Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 Peran dan Tantangan Orang Muda Katolik di Surabaya dalam Partisipasi Pelayanan Hidup Menggereja di Era Digital Nelly Evrida Sinaga1. Agus Machfud Fauzi2 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 20082@mhs. Abstract The aim of the research is to explain the role and challenges of Surabaya City Catholic Young People (OMK) in church life and the contribution of OMK in the digital era. OMK's role in service participation is to invite the younger generation to be actively involved in service activities at the church, such as joining a team of volunteers serving the elderly, psalm attendants, church choirs and others. Technological developments in the digital era have created moral decline and challenges for the younger So, there is a need for support and guidance from both parents and the Catholic church. The research methods used were library research methods and qualitative research methods. Tujuan penelitian untuk menjelaskan peran dan tantangan Orang Muda Katolik (OMK) Kota Surabaya dalam kehidupan menggereja dan kontribusi OMK di era digital. Peran OMK dalam pelayanan partisipasi adalah mengajak generasi muda untuk terlibat aktif dalam kegiatan pelayanan di gereja, seperti bergabung dalam tim relawan melayani lansia, petugas mazmur, koor di gereja dan Perkembangan teknologi di era digital telah menciptakan kemerosotan moral dan tantangan pada generasi muda. Oleh karena itu, perlunya dukungan dan bimbingan dari kedua orang tua dan pihak gereja Katolik. Metode penelitian yang dilakukan yaitu metode penelitian kepustakaan dan metode penelitian kualitatif Keyword: Catholic Youth. Digital Era, service and church lifeAos Pendahuluan Orang Muda Katolik (OMK) merupakan masa depan gereja Katolik, mereka adalah motor penggerak dalam membangun dan mengembangkan kehidupan menggereja di masa sekarang dan masa Dalam kehidupan menggereja OMK sebagai landasan utama dalam menggerakkan generasi muda untuk tetap aktif dan terlibat dalam hidup menggereja. Menurut Lopez . Orang Muda Katolik merupakan sebuah organisasi Gereja yang terhimpun dari anak-anak muda Katolik yang terus menerus melayani Tuhan dan sesama. Satrio, 2007 OMK tumbuh melalui pergaulan dan pergumulan dengan diri sendiri, keluarga, lingkungan dan masyarakat. OMK ini secara biologis sama dengan anak muda lainnya, yang membedakan adalah OMK beriman kepada Allah dalam bimbingan Roh Kudus dan persekutuan Gereja Katolik. Usia Orang Muda Katolik dari usia 16Ae36 tahun, usia 16 tahun adalah usia yang paling muda. Usia ini biasanya masih duduk di pendidikan Sekolah Menengah Atas. Sedangkan usia 18Ae22 tahun adalah usia beranjak dewasa baik dalam pemikiran, tindakan dan pola pikir yang sudah memandang Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 Usia ini biasanya sudah menduduki perguruan tinggi. Dan usia 23 sampai usia 36 tahun ini adalah usia yang sudah sangat matang. Usia 16 Ae 36 tahun usia yang sudah dewasa baik relasi, tanggung jawab, pandangan masa depan dan pekerjaan. Gambar 1. Diagram Usia Orang Muda Katolik di Surabaya Beberapa perbedaan yang terdapat sebagai orang muda katolik adalah sebagai berikut: . Peran . Partisipasi. Pembicaraan dan diskusi. Hubungan antarpersonal. Pengembangan Tantangan-tantangan yang terjadi pada kemajuan zaman ini kepada generasi muda adalah tindakan-tindakan pelanggaran, kekerasan, pencurian, penggunaan obat-obat terlarang, pergaulan bebas, dan masih banyak lagi. Saat ini juga juga masih banyak persoalan yang terjadi dari dalam diri kaum