh proses adaptasi psikologis alami terhadap situasi evaluatif atau kompetitif. Dalam konteks olahraga, atlet yang sering menghadapi tekanan umumnya memiliki kemampuan adaptasi mental secara bertahap, sehingga kecemasan dapat menurun seiring meningkatnya familiaritas terhadap situasi Namun demikian, besarnya penurunan pada kelompok kontrol jauh lebih kecil dibandingkan kelompok eksperimen, yang menunjukkan bahwa adaptasi alami saja tidak cukup memberikan dampak signifikan terhadap reduksi kecemasan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa intervensi konsumsi minuman bubuk dark chocolate 70% memiliki kontribusi yang lebih kuat dan bermakna dalam membantu atlet mengelola kecemasan sebelum ujian kenaikan tingkat dibandingkan dengan proses adaptasi psikologis semata. Meskipun penelitian ini memberikan temuan yang signifikan terkait efektivitas dark chocolate 70%, terdapat beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam interpretasi hasilnya. Pertama, penelitian ini hanya menggunakan instrumen laporan mandiri . elf-repor. berupa kuesioner GAD-7 untuk mengukur tingkat kecemasan. Tidak dilakukannya pengambilan sampel biologis secara objektif, seperti pengukuran kadar kortisol dalam darah atau saliva, menyebabkan mekanisme penurunan stres secara fisiologis hanya dapat dijelaskan melalui landasan teoritis dan literatur pendukung tanpa bukti biokimia langsung dari responden. Kedua, penelitian ini tidak melakukan kontrol ketat terhadap pola konsumsi makanan harian . ietary intak. responden di luar jam intervensi, yang mungkin mengandung senyawa psikoaktif lain, seperti kafein atau polifenol dari sumber lain, yang dapat memengaruhi tingkat ketenangan atlet. Ketiga, durasi penelitian yang bersifat jangka pendek hanya mengukur efek akut sebelum ujian, sehingga efek jangka panjang dari konsumsi rutin dark chocolate terhadap stabilitas emosi atlet dalam periode latihan yang lebih lama belum dapat diketahui. Keterbatasan ini membuka peluang bagi penelitian selanjutnya untuk mengintegrasikan parameter biomonitoring yang lebih objektif guna memperkuat validitas temuan secara neuroendokrin. Lisensi: Creative Commons Attribution 4. 0 International (CC BY 4. Fayza Wara Az Zahra1. Cleonara Yanuar Dini2 SEHATMAS (Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyaraka. Vol. 5 No. 249 Ae 259 KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa konsumsi minuman dark chocolate dengan kadar kakao tinggi memberikan pengaruh yang bermakna dalam menurunkan tingkat kecemasan atlet sebelum menghadapi ujian kenaikan tingkat. Penurunan kecemasan pada kelompok yang diberikan intervensi jauh lebih signifikan dibandingkan dengan kelompok yang tidak diberikan perlakuan khusus. Analisis statistik lebih lanjut membuktikan bahwa efektivitas cokelat hitam ini bersifat konsisten dan tidak dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik demografi seperti jenis kelamin maupun usia Hal ini menunjukkan bahwa cokelat hitam dapat menjadi strategi alternatif yang efektif dan inklusif dalam pengelolaan kondisi psikologis atlet. Penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan instrumen laporan mandiri untuk mengukur tingkat kecemasan tanpa didukung oleh pengambilan sampel biologis secara objektif, seperti pengukuran kadar hormon stres dalam darah atau saliva. Selain itu, kontrol terhadap pola konsumsi harian responden di luar jam intervensi serta durasi penelitian yang singkat membuat efek jangka panjang dari konsumsi rutin cokelat hitam belum dapat diketahui secara mendalam. Berdasarkan temuan tersebut, disarankan bagi para pelatih dan atlet untuk mempertimbangkan penggunaan cokelat hitam sebagai salah satu metode nonfarmakologis untuk mereduksi kecemasan sebelum kompetisi atau evaluasi. Untuk penelitian selanjutnya, direkomendasikan untuk mengintegrasikan parameter biokimia yang lebih objektif guna memperkuat validitas temuan secara fisiologis. Selain itu, penelitian di masa depan perlu memperluas durasi intervensi dan memperketat pengawasan terhadap pola makan harian responden untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai pengaruh nutrisi terhadap stabilitas emosional atlet. DAFTAR PUSTAKA