JOHC. Vol 6No3. Desember 2025. ISSN: 2828-7509 Vol. 6 No. Journal of Health Care Efektivitas Frenkel Exercise dalam Penatalaksanaan Fisioterapi Pada Pasien Parkinson: Studi Kasus Wiji1. Nurma Auliya Hamidah2. Deny Setiawan3. Bayu Kurniawan4. 1 D3 Fisioterapi. Universitas Muhammadiyah Lamongan. Jawa Timur 2 D3 Fisioterapi. Universitas Muhammadiyah Lamongan. Jawa Timur 3 D3 Fisioterapi. Universitas Muhammadiyah Lamongan. Jawa Timur 4 D3 Fisioterapi. Universitas Muhammadiyah Lamongan. Jawa Timur Email: nurmaauliyahamidah@umla. Abstrak Parkinson merupakan penyakit degenerasi saraf yang mengenai saraf pusat yang terjadi secara perlahan dan bersifat progresif yang menyebabkan gangguan fungsi saraf untuk mengotrol gerakan, keseimbangan, dan pola jalan hal tersebut dapat terjadi karena hilangnya sel sel otak yang memproduksi dopamin, pada substantia nigra. Berdasarkan data dari WHO, insidensi penyakit parkinson di Asia menunjukkan terdapat 1. 5 sampai 8. 7 kasus per tahun dengan kisaran umur 60 sampai 69 tahun dan jarang ditemukan pada umur <50 tahun. berdasarkan data perhimpunan spesialis saraf indonesia angka penderita parkinson sudah mencapai 400. 000 orang. Fisioterapi sebagai pilihan treatment untuk parkinson berfokus pada koordinasi dan fungsi ekstremitas atas maupun bawah, keseimbangan dan kapasitas fisik serta aktivitas. Fisioterapis juga dapat menggunakan latihan kognitif dan strategi, termasuk berolahraga untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat kemandirian pasien dan kualitas hidup secara keseluruhan salah satunya dengan menggunakan Frenkle exercise. Hasil yang didapatkan setelah 6 kali didapatkan peningkatan LGS sebesar 5A, penurunan koordinasi bradykinesia T0=3 menjadi T6=2, berjalan, keseimbangan T0=3 menjadi T6=2 dan pengurangan disability T0=4 menjadi T6=3 menggunakan the parkinsonAos disease composite scale. Kesimpulan metode frenkle exercise efektif meningkatkan koordinasi, dapat meningkatkan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, dan koordinasi gerakan pada kasus parkinson. Kata Kunci: parkinson, frenkle exercise, fisioterapi, keseimbangan, koordinasi gerak, lingkup gerak sendi PENDAHULUAN Penyakit Parkinson (ParkinsonAos diseas. merupakan penyakit neurodegeneratif progresif pada sistem saraf pusat yang berkembang secara perlahan dan terutama memengaruhi kontrol gerakan, keseimbangan, postur, dan pola berjalan (Camargo et. Kondisi ini terjadi akibat degenerasi neuron dopaminergik pada substansia nigra pars compacta di ganglia basalis yang menyebabkan penurunan kadar dopamin . triatal dopamine deficienc. Kekurangan dopamin mengganggu jalur kontrol motorik antara substansia nigra dan neostriatum . lobus pallidus/striatu. Penyakit Parkinson ditandai oleh gejala motorik seperti bradikinesia, rigiditas, tremor, dan gangguan postural, serta juga disertai gejala non-motorik. Secara patologis ditemukan inklusi intraplasma berupa Lewy bodies. Proses neurodegeneratif tidak hanya terjadi di ganglia basalis, tetapi juga dapat melibatkan area lain seperti locus coeruleus, raphe nuclei, nukleus basalis meynert, hipotalamus, korteks serebri, nukleus motorik saraf kranial, serta sistem saraf otonom, dan kejadian penyakit ini meningkat seiring bertambah usia (Poewe et. , 2. Data WHO menyatakan terdapat sekitar 6,1 juta penderita Parkinson di seluruh dunia, meningkat 2,4 kali lipat dibandingkan tahun 1990 yang berjumlah 2,5 juta kasus (Golbe L. I, 2. Studi Global Burden of Disease 2021 menyatakan jumlah penderita penyakit Parkinson di dunia akan mencapai sekitar 25,2 juta orang pada tahun 2050, meningkat sekitar 112% dibandingkan tahun 2021. Prevalensi diperkirakan meningkat menjadi sekitar 267 per 100. 