JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 ISSN: 2620-5173 KERATON INDONESIA ANTARA PELESTARIAN BUDAYA DAN MODERNITAS Anak Agung Ngurah Agung Wira Bima Wikrama Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikUniversitas Mahendradatta - Denpasar email: bimawikrama65@gmail. Abstrak- Keraton sebagai warisan budaya tradisional Indonesia mengalami tegangan kultural seiring dengan terjadinya modernitas di Indonesia. Modernisasi meminggirkan peran dan fungsi Keraton sebagai pusat kekuasaan tradisional. Sebaliknya, upaya membangun eksistensi Keraton dapat dipertanyakan relevansinya ataukah hanya sekadar romantisme budaya. Atas dasar itulah, penelitian ini mengkaji tiga masalah utama. Pertama, mengapakah Keraton melakukan pelestarian terhadap Budaya Keraton di Indonesia?, kedua, bagaimanakah bentuk-bentuk pelestarian Budaya Keraton di Indonesia?, ketiga, bagaimakah implikasi Pelestarian Budaya Keraton di Indonesia? Ketiga masalah tersebut dikaji dengan tiga teori, yaitu teori perubahan sosial, adaptasi budaya, dan strukturalisme genetis. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan tiga teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumen. Data dianalisis dengan teknik deskriptif-interpretatif melalui tiga tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan yang mendasari pelestarian Budaya Keraton di Indonesia, antara lain membangun kembali eksistensi Keraton, mempertahankan status quo, terjadinya diferensiasi struktural, dan pesona kehidupan moder. Bentuk-ben tuk pelestarian Budaya Keraton meliputi . pelestarian pasif, yaitu pembangunan struktur fisik Keratondan mempertahankan atribut identitas kebangsawanan. pelestarian aktif, yaitu mengoptimalkan modal yang dimiliki Keraton dengan pola khas dan tujuan-tujuan tertentu dalam struktur masyarakat modern. pelestarian jaringan Keraton, yaitu penguatan sistem kolektif kolegial dan perluasan jaringan. Implikasi Pelestarian Budaya Keraton dalam kehidupan sosial meliputi reformulasi relasi sosial dan pergeseran sistem patron-klien. Implikasi dalam kehidupan budaya berupa penguatan Keratonsebagai warisan budaya dan penguatan Keratonsebagai pusat pengembangan kebudayaan. Kata Kunci: Keraton. Pelestarian Budaya. Modernitas Abstract - The palace as a traditional cultural heritage of Indonesia experiences cultural tension along with the occurrence of modernity in Indonesia. Modernization has marginalized the role and function of the Palace as the center of traditional power. Conversely, efforts to build the existence of the Palace can be questioned about its relevance or merely cultural romance. For this reason, this study examines three main problems. First, why does the Keraton preserve the Keraton Culture in Indonesia? Second, how are the forms of preservation of Keraton Culture in Indonesia? Third, what are the implications of the Keraton Cultural Preservation in Indonesia? These three problems are examined with three theories, namely the theory of social change, cultural adaptation, and genetic The research method used is qualitative research with three data collection techniques, namely observation, interviews, and document studies. Data were analyzed with descriptiveinterpretative techniques through three stages, namely data reduction, data presentation, and drawing The results show that the reasons underlying the preservation of the Keraton Culture in Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 ISSN: 2620-5173 Indonesia include rebuilding the existence of the Palace, maintaining the status quo, structural differentiation, and the charm of modern life. The forms of preservation of Keraton Culture include . passive preservation, namely the construction of the physical structure of Keratondan and maintaining the attributes of royal identity. active preservation, i. optimizing capital owned by the Palace with specific patterns and specific goals in the structure of modern