MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Pendidikan Agama Islam pada Keluarga Pernikahan Dini di Binangun Bandar Batang Khoirunnisa UIN Walisongo Semarang khoirunnisabdr@gmail. Fihris UIN Walisongo Semarang fihris@walisongo. Abstract: Education is one of the responsibilities of parents to their children, because education occupies an important position in a person's life which is a guideline in his life, including Islamic Religious Education. Religion plays a role as a limitation in a person doing an action, so that it will affect the formation of the child's character and personality. In order to achieve a good family education, parents must be physically and psychologically prepared, therefore married couples should get married at the ideal age so that they are physically and mentally ready. Then how is Islamic Religious Education in early marriage families? The research aims to find out how Islamic Religious Education in early marriage families in Binangun Bandar Batang uses a qualitative method, namely by describing in the form of words by understanding the phenomena experienced by the research object, which is obtained based on observation, interviews, and documentation. Then it is analyzed in the form of a descriptive description. The results of this study show that Islamic religious education in early marriage families in Binangun Bandar Batang is classified into two groups, namely the santri and abangan groups. The material presented was the Qur'an, creed, worship, and morals. The methods used include the method of example, habituation, punishment, internalization, stories, hukman, advice and dialogue. The obstacles faced include: lack of knowledge of parents or educators, busy parents, technological advances, environmental Keywords: Islamic Religious Education. Family. Early Marriage. Abstrak: Pendidikan merupakan salah satu tanggung jawab orang tua kepada anak, karena pendidikan menempati kedudukan penting dalam kehidupan seseorang yang menjadi pendoman dalam kehidupannya, tak terkecuali pada Pendidikan Agama Islam. Agama berperan sebagai batasan dalam seseorang melakukan suatu tindakan, sehingga akan mempengaruhi terbentuknya karakter dan kepribadian sang anak. Demi mencapai pendidikan keluarga yang baik maka orang tua harus siap secara fisik dan psikologis, oleh karena itu hendaknya pasangan suami istri menikah pada usia yang ideal supaya siap secara fisik maupun mental. Kemudian bagaimana Pendidikan Agama Islam pada keluarga pernikahan dini? Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana Pendidikan Agama Islam pada keluarga pernikahan dini di Binangun Bandar Batang dengan menggunakan metode kualitatif yaitu dengan mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dengan memahami fenomena yang dialami objek penelitian, yang didapatkan berdasarkan kegiatan observasi, wawancara, serta dokumentasi. Kemudian dianalisis dalam bentuk uraian deskriptif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam dalam keluarga pernikahan dini di Binangun Bandar Batang diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu golongan santri dan Materi yang disampaikan yaitu Al-QurAoan, akidah, ibadah, dan akhlak. Adapun metode MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. yang digunakan diantaranya Metode keteladanan, pembiasaan, hukuman, internalisasi, kisah, hukman, nasihat dan dialog. Kendala yang di hadapi diantaranya: kurangnya pengetahuan orang tua atau pendidik, kesibukan orang tua, kemajuan teknologi, faktor lingkungan. Kata Kunci: Pendidikan Agama Islam. Keluarga. Pernikahan Dini. PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam dalam keluarga merupakan upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk membina dan mendidik anak dalam menanamkan nilai-nilai Islam. Tujuannya adalah agar anak mampu mengetahui, memahami, menghayati, dan melaksanakan syariat Islam secara Dengan pendidikan ini, diharapkan anak-anak tidak hanya memiliki pengetahuan agama yang kuat, tetapi juga mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat mencapai kesejahteraan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Di dalam pendidikan keluarga seorang anak juga belajar kepada guru sesungguhnya dari sinilah pendidikan dimulai, walaupun pendidikan keluarga tidak terstruktur seperti di lembaga pendidikan, namun pendidikan keluarga memiliki peran penting dalam pembentukan karakter, kepribadian dan akhlak masing-masing individu. 