Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan VOLUME 6 NOMOR 1. MARET 2025 https://ejournal. id/index. php/jurnalalurwatulwutsqo/ ISSN: 2721-5504 KONSEP PENGEMBANGAN KURIKULUM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) DI MTs PERSIS SADANG Heri Mulyadi. Maman Sumpena IAI Persis Garut IAI Persis Garut Email : herimulyadi23@staipersisgarut. id, mamansumpena23@staipersisgarut. Abstract This study aims to analyze the Islamic Religious Education (PAI) curriculum development model at MTs Persis Sadang and its implementation strategy. The approach used is qualitative with descriptive methods, through interviews, participatory observation, and document review. The results showed that curriculum development in this madrasah uses a participatory or collaborative curriculum model, in which the Curriculum Development Team (TPK) prepares a draft curriculum that is discussed, socialized, ratified, and implemented. MTs Persis Sadang adapts the Ministry of Religious Affairs curriculum with the distinctive curriculum of Jam'iyyah Persis, creating a unique education system. The learning load is lighter than the curriculum of jam'iyyah Persis but greater than the Ministry of Religion's curriculum, so that students can learn optimally. The PAI material is broader and more in-depth than the government The recommendations of this study emphasize the need for periodic evaluation to ensure the balance between the pesantren curriculum and the national curriculum, as well as strengthening the implementation strategy to be more effective in achieving the madrasah vision. Keywords: Curriculum Development. Islamic Religious Education. MTs Persis Sadang. Participatory Curriculum. Pesantren Curriculum Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis model pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di MTs Persis Sadang serta strategi implementasinya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif, melalui wawancara, observasi partisipatif, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kurikulum di madrasah ini menggunakan model kurikulum partisipatif atau kolaboratif, di mana Tim Pengembang Kurikulum (TPK) menyusun draf kurikulum yang didiskusikan, disosialisasikan, disahkan, dan diimplementasikan. MTs Persis Sadang mengadaptasi kurikulum Kementerian Agama dengan kurikulum khas jamAoiyyah Persis, menciptakan sistem pendidikan yang unik. Beban belajar lebih ringan dibandingkan dengan kurikulum jamAoiyyah Persis namun lebih besar dari kurikulum Kemenag, sehingga santri dapat belajar secara optimal. Materi PAI lebih luas dan mendalam dibandingkan dengan standar pemerintah. Rekomendasi penelitian ini menekankan perlunya evaluasi berkala untuk memastikan keseimbangan antara kurikulum pesantren dan kurikulum nasional, serta penguatan strategi implementasi agar lebih efektif dalam mencapai visi madrasah. Kata Kunci: Pengembangan Kurikulum. Pendidikan Agama Islam. MTs Persis Sadang. Kurikulum Partisipatif. Kurikulum Pesantren PENDAHULUAN Pengembangan kurikulum PAI di Madrasah perlu memperhatikan kebutuhan akan integrasi antara ilmu pengetahuan agama dengan ilmu pengetahuan umum. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya berkompeten dalam bidang keislaman, tetapi juga memiliki pemahaman yang baik tentang ilmu pengetahuan umum yang diperlukan dalam kehidupan profesional mereka di masa depan Abdullah . Dalam konteks ini, tantangan lainnya adalah memastikan bahwa kurikulum PAI di Madrasah dapat mengakomodasi keragaman masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, budaya, dan latar belakang Hal ini penting untuk menjaga keadilan dalam pendidikan Islam dan untuk memastikan bahwa semua santri, tanpa memandang latar belakang mereka, dapat menerima pendidikan agama Islam yang berkualitas, demikian yang terdapat dalam Panduan Pengembangan Kurikulum PAI Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia . Pengembangan kurikulum dalam konteks pendidikan agama Islam di madrasah Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 tidak hanya mencakup penyusunan materi ajar yang relevan, tetapi juga menerapkan berbagai jenis pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pendidikan agama Islam. Pemilihan jenis pengembangan kurikulum harus disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan setiap madrasah demi mencapai efektivitas pembelajaran yang maksimal. Penelitian terdahulu mengenai pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah telah mengungkapkan berbagai pendekatan dan model yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Nurhayati . , pengembangan kurikulum PAI yang berorientasi pada kompetensi dan karakter siswa dapat memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman dan penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari siswa (Nurhayati, 2. Selain itu, penelitian oleh Hasanah . menunjukkan bahwa integrasi antara kurikulum nasional dan kearifan lokal dapat memperkaya materi pembelajaran dan membuatnya lebih relevan dengan konteks sosial-budaya siswa. Pokok