society. Keraton network preservation, namely strengthening collegial collective systems and network Implications of Keraton Cultural Preservation in social life include reformulation of social relations and shifting the patron-client system. The implication in cultural life is in the form of strengthening Keratonsas cultural heritage and strengthening Keratonsas the center of cultural Keywords: Palace. Cultural Preservation. Modernity PENDAHULUAN Keraton memiliki relasi historis dengan kekuasaan Kerajaan pada masa Akibat perang yang terjadi setelah Kerajaan Majapahit terjadinya konflik dengan Hindia Belanda sebelum kemerdekaan dan di awal Republik Indonesia. Keratonmengalami kehancuran dan tidak lagi memegang tampuk pemerintahan. Sejak saat itu, keberadaan Keraton sebagai pusat kekuasaan semakin terpinggirkan terutama setelah Indonesia mengikuti sistem birokrasi Melalui wacana pembangunan, pemerintah menggulirkan modernisasi ke dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat termasuk ke Kabupaten-Kota di Indonesia. Dalam proses inilah. Keraton menjadi bagian dari masyarakat yang harus menerima modernisasi tersebut. Modernisasi yang berlangsung di Indonesia memang tidak serta merta menghapus institusi-institusi tradisional. Walaupun kekuasaan tradisional telah diambil-alih oleh sistem birokrasi modern, tetapi atributatribut kultural yang melekat pada Keratonsebagai warisan historis masih Malahan, pihak keluarga Keraton tampaknya ingin membangkitkan kembali memori masa silam pada masa kini, misalnya melalui ritual penobatan raja. Ritual ini dapat dipandang sebagai bentuk Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya romantisme budaya karena secara birokratis Keratonsudah tidak lagi memiliki kekuasaan untuk mengatur jalannya pemerintahan dan Berdasarkan hal tersebut, dapat diidentifikasi beberapa masalah terkait dengan Pelestarian Budaya Keraton dan Modernitas. Pertama, meminggirkan peran dan fungsi Keraton sebagai pusat kekuasaan tradisional. Kedua, membangun eksistensi Keraton dalam modernitas dapat dipertanyakan relevansinya ataukah hanya sekadar romantisme budaya. Ketiga, warisan historis Keraton merupakan modal sosial dan kultural untuk Pelestarian Budaya Keraton dalam rangka membangun eksistensi Keraton. Berdasarkan latar belakang masalah di atas penelitian ini difokuskan pada tiga masalah utama, yaitu : Mengapakah Keraton melakukan pelestarian Budaya Keraton ? . Bagaimanakah bentuk-bentuk Pelestarian Budaya Keraton ? . Bagaimanakah Pelestarian Budaya Keraton dalam kehidupan sosial, budaya di Indonesia ? KAJIAN PUSTAKA. DESKRIPSI KONSEP. LANDASAN TEORI, JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 KERANGKA BERPIKIR DAN MODEL PENELITIAN 1 Kajian Pustaka Beberapa kepustakaan yang dikaji, antara lain: . Bali Abad XIX: Perjuangan Rakyat Raja-Raja Menentang Kolonialisme Belanda 1808 Ae 1908 (Agung, . Puputan Badung 20 September 1906: Perjuangan Raja dan Rakyat Badung Melawan Kolonialisme Belanda (Putra, . The Spell of Power Sejarah Politik Bali 1650 Ae 1940 (Nordohlt, 2. AuKomodifikasi Objek Pariwisata Puri Saren UbudAy (Ruastiti, 2. AuPengelolaan Konservasi pada Puri Agung Ubud. Gianyar Sebagai Obyek Wisata BudayaAy (Salain, 2. AuDekonstruksi Simbol Arsitektur Keraton SurakartaAy (Pitana, 2. Adaptasi Budaya Masyarakat Bali Aga di Desa Cempaga Kabupaten Buleleng dalam Meresepons Regulasi Negara di Bidang AgamaAy (Utama, . AuHegemoni Modernitas dalam Religiusitas Umat Hindu di Kota DenpasarAy (Sukarma, 2. Kajian Keratonsebagai warisan budaya di Indonesia senantiasa mengalami dinamika seiring dengan perkembangan zaman. Keraton sesungguhnya telah eksis sejak zaman prakemerdekaan RI. Akan tetapi, akibat terjadinya perang dengan kerajaan tetangga dan konflik dengan Hindia Belanda maka kondisi Keraton di masing-masing wilayah di Indonesia sangat beragam. Ada Keraton yang masih dapat digunakan sampai saat ini, ada Keraton yang digusur oleh Hindia Belanda, ada Keraton yang dialihfungsikan menjadi kantor pemerintahan atau pusat bisnis dan ada pula Keraton yang di ratakan dengan tanah tanpa dibangun kembali. Selain itu, kedudukan dan fungsi Keratonjuga mengalami pergeseran seiring Hal ini tidak lepas dari ISSN: 2620-5173 mengharuskan budaya tradisional untuk mengadaptasinya sehingga dapat dilakukan pelestarian demi kebertahanan maupun Pelestarian dipandang sebagai keharusan etis bagi Keraton agar tetap eksis dalam kehidupan masyarakat modern. 