2 Keluarga mempunyai pengaruh besar terhadap pendidikan, karena pertumbuhan dan perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh pola pendidikan dalam keluarga, terutama pada masa pembentukan karakter yaitu dimulai sejak tahun pertamanya dalam kehidupan . sia pra sekola. , penanaman karakter anak dapat memperkuat identitas seseorang, oleh karena itu apa yang ditanamkan di dalam diri anak sangat membekas dan tidak mudah hilang, bahkan sulit untuk merubahnya. Masa penanaman karakter sebab pada usia tersebut. Disisi lain keluarga juga mempunyai peranan besar dalam membangun masyarakat, dikarenakan keluarga berperan menjadi sebuah pondasi dan sebagai tempat pembinaan pertama untuk mencetak dan mempersiapkan personilnya. Demi mencapai pendidikan keluarga yang baik, maka orang tua harus siap secara fisik dan psikologis sehingga taraf pendidikan menjadi salah satu tolok ukur utama dalam keberhasilan dalam mendidik anak-anak, hal ini mempengaruhi cara berfikirnya, cara bersikap, dan cara memecahkan masalah. Dengan demikian tingkat pendidikan dan kesiapan fisik dan psikologis Mahmud dkk. Pendidikan Agama Islam dalam Keluarga. Jakarta: Akademia Permata. Srifariyati. "Pendidikan Keluarga dalam Al-Qur'an (Kajian Tafsir Temati. " Jurnal Madaniyah Vol. 6 No. 2, 195110. Warsah. Idi. Pendidikan Islam dalam Keluarga (Studi Psikologis dan Sosiologis Masyarakat Multi Agama Desa Suro Bali. Bali: Tunas Gemilang Press. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. berhubungan erat dengan usia menikah pasangan suami istri, semakin dini usiai menikah maka semakin rendah tingkat pendidikan dan kematangan fisik dan psikologisnya, begitupun sebaliknya. Sehingga pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan mengenai batas minimal warga Indonesia untuk menikah yang tercantum dalam UU No. 1 Tahun 1974 pasal 7 tentang perkawinan yang berbunyi: Ayat . AuPerkawinan hanya diizinkan apabila pihak pria mencapai umur 19 (Sembilan bela. tahun dan pihak wanita sudah mencapai 16 . nam bela. tahunAy. Ayat . AuDalam hal penyimpangan dalam ayat 1, pasal ini dapat meminta dispensasi kepada pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh kedua orang tua pihak pria atau wanitaAy. Undang-Undang RI No. Kemudian direvisi menjadi UU nomor 16 tahun 2019 atas perubahan UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan yang berbunyi: perkawinan hanya diizinkan apabila pria dan wanita sudah mencapai umur 19 . embilan bela. Namun demikian praktik pernikahan dini di Indonesia masih cukup tinggi, hal ini terjadidisebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu faktor rendahnya pendidikan, masalah ekonomi, sosial dan budaya, kemauan sendiri. MBA (Marriged by Acciden. , sosial media/ teknologi, faktor tempat tinggal dan sebagainya. 5 Fenomena ini masih marak terjadi tidak hanya terjadi pada masyarakat desa tapi pernikahan dini juga terjadi pada masyarakat dikota besar, salah satunya yang terjadi di Desa Binangun. Kecamatan Bandar. Kabupaten Batang. Penelitian tentang pendidikan Agama Islam pada keluarga yang menikah dini penting untuk dilakukan karena pernikahan dini sering kali menghadirkan tantangan dalam hal kematangan emosional dan kemampuan mendidik anak, terutama dalam aspek keagamaan. 6 Dalam situasi pernikahan yang terjadi pada usia muda, pasangan mungkin belum sepenuhnya siap untuk menjalankan peran sebagai orang tua, termasuk dalam menanamkan nilai-nilai agama Islam kepada anak-anak mereka. 7 Selain itu, pendidikan agama dalam keluarga sangat berpengaruh terhadap pembentukan karakter anak sejak dini, yang nantinya akan mempengaruhi kehidupan spiritual, moral, dan sosial mereka di masa depan. 8 Oleh karena itu, memahami bagaimana Undang-undang Republik Indonesia Nomor 16 tahun 2019 tentang Perubahan atas Undang-Undang nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan. Octaviani. F Nurwati. Dampak Pernikahan Usia Dini Terhadap Perceraian Di Indonesia. Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial HUMANITAS. Vol. 2 No. 2, 33-52. Amato. , & Kane. Life-course pathways and the psychosocial adjustment of young adult Journal of Family Issues, 32. , 400-426. Saebani. Perkawinan Usia Dini dalam Perspektif Hukum Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hastuti. Peranan pendidikan agama dalam keluarga terhadap pembentukan karakter anak. Jurnal Pendidikan Islam, 6. , 45-56. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. keluarga yang menikah dini mendidik anak-anaknya dalam hal agama dapat memberikan wawasan penting bagi upaya meningkatkan kualitas pendidikan agama di kalangan keluarga muda dan berkontribusi pada kesejahteraan generasi berikutnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Pendidikan Agama Islam keluarga pernikahan dini di Binangun Bandar Batang, yang akan mengungkap materi, metode, serta kendala yang dihadapi orang tua dalam proses mendidik anaknya. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif, dimana peneliti mendeskripsikan dalam bentuk kata-kata dengan memahami fenomena yang dialami objek penelitian, yang didapatkan berdasarkan kegiatan observasi, wawancara, serta dokumentasi. Kemudian dianalisis dalam bentuk uraian deskriptif. 9 Lokasi dari penelitian ini bertempat pada Desa Binangun. Kecamatan Bandar. Kabupaten Batang. adapun teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun sumber data pada penelitian ini yaitu keluarga yang menikah dini, dan didukung data dari pemerintah Desa Binangun, dan Pemerintah KUA Kecamatan Bandar. Kemudian menggunakan teknik uji keabsahan data berupa teknik triangulasi data yang terdiri dari triangulasi sumber, triangulasi teknik dan triangulasi waktu. 11 Kemudian pada Teknik analisis data dilakukan secara induktif, yaitu tidak dimulai dengan deduksi teori tetapi dimulai dengan fakta empiris yang mana peneliti terjun ke lapangan, mempelajari, menganalisis menafsirkan dan menarik kesimpulan yang ada di lapangan dan dari hasil analisis tersebut akan diperoleh hasil penelitian. Adapun langkah-langkah analisis data sebagai berikut: . reduksi data, . penyajian data dan . kesimpulan atau verifikasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan pengumpulan data pada tebel 1 dapat diperloleh informasi demografis informan yang meliputi inisial nama, golongan keluarga, umur menikah, dan pekerjaan informan. Data ini dapat memberikan gambaran kondisi informan pada saat dilakukan penelitian. Anggito. Albi dan Johan Setiawan. Metodologi Penelitian Kualitatif. Sukabumi: CV Jejak. Siyoto. Sandu dan M. Ali Sodik. Dasar Metodologi Penelitian. Sleman: Literasi Media Publishing. Sugiyono. Metode Penelitian Kualitatif. Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Siyoto. Sandu dan M. Ali Sodik. Dasar Metodologi Penelitian. Sleman: Literasi Media Publishing. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Tabel 1. Daftar Demografi Informan Inisial Kode Keluarga Jenis Kelamin Golongan Santri Abangan Umur Menikah Pekerjaan Pedagang Oo Pedagang dan Serabutan Oo Pedagang Oo NKi Pedagang Ibu rumah Ibu rumah Penjahit Ibu rumah NKh K10 Oo Oo Ibu rumah Ibu rumah Keterangan: K: Keluarga. L: Laki-laki. P: Perempuan Pendidikan Agama Islam pada Keluarga Pernikahan Dini di Binangun Bandar Batang Keluarga memiliki kedudukan paling penting dalam proses pendidikan, dimana orang tua merupakan pendidik pertama dan paling utama dalam sebuah keluarga. Keluarga diibaratkan sebagai akar yang menjalar dan membentuk suatu masyarakat, bangsa dan sebuah peradaban yan harmonis serta berkesinambungan. 13 Namun jika orang tua yang menikah dini secara umum pasti putus sekolah, sehingga terkadang belum mampu memperhatikan pendidikan dasar anaknya. Salah satunya yaitu dibidang Pendidikan Agama Islam yang mana Pendidikan Agama Islam sangatlah penting bagi umat muslim untuk diperkenalkan kepada anaknya sejak usia dini, karena Pendidikan Agama Islam berperan penting dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak, mengingat dewasa ini, banyak sekali fenomena kemerosotan moral dan akhlak pada anak. Salim. Moh Haitami. Pendidikan Agama dalam Keluarga: Revitalisisasi Peran Keluarga dalam Membangun Generasi Bangsa yang Berkarakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Nuwa. Gisela. Dampak Sosial Pernikahan Dini (Studi Kasus Di Desa Egon Gahar. Kecamatan. Mapitara. Kabupaten Sikka. Vol. 1 No. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti materi Pendidikan Agama Islam pada keluarga pernikahan dini terbagi menjadi empat aspek yaitu: aspek Al-QurAoan, aspek akidah, aspek ibadah dan aspek akhlak. Metode yang di terapkan, serta kendala yang di hadapi orang tua dalam mendidik anak. Kemudian untuk mempermudah penjabaran materi, keluarga responden akan diklasifikasikan menjadi dua golongan keluarga yaitu keluarga santri dan keluarga abangan. Menurut Dr. Simuh, keluarga santri merupakan keluarga yang taat menjadikan perintah agama terutama menjalankan shalat lima waktu baik pernah menjadi pesantren atau tidak atau dengan kata lain yaitu keluarga yang sudah menyadari dan memperhatikan pentingnya Pendidikan Agama Islam bagi keluarganya secara menyeluruh. Sedangkan keluarga abangan merupakan keluarga yang dianggap hanya sekedar menganut agama Islam namun belum menaati perintah- perintah agama mereka terutama menjalankan shalat 5 waktu atau dengan kata lain yaitu keluarga yang belum menyadari dan memperhatikan Pendidikan Agama Islam bagi kelurganya secara menyeluruh. Pendidikan Agama Islam pada Keluarga Santri Pendidikan dalam keluarga santri para orang tua berusaha menuntun dan mendidik anak agar menjadi anak yang shalih dan shalihah yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Pada umumnya keluarga santri, pengajaran Pendidikan Agama Islam pada anak lebih diutamakan oleh orang tua masing-masing, namun anak juga diberikan pendidikan yang lebih mendalam melalui guru ngaji. TPQ (Tempat Pembelajaran Al-QurAoa. Madin (Madrasah diniya. atau pondok Hal terseibut dilakukan dengan harapan supaya anak memiliki bekal ilmu agama yang lebih mendalam daripada orang tuanya. Adapun materi yang diajarkan oleh keluarga santri yaitu mengenai AlqurAoan, akidah berupa pengenalan rukun iman dan Islam, ibadah harian . holat, puas. , doa harian, dan juga akhlakul karimah yang mencakup akhlak dalam bertutur kata atau dalam bertindak. Salim. Moh Haitami. Pendidikan Agama dalam Keluarga: Revitalisisasi Peran Keluarga dalam Membangun Generasi Bangsa yang Berkarakter. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media Fathoni. Adib. Santri dan Abangan dalam Kehidupan Sehari-hari. Jurnal at-Taqaddum. Vol 4. Fathoni. Adib. Santri dan Abangan dalam Kehidupan Sehari-hari. Jurnal at-Taqaddum. Vol 4. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Responden pertama yaitu K1 materi Pendidikan Agama Islam yang paling ditekankan adalah aspek ibadah . holat, puasa, shodaqo. dan Al-QurAoan. Dalam pemberian materi pada ranah kognitif beliau serahkan kepada suaminya yang dianggap lebih mampu dalam memberikan pengertian dan pemahaman kepada anaknya, karena suami beliau merupakan seorang guru ngaji di daerahnya. Kemudian pada ranah afektifnya beliau dan suami berusaha membiasakan anak supaya berperilaku dan bertutur kata baik, melaksanakan sholat 5 waktu, membaca Al-QurAoan dan pembiasaan baik lainnya. Selain itu dalam ranah psikomotoriknya beliau mencontohkan untuk melakukan sholat 5 waktu, membaca Al-QurAoan dan mencontohkan akhlak yang baik kepada Selain pendidikan dari beliau dan suami, ibu Nuripah juga menyuruh agar anaknya belajar di Madin dan pondok pesantren agar anaknya memiliki ilmu agama yang lebih luas. Responden kedua yaitu K7. Materi Pendidikan Agama Islam yang paling ditekankan adalah materi akhlak. Pada ranah kognitif beliau dan suami menjelaskan sendiri mengenai materi ibadah, akidah dan akhlak, namun jika materi Al-QurAoan beliau membiarkan anaknya untuk belajar kepada guru ngaji bersama dengan teman-teman, namun setelah pulang mengaji beliau mengajak anaknya untuk mereview dan mempersiapkan untuk belajar Al-QurAoan hari selanjutnya. Kemudian pada ranah afektifnya beliau membiasakan anak untuk belajar Al-QurAoan setiap hari, sholat 5 waktu dan membiasakan agar anak berutur kata baik dan membaca doAoa sebelum melakukan sesuatu. Kemudian dalam ranah psikomotoriknya beliau juga memberikan contoh dan teladan untuk membaca Al-QurAoan, sholat 5 waktu, dan akhlak yang baik kepada anaknya. Selain itu, meskipun beliau sudah mampu memberikan ilmu agama dengan baik namun beliau tetap menyuruh anaknya