bahasan utama dalam penelitian-penelitian tersebut mencakup: . Pendekatan Berbasis Kompetensi: Penekanan pada pengembangan kompetensi siswa dalam aspek kognitif, afektif, dan . Penguatan Karakter: Integrasi nilai-nilai karakter dalam pembelajaran PAI untuk membentuk siswa yang berakhlak mulia. Integrasi Kearifan Lokal: Penggunaan kearifan lokal dalam materi pembelajaran untuk meningkatkan relevansi dan penerimaan siswa. Metode Pembelajaran Aktif: Penggunaan metode pembelajaran yang mendorong partisipasi aktif siswa, seperti diskusi kelompok dan pembelajaran berbasis proyek. Berdasarkan hasil wawancara dengan salah satu pendiri dan penasihat Pesantren Persis Sadang Al-Ustadz Asep Suryana AF. MTs Persis Sadang telah berdiri sejak 1987 terus bertahan dengan ciri khasnya meskipun dalam situasi dan persaingan dengan lembaga pendidikan lain yang semakin kompetitif dan maju. Salah satu unsur yang penting dalam pendidikan adalah kurikulum terutama kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) mengingat MTs Persis Sadang adalah subelemen dari Pesantren Persis Sadang. Pengembangan kurikulum PAI penting dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam sebagai basis utama pengembangan kurikulum di pesantren. Fokus pembahsan bermuara pada rumusan mengenai bagaimana konsep dan tantangan utama dalam pengembangan kurikulum PAI di MTs Persis Sadang serta bagaimana strategi efektif yang dapat dikembangkan untuk mengatasi tantangan tersebut. Hal yang menjadi unsur pembeda dari penelitian sebelumnya adalah terletak pada konten atau materi pengembangan PAI yang lebih luas dan mendalam serta beban belajar yang lebih banyak atau lebih berat. METODE PENELITIAN Metodologi penelitian ini akan menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif. Sedangkan keknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan, seperti Kepala Madrasah. Tim Pengembang Kurikulum (TPK) dan guru PAI. Selain itu, observasi partisipatif akan dilakukan untuk memahami secara langsung dinamika pembelajaran PAI di lingkungan madrasah MTs Persis Sadang. Analisis dokumen seperti silabus dan materi kurikulum PAI akan menjadi fokus utama untuk mengevaluasi keberhasilan dan tantangan dari pengembangan kurikulum PAI di madrasah. Bogdan dan Biklen . menjelaskan bahwa wawancara mendalam dilakukan dengan menggunakan pertanyaan terbuka untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang pengembangan kurikulum. Selanjutnya dengan melakukan observasi partisifatif dimana peneliti secara aktif terlibat dalam kegiatan sehari-hari Hammersley dan Atkinson . di MTs Persis Sadang untuk memahami praktik pengajaran dan penggunaan kurikulum termasuk bahan ajar PAI. Langkah selanjutnya melakukan analisis dokumen silabus, rencana pembelajaran, buku teks, dan materi pembelajaran yang ada untuk mengevaluasi fokus pengembangan Bowen . PAI. Untuk memvalidasi dan menambah kedalaman penelitian dilakukan Focus Group Discussion (FGD). Diskusi terstruktur dengan sekelompok guru PAI dari madrasah lain untuk mendapatkan berbagai pandangan tentang kurikulum termasuk bahan ajar yang ada dan saran untuk perbaikan (Krueger dan Casey, 2. Pendalaman dilanjutkan dengan menganalisis secara mendalam terhadap materi ajar yang ada untuk mengidentifikasi kelebihan, kekurangan, dan potensi perbaikan atau pengembangan Krippendorff . HASIL DAN PEMBAHASAN Pendidikan Agama Islam (PAI) Zuhdi . Pendidikan Agama Islam di sekolah umum bertujuan untuk membentuk santri yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki akhlak mulia, dan mampu memahami serta mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum PAI di sekolah umum diatur oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbu. dan merupakan bagian dari kurikulum nasional. Sedangkan Pendidikan Agama Islam (PAI) di Madrasah menurut Madrasah adalah lembaga pendidikan yang memiliki kurikulum yang Heri Mulyadi. Maman Sumpena Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 menekankan pada pendidikan agama Islam lebih dari sekolah umum. Di Indonesia, madrasah terdiri dari Madrasah Ibtidaiyah . etara SD). Madrasah Tsanawiyah . etara SMP), dan Madrasah Aliyah . etara SMA). Kurikulum di madrasah disusun oleh Kementerian Agama (Kemena. Sedangkan PAI di pesantren menurut Assegaf . menjelaskan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional yang fokus pada pembelajaran agama Islam secara mendalam dan pembentukan karakter berdasarkan nilai-nilai Islam. Pesantren memiliki sistem pembelajaran yang khas dan berbeda dengan sekolah dan madrasah. Berikut ini Perbandingan kurikulum PAI di Sekolah. Madrasah, dan pesantren, yaitu: Tabel 1. Perbandingan Kurikulum PAI Aspek Kurikulum Sekolah Fokus pada pendidikan umum dengan mata pelajaran agama Pendekatan Terpadu, holistik, dan berorientasi pada Sekuler dengan integrasi nilai agama Klasikal dengan penggunaan teknologi Lingkungan Metode Pembelajaran Madrasah Lebih banyak mata pelajaran agama dengan kurikulum gabungan agama dan Lingkungan religius dengan penekanan pada studi Islam Religius dan