2 Deskripsi Konsep 1 Pelestarian Budaya Keraton Pelestarian Budaya Keraton adalah proses yang menghubungkan sistem budaya dan lingkungannya. Pelestarian Budaya Keraton organisme dengan lingkungannya sebagai Pelestarian Budaya Keratonmerupakan proses dinamik, karena baik manusia maupun lingkungan tidak ada yang bersifat konstan atau tetap. Daya tahan hidup populasi tidak bersikap pasif terhadap lingkungan, tetapi memberikan ruang bagi individu dan populasi untuk bekerja secara aktif memodifikasi perilaku mereka dalam rangka memelihara kondisi tertentu, menanggulangi resiko pada kondisi baru, dan mengimprovisasi kondisi yang ada. Inovasi sosiokultural dilakukan secara sengaja dan tidak acak sehingga evolusi cepat(Utama, 2011:. Dalam hal ini. Pelestarian Budaya Keratondilihat sebagai suatu proses pengambilan ruang perubahan yang di dalamnya terdapat perilaku kultural yang bersifat teknologikal, organisasional, dan ideologikal (Hardestry, 1977:. Dalam penelitian ini. Pelestarian Budaya Keraton didefinisikan sebagai mekanisme budaya yang dilakukan Keraton dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial modern. Konsep Pelestarian ini bersifat dinamis, yaitu anggota keluarga Keraton yang aktif memodifikasi perilaku sesuai dengan lingkungan, kebutuhan, tujuan, dan hasrat individu dalam ruang dan waktu yang berlainan. Walaupun pada tataran ideologi niscaya terjadi perbedaan antara anggota keluarga Keraton,tetapi pada Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 tataran organisasi, perilaku kultural dari masing-masing Keratondipandang membangun keseluruhan struktur dan kultur di Keraton tersebut. Artinya, seluruh anggota keluarga Keraton dipandang sebuah populasi yang terintegrasi secara sistemik dalam struktur keluarga sehingga perilaku masing-masing individu akan berpengaruh pada sistem secara Dengan demikian. Pelestarian Budaya Keratonmerupakan mekanisme pendekatan sistemik kebudayaan. 2 Modernitas Modernitas berasal dari akar kata AumodernAy dalam bahasa Latin modernus berarti zaman baru (Haryono, 2005:. Modernitas menurut Calinescu (Haryono, 2005:. adalah kondisi sosiobudaya masyarakat yang menyiratkan perubahan paradigma yang diperoleh dengan jalan pintas dari bentuk lama ke bentuk baru. Bagi Berger . modernitas adalah pluralisasi nilai, norma, makna, dan simbol yang menjurus kepada segmentasi budaya dan kemajemukan pandangan hidup. Modernisasi diarahkan dan direncanakan untuk mengubah paradigma kehidupan masyarakat, dari masyarakat tradisional Ae agraris kolektif Ae menjadi masyarakat modern Ae posindustrial yang bercirikan (Soekanto, 2001:. Modernitas ditentukan oleh dua sisi yang saling berhubungan, yaitu kota dan ekonomi Kota adalah tempat modernitas dipusatkan dan diintensifkan, sedangkan ekonomi uang menyebabkan penyebaran dan perluasannya (Simmel dalam Ritzer & Goodman, 2003:. Modernitas bertalian erat dengan kondisi masyarakat perkotaan. Menurut Soekanto . 