COUNSELIVE: Jurnal Konseling Kehidupan Volume 1, No 2, Juli 2025, Hlm 36-43 ISSN xxxx-xxxx (print) || ISSN xxxx-xxxx (online) Doi: xxxxxxxxxx Analisis Gaya Belajar Visual dan Auditori terhadap Motivasi Belajar di SMP Negeri 1 Greged Kyana Listia Octora1*, Elin Maulida Rahmawati2, Ai Nurasih3, Khalimatus Sangdiyah4 1,2,3,4 Program Studi Pendidikan Bimbingan dan Konseling, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Nahdlatul Ulama Cirebon *Correspondent Author: kyanaoctora002@gmail.com Abstrak Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena rendahnya motivasi belajar siswa di daerah pedesaan, khususnya di SMP Negeri 1 Greged, yang masih didominasi oleh penerapan metode pembelajaran konvensional berbasis ceramah. Berdasarkan observasi awal, teridentifikasi bahwa pendekatan teacher-centered yang monoton tidak memperhatikan keberagaman gaya belajar siswa, sehingga berpotensi menghambat perkembangan motivasi belajar, khususnya bagi siswa dengan kecenderungan gaya belajar visual dan auditori. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan gaya belajar visual dan auditori terhadap peningkatan motivasi belajar siswa. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus, yang dilaksanakan melalui teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi pembelajaran multimodal berhasil mentransformasi lingkungan belajar menjadi lebih partisipatif dan dinamis. Temuan mengungkapkan peningkatan signifikan dalam empat aspek utama, yaitu: keaktifan siswa dalam diskusi kelompok, peningkatan retensi informasi melalui mekanisme dual coding, berkembangnya keberanian berekspresi, serta terciptanya psychological safety dalam proses pembelajaran. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pemahaman terhadap keragaman gaya belajar dan penerapan pendekatan multimodal merupakan komponen kunci dalam menciptakan pembelajaran yang efektif dan inklusif, khususnya di daerah pedesaan. Penelitian ini merekomendasikan pentingnya integrasi pendekatan berbasis gaya belajar dalam praktik pedagogis untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa. Kata Kunci: Gaya Belajar, Motivasi Belajar, Pembelajaran Multimodal Abstract This research is motivated by the phenomenon of low student learning motivation in rural areas, particularly at SMP Negeri 1 Greged, which is still dominated by the implementation of conventional lecture-based learning methods. Based on initial observations, it was identified that the monotonous teacher-centered approach does not consider the diversity of student learning styles, thus potentially hindering the development of learning motivation, especially for students with a tendency towards visual and auditory learning styles. This study aims to analyze the effect of the application of visual and auditory learning styles on improving student learning motivation. The method used was descriptive qualitative with a case study design, implemented through participatory observation techniques, in-depth interviews, and documentation studies. The results of the study indicate that the multimodal learning intervention successfully transformed the learning environment to be more participatory and dynamic. The findings revealed significant improvements in four main aspects, namely: student activeness in group discussions, increased information retention through dual coding mechanisms, the development of courage to express oneself, and the creation of psychological safety in the learning process. Based on these findings, 37| Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan, Volume 1, Nomor 2, Juli 2025, Hlm 36-43 it can be concluded that understanding the diversity of learning styles and implementing a multimodal approach are key components in creating effective and inclusive learning, especially in rural areas. This study recommends the importance of integrating a learning style-based approach into pedagogical practices to improve student motivation and learning achievement. Keywords: Learning Styles,, Learning Motivation, Multimodal Learning PENDAHULUAN Pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter. Proses pembelajaran yang efektif di tingkat dasar dan menengah