berbasis Islam Kombinasi antara metode modern dan Pesantren Fokus pada pendidikan agama dengan beberapa pelajaran umum Pendidikan tradisional dengan sistem asrama dan fokus pada pembentukan Tradisional, religius, dan berbasis Tradisional seperti sorogan dan PAI merupakan bidang studi dalam sistem pendidikan yang memfokuskan pada pembelajaran dan pengajaran ajaran-ajaran Islam. Rumpun PAI mencakup berbagai aspek keagamaan Islam, termasuk tetapi tidak terbatas pada aqidah . , syariah . , akhlak . , fiqh . urisprudensi Isla. Al-Qur'an, dan Hadits. PAI bertujuan untuk membentuk individu yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, serta memiliki akhlak yang mulia. Selain itu, pendidikan ini bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk memahami dan menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dijelaskan dalam Huda et al. PMA No. 16 Tahun 2010 tentang Pengelolaan Pendidikan Agama Islam di Sekolah Pasal 3 ayat . MA No. 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan Pasal 2. Keputusan Menteri Agama Republik Indonesia Nomor 165 Tahun 2013 Tentang Kurikulum 2013 Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Konsep dan Teori Pengembangan Kurikulum PAI di MTs Persis Sadang Telaah ini bertujuan untuk mengevaluasi dan memahami bagaimana Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum Operasional Madrasah (KOM). Silabus. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan materi pembelajaran PAI diimplementasikan di MTs Persis Sadang. Berikut adalah hasil telaah yang dilakukan yaitu: KTSP atau KOM dirancang dengan pendekatan terpadu, menggabungkan pendidikan agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum. Dokumen kurikulum ini mencakup tujuan, standar kompetensi, dan indikator pencapaian yang jelas untuk setiap mata pelajaran. KTSP/KOM mengintegrasikan atau paling tidak mengadaptasi antara pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum, dengan tujuan menciptakan santri yang berpengetahuan luas dan berakhlak mulia. Zuhdi . RPP disusun dengan detail yang mencakup tujuan pembelajaran, materi, metode, langkah-langkah kegiatan, dan evaluasi. RPP di MTs Persis Sadang sering kali menekankan pendekatan kontekstual dan inovatif untuk membuat pembelajaran lebih relevan dan menarik bagi santri. RPP dirancang dengan pendekatan kontekstual dan inovatif, mencakup tujuan pembelajaran yang jelas, materi yang relevan, metode yang bervariasi, dan evaluasi yang komprehensif. (Mubarok, 2. Materi Pembelajaran PAI. Menurut Huda et al. menjelaskan bahwa Materi pembelajaran PAI mencakup berbagai aspek ajaran Islam seperti aqidah, fiqh, akhlak, dan sejarah Islam. Materi disusun dengan bahasa yang mudah dipahami dan disertai dengan contoh-contoh praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari santri. Materi pembelajaran PAI di madrasah mencakup aqidah, fiqh, akhlak, dan sejarah Islam, tafsir, tajwid, dan tahfidz disusun dengan bahasa yang mudah dipahami dan dilengkapi dengan contoh-contoh praktis. Heri Mulyadi. Maman Sumpena Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 Inovasi dan Integrasi dalam Pembelajaran Telaah dokumen menunjukkan adanya upaya untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran PAI. Penggunaan media digital dan sumber belajar online menjadi salah satu inovasi yang diterapkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. Madrasah mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran PAI, menggunakan media digital dan sumber belajar online melalui video pembelajaran untuk meningkatkan efektivitas dan keterlibatan santri (Assegaf, 2. Evaluasi dan Penilaian Evaluasi dalam pembelajaran PAI dilakukan melalui berbagai metode seperti tes tertulis, praktik ibadah, dan observasi perilaku. Hal ini bertujuan untuk mengukur pemahaman santri secara komprehensif, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Evaluasi pembelajaran PAI di madrasah dilakukan melalui tes tertulis, praktik ibadah, dan observasi perilaku, untuk mengukur pemahaman santri secara komprehensif. Telaah dokumen KTSP/KOM. RPP, dan materi pembelajaran PAI di MTs Persis Sadang menunjukkan adanya komitmen yang kuat untuk menciptakan kurikulum yang seimbang antara pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum. Dengan pendekatan kontekstual dan inovatif, serta integrasi teknologi, madrasah berupaya meningkatkan relevansi dan efektivitas pembelajaran. Evaluasi yang komprehensif memastikan pencapaian tujuan pendidikan yang holistic atau syumuliyah. Pembahasan KURIKULUM potensi peserta relevansi dengan perkembang-an fisik, intelektual, emosional, sosial, dan spritual peserta bagi peserta didik. struktur keilmuan. kedalaman, dan keluasan materi relevansi dengan kebutuhan peserta didik dan tuntutan alokasi waktu n n n n Kurikulum dikembangkan oleh: Kamad. Pengembang Kurikulum Tingkat MA. Stakeholder. Koordinator Mat. Pel /Team Teaching dan Guru MP. Melalui IHT Bintek Kurikulum. Workshop, dan Kurikulum Mata Pelajaran Tujuan Pengembangan Silabus Tiap Mata Pelajaranan n Program