1:170Ai. bahwa ciri-ciri masyarakat perkotaan, antara lain . melemahnya pesona agama, karena itu kehidupan masyarakat cenderung sekuler . ecular tren. daripada religius . pembagian Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya ISSN: 2620-5173 kerja yang jelas dan tegas. kesempatan kerja yang luas. interaksi sosial yang lebih didasarkan pada kepentingan. pentingnya waktu. perubahan sosial berlangsung cepat karena terbuka pada pengaruh luar. Transformasi dari masyarakat pedesaan ke masyarakat perkotaan menandai terjadi modernisasi sebagai sebuah proses. Menurut Magnis-Suseno . bahwa proses ini melahirkan budaya modernitas yang ditandai oleh kuatnya pengaruh ideologi pasar, budaya industri, dan budaya Modernisasi yang ditandai dengan kuatnya pengaruh sistem ekonomi masyarakat dalam kerangka besar budaya produksi dan konsumsi yang disalurkan melalui kekuatan pasar. Kecenderungan ini menurut Abdullah . ditandai dengan munculnya budaya konsumen . onsumer cultur. di kota-kota menjadi bagian dari proses ekspansi pasar. Kemudian, budaya konsumen akan merubah wajah kota menjadi ruang konsumen . onsumer spac. dalam transformasi sosial Dalam penelitian ini, modernitas dideskripsikan adalah konstruksi budaya yang ditandai kuatnya ideologi pasar, budaya industri, dan budaya konsumen seiring berlangsungnya modernisasi di Indonesia. Konstruksi ini tidaklah dipandang sebagai sesuatu yang bersifat beku dan jadi, melainkan bersifat dinamis karena tidak seluruh aspek budaya modernitas diterima masyarakat Indonesia. Walaupun pengaruh modernitas bersifat hegemonik, tetapi juga memberi ruang bagi terjadinya pelestarian budaya secara dialogis. Dengan demikian. Indonesia lingkungan yang diserap anggota keluarga Keraton dan dilestarikan secara dinamis dan JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 3 Landasan Teori 1 Teori Perubahan Sosial Perubahan sosial terjadi karena adanya faktor penyebab dan pendorong, baik internal maupun eksternal. Penyebab internal meliputi . bertambah atau berkurangnya . penemuan baru. terjadinya revolusi. Adapun penyebab eksternalnya meliputi . lingkungan alam fisik sekitarnya. perorangan, dan . pengaruh kebudayaan masyarakat lain (Soekanto, 2. Selain itu, juga terdapat beberapa faktor Pendorong, seperti . adanya kontak dengan kebudayaan lain. sistem pendidikan formal yang maju. adanya toleransi. sistem terbuka lapisan masyarakat. penduduk yang heterogen. bidang-bidang kehidupan tertentu (Soekanto, 2. Perubahan sosial mengikuti tiga tahap, antara lain . konsekuensi (Rogers dan Shoemaker dalam Pelly dan Menanti, 1. 2 Teori Adaptasi Budaya Dalam proses Pelestarian Budaya tidak dapat dilepaskan dari proses adaptasi yang melibatkan seleksi genetik dan varian budaya yang dianggap sebagai jalan terbaik permasalahanpermasalahan lingkungan yang dihadapi. Roy Ellen . 2:236Ai. membagi tahapan adaptasi menjadi empat, yaitu . phylogenetic yang bekerja melaluiadaptasi genetik individu lewat seleksi alam. modifikasi fisik dari ciri-ciri fisik. proses dan . modifikasi kultural. Modifikasi kultural dalam adaptasi budaya dan transmisi informasi dikatakan sebagai pemberi karakter spesifik yang dominan dipusatkan pada proses belajar, dan modifikasi budayanya. Adaptasi budaya membawa peningkatan kebebasan pada diri manusia dari batasan habitatnya. Konsep dari tingkat pengembangan teknologi dan ISSN: 2620-5173 adaptasi mengacu pada tidak saja pada teknologi, tetapi juga pada konfigurasi institusi dan hubungan sosial yang sesuai dengan efektivitas pemakaian masingmasing sistem energi khusus (Cohen, 1985:. Adaptasi terjadi melewati praktik kumulatif dari individu. Respon adaptif ditransmisikan kepada yang lain secara independen membawa sifat (Ellen, 1982: Konsep kunci adaptasi pada berkembang menjadi perilaku adaptif, tindakan strategik, dan sistensis dari keduanya yang disebut strategi adaptif . Perilaku adaptif merupakan term yang lebih umum dan mengacu pada bentuk perilaku yang menyesuaikan pada tujuan, pencapaian kepuasan, dan putusan. Tindakan strategik dianggap lebih spesifik dan mengacu pada kepentingan khusus yang dipunyai sang Dalam tindakan strategik sendiri terdapat konsep yang meliputinya, seperti rasionalitas, maksimalisasi, orientasi, dan Strategi adaptif merupakan juga komponen dari tindakan strategi atau tindakan spesifik dengan tingkatan prediksi keberhasilan yang diseleksi oleh individu dalam menentukan keputusannya (Bennet, 1976:271Ai. Adaptasi