000 penduduk dengan kenaikan terbesar pada usia Ou80 tahun (Su et. , 2. Di Indonesia sendiri diperkirakan terdapat ratusan ribu penderita Parkinson, dengan estimasi sekitar 200. 000Ae400. 000 kasus. Fisioterapi sebagai pilihan treatment untuk parkinson berfokus pada koordinasi dan fungsi ekstremitas atas maupun bawah, keseimbangan dan kapasitas fisik dalam Fisioterapis juga dapat menggunakan latihan kognitif dan strategi, termasuk berolahraga untuk mempertahankan atau meningkatkan tingkat kemandirian pasien dan kualitas hidup secara keseluruhan (Yang et. , 2. Latihan berbasis kontrol gerak yang menekankan strategi motorik, kontrol postural, dan cueing sensorik memiliki pengaruh moderat hingga kuat dalam meningkatkan keseimbangan dan performa gait pada pasien Parkinson (Radder et. , 2. Frenkle exercise merupakan serangkaian latihan yang dikembangkan oleh Heinrich Sebastian frenkle untuk menangani gangguan koordinasi, keseimbangan dan mengarah ke fungsional. Latihan ini menekankan gerakan berulang yang dilakukan secara perlahan, terkontrol, dan bertahap dengan tingkat kesulitan yang meningkat dengan penuh konsentrasi (Vasiee et. , 2. Meskipun fisioterapi memiliki peran penting dalam penatalaksanaan pasien Parkinson, penggunaan latihan koordinasi terstruktur seperti Frenkle Exercise masih jarang dilaporkan secara spesifik dalam bentuk studi kasus klinis. Oleh karena itu, studi kasus ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas Frenkle Exercise dalam meningkatkan LGS, koordinasi dan fungsi gerak pada pasien Parkinson. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan intervensi fisioterapi yang dilaksanakan selama 6 kali pertemuan pada pasien wanita berusia 70 tahun, terdiagnosa ParkinsonAos disease dengan keluhan utama rasa gemetar pada kepala dan lengan kanan. Pengukuran LGS adalah Teknik dasar untuk menilai luas Gerakan sendi yang dilakukan secara aktif dan pasif sesuai gerak normal menggunakan goniometer (Sari et. , 2. ParkinsonAos Disease Composite Scale (PDCS) adalah skala penilaian sederhana dan cepat yang digunakan oleh ahli saraf dan tenaga kesehatan untuk menilai tingkat keparahan gejala Parkinson secara menyeluruh (Stocchi , 2. PDCS menggabungkan tiga domain utama . Gejala motorik: bradikinesia, tremor, gangguan berjalan, keseimbangan, akinesia, dan freezing. Gejala non-motorik: kelelahan, gangguan berkemih, gangguan kognitif, kecemasan, hipotensi ortostatik, dan . Komplikasi terapi: diskinesia, distonia, disregulasi dopamin, dan tingkat disabilitas (Balestrino et. , 2. HASIL dan PEMBAHASAN Berdasarkan hasil terapi sebanyak 6 kali pada pasien Parkinson dengan frankle exercise didapatkan hasil: Tabel 1. Hasil Nilai Lingkup Gerak Sendi Aktif (LGS) Pada Sisi Dekstra Bidang Gerak Shoulder Elbow Intervensi pertama (T. S ( 40A-0A-110A) F ( 120A-0A-35A) T ( 95A-0A-40A) R ( 70A-0A-75A) S ( 0A-0A-130A) R ( 75A-0A-60A) Intervensi terakhir (T. S ( 40A-0A-115A) F ( 125A-0A-35A) T ( 95A-0A-40A) R ( 70A-0A-75A) S ( 0A-0A-130A) R ( 75A-0A-60A) Wrist Hip Knee Ankle S ( 35A-0A-55A) S ( 30A-0A-125A) F ( 40A-0A-40A) R ( 30A-0A-30A) S . A-0A-150A) S ( 30A-0A-30A) S ( 35A-0A-55A) S ( 35A-0A-130A) F ( 40A-0A-40A) R ( 30A-0A-30A) S . A-0A-150A) S ( 30A-0A-30A) Dari hasil pemeriksaa evaluasi setelah dilakukan 6 kali terapi terdapat peningkatan lingkup gerak sendi shoulder fleksi T0= 110A menjadi T6= 115A, ekstensi. T0=40A menjadi T6=40A, abduksi. T0=120A menjadi T6= 125A, adduksi T0= 35A menjadi T6,=35A fleksi hip. T0= 125A menjadi T6=130A, sedangkan hasil lingkup gerak sendi pada regio lainnya tidak ada peningkatan. Tabel 2. Hasil penilaian koordinasi dengan menggunakan ParkinsonAos didease composite scale (PDCS) Bidang Gerak Intervensi pertama Intervensi terakhir (T. (T. Bradikinesia Berjalan Akinesia Kelelahan Berkemih Gangguan koognitif Kecemasan Ortostatistik hipotensi Halusinasi Diskinesia Dystonia Dopamin disregulasi Disability *Keterangan: 0 = gejala tidak ada. 1= ringan. 