supaya belajar di madrasah diniyah supaya lebih faham materi agama. Responden ketiga yaitu K10, materi Pendidikan Agama Islam yang paling ditekankan yaitu materi akhlak. Pada ranah kognitif beliau dan suami mengajarkan anak terlebih dahulu dasarnya setelah itu beliau menyerahkan kepada pihak lain seperti ustaz atau guru ngaji. Pada ranah afektifnya beliau membiasakan anak setiap sore disuruh ngaji dan sekolah madrasah diniyah, sholat, puasa dan berakhlakul karimah, selain itu jika anak tidak melaksanakan perintahnya beliau akan menakut-nakuti anak akan kerja di Jakarta. Kemudian dari ranah psikomotoriknya beliau sudah baik, beliau sebagai orang tua berusaha memberikan teladan yang baik seperti melaksanakan sholat 5 waktu, membaca Al-QurAoan setiap hari dan melaksanankan puasa di bulan Ramadhan. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Pendidikan Agama Islam pada Keluarga Abangan Dalam keluarga abangan. Pendidikan Agama Islam anak hampir sepenuhnya di serahkan kepada guru ngaji atau guru di sekolah, walaupun tidak menutup kemungkinan orang tua juga mengajarkan materi agama kepada anaknya. hal ini dilatar belakangi oleh kurangnya pengetahuan orang tua, kurangnya motivasi, dan juga terbatasnya waktu bersama anak dikarenakan orang tua disibukkan mencari nafkah, seperti keluarga Responden pertama yaitu keluarga bapak K2, materi Pendidikan Agama Islam yang paling ditekankan yaitu materi akhlak. Dikarenakan beliau merasa pengetahuan agamanya terbatas sehingga dalam ranah kognitif beliau serahkan kepada pihak lain seperti ustaz atau guru ngaji yang beliau anggap lebih mampu dalam mengajar materi agama kepada anaknya. Pada ranah afektif walaupun beliau belum mampu mengajarkan kepada anak namun beliau tetap berusaha untuk membiasakan anaknya untuk belajar ngaji, melaksanakan sholat dan membiasakan anak supaya belajar di TPQ serta mengajarkan kepada anak supaya bertutur kata dan berperilaku sopan. Kemudian dari ranah psikomotoriknya beliau juga menyerahkankan kepada pihak TPQ atau guru Meskipun beliau belum mampu memberikan pendidikan agama yang baik, namun beliau tetap berusaha supaya anaknya tetap belajar agama Islam, dengan menyuruh anaknya belajar AlQurAoan kepada ustaz dan sekolah madrasah diniyah supaya anaknya belajar agama Islam dengan Responden kedua K3, materi Pendidikan Agama Islam yang paling ditekankan yaitu materi akhlak. Pada ranah kognitif beliau serahkan kepada pihak lain seperti ustaz atau guru ngaji yang beliau anggap lebih mampu dalam mengajar materi agama kepada anaknya. Namun beliau tetap berusaha memberikan pendidikan agama pada ranah afektifnya yaitu dengan beliau membiasakan anak ngaji, sholat, puasa dan berakhlakul karimah, selain itu jika anak tidak ngaji akan di marahi dan tidak akan dikasih uang jajan. Kemudian dari ranah psikomotoriknya beliau mencontohkan kepada anaknya untuk sholat, mengaji, puasa dan berakhlakul karimah. Selain itu untuk menyempurnakanpemahaman anak tentang ilmu agama, beliau juga memasukkan anaknya kedalam pondok pesantren. Responden ketiga yaitu K4, materi yang paling ditekankan yaitu materi akhlak. Setiap harinya di mulai dari pagi hingga sore beliau menjajakan dagangannya, kemudian kalau malam beliau biasanya mencari dagangan untuk diperjual belikan di hari berikutnya. Sehingga beliau MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. dapat betemu anaknya ketika waktu istirahat saja. Sehingga tugas orang tua sebagai pendidik tidak Beliau mempercayakan pendidikan anak baik pada ranah kognitif, afektif maupun psikomotoriknya kepada pihak lain seperti guru ngaji, ustaz maupun kyai di pondok pesantren. Walaupun beliau selalu disibukkan dengan pekerjaannya beliau tetap memperhatikan pendidikan agama anaknya seperti jika anaknya tidak mau berangkat mengaji beliau mengancam akan menyita hapenya sehingga anak takut dan berangkat sholat jamaah dan ngaji. Responden keempat yaitu K5 materi yang paling ditekankan yaitu materi Al-QurAoan. Pada ranah kognitifnya beliau hanya mengajarkan sebisanya dan sisanya beliau serahkan kepada ustaz atauguru ngajinya. Kemudian dari segi afektifnya beliau membiasakan kegiatan kegiatan seperti kegiatan keluarga lainnya. Kemudian dari ranah motoriknya beliau melaksanakan sholat 