JURNAL PENDIDIKAN DAN LITERASI MADRASAH IBTIDAAoIYAH E-ISSN: 2963-4709 | P-ISSN: 2963-4709 DOI: https://doi. org/10. 63889/permai. VOL. 05 NO. JUNI Ae NOVEMBER https://jurnal. id/index. php/permai/ Pendidikan Akhlak Terhadap Pembentukan Karakter Siswa di Era Digital Yuli Setyawati1. Nisrina2. Kamila Nayli Az-Zahra3. Fathiyah Husna4. Nuril Azzam Saeful Fikri5. Syaefudin Achmad6 Universitas Islam Negeri Salatiga1,2,3,4,5,6 setyawatiy411@gmail. com1, nisriinaanaa@gmail. com2, kamilazahra489@gmail. fathiyahusnaa@gmail. com4, fikripudaksarimulyo@gmail. com5, syaefudinachmad@uinsalatiga. Article History: Submited 09 Januari 2026 Received 20 Februari 2026 Revised 03 Maret 2026 Accepted 15 Mei 2026 Abstract The development of digital technology has brought significant changes in students' mindsets, attitudes, and behaviors, which have a direct impact on the formation of their character and morals. The digital era presents moral challenges in the form of a rapid flow of information, virtual social interactions, and easy access to content that does not always align with ethical and religious values. This study aims to analyze the role of moral education in shaping students' character in the digital era. This study used a descriptive qualitative approach with library research methods, through a review of books, scientific journals, and previous research relevant to moral education, character education, and the dynamics of the digital era. Data analysis techniques used content analysis and qualitative descriptive analysis to gain a comprehensive understanding. The results of the study indicate that moral education plays a strategic role in shaping students' character, particularly in instilling the values of honesty, responsibility, empathy, courtesy, and moral integrity. However, moral education depends heavily on the ability of educators, educational institutions, and families to integrate moral values with digital literacy in a contextual and adaptive manner. Therefore, moral education remains a key pillar in shaping student character in the digital age when implemented through a holistic, collaborative, and contemporary approach. Keyword: Moral Education. Character Building. Digital Era. Abstrak Perkembangan teknologi digital membawa perubahan signifikan dalam pola pikir, sikap, dan perilaku peserta didik, yang berdampak langsung pada pembentukan karakter dan akhlak siswa. Era digital menghadirkan tantangan moral berupa derasnya arus informasi, interaksi sosial virtual, serta kemudahan akses terhadap konten yang tidak selalu sejalan dengan nilai-nilai etika dan agama. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan akhlak dalam membentuk karakter siswa di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka . ibrary researc. , melalui telaah terhadap buku, jurnal ilmiah, dan hasil penelitian terdahulu yang relevan Pendidikan AkhlakA Yuli S. Dkk. Vol. 5 No. Juni Ae November issn: 2963-4709 dengan pendidikan akhlak, pendidikan karakter, dan dinamika era digital. Teknik analisis data dilakukan melalui analisis konten dan deskriptif kualitatif untuk memperoleh pemahaman komprehensif. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan akhlak memiliki peran strategis dalam membentuk karakter siswa, khususnya dalam menanamkan nilai kejujuran, tanggung jawab, empati, sopan santun, dan integritas moral. Namun, pendidikan akhlak sangat bergantung pada kemampuan pendidik, lembaga pendidikan, dan keluarga dalam mengintegrasikan nilai-nilai akhlak dengan literasi digital secara kontekstual dan adaptif. Oleh karena itu, pendidikan akhlak tetap menjadi pilar utama dalam pembentukan karakter siswa di era digital apabila dilaksanakan melalui pendekatan yang holistik, kolaboratif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Kata Kunci: Pendidikan Akhlak. Pembentukan Karakter. Era Digital. Pendahuluan Era digital saat ini ditandai oleh derasnya arus informasi dan interaksi sosial virtual yang sangat memengaruhi kehidupan generasi muda, termasuk peserta didik di jenjang pendidikan Teknologi yang semula hadir sebagai penunjang pendidikan justru kini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pembentukan karakter siswa. Fenomena ini tampak