muda. Misalnya, saat ini anak-anak muda banyak yang malas untuk belajar dan bekerja akibat lebih senang dalam dunia media sosial. Dampak era digital membuat generasi muda mengalami kecanduan akan media sosial. Bahkan Orang Muda Katolik juga terjerumus menjadi korban kecanduan game online bahkan judi online. Akibat kecanduan menggunakan internet secara berlebihan hingga lupa waktu sehingga untuk pelayanan di Gereja terabaikan. Dunia media sosial dan game online juga membuat minat Orang Muda Katolik mengalami penurunan dalam keaktifan berpartisipasi dalam hidup menggereja. Seharusnya sebagai generasi muda gereja. Orang Muda Katolik harus lebih memprioritaskan pelayanan di Gereja. Kajian Pustaka 1 Penelitian Terdahulu Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Adelbred Sinaga dan Antonius Denny Firmanto, 2023. Dalam penelitian ini menjelaskan bagaimana Orang Muda Katolik merasakan pengaruh dari perkembangan teknologi saat ini. Penelitian ini juga ingin menjelaskan bagaimana hidup beriman orang muda dan bagaimana pendampingan yang akan diberikan kepada orang muda. Bagaimana pihak gereja untuk dapat membantu orang muda Katolik agar tidak kabur akan hidup menggereja dan keaktifan mereka dalam pelayanan. Menjelaskan bahwa pengaruh teknologi kepada orang muda sangat pesat dan besar. OMK lebih meluangkan waktu dengan dirinya sendiri dibandingkan terlibat dalam Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 pelayanan gereja. Orang muda masa kini dan masa depan gereja sangat dibutuhkan jadi Gereja universal harus mampu memberi pendampingan kepada OMK untuk membantu agar dapat terlibat dalam pelayanan dan iman kekatolikan mereka. Pada penelitian ini ditemukan bahwa dampak dari perkembangan teknologi menjadikan Orang muda merasa tidak ada waktu untuk pergi ke gereja. Tantangan OMK saat ini sangat luar biasa sehingga dibutuhkan kesadaran diri dan tanggung jawab pada diri untuk dapat membatasi diri dalam penggunaan teknologi seperti game online dan media Maka penelitian sebelumnya dan penelitian ini memiliki tujuan yang sama untuk melakukan penelitian akan peran dan tantangan Orang Muda Katolik akibat perkembangan teknologi. Pada penelitian ini menjelaskan baik penelitian sebelumnya juga sudah ditemukan bahwa OMK di era digital ini baik Orang Muda Katolik di perkotaan maupun pedesaan mengalami tantangan akibat dampak perkembangan teknologi. Akibat dampak tersebut maka diperlukan kontribusi baik orangtua, pembina dan pihak gereja untuk membantu OMK untuk lebih bertanggung jawab pada diri dan keberlanjutan nila-nilai keagamaan. Agar generasi muda tidak mengalami kemerosotan moral maupun nilai-nilai keagamaan. Semoga melalui penelitian ini membantu untuk mencari cara strategi dalam membantu OMK mengatasi setiap permasalahan dan tantangan yang dihadapi. 2 Teori Tindakan Sosial Max Weber Penelitian ini menggunakan teori tindakan sosial Max Weber dimana teori ini menjelaskan bahwa Weber menekankan arti tindakan yang akan dilakukan secara luas secara individu maupun Teori ini mengarah pada cara OMK dalam menggunakan teknologi digital baik melalui media sosial ataupun platform lainnya. Bagaimana Weber mengarahkan agar OMK dapat menggunakan teknologi digital untuk menyebarkan luaskan nila Ae nilai atau ajaran agama Katolik, terlibat dalam aktivisme sosial melalui media sosial. Mampu menghadapi tekanan dan tantangan akibat dampak dari teknologi digital. Beberapa konsep utama yang diterapkan dari teori Weber meliputi: Tindakan Rasional dengan Pertimbangan Tindakan ini adalah tindakan yang dipilih berdasarkan