5 waktu, menjalankan puasa ramadhan, mengaji Al-QurAoan sehingga anaknya akan mencontoh ibunya. Selain materi yang di sampaikan semampunya beliau tetap berusaha memberikan pendidikan yang terbaik untuk anaknya dengan memasukkan anaknya kedalam TPQ dan pondok pesantren. Responden kelima yaitu K6, materi yang paling ditekankan yaitu materi akhlak. Pada ranah kognitif beliau serahkan kepada pihak lain seperti ustaz atau guru ngaji karena beliau merasa tidak mampu untuk menjelaskan materi kepada anak. Namun beliau tetap berusaha memberikan pendidikan agama pada ranah afektifnya yaitu dengan beliau membiasakan anak ngaji, sholat, puasa zakat dan berakhlakul karimah, selain itu beliau juga memberikan hukuman jika anak tidak ngaji yaitu dengan memotong uang jajan, juga pada ranah psikomotoriknya beliau mencontohkan kepada anaknya untuk sholat, mengaji, puasa dan berakhlakul karimah. Selain itu beliau juga memasukkan anaknya ke TPQ. Responden keenam yaitu K8, materi Pendidikan Agama Islam yang paling ditekankan adalah materi ibadah. Pendidikan dalam keluaga K8 sudah cukup baik karena suami beliau dulunya seorang santri. Pada ranah kognitif beliau mengajarkan sebisanya setelah itu beliau menyerahkan kepada pihak lain seperti ustaz atau guru ngaji. Pada ranah afektifnya beliau sudah membiasakan anak setiap sore disuruh siap-siap ngaji dan sekolah madrasah diniyah, sholat, puasa dan berakhlakul karimah, jika anak tidak melakukan kewajibannya beliau berbicara dari hati ke hati agar anak tergugah hatinya kemudian menjalankan kewajibannya. Kemudian dari ranah psikomotorik beliau sudah baik, seperti memberi contoh untuk sholat 5 waktu dan puasa Ramadhan. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Responden ketujuh yaitu K9, materi Pendidikan Agama Islam yang paling ditekankan yaitu materi ibadah. Pada ranah kognitif beliau selain menyerahkan kepada pihak lain seperti ustaz atau guru beliau juga tetap berusaha meberikan materi sebisanya. Pada ranah afektifnya beliau membiasakan anak ngaji, sholat, puasa dan berakhlakul karimah, selain itu jika anak tidak ngaji anaknya akan di nasihati. Kemudian dari ranah psikomotoriknya beliau belum cukup baik dalam memberikan contoh anaknya pada materi sholat dan ngaji namun beliau tetap mengajari anaknya supaya anak memiliki akhlakul karimah. Materi Pendidikan Agama Islam pada Keluarga Pernikahan Dini di Binangun Bandar Batang Berdasarkan pemaparan deskripsi data diatas dapat kita ketahui bahwa materi Pendidikan Agama Islam pada keluarga pernikahan dini di Binangun Bandar Batang terbagi menjadi empat Aspek pertama yaitu Al-QurAoan, dalam aspek ini anak-anak dalam keluarga menikah dini di Binangun sudah belajar Al-QurAoan dengan baik, orang tua sudah membiasakan anak untuk selalu belajar Al-QurAoan sejak dini. Dalam proses pendidikan Al-QurAoan ada yang diajarkan langsung oleh orang tua, dan ada yang dititipkan kepada kepada guru ngaji namun setelah pulang direview kembali oleh orang tua, bahkan ada pula yang seluruhnya dipasrahkan kepada pihak lain seperti guru ngaji atau ustaz. Aspek kedua yaitu aspek akidah, pada aspek ini hanya beberapa keluarga yang sudah memberikan materi akidah dengan baik, dikarenakan ada keluarga yang mengajarkan materi akidah dilakukan oleh orang tua, adapun keluarga lainnya menyerahkan pendidikan pada materi akidah kepada ustaz. Aspek ketiga yaitu aspek ibadah, pada aspek ini orang tua sudah membiasakan anak untuk melaksanakan ibadah wajib seperti sholat 5 waktu dan puasa ramadhan, selain membiasakan anak untuk melaksanakan zakat, para orang tua juga memberikan teladan dengan harapan anak mau mengikuti yang dilakukan orang tuanya. Selain itu beberapa orang tua juga memperkenalkan kepada anak tentang membayar zakat dengan cara mengajak anaknya ketika membayar zakat. Aspek keempat yaitu aspek akhlak, pada aspek ini anak sudah diajarkan tatakrama dalam bertutur kata dan berperilaku. Pemberian materi pada aspek ini sudah cukup baik, yang mana para orang tua mampu memberikan materi akhlak, namun anak-anak juga mendapatkan materi akhlak MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. pada sekolah. Tujuan para orang tua dalam pemberian materi akhlak ini diantaranya supaya anak mengetahui unggah-ungguh