Jurnal Pendidikan Multidisipliner Volume 8 Nomor 4. April 2025 ISSN: 27342488 IMPLEMENTASI HIDDEN CURRICULUM BERBASIS BUDAYA RELIGIUS DALAM PEMBENTUKAN PROFIL PELAJAR RAHMATAN LIL ALAMIN Achmad Al Bulqini1. Muizzuddin2 Email: bulqinipasca@gmail. com1, muhammadmuizzuddin84@gmail. Universitas Kiai Abdullah Faqih ABSTRAK Indonesia sebagai negara multikultural membutuhkan upaya pendidikan yang mampu membangun karakter pelajar yang berakhlak dan toleran. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana hidden curriculum berbasis budaya religius berperan dalam membentuk Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (PPRA). Studi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan dengan menelaah literatur terkait hidden curriculum, budaya religius, dan penguatan karakter pelajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi nilai-nilai religius melalui keteladanan guru, pembiasaan sikap positif, penciptaan suasana religius, serta internalisasi nilai dalam aktivitas sekolah efektif membentuk karakter pelajar yang beriman, moderat, mandiri, dan peduli sosial. Budaya religius di sekolah bukan hanya aktivitas ibadah, tetapi juga pembentukan sikap toleransi, empati, dan tanggung jawab, yang secara implisit membangun kepribadian rahmatan lil alamin. Kebaruan penelitian ini terletak pada fokus integrasi budaya religius sebagai elemen utama hidden curriculum dalam membentuk profil pelajar yang mampu membawa rahmat bagi semesta. Implikasinya, penguatan budaya religius di sekolah menjadi strategi penting dalam mendukung terciptanya lingkungan pendidikan damai, harmonis, dan berdaya saing global. Kata Kunci: Hidden Curriculum. Budaya Religius. Rahmatan lil Alamin. ABSTRACT Indonesia as a multicultural country requires educational efforts that are able to build the character of students who are moral and tolerant. This study aims to examine how the hidden curriculum based on religious culture plays a role in shaping the Profile of Students Rahmatan lil Alamin (PPRA). This study uses a literature research method by reviewing literature related to hidden curriculum, religious culture, and strengthening student character. The results show that the integration of religious values through exemplary teachers, habituation of positive attitudes, creation of a religious atmosphere, and internalization of values in school activities effectively shape the character of students who are faithful, moderate, independent, and socially concerned. Religious culture in schools is not only worship activities, but also the formation of attitudes of tolerance, empathy, and responsibility, which implicitly builds a rahmatan lil alamin personality. The novelty of this research lies in the focus on the integration of religious culture as the main element of the hidden curriculum in shaping the profile of students who are able to bring grace to the universe. The implication is that strengthening religious culture in schools is an important strategy in supporting the creation of a peaceful, harmonious, and globally competitive educational environment. Keywords: Hidden Curriculum. Religious Culture. Rahmatan lil Alamin. PENDAHULUAN Indonesia dikenal sebagai negara multikultural dengan keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya. Keberagaman ini merupakan kekayaan bangsa, namun sekaligus menjadi tantangan, karena jika tidak dikelola dengan bijak, dapat memicu konflik sosial. Untuk menjaga stabilitas dan kedamaian, diperlukan sikap toleransi, saling menghargai, serta persatuan di tengah kemajemukan. Kerukunan antarumat beragama telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Contohnya, saat perayaan Waisak 2023, masyarakat dari berbagai agama menyambut hangat 32 biksu dari