Jurnal Kajian Bali Journal of Bali Studies p-ISSN 2088-4443 # e-ISSN 2580-0698 Volume 10, Nomor 02, Oktober 2020 http://ojs.unud.ac.id/index.php/kajianbali .......................................................................................................................................... Terakreditasi Sinta-2, SK Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti No. 23/E/KPT/2019 .......................................................................................................................................... Pusat Penelitian Kebudayaan dan Pusat Unggulan Pariwisata Universitas Udayana Verba Bahasa Bali dalam Ranah Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa Semantik Alami I Ketut Suar Adnyana Universitas Dwijendra Penulis Koresponden: suara6382@gmail.com Abstract Balinese Verbs in The Realm of Coffee Plantation: Natural Semantics Metalanguage Analysis This research is a qualitative descriptive study that aimed to determine the semantic structure of Balinese verbs in the realm of coffee plantations with the natural semantics metalanguage theory. The research location was Pucaksari Village, Busungbiu District, Buleleng Regency. The method used to explore data is qualitative. The method used in collecting the data were interview, listening, conversation, and elicitation. The results of the study show that there are eight verbs used in the realm of coffee plantations, include mamula (plant), numbeg (hoe), ngetep (cut), nyambung (connect), ngalap (picking), nyeruh (pound), nyemuh (dry in the sun), and nambunang (collecting). Verb mamula, numbeg, ngetep, nyambung, nyeruh, nyemuh and nambunang having an original meaning ‘do’ that has a polysemy with the original meaning ‘happen’ and it has the exponent X do something to Y, something happened to Y. Verb ngalap andnambunang have the original meaning do has a polysemy with ‘moving’. They have exponent X do something about Y, Y move. Keywords: natural semantics metalanguage, coffee plantations, happen, moving, verbs, and polysemy Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif bertujuan untuk menentukan struktur semantik verba bahasa Bali dalam ranah perkebunan kopi dengan pendekatan Teori Metabahasa Semantik Alami. Lokasi penelitian adalah Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng. Metode yang digunakan untuk menggali data adalah metode wawan­cara, metode simak dan cakap dan metode elisitasi. Data dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada delapan nosi verba yang JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 441 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Hlm. 491–514 441–468 dipakai dalam ranah perkebunan kopi. Adapun nosi tersebut adalah mamula (menanam), numbeg (mencangkul), ngetep (memotong), nyambung (menyambung), ngalap (memetik), nyeruh (menumbuk), nyemuh (menjemur), dan nambunang (mengumpulkan). Verba mamula, numbeg, ngetep, nyambung, nyeruh, dan nyemuh memiliki makna asali ‘melakukan’ yang berpolisemi dengan makna asali ‘terjadi’, dan memiliki eksponen X melakukan se­suatu terhadap Y, terjadi sesuatu terhadap Y. Verba ngalap dan verba nambungan memiliki makna asali ‘melakukan, yang berpolisemi dengan ‘berpindah’ memiliki eksponen X melakukan sesuatu terhadap Y, Y berpindah. Kata kunci: metabahasa semantik alami, perkebunan kopi, terjadi, verba, polisemi 1. Pendahuluan emahaman terhadap pesan sangat penting dalam interaksi sosial. Bahasa menjadi instrumen penutur dalam interaksi sosial. Melalui bahasa, penutur mentransformasi pikirannya kepada petutur. Keberhasilan proses berkomunikasi itu sangat bergantung kepada persepsi dan pengetahuan petutur terhadap makna bahasanya. Dalam komunikasi lisan, petutur akan terbantu untuk menangkap makna ujaran karena penutur menyertakan ekspresi dan gerak tubuh dalam berkomunikasi. Apabila pesan yang disampaikan secara tertulis, maka pembaca memaknai pesan tersebut berdasar pada apa yang tertulis (Adnyana dkk. 2018:40) Pembaca sering mengalami kesulitan dalam memahami teks tertulis tersebut. Hal ini tentu mengganggu proses pemahaman pesan. Harapan pertama yang bisa membantu pembaca adalah melihat kamus tetapi bantuan kamus tidaklah menuntaskan segala kesulitan yang dialami pembaca karena makna suatu kata dalam kamus belum dapat membantu pembaca untuk memaknai kata tersebut. Sebagai contoh, dalam Kamus Bali-Indonesia (1983: 55, 2000: 27) makna kata makita ‘bernafsu’, ‘ingin’, sulit dibedakan dengan kata arsa ‘ingin, harap’ ‘senang’. Pemberian makna seperti itu tidaklah memberikan gambaran yang jelas apa perbedaan antara makita dengan arsa. Secara semantis ada perbedaan makna di antara kata tersebut. P 442 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... Citrawati (2017:1) menyatakan bahwa makna adalah hubungan timbal balik antara kata dan pengertian. Hubungan timbal balik ini menimbulkan perbedaan makna antara kata yang satu dan kata yang lain. Permasalah pemaknaan kata seperti itu, akan terpecahkan dengan teori Metabahasa Semantik Alami (MSA). Teori ini dirancang untuk mengeksplikasi semua makna baik makna leksikal, ilokusi dan makna gramatikal. Asumsi dasar teori ini berhubungan dengan prinsip semiotik (Goddard: 1994:1) yang menyatakan bahwa “A sign can not be reduced to or analysed into any combination of things which are not themselves signs;consequently, it is impossible to reduce meangings to any combination of things which are not themeselves meanings.” (Suatu tanda tidak dapat direduksi menjadi atau dianalisis menjadi suatu kombinasi dari hal-hal yang bukan merupakan tanda itu sendiri; tidak mungkin mereduksi arti menjadi kombinasi dari hal-hal yang bukan merupakan makna dari dirinya sendiri). Mengingat kenyataan ini, maka analisis makna akan menjadi diskrit dan tuntas. Makna sekompleks apa pun dapat dijelaskan tanpa harus berputar-putar dan tanpa residu. Makna dapat dianalisis dengan cara yang sepenuhnya ditentukan. Artinya, setiap makna kompleks dapat diuraikan menjadi kombinasi makna lain yang terpisah, tanpa sirkularitas dan tanpa residu (Goddard, 1996: 24; Wierzbicka, 1996: 