dalam perubahan pola pikir, sikap, dan perilaku siswa yang semakin individualistik, kurang empati, dan mengalami penurunan etika dalam berkomunikasi baik di dunia nyata maupun maya (Diplan, 2019. Secara ideal, pendidikan seharusnya menjadi instrumen strategis dalam membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga unggul dalam akhlak dan Pendidikan dalam Islam mengutamakan pembentukan akhlak sebagai inti dari proses pendidikan itu sendiri. Akhlak merupakan karakter yang tertanam kuat dalam jiwa dan tercermin dalam kebiasaan tanpa rekayasa atau paksaan. Nilai-nilai akhlak seperti kejujuran, tanggung jawab, dan sopan santun merupakan bagian dari karakter utama yang semestinya menjadi identitas peserta didik (Suryadi, 2021. Namun realitas yang terjadi menunjukkan adanya kesenjangan antara tujuan ideal pendidikan dan kondisi nyata di lapangan. Banyak siswa yang secara akademik berprestasi tetapi kurang memiliki karakter yang mencerminkan nilai-nilai moral yang kuat (Permatasari. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya metode pembelajaran yang masih bersifat formal dan kurang menyentuh aspek afektif serta kurangnya integrasi antara pendidikan karakter dan dinamika era digital (Asmahasanah et al. , 2018. Di sisi lain, hasil kajian yang dilakukan oleh (Muzaini & Salamah, 2023. menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam memiliki potensi besar dalam menanamkan nilai-nilai karakter melalui pendekatan keteladanan, pembiasaan, dan pemberian tanggung Strategi ini menjadi semakin relevan ketika dihadapkan pada tantangan moral era digital yang kompleks. Namun demikian, keberhasilan pendidikan akhlak tetap bergantung pada peran aktif guru, budaya sekolah, dan kolaborasi antara keluarga dan masyarakat (Isneini, 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, kajian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas pendidikan akhlak dalam membentuk karakter siswa di era digital. Dengan pendekatan studi pustaka, penulis berupaya mengidentifikasi kontribusi pendidikan akhlak dalam menghadapi tantangan moral generasi digital, serta merumuskan pendekatan-pendekatan yang kontekstual dan adaptif agar pendidikan akhlak tetap relevan dalam dunia pendidikan masa kini. Pendidikan AkhlakA Yuli S. Dkk. Vol. 5 No. Juni Ae November issn: 2963-4709 Metode Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kepustakaan . ibrary researc. untuk menganalisis teori serta memberikan gambaran yang mendalam mengenai efektivitas Pendidikan akhlak dalam membentuk karakter siswa di era Fokus kajian ini terletak pada bagaimana Pendidikan akhlak mampu menjadi fondasi dalam membentuk karakter siswa di tengah tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi Menurut Zed dalam (Fadli, 2. Terdapat empat tahapan dalam pelaksanaan studi Pustaka, yaitu: mempersiapkan alat yang diperlukan. Menyusun bibliografi kerja, mengatur jadwal secara efektif, dan membaca serta mencatat bahan penelitian. Proses pengumpulan data dilakukan dengan menelusuri berbagai sumber, kemudian merekontruksi informasi yang diperoleh dari buku, jurnal, dan hasil-hasil penelitian yang relevan dan terdahulu. Analisis data menggunakan metode analisis konten dan analisis deskriptif. Seluruh referensi yang diperoleh dianalisis secara kritis dan mendalam guna memperkuat argument serta mendukung pengembangan ide atau gagasan dalam penlitian. Hasil dan Pembahasan Pendidikan Akhlak Pendidikan berasal dari kata AudidikAy yang berarti membina serta memberikan pelatihan terkait moral dan kecerdasan intelektual (Gita, 2. Pendidikan merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk menciptakan lingkungan serta proses pembelajaran yang mendorong peserta didik berperan aktif dalam mengembangkan potensi diri mereka. Hal ini bertujuan agar peserta didik memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kemampuan mengendalikan diri, kepribadian yang baik, kecerdasan, akhlak yang mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan untuk dirinya sendiri maupun untuk kehidupan bermasyarakat (Rahman et al. Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan secara sadar oleh seorang pendidik dan disusun secara terencana dengan tujuan yang telah ditetapkan. Peran pendidikan sangat penting dalam mendorong kemajuan generasi penerus bangsa di tengah kehidupan masyarakat. Selain itu, pendidikan juga menjadi unsur penting dalam kehidupan manusia serta pencapaian pembangunan nasional. Karena kehidupan manusia selalu berkaitan dengan pendidikan, hal ini menunjukkan bahwa melalui pendidikan seseorang dapat membentuk dan mengubah hidupnya kearah yang lebih baik (Mustadi, 2. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan proses yang dilakukan secara sadar dan terencana untuk membina, melatih, dan mengembangkan potensi individu baik secara moral, intelektual, spiritual, maupun sosial. Pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian kecerdasan, dan keterampilan seseorang agar dapat berkontribusi secara positif dalam kehidupan pribadi dan masyarakat. Sebagai pilar utama dalam pembangunan nasional, pendidikan menjadi kunci dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang berkualitas dan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik. Istilah akhlak berasal dari bahasa Arab dan merupakan bentuk jamak dari kata khuluq. Secara etimologis, khuluq memiliki arti ath-thabAou yang berarti karakter dan as-sajiyyah yang berarti tingkah laku atau watak (Bafadhol, 2. Kata akhlak tergolong dalam isim jamid atau Pendidikan AkhlakA Yuli S. Dkk. Vol. 5 No. Juni Ae November issn: 2963-4709 isim ghair musthaq, yakni jenis kata benda yang tidak berasal dari bentuk kata lain atau tidak memiliki akar kata, melainkan memang sudah berbentuk demikian sejak awal (Mahmud, 2020. Para pakar dalam bidang ilmu akhlak menyatakan bahwa meskipun definisi akhlak disampaikan dengan kalimat yang berbeda-beda, intinya tetap mengarah pada satu hal, yaitu Secara bahasa, akhlak memiliki makna yang sepadan dengan adab, tata krama, budi pekerti, atau etika (Permatasari, 2. Sementara itu, sejumlah ulama telah memberikan berbagai definisi mengenai makna Salah satunya. Al-Ghazali menjelaskan bahwa akhlak adalah AuSebuah tatanan yang tertanam kuat dalam jiwa yang darinya muncul beragam perbuatan dengan mudah dan ringan, tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbanganAy. Dalam konteks ini, al-khuluk diartikan sebagai suatu tindakan yang secara spontan dan alami muncul dari dalam diri seseorang, tanpa perlu melalui proses pemikiran atau pertimbangan terlebih dahulu (Mahmud, 2020. Pendapat lain menyebutkan bahwa secara terminologis, akhlak merupakan ilmu yang membahas mengenai hal-hal yang dianggap baik dan buruk . enar dan sala. , mengatur hubungan antar manusia, serta menetapkan tujuan akhir dari setaiap usaha dan pekerjaan yang dilakukan (Syam & Arif, 2. Pada dasarnya, akhlak merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari diri seseorang dan tercermin dalam tingkah laku atau perbuatannya. Jika perilaku yang melekat tersebut negative, maka disebut sebagai akhlak tercela atau akhlak mazmumah. Jika perilakunya positif, maka disebut akhlak terpuji atau akhlak mahmudah (Habibah, 2. Tindakan-tindakan manusia dapat dikategorikan sebagai akhlak apabila memenuhi dua kriteria berikut: pertama. Tindakan tersebut dilakukan secar berulang hingga menjadi suatu Kedua. Tindakan itu dilakukan atas kehendak pribadi, bukan karena dorongan atau tekanan dari luar, seperti ancaman, paksaan, atauapun bujukan dan rayuan (Sahnan, 2. Dari uraian diatas bahasa Arab khuluq yang berarti karakter atau tingkah laku, dan secara terminologis merujuk pada perilaku yang tercermin dari kebiasaan seseorang yang dilakukan secara sadar dan tanpa paksaan. Akhlak merupakan bagian integral dari diri manusia yang mencerminkan nilai-nilai baik dan buruk dalam hubungan sosial maupun spiritual. Akhlak yang baik disebut mahmudah, dan akhlak yang buruk disebut mazmumah. Pada intinya, akhlak adalah ilmu dan praktik yang mengatur perilaku manusia agar sesuai dengan norma moral dan etika, serta menjadi dasar dalam membentuk kepribadian yang luhur. Pendidikan akhlak merupakan bagian paling esensial dalam dunia pendidikan. Akhlak berfungsi sebagai penuntun perilaku manusia. Akhlakul karimah muncul ketika seseorang menjalankan perilakunya sesuai dengan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan, sebagaimana tercermin dalam hadis