Tahunan n Program Semester n Silabus n Sistem Penilaian n Kriteria Ketuntasan Min. n Rencana Pelaksanaan Pengajaran Kegiatan Pembelajaran dan Tujuan yang Diharapkan Meningkatkan Imtak dan Akhlak Mulia Meningkatkan Kecerdasan dan Minat Tuntutan Kebutuhan Karakteristik daerah/lingkungan Tuntutan Partisipasi pembangunan Nas/Daerah n n n n n n Dinas Pendidikan n Kemenag Kab. Garut n MGMP Standar Isi SKL Sesuai dgn SKL dan SI n Peraturan Pem Pusat No. 8, 22, 23, 24, 34. PP 19 n UU No. 20,32 n Pedoman BSNP n Peraturan Daerah. SK Gubernur no. n KMA Kemenag n Peraturan JamAoiyyah Periksa Tujuan Bahan Pertimbangan Tuntutan Dunia Kerja Mampu bersaing dengan dunia lain/globalisasi Menguasai Iptek Mengembangkan persatuan Nasional Menghargai Kondisi Sosbud Setempat Gambar 1. Alur Pengembangan Kurikulum Madrasah Tsanawiyah (MT. Persis Sadang terletak di Jalan Sadang. No. 291 RT. 03/03. Sadang. Kecamatan Sucinaraja. Kabupaten Garut. Jawa Barat. Madrasah ini melayani jenjang pendidikan setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan menyediakan kurikulum yang menggabungkan mata pelajaran wajib Heri Mulyadi. Maman Sumpena Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 nasional dengan tambahan nilai-nilai agama Islam yang berafiliasi ke jamAoiyyah Persis. MTs Persis Madrasah ini memiliki SDM yang kompeten dan berkualitas dengan jumlah 14 orang yang terdiri dari 1 orang Kepala Madrasah, 1 orang Wakil Kepala Madrasah, 1 orang Kepala Tenaga Administrasi Madrasah (TAM) merangkap operator, 1 orang bendahara BOS, 1 orang staf TAM, dan sisanya adalah dewan guru atau asatidz. Jumlah rombel sebanyak 3 rombel dan santri berjumlah kurang lebih 60 orang. Sejak pendirinnaya madrasah ini mengutamakan kualitas bukan kuantitas santri sekaligus pemahaman dan dan pengamalan Islam yang Untuk menelaah proses pengembangan kurikulum. Gambar 1 diatas merupakan bagan alur penyusunan dan pengembangan kurikulum di MTs Persis Sadang 2023-2024. Rumpun PAI MTs Persis Sadang Rumpun Pendidikan Agama Islam (PAI) khas pesantren mengintegrasikan tradisi keilmuan klasik dengan pendekatan modern, memadukan pengajaran Al-Qur'an. Hadis. Fiqh, dan Akhlak dengan keterampilan hidup, membentuk pribadi yang berakhlakul karimah, berwawasan luas, serta siap berkontribusi positif dalam Pesantren juga menekankan pentingnya adab dan spiritualitas, menciptakan lingkungan belajar yang holistik dan seimbang antara ilmu duniawi dan ukhrawi. Berdasarkan peraturan Kementerian Agama Republik Indonesia. Kurikulum 2013 Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti. Direktorat Pendidikan Agama Islam. Panduan Pelaksanaan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Madrasah. Ditjen Pendis Kemenag dan juga Peraturan Menteri Agama (PMA) No. 2 Tahun 2008 tentang Standar Isi Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab di Madrasah dijelaskan rumpun Pendidikan Agama Islam (PAI) di madrasah, yang berada di bawah naungan Kementerian Agama (Kemena. , mencakup beberapa mata pelajaran utama yaitu Al-Qur'an dan Hadis. Aqidah Akhlak. Fiqh. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan Bahasa Arab. Kurikulum ini dirancang untuk membentuk peserta didik yang tidak hanya memahami dan mengamalkan ajaran Islam, tetapi juga memiliki keterampilan dan wawasan yang luas, serta mampu bersaing secara global. Dalam konteks MTs Persis Sadang diketahui bahwa rumpun PAI cakupannya lebih luas dan mendalam yang menghimpun materi pada banyak mata Pelajaran seperti Tauhid. Akhlaq. Fiqih. Ushul Fiqih. Faraidl. Hadits. Musthalah Hadits. Quran. Tafsir. Tajwid, dan Tahfid. Pada mata Pelajaran Sejarah terdapat SKI dan sirah nabawiyah. (KTSP existing MTs Persis Sadang 2023-2. Perbandingan Beban Belajar PAI Beban Belajar KMA 165 2014 Beban Belajar Persis 2006 Series2 Beban Belajar MTs Persis Sadang Series3 Gambar 2. Perbandingan Beban Belajar PAI Berikut ini dideskripsikan perbandingan beban belajar dan struktur kurikulum Kementrian Agama, peraturan bidang tarbiyah PP. Persis dan MTs Persis Sadang, yaitu: beban Belajar dan Struktur Kurikulum Kementrian Agama Sesuai KMA nomor 165 tahun 2014 berjumlah delapan jam pelajaran meliputi Al-Quran Hadits. Akidah Akhlaq. Fiqih, dan Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) termasuk kelompok A dari jumlah Alokasi Waktu Per Minggu 48 Jam Pelajaran atau sekitar 16,66 %. Sedangkan Struktur Program Kurikulum Tsanawiyah berdasarkan Peraturan Bidang Tarbiyah dalam (Dedeng Rosyidin, 2006: . Kelompok Al-Ulum Al-SyarAoiyyah meliputi Al-quran Al QurAoan (Tafsir. Hifdlan/Tajwid. Al hadits (Hadits Pilihan. Mustholah Hadit. Tauhid . Akhlaq, dan SyariAoah (Fiqh. Ushul Fiqh, dan Faraid. , dan Al-Ulum Al-Insaniyyah yang didalamnya terdapat Sirah Nabawiyah. Jumlah alokasi waktu untuk rumpun PAI yang terdidri dari Al-Ulum Al-SyarAoiyyah dan Al-Ulum Al-Insaniyyah adalah 22 Jam Pelajaran dari total alokasi waktu jam pelajaran perminggu sekitar 54 Jam Pelajaran atau sekitar 40, 74 %. Adapun Struktur Kurikulum MTs Persis Sadang sesuai SKBM MTs Persis Sadang Tahun Pelajaran 