pertimbangan rasional tentang tujuan dan cara dalam mencapai secara efisien. Konsep ini tentang individu yang memilih untuk terlibat dalam keagamaan, berpartisipasi dalam hidup menggereja dan menggunakan teknologi digital sebagai sarana untuk mendukung dan memperkuat iman dalam mencapai tujuan dan nilai pribadi terhadap nilai-nilai keagamaan. Tindakan Tradisional Tindakan ini berdasarkan nilai-nilai atau keyakinan yang sudah menjadi tradisi atau Konteks ini mencakup partisipasi dalam ritual keagamaan, mengikuti ajaran gereja atau menerapkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sebagai identitas religius. Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 Otoritas dan Legitimasi Konsep ini menekankan pentingnya otoritas dan legitimasi dalam mengatur tindakan Konteks menjelaskan bahwa dalam gereja otoritas diberikan kepada pemimpin agama dan institusi gerejawi, dimana mengatur dan memberi arahan dalam praktik keagamaan dan moral. Namun terdapat juga tantangan dimana ada ketegangan antara otoritas gereja dan nilai-nilai individu terutama dalam perubahan sosial dan digital. Rasionalitas dan Birokrasi Konteks ini mencakup bagaimana penggunaan teknologi digital untuk meningkatkan administrasi dan komunikasi gerejawi serta dalam pengelolaan sumber daya untuk lebih baik dan efisien. Metode Penelitian Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kepustakaan dan metode penelitian metode kepustakaan untuk pengumpulan data diperoleh dari sumber-sumber yang tertulis, yaitu jurnal, buku, artikel, dokumen resmi, dokumen-dokumen gereja Katolik, majalah dan publikasi lainnya yang sungguh relevan dengan judul penelitian. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang dilakukan dengan melakukan observasi lapangan dan wawancara. Penelitian ini adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami dan menganalisis fenomena yang terjadi. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya, perilaku, persepsi, minat, motivasi, tindakan, dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa. Pendekatan kualitatif ini bertujuan untuk mendapatkan informasi lengkap. Hasil dan Pembahasan 1 Gambaran Orang Muda Masa Kini Pada perkembangan zaman saat ini banyak pendekatan yang dilakukan untuk generasi muda. Diantara sifat Ae sifat khusus yang paling nyata terjadi pada Orang Muda masa kini adalah bahasa Ae bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi dan emosional yang berubah Ae ubah. Sikap kurangnya terbuka dan pemberian ini juga menjadi ciri khas OMK saat ini. Padahal sebagai OMK harus menjadi teman seperjuangan dan teman berbagi. Surabaya adalah Kota terbesar no 2 di Indonesia dengan perkembangan dan kemajuan yang dimiliki membuat generasi muda Katolik mengalami perubahan dalam mengikuti perkembangan Dalam perkembangan ini dapat dilihat saat OMK mengikuti kegiatan menggereja. OMK identik lebih suka berkumpul sesama mereka kurang berbaur dengan sesama umat. Sikap ini dirasa kurang menghidupi arti persaudaraan. OMK di Surabaya pada saat ini gaya hidup yang lebih menonjol sehingga saat ada kegiatan atau pertemuan sesama OMK menjadi ajang saling memamerkan kekayaan Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 dan identitas diri sehingga komunitas menjadi kurang sehat. Ini lah gambaran yang sering terjadi di masa kini. Orang Muda masa kini adalah generasiyang terhubung dan lahir di zaman era digital dan perkembangan teknologi. Orang Muda tumbuh dalam era yang sangat berbeda jauh dengan masa zaman orangtua lahir. Pertumbuhan pada era digital ini membantu orang muda