AoAisyah ra yang menyatakan bahwa AuAkhlak Rasulullah adalah al-QurAoanAy (HR. Musli. Sementara itu, bentuk pendidikan yang tidak berfokus pada akhlak umumnya hanya mencakup aspek teknis atau keterampilan hidup . ife-skil. (Suryadarma & Haq, 2. Pendidikan akhlak juga dapat dipahami sebagi pendidikan moral dalam konteks pemikiran pendidikan Islam. Kajian mendalam terhadap pemikiran para tokoh pendidikan Islam terdahulu seperti Ibnu Miskawaih. Al-Qabisi, dan Al-Ghazali mengungkapkan bahwa tujuan utama dari pendidikan akhlak adalah membentuk karakter peserta didik yang berakhlak Hal ini pada dasarnya merupakan perwujudan dari sifat-sifat baik Allah yang tercermin dalam diri manusia sesuai dengan fitrahnya (Majid et al. , 2. Secara sederhana, tujuan pendidikan akhlak adalah untuk membentuk dan memperbaiki perilaku peserta didik, serta menanamkan nilai-nilai kebaikan secara mendalam Pendidikan AkhlakA Yuli S. Dkk. Vol. 5 No. Juni Ae November issn: 2963-4709 agar keinginan untuk berperilaku baik tetap melekat dalam diri mereka. Pendidikan akhlak juga didasarkan pada landasan filosofis yang jelas. Tujuan dari proses pendidikan akhlak adalah menjadikan manusia sebagi pribadi yang baik. Dalam praktiknya, lembaga pendidikan tidak hanya berfokus pada pengembangan kecerdasan dan keterampilan individu, tetapi juga memiliki tujuan penting lainnya, yaitu membentuk individu yang memiliki akhlak mulia (Suryadi, 2021. Pendidikan akhlak merupakan inti dari pendidikan dalam perspektif Islam, karena berperan penting dalam membentuk perilaku dan karakter mulia individu. Akhlak yang baik tercermin dari kesesuaian perilaku dengan ajaran al-QurAoan dan sunah, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah saw. Tujuan utama pendidikan akhlak adalah menanamkan nilainilai kebaikan dan memperbaiki perilaku manusia agar menjadi pribadi yang baik sesuai dengan fitrah dan sifat-sifat mulia Allah. Oleh karena itu, pendidikan tidak hanya bertujuan mengembangkan kecerdasan dan keterampilan, tetapi juga harus menekankan pembentukan akhlak sebagai landasan utama dalam membina manusia seutuhnya. Pendidikan akhlak saat ini memiliki peran yang sangat penting, mengingat banyaknya budaya asing yang masuk ke Indonesia dan berpotensi merusak karakter generasi muda bangsa. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdikna. Nomor 20 Tahun 2003. Bab I Pasal 1, yang menyatakan bahwa pendidikan merupakan Upaya yang disusun secara sadar dan terencana untuk menciptakan suasana belajar serta pembelajaran yang memungkinkan peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya. Tujuannya adalah agar peserta didik memiliki kekuatan spiritual keagamaan, kemapuan mengendalikan diri, kepribadian yang baik, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (Hasanah et al. , 2. Pembelajaran akidah akhlak dalam upaya menanamkan pendidikan akhlak pada peserta didik masih belum sepenuhnya berhasil, karena nilai-nilai tersebut belum benar-benar tumbuh dalam diri mereka. Hal ini disebabkan oleh pembelajaran yang seringkali bersifat formalitas, tanpa menyentuh esensi dan makna yang sebenarnya. Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia di sekolah, seperti kurangnya jumlah maupun pemahaman guru yang memadai, turut menjadi faktor yang menyebabkan proses pelaksanaan pendidikan ini kurang efektif (Asmahasanah et al. , 2018. Oleh karena itu, diperlukan peran aktif guru dalam membinaa pendidikan akhlak peserta didik melalui berbagai kegiatan keagamaan yang tersedia, serta melalui penerapan kebiasaan-kebiasaan positif yang dilakukan secar rutin di lingkungan Pembentukan Karakter Siswa Pembentukan karakter siswa merupakan proses penting dalam pendidikan yang tidak hanya melibatkan penguasaan pengetahuan, tetapi juga pembentukan nilai, sikap, dan perilaku yang mencerminkan kepribadian mulia. Dalam konteks pendidikan nasional, pembentukan karakter diarahkan pada integrasi empat aspek penting, yaitu olah-pikir, olah-rasa, olah-hati, dan olah-raga, sebagai representasi dari pengolahan kognitif, afektif, spiritual, dan jasmani Pembentukan karakter juga bisa dikatakan sebagai aspek fundamental dalam dunia pendidikan, di mana lingkungan sekolah memainkan peranan yang sangat penting