kemampuan individu dan masyarakat untuk Proses adaptasi ini ditandai dengan terjadinya peningkatan adaptasi . daptive upgradin. (Parsons, 1971:. atau adaptasi dengan modifikasi . daptive modificatio. (Sahlins, 1960:. Adaptasi semata-mata keinginan, kebutuhan, dan tujuan yang bersumber pada kebudayaan sebagai sistem pengetahuan, tetapi juga ditentukan oleh situasi lingkungan setempat (Bennet, 1976:. Dalam hal ini, adaptasi budaya melibatkan peran agen dan struktur secara Artinya, agen memiliki kebebasan untuk memilih strategi adaptif, tetapi strategi Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 itu hanya dapat dijalankan melalui praktik sosial yang bersifat struktural. 3 Teori Strukturalisme Genetis Teori ini dikembangkan oleh Bourdieu (Ritzer dan Goodman, 2005:. untuk menggambarkan hubungan dialektis antara struktur dan cara orang membangun realitas sosial, sebagai berikut. AuAnalisis struktur objektif tidak dapat dilepaskan dari analisis asal-usul struktur mental individu yang hingga taraf tertentu merupakan produk penggabungan struktur sosial. tidak dapat dipisahkan dari analisis asal-usul struktur sosial itu sendiri. ruang sosial dan kelompok yang menempatinya adalah produk dari perjuangan historis . i mana agen berpartisipasi sesuai dengan posisi mereka di dalam ruang sosial dan sesuai dengan struktur mental yang menyebabkan agen dapat memahami ruang sosial it. (Bourdieu dalam Ritzer dan Goodman, 2005:. Bourdieu (Takwin dalam Mahar, dkk . ), 2009:xvi. Bourdieu, 2010:. adalah arena produksi kultural yang melibatkan habitus, ranah,danmodalyang berlangsung di dalam praktik. Hal ini sekaligus mengisyaratkan bahwa habitus, ranah, modal, dan praktik merupakan konsep-konsep strukturalisme genetik. Habitus adalah struktur mental atau kognitif yang digunakan individu untuk menghadapi kehidupan sosial (Ritzer dan Goodman, 2005:. Ranah atau arena . diartikan sebagai ranah kekuatan, yaitu suatu ranah di mana berbagai potensi eksis (Bourdieu dalam Mahar. Harker. Wilkes, 2009:9Ai. Modal, menurut Bourdieu (Mahar. Harker. Wilkes, 2009:. mencakup hal-hal material . ang dapat memiliki nilai simboli. dan berbagai atribut yang tidak dapat disentuh, namun memiliki signifikansi secara kultural Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya ISSN: 2620-5173 misalnya, prestise, statu, dan otoritas . ang dirujuk sebagai modal simboli. , serta modal budaya . ang didefinisikan sebagai selera bernilai budaya dan pola-pola konsums. misalnya, properti, seni, dan Praktik, menurut Bourdieu (Mahar. Harker. Wilkes, 2009:18Ai. adalah interaksi antara habitus dan ranah yang disebutnya Auinternalisasi eksternalitasAy dan Aueksternalisasi internalitasAy. Secara ringkas. Bourdieu (Takwin dalam Mahar, dkk. 2009:xx. menyatakan rumus generatif yang persamaan: . abitus x moda. ranah = Rumusan ini mengganti setiap relasi sederhana antara individu dan struktur dengan relasi habitus dan ranah yang melibatkan modal. 4 Kerangka Berpikir dan Model Penelitian 1 Kerangka Berpikir Penelitian ini menggunakan Teori Perubahan Sosial. Teori Adaptasi Budaya dan Teori StrukturalismeGenetik sehingga Pelestarian Budaya Keratontidak dipandang bersifat determininan karena pengaruh, tetapi juga bersifat dinamis karena melibatkan habitus, modal, dan ranah yang dimiliki anggota keluarga Keraton,baik secara individu maupun kolektif. Pelestarian Budaya Keratontidak hanya menjadi mekanisme sosial dan budaya dari Keraton untuk merespons modernisasi sebagai lingkungan luar yang harus diadaptasi, tetapi Keratonmemiliki motivasi, tujuan, dan hasrat untuk tetap eksis dalam modernitas. Pelestarian Budaya Keratonini dilakukan dengan memanfaatkan seluruh modal yang dimiliki keluarga Keraton baik ekonomi, sosial, simbolik, maupun budaya. JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 ISSN: 2620-5173 4 Model Penelitian DINAMIKA KEBUDAYAAN LINGKUNGAN INTERNAL (Habitus x Moda. Alasan-alasan yang mendasari