dalam melakukan sesuatu, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Hal ini di buktikan dengan anak-anak yang bisa berkomunikasi dengan bahasa jawa karma, berpamitan kepada orang tua sebelum berangkat sekolah, membaca doAoa sebelum melakukan sesuatu, mampu berkata jujur dan membantu pekerjaan orang tua. Metode Pendidikan Agama Islam pada Keluarga Pernikahan Dini di Binangun Bandar Batang Keberhasilan orang tua dalam mendidik anak dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya tingkat kecerdasan dan kemampuan anak, pengetahuan yang orang tua miliki, faktor lingkungan dan juga tentunya metode yang digunakan untuk mendidik anak. Berikut ini beberapa metode yang diterapkan dalam Pendidikan Agama Islam pada keluarga pernikahan dini di Binangun Bandar Batang: Metode Keteladanan Metode keteladanan merupakan metode yang dilakukan dengan menjadi panutan yang baik kepada anak baik dalam bertutur kata maupun perbuatannya, dimana orang tua menjadi model utama yang akan di contoh oleh anaknya. metode ini diterapkan oleh keluarga santri maupun abangan. 18 Misalnya yaitu memberikan contoh yang baik kepada anaknya seperti menjalankan sholat 5 waktu, puasa ramadhan, dan membaca Al-QurAoan. Metode Pembiasaan Metode pembiasaan merupakan cara yang digunakan untuk mendidik anak dengan cara melakukan suatu kegiatan yang sama dan secara terus menerus, sehingga jika anak sudah bisa melakukan hal tersebut secara terus menerus maka akan menjadi karakter atau perilaku anak. Misalnya yaitu membiasakan anak supaya melaksanakan kewajiban seperti solat, puasa dan Helmawati. Pendidikan Keluarga: Teoretis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Helmawati. Pendidikan Keluarga: Teoretis dan Praktis. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Metode Kisah Metode kisah merupakan metode mendidik anak dengan cara memberikan kisah kepada anak seperti kisah yang terdapat di dalam Al-QurAoan, kisah para nabi dan rasul, kisah para sahabat, kisah orang saleh dan kisah lainnya. 20 Misalnya menceritakan kisah teladan dari 25 nabi dan rasul. Metode Hukuman Orang tua juga berhak memberikan hukuman kepada anak jika anak melakukan tindakan buruk, namun hukuman yang diberikan harus melalui beberapa tahapan, pada awalnya anak diberi nasihat, jika masih tetap dilakukan maka bisa didiamkan supaya anak bisa merenungi kesalahannya, namun jika masih dilakukan maka anak berhak mendapatkan hukuman sesuai dengan perbuatan yang dilakukan secara adil. 21 Misalnya memberikan nasihat, memberikan hukuman potongan uang jajan, atau penyitaan handphone jika anak tidak melaksanakan Perbedaan Pendidikan Agama Islam pada Keluarga Santri dan Abangan dalam Keluarga Pernikahan Dini di Binangun Bandar Batang Dari deskripsi data diatas, kita dapat menarik kesimpulan bahwa terdapat perbedaan antara Pendidikan Agama Islam yang di berikan oleh keluarga santri dan abangan baik dari segi materi maupun metode. Pada keluarga santri orang tua berperan besar pada pendidikan agama anak baik dari ranah kognitif, afektif dan psikomotoriknya, walaupun anaknya juga di masukkan kedalam lembaga pendidikan non formal. Berbeda dengan keluarga abangan orang tua cenderung langsung menyerahkan pendidikan anak pada pihak lain seperti memasukkan kedalam Madin. TPQ dan pondok pesantren dan mempercayakan pendidikan anaknya baik dari segi ranah kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Kemudian dari segi metodenya, jika pada keluarga santri metode yang digunakan cukup variatif, begitu juga dengan keluarga abangan tidak begitu berbeda dengan keluarga santri namun metode yang digunakan cenderung sedikit, bahkan ada yang hanya menggunakan 2 metode saja. Helmawati. Helmawati. MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. Kendala pada Pendidikan Agama Islam pada Keluarga Pernikahan Dini di Binangun Bandar Batang Dalam proses mendidik anak supaya menjadi anak yang shaleh shalehah, berbakti kepada kedua orang tua, serta berguna bagi dirinya, keluarga dan masyarakat tentunyatidak berjalan selalu mulus, terkadang banyak kendala-kenadala yang dihadapi oleh orang tua dan keluarga selaku pendidik dalam keluarga. Adapun kendala-kendala yang terjadi dalam proses Pendidikan Agama Islam dalam keluarga perikahan