dalam proses Lingkungan sekolah tidak hanya terdiri dari infrastruktur fisik seperti ruang kelas dan fasilitas belajar, tetapi juga mencakup budaya sekolah, kepemimpinan, interaksi sosial, serta keterlibatan orang tua dan masyarakat (Ardiyanti et al. , 2. Pendidikan AkhlakA Yuli S. Dkk. Vol. 5 No. Juni Ae November issn: 2963-4709 Faktor pendukung utama dalam pembentukan karakter adalah keteladanan guru, budaya sekolah yang religius, dan keterlibatan aktif siswa serta dukungan masyarakat dan orang Namun demikian, tantangan tetap ada, seperti perbedaan latar belakang siswa, kurangnya dukungan dari orang tua, dan padatnya aktivitas guru. Meski begitu, dengan strategi pembelajaran yang melibatkan keteladanan, pembiasaan, dan pendekatan persuasif, guru mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pembentukan karakter siswa secara Pendidikan karakter melalui PAI terbukti menjadi solusi strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga unggul secara moral dan spiritual (Muzaini & Salamah, 2023. Pembentukan karakter siswa dalam perspektif pendidikan Islam merupakan proses yang mencakup dimensi moral, spiritual, dan sosial yang berlandaskan pada nilai-nilai ajaran Islam. Guru memainkan peran sentral sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan yang bukan hanya mentransmisikan ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman seperti kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, tolong-menolong, dan keadilan. Dalam proses pembelajaran, guru diharapkan mampu mengintegrasikan nilai-nilai Islam ke dalam setiap materi ajar serta membentuk lingkungan kelas yang mendukung pengembangan akhlak mulia. Keteladanan guru dalam perilaku sehari-hari menjadi faktor kunci, karena siswa cenderung meneladani sikap dan etika yang ditampilkan oleh gurunya. Strategi pembelajaran yang bernuansa islami, seperti diskusi nilai-nilai moral dalam konteks ajaran Islam, pembacaan Al-QurAoan, shalat berjamaah, dan pembinaan etika sosial, berkontribusi signifikan dalam membentuk karakter positif siswa. Kolaborasi antara guru, orang tua, dan masyarakat juga menjadi aspek penting yang memperkuat keberhasilan pendidikan karakter. Dengan pendekatan yang holistik dan integratif, guru dapat membantu siswa tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, memiliki kesadaran spiritual, dan mampu menjalani kehidupan sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, pendidikan karakter berbasis ajaran Islam menempatkan guru sebagai agen perubahan yang mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual (Isnaini & Syahfitri, 2. Karakter siswa tidak bisa muncul secara instan, melainkan harus terbentuk melalui kebiasaan dan lingkungan pembelajaran yang positif serta terarah. Salah satu strategi utama yang disoroti adalah penerapan pembelajaran inovatif. Strategi ini mencakup metode seperti pembelajaran berbasis masalah, inkuiri, pembelajaran afektif, kooperatif, kontekstual, dan pendekatan ilmiah. Melalui pendekatan tersebut, guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator pembentukan karakter dengan menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan, bermakna, dan mendorong pemikiran kritis. Dalam Pembelajaran, karakter-karakter seperti toleransi, kejujuran, tanggung jawab, cinta damai, dan kepedulian sosial sangat ditekankan karena sangat relevan dengan tantangan bangsa Indonesia yang multikultural dan tengah menghadapi krisis moral. Dengan demikian, pembelajaran inovatif menjadi sarana strategis dalam menanamkan nilai-nilai karakter secara menyeluruh dan kontekstual sesuai dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik (Purwadhi, 2. Di era milenial yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan globalisasi, pembentukan karakter siswa menjadi sangat penting untuk menyiapkan generasi yang berkepribadian kuat dan berbudi pekerti luhur. Pendidikan karakter berperan sebagai fondasi dalam membentuk kepribadian anak yang berlandaskan nilai-nilai moral seperti integritas. Pendidikan AkhlakA Yuli S. Dkk. Vol. 5 No. Juni Ae November issn: 2963-4709 empati, kejujuran, tanggung jawab, dan kerja sama. Karakter terbentuk dari tiga aspek utama: pengetahuan moral . oral knowin. , perasaan moral . oral feelin. , dan perilaku moral . oral Sayangnya, perkembangan teknologi yang pesat juga memicu kemunduran moral di kalangan siswa, seperti perilaku konsumtif, individualisme, dan rendahnya kepedulian sosial. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai karakter harus dilakukan sejak dini melalui sinergi antara pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat. Dalam pembentukan karakter. Orang tua berperan sebagai pendidik pertama dan utama, sedangkan guru memiliki tanggung jawab untuk membimbing dan mengintegrasikan nilai-nilai karakter ke dalam proses pembelajaran. Pendidikan karakter yang efektif mencakup penanaman nilai-nilai Pancasila, budaya bangsa, serta penguatan kepribadian melalui pendekatan kontekstual, berbasis lingkungan, dan digital. Dalam konteks ini, kurikulum merdeka yang menekankan pada pembelajaran diferensiasi dan proyek penguatan profil pelajar Pancasila menjadi langkah strategis untuk menanamkan karakter pada siswa. Dengan demikian, pembentukan karakter siswa bukan hanya tanggung jawab individu tertentu, melainkan menjadi upaya kolektif semua pihak dalam mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur bangsa (Irham et al. , 2. Karakter Siswa di Era Digital Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi digital seperti internet, media sosial, dan perangkat seluler, manusia kini memiliki akses yang lebih besar terhadap informasi dan komunikasi daripada sebelumnya. Hal ini telah mengubah cara interaksi manusia. Era digital telah membawa perubahan mendalam dalam cara manusia berinteraksi. Teknologi informasi dan komunikasi yang berkembang pesat, seperti media sosial, perangkat seluler, dan internet, telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupan sosial. Interaksi manusia tidak lagi terbatas pada pertemuan langsung, tetapi juga melalui platform digital. Hal ini membawa sejumlah tantangan sosial yang perlu dipahami lebih dalam (Juliana et al. , 2. Secara umum, hadirnya era digital dalam dunia pendidikan menawarkan berbagai peluang sekaligus tantangan. Jika dimanfaatkan secara optimal, teknologi dapat menjadikan pendidikan lebih inklusif, adaptif, dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Dalam hal ini, peran guru dan lembaga pendidikan sangat penting untuk memastikan bahwaa perubahan yang terjadi dapat diimbangi dengan baik, guna mempersiapkan generasi yang mampu menghadapi dinamika masyarakat global yang semakin terhubung. Perkembangan teknologi yang sangat cepat membuat anak-anak dan remaja semakin sering terlibat dalam aktivitas di dunia digital, sehingga pengaruh lingkungan maya terhadap pembentukan karakter mereka menjadi semakin signifikan. Kondisi ini menuntut adanya strategi yang tepat dalam menanamkan nilai-nilai karakter juga menghadapi tantangan lain berupa keberagaman nilai yang dianut oleh masyarakat, yang kerap menimbulkan perbedaan pandangan mengenai standar moral dan etika (Boiliu, 2. Di tengah dinamika era digital yang terus berkembang, pendidikan karakter menghadapi tantangan yang semakin rumit dan mendalam. Kemajuan pesat dalam teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah cara individu, khususnya generasi muda, berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Pendidikan karakter, yang bertujuan menanamkan nilai-nilai positif, integritas, serta moralitas, kini harus berhadapan dengan realitas baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya (Triyanto, 2. Pendidikan AkhlakA Yuli S. Dkk. Vol. 5 No. Juni Ae November issn: 2963-4709 Pendidikan karakter di era digital dihadapakan pada berbagai tantangan yang kompleks akibat pesatnya kemajuan teknologi dan perubahan dalam tatanan social. Salah satu tantangan utama adalah mudahnya akses terhadap berbagai informasi yang tidak selalu membawa pengaruh positif. Anak-anak dan remaja kini sangat rentan terpapar konten yang kurang sesuai dengan nilai-nilai karakter yang ingin dibentuk melalui pendidikan. Selain itu, keberadaan media sosial dan pola interaksi secara daring juga turut memengaruhi proses pembentukan karakter mereka (Sagala et al. , 2. Karakter anak zaman sekarang semakin nyeleneh dan semaunya sendiri. Anak-anak cenderung egois, tidak suka bekerja sama. Hal ini disebabkan