https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. MENCEGAH BULLYING MELALUI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM: ANALISIS PERAN GURU DAN SISWA DI AL-YUSUFIYAH Husnul Hakki Daulay Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan husnulhakkidaulay@gmail. Tongku Saputra Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan tongkusyaputra21@gmail. Wantri Gunawan Matondang Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan mgun7355@gmail. Article History: Received: Agustus 30, 2025. Accepted: September 26, 2025. Published: Oktober 27, 2025. Keywords: Islamic Education,Bullying,Student,M orals,Character Al-Yusufiyah Abstract. The purpose of this study was to determine the role of Islamic religious education in preventing student bullying behavior in the Al-Yusfia school environment. Bullying is one of the widespread social problems in the educational environment and has a negative impact on students' psychological and academic development. It is expected that Islamic religious leadership can shape morality and character to form students who have morality and stay away from various behaviors such as bullies. This study uses a qualitative approach with a descriptive method where data is collected through observation, interviews and documents. The results of the study indicate that Islamic religious education plays an important role in the design of students' moral awareness through teaching materials, teacher examples, and religious activities integrated into school Internalization of Islamic values such as compassion, mutual respect, and brotherhood causes students to show more tolerance and stay away from bullying behavior. In short, the development of Islamic religion in al-Yusufiyah plays an important role in preventing bullying, but requires support from all parties to ensure that the results are more optimal. Abstrak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan peran pendidikan agama Islam dalam mencegah perilaku intimidasi siswa di lingkungan sekolah Al-Yusfia. Kembali adalah salah satu masalah sosial yang meluas dalam lingkungan pendidikan dan memiliki dampak negatif pada pengembangan psikologis dan akademik siswa. Diharapkan bahwa kepemimpinan agama Islam dapat membentuk moralitas dan karakter untuk membentuk siswa yang memiliki moralitas dan menjauh dari berbagai perilaku seperti Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif di mana data dikumpulkan melalui pengamatan, wawancara dan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam memainkan peran penting dalam desain kesadaran moral siswa melalui 725 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Mencegah Bullying Melalui Pendidikan Agama Islam: Analisis Peran Guru Dan Siswa A| Husnul Hakiki Daulay. Tongku Saputra. Wantri Gunawan Matondang bahan pengajaran, contoh guru, dan kegiatan keagamaan yang terintegrasi ke dalam kehidupan sekolah. Internalisasi nilai nilai Islam seperti kasih sayang, saling menghormati, dan persaudaraan menyebabkan siswa menunjukkan lebih banyak toleransi dan menjauh dari perilaku intimidasi. Singkatnya, perkembangan agama Islam di al-Yusufiyah memainkan peran penting dalam mencegah peningkatan, tetapi membutuhkan dukungan dari semua pihak untuk memastikan bahwa hasilnya lebih optimal. PENDAHULUAN Bullying dan intimidasi adalah jenis kekerasan yang terjadi di lingkungan sekolah dan merupakan masalah serius di dunia pendidikan. Bentuk pembulatan dilakukan dalam bentuk kekerasan fisik, verbal, sosial, dan psikologis yang diulangi oleh individu atau kelompok yang kuat terhadap orang yang dianggap lemah. Efek disiplin dapat dirasakan tidak hanya secara fisik tetapi juga secara emosional dan psikologis, dan dirugikan pada kinerja belajar, kepercayaan diri dan kesehatan mental korban. (Rahmah & Purwoko. Menurut Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), kasus kekerasan di sekolah terus meningkat dari tahun ke tahun. Salah satu bentuk kekerasan Penyakit menunjukkan bahwa lingkungan sekolah, yang aman dan nyaman bagi siswa, dapat menjadi tempat trauma jika mereka tidak benar -benar dikelola dengan Oleh karena itu, upaya serius diperlukan dari berbagai pemangku kepentingan, termasuk pendidik, orang tua, dan lembaga pendidikan, untuk mencegah dan menangani kasus bundar. ( KPAI. Pendidikan agama Islam memainkan peran strategis dalam desain kepribadian siswa untuk memiliki karakter yang mulia dan menjauh dari perilaku menyimpang seperti disiplin. Pendidikan agama Islam tidak hanya Tuhan (Hablum Minalla. menekankan pentingnya hubungan yang baik antara orang -orang (Hablum Minanna. Nilai -nilai menghormati, dan sangat ditekankan dalam ajaran Islam. (Putra, 2. 726 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. Membentuk tujuan pendidikan agama Islam, percaya, hormat, dan percaya bahwa ia memiliki karakter yang mulia. Proses pembelajaran yang baik diharapkan untuk menginternalisasi nilai -nilai ini dalam kehidupan sehari -hari, seperti interaksi sosial di lingkungan sekolah. Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal memainkan peran penting dalam implementasi pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Islam melalui kegiatan pembelajaran, contoh guru dan budaya sekolah yang positif. Sekolah Al-Yusufiya, sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam, mengkomunikasikan nilai-nilai Islam kepada semua siswa. Diharapkan bahwa dengan memperkuat pendidikan agama Islam di sekolah -sekolah, adalah mungkin untuk menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis dan mengurangi pelepasan antara siswa. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dan menjelaskan sejauh mana peran pendidikan agama Islam adalah untuk mencegah pengungkapan pengungkapan siswa pada siswa al-Yusufiyah. (Absori et al. , 2. METODE PENILITIAN Penilitian terjadi dari fenomena meningkatnya jumlah kasus pembulian di bidang lingkungan sekolah yang mempengaruhi proses pendidikan dan pengembangan intelektual siswa. Oleh karena itu, pendekatan yang hebat didasarkan pada nilai -nilai agama, terutama melalui pendidikan agama Islam, dan memiliki potensi besar untuk perilaku dan moralitas siswa. Tujuan awalnya adalah untuk mengetahui secara konkret bagaimana proses pembelajaran pendidikan agama Islam digunakan di sekolah-sekolah AlYusufiyah, termasuk materi yang dipelajari, guru, guru dan partisipasi siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Implementasi Pendidikan Agama Islam di Al-Yusufia Kepemimpinan Agama Islam di Al-Yusfia adalah sistematis dan direncanakan. Berdasarkan pengamatan peneliti pada bulan April 2025. Pembelajaran PAI akan 727 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Mencegah Bullying Melalui Pendidikan Agama Islam: Analisis Peran Guru Dan Siswa A| Husnul Hakiki Daulay. Tongku Saputra. Wantri Gunawan Matondang berlangsung dua kali seminggu selama periode 90 menit. Selain itu, kegiatan keagamaan harian seperti Tadarus pagi,Sholat Duha berjamaah,kultum Jumat,dan pengajian memperkuat nuansa agama lingkungan sekolah. Dalam pembelajaran kelas , guru PAI tidak hanya menyediakan materi secara teoritis, tetapi juga memberikan pengajaran Islam dengan masalah nyata, termasuk Misalnya, dalam diskusi QS. Al-Hujurat Ayat 11 yang melarang mencela satu sama lain, dan guru menjelaskan bahwa pembulian verbal termasuk perbuatan tercela dan berdosa menurut ajaran islam. (Istianah, 2. Data Observasi: Dalam satu pertemuan di kelas Vi-B,Guru PAI menggunakan metode diskusi kelompok untuk membahas tema AoAoAkhlak Terpuji dalam IslamAoAo. Siswa diberikan studi kasus tentang pembulian di sekolah,lalu diminta mencari Solusi berdasarkan ajaran islam. Aktivitas ini mendorong