sangat mudah dalam berkomunikasi dan memecahkan masalah dengan belajar secara otodidak dari internet, menjadi individu yang kreatif dan inovatif. Jika memiliki keinginan yang kuat untuk belajar dan mau Namun Orang Muda juga banyak mengalami masalah dan tantangan dari perkembangan zaman saat ini. Tantangan yang sering dialami orang muda saat ini ini adalah merasakan tekanan dari lingkungan sosial, memiliki ekspektasi yang sangat tinggi baik dalam dunia pendidikan, karir dan kehidupan pribadi. Mudah terpengaruh akan informasi yang diterima dari media sosial, kurang mampu berjuang keluar dari zona nyaman, sangat individualisme dan masih banyak lagi tantangan yang dialami pada masa kini. Orang muda juga saat ini mengalami krisis kepercayaan pada orang sekitar ini terjadi akibat dari mudahnya seseorang mempublikasikan privasi seseorang demi keuntungan Ini juga sering terjadi pada OMK Surabaya dengan gaya hidup yang terbilang lebih menonjol membuat banyak orang penasaran akan hidup pribadi seseorang. Saat ini juga sangat mudah generasi muda mengungkapkan rasa benci dan sakit hatinya dalam dunia sosial. Maka pada masa kini orang muda kurang mampu menguasai diri dalam hal emosional diri. 2 Peran Orang Muda Katolik Surabaya OMK Surabaya memiliki peran yang sangat penting untuk membangun diri sendiri dan komunitas baik dalam iman dan pelayanan. Peran OMK juga untuk dapat berkontribusi dalam hidup bermasyarakat secara luas tanpa memandang perbedaan agama, budaya dan ras. OMK berperan menjadi panjang tangan dalam menyatukan setiap perbedaan yang ada di Surabaya. Secara khusus bagi kaum muda yang mengadu nasib dalam meniti karir di Surabaya. Inilah peran OMK di Surabaya untuk berkontribusi menjalin relasi dengan banyak kamu muda baik berbeda usia dan ras. Ada beberapa peran OMK yang biasanya dilakukan dalam menjalankan peran mereka dalam hidup berkomunitas dan tugas pelayanan. Peranan tersebut sebagai berikut. Aktivis Keagamaan Kegiatan ini melibatkan persekutuan doa, koor gereja dan kelompok pemdalaman iman seperti kerahiman. WKRI. Legio Marie dan lainnya. Aktivis ini sebagai penggerak untuk memperkuat iman Katolik dan memperluas pelayanan gereja Katolik. Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 Pastoral Peran ini membantu untuk semakin mengisi diri akan pengetahuan dan iman Katolik agar dapat melayani komunitas. Pelayanan Sosial Sebagai OMK yang masih produktif dan muda berperan dan terlibat dari berbagai kegiatan pelayanan sosial yang ada dalam gereja seperti OMK melakukan kunjungan ke panti Jompo, program bagi yang membutuhkan misalnya yang terkena bencana alam, longsor dan banjir. Pendidikan dan Pembinaan Terlibat menjadi mentor atau pembina dalam program pembinaan iman Katolik misalnya pembinaan iman Katolik bagi sekolah-sekolah Negeri. Kepemimpinan Mengisi diri akan sikap dan tindakan sebagai pemimpin agar mampu berperan sebagai pemimpin yang mampu mengayomi, memberikan keadilan sosial, memberikan perdamaian dan melindungi Hak Asasi Manusia dan menjadi suara bagi rakyat yang tidak memperoleh hak kebebasan untuk bersuara. 