menjadi kunci keberhasilan dalam menanamkan nilai-nilai ilmu pengetahuan dan membentuk pola pikir kritis siswa. Namun dalam praktiknya, dunia pendidikan masih dihadapkan pada berbagai tantangan kompleks, salah satunya adalah disparitas atau kesenjangan motivasi dan prestasi belajar siswa. Tujuan utama pembelajaran sendiri tidak hanya menguasi prinsip-prinsip dasar, tetapi agar berguna dikemudian hari sekaligus membentuk sikap positif dalam belajar, memperkuat kemampuan serta mampu menyelesaikan masalah dengan sendirinya (Nasution, 2000). Realitas di lapangan menunjukkan bahwa tujuan utama pembelajaran belum sepenuhnya tercapai. Berdasarkan observasi dan interaksi langsung dengan siswa di SMP Negeri 1 Greged Kabupaten Cirebon, ditemukan adanya variasi motivasi dan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar. Sebagian siswa terlihat antusias dan aktif berpartisipasi dalam pembelajaran, sementara sebagian lainnya menunjukkan sikap pasif, mudah terdistraksi, dan menunjukkan tanda-tanda kejenuhan. Fenomena ini mengindikasikan adanya ketimpangan dalam proses pembelajaran yang berpotensi menghambat pencapaian hasil belajar secara optimal. Pembelajaran yang diarahkan dengan tujuan yang jelas dan bermakna bagi siswa akan membetuk pengalaman pembelajaran yang lebih efektif (Kurniati, Fransiska, & Sari 2019). Akan tetapi, praktik pembelajaran di beberapa sekolah, khususnya di daerah pedesaan, masih didominasi oleh pendekatan konvensional yang bersifat teachercentered. Guru lebih banyak menggunakan metode ceramah dan pencatatan tanpa mempertimbangkan keberagaman gaya belajar siswa. Padahal, setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam menyerap dan mengolah informasi, yang dikenal dengan istilah gaya belajar (learning style). Dalam konteks sosial pendidikan, Desa Kamarang memiliki SMP Negeri 1 Greged sebagai salah satu lembaga pendidikan formal yang menampung siswa dari berbagai latar belakang sosial ekonomi. Berdasarkan data profil desa, jumlah penduduk Desa Kamarang Kecamatan Greged mencapai 3.064 jiwa dengan 1.010 kepala keluarga, yang mayoritas bekerja sebagai petani, buruh, pedagang kecil, dan wiraswasta. Tingkat pendidikan masyarakat sebagian besar masih berada pada jenjang SD dan SMP, sementara jumlah warga yang menempuh pendidikan tinggi relatif sedikit. Kondisi sosial ekonomi ini berdampak pada pola pikir dan dukungan orang tua terhadap pendidikan anak, khususnya dalam memotivasi mereka untuk belajar. 38| Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan, Volume 1, Nomor 2, Juli 2025, Hlm 36-43 Salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi motivasi belajar siswa adalah kesesuaian gaya belajar dengan metode pembelajaran yang diterapkan guru. DePorter dan Hernacki (1992) mengelompokkan gaya belajar menjadi tiga kategori utama, yaitu visual, auditorial, dan kinestetik. Siswa dengan gaya belajar visual lebih mudah memahami informasi melalui gambar, grafik, atau warna, sedangkan siswa auditorial lebih efektif belajar melalui penjelasan verbal, diskusi, dan mendengarkan. Apabila gaya belajar siswa tidak diakomodasi, maka motivasi dan hasil belajar cenderung menurun (De Porter, 2019). Berdasarkan penelitian Fauziyah & Yuniarti (2024), menunjukkan bahwa permasalahan dominasi metode pembelajaran konvensional yang kurang mengakomodasi perbedaan gaya belajar juga terjadi pada jenjang sekolah menengah. Mereka menemukan bahwa penerapan pendekatan multimodal yang mengintegrasikan berbagai modalitas belajar seperti visual dan auditorial berhasil meningkatkan interaksi siswa, retensi informasi, serta partisipasi aktif di kelas. Hal ini sejalan dengan penelitian Al Fajri (2022) yang menegaskan bahwa penggunaan pendekatan multimodal penting untuk memenuhi keragaman gaya belajar siswa dan mendorong pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Temuan-temuan tersebut memperkuat urgensi penelitian ini. Berdasarkan hasil observasi awal selama kegiatan lapangan, diketahui bahwa mayoritas siswa SMP Negeri 1 Greged belum terbiasa dengan stimulus pembelajaran visual seperti infografis, media digital, maupun video pembelajaran. Sebaliknya, pendekatan auditorial seperti ceramah dan tanya jawab lebih sering digunakan. Kondisi ini menimbulkan dugaan adanya hubungan antara dominasi gaya belajar tertentu dengan tingkat motivasi belajar siswa. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya belajar visual dan auditori yang dominan pada siswa SMP Negeri 1 Greged, Kecamatan Cirebon. Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi teoretis dan praktis. Secara teoretis, hasil penelitian ini memperkaya kajian mengenai hubungan gaya belajar dan motivasi belajar dalam konteks pendidikan menengah di daerah pedesaan. Secara praktis, hasil penelitian dapat menjadi acuan bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih inklusif, variatif, dan berpusat pada siswa, sehingga dapat meningkatkan motivasi serta hasil belajar secara optimal. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus. Pendekatan kualitatif dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai fenomena motivasi belajar siswa dalam konteks alami (natural setting). Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Greged yang berlokasi di Desa Kamarang, Kecamatan Greged, Kabupaten Cirebon. Waktu penelitian berlangsung selama bulan Agustus hingga September 2025, mencakup tahap persiapan, pengumpulan data, analisis, serta pelaporan hasil penelitian. Subjek penelitian siswa SMP Negeri 1 Greged yang menunjukkan variasi dalam motivasi dan keterlibatan belajar yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan partisipan berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan 39| Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan, Volume 1, Nomor 2, Juli 2025, Hlm 36-43 tujuan penelitian. Kriteria tersebut meliputi: (1) siswa yang aktif mengikuti pembelajaran, (2) memiliki kecenderungan gaya belajar visual atau auditorial, dan (3) bersedia menjadi partisipan. Selain siswa, guru mata pelajaran juga dilibatkan sebagai informan pendukung untuk memperoleh data yang lebih komprehensif. Instrumen penelitian meliputi pedoman observasi, pedoman wawancara, dan lembar dokumentasi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi tiga metode utama, yaitu: (1) Observasi partisipatif, untuk mengamati perilaku, interaksi, dan dinamika pembelajaran di kelas; (2) Wawancara mendalam, untuk memperoleh pemahaman mendalam tentang pengalaman belajar siswa dan persepsi mereka terhadap gaya belajar masing-masing; serta (3) Dokumentasi, untuk melengkapi data hasil observasi dan wawancara dengan bukti tertulis maupun visual. Keberhasilan intervensi dalam penelitian ini diukur melalui pencapaian beberapa indikator kualitatif berikut: pertama, meningkatnya partisipasi aktif siswa, yang terlihat dari semangat mereka dalam memberikan pendapat dan bertanya selama proses diskusi; kedua, meningkatnya pemahaman konseptual siswa, yang ditunjukkan oleh kemampuan mereka menjelaskan kembali materi dengan bahasa sendiri; ketiga, meningkatnya keberanian dan kepercayaan diri siswa dalam berbicara di dalam kelas; serta keempat, terjadinya perubahan iklim belajar yang lebih dinamis, kolaboratif, dan nyaman secara psikologis. Indikator-indikator tersebut dianalisis menggunakan metode triangulasi dengan memadukan data dari observasi, wawancara, dan dokumentasi guna memastikan hasil yang diperoleh valid dan dapat dipercaya. HASIL Berdasarkan teknik pengumpulan data melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang dilakukan di SMP Negeri 1 Greged, ditemukan bahwa implementasi gaya belajar visual dan auditori memberikan dampak yang signifikan terhadap dinamika pembelajaran. Intervensi yang dirancang untuk mengakomodasi kedua modalitas belajar ini berhasil memodifikasi suasana kelas yang sebelumnya didominasi oleh metode konvensional (teacher-centered) menjadi lebih partisipatif dan hidup. Perubahan ini tidak hanya bersifat perilaku, tetapi juga tampak pada peningkatan energi dan minat kolektif siswa terhadap materi yang disampaikan. Temuan utama penelitian ini adalah meningkatnya keaktifan siswa dalam berdiskusi. Sebelum intervensi, aktivitas diskusi kelompok cenderung didominasi oleh segelintir siswa yang memiliki kemampuan akademik menonjol. Pasca penerapan media visual (gambar) dan stimulus auditori (seperti