partisipasi aktif dan refleksi moral siswa Qs. Al Hujurat ayat 11 yang menjelaskan tentang dilarangnya saling mencela antara satu sama yang lain A s a eO a eI Oac aE acI aO Ue aI eI aN oac acI aO aaEA a aA U aI eI IA a aA eOaOac aN Eac aOeIa aIIa eO aaE Oa e ea Ca eO UI aI eI Ca eO sI a eO a eI Oac aE eOIa eO aO Ue aI eI aN eI aO aaE IA a a ca c AOEOaiEa aN aI EA A aE aI eOIa yyA AI aO aI eI E eI Oae a a aA aaE e aI eEAA a e aA eO aC a eA a a A aE eI aOaE aIaa a eO a eaEa eECaA a aA eaE aI a eeO a eIAA a eA aA a cao AaE eO aIA Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok- olok kaum yang lain . boleh jadi mereka . ang diolok-olokkan it. lebih baik daripada mereka . ang mengolok-olo. dan jangan pula perempuan-perempuan . engolok-olo. perempuan lain . boleh jadi perempuan . ang diolok-olok it. lebih baik daripada perempuan . ang mengolok-olo. Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah . fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itulah orang-orang zalim. (Departemen Agama RI. Karakter yang baik adalah benteng utama terhadap perilaku negatif. Pendidikan Agama Islam kejujuran,tanggung jawab,dan kasih sayang. Nilai-nilai ini dibentuk melalui pengajaran langsung dan keteladanan yang diberikan oleh guru. (Yusri et al. Menurut hasil wawancara Ustadz Sofyan Assauri (Guru Mts AlYusufiya. Kami selalu menekankan bahwa akhlak lebih penting dari sekedar 728 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. nilai ujian. Anak anak kami didorong untuk menunjukkan adab kepada guru dan teman, bahkan saat mereka tidak diawasi. Salah satu siswa kelas Vi (Muhammad Aki. menyampaikan bahwa sejak mengikuti kegiatan Tabligh, ia lebih memahami pentingnya saling menghormati dan tidak mengejek teman. AuDulu saya sering menngejek temantemanku karena terikut-ikut, tapi setelah saya belajar agama islam, saya sadar bahwa itu salah,Ay ujarnya. Guru PAI di Al-Yusufiyah tidak hanya mengajar tetapi juga menjadi teladan dan pembimbing. Mereka aktif memantau perkembangan siswa dan cepat merespon ketika terjadi konflik antar siswa. Guru PAI bekerja sama (Marito, 2. Dalam wawancara Ustadz Sofyan Assauri salah satu Guru di Pondok Pesantren Al-Yusufiyah Menjelaskan Bahwa AuKetika ada anak dibully,kami tidak langsung menghukum pelaku, kami ajak bicara, kami beri pemahaman agama, dan alhamdulillah, pendekatan ini lebih diterima, dan mereka jadi paham dan tidak lagi mengulanginya. (Jurnal et al. , 2. Guru PAI tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai Melalui mengidentifikasi potensi bullying dan memberikan nasihat serta arahan yang sesuai dengan ajaran Islam. Keterlibatan aktif guru dalam kegiatan ekstrakurikuler keagamaan juga memperkuat pembentukan karakter siswa. Pendidikan Agama Islam terbukti efektif dalam menciptakan suasana sekolah yang religius dan penuh empati. Berdasarkan hasil angket yang disebar kepada kurang lebih 50 Siswa Al-Yusufiyah 82% siswa menyatakan bahwa pelajaran Agama Islam membuat mereka lebih sadar untuk tidak membully teman 76% siswa lebih merasa nyaman belajar di sekolah karena kegiatan keagamaan menciptakan suasana positif 68% siswa aktif mengikuti kegiatan Tabligh dan menyatakan kegiatan tersebut berdampak positif pada sikap sosial mereka 729 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Mencegah Bullying Melalui Pendidikan Agama Islam: Analisis Peran Guru Dan Siswa A| Husnul Hakiki Daulay. Tongku Saputra. Wantri Gunawan Matondang Selain itu, tidak ditemukan kasus pembulian berat selama semester ganji 2024/2025, menurut catatan guru BK. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan nilai melalui PAI berkontribusi besar terhadap pengurangan perilaku bullying. (Rahmah & Purwoko, 2. Salah satu kekuatan utama pendidikan Agama Islam adalah kemampuanya dalam menginterlisasikan nilai nilai moral secara mendalam melalui pendekatan spritual dan emosional. Interlisasi ini tidak hanya menyasar dimensi pengetahuan . , tetapi juga aspek Afektif . dan psikomotorik . erilaku nyat. (Haningsih. Melalui ajaran islam, seperti larangan ghibah ( menggunjin. , namimah . engadu domb. , dan larangan mencaci maki(Qs. Al-Hujurat: 1. ,siswa diajak untuk memahami bahwa pembulian adalah tindakan yang secara eksplisit dilarang oleh agama. Nilai nilai ini tidak disampaikan dalam bentuk hafalan semata,melainkan dibahas dalam konteks sosial yang nyata (Hasibuan Sekolah mengimplementasikan program-program berbasis Islam, seperti kegiatan rohis, pembinaan akhlak, dan penerapan nilai-nilai 5S (Sapa. Salam. Salim. Senyum. Sopa. Program-program ini efektif dalam menciptakan lingkungan sekolah yang harmonis dan mengurangi perilaku bullying. (Rizqi et al. , 2. Upaya pencegahan pembulian tidak bisa dilakukan oleh sekolah saja. Pendidikan Agama Islam menjadi lebih efektif bila di dukung oleh orang tua dan lingkungan sosial siswa. Di Al-Yusufiyah, sinergi ini dibangun melalui kegiatan parinting islami, majelis taklim wali murid, serta laporan perkembangan kepribadian siswa secara berkala. (Aldiansyah & Wahyudi. Dalam kegiatan parenting yang diadakan setiap tiga bulan sekali, guru PAI mengedukasi orang tua mengenai pentingnya menamkan nilai nilai islam di rumah, serta bagaimana mengenali tanda tanda anak terlibat atau menjadi korban pembulian. Orang tua diajak untuk menjadi role model dan tempat curhat yang aman bagi anak. (Pokhrel, 2. Eksrakurikuler keagamaan seperti Tabligh,Hadrah,dan pelatihan daAoI remaja menjadi 730 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. yang menumbuhkan solidaritas dan kepudilian antar siswa. Kegiatan ini mendorong siswa untuk aktif,bersoalisasi,secara sehat, dan merasa menjadi bagian dari komunitas yang menghargai satu sama lain. (Hidayati, 2. Kegiatan ekstrakurikuler keagamaan di sekolah memiliki peran strategis dalam mencegah pembulian . di kalangan siswa. Melalui kegiatan seperti pengajian rutin, pelatihan baca Al-QurAoan, kegiatan dakwah kecil, dan kelompok diskusi agama, siswa tidak hanya memperdalam pemahaman agama, tetapi juga dibekali nilai-nilai moral dan akhlak yang menjadi landasan penting dalam sikap sosial mereka. ( Amalia. N 2. Kegiatan keagamaan ini membangun rasa empati, toleransi, dan sikap saling menghormati antar siswa, yang secara langsung mengurangi potensi terjadinya perilaku bullying. Selain itu, kegiatan ini memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri secara positif dan mengembangkan karakter yang kuat berdasarkan ajaran agama. Guru dan pembina ekstrakurikuler berperan sebagai pembimbing yang menanamkan nilai-nilai anti-kekerasan, kasih sayang, dan persaudaraan sesuai ajaran Islam, sehingga siswa menjadi pribadi yang mampu menjaga hubungan baik dengan teman-temannya dan menolak perilaku merugikan. ( Rahman. A 2. Hasil observasi menunjukkan bahwa siswa yang tergabung dalam kegiatan Rohis memeliki kecendrugan lebih rendah untuk terlibat dalam perilaku agresif. Mereka justru menjadi pengingat dan penengah dalam konflik yang terjadi di lingkungan kelas. (Astuti. Di Al-Yusufiyah, guru PAI mengintegrisasi nilai anti bullying dalam RPP (RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN). Hal ini mencakup indikator sikap sosial dan spritual dalam penilaian seperti Au menunjukkan perilaku menghargai teman AoAo bersikap jujur dan adilAoAo serta AoAo tidak melakukan tindakan (Marito, 2. Integrasi nilai anti-bullying dalam kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) merupakan langkah strategis untuk membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta harmonis. Kurikulum PAI tidak hanya menyampaikan materi tentang ajaran agama secara teori, tetapi juga harus 731 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 Mencegah Bullying Melalui