Pelestarian Budaya Keraton Pelestarian Budaya Keraton Bentuk-bentuk Pelestarian Budaya Keraton LINGKUNGAN EKSTERNAL (Modernita. Implikasi Pelestarian Budaya Keraton dalam kehidupan sosial. EKSISTENSI KERATON HASIL PENELITIAN 1 Alasan Yang Mendasari Pelestarian Budaya Keraton Dalam konteks pelestarian yang bersifat dinamis, terdapat hubungan timbalbalik antara individu, masyarakat dan Oleh karena itu, alasan yang mendasari pelestarian Budaya Keraton di Indonesia, bergulat dalam hubungan yang timbal-balik. Secara internal, individu dan masyarakat memiliki motivasi, tujuan, dan hasrat untuk tetap lestari. Sebaliknya secara eksternal, modernitas dengan berbagai nilai yang terkandung di dalamnya memberikan pengaruh yang cukup kuat sehingga harus diadaptasi oleh semua lapisan masyarakat. 1 Membangun Kembali Eksistensi Keraton Perang dan konflik berkepanjangan merupakan sejarah kehancuran Keraton di Indonesia, baik dalam konteks fisik maupun Hal ini disadari sepenuhnya oleh keluarga Keraton sebagai kehendak sejarah yang tidak dapat dilawan. Hal ini menjadi motivasi dan kekuatan moral bagi anggota keluarga Keraton untuk berjuang dalam kehidupan modern. Eksistensi Budaya Keratonberusahadibangun kembali dengan mengumpulkan tiga modal utama, yaitu masyarakat pendukung . , kekayaan . , dan sarana serta prasarana . Untuk itu, berbagai saluran modernitas, seperti pendidikan, ekonomi, ranah-ranah kehidupan sosial yang diadaptasi oleh Keraton untuk membangun kembali eksistensi Keraton. 2 Mempertahankan Status Quo Secara kebangsawanan Keraton bertalian erat kedudukannya sebagai pusat pemerintahan kerajaan pada masa lalu. Sebagai pusat pemerintahan dan kekuasaan tradisional. Keraton menjadi kelas dominan di masyarakat dengan berbagai hak istimewa . Terjadinya perubahan sosial menyebabkan kedudukan dan wewenang tersebut semakin memudar di masyarakat. Kondisi ini mendorong Keraton untuk mempertahankan status quo, baik secara kultural maupun Dengan kesadaran bahwa status quo tersebut dapat Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 dipertahankan apabila Keraton tetap fungsional dalam struktur dan kultur masyarakat modern yang ditandai dengan pluralisasi nilai, norma, dan simbol yang mengarah pada segmentasi budaya dan kemajemukan pandangan hidup masyarakat. 3 Terjadinya Diferensiasi Struktural Diferensiasi struktural merupakan ciri kehidupan masyarakat modern, yaitu semakin beragamnya institusi dan pranata sosial yang mengatur bidang-bidang kehidupan masyarakat. Kondisi ini telah meminggirkan kedudukan dan wewenang Keraton sebagai pusat kekuasaan tradisional. Sebaliknya, kondisi ini juga menjadikan keluarga Keraton` sebagai bagian dalam struktur-struktur sosial yang ada di masyarakat dan harus tunduk dengan pranata dan nilai sosial yang berlaku. Diferensiasi struktural ini menjadi kondisi eksternal yang harus diadaptasi oleh keluarga Keraton dengan mengikuti perubahan yang terjadi, serta terlibat aktif dalam struktur-struktur Dengan cara inilah eksistensi Keraton juga dapat dibangun. 4 Pesona Kehidupan Modern Modernitas hegemoniknya telah membentuk struktur psikis sebagai suatu kondisi ideal yang harus dicapai oleh masyarakat. Kuatnya pengaruh ekonomi uang dan termasuk di dalamnya kekuasaan, menjadi pesona modernitas yang mendorong hasrat masyarakat untuk Pesona ini tidak dapat dipungkiri juga berpengaruh terhadap anggota keluarga Keraton dan memberikan dorongan kuat untuk mendapatkannya dengan mengoptimalkan berbagai modal yang dimiliki. Malahan muncul pandangan bahwa eksistensi Keratontidak akan terjaga apabila Keratonlemah secara material. Mengingat relasi-relasi patronase yang selama ini menjadi simbol eksistensi Keraton,juga tidak mungkin dapat dibangun dan dipertahankan tanpadukungan finansial yang memadai. Oleh karena itu, adaptasi Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya ISSN: 2620-5173 terhadap modernitas seolah-olah menjadi keharusan untuk mendapatkan sumber daya kekuasaan tersebut termasuk juga untuk kesenangan individu. 