Thailand dalam ritual thudong menuju Candi Borobudur. Bhante Kantadhammo, biksu asal Indonesia, menyampaikan bahwa biksu dari Thailand dan Malaysia merasa kagum dengan toleransi di Indonesia. Contoh lainnya adalah saat kunjungan Paus Fransiskus ke Masjid Istiqlal, di mana terjadi momen saling menghormati antara beliau dan Imam Besar Nasaruddin Umar. Peristiwa ini menunjukkan bentuk nyata moderasi dan kerukunan antaragama. Perdamaian dan keharmonisan dalam beragama menjadi hal penting demi terciptanya kehidupan harmonis. Seperti dikatakan Hans Kung. AuNo world peace without religious peaceAy . idak ada kedamaian dunia tanpa kerukunan antarumat beragam. Jika kita tarik pemahaman yang lebih kompleks, muncullah istilah Aurahmatan lil AoalamiinAy yang menjadi salah satu misi utama Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. sebagai nabi dan rasul. Berdasarkan istilah tersebut, kita ketahui bahwa Islam merupakan agama yang membawa misi kerukunan atar umat beragama. Dalam dunia pendidikan, konsep Aurahmatan lil AoalaminAy diterjemahkan ke dalam Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (PPRA). Menurut N. Fatah. PPRA diadopsi dari visi dan misi pendidikan Indonesia, yang bertujuan tidak hanya mencerdaskan secara akademis, tetapi juga membentuk akhlak mulia. Profil ini menekankan pentingnya pembentukan karakter siswa agar menjadi pribadi yang ramah, moderat, dan mampu menghargai keberagaman. PPRA mencakup berbagai dimensi seperti iman dan takwa, akhlak mulia, kebhinekaan global, gotong royong, kemandirian, bernalar kritis, dan kreativitas. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Indonesia tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada sikap dan perilaku yang mencerminkan identitas kebangsaan. Dunia Pendidikan juga mengenal istilah AukurikulumAy yang merupakan standar Pendidikan. Kurikulum mencakup dua jenis, yaitu kurikulum formal dan kurikulum tersembunyi . idden curriculu. Kurikulum formal meliputi mata pelajaran yang diajarkan secara resmi di sekolah, sedangkan kurikulum tersembunyi . idden curriculu. mencakup nilai, sikap, dan perilaku yang diperoleh siswa melalui interaksi sosial dan pengalaman di lingkungan sekolah. Menurut Gattron dalam Caswita, hidden curriculum adalah kurikulum yang tidak termasuk dalam materi formal, namun sangat berpengaruh dalam membentuk nilai, persepsi, dan perilaku siswa. Melalui kurikulum ini, siswa belajar menaati peraturan, menjalankan kegiatan keagamaan, dan mematuhi ketentuan lain di sekolah. Sayangnya, banyak guru masih berfokus pada kurikulum formal dan belum menyadari pentingnya hidden curriculum. Padahal, melalui hidden curriculum, siswa belajar untuk menghargai perbedaan, berempati, dan berperilaku positif dalam kehidupan sosialnya. Ini sangat relevan dalam upaya membentuk siswa dengan karakter rahmatan lil Aoalamin. Kurangnya perhatian terhadap hidden curriculum bisa berdampak buruk pada pembentukan karakter siswa. Beberapa kasus di Indonesia menunjukkan adanya degradasi moral dan perilaku kekerasan di lingkungan sekolah. Pada tahun 2023 saja, terjadi 136 kasus kekerasan di lingkungan pendidikan dengan 339 korban dan 134 pelaku, termasuk kasus perundungan dan kekerasan seksual. Salah satu kasus yang mencuat adalah siswa SMP di Lamongan yang membacok gurunya karena ditegur , serta kasus guru di Jombang yang menjadi tersangka akibat insiden cedera pada siswa. Kejadian-kejadian ini menunjukkan bahwa sebagian karakter siswa dan lingkungan sekolah masih jauh dari nilai-nilai rahmatan lil Aoalamin yang diusung dalam Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, perlu adanya penguatan peran pendidikan, khususnya melalui hidden curriculum, sebagai strategi membentuk karakter siswa yang