seringnya mereka lebih suka bermain game lewat ponsel android daripada permainan tradisional yang mengajarkan perilaku untuk bekerjasama. Fenomena ini tidak bisa dipungkiri, baik itu di kota maupun di pelosok desa Karakter anak pada sebagian generasi millenial memprihatinkan. Mereka kadang tidak menghargai orangtua maupun gurunya. Bahkan dari mereka juga terkadang terjebak pada dunia criminal dan narkoba. Generasi millenial dalam minat belajar juga sebagian besar mengalami kemunduran (Diplan, 2019. Dalam situasi dimana teknologi informasi berkembang begitu pesat, anak-anak dan remaja menjadi semakin rentan terhadap berbagai pengaruh digital yang dapat memengaruhi proses pembentukan karakter mereka. Masalah utama yang muncul berkaitan dengan etika dalam dunia digital, seperti kurangnya kepedulian terhadap privasi, penyebaran informasi yang menyesatkan, serta perilaku tidak pantas yang dengan mudah dapat memengaruhi pola pikir anak-anak yang masih dalam tahap perkembangan (Ruchiyat et al. , 2. Ketergantungan pada media sosial juga dapat menimbulkan permasalahan terkait citra diri dan dorongan untuk mendapatkan pengakuan secara daring, yang pada akhirnya bisa mengganggu keutuhan karakter. Karena itu, tantangan pendidikan karakter di era digital mencakup pentingnya membekali individu dengan nilai-nilai moral yang kokoh, pemahaman mendalam tentang etika digital, serta keterampilan sosial yang dibutuhkan agar mereka mampu merespons lingkungan digital yang terus berubah secara positif. Diperlukan pendekatan menyeluruh yang menggabungkan pendidikan karakter dengan literasi digital untuk membentuk generasi yang tidak hanya mahir dalam teknologi, tetapi juga memiliki landasan moral yang kuat dalam menghadapi kompleksitas persoalan etis di dunia digital (Febriyanto et , 2. Pembentukan karakter siswa di era digital merupakan tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi secara bijaksana. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kemudahan akses informasi, siswa sangat rentan terhadap berbagai pengaruh positif maupun negatif dari dunia digital. Oleh karena itu, pendidikan karakter tidak hanya berfokus pada penanaman nilai-nilai moral secara konvensional, tetapi juga harus disesuaikan dengan dinamika digital yang berkembang saat ini. Integrasi antara pendidikan karakter dan literasi digital menjadi kunci untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual dan digital, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, serta etika dalam berinteraksi di dunia Dengan pendekatan yang holistik, pendidikan dapat menghasilkan individu yang siap menghadapi tantangan global dengan karakter yang kuat dan adaptif. Pendidikan Akhlak untuk Pembentukan Karakter Siswa di Era Digital Pendidikan akhlak memainkan peran krusial dalam membentuk karakter anak di tengah era digital. Walaupun keluarga dan institusi pendidikan telah berupaya menanamkan Pendidikan AkhlakA Yuli S. Dkk. Vol. 5 No. Juni Ae November issn: 2963-4709 nilai-nilai akhlak secara intensif, kemajuan tekonologi digital menimbulkan tantangan besar dalam penerapannya. Oleh karena itu, kolaborasi antara pendidikan formal di sekolah, pembinaan di lingkungan keluarga, serta pengawasan penggunaan teknologi yang bijak menjadi sangat pentin. Keseimbangan antara penanaman nilai-nilai akhlak dan pemanfaatan teknologi secara tepat dapat menjadi kunci salam membentuk generasi yang berkarakter dan berakhlak di era modern yang terus berkembang (Romadan, 2. Di era digital dengan tantangan yang semakin rumit, pembentukan akhlak dan karakter menjadi fondasi yang sangat esensial. Pendidikan islam dengan penekanan pada nilai-nilai morak dan etika memegang peranan penting sebagai fondasi dalam menenggapi dampak kemajuan teknologi. Nilai-nilai fundamental seperti kejujuran, tanggung jawab. Amanah dan empati harus menjadi bagian sentral dalam kurikulum pendidikan islam. Melalui penanaman nilai-nilai tersebut secara terstruktur sejak dini, peserta didik anakn memiliki landasan moral yang kuat untuk menyikapi dinamika kehidupan modern, di mana arus informasi begitu cepat namun seringkali tidak diiringi dengan landasan moral yang memadai. Pendidikan akhlak tidak hanya berfungsi untuk membentuk