instruksi diskusi yang jelas melalui rekaman dan video pendek), partisipasi siswa dalam diskusi meningkat secara merata. Siswa yang sebelumnya pasif mulai terlibat aktif untuk menyumbang ide, bertanya, dan memberikan tanggapan. Tidak hanya itu, kualitas interaksi diskusi juga meningkat, ditandai dengan mnculnya pertanyaan-pertanyaan elaboratif dan tanggapan yang saling membangun antar-siswa, yang sebelumnya jarang terjadi. Dari pembelajaran yang dirancang dengan berfokus pada modalitas visual dan auditori menjadi trigger awal yang powerful. Sebagaimana diungkap dalam observasi, 40| Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan, Volume 1, Nomor 2, Juli 2025, Hlm 36-43 stimulus visual merupakan hal yang relatif asing bagi mayoritas siswa. Fenomena ini dapat dijelaskan oleh konsep 'pembelajaran yang mengejutkan' (incongruity) dalam teori motivasi. Ketika siswa menghadapi sesuatu yang tidak terduga dan berbeda dari rutinitas biasa (seperti metode ceramah), terjadi ketidaksesuaian (incongruity) dengan skema pengetahuan siswa yang ada. Ketidaksesuaian ini menciptakan keadaan ketidakseimbangan kognitif yang memicu rasa ingin tahu dan mendorong siswa untuk terlibat secara aktif guna mengatasi ketidakseimbangan tersebut. Reaksi kejutan ini menjadi cara yang baik untuk mengikis kebiasaan pasif dan menciptakan keterlibatan awal yang sangat penting. Penelitian ini juga menemukan peningkatan kemampuan retensi informasi. Hasil wawancara dengan siswa dan observasi terhadap hasil evaluasi menunjukkan bahwa pemahaman dan daya ingat (retention) siswa terhadap materi pelajaran mengalami peningkatan. Siswa mampu menjelaskan kembali konsep-konsep kunci dengan menggunakan bahasanya sendiri, seringkali dengan merujuk pada elemen visual yang telah disajikan atau penjelasan auditori yang siswa dengarkan. Hal ini mengindikasikan bahwa informasi tidak hanya diterima secara dangkal, tetapi juga diproses dan disimpan dalam memori jangka panjang. Sebagai contoh, dalam sesi tanya jawab, siswa dapat spontan mendeskripsikan gambar yang telah disajikan atau mengutip frasa kunci dari video pendek, ini menunjukkan integrasi yang kuat antaramemori visual, auditori, dan pemahaman konseptual. Diamati pula munculnya keberanian dalam mengekspresikan pendapat. Suasana pembelajaran yang lebih dinamis dan interaktif mendorong munculnya rasa percaya diri siswa. Siswa menunjukkan keberanian yang lebih besar untuk mengungkapkan pendapat, baik dalam forum diskusi kelas maupun ketika menjawab pertanyaan. Rasa takut untuk salah mulai berkurang karena lingkungan belajar terasa lebih mendukung dan tidak menekan. Ketika siswa merasa diterima oleh guru dan teman sebaya, rasa takut untuk salah dan dihakimi (fear of negative evaluation) berkurang secara signifikan. Ini mendorong siswa untuk berani mengambil risiko dengan menyuarakan pendapatnya. Observasi mencatat peningkatan frekuensi siswa yang mengangkat tangan secara sukarela bahkan untuk sekedar menyatakan ketidakpahaman atau mengajukan konfirmasi, yang merupakan indikator awal dari rasa aman untuk belajar. Disamping itu, terjadi transformasi suasana pembelajaran menjadi lebih dinamis. Dominasi metode ceramah yang monoton berhasil diubah menjadi suasana kelas yang dinamis, penuh antusiasme, dan kolaboratif. Antusiasme ini terutama sangat terlihat ketika media pembelajaran yang baru dan tidak biasa (seperti video animasi atau audio storytelling) diperkenalkan. Ruang pembelajaran yang awalnya bersifat monolog dan didominasi komunikasi satu arah mengalami metamorfosis menjadi lingkungan dialogis yang dinamis. Dalam konteks ini, peran guru mengalami pergeseran dari sebagai satusatunya sumber pengetahuan (the sole knowledge authority) menjadi fasilitator yang memandu proses konstruksi pengetahuan siswa. Pendekatan pembelajaran visual dan auditori memenuhi dua kebutuhan psikologis dasar siswa: kebutuhan akan kompetensi (merasa mampu memahami materi) dan 41| Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan, Volume 1, Nomor 2, Juli 2025, Hlm 36-43 kebutuhan akan otonomi (memiliki pilihan dan suara dalam cara mereka belajar). Pemenuhan kebutuhan ini, yang sering terabaikan dalam metode ceramah