berakhlak, toleran, dan mampu hidup harmonis dalam masyarakat majemuk. Salah satu aspek yang mencerminkan hidden curriculum adalah budaya religius di Budaya religius bukan semata aktivitas ibadah formal, tetapi mencakup nilai-nilai moral yang ditanamkan secara tidak langsung melalui kebiasaan, keteladanan guru, dan suasana kehidupan sekolah sehari-hari. Melalui budaya religius, siswa belajar nilai-nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, saling menghargai, dan empati sehingga mencerminkan semangat rahmatan lil Aoalamin. Misalnya, kegiatan doa bersama lintas agama sebelum memulai pelajaran, sikap saling menghormati saat siswa dari agama berbeda menjalankan ibadahnya, serta pembiasaan menyapa dan menolong sesama tanpa memandang latar belakang agama. Semua hal tersebut, meskipun tidak tertulis dalam silabus, justru menjadi pembentuk karakter yang kuat. Dengan demikian, penanaman nilai-nilai melalui budaya religius di sekolah berkontribusi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang damai dan inklusif. Ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional dan semangat moderasi beragama yang terus digaungkan dalam konteks keindonesiaan yang multikultural. Tidak sedikit penelitian yang membahas tema serupa, seperti tesis Ananda Ammathul Firdhausyah tentang implementasi hidden curriculum dalam pembentukan profil pelajar Rahmatan lil Alamin, disertasi Khairuddin tentang hidden curriculum sebagai dasar pengembangan soft skill, serta artikel Mohammad 'Ulyan dan Syaefudin Achmad mengenai budaya religius sebagai hidden curriculum dalam pembentukan karakter Islami. Namun, penelitian ini memiliki kebaruan karena secara khusus menitikberatkan pada integrasi budaya religius sebagai elemen utama hidden curriculum dalam membentuk profil pelajar Rahmatan lil Alamin, dengan fokus pada religiusitas, kebermanfaatan, dan kesalehan sosial. Sebagai penutup, tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mengkaji dan menganalisis bagaimana integrasi budaya religius sebagai elemen utama dalam hidden curriculum dapat membentuk Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin. ME TODE PE NE LITIA N Artikel ini menggunakan metode riset kepustakaan atau studi pustaka, yaitu pendekatan yang mengandalkan sumber-sumber tertulis seperti buku, jurnal, artikel, tesis, dan dokumen akademik lainnya sebagai bahan utama dalam pengumpulan dan analisis data. Penelitian ini tidak dilakukan melalui observasi lapangan, melainkan dengan menelaah literatur yang relevan, baik cetak maupun digital. Metode ini dipilih karena efisien dan sesuai untuk penelitian konseptual, serta memungkinkan peneliti menggali pemahaman mendalam tentang integrasi budaya religius dalam hidden curriculum sebagai strategi pembentukan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin. HASIL DAN PEMBAHASAN Hidden Curriculum Secara etimologis, istilah kurikulum berasal dari bahasa Yunani kuno, yang awalnya digunakan dalam konteks olahraga. Kata dasar currere berarti Aujarak tempuh lariAy atau AulintasanAy, yaitu jalur atau jarak yang harus ditempuh dalam kegiatan berlari dari titik awal . hingga titik akhir . Pengertian ini kemudian diadaptasi dalam bidang pendidikan, di mana kurikulum diartikan sebagai jalur yang dirancang dan dilalui oleh pendidik bersama peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Menurut terminologi. Oemar Hamalik mendefinisikan kurikulum sebagai . kumpulan mata pelajaran yang harus dipelajari siswa untuk menguasai pengetahuan tertentu, . program pendidikan yang dirancang untuk membantu siswa dalam proses belajar dan perubahan perilaku, serta . seperangkat rencana dan pengaturan terkait materi pelajaran dan metode yang digunakan sebagai panduan dalam kegiatan belajar