2023-2024 untuk mata pelajaran Pendidikan Agama Islam Heri Mulyadi. Maman Sumpena Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 adalah 16 Jam Pelajaran meliputi Al-Qur'an. Hadis. Tafsir. Tajwid. Hadits. Musthalah Hadits. AoAdiyah. Akidah Akhlak. Fiqih. Faraidl. Ushul Fiqih dan Sejarah Kebudayaan Islam dari 49 alokasi waktu perminggu sebanyak 49 Jam Pelajaran. Apabila muatan khusus Tilawah dan Tahfidz dikelompokan kepada PAI dengan alokasi sembilan Jam Pelajaran maka jumlah beban belajar PAI menjadi 25 Jam Pelajaran. Apabila diprosentasikan maka jumlahnya lebih besar yaitu sekitar 51, 02% dari alokasi waktu per minggu. Berikut ini grafik rasio beban belajar PAI antara pemerintah, jamAoiiyah Persis dan MTs Persis Sadang. Rasio Beban Belajar PAI dan Alokasi Waktu Perminggu Beban Belajar KMA 165 2014 Beban Belajar Persis 2006 Series1 Beban Belajar MTs Persis Sadang Series2 Gambar 3. Rasio Beban Belajar PAI dan Alokasi Waktu Perminggu dalam Persen (%) Dari struktur program menggambarkan bahwa MTs Persis Sadang melakukan adaptasi kurikulum Kementerian Agama (Kemena. dengan kurikulum khas pesantren di jamiyyah Persis, serta menciptakan sebuah sistem pendidikan yang tersendiri. Meskipun demikian, madrasah tetap mempertahankan tujuan dan materi pembelajaran PAI yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Kekhasan MTs Persis Sadang dapat dilihat dari total beban belajar yang lebih kecil dibandingkan dengan kurikulum Pendidikan jamAoiyyah Persis, namun lebih besar dari struktur kurikulum kementrian pendidikan, sehingga memungkinkan santri untuk tetap mengikuti pembelajaran dengan optimal tanpa merasa terbebani secara berlebihan. Adaptasi ini memberikan manfaat ganda: santri memperoleh dasar-dasar pengetahuan agama yang kuat sesuai standar Kemenag, sambil juga mendapatkan kedalaman ilmu yang khas dari pesantren dalam hal ini jamAoiyyah Persis. Dengan demikian. MTs mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memahami ajaran Islam secara komprehensif tetapi juga siap menghadapi tantangan dunia modern dengan landasan agama yang Materi Kurikulum PAI Materi Pendidikan Agama Islam (PAI) di MTs Persis Sadang memiliki cakupan yang lebih luas dan mendalam dibandingkan dengan materi PAI di madrasah pada umumnya. Di pesantren (MTs Persis Sadan. , pembelajaran PAI tidak hanya fokus pada aspek dasar-dasar agama, tetapi juga mencakup berbagai disiplin ilmu agama secara mendalam seperti tafsir, hadits, fiqih, ushul fiqih, aqidah, tasawuf, dan sejarah peradaban Islam. Para santri di pesantren juga didorong untuk mengkaji kitab-kitab klasik . itab kunin. yang menjadi rujukan utama dalam berbagai cabang ilmu keislaman (Rosyidin dan Yusuf, 2. Sementara itu, materi PAI di madrasah lebih terstruktur dengan kurikulum yang disesuaikan dengan standar nasional yang ditetapkan oleh Kementerian Agama. Materi yang diajarkan meliputi aqidah, fiqih. SKI (Sejarah Kebudayaan Isla. , dan QurAoan Hadits dengan pendekatan yang lebih umum dan praktis. Fokus utama pembelajaran PAI di madrasah adalah untuk memberikan pemahaman dasar yang kokoh tentang agama Islam kepada santri, serta membentuk karakter dan akhlak yang baik sesuai dengan nilai-nilai Islam. Contoh nyata dari perbedaan ini dapat dilihat pada kajian fiqih. Di MTs Persis Sadang, kajian fiqih melibatkan pembahasan mendalam tentang berbagai pendapat ulama, perbandingan mazhab, dan aplikasi hukum Islam dalam konteks kontemporer. Sedangkan di madrasah, pembahasan fiqih lebih menekankan pada pemahaman dasar tentang ibadah sehari-hari seperti shalat, puasa, zakat, dan haji. Tantangan Pengembangan Kurikulum PAI di MTs Persis Sadang Hasil Wawancara dengan Kepala Madrasah (Wakamad. Bidang Kurikulum, dan Guru PAI) didapatkan tantangan pengembangan kurikulum, yaitu: Heri Mulyadi. Maman Sumpena Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 Kualitas dan kompetensi guru PAI menjadi tantangan utama di madrasah yang kurang memadai. Banyak guru yang belum memiliki kualifikasi yang cukup atau pelatihan yang memadai untuk mengimplementasikan kurikulum secara efektif. Hal ini berdampak pada kualitas pembelajaran yang diterima oleh santri (Harahap, 2. Madrasah yang kurang memadai seringkali menghadapi keterbatasan sarana dan prasarana, seperti ruang kelas yang tidak memadai, kurangnya buku teks dan bahan ajar, serta minimnya fasilitas teknologi. Kondisi ini menghambat proses pembelajaran dan mengurangi efektivitas pengajaran (Nasir,2. Keterbatasan akses terhadap sumber belajar, termasuk bahan ajar digital dan referensi online, merupakan tantangan signifikan bagi madrasah yang kurang memadai. Ini menghambat santri dan guru dalam mendapatkan informasi dan materi pembelajaran yang up-to-date dan relevan (Aziz, 2. Kurangnya dukungan keuangan dan kebijakan dari pemerintah dan lembaga terkait juga menjadi tantangan dalam pengembangan kurikulum PAI. Madrasah yang kurang memadai seringkali tidak memiliki anggaran yang cukup untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan fasilitas yang tersedia (Mubarak, 