2 Bentuk-Bentuk Pelestarian Budaya Keraton Pelestarian kebertahanan dan perubahan yang dilakukan Bentuk-bentuk pelestarian Budaya Keraton dapat dijelaskan sebagai 1 Pelestarian Pasif Pelestarian pasif diartikan sebagai strategi individu dan masyarakat dalam mengelola sumber daya yang dimiliki tanpa bermaksud mendapatkan umpan-balik secara langsung dari lingkungan. Dalam konteks ini, aktifitas keluarga keraton merupakan bentuk tindakan untuk mempertahankan eksistensi diri. Pelestarian ini ditemukan dalam bentuk mempertahankan atribut identitas kebangsawanan dan pembangunan strukur fisik Keraton. 1 Pembangunan Struktur Fisik Keraton Pembangunan struktur fisik Keraton dan perluasannya pada material-material budaya untuk menegaskan keberadaan Keratondapat dipandang sebagai bentuk Pelestarian pasif. Mengingat struktur fisik mempengaruhi status, kedudukan, dan kewenangan keluarga keraton dalam kehidupan modern yang telah terdeferensiasi secara struktural. Material budaya yang dibangun Keraton hanyalah menegaskan keberadaan Keraton ini sebagai warisan budaya dan sejarah, termasuk beberapa nilai simbolis yang masih diterima masyarakat Apalagi dalam perkembangan materialisme di masyarakat, tidak tertutup semacam ini sesungguhnya juga dapat dibangun oleh pihak di luar Keraton yang JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 ISSN: 2620-5173 memiliki kemapanan secara material. Hal ini menegaskan pendapat Triguna . bahwa Keratonsekarang sesungguhnya bertalian erat dengan kemapanan ekonominya. Keratonatau pencapaian tujuan bersama. Bentuk Pelestarian ini ditemukan dalam bentuk memperkuat sistem kolektif kolegial dan perluasan jaringan antar Keraton dan 2 Mempertahankan Atribut Identitas Kebangsawanan Atribut identitas kebangsawanan ditunjukkan dengan penggunaan nama-nama yang khas di tiap-tiap Keraton di Indonesia. Setiap Keraton di Indonesia memiliki nama khusus yang hanya digunakan oleh bangsawan keraton di daerah tersebut. Atribut identitas kebangsawanan yang lain adalah penobatan Raja dengan gelar tertentu yang telah disepakati oleh keluarga Keraton. Mempertahankan identitas kebangsawanan dalam kontek modernitas dapat dipandang sebagai adaptasi pasif. Dikatakan demikian karena atribut-atribut identitas ini tidak kehidupan masyarakat modern, baik secara politik, ekonomi, maupun sosial. Oleh karena itu, bentuk adaptasi ini dilakukan ruang-ruang tradisional bagi pengungkapan simbolis dan pencitraan sebagai warisan budaya masa 3 Implikasi Pelestarian Budaya Keraton 2 Pelestarian Aktif Pelestarian aktif diartikan sebagai mendapatkan umpan-balik secara langsung dari lingkungan. Dalam konteks ini, pelestarian aktif Keraton merupakan bentuk tindakan dengan mengoptimalkan modal yang dimiliki Keraton dengan pola khas dan tujuan-tujuan tertentu dalam struktur masyarakat modern. 3 Pelestarian Jaringan Keraton Pelestarian Jaringan Keraton diartikan sebagai strategi membangun relasirelasi dengan lembaga-lembaga, baik formal maupun informal. Pelestarian ini dilakukan untuk menjalin kerjasama dengan berbagai institusi untuk memperkuat kedudukan 1 Implikasi dalam Kehidupan Sosial Pelestarian Budaya Keraton dalam kehidupan sosial dan budaya, terutama relasi-relasi sosial Keratondengan struktur masyarakat yang lebih luas. Implikasi ini ditemukan dalam dua aspek, yaitu relasi-relasi pergeseran sistem patronase, sebagai 1 Reformulasi Relasi Sosial Terjadi perubahan pola-pola relasi antara Keraton dengan institusi dan masyarakat di luar Keraton. Bentuk reformulasi tersebut, antara lain. Pertama, relasi dengan institusi tradisional tidak semata-mata didasari ikatan geneologis dan historis, tetapi juga berdasarkan rasionalisasi tindakan atas relasi-relasi tersebut. Kedua, pluralisasinilai, norma, makna, dan simbol yang menjurus pada segmentasi budaya dan menciptakan relasi sosial yang bersifat asimilatif maupun kontras. Ketiga, kecuali pada hal-hal yang bersifat simbolis, relasi sosial keluarga Keratontunduk pada sistem sosial yang berlaku pada institusi-institusi Keempat, relasi-relasi sosial yang kemampuan masing-masing Keraton dalam memanfaatkan modal yang dimilikinya dalam persaingan antarindividu dan antarkelompok sosial yang semakin terbuka. Implikasi ini muncul seiring dengan pergeseran kedudukan, hak, dan wewenang Keraton dalam sistem sosial modern. 