mengajar. Pengertian tersebut merupakan pengertian klasik yang lebih menekankan pada materi pelajaran yang harus dipelajari siswa untuk meraih ijazah, seperti yang digambarkan oleh Robert S. Zais sebagai serangkaian mata pelajaran yang harus dikuasai. Kurikulum dianggap sebagai keseluruhan isi yang disajikan oleh lembaga pendidikan, yang sering kali berupa buku-buku karya ulama terdahulu dan berfokus pada pengetahuan yang diajarkan oleh guru. Namun, dalam pandangan modern, pengertian kurikulum telah bergeser untuk lebih memfokuskan pada pengalaman belajar siswa. Menurut Caswel dan Campbell, kurikulum kini didefinisikan sebagai semua pengalaman yang diperoleh siswa di bawah bimbingan guru. Artinya, pendidikan tidak hanya tentang pengetahuan yang diajarkan, tetapi juga tentang bagaimana siswa berinteraksi dengan proses belajar tersebut. Dengan demikian, kurikulum modern mencakup pengalaman praktis dan interaksi yang membentuk pembelajaran siswa secara holistik. Teori hidden curriculum pertama kali muncul pada 1968 dalam buku Life in Classrooms karya Philip W. Jackson, yang menjelaskan bahwa kurikulum tersembunyi mencakup aturan sosial dan perilaku yang diharapkan, berdasarkan hal-hal yang tidak tertulis. Sebelumnya, konsep ini telah diperkenalkan oleh Benson Snyder pada 1971 dan mulai diterapkan oleh pendidik, sosiolog, dan psikolog sebagai sistem informal dalam pembelajaran, mengacu pada aspek-aspek pendidikan yang tidak tercantum dalam kurikulum Beberapa ahli Barat memiliki pandangan berbeda tentang hidden curriculum. Emile Durkheim menyatakan bahwa kurikulum tersembunyi lebih banyak diajarkan di lingkungan sekolah dan seringkali tidak disadari, berbeda dengan isi buku teks. Philip Jackson mendefinisikan hidden curriculum sebagai aturan sosial tidak tertulis, seperti belajar menunggu, menahan diri, menyelesaikan tugas, bekerja sama, dan bersikap sopan. Sementara itu. Robert Dreeben menyoroti hidden curriculum sebagai sarana untuk membentuk hubungan sosial sementara di kalangan siswa. Kesimpulannya. Hidden curriculum merujuk pada aspek-aspek pendidikan yang tidak tercatat dalam silabus, seperti nilai sosial, perilaku, dan norma yang diajarkan secara tidak langsung melalui interaksi di sekolah. Meskipun tidak formal, ini mempengaruhi perilaku, sikap, dan keterampilan sosial siswa, dipengaruhi oleh peran guru dan lingkungan sekolah. Dimensi Hidden Curriculum Menurut Bellack dan Kiebard, seperti yang dikutip oleh Sanjaya, hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi memiliki tiga dimensi penting yang secara tidak langsung memengaruhi proses pendidikan dan sosial siswa. Berikut adalah tiga dimensi tersebut: Hidden Curriculum sebagai Penunjuk Hubungan Sosial di Sekolah Dimensi pertama menunjukkan bagaimana hubungan sosial di sekolah terbentuk melalui interaksi guru-siswa dan struktur kelas, mengajarkan nilai-nilai sosial seperti menghormati otoritas dan tata tertib. Hidden Curriculum sebagai Proses Pelaksanaan Nilai Tambah dalam Pendidikan Dimensi kedua mencakup nilai tambahan yang diajarkan melalui kegiatan ekstrakurikuler dan interaksi sosial, seperti keterampilan interpersonal dan kerja sama. Hidden Curriculum dalam Hubungannya dengan Kesenjangan Sosial Dimensi ketiga menyoroti kesenjangan sosial yang muncul akibat perbedaan sosial dan pandangan, yang mempengaruhi pengalaman dan fungsi sosial siswa. Secara keseluruhan, ketiga dimensi hidden curriculum menunjukkan peran penting nilai-nilai sosial yang diajarkan secara implisit, mempengaruhi pola pikir, sikap, dan keterampilan sosial siswa dalam proses pendidikan. Dasar Pembentukan Hidden Curriculum Selain dimensi, hidden curriculum juga memiliki dasar pembentukannya. Jeane H. Balantine mengemukakan bahwa hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi terbentuk dari tiga komponen penting yang dimaknai dengan istilah tiga R, yang sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan kondusif. Ketiga R tersebut adalah sebagai berikut: Rules (Atura. Aturan di sekolah menciptakan lingkungan belajar yang terstruktur dan aman. Aturan yang jelas tentang disiplin, tata cara berpakaian, dan norma perilaku membantu mengurangi konflik dan memotivasi siswa untuk belajar. Regulations (Kebijaka. Kebijakan sekolah penting untuk mendukung tujuan pembelajaran, mencakup aspek seperti evaluasi, pengembangan kurikulum, dan kesejahteraan siswa, serta memperhatikan kebutuhan dan aspirasi siswa serta kondisi sosial budaya. Routines (Rutinita. Rutinitas memastikan penerapan aturan dan kebijakan secara konsisten. Prosedur sehari-hari, kegiatan ekstrakurikuler, dan umpan balik guru membantu siswa mengembangkan keterampilan sosial dan akademik. Ketiga komponen ini saling mendukung dalam membentuk *hidden curriculum* yang efektif, menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran dan pengembangan karakter siswa. Budaya Religius Menurut Abdullah Idi, budaya religius adalah sistem nilai, norma, dan perilaku yang berakar pada ajaran agama dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Koentjaraningrat menambahkan bahwa budaya religius mencakup adat kebiasaan, sistem keyakinan, dan upacara yang berhubungan dengan aspek spiritual masyarakat. Sementara itu. Tilaar mengungkapkan bahwa budaya religius merupakan integrasi nilai-nilai agama ke dalam budaya lokal yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam, serta memengaruhi kehidupan sosial dan peran individu dalam komunitas. Dari beberapa pendapat di atas, budaya religius diartikan sebagai sistem nilai, norma, dan perilaku yang berakar pada ajaran agama, yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari baik secara individu maupun dalam komunitas sosial. Sedangkan budaya mencerminkan integrasi nilai-nilai agama dengan kehidupan manusia, mencakup aspek spiritual, tradisi, etika, hubungan sosial, dan harmoni dengan lingkungan. Strategi Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah Beberapa ahli mengemukakan berbagai strategi dalam menciptakan budaya religius. Sebagaimana pendapat Sutarto yang menyebutkan bahwa pembentukan budaya religius di sekolah dapat dilakukan melalui beberapa strategi, sebagai berikut: Power Strategy (Strategi Kekuasaa. Mengutamakan perintah dan larangan, di mana kepatuhan diberi penghargaan dan pelanggaran dikenai hukuman. Persuasive Strategy (Strategi Persuasi. Mengarah pada pembentukan opini dan pemahaman nilai-nilai religius melalui pendekatan komunikasi dan penyadaran. Normative Re-educative Strategy (Strategi Pembaruan Norm. Menekankan perubahan kebijakan yang tidak mendukung budaya religius melalui pembiasaan, keteladanan, dan pendekatan persuasif. Sedagkan strategi pembentukan budaya religius menurut Asmaun Sahlan mencakup pendekatan yang sistematis dan terencana untuk menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah, hal itu dijelaskan sebagaimana berikut: Pembentukan Suasana Religius Suasana religius di sekolah dibentuk melalui kepemimpinan yang meneladani nilainilai agama, pelaksanaan kegiatan keagamaan secara rutin, penyediaan fasilitas ibadah seperti masjid atau musala, serta dukungan dari orang tua dan masyarakat sekitar. Tujuannya adalah menciptakan lingkungan pendidikan yang mendukung pengamalan ajaran agama secara nyata, agar peserta didik terbiasa hidup sesuai tuntunan agama dalam kesehariannya. Internalisasi Nilai Internalisasi nilai dilakukan dengan menanamkan nilai-nilai agama melalui berbagai mata pelajaran, bukan hanya terbatas pada pendidikan agama. Guru