3 Tantangan OMK dalam Partisipasi Pelayanan Menurut Priyana ( 2. bahwa generasi muda sering mengalami permasalahan baik permasalahan internal dan eksternal, dimana permasalahan eksternal ini terjadi dari lingkungan yang kurang kondusif seperti kebisingan dan polusi udara atau media sosial yang mempenagruhi perkembangan psikis dan mental anak muda karena dapat menciptakan stres, kecemasan dan depresi. Kondisi tersebut mampu menciptakan generasi muda yang mengalami gejoalk orientasi yang kurang Menurut hasil wawancara dan observasi dengan OMK di Surabaya, berbagai ragam dan situasi yang mereka alami untuk dapat melibatkan diri menjadi OMK. Sebagai generasi muda memnag memiliki banyak impinan dan keinginan baik dalam hidup, fisik maupun rohani. Berikut ini ada beberapa tantangan yang dialami OMK baik dari segi usia, pendidikan, pekerjaan, keluarga bahkan dampak dari perkembangan zaman. Maka berikut ini tantangan yang sering dihadapi oleh OMK yaitu: Pergaulan Pergaulan anak muda zaman ini ada 2 sisi, yaitu sisi positif dan negatif. Media sosial memperkenalkan dunia luas pada anak muda, sehingga dapat menjalin relasi dengan banyak orang namun anak muda sering lalai dalam ketergantungan dan kecanduan bermedia sosial sehingga membuat orang terdekat diabaikan. Dengan pergaulan di media sosial juga sering anak muda terjerat Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 akan pergaulan bebas dengan mengenal atau bergabung ke dalam komunitas online yang kurang baik misalnya group sesama jenis atau kejahatan lainnya. Kurang mampu menyeleksi pertemanan online karena tidak mengenal secara fisik. Kurang Konsisten dalam Ajaran Agama Orang muda saat ini gampang terpengaruh dengan rayuan dan godaan dari dunia luar. Misalnya saat ini banyak anak muda yang gampang berpindah agama karena relasi dengan lawan jenis atau karena pertemanan. Anak muda saat ini juga sering merasa gereja Katolik kurang hidup, suasana ibadatnya yang terlalu hening. Ini juga membuat anak muda menjadi kurang konsisten dengan Anak muda saat ini lebih memilih menjalin relasi beda agama, sehingga menjai jarang ke gereja maupun terlibat dalam kegiatan OMK. Lebih mementingkan relasi atau hubungan dibandingkan imannya atau keyakinannya. Merasa Monoton dengan Ajaran Iman Katolik Mengalami kebosanan dalam mengikuti dan mendalami ajaran agama Katolik. Merasa mulai kecil hingga dewasa ajarannya sama sehingga ada keinginan untuk pindah mencari agama yang lebih hidup membuat suasana gembira dan bersorak riang. Ini adalah tantangan yang sering terjadi dikalangan anak muda. Merasa gampang dan jenuh dengan kegiatan yang terus menerus sama kurang mampu menciptakan suasan baru atau bervariasi. Merasa Beragama itu Beban Tantangan saat ini banyak anak muda merasa beragama itu sebuah beban atau keharusan sehingga merasa kurang bebas dan terlalu ribet. Anak muda saat ini lebih memilih tidak beragama karena merasa nyaman tidak di ganggu baik dari keluarga maupun sekitar. Kurang Kesiapan Hati (Penyesuaian Dir. Ini terjadi karena adanya perbedaan usia, pendidikan, pengalaman. Sebagai OMK harus memiliki kesiapan hati atau mempu menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, sehingga saat mengalami perbedaan tidak menjadi masalah atau mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Komunitas OMK terdiri dari usia muda mulai 16 Ae 36 tahun, dalam perbedaan harus mampu menyesuaikan diri untuk dapat berinteraksi dengan sebaya, di bawah kita maupun di atas umur kita. Bagaimana kita harus bisa menata cara berbicara agar tidak tersinggung dan mudh dipahami. Pembagian Waktu Sebagai generasi muda harus mampu membagi waktu dengan bijak sehingga semua kegiatan dapt berjalan dengan baik. Saat ini kegiatan menggereja dengan rutunitas sering bersaing waktu, dimana kegiatan sehari Ae hari misalnya sekolah, bekerja dll lebih banyak menyita waktu sehingga kegiatan menggereja sering terabaikan dan lebih cenderung lagi memilih kegiatan yang lebih menyenangkan diri. Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 Kurangnya Minat dan Kesadaran Diri Anak muda saat ini mengalami penurunan dalam mendalami dan penghayatan iman, mereka kurang mencintai kegiatan kerohanian dan kekayaan iman dalam gereja Katolik. Kurangnya Ketertarikan dalam Pelayanan Anak muda saat ini merasa kurang tertarik mengambil pelayanan dalam gereja Katolik dengan alasan tidak bisa, tidak ada waktu dan kurang percaya diri sehingga merasa tidak mampu mengikuti kegiatan tersebut. Ditambah dengan banyaknya pilihan kegiatan anak muda saat ini membuat hidup menggereja menjadi pilihan kesekian. Komunikasi Sering terjadinya kurang komunikasi sehingga sering terjadi perselisihan akibat infoyang disampaikan tidak jelas, merasa menjadi kurang dihargai. OMK juga tidak suka akan aturan Ae aturan yang mengikat. Kurangnya kepercayaan serta kesempatan untuk tiap anggota dalam berpartisipasi terlibat dalam kepemimpinan. 4 Faktor Pendukung dan Penghambat Keterlibatan OMK Orang Muda Katolik juga mengalami faktor pendukung dan penghambata dalam partisipasi dan keterlibatan dalam pelayanan hidup menggereja. Berikut ini terdapat faktor Ae faktor yang menjadi pendukung dan penghambat yang dialami OMK dalam keterlibatan mereka. Faktor Pendukung Merianti . 9: 34-. mengatakan bahwa terdapat beberapa faktor pendukung yang diterima oleh OMK dalam keterlibatan mereka mengikuti kegiatan menggereja, faktor pendukung antara lain: Diri sendiri, yaitu OMK harus memiliki kesadaran diri akan tugas perutusan yang saat ini dijalani demi membangun perubahan maupun jati diri sebagai generasi muda gereja. Dengan memiliki kesadaran diri maka akan menemukan cara atau komitmen untuk selalu menyemangati diri dalam pelayanan gereja. Keluarga adalah tempat seorang anak mendapatkan perlindungan dan pendidikan. Maka peran orangtua sangat berpengaruh bebas pada pertumbuhan iman anak. Maka sejak kecil hingga dewasa orangtua hendaknya selalu mendukung dan menumbuhkan iman anak. Tidak hanya dituntut dalam kemampuan intelektual tetapi juga diberi kesempatan dalam pengembangan jati diri dan hidup sosial anak, dengan memberikan kebebasan untuk mengikuti komunitas pelayanan di gereja dan terlibat aktif dalam kegiatan menggereja. Sekolah, juga memberikan ruang bagi orang muda untuk terlibat dalam kegiatan menggereja, memberi motivasi agar anak tidak merasa minder namun terus memberi dorongan untuk mau terlibat dalam kegiatan menggereja dan mengubah pola pikir menjadi lebih buas. Di sekolah ini guru agama adalah orang yang paling berperan besar dan penting. Gereja, mampu merangkul OMK dan menghilangkan pandangan dan sikap negatif terhadap kaum muda, mengapresiasi keterlibatan orang muda dalam hidup menggereja. Hendaknya gereja tidak Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 memperlakukan OMK sebagai upahan seperti sebagai objek pastoral gereja, diperlakukan seperti juru parkir, tenaga kasar. Malah sebaliknya OMK diperlakukan sebagai subjek dan mitra dalam mengembangkan gereja masa depan. Dengan keterlibatan dan dukungan dari seluruh anggota gereja. Masyarakat. Banyak kesempatan yang disumbangkan oleh masyarakat kepada OMK agar OMK dapat menyumbangkan tenaga dan aspirasinya. Tindakan ini merupakan salah satu dukungan dan motivasi yang diberikan masyarakat kepada OMK. Hal tersebut adalah sarana bagi OMK untuk mengembangkan potensi agar OMK dalam melakukan perubahan pada dunia dan gereja di masa Faktor Penghambat Menurut Maria Merianti . 