10; Beratha, 1997: 10, Mulyadi, 1998: 35).Teori MSA digunakan untuk menentukan strukur semantik verba suatu bahasa dengan teknik eksplikasi/parafrase. Hal ini dapat menjelaskan makna kata secara tuntas dan secara terinci. Penelitian bahasa Bali dengan kajian Metabahasa Semantik Alami (MSA) telah banyak dilakukan. Sudipa (2004) mengkaji verba dalam bahasa Bali dari sudut pandang MSA. Secara lebih khusus Sudipa (2012) menganalisis makna “mengikat” dalam bahasa Bali dari sudut pandang MSA. Widani (2016) mengkaji makna “mengambil” dalam bahasa Bali dengan menerapkan kajian MSA. Dewi (2016) mengkaji struktur dan peran semantis verba “menyentuh” bahasa Bali. Parwati (2018) melakukan penelitian tentang verba “memasak” dalam bahasa Bali dengan kajian MSA. Lestari (2018) melakukan kajian verba ujaran dalam Bahasa Bali. Artikel ini menganalisis makna leksikon terutama yang berelasi dengan verba dalam ranah perkebunan kopi belum pernah dikaji. JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 443 Hlm. 491–514 441–468 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Fokus kajian ini adalah untuk menentukan bagaimanakah struktur semantis verba bahasa Bali dalam ranah perkebunan kopi. Verba yang dipakai dalam ranah perkebunan kopi mencangkup verba yang dipakai dalam pembibitan kopi, pemeliharaan bibit kopi, menanam bibit kopi di perkebunan, memelihara pohon kopi yang telah ditanam, memetik buah kopi, dan memproses buah yang telah dipetik. Foto 1. Petani kopi memetik buah kopi (Foto: I Gede Budiana). 2. Metode dan Teori Lokasi penelitian adalah Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, Bali. Desa Pucaksari dipilih sebagai lokasi penelitian karena lahan pertanian kopi di Desa Pucaksari adalah terluas di Kecamatan Busungbiu yaitu 1442,715  hektar. Desa Pucaksari merupakan desa penghasil kopi terbesar di Kecamatan Busungbiu (Foto 1). Desa Pucaksari terdiri dari enam dusun yaitu Dusun Tegalasih, Kemoning, Beteng, Pucaksari, Batumagaang, dan Pateluan Pucaksari. Sumber data dalam penelitian ini adalah petani kopi. Setiap dusun diwakili oleh satu orang petani. Jumlah informan adalah enam orang. Kriteria informan mengacu pada kriteria yang disampaikan oleh 444 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... Mahsun (2011) seperti berikut: (1) tidak mengalami cacat alat ucap, (2) sehat rohani dan jasmani, (3) berumur 25 tahun - 65 tahun, (4) pendidikan serendah-rendahnya adalah setingkat sekolah dasar, dan (5) tinggal di desa tempat penelitian diadakan. Disamping itu, kriteria informan mengacu pada Sugiyono (2010: 303) adalah (1) informan sebagai petani, dan (2) mempunyai cukup waktu dan kesempatan untuk diwawancarai. Langkah-langkah yang dilakukan untuk menganalisis data dalam penelitian ini berpedoman pada pendapat Sugiyono (2010: 338) yang meliputi empat langkah, yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Data dalam kajian ini berupa catatan yang dimiliki petani berkaitan dengan ranah perkebunan kopi. Data juga dikumpulkan dengan melakukan wawancara tidak terstruktur dengan informan serta metode elisitasi untuk memancing informan sehingga diperoleh data yang lengkap (Spolsky, 2003: 9). Reduksi data, pada tahapan ini data diidentifikasi dan diklasifikasi verba yang dipakai dalam ranah perkebunan kopi. Penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat berupa eksplikasi verba dalam ranah perkebunan kopi dengan menggunakan teori MSA. Data selanjutnya diberi kode IKS 1 dan seterusnya. IKS merujuk pada I Ketut Suar Adnyana, dan 1 merujuk pada informan nomor 1. Teori yang dipakai untuk mengungkap struktur semantis verba yang dipakai dalam ranah perkebunan kopi adalah teori MSA yang dikembangkan oleh Wierzbicka (1996) dan para pengikutnya, seperti Goddard dan Felix. Pemilihan teori ini didasari atas asumsi bahwa MSA dapat megekpresikan semua makna, baik makna leksikal, ilokusi maupun makna gramatikal yang dibingkai dalam sebuah metabahasa dan bersumber dari bahasa alamiah. Pemahaman terhadap makna asali diharapkan dapat menerangkan makna kompleks menjadi lebih sederhana. Dengan kata lain apabila makna asali sudah dapat ditentukan, itu akan mempermudah untuk menentukan makna yang kompleks. Makna asali tersebut sebanyak 65 butir makna asali (Goddard dan Wierzbicka, 2014:12). JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 445 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Hlm. 491–514 441–468 Tabel 1. Makna Asali No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Component Substantives Element of original meaning I-Me, You, Someone, Something/Thing, People, Body Relational Substantive Kind, Parts Determiner This, The Same, Order-Else Quantifiers One, Two, Some, All, Much-Many, Little-Few Evaluators Good, Bad Descriptions Big, Small Mental Predicates Know, Think, Want, Don’t-Want, Feel, See, Hear Speech Say, Words, True A c t i o n s / E v e n / Do, Happen, Move, Touch Movement/ Contact Location, Existence, Be (Somewhere), There Is, Be (Someone) Possession, Specification Life, Death Live, Die Time When-Time, Now, Before, After, A Long Time, A Short Time, For Sometime, Moment Space Where-Place, Here, Above, Below, Far, Near, Side, Inside Logical Concept Not, Maybe, Can, Because, If Intensifier, Augmentor Very, More Similarity Like-Way-As Berdasar pada Tabel 1 dapat dijelaskan bahwa ada 16 komponen makna asali. Masing-masing komponen memiliki elemen makna asali (element of original meaning). Keseluruhan elemen makna asali tersebut berjumlah 65 butir. Makna asali tersebut dipakai untuk menentukan struktur semantis verba yang dipergunakan dalam ranah perkebunan kopi di Desa Pucaksari dengan menerapkan teknik eksplikasi. Menurut Wierzbicka dan Beratha (dalam Sudipa, 2012:54) parafrase harus mengikuti kaidah-kaidah berikut. 1. Parafrase harus menggunakan kombinasi sejumlah makna asali yang telah diusulkan oleh Wierzbicka. Kombinasi sejumlah makna asali diperlukan terkait dengan klaim dari teori MSA, yaitu suatu bentuk tidak dapat diuraikan hanya dengan memakai satu makna asali. 