dini di Binangun Bandar Batang diantaranya yaitu: Kurangnya Pengetahuan Orang Tua atau Pendidik Dalam proses mendidik anak, seorang pendidik perlu memiliki kecakapan yang bagus dalam mendidik anak, namun karena orang tua yang menikah dini menikah pada usia sekolah mengharuskan putus sekolah atau tidak sekolah menyebabkan latar belakang pendidikannya kurang, sehingga berimbas pada minimnya pengetahuan yang dimiliki orang tua. Dari hasil wawancara yang didapatkan, para orang tua yang menyerahkan pendidikan anaknya kepada pihak lain yang di anggap lebih mampu memberikan pendidikan agama Islam yang baik seperti guru ngaji dan ustaz di Madin. TPQ mengaku bahwa lebih baik menyerahkan pendidikan kepada pihak lain karena orang tua tidak mampu memberikan Pendidikan Agama Islam dengan baik karena minimnya pengetahuan yang dimiliki dan orang tua hanya bisa memberikan materi sesuai yang di ketahuinya. Kesibukan Orang Tua Orang tua memiliki tanggung jawab utama menafkahi dan mendidik anak, namun karena orang tua dihadapkan dengan situasi ekonomi yang sulit, terkadang orang tua lebih mementingkan mencari nafkah dengan alasan supaya keluarga bisa makan dan mengenyam pendidikan dengan baik, oleh karena itu banyak orang tua yang sibuk bekerja lebih memilih memasukkan anaknya kedalam pendidikan non formal seperti madin. TPQ, pondok pesantren dengan harapan anak tetap mendapatkan pendidikan yang baik. Kemajuan Teknologi Kemajuan teknologi memiliki dampak yang baik dalam kehidupan jika digunakan dengan tepat, namun teknologi mempunyai dampak buruk jika digunakan tidak tepat. Sebut saja seperti MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. adanya smartphone jika digunakan dengan tepat seperti belajar maka akan berdampak sangat baik bagi anak, namun beda hal nya jika digunakan tanpa adanya batasan waktu dan digunakan untuk hal yang kurang bermanfaat sepertu bermain game atau menonton film maka akan menyebabkan anak bisa lalai dan malas melkukan kewajibannya seperti solat, mengaji Al-QurAoan dan kegiatan positif lainnya. Faktor Lingkungan Lingkungan yang menjadi tempat tumbuh kembang anak memiliki pengaruh yang besar dalam proses pendidikan anak, hal ini dikarenakan tujuan pendidikan dapat dicapai jika anak berada pada lingkungan yang baik. Seperti jika anak tumbuh dan berkembang pada lingkungan baik keluarga atau lingkungan sekitar dengan orang-orang yang rajin maka anak akan tumbuh menjadi pribadi yang rajin, dan sebaliknya jika anak tumbuh dan perkembang pada lingkungan orang- orang yang malas anak akan menjadi malas. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai Pendidikan Agama Islam dalam keluarga pernikahan dini di Binangun Bandar Batang di atas, dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Agama Islam dalam keluarga pernikahan dini di Binangun Bandar Batang diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu golongan santri dan golongan abangan. Materi yang di sampaikan terdiri dari empat aspek yaitu aspek Al-QurAoan, aspek akidah, aspek ibadah, dan aspek akhlak. Kemudian jika dilihat dari sikap keluarga pernikahan dini dalam mendidik anak sudah baik karena orang tua sudah sangat mendukung bagi pendidikan agama anaknya. Dalam proses mendidik anak terdapat perbedaan, pada keluarga santri pendidikan lebih fokus di berikan oleh orang tua dan kemudian dibantu oleh pihak lain seperti lembaga pendidikan non formal seperti madin. TPQ, dan pondok pesantren. Sedangkan pada keluarga abangan secara umum orang tua memilih pihak lembaga pendidikan non formal sebagai pendidik anak dan memberikan materi semampu orang tua. Adapun metode yang diterapkan pada keluarga santri diantaranya Metode keteladanan, pembiasaan, hukuman, kisah, hukuman. Adapun metode yang diterapkan oleh keluarga abangan tidak jauh beda dengan keluarga santri namun lebih sedikit metode yang diterapkan, seperti metode metode pembiasaan, hukuman, teladan. Kendala yang di hadapi oleh orang tua dalam menyampaikan Pendidikan Agama Islam kepada anak diantaranya MAAoALIM: Jurnal Pendidikan Islam Volume 5. Nomor 2. Desember 2024 DOI: 10. 21154/maalim. sebagai berikut: kurangnya pengetahuan orang tua atau pendidik, kesibukan orang tua, kemajuan teknologi,dan faktor lingkungan. DAFTAR PUSTAKA