dari semua mata pelajaran bisa mengintegrasikan ajaran agama ke dalam pembelajaran, seperti mengaitkan materi dengan ayat-ayat Al-QurAoan atau hadits, sehingga peserta didik dapat memahami dan menghayati nilai religius dalam setiap aspek pendidikan. Keteladanan Keteladanan merupakan cara efektif menanamkan budaya religius di sekolah. Guru dan tenaga kependidikan harus menjadi contoh nyata dalam akhlak dan perilaku seharihari. Rasulullah saw. sendiri diutus untuk menyempurnakan akhlak umat manusia, sebagaimana sabda beliau: ACA a AauIac aI aaea aaEa aaI aIA a AA aE a aE a e aaEA AuSesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Ay (HR. AlBaihaq. Dengan meneladani akhlak Nabi, guru dapat menjadi panutan yang membimbing peserta didik menuju karakter yang religius. Pembiasaan Pembiasaan merupakan strategi jangka panjang dalam membentuk perilaku religius Dengan melatih peserta didik melalui kegiatan berulang seperti salat berjamaah, membaca doa, atau mengucap salam, siswa terbiasa mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Seiring waktu, kebiasaan ini akan membentuk karakter dan moral yang kuat. Membangun Kesadaran Diri Kesadaran diri merupakan kemampuan individu untuk mengenal dirinya, mengevaluasi tindakan, serta memahami tanggung jawab spiritual dan sosialnya. Dalam konteks religius, kesadaran diri membantu siswa merefleksikan nilai-nilai agama yang diyakininya dan menerapkannya secara konsisten dalam kehidupan. Hal ini menciptakan pribadi yang matang secara spiritual dan mampu hidup selaras dengan nilai-nilai Proses Pembentukan Budaya Religius di Sekolah Budaya religius di sekolah terbentuk melalui dua proses: pertama, prescriptive, yaitu penyesuaian dan penghayatan terhadap tradisi atau perintah dari otoritas eksternal. melalui kegiatan terprogram, yakni proses pembelajaran yang menginternalisasi nilai-nilai religius ke dalam diri individu dan tercermin dalam perilaku sehari-hari. Sedangkan menurut Muhaimin, sebagaimana dikutip oleh Asmaun Sahlan, terciptanya budaya religius di sekolah mencakup dua aspek utama, yaitu vertikal dan horizontal. Secara vertikal, budaya religius diwujudkan melalui penguatan hubungan spiritual dengan Allah SWT, seperti shalat berjamaah, puasa sunnah, khataman Al-QurAoan, dan doa bersama yang dilakukan secara rutin dan bermakna. Sementara secara horizontal, budaya religius dibangun melalui penguatan hubungan antarindividu di sekolah, mencakup hubungan atas-bawahan . epala sekolah-guru, guru-sisw. yang dilandasi keadilan dan kepedulian, hubungan profesional . uru-staf, guru-orang tu. dengan nilai tanggung jawab dan integritas, serta hubungan sederajat . ntar siswa atau gur. yang menjunjung persaudaraan dan solidaritas. Wujud Budaya Religius di Sekolah Asmaun Sahlan menyatakan bahwa terdapat berbagai bentuk religiusitas yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari, antara lain: senyum, salam, sapa . S), saling menghormati dan toleransi, puasa Senin-Kamis, shalat dhuha, tadarrus al Quran, istighasah, doa bersama, serta shalat berjemaah. Senyum. Salam, dan Sapa Islam menganjurkan salam sebagai doa dan bentuk persaudaraan. Budaya senyum, salam, dan sapa mencerminkan komunitas yang damai, santun, dan toleran. Membangun budaya ini memperkuat rasa hormat antar individu serta membentuk identitas sosial yang positif. Saling Menghormati dan Toleran Quraish Shihab menekankan pentingnya hidup berdampingan secara damai, sedangkan Mulyasa menambahkan pentingnya membangun lingkungan sekolah yang Nilai saling menghormati dan toleransi mengurangi diskriminasi serta mempererat hubungan sosial di sekolah. Puasa Senin Kamis Puasa mengajarkan ketakwaan, menahan diri dari dosa, dan memperkuat spiritualitas serta jiwa sosial. Puasa