2. Parafrase dapat pula dilakukan dengan memakai unsur yang merupakan kekhasan suatu bahasa. Hal ini dapat dilakukan dengan menggabungkan unsur-unsur yang merupakan keunikan suatu bahasa untuk menguraikan makna. 446 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... 3. Kalimat parafrase harus mengikuti kaidah sintaksis bahasa yang dipakai untuk memparafrase. 4. Parafrase selalu menggunakan bahasa yang sederhana. 5. Kalimat parafrase kadang-kadang memerlukan indentasi dan spasi khusus. Foto 2. Pengolahan kopi, dari menjemur dan mengumpulkan (Foto: I Gede Budiana). 3. Hasil dan Pembahasan Berdasar hasil kajian dapat ditentukan ada delapan verba yang dipakai dalam ranah perkebunan kopi yaitu (1) mamula ‘menanam’, (2) numbeg ‘mencangkul’, (3) ngetep ‘memotong’, (4) nyambung ‘menyambung’, (5) ngalap ‘memetik’, (6) nyeruh ‘menumbuk’, (7) nyemuh ‘menjemur’, dan (8) nuduk/nambunang. (1) Verba mamula Verba mamula dalam ranah pertanian memiliki makna asali melakukan yang berpolisemi dengan terjadi memiliki eksponen X melakukan sesuatu pada pada Y dan karena ini sesuatu terjadi pada Y. Dalam kegiatan mamula diperlukan alat dan sesuatu yang ditanam. a) mamula ‘menanam’ IKS 1 i) Uli mamula umur telung tiban suba melajah mabuah kopine. ‘Dari menanam, umur tiga tahun, kopi sudah mulai berbuah.’ JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 447 Hlm. 491–514 441–468 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana ii) Mamula kopi di masan ujan. ‘Menanam kopi pada musim hujan.” Mamula merupakan aktivitas yang dilakukan oleh petani untuk menanam bibit kopi yang telah tersemai sekitar enam bulan sampai satu tahun. Mamula dilakukan dengan membuat lubang dengan menggunakan cangkul. Lubang tersebut berukuran kira-kira 25 cm persegi. Selanjutnya bibit kopi ditanam. Eksplikasi verba mamula: Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (pohon kopi). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. X melakukan dengan memasukkan Y ke tanah. X melakukan dengan alat tertentu (cangkul). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Sesuatu yang baik terjadi pada Y. Mamula adalah verba yang digunakan dalam ranah pertanian secara umum. Kegiatan mamula melibatkan seseorang yaitu X dan melakukan sesuatu terhadap Y (bibit, pohon) . Verba mamula memiliki varian nimuh dan ngengsubin. b) nimuh ‘membibit’ IKS 1 i) Jani langah petaniné nimuh. ‘sekarang jarang petani membibit’ IKS 2 ii) Amen lakar nimuh, luungné bulan dasa. ‘Jika akan membibit, sebaiknya bulan sepuluh ’ Kegiatan nimuh ‘membibit’ dilakukan di areal dengan luas kirakira 1 are. Kegiatan nimuh dilakukan dengan meletakkan biji kopi sebanyak satu biji ke dalam tanah yang telah dilubangi sedalam satu cm. Selanjutnya biji kopi tersebut ditimbun dengan tanah. 448 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... Eksplikasi verba nimuh : Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (biji kopi). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. X melakukan dengan memasukkan Y ke tanah. X melakukan dengan tangan. X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. sesuatu yang baik terjadi pada Y. Verba nimuh tidak hanya dipakai dalam ranah perkebunan kopi tetapi dapat digunakan pada ranah perkebunan yang lain misalnya ranah perkebunan cengkeh. Kegiatan nimuh melibatkan seseorang yaitu X dan melakukan sesuatu pada Y (biji kopi). c) ngengsubin Ngengsubin adalah leksikon yang berarti menanam. Berbeda dengan mamula dan nimuh, ngengsubin adalah aktivitas menanam dengan mengganti bibit yang mati dengan yang baru. IKS 3 i) Jani liu punyan kopiné mati. Ané mati engsubin buin. ‘Sekarang banyak pohon kopi mati. Yang mati diganti dengan bibit yang baru.’ ii) Bapa meli bibit lakar anggo ngengsubin. ‘Bapak membeli bibit untuk ngengsubin.’ Eksplikasi verba ngengsubin : Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (pohon kopi mati). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. X melakukan sesuatu terhadap Y dengan cara tertentu (mencabut pohon kopi dari tanah). X melakukan dengan alat tertentu (cangkul). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. sesuatu yang baik terjadi pada Y. JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 449 Hlm. 491–514 441–468 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Verba ngengsubin merupakan verba yang bersifat umum karena verba ini tidak hanya digunakan dalam ranah perkebunan kopi tetapi juga dipakai dalam ranah perkebunan cengkeh dan vanili. Kata mamula, nimuh, dan ngengsubin memiliki makna yang berhubungan sehingga memiliki satu medan makna mamula. Makna dari varian verba mamula tidak mengalami perluasan medan makna dari makna asali. Varian verba mamula tetap memiliki makna asali ‘melakukan’ yang berpolisemi dengan ‘terjadi’. (2) Verba numbeg Verba numbeg ‘mencangkul’ mempunyai beberapa varian yaitu ngebuhang ‘menggemburkan’ ngerolak ‘membuat lubang persegi panjang di sela-sela pohon kopi’, ‘nyangkah ‘mencabut batang pohon kopi dan akarnya dengan cangkul’. Verba numbeg, ngebuhang, ngerolak, dan nyangkah mengacu pada suatu kegiatan dengan memakai alat (cangkul) dengan acuan entitas yaitu tanah. Proses numbeg dilakukan dengan memegang gagang cangkul kemudian diayunkan ke atas. Selanjutnya, cangkul diarahkan ke tanah sehingga tanah yang dicangkul menjadi bongkahan kecilkecil. IKS 4 a) numbeg ‘mencangkul’ (i) Yén lakar mamula kopi tumbegin malu tanahé apang gembur. ‘Jika akan menanam kopi, tanahnya dicangkul supaya gembur.’ IKS 5 (ii) Jani Bapa suba tusing ngidaang numbeg. Sakit awaké suud numbeg. ‘Sekarang Bapak, tidak kuat mencangkul. Tubuh terasa sakit setelah mencangkul.’ Eksplikasi verba numbeg. Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (tanah). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (cangkul). X menginginkan ini. 450 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... Verba numbeg ‘mencangkul’ adalah verba yang bersifat umum karena verba numbeg tidak hanya digunakan dalam ranah perkebunan kopi tetapi juga dapat digunakan pada ranah pertanian yang lain. Struktur semantik verba numbeg adalah X melakukan sesuatu pada Y dan karena itu sesuatu terjadi pada Y. Untuk menyatakan aktivitas mencangkul dalam ranah perkebunan kopi, digunakan juga verba ngebuhang, ngerolak, dan nyangkah. b) Verba ngebuhang ‘menggemburkan tanah’ IKS 4 (i) Sing makejang tanahé gebuhang. Cén ja tanahé padet ento dogén gebuhang. ‘Tidak semua tanah digemburkan. Yang mana tanahnya padat, itu saja digemburkan.’ IKS 5 (ii) Yéning masan ujan langah mati kopiné. Gebuhan dogén tanahné. ‘Kalau musim hujan jarang yang mati pohon kopinya, gemburkan saja tanahnya.’ Verba ngebuhang dapat dieksplikasi: Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (tanah). Karena itu sesuatu terjadi pada Y (Y menjadi gembur) pada waktu yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (cangkul). X menginginkan ini. Sesuatu yang baik terjadi pada Y. Aktivitas ngebuhan tidak hanya terdapat pada perkebunan kopi saja juga digunakan dalam perkebunan yang lain yang mempunyai tujuan menggemburkan tanah pada bibit yang baru ditanam. Kegiatan ngebuhang melibatkan seseorang yaitu X dan melakukan sesuatu terhadap Y (tanah) karena itu sesuatu terjadi pada Y (Y menjadi gembur) pada waktu yang sama. Varian verba numbeg yang lainya adalah ngerolak. Aktivitas ngerolak adalah proses membuat lubang persegi panjang di antara pohon kopi dengan kedalaman 40 cm. Ngerolak dilakukan dengan cangkul. Lubang tersebut digunakan untuk menampung humus. JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 451 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Hlm. 491–514 441–468 c) Verba ngerolak ‘membuat lubang persegi panjang di sela-sela pohon kopi’ IKS 6 (i) Mang Aténg jani ngerolak di amongané. ‘Mang Aténg sekarang ngerolak di kebunnya’ (ii) I Tambun ngerolak. Luun don manggisé abana kerolakané. ‘I Tambun ngerolak. Daun manggis yang sudah kering ditampung di lubang itu’ Eksplikasi verba ngerolak. Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (tanah). Karena itu sesuatu terjadi pada Y (berlubang persegi panjang) pada waktu yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (cangkul). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba ngerolak merupakan verba yang spesifik karena verba ini hanya digunakan pada ranah perkebunan kopi. Verba ngerolak memiliki struktur semantis yaitu X melakukan sesuatu pada Y (entitas tanah) pada waktu yang sama sesuatu terjadi pada Y (berlubang persegi panjang). d) Verba nyangkah ‘mencabut batang pohon kopi beserta akarnya dengan cangkul’ IKS 4 (i) Yen punyan kopiné ané kena kangker, jangkah bongkolné. ‘Kalau pohon kopi yang kena kangker, cabut batangnya beserta akarnya.’ IKS 1 (ii) Pang aluhang nyangkah, getep malu carang kopiné. ‘Agar lebih gampang nyangkah, potong dahulu dahan kopinya.’ Nyangkah ‘mencabut’ adalah aktivitas yang dilakukan petani dengan cangkul. Yang dicangkul adalah batang pohon kopi dengan akarnya sehingga pohon kopi tersebut tercerabut dari tanah. Eksplikasi verba nyangkah Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (pohon kopi). Karena itu sesuatu terjadi pada Y (Y tercerabut dari tanah) pada waktu 452 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (cangkul). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Nyangkah merupakan aktivitas yang dilakukan untuk mencabut pohon kopi yang mati dengan cangkul. Verba nyangkah merupakan verba bersifat spesifik karena verba ini hanya digunakan dalam perkebunan kopi. Verba nyangkah memiliki struktur semantis: X melakukan sesuatu pada Y (pohon kopi) pada waktu yang sama sesuatu terjadi pada Y (tercerabut dari tanah). Verba numbeg beserta variannya yaitu ngebuhang, ngerolak, dan nyangkah tidak mengalami perluasan medan makna dari makna asalinya meskipun verba ngerolak dan nyangkah merupakan verba yang spesifik. Verba mamula beserta variannya memiliki makna asali melakukan dan berpolisemi dengan makna asali terjadi. (3) Verba ngetep Verba ngetep ‘memotong’ dilakukan dengan gunting untuk memotong dahan kopi sehingga menjadi dua bagian atau lebih. a) Verba ngetep ‘memotong’ IKS 5 i) Pang aluhang nyangkah, getep malu carang kopiné. ‘Agar lebih gampang nyangkah, potong dahulu dahan kopinya.’ ii) Carang kopiné ané dawa dadi getep. ‘Dahan kopi yang panjang boleh dipotong.’ Eksplikasi verba ngetep Pada waktu itu X melakukan sesuatu pada Y (dahan kopi). Karena itu sesuatu terjadi pada Y (terpotong bagian dahan kopi) pada waktu yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (gunting). Y menjadi bagian tertentu (dua bagian). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba ngetep merupakan verba yang digunakan tidak hanya pada perkebunan kopi tetapi juga digunakan pada ranah perkebunan JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 453 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Hlm. 491–514 441–468 cengkeh dan lain-lain. Kegiatan ngetep melibatkan seseorang (X) melakukan sesuatu terhadap Y (dahan kopi). Adapun struktur semantis verba ngetep adalah pada waktu itu X melakukan sesuatu pada Y (dahan kopi). Karena itu sesuatu terjadi pada Y (terpotong bagian dahan kopi) pada waktu yang sama. Dalam perkebunan kopi tidak hanya leksikon ngetep digunakan untuk menyatakan aktivitas memotong. Ada tiga varian leksikon ngetep yaitu nyeték, nyeenin, dan ngeréntés. Yang membedakan antara ketiga verba tersebut adalah entitas yang dipotong. b) verba nyeték : IKS 4 i) Umur duang tiban muncuk kopiné suba dadi sték. ‘ Umur dua tahun pucuk kopi sudah bisa distek.’ ii) Yén mamula kopi sték rés sing perlu nyeték buin. ‘Kalau menanam kopi stek res tidak perlu nyetek lagi.’ Eksplikasi verba nyeték Pada waktu itu X melakukan sesuatu pada Y (pucuk pohon kopi). Karena itu sesuatu terjadi pada Y (terpotong bagian pucuk) pada waktu yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (gunting). Y menjadi bagian tertentu (dua bagian). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba nyeték dilakukan dengan cara memotong pucuk pohon kopi dengan gunting sehingga batang (batang bagian atas yang masih muda) menjadi dua bagian. Batang muda bagian atas yang sudah terpotong dibuang dan batang bawah akan disambung dengan batang (batang yang masih muda) kopi jenis unggul. Verba nyeték hanya digunakan pada ranah perkebunan kopi. Oleh karena itu, verba nyeték merupakan verba yang spesifik. Aktivitas nyeték melibatkan seseorang (X) dan melakukan sesuatu terhadap Y (pucuk pohon kopi). Struktur semantis verba nyeték adalah X melakukan sesuatu pada Y (pucuk pohon kopi). Karena itu sesuatu terjadi pada Y (terpotong bagian pucuk) pada waktu yang sama. 454 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... c) nyeenin IKS 6 i) Biasané nyeenin bulan Désémber atau Januari. ‘Biasanya nyeenin bulan Desember atau Januari.’ ii) Nyeening ento ngilangan lembungan kopi jak carang balik. ‘Nyeenin itu menghilangkan tunas kopi dan carang balik.’ Eksplikasi verba nyeenin: Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (tunas muda). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (gunting). Sesuatu terjadi kepada Y (terpisah dengan batang induknya.) X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Nyeenin merupakan aktivitas memotong tunas muda (dengan gunting) yang tumbuh pada batang maupun pada dahan pohon kopi. Tunas-tunas ini dihilangkan agar pohon kopi tumbuh dengan baik. Aktivitas nyeenin melibatkan seseorang (X) dan melakukan sesuatu terhadap Y (tunas pohon kopi). Entitas aktivitas nyeenin adalah tunas yang tumbuh di batang kopi dan cabang kopi.Verba nyeenin merupakan verba yang bersifat spesifik karena verba ini hanya digunakan pada ranah perkebunan kopi. d) ngeréntés IKS 5 i) Carang kopiné ané suba réntésa dadi jang di rolakané ‘Dahan kopi yang sudah diréntés taruh di lubang yang sudah dibuat di sela sela pohon kopi’ ii) Penauné réntésin masi, apang kopiné maan sinar matan ai. ‘Pohon pelindung diréntés juga, agar pohon kopi dapat sinar matahari’ Aktivitas ngeréntés dilakukan terhadap dahan kopi yang telah dipotong. Ngeréntés dilakukan dengan menggunakan alat (blakas). Tujuan ngérentés adalah untuk memisahkan dahan kopi dengan ranting kopi dan dahan pohon pelindung dengan rantingnya. JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 455 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Hlm. 491–514 441–468 Eksplikasi verba ngeréntés: Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (dahan pohon kopi atau dahan pohon pelindung kopi) Karena itu sesuatu terjadi pada Y (ranting) pada waktu yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (blakas). X melakukan dari atas ke bawah. Y menjadi beberapa bagian. X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Leksikon ngeréntés hanya dipakai pada ranah perkebunan kopi sehingga leksikon ini bersifat spesifik untuk menyatakan aktivitas memotong. Entitas yang dipotong adalah ranting pohon kopi dan ranting dahan pohon pelindung yang telah dipotong. Aktivitas ngeréntés melibatkan seseorang (X) dan melakukan sesuatu terhadap Y (ranting pohon kopi atau ranting pohon pelindung. Varian verba ngetep yaitu nyeték, nyeenin, dan ngeréntés merupakan verba yang bersifat spesifik karena verba tersebut hanya dipergunakan dalam ranah perkebunan kopi. Walaupun verba tersebut bersifat spesifik, makna verba tersebut tidak mengalami perluasan dari medan makna dari makna asalinya. Verba tersebut memiliki makna asali ‘melakukan’ yang berpolisemi dengan ‘terjadi’. (4) Verba nyambung Nyambung merupakan aktivitas menyambung tunas pohon kopi dengan tunas pohon kopi yang berjenis unggul. Nyambung dilakukan dengan menggunakan pisau. Nyambung dilakukan dengan cara memotong batang kopi muda menjadi dua. Bagian atas yang terpotong dibuang. Bagian bawah disambung dengan tunas jenis kopi unggul. Verba nyambung memiliki makna asali melakukan yang berpolisemi dengan terjadi, memiliki eksponen “ X melakukan sesuatu terhadap Y, sesuatu terjadi terhadap Y.” IKS 6 i) Yén nyambung bulan Oktober? ‘Kalau nyambung bulan Oktober?’ ii) Yén dini petani nyambung lebian bulan dua belas, bulan satu. ‘Kalau di sini, kebanyakan petani nyambung pada bulan dua 456 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... belas atau bulan satu’ Eksplikasi verba nyambung Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (tunas kopi). Karena itu sesuatu terjadi pada Y (terpotong) pada waktu yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (pisau). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba nyambung merupakan verba yang bersifat umum karena verba ini juga digunakan pada ranah perkebunan yang lain seperti pada ranah perkebunan bunga, perkebunan buah-buahan dan lainlain. Aktivitas nyambung dilakukan untuk menghasilkan tanaman yang bersifat unggul. Kegiatan nyambung melibatkan seseorang yaitu X dan melakukan sesuatu terhadap Y (tunas). (5) Verba ngalap Verba ngalap menggambarkan struktur semantis dengan eks­ ponen “X melakukan sesuatu pada Y’ dan Y berpindah ke X” sehingga masing-masing verba tersebut dapat dieksplikasi menjadi: a) ngalap IKS 7 i) Buin pidan rencanané ngalap Pak? ‘Kapan rencananya memetik ’ 2) Usan tiang ngalap di Kemoning Pak nggih? ‘Setelah ngalap di Kemoning ya Pak.’ Eksplikasi verba ngalap : Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi). X melakukan sesuatu pada Y (dengan tangan). Y berpindah ke X pada waktu bersamaan. X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba ngalap tidak saja dipergunakan dalam ranah perkebunan kopi tetapi juga digunakan dalam ranah perkebunan yang lain. Struktur semantis verba ngalap adalah X (seseorang) melakukan sesuatu pada JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 457 Hlm. 491–514 441–468 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Y(biji kopi) dan Y berpindah ke X. Dalam ranah perkebunan kopi, untuk menyatakan aktivitas memetik tidak hanya menggunakan leksikal ngalap tetapi juga digunakan leksikon ngali-ngaliin dan muut. b) ngali-ngaliin IKS 3 i) Biasané bulan kuda mulai ngali-ngaliin kopi? ‘Biasanya bulan berapa memetik kopi.’ 2) Biasané ngali-ngaliin paling bulan Juni, Juli. Agustus muut suba? ‘Biasanya memetik bulan Juni, Juli. Bulan Agustus memetik secara keseluruhan.’ Eksplikasi verba ngali-ngaliin: Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi). X melakukan sesuatu pada Y (dengan tangan). X melakukan dengan memilih Y (buah kopi yang kuning/merah). Y berpindah ke X pada waktu bersamaan. X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba ngali-ngaliin merupakan verba yang bersifat spesifik karena hanya ada dalam ranah perkebunan kopi. Ngali-ngaliin merupakan aktivitas memetik buah kopi yang berwarna kuning atau merah. Verba ngalap juga memiliki varian yaitu muut (memetik ke­ seluruhan buah kopi) Aktivitas muut dilakukan dengan memetik seluruh biji kopi. c) muut IKS 4 1) Muut ento biasané bulan Agustus. ‘Muut itu biasanya bulan Agustus’ IKS 6 2) Di amongan Bapané jeg langsung muut. Suba masriak barak kopiné. ‘Di kebun Bapak, langsung muut. Sudah semua merah biji kopinya’ Eksplikasi verba muut : Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi). X melakukan sesuatu pada Y (dengan tangan). sesuatu terjadi pada Y (semua buah kopi). 458 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... Y berpindah ke X pada waktu bersamaan. X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba muut merupakan verba yang hanya digunakan pada ranah perkebunan kopi. Verba ini bersifat spesifik karena hanya digunakan dalam ranah perkebunan kopi. Kekhususan dari verba ini adalah terletak pada entitas yang dipetik yang dalam hal ini adalah semua biji kopi. Kegiatan muut melibatkan seseorang yaitu X dan melakukan sesuatu terhadap Y (biji kopi). Varian verba ngalap yaitu ngali-ngaliin dan muut merupakan verba yang spesifik yang hanya digunakan dalam ranah perkebunan kopi. Verba ngalap beserta variannya tidak mengalami perluasan medan makna dari makna asalinya yaitu ‘melakukan’ yang berpolisemi dengan ‘berpindah’. (6) Verba nyeruh Verba nyeruh ‘menumbuk’ merupakan verba yang hanya dipergunakan dalam ranah perkebunan kopi sehingga verba nyeruh bersifat spesifik. a) nyeruh IKS 4 1) Jani petaniné suba sing nyeruh Tut, selipa déén kopi gerangané. ‘Saat ini petani tidak nyeruh lagi Tut, diselip saja kopi yang sudah kering.’ IKS 5 2) Langah jani nyeruh. Lu jak lesung suba sing ngelah. ‘Jarang sekarang nyeruh. Alu dan lesung tidak punya.’ Eksplikasi verba nyeruh : Pada waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi kering). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. X melakukan dengan sesuatu (antan dan lesung). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 459 Hlm. 491–514 441–468 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Nyeruh mengacu pada proses menumbuk buah kopi yang sudah kering sehingga bijinya terpisah dari kulitnya. Proses ini dapat dilakukan dengan cara tradisional dengan menggunakan alu dan lesung. Kegiatan nyeruh melibatkan seseorang yaitu X dan melakukan sesuatu terhadap Y (biji kopi kering). Verba nyeruh ‘menumbuk’ memiliki struktur semantis “X melakukan sesuatu pada Y” dan “sesuatu terjadi pada Y”. Untuk menyatakan kegiatan menumbuk dalam ranah perkebunan kopi ada verba lain yang digunakan yaitu nyelip, nyelohcoh, dan ngincuk. b) nyelip IKS 1 1) Tukang selip liu, aluh jani mupaang nyelip. ‘Tukang selip banyak, gampang sekarang menyewa tukang selip.’ 2) Komang Cindra dogen kaoraain nyelip. ‘Komang Cindra saja disuruh nyelip.’ Eksplikasi verba nyelip : Selama beberapa waktu itu. X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi kering). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. X melakukan dengan alat tertentu (mesin). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Nyelip merupakan aktivitas bertujuan untuk memisahkan biji kopi yang sudah kering dengan menggunakan mesin selip. Kegiatan nyelip melibatkan seseorang (X) dan melakukan sesuatu terhadap Y (biji kopi yang sudah kering). Struktur semantis verba nyelip adalah X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi kering). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. c) celohcoh IKS 2 1) Bli Gedé ngoraang celohcoha hasilné di Beteng. ‘Bli Gede akan nyelohcoh hasil panen di Beteng’ 460 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... IKS 4 2) Enggalan tuh kopiné ane celohcoha. ‘Lebih cepat kering kopi yang dicelohcoh.’ Eksplikasi verba nyelohcoh: Pada waktu itu X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi mentah). X melakukan dengan alat tertentu (mesin selip) Karena itu sesuatu terjadi terhadap Y. (kulit kopi mengelupas). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Kegiatan nyelohcoh mengacu pada proses memisahkan biji kopi mentah dengan kulitnya dengan menggunakan mesin selip. Kegiatan ini melibatkan seseorang (X) melakukan sesuatu terhadap Y (biji kopi mentah). Struktur semantis verba nyelohcoh X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi mentah).X melakukan dengan alat tertentu (mesin selip) sehingga sesuatu terjadi terhadap Y (kulit kopi mengelupas) d) ngincuk IKS 2 1) Sakondén nyelip, incukin malu kopiné apang tawang batun kopiné apa suba tuh. ‘Sebelum nyelip ditumbuk dulu kopinya supaya tahu apakah biji kopi sudah kering.’ 2) Ngincukin da liu-liu asangkop dogén. ‘Menumbuk jangan terlalu banyak, hanya satu genggam saja.’ Eksplikasi verba ngincuk : Selama beberapa waktu itu. X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi kering) Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama X melakukan dengan alat tertentu (alu dan antan) X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Ngincuk dilakukan untuk mengetahui apakah kopi yang telah dijemur sudah benar-benar kering sehingga kopi siap diselip. Kegiatan ngincuk dilakukan secara tradisional dengan menggunakan alu dan lesung. Aktivitas ngincuk melibatkan seseorang (X) melakukan sesuatu JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 461 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Hlm. 491–514 441–468 terhadap Y (biji kopi kering). Struktur semantis verba ngincuk adalah X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi kering). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. Verba nyeruh dan variannya yaitu nyelip, nyelohcoh, dan ngincuk merupakan verba yang khusus digunakan dalam ranah perkebunan kopi. Walaupun verba tersebut merupakan verba yang spesifik, varian verba nyeruh tidak mengalami perluasan medan makna dari makna asalinya yaitu melakukan yang berpolisemi dengan terjadi. (7) Verba nyemuh Verba nyemuh ‘menjemur’ merupakan proses pengeringan yang dilakukan setelah buah kopi dipetik. Verba nyemuh ‘menjemur’ memiliki struktur semantis X melakukan sesuatu pada Y dan sesuatu terjadi pada Y sehingga masing-masing verba tersebut dapat dieksplikasi menjadi: a) nyemuh IKS 4 1) Nyemuh pedidi suba tusing ngidang. Mupaang nyemuh. ‘Menjemur sendiri sudah tidak mampu. Menyewa tukang jemur.’ 2) Yen dini nyemuh bisa abulan konden tuh kopine. ‘Kalau di sini menjemur bisa satu bulan belum tentu kering kopinya.’ Eksplikasi verba nyemuh: Selama beberapa waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi mentah). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. X melakukan itu di suatu tempat tertentu (di bawah sinar matahari). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba nyemuh merupakan verba umum yang tidak hanya digunakan dalam ranah perkebunan kopi. Nyemuh merupakan kegiatan menjemur sesuatu yang awalnya basah (atau mengandung air). Struktur semantis verba nyemuh adalah selama beberapa waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi mentah). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. 462 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... Verba nyemuh mempunyai varian yaitu ngendér.Verba ini bersifat spesifik karena hanya dipakai dalam ranah perkebunan kopi. Aktivitas ngendér mengacu pada kegiatan menjemur kopi satu hari penuh. b) ngendér IKS 6 1) Ainé ngentér nganteg jan roras, sing bani ngendér. Takut ujanan kopiné. ‘Matahari bersinar sampai jam 12, tidak berani ngendér. Takut kopinya kehujanan.’ 2) Yén di Seririt nyemuh kopi enggal gati tuh. Tiap wai ngidaang ngendér. ‘Kalau di Seririt menjemur kopi cepat sekali kering. Tiap hari bisa ngendér.’ Eksplikasi verba ngendér : Selama beberapa waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi mentah). Karena ini sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. X melakukan itu di suatu tempat tertentu (di bawah sinar matahari). X melakukan itu dalam waktu lama (satu hari). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Aktivitas ngendér melibatkan seseorang (X) dan melakukan sesuatu terhadap Y (buah kopi mentah). Struktur semantis verba ngendér adalah X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi mentah). Karena itu sesuatu terjadi pada Y pada waktu yang sama. Verba ngendér merupakan verba yang bersifat spesifik karena verba tersebut hanya digunakan dalam ranah perkebunan kopi. Walaupun verba ngendér merupakan verba spesifik, verba ngendér tidak mengalami perluasan medan makna dari makna asalinya yaitu ‘melakukan’ dan berpolisemi dengan ‘terjadi’. (8) Verba nuduk /nambunang Verba bernosi nuduk atau nambunan ‘mengumpulkan’ mengacu pada kegiatan mengumpulkan kopi. Verba nuduk/nambunang ‘me­ ngumpulkan’ memiliki struktur semantis X melakukan sesuatu pada Y dan Y berpindah ke suatu tempat sehingga nuduk/nambunang dapat dieksplikasi menjadi: JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 463 Hlm. 491–514 441–468 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana a) nuduk/nambunang IKS 3 1) Amen gulem maenggal-enggalan nuduk kopi. ‘Kalau mendung, terburu-buru mengumpulkan kopi.’ 2) Pidan taén sépanan nuduk, ujanan kopiné. Anjud kopiné. ‘Dulu pernah, terlambat nuduk, kehujanan kopinya. Hanyut kopinya.’ Eksplikasi verba nuduk : Selama beberapa waktu ini, X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi mentah). Karena itu Y berpindah ke suatu tempat (tengah halaman) pada waktu yang sama. X melakukan itu dengan alat (kanglé atau tulud). X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba nuduk/nambunang tidak hanya dipakai dalam ranah perkebunan kopi, tetapi juga digunakan dalam ranah perkebunan cengkeh dan vanili. Aktivitas nuduk/nambunang melibatkan seseorang yaitu X dan melakukan sesuatu terhadap Y (biji kopi) sehingga biji kopi berpindah ke suatu tempat. Nuduk/nambunang memiliki varian yaitu verba ngorék. Ngorék mengacu pada kegiatan mengumpulkan biji kopi mentah yang jatuh dari pohon akibat dari proses pemetikan. Kopi yang berserakan di tanah, dipungut satu persatu dan ditempatkan dalam wadah (ember). b) ngorék 1) Biasané tukang pajegé tusing ngemaang ngorékin. ‘Biasanya pembeli tidak mengizinkan ngorékin. ’ 2) Tukang alapé langsung ngorékin. ‘Pemetik kopi biasanya langsung ngorékin.’ Eksplikasi verba ngorék: Selama beberapa waktu itu, X melakukan sesuatu pada Y (buah kopi yang berserakan). Karena itu Y berpindah ke suatu tempat (ember kecil) pada waktu yang sama. X melakukan itu dengan sesuatu (tangan). 464 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... X menginginkan ini. X melakukan sesuatu seperti ini. Verba nuduk dan verba variannya ngorék tidak mengalami perluasan medan makna dari makna asalinya. Kedua verba tersebut memiliki makna asali ‘melakukan’ dan berpolisemi dengan ‘terjadi’. 4. Simpulan Hasil kajian terhadap verba yang dipakai dalam ranah ranah perkebunan kopi di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Kabupaten Buleleng, dapat ditentukan verba yang digunakan dalam ranah perkebunan kopi memiliki nosi: 1) Verba mamula berarti menanam. Verba ini merupakan verba umum karena verba tersebut tidak hanya dipakai dalam ranah perkebunan kopi. Mamula memiliki varian yaitu nimuh dan ngengsubin. Entitas yang dikenai pekerjaan pada kata mamula dan ngengsubin adalah pohon kopi. Entitas yang dikenai pekerjaan pada kata nimuh adalah biji kopi. 2) Verba numbeg bermakna mencangkul. Verba numbeg memiliki varian yaitu ngerolak dan nyangkah. Ngerolak merupakan aktivitas membuat lubang persegi panjang diantara pohon kopi sedangkan aktivitas nyangkah betujuan untuk mencabut pohon kopi yang sudah mati. Verba ngerolak dan nyangkah bersifat spesifik karena verba tersebut hanya digunakan pada ranah perkebunan kopi. 3) Verba ngetep bermakna memotong. Verba ngetep dalam ranah perkebunan kopi mempunyai varian nyeték, ngeréntés, dan nyeenin. Verba tersebut merupakan verba yang spesifik karena hanya digunakan pada ranah