9:35-. menjelaskan bahwa faktor penghambat itu kebalikan dari pendukung yang menjadi negatif, sehingga faktor pendukung tersebut membuat OMK kurang mampu mengeksplor kemampuan dalam mengembangkan imannya. Faktor Ae faktor penghambat keterlibatan OMK, antara lain: . Diri sendiri. OMK yang kurang mampu dalam mengendalikan diri dalam suatu masalah, kurang pengendalan diri dari sikap malas, perasaan minder dan kurang percaya diri terhadap kemampuan diri, tidak berani keluar dari zona nyaman. Inilah yang sering menjadi penghambat tersebut bagi OMK untuk dapat terlibat dalam kegiatan menggereja. Keluarga. Masih banyak keluarga yang kurang menyadari hidup spiritual anaknya, orangtua sering lebih mengutamakan pendidikan intelektual maupun gelar dibandingkan hidup kerohanian dan pendidikan agaman anak. Sering orangtua terlalu abai akan perkembangan iman anak. Sehingga anak Ae anak kurang memperoleh ajaran Ae ajaran iman Katolik sehingga usia dewasa mereka masih kurang mendalami iman Katolik dan mereka juga tidak mendapat dukungan untuk terlibat dan masuk ke komunitas yang ada di gereja. Sekolah. Sering terjadi istilah tabrakan waktu, inilah yang menjadi Orang Muda kurang terlibat berperan dan berparisipapsi dalam pelayanan dan kegiatan hidup menggereja. Sekolah sering membuat jadwal yang penuh sehingga orang muda tidak memiliki senggang waktu melibatkan diri di gereja. Gereja. Seharusnya gereja menjadi tempat berkarya bagi OMK namun gereja salah satu menjadi penghambat dalam keterlibat. Dimana sering terjadi kurang kesalarannya antara orang dewasa dan orang muda, sehingga orang muda menjadi terpojok dan dianggap tidak memberikan asumsi apa Ae apa terhadap perkembangan gereja. Kegiatan yang menoton, serta kurangnya perhatian dan pendampingan sehingga OMK merasa kurang tertarik untuk terlibat. Masyarakat. Masyarakat atau lingkungan sekitar juga sering menjadi penghambat dimana masyarakat menyempitkan ruang gerak mereka untuk berperan dan memberi pendapat sesuai cara pandang mereka. Kesimpulan Secara garis besar kesimpulan dari penelitian mengenai peran dan tantangan Orang Muda Katoliki dalam pelayanan hidup menggereja di era digital adalah sebagai generasi penerus. OMK memiliki peran penting sebagai generasi penerus dalam menjaga, mempertahan, meneruskan dan memelihara nilai Ae nilai agama Katolik baik secara praktik maupun dalam penghayatan keimanan. Paradigma. Volume 13. Number 2, 51Ae60, 2024 Bagaimana peran OMK terlibat untuk tetap aktif dalam pelayanan hidup menggereja. Sebagai masa depan gereja. OMK adalah penerus yang dapat melanjutkan perkembangan dan keberlanjutan gereja Katolik di masa depan. OMK memiliki potensi besar sebagai penggerak perubahan dalam menjaga dan memperluas nilai Ae nilai keagamaan Katolik di era digital saat ini. OMK juga menghadapai tantangan akibat perkembangan teknologi dimana dapat mempengaruhi pola pikir, budaya dan membuat OMK mengalami kecanduan dan ketergantungan pada teknologi. Maka tantangan terbesar OMK sekarang ini merasa memiliki kesibukan tersendiri dan tidak punya waktu untuk terlibat dalam hidup OMK merasa lebih senang dan banyak meluangkan waktunya dalam teknologi, seperti kecanduan dalam media sosial dan game online. Maka untuk mengatasi tantangan di era digital ini, perlu adanya pendidikan dan pendampingan yang baik dari pembina maupun pihak gereja. Dimana OMK diajak untuk dapat menggunakan teknologi secara tanggung jawab dan sesuai ajaran agama Katolik. Mampu menemukan strategi yang dilakukan untuk membantu OMK tidak kecanduan dengan teknologi dan mampu menggunakan kesempatan untuk dapat menyebarkan ajaran Katolik secara online melalui platform yang ada seperti Facebook, youtube dan seterusnya. Daftar Pustaka