Senin Kamis mendidik siswa untuk memiliki hati bersih, berpikir positif, jujur, semangat, dan peduli terhadap sesama. Shalat Dhuha Shalat Dhuha sebagai ibadah sunnah yang dilaksanakan pagi hari, membiasakan siswa memulai aktivitas dengan keberkahan. Ini memperkuat karakter religius dan kedekatan dengan Allah SWT di lingkungan sekolah. Tadarus Al-Qur'an Tadarus Al-Qur'an meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan kecintaan terhadap AlQur'an. Membaca Al-Qur'an secara rutin juga membantu menjaga diri dari pengaruh negatif serta membentuk perilaku positif. Istighasah dan Doa Bersama Istighasah dan doa bersama mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui dzikir dan Doa sebagai aktivitas hati, lisan, dan raga menunjukkan kepasrahan total kepada Allah dalam menghadapi segala situasi. Shalat Berjamaah Shalat berjamaah memperkuat ukhuwah Islamiyah, mengajarkan disiplin, serta mempererat hubungan sosial dalam suasana penuh persaudaraan. Semakin banyak jamaah, semakin besar pula pahala yang didapatkan. Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (PPRA) Urgensi Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (PPRA) Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (PPRA) berperan penting dalam pendidikan masa kini, dengan tujuan mengembangkan kepribadian peserta didik secara holistik melalui integrasi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Program ini menanamkan sikap adil, kesamarataan, dan penghargaan terhadap perbedaan. Selain itu. PPRA mempersiapkan peserta didik untuk menghadapi dinamika kehidupan nyata dengan membentuk individu yang adaptif, peka terhadap lingkungan, serta aktif berkontribusi dalam kegiatan sosial dan kesejahteraan masyarakat. PPRA membangun komitmen kebangsaan di kalangan peserta didik dengan menanamkan sikap toleran dan penghargaan terhadap tradisi serta budaya lokal, memperkaya identitas nasional mereka. Selain itu. PPRA mengembangkan karakter kuat seperti integritas, tanggung jawab, dan keuletan, membekali siswa dengan keterampilan dan pengetahuan untuk menghadapi tantangan global. PPRA merupakan bagian dari Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan Lil Alamin (P5 PPRA). Inisiatif ini adalah upaya sistematis untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran siswa terhadap nilai-nilai Pancasila dan konsep Rahmatan Lil Alamin. Dengan demikian, diharapkan siswa tidak hanya menjadi individu yang berprestasi di bidang akademik, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu membawa dampak positif bagi lingkungan sosial mereka, serta menjadi warga negara yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa. Program ini diharapkan dapat membentuk karakter dan keterampilan siswa agar selaras dengan tuntutan zaman dan mampu bersaing di tingkat global. Prinsip Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (PPRA) Dalam mewujudkan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin, satuan pendidikan menerapkan sembilan prinsip dasar yang bertujuan menciptakan lingkungan belajar holistik, kontekstual, dan berfokus pada pengembangan karakter peserta didik agar menjadi pribadi cerdas, mandiri, dan peduli sosial. Holistik berarti perancangan kegiatan dilakukan secara menyeluruh dalam sebuah tema, dengan memperhatikan keterhubungan antara berbagai elemen untuk memahami suatu hal secara mendalam. Pendekatan ini melihat setiap aspek sebagai bagian yang saling berkaitan, bukan terpisah-pisah, untuk menciptakan pemahaman yang lebih utuh. Kontekstual berarti kegiatan pembelajaran didasarkan pada pengalaman nyata yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, sehingga materi yang dipelajari relevan dengan dunia nyata dan dapat langsung diterapkan dalam situasi konkret