Pendidikan Agama Islam: Analisis Peran Guru Dan Siswa A| Husnul Hakiki Daulay. Tongku Saputra. Wantri Gunawan Matondang memasukkan nilai-nilai moral dan etika yang relevan dengan kehidupan sosial siswa, salah satunya adalah penanaman sikap anti-bullying. Dalam konteks Islam, nilai anti-bullying dapat diambil dari ajaran seperti larangan menggunjing . , namimah . engadu domb. , dan perintah untuk saling menghormati dan menyayangi sesama manusia sebagaimana termaktub dalam Al-QurAoan dan Hadis. (Leviabriani et al. , 2. Penerapan nilai-nilai ini dalam kurikulum PAI dapat dilakukan melalui berbagai metode pembelajaran, seperti diskusi kasus bullying, role playing, serta pemahaman ayat-ayat Al-QurAoan dan hadits yang mengajarkan tentang pentingnya menjaga kehormatan dan hak sesama. Selain itu, guru PAI juga berperan sebagai fasilitator yang mengaitkan materi ajaran agama dengan fenomena bullying yang terjadi di lingkungan sekolah, sehingga siswa tidak hanya menghafal ayat atau hadis, tetapi memahami dan menginternalisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. (Rika Widianita, 2. Peniltian menunjukkan bahwa kurikulum yang menggabungkan nilai nilai sosial spritual akan menghasilkan outcome karakter yang lebih baik dibandingkan kurikulum yang hanya fokus pada aspek kognitif. Selain guru, peran orang tua dan lingkungan sekolah sangat penting dalam memperkuat pendidikan agama Islam sebagai upaya pencegahan Orang tua diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai agama di rumah dan mendukung proses pendidikan di sekolah. Lingkungan sekolah yang religius dan kondusif juga mendukung terbentuknya karakter positif Misalnya, mengadakan kegiatan pembinaan akhlak, dan program anti-bullying yang berbasiskan nilai-nilai Islam, maka siswa dapat merasakan manfaat langsung dari pendidikan agama dalam kehidupan sosial mereka. (Ardyanti et al. , 2. Selain guru, peran orang tua dan lingkungan sekolah sangat penting dalam memperkuat pendidikan agama Islam sebagai upaya membentuk karakter siswa yang baik dan mencegah perilaku negatif seperti bullying. Orang tua merupakan pendidik pertama dan utama yang bertanggung jawab nilai-nilai Dengan 732 | Ahsani Taqwim: Jurnal Pendidikan dan Keguruan Vol. 2 No. 3 Oktober 2025 https://ejournal. org/index. php/AhsaniTaqwim e-ISSN: 3a047-2563. p-ISSN: 3047-2571. Hal. memberikan teladan yang baik dan membangun komunikasi yang terbuka, orang tua dapat menjadi tempat curhat yang aman bagi anak serta lebih mudah mengenali tanda-tanda jika anak terlibat dalam bullying, baik sebagai pelaku maupun korban. Dukungan orang tua terhadap proses pendidikan agama di sekolah, misalnya dengan mengikuti kegiatan parenting yang diselenggarakan oleh guru PAI, akan memperkuat penanaman nilai-nilai Islam pada (Rosida, 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitihan dapat disimpulkan bahwah Pendidikan Agama Islam ( PAI ) memeliki peran signifikan dalam mencegah pembulian di kalangan siswa Al-Yusufiyah melalui nilai-nilai Akhlaq islami seperti kasih sayang, menghormati sesama, dan menjahui perilaku merendahkan orang lain. Pai mampu membentuk karakter yang beradab dan berimapati, guru pai tidak hanya menyampaikan materi, tetapi teladan dan pembingbing spritual siswa. Kegiatan keagamaan seperti sholat berjamaah,pengajian,serta aktivitas rohis/tabligh memperkuat interlisasi nilai nilai nilai islam yang mengarah pada terciptanya lingkungan sosial yang harmonis. Selain itu, sinergi antara sekolah, keluarga, dan lingkungan sosial dalam mendukung pendidikan keagamaan turut berkontribusi dalam menanamkan kesadaran moral siswa untuk menjauhi tindakan bullying. Dengan demikian. PAI tidak hanya menjadi sarana transper ilmu agama, tetapi juga istrumen penting dalam menciptakan iklim sekolah yang aman,religius, dan bebas dari kekerasan maupun bullying REFERENSI