2. Guru yang bekerja di madrasah dengan keterbatasan sering kali menghadapi tantangan dalam hal motivasi dan keterlibatan. Beban kerja yang tinggi tanpa dukungan yang memadai dapat mengurangi semangat dan inovasi dalam pengajaran (Fauzi, 2. Berdasarkan hasil wawancara dan Focus Grup Discution (FGD) dengan komponen pesantren seperti kepala Madrasah. Pimpinan Pesantren dan Guru PAI pada tanggal 4 Juli 2024 pengembangan kurikulum PAI di madrasah yang kurang memadai dari segi SDM dan sarana prasarana menghadapi tantangan besar. Keterbatasan kualitas dan kompetensi guru, sarana dan prasarana, akses terhadap sumber belajar, dukungan keuangan dan kebijakan, serta motivasi dan keterlibatan guru merupakan tantangan utama yang perlu diatasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan PAI di madrasah tersebut. Strategi Efektif dalam Pengembangan Kurikulum PAI di MTs Persis Sadang MTs Persis Sadang, seperti banyak madrasah lainnya, menghadapi tantangan signifikan terkait keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dan sarana prasarana. Namun, dengan strategi yang tepat, pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) tetap dapat berjalan efektif. Berikut adalah beberapa strategi yang akan iterapkan, yaitu. Mengoptimalkan penggunaan sumber daya lokal, seperti keterlibatan tokoh agama dan masyarakat sekitar, dapat membantu mengatasi keterbatasan SDM. Tokoh masyarakat dapat diundang untuk memberikan ceramah atau pelatihan tambahan kepada santri (Harahap, 2. Meskipun dana terbatas, pelatihan dan pengembangan guru bisa dilakukan melalui program berbasis komunitas atau kolaborasi dengan institusi pendidikan lainnya. Mengadakan workshop, diskusi, dan pelatihan online dapat meningkatkan kompetensi guru (Zuhdi, 2. Memanfaatkan teknologi sederhana yang tersedia, seperti penggunaan smartphone untuk akses bahan ajar online atau aplikasi pendidikan yang dapat diunduh gratis, dapat meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa memerlukan biaya besar (Aziz, 2. Penggunaan teknologi sederhana, seperti smartphone dan aplikasi pendidikan gratis, dapat meningkatkan kualitas pembelajaran PAI di MTs Persis Sadang. Guru dapat mengembangkan bahan ajar kreatif yang relevan dan menarik dengan memanfaatkan bahan yang ada di lingkungan sekitar. Ini bisa mencakup proyek-proyek praktis yang melibatkan santri secara langsung dalam pembelajaran. Pengembangan bahan ajar kreatif yang memanfaatkan bahan dari lingkungan sekitar dapat meningkatkan keterlibatan dan pemahaman santri (Fauzi, 2. Menerapkan pendekatan pembelajaran kolaboratif, dimana santri belajar dalam kelompok dan saling membantu, dapat mengatasi keterbatasan jumlah guru. Ini juga mendorong pembelajaran aktif dan interaktif di antara santri (Mubarak, 2. Melibatkan orang tua dalam proses pendidikan melalui komunikasi rutin dan partisipasi dalam kegiatan sekolah dapat membantu mengatasi beberapa keterbatasan. Orang tua dapat memberikan dukungan tambahan di rumah (Assegaf, 2. Hasil Wawancara dengan Kepala Pengembangan Kurikulum di Madrasah Wawancara ini dilakukan dengan ketua Tim Pengembangan Kurikulum (TPK) di MTs Persis Sadang untuk mendapatkan wawasan tentang strategi, tantangan, dan inovasi dalam pengembangan kurikulum. Berikut adalah ringkasan hasil wawancara yang dilakukan. Hasil Wawancara Pendekatan Terpadu dalam Pengembangan Kurikulum Ketua TPK menjelaskan bahwa madrasah menerapkan pendekatan terpadu dalam pengembangan kurikulum, yang menggabungkan pendidikan agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum. Ini dilakukan Heri Mulyadi. Maman Sumpena Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 untuk menciptakan santri yang memiliki pengetahuan luas dan berakhlak mulia. Kami berupaya mengintegrasikan antara ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum dalam kurikulum kami. Tujuannya adalah untuk membentuk santri yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga berakhlak mulia. (Ketua Tim Pengembangan Kurikulum, 2023-2. Inovasi dalam Metode Pengajaran Menurut Ketua TPK, madrasah telah mengadopsi berbagai metode pengajaran inovatif, termasuk penggunaan teknologi digital, metode diskusi interaktif, dan pendekatan berbasis proyek. Ini bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman santri. Kami telah mengadopsi berbagai inovasi dalam metode pengajaran, seperti penggunaan teknologi digital dan pendekatan berbasis proyek. Ini membantu santri lebih terlibat dan memahami materi dengan lebih baik. (Ketua Tim Pengembangan Kurikulum, 2023-2. Pembelajaran Kontekstual Ketua TPK menekankan pentingnya pembelajaran kontekstual dalam pengajaran agama Islam. Materi pelajaran disesuaikan dengan konteks kehidupan sehari-hari santri untuk membantu mereka memahami dan mengamalkan ajaran Islam. "Kami berusaha untuk mengajarkan materi pelajaran agama Islam dengan pendekatan kontekstual, yang menghubungkan ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari Ini membantu mereka memahami dan mengamalkan ajaran Islam dengan lebih baik. (Ketua Tim Pengembangan