pribadi yang bermoral, tetapi juga untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam menyikapi arus informasi secara kritis. Di era digital, keterampilan dalam membedakan informasi yang valid dan menolak informasi yang menyesatkan sangatlah penting. Seseorang yang memiliki landasan moral yang kuat cenderung lebih mampu menjaga integritas diri dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang meragukan. Pendidikan karakter yang baik juga melatih remaja agara mampu berpikir secara logis dan analitis, sehingga mereka dapat menilai kebenaran informasi sebelum Di tengah maraknya hoaks dan disinformasi, kemampuan ini menjadi sangat penting guna menghindari dampak buruk yang dapat terjadi secara luas. Selain membentuk tanggung jawab individu, pendidikan akhlak dan karakter juga berperan penting dalam menumbuhkan kepedulian social yang tinggi. Melalui pemahaman yang kuat tentang tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain, peserta didik berpotensi menjadi pelaku perubahan positif di tengah masyarakat. Misalnya, dapat memanfaatkan teknologi secara kretif untuk menyebarluaskan nilai-nilai islam yang konstruktif, sehingga memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya. Pendekatan semacam ini juga menanamkan kesadaran bahwa teknologi bukan hanya media konsumsi informasi, tetapi juga alatuntuk berkontribusi dalam membentuk masyarakt yang lebih baik. Maka dari itu, pendidikan akhlak dan karakter perlu diintegrasikan secara menyeluruh dalam system pendidikan islam, terutama dalam menghadapi arus globalisasi dan kemajuan teknologi yang semakin pesat. Melalui pendekatan ini, generasi muda tidak hanya akan tumbuh dengan kemampuan intelektual yang mumpuni, tetapi jugadengan integritas moral serta rasa tanggung jawab social yang tinggi. Dengan dasar tersebut, peserta didik mampu bersikap bijaksana, berpikir kritis, dan memberikan kontribusi positif dalam membangun lingkungan digital yang lebih bermartabat. Penanaman nilai-nilai akhlak secara berkelanjutan akan menjadi fondasi utama dalam menciptakan peradaban yang lebih baik di masa mendatang (Fitria & Ridwan, 2. Simpulan Pendidikan akhlak memainkan peran yang sangat penting dalam membentuk karakter siswa di tengah derasnya arus informasi dan pengaruh digital di era modern. Hasil penelitian Pendidikan AkhlakA Yuli S. Dkk. Vol. 5 No. Juni Ae November issn: 2963-4709 menunjukkan bahwa nilai-nilai akhlak seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, dan sopan santun masih sangat relevan dan dibutuhkan dalam membentengi siswa dari dampak negatif dunia digital. Namun, agar pendidikan akhlak benar-benar efektif, pendekatannya harus disesuaikan dengan konteks zaman. Penggunaan metode yang adaptif, interaktif, dan kontekstual sangat diperlukan agar nilai-nilai moral dapat terserap dengan baik oleh siswa. Integrasi antara pendidikan akhlak dan literasi digital menjadi kunci penting dalam membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara teknologi, tetapi juga bijak dalam menyikapi kehidupan di dunia maya. Berdasarkan temuan penelitian, disarankan agar pendidikan akhlak diintegrasikan secara lebih kontekstual dengan perkembangan teknologi digital yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan siswa. Para pendidik dan institusi pendidikan perlu mengadopsi metode pembelajaran yang interaktif dan relevan, seperti pemanfaatan media digital, studi kasus etika daring, serta diskusi kritis terkait perilaku di dunia maya. Selain itu, penting untuk memperkuat literasi digital siswa agar mereka mampu memilah informasi dengan bijak dan bersikap etis dalam lingkungan digital. Keluarga juga berperan penting dalam mendampingi anak-anak dalam penggunaan teknologi, memberikan contoh nyata nilai-nilai moral, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pembentukan karakter. Diperlukan pula sinergi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membentuk ekosistem pendidikan karakter yang utuh. Untuk memperkaya pemahaman dan praktik di lapangan, penelitian lanjutan sebaiknya difokuskan pada pengembangan model pendidikan akhlak yang efektif dalam konteks digital, sehingga mampu menjawab tantangan moral yang terus berkembang di era ini. Daftar Pustaka