konvensional, bertindak sebagai katalis untuk motivasi intrinsik yang terwujud dalam keaktifan dan antusiasme yang diamati. Temuan ini mempertegas bahwa ketidaksesuaian antara gaya mengajar guru dan gaya belajar siswa merupakan salah satu akar masalah disparitas motivasi dan prestasi, khususnya di daerah pedesaan dengan sumber daya terbatas. Penggunaan pendekatan yang variatif bukanlah sebuah kemewahan, melainkan sebuah keharusan pedagogis. Guru tidak harus sepenuhnya meninggalkan metode konvensional, namun perlu mengintegrasikannya dengan strategi yang learner-centered untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna (meaningful learning). Pada akhirnya, transformasi kecil yang berpusat pada siswa ini membuktikan bahwa inovasi pedagogis tidak selalu memerlukan teknologi canggih, tetapi lebih pada kesadaran untuk merespon keragaman cara belajar anak didik. PEMBAHASAN Hasil penelitian ini membuktikan bahwa intervensi pembelajaran yang memenuhi kebutuhan modalitas visual dan auditori berhasil mengubah lanskap pembelajaran di SMP Negeri 1 Greged. Transformasi ini tidak hanya tampak dangkal, tetapi mencerminkan pergeseran paradigma dari lingkungan yang berfokus pada pengajar menjadi yang berfokus pada siswa secara autentik. Keberhasilan perubahan ini dapat dipahami melalui penggabungan beberapa pandangan teoretis yang saling mendukung Peningkatan keaktifan dan partisipasi siswa dalam diskusi kelompok dapat ditelusuri kepada teori motivasi intrinsik (Malone, 1981). Dominasi metode ceramah yang monoton telah menciptakan sebuah “skema” atau rutinitas kognitif yang pasif bagi siswa. Kehadiran media visual seperti infografis dan diagram, serta stimulus auditori seperti rekaman penjelasan, berfungsi sebagai stimulus novel yang menciptakan ketidaksesuaian (incongruity) dengan skema tersebut. Ketidakseimbangan kognitif inilah yang memicu rasa ingin tahu dan dorongan psikologis untuk mengeksplorasi materi secara aktif, yang termanifestasi dalam bentuk pertanyaan, tanggapan, dan kontribusi ide selama diskusi. Dengan kata lain, pendekatan multimodal ini berhasil memanfaatkan keinginan alami otak untuk menyelesaikan ketidakpastian, sehingga mendorong keterlibatan yang otentik. Munculnya keberanian berekspresi mencerminkan terpenuhinya kebutuhan psikologis relatedness dan competence dalam self-determination theory (Ryan & Deci 2020), sementara transformasi iklim belajar menunjukkan tercapainya psychological safety (Edmondson & Lei, 2014) yang memungkinkan risktaking intelektual. Temuan peningkatan retensi informasi dan kemampuan siswa dalam menjelaskan ulang konsep dengan bahasa mereka sendiri merupakan bukti empiris yang kuat bagi dual coding theory (Paivio, 1991) dan cognitive theory of multimedia learning (Mayer, 2024). Ketika informasi disajikan secara verbal (melalui penjelasan lisan atau teks) dan secara visual (melalui gambar atau diagram), kedua saluran pemrosesan verbal dan imajeri di 42| Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan, Volume 1, Nomor 2, Juli 2025, Hlm 36-43 otak bekerja secara simultan dan saling memperkuat. Proses pengkodean ganda (dual coding) ini menciptakan jejak memori yang lebih banyak dan kuat. Akibatnya, siswa tidak hanya lebih mudah memahami materi yang abstrak, tetapi juga memiliki lebih banyak cara untuk mengakses informasi tersebut kembali pada saat diperlukan, sehingga retensi informasi meningkat signifikan. Pendekatan multimodal ini memenuhi kebutuhan kompetensi (competence). Dengan pemahaman yang lebih baik berkat dukungan visual dan auditori, siswa merasa lebih mampu dan percaya diri untuk menyampaikan pemikirannya. Suasana diskusi interaktif dan kolaboratif memenuhi kebutuhan keterhubungan (relatedness), di mana siswa merasa menjadi bagian dari komunitas belajar yang saling mendukung (Ryan & Deci 2020). Kombinasi terpenuhinya kompetensi dan keterhubungan ini menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis (psychological safety) (Edmondson & Lei 2014). Dalam lingkungan seperti ini, siswa yakin bahwa pendapat atau kesalahan yang mereka lakukan tidak akan mengakibatkan hukuman atau dipermalukan, sehingga mereka berani mengambil risiko intelektual (intellectual risk-taking) yang merupakan prasyarat untuk belajar yang mendalam. Implikasi dari temuan ini sangat jelas: integrasi pendekatan multimodal bukan lagi sebuah alternatif, melainkan sebuah keharusan pedagogis, khususnya di daerah pedesaan dengan akses sumber daya yang terbatas. Strategi ini terbukti efektif, rendah biaya, dan dapat diterapkan tanpa ketergantungan pada teknologi tinggi. Namun, penelitian ini memiliki keterbatasan dalam hal cakupan sampel dan durasi intervensi yang relatif singkat. Generalisasi temuan perlu dilakukan dengan hati-hati. Oleh karena itu, penelitian lanjutan sangat disarankan untuk: (1) menguji dampak jangka panjang dari intervensi serupa terhadap prestasi akademik, (2) mengeksplorasi efektivitas komparatif antara modalitas visual, auditori, dan kinestetik, serta (3) mengembangkan model integrasi yang lebih terstruktur untuk dapat diadopsi secara luas dalam kurikulum. SIMPULAN Berdasarkan keseluruhan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan multimodal melalui pemanfaatan gaya belajar visual dan auditori terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa di SMP Negeri 1 Greged. Intervensi pembelajaran yang mengintegrasikan media visual (gambar, diagram) dan auditori (diskusi, rekaman suara) berhasil mentransformasi lingkungan pembelajaran dari yang sebelumnya bersifat teacher-centered menjadi learner-centered. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa pendekatan ini berhasil meningkatkan keaktifan siswa dalam diskusi kelompok melalui mekanisme incongruity yang memicu eksplorasi aktif, retensi informasi melalui proses dual coding yang memperkuat jejak memori, keberanian berkespresi melalui terpenuhinya kebutuhan psikologis competence dan relatedness, serta terciptanya psychological safety yang mendorong intellectual risktasking. Penelitian ini menegaskan urgensi pemahaman guru terhadap keragaman gaya belajar dan pentingnya integrasi pendekatan multimodal dalam praktik pedagogis, 43| Counselive: Jurnal Konseling Kehidupan, Volume 1, Nomor 2, Juli 2025, Hlm 36-43 khususnya di daerah pedesaan dengan sumber daya terbatas. Implikasi praktis dari penelitian ini adalah perlunya pengembangan strategi pembelajaran inklusif yang responsive terhadap karakteristik belajar siswa. Untuk penelitian selanjutnya, disarankan untuk mengeksplorasi dampak jangka panjang pendekatan ini terhadap prestasi akademik serta efektivitas komparatif berbagai modalitas belajar dalam konteks yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA Al Fajri, Taufiq Akbar. (2020). “Pentingnya Penggunaan Pendekatan Multimodal Dalam Pembelajaran.” WASKITA: Jurnal Pendidikan Nilai Dan Pembangunan Karakter, 2(1): 57–72. De Porter, B. (2019). Quantum Learning; Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan. Kaifa. Edmondson, A. C., & Lei, Z. (2014). Psychological safety: The history, renaissance, and future of an interpersonal construct. Annu. Rev. Organ. Psychol. Organ. Behav., 1(1), 23–43. Fauziyah, S. H., & Yuniarti, Y. (2024). Penerapan Pendekatan Multimodal dalam Pembelajaran Abad 21 di Sekolah Dasar: Sebuah Tinjauan Pustaka. Jurnal Lensa Pendas, 332–343. Kurniati, A., Fransiska, F., & Sari, A. W. (2019). Analisis gaya belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia kelas V Sekolah Dasar Negeri 14 Manis Rayakecamatan Sepauk tahun pelajaran 2018/2019. Jurnal Pendidikan Dasar Perkhasa: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar, 5(1), 87–103. Malone, T. W. (1981). Toward a theory of intrinsically motivating instruction. Cognitive Science, 5(4), 333–369. Mayer, R. E. (2024). The past, present, and future of the cognitive theory of multimedia learning. Educational Psychology Review, 36(1), 8. Nasution, S. (2000). Berbagai pendekatan dalam proses belajar dan mengajar. (No Title). Paivio, A. (1991). Dual coding theory: Retrospect and current status. Canadian Journal of Psychology/Revue Canadienne de Psychologie, 45(3), 255. Ryan, R. M., & Deci, E. L. (2020). Intrinsic and extrinsic motivation from a selfdetermination theory perspective: Definitions, theory, practices, and future directions. Contemporary Educational Psychology, 61, 101860.