Kurikulum, 2023-2. Penguatan Pendidikan Karakter Pendidikan karakter menjadi fokus utama di madrasah. Program-program ekstrakurikuler dan kegiatan keagamaan rutin seperti sholat berjamaah tilawah dan tahfidz quran serta kajian agama digunakan untuk mendukung pengembangan karakter santri. "Pendidikan karakter sangat penting bagi kami. Kami menyelenggarakan berbagai program ekstrakurikuler dan kegiatan keagamaan untuk membantu santri mengembangkan kepribadian yang berakhlak mulia. (Ketua Tim Pengembangan Kurikulum, 2023-2. Keterlibatan Orang Tua dan Komunitas Ketua TPK juga menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dan komunitas dalam proses pendidikan. Ini dilakukan melalui pertemuan rutin, kegiatan bersama, dan program kolaboratif yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Keterlibatan orang tua dan komunitas sangat penting dalam proses pendidikan. Kami mengadakan pertemuan rutin dan kegiatan bersama untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung bagi santri. Evaluasi dan Revisi Kurikulum Evaluasi dan revisi kurikulum dilakukan secara berkala untuk memastikan relevansi dan efektivitasnya. Ketua TPK menjelaskan bahwa proses ini melibatkan guru, santri, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendapatkan masukan yang konstruktif. "Kami secara berkala mengevaluasi dan merevisi kurikulum untuk memastikan relevansi dan efektivitasnya. Proses ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk mendapatkan masukan yang konstruktif. " (Ketua Tim Pengembangan Kurikulum, 2023-2. Wawancara dengan Ketua TPK menunjukkan komitmen yang kuat dalam menciptakan kurikulum yang seimbang antara ilmu agama dan pengetahuan umum, dengan berbagai inovasi dalam metode pengajaran dan penekanan pada pendidikan karakter. Keterlibatan orang tua dan komunitas serta evaluasi berkala memastikan kurikulum tetap relevan dan efektif. Hasil Observasi Pengembangan Kurikulum di Madrasah Observasi ini bertujuan untuk memahami pengembangan dan implementasi kurikulum di madrasah. Fokus utama adalah pada bagaimana madrasah mengintegrasikan pendidikan agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum serta inovasi yang diterapkan dalam proses pengajaran. Madrasah menerapkan pendekatan terpadu dalam pengembangan kurikulum, yang menggabungkan pendidikan agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum. Hal ini terlihat dalam struktur jadwal pelajaran yang memberikan porsi yang seimbang antara keduanya. Madrasah menggabungkan pendidikan agama Islam dan ilmu pengetahuan umum secara tidak seimbang dalam kurikulum, dimana Pendidikan khas kepesantrenan lebih luas dan mendalam serta menciptakan santri yang berpengetahuan luas dan berakhlak Materi pelajaran agama Islam diajarkan dengan pendekatan kontekstual, yang menghubungkan ajaran agama dengan kehidupan sehari-hari santri. Ini membantu santri untuk memahami dan mengamalkan ajaran Islam dalam konteks kehidupan nyata. Materi pelajaran agama Islam di madrasah disampaikan dengan pendekatan kontekstual, membantu santri memahami dan mengaplikasikan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Heri Mulyadi. Maman Sumpena Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 Beberapa madrasah belum sepenuhnya mengadopsi metode pengajaran inovatif, seperti penggunaan teknologi dalam pembelajaran, metode diskusi, dan pendekatan berbasis proyek untuk meningkatkan partisipasi dan pemahaman santri. Madrasah menggunakan berbagai metode pengajaran inovatif, termasuk teknologi digital dan pembelajaran berbasis proyek, untuk meningkatkan keterlibatan dan pemahaman Pendidikan karakter menjadi fokus utama di madrasah, dengan menekankan nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, dan tanggung jawab. Program-program ekstrakurikuler dan kegiatan keagamaan rutin seperti sholat berjamaah dan kajian agama mendukung pengembangan karakter ini. Madrasah menekankan pendidikan karakter melalui program-program ekstrakurikuler dan kegiatan keagamaan rutin, membantu santri mengembangkan kepribadian yang berakhlak mulia. Madrasah melibatkan orang tua dan komunitas dalam proses pendidikan. Hal ini dilakukan melalui pertemuan rutin, kegiatan bersama, dan program kolaboratif yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Keterlibatan orang tua dan komunitas dalam proses pendidikan di madrasah sangat penting, dengan berbagai kegiatan kolaboratif yang membantu menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mendukung. Madrasah secara berkala melakukan evaluasi dan revisi kurikulum untuk memastikan relevansi dan Proses ini melibatkan guru, santri, dan pemangku kepentingan lainnya untuk mendapatkan masukan yang konstruktif. Evaluasi dan revisi kurikulum dilakukan secara berkala, melibatkan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan bahwa kurikulum tetap relevan dan efektif dalam mencapai tujuan pendidikan. Pengembangan kurikulum di madrasah menunjukkan komitmen yang kuat untuk menciptakan santri yang berpengetahuan luas dan berakhlak mulia. Dengan pendekatan terpadu, inovasi dalam metode pengajaran, penguatan pendidikan karakter, keterlibatan orang tua dan komunitas, serta evaluasi kurikulum yang berkelanjutan, madrasah mampu menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa melupakan nilai-nilai agama. Hasil Telaah Dokumen KTSP/KOM. Silabus, dan Materi Pembelajaran PAI di Madrasah Telaah ini bertujuan untuk mengevaluasi dan memahami bagaimana Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) atau Kurikulum Operasional Madrasah (KOM). Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), dan materi pembelajaran PAI diimplementasikan di madrasah. Berikut adalah hasil telaah yang KTSP atau KOM di MTs Persis Sadang dirancang dengan pendekatan terpadu, menggabungkan pendidikan agama Islam dengan ilmu pengetahuan umum. Dokumen kurikulum ini mencakup tujuan, standar kompetensi, dan indikator pencapaian yang jelas untuk setiap mata pelajaran. KTSP/KOM di madrasah mengintegrasikan antara pendidikan agama dan ilmu pengetahuan umum, dengan tujuan menciptakan santri yang berpengetahuan luas dan berakhlak mulia. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) RPP disusun dengan detail yang mencakup tujuan pembelajaran, materi, metode, langkah-langkah kegiatan, dan evaluasi. RPP di madrasah sering kali menekankan pendekatan kontekstual dan inovatif untuk membuat pembelajaran lebih relevan dan menarik bagi santri. RPP di madrasah dirancang dengan pendekatan kontekstual dan inovatif, mencakup tujuan pembelajaran yang jelas, materi yang relevan, metode yang bervariasi, dan evaluasi yang komprehensif. Materi Pembelajaran PAI Materi pembelajaran PAI di madrasah mencakup berbagai aspek ajaran Islam seperti aqidah, fiqh, akhlak, dan sejarah Islam. Materi disusun dengan bahasa yang mudah dipahami dan disertai dengan contoh-contoh praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari santri. Materi pembelajaran PAI di madrasah mencakup aqidah, fiqh, akhlak, dan sejarah Islam, disusun dengan bahasa yang mudah dipahami dan dilengkapi dengan contoh-contoh praktis. Inovasi dan Integrasi dalam Pembelajaran Telaah dokumen menunjukkan adanya upaya untuk mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran PAI. Penggunaan media digital dan sumber belajar online menjadi salah satu inovasi yang diterapkan untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran. MTs Persis Sadang mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran PAI, menggunakan media digital dan sumber belajar online untuk meningkatkan efektivitas dan keterlibatan santri. Evaluasi dan Penilaian Evaluasi dalam pembelajaran PAI di MTs Persis Sadang dilakukan melalui berbagai metode seperti tes tertulis, praktik ibadah, dan observasi perilaku. Hal ini bertujuan untuk mengukur pemahaman santri secara komprehensif, baik dari aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Evaluasi pembelajaran PAI di madrasah dilakukan melalui tes tertulis, praktik ibadah, dan observasi perilaku, untuk mengukur pemahaman santri secara komprehensif. Heri Mulyadi. Maman Sumpena Al-Urwatul Wutsqo: Jurnal Ilmu Keislaman dan Pendidikan. Vol. 6 No. Maret 2025 PENUTUP Pengembangan kurikulum yang mengadaptasi sekaligus mengintegrasikan materi Kementerian Agama (Kemena. dengan materi khas pesantren merupakan langkah strategis yang dilakukan MTS Persis Sadang untuk memperkaya dan memperdalam pembelajaran PAI. Materi PAI di MTs Persis Sadang lebih luas dan mendalam mencakup berbagai disiplin ilmu keislaman seperti tafsir, hadits, mustahalah hadits, fiqih, ushul fiqih. Aqidah/ tauhid, faraidl, dan sejarah peradaban Islam/ sirah nabawiyah. Adaptasi dan integrasi ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pemahaman agama yang mendasar tetapi juga mendalam dan komprehensif sesuai tradisi keilmuan Islam klasik. Langkah awal dalam pengembangan kurikulum di MTs Persis Sadang adalah penyusunan draf yang menggabungkan materi Kemenag dengan materi khas pesantren. Tim penyusun terdiri dari para ahli pendidikan Islam, praktisi pendidikan pesantren, dan perwakilan dari Kementerian Agama dalam hal ini adalah Dalam draf ini, materi dasar dari Kemenag dijadikan sebagai fondasi, sementara materi khas pesantren ditambahkan untuk memperluas dan memperdalam cakupan pembelajaran. Draf kurikulum yang telah disusun kemudian didiskusikan dalam forum yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk para ulama, guru, dan akademisi. Diskusi ini bertujuan untuk mengkaji kembali kesesuaian, relevansi, dan implementabilitas kurikulum yang diusulkan. Masukan dan saran dari para peserta forum ini sangat penting untuk memastikan bahwa kurikulum yang dihasilkan benar-benar memenuhi kebutuhan pendidikan Islam yang komprehensif. Setelah melalui proses diskusi dan review, kurikulum yang telah direvisi dan disempurnakan kemudian diterapkan dan disahkan. Implementasi kurikulum ini dilaksanakan secara bertahap dan diawasi dengan ketat untuk memastikan bahwa tujuan integrasi materi Kemenag dan pesantren dalam hal ini jamAoiyyah Persis dapat tercapai. DAFTAR PUSTAKA