yang dialami peserta Berpusat pada peserta didik berarti skenario pembelajaran dirancang untuk mendorong peserta didik menjadi subjek yang aktif dalam proses belajar mereka. Ini termasuk memberikan kesempatan bagi mereka untuk memilih, merencanakan, dan mengusulkan topik proyek sesuai dengan minat serta kebutuhan mereka, sehingga mereka dapat belajar secara mandiri dan lebih terlibat. Eksploratif berarti menciptakan ruang yang luas bagi peserta didik untuk mengembangkan diri melalui proses inkuiri, baik secara terstruktur maupun lebih Pendekatan ini mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, dan kebebasan berpikir yang memungkinkan peserta didik menemukan dan menggali pengetahuan dengan cara yang lebih mendalam. Kebersamaan berarti seluruh kegiatan di madrasah dilaksanakan dengan semangat kolaborasi, di mana warga madrasah bekerja sama dan bergotong royong. Semua pihak terlibat secara aktif untuk mencapai tujuan bersama dengan saling mendukung dan berbagi tanggung jawab. Keberagaman berarti seluruh kegiatan yang dilakukan di madrasah menghargai dan merayakan perbedaan, kreativitas, inovasi, serta kearifan lokal. Semua ini dijalankan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan prinsip inklusivitas yang menciptakan ruang bagi semua orang, tanpa membedakan latar belakang. Kemandirian berarti seluruh kegiatan di madrasah merupakan hasil inisiatif dari, oleh, dan untuk warga madrasah itu sendiri. Setiap individu didorong untuk mengambil peran aktif dalam menciptakan dan mengelola kegiatan, sehingga mereka dapat berkembang secara mandiri dan bertanggung jawab. Kebermanfaatan berarti semua kegiatan yang dilakukan di madrasah harus memberikan dampak positif yang luas, tidak hanya bagi peserta didik dan madrasah itu sendiri, tetapi juga bagi masyarakat sekitar. Kegiatan tersebut diharapkan mampu memberikan manfaat yang nyata dan bermanfaat untuk perkembangan sosial dan spiritual masyarakat. Religiusitas berarti seluruh kegiatan di madrasah dilakukan dalam konteks pengabdian kepada Allah SWT, dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan dalam setiap aspek kehidupan madrasah. Setiap aktivitas diarahkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menjalankan ajaran agama dengan penuh kesadaran dan ketulusan Melalui penerapan prinsip-prinsip tersebut, diharapkan pendidikan di madrasah tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, sikap toleran, dan kepedulian terhadap sesama. Dengan demikian, setiap lulusan diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mampu memberikan kontribusi positif bagi kemajuan bangsa dan negara. KESIMPULAN Hidden curriculum berbasis budaya religius terbukti mampu membentuk profil pelajar Rahmatan lil Alamin. Melalui penanaman nilai-nilai religius yang tidak hanya berfokus pada kegiatan ibadah formal, tetapi juga melalui keteladanan guru, pembiasaan sikap positif, serta penciptaan suasana kehidupan sekolah yang religius dan inklusif, siswa dibimbing untuk menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, toleran, dan berkontribusi positif bagi Budaya religius yang terintegrasi dalam hidden curriculum membentuk karakter siswa secara holistik, mencakup aspek spiritual, sosial, dan moral, sehingga selaras dengan prinsip dan tujuan dari Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin, yaitu menjadi pelajar yang membawa rahmat dan manfaat bagi seluruh alam. Dengan strategi yang terstruktur, seperti internalisasi nilai, pembiasaan, keteladanan, dan pembangunan kesadaran diri, hidden curriculum berbasis budaya religius berperan efektif dalam membentuk kepribadian pelajar yang sesuai dengan visi pendidikan nasional yang berlandaskan moderasi beragama dan nilainilai Pancasila. DAFTAR PUSTAKA