2 = sedang. 3 = berat. 4 = sangat parah Setelah 6 kali terapi, terjadi perbaikan pada beberapa parameter gejala motorik. Bradikinesia menurun dari skor T0=3 . elambatan sedang, amplitudo gerak keci. menjadi T6=2 . elambatan ringan dengan penurunan amplitud. Kemampuan berjalan membaik dari T0=3 . angguan berat, sering perlu bantua. menjadi T6=2 . erjalan dengan kesulitan ringanAesedang, sedikit/tanpa bantua. Keseimbangan meningkat dari T0=3 . atuh spontan pada uji tari. menjadi T6=2 . emerlukan bantuan, jatuh bila tidak Kekakuan berkurang dari T0=4 (Ou30 detik, selal. menjadi T6=3 . Ae30 detik, serin. Akinesia membaik dari T0=3 . ehilangan gerak bera. menjadi T6=2 . ehilangan gerak sedan. Disability menurun dari T0=3 . utuh bantuan beberapa ADL dasa. menjadi T6=2 . asih ada keterbatasan ADL). Gejala non-motorik tidak menunjukkan perubahan. Pada studi kasus ini pasien menggunakan metode frenkle exercise dengan teknik pasif movement, free aktive movement dan ressisted active movement. Free Active Movement merupakan sebuah gerak sadar manusia yang dipengaruhi oleh sistem saraf pusat dan perifer, neuromuskular junction dan serabut otot. Inisiasi gerakan akan diteuskan oleh serabut saraf hingga ke neuromuskular junction, sehingga menimbulkan gerakan yang di inginkan (Irfan et. , 2. Tubuh juga akan beradaptasi dengan penambahan kekuatan, terjadinya peningkatan kekuatan otot karena adaptasi neural selanjutnya akan terjadi adaptasi struktural. Proses adaptasi secara bertahap tersebut maka akan menyebabkan adanya peningkatan ukuran penompang otot, hipertrofi penambahan myofibril, dan perubahan serabut otot. Sehingga otot yang semula lemah akan mengalami peningkatan kekuatan otot (Tresnani et. , 2. Peningkatan keseimbangan dan koordinasi gerak mengalamai peningkatan dapat lihat dari penilaian menggunakan parkinsonAos disease composite scale, karena program ini terdiri seri latihan yang sudah terencanakan yang didesaingn untuk membantu mengkompensasi ketidakmampun dari lengan dan tungkai. untuk melakukan gerakan yang terkoordinasi, yaitu ketidakmampuan untuk meletaknan posisi dan mengatakan dimana posisi lengan dan tungkai jika bergerak tanpa pasien melihat gerakan (Bipul debnath 2. Frenkle dirancang untuk meningkatkan kontrol proprioseptif dan koordinasi gerak anggota gerak melalui gerakan yang berulang, tepat, dan terarah (Ishikawa. T 2. Studi pada lansia menunjukkan Frenkle memperbaiki koordinasi dan reaksi motorik yang berhubungan dengan kemampuan merespon cepat dan tepat terhadap stimulasi gerak (Chundakal et. , 2. Pada studi kasus ini telah sesuai dengah penelitian sebelumnya metode frenkle exercise berpengaruh terhadap peningkatan koordinasi lengan dan tungkai, kemampuan untuk melakukan gerakan dengan berbagai tingkat kesukaran dengan cepat dan efisien dan penuh ketepatan dan atau kemampuan menggabungkan sistem saraf gerak yang terpisah dengan merubahnya menjadi suatu pola gerak yang efisien, makin komplek suatu gerakan maka semakin tinggi tingkat koordinasinya. SIMPULAN Kesimpulan yang didapatkan setelah dilakukan terapi fisioterapi 6 kali dengan metode frenkle exercise pada pasien parkinson didapatkan adanya peningkatan lingkup gerak sendi pada sisi dekstra, peningkatan koordinasi gerak dan keseimbangan sehingga dapat meningkatkan aktivitas sehari-hari, akan tetapi tidak ada perubahan pada karakteristik nonmotorik. DAFTAR PUSTAKA