perkebunan kopi. Nyéték bermakna memotong pucuk pohon kopi dengan gunting. Ngeréntés bermakna memisahkan dahan dengan ranting dengan menggunakan alat (blakas). Nyeenin bermakna memotong tunas pohon kopi yang tidak bermanfaat dengan gunting sehingga pohon kopi dapat tumbuh dengan baik. 4) Verba Nyambung merupakan aktivitas menyambung tunas pohon kopi dengan tunas pohon kopi yang berjenis unggul. Verba nyambung tidak hanya dipergunakan pada ranah perkebunan kopi saja tetapi dapat digunakan pada ranah perkebunan lain seperti durian, mangga dan lain-lain. JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 465 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Hlm. 491–514 441–468 5) Nyeruh bermakna menumbuk. Tujuan nyeruh adalah me­ misahkan biji kopi dengan kulitnya dengan menggunakan alu dan lesung. Nyeruh memiliki variasi nyelohcoh, ngincuk, dan nyelip. Nyelohcoh merupakan aktivitas memisahkan kulit dan biji kopi yang masih mentah dengan menggunakan mesin selip. Ngincuk bermakna menumbuk yang bertujuan untuk mengetahui apakah biji kopi yang telah dijemur sudah kering atau belum. Nyelip bermakna memisahkan kulit kopi yang sudah kering dengan bijinya dengan menggunakan mesin selip. 6) Nyemuh ‘menjemur’ merupakan aktivitas mengeringkan biji kopi yang masih mentah. Verba nyemuh mempunyai varian ngendér. Apabila proses menjemur kopi dilakukan seharian penuh, aktivitas ini disebut dengan ngendér. Verba ngéndér merupakan verba yang spesiifik karena verba tersebut hanya dipergunakan pada ranah perkebunan kopi. 7) Ngalap ‘memetik’ dengan variannya ngali-alihin dan muut. Ngali-alihin bermakna memetik buah kopi yang berwarna kuning atau merah sedangkan muut bermakna memetik buah kopi secara keseluruhan. 8) Nuduk atau nambunang mengacu pada kegiatan mengumpul­ kan kopi yang sebelumnya dijemur. Verba nuduk/nambunan mempunyai variasi yaitu ngorék yang bermakna mengumpulkan biji kopi yang terjatuh ketika biji kopi dipetik. Verba mamula (menanam), numbeg (mencangkul), ngetep (memotong), nyambung (menyambung), nyeruh (menumbuk), dan nyemuh (menjemur) memiliki makna asali ‘melakukan’ yang berpolisemi dengan makna asali ‘terjadi’ dan memiliki eksponen X melakukan sesuatu terhadap Y, terjadi sesuatu terhadap Y”. Verba ngalap (memetik) dan verba nambungan memiliki makna asali ‘melakukan’ yang berpolisemi dengan ‘berpindah’ memiliki eksponen X melakukan sesuatu terhadap Y, Y berpindah. Hasil analisis ini dapat memperkaya kajian bahasa Bali dengan menerapkan teori MSA. Di samping itu, kajian ini juga bermanfaat sebagai salah satu bentuk pendokumentasian verba yang dipakai dalam ranah perkebunan kopi sehingga penutur bahasa Bali khususnya generasi muda mempunyai pengetahuan tentang verba yang digunakan dalam ranah perkebunan kopi. 466 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 Hlm. 491–514 411–468 Verba Bahasa Bali dalam RanahBali Perkebunan Kopi: Analisis Metabahasa... Eksistensi Budaya di Tengah Kemajemukan Budaya... Daftar Pustaka Adnyana, I Ketut Suar, Made Suwendi, Dayu Novita Yogan Dewi. (2018). “Dominasi Laki-laki pada Masyarakat Matrilineal Suku Tetun, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur Berdasar pada Penggunaan Bahasa”. Prosiding Seminar Nasional Menggali Pengalaman Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Pendidikan Ganesha. Singaraja 20-21September 2018. Halaman 4050. Citrawati, Dewa Ayu Carma. (2017). “Makna Leksikon yang Berelasi dengan Air dalam Bahasa Bali”.Tesis, Program Studi Magister Ilmu Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana. Dewi, Anak Agung Alit Novita. (2016). “Struktur dan Peran Semantik Verba Menyentuh Bahasa Bali: Kajian Metabahasa Semantik Alami”. Tesis, Denpasar: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana. Goddard, Cliff. (1996). Semantic Theory and Semantic Universal (Cliff Goddard Convensor) Cross Linguistic Syntax from Semantic Point of View (NSM Approach) 1-5 Australia. Goddard, C. Wierzbicka, Anna. (1994). Semantics and Lexical Universals. Studies In Languages Companion Series 25. Australia: University of New England. Lestari, Denok. (2018). “Verba Ujaran dalam Bahasa Bali”. Jurnal Kajian Bali. Volume 08 Nomor 02, pp. 125-142. Mahsun. (2011). Metode Penelitian Bahasa: Tahapan Strategi, Metode, dan Tekniknya. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada. Mulyadi. (1998). “Struktur Semantis Verba Bahasa Indonesia”. Tesis, Program Studi Magister Linguistik, Universitas Udayana. Parwati, Sang Ayu Putu Eny.(2018). “Verba Memasak dalam Bahasa Bali: Kajian Metabahasa Semantik Alami (MSA).” Aksara, Vol. 30, No. 1, pp.121-132. DOI: http:// dx.doi.org/10.29255. Sudipa, I Nengah. (2004).”Verba Bahasa Bali: Sebuah Kajian Metabahasa Semantik Alami”. Disertasi Program Doktor Linguistik, Universitas Udayana. Sudipa, I Nengah. (2012). “Makna Mengikat Bahasa Bali: Pendekatan Metabahasa Semantik Alami”, Jurnal Kajian Bali, Volume 02 Nomor JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020 467 I Ketut Ni Nyoman Suar Rahmawati Adnyana Hlm. 491–514 441–468 02, pp: 49-66. Sutjiati-Beratha, NL. (1997). “Basic Concepts of a Universal Semantic Metalanguage.” Linguistika Tahun IV Edisi Keenam, pp: 110-115. Sugiyono. (2020 [2008]). Metode Penelitian Pendidikan, Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Spolsky, Bernard. (2003). Sociolinguistics. (Cetakan ke-4). Oxford: Oxford University Press. Tim Penyusun Kamus. (1983). Kamus Bali-Indonesia. Denpasar: Dinas Pendidikan Dasar Provinsi Bali. Tim Penyusun Kamus. (2008). Kamus Bali-Indonesia Beraksara Latin dan Bali. Denpasar: Badan Pembina Bahasa, Aksara dan Sastra Bali bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Kota Denpasar. Widani, Ni Nyoman. (2016). “Makna Mengambil Bahasa Bali: Pendekatan Metabahasa Semantik Alami (MSA)”, Retorika: Jurnal Ilmu Bahasa, Volume 2 Nomor 1, pp. 128-141. Wierzbicka, Anna. (1996). Semantics: Prime and Universal. Oxford: Oxford University. Wierzbicka, Anna dan Cliff Goddard. (2014). Words and Meanings. Oxford: Oxford University Press. 468 JURNAL KAJIAN BALI Vol. 10, No. 02, Oktober 2020