2 Pergeseran Sistem Patron-Klien Pelestarian Budaya Keraton terhadap modernitas di Indonesia berimplikasi pada Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 terjadinya pergeseran sistem patron-klien. Dalam dimensi kulturalnya, hubungan ini mengalami pergeseran dalam pemaknaan terhadap hubungan Keratondan Abdi Keraton. Sebaliknya, objektifnya, hubungan patron-klien ini mengalami perubahan yang signifikan dari ikatan persahabatan instrumental menjadi ikatan teknis dan profesional. Selain itu, juga terjadi perluasan hubungan patron-klien ini dalam konteks politik praktis, yaitu hubungan yang didasari tujuan-tujuan Terjadinya pergeseran sistem patron-klien ini tidak terlepas dari melemahnya kedudukan Keraton sebagai pusat kekuasaan tradisional seiring dengan terjadinya diferensiasi struktural, kuatnya pengaruh prinsip-prinsip demokrasi yang menjadi citra kehidupan sosial modern. 2 Implikasi dalam Kehidupan Budaya Pelestarian Budaya Keraton dalam modernitas untuk beberapa Keraton Besar dapat dipandang berhasil membangun Keratonterutama keberhasilannyadalam sistem birokrasi. Walaupun demikian. Keraton tidak menjadi bagian langsung dari sistem birokrasi sehingga eksistensinya cenderung bergerak pada ranah budaya. Implikasinya bahwa Keraton dapat bertahan dan berlanjut sebagai warisan budaya sekaligus menjadi pusat pengembangan budaya. SIMPULAN DAN SARAN 1 Simpulan . Alasan yang mendasari Pelestarian Budaya Keraton adalah karena adanya motivasi, tujuan, dan hasrat dari Keraton tersebut. Dalam Pelestarian tersebut dapat dibedakan secara internal dan eksternal. Secara internal, pelestarian dilakukan untuk Ida Bagus Made Satya Wira Dananjaya ISSN: 2620-5173 Keratondan mempertahankan status Secara pelestelestarian dilakukan karena terjadinya diferensiasi struktural dan pesona modernitas. Bentuk Pelestarian Budaya Keraton meliputi Pelestarian pasif. Pelestarian aktif, dan Pelestarian jaringan. Pelestarian pasif dilakukan dalam Keratondan mempertahankan atribut identitas kebangsawanan. Pelestarian aktif dilakukan dalam bentuk Keraton. Pelestarian dilakukan dalam bentuk penguatan perluasan jaringan. Implikasi Pelestarian Budaya Keraton dalam kehidupan sosial relasi-relasi sosial dan pergeseran sistem patron-klien. Implikasi dalam bidang budaya adalah penguatan Keratonsebagai warisan budaya dan revitalisais Keratonsebagai pusat pengembangan kebudayaan. 2 Saran-saran . Bagi kalangan akademisi dan peneliti lain disarankan agar menjadi hasil penelitian ini sebagai referensi ilmiah keilmuan terkait dengan eksistensi Keratondalam kehidupan modern. Eksistensi Keratonsebagai warisan budaya dalam modernitas dapat menjadi tema penelitian menarik untuk ditelusuri lebih jauh dan . Kepada keluarga Keraton disarankan agar meningkatkan partisipasinya dalam berbagai bidang kehidupan masyarakat terutama pada aspek Dengan demikian. Keratontidak sekedar menjadi simbol keagungan masa lalu. JURNAL CAKRAWARTI. Vol. 3 No. Pebruari-Juli 2020 tetapi dapat memberikan kontribusi dalam pembangunan. Kepada Pemerintah, disarankan agar Keratonsebagai salah satu elemen kebudayaan Nasional. Nilai-nilai sejarah kepahlawanan yang dimiliki Keraton kiranya dapat direvitalisasi kebudayaan yang lebih luas. Kepada masyarakat disarankan agar lebih selektif terhadap nilai-nilai modern sehingga tidak tercerabut dari akar budayanya. Penguatan jati diri dan identitas budaya menjadi begitu penting dewasa ini karena ekses-ekses negatif dalam kehidupan. DAFTAR PUSTAKA