BESTARI: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan https://jurnalstkipmelawi. id/index. php/JBPK E-ISSN: 2746-8062 Pedagogical Experiences of Islamic Education (PAI) Teachers in Instilling Islamic Values among Students with Special Needs at MA Al-Whatoniyah Pusat. Klender. East Jakarta Shulu Khiyah*1. Yudril Basith2 1,2Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia Abstract The purpose of this study is to examine the strategies and challenges faced by Islamic Religious Education teachers in instilling Islamic values in children with special needs. This study employs a qualitative method using a grounded theory approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. Data analysis in this study was conducted through the grounded theory stages, which include open coding, axial coding, and selective coding. Data validity was ensured through triangulation of techniques and sources. The results of the study indicate that teachersAo pedagogical experiences are implemented through adaptive and inclusive strategies, such as storytelling and modeling, daily religious practices, personalized educational communication, peer tutoring, classroom management, and assessments tailored to studentsAo However, several challenges exist, including limited teacher training, diverse student characteristics, and constraints regarding time and supporting facilities. Keywords: Pedagogy, inclusive Education. Children with Special. PAI Submitted: 24 February 2026. Reviewed: 14 March 2026. Accepted: 14 April 2026 DOI: 10. 46368/bjpd. Pengalaman Pedagogis Guru PAI dalam Menanamkan Nilai-Nilai Keislaman pada Anak Berkebutuhan Khusus di MA AlWhatoniyah Pusat. Klender. Jakarta Timur Abstrak Tujuan penelitian ini untuk mengkaji strategi dan tantangan yang dihadapi guru Pendidikan Agama Islam dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan grounded theory. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tahapan grounded theory yang meliputi open coding, axial coding, dan selective Validitas data melalui triangulasi teknik dan sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman pedagogis guru diimplementasikan melalui strategi adaptif dan inklusif, seperti metode cerita dan keteladanan, pembiasaan keagamaan sehari-hari, komunikasi edukatif secara personal, tutor teman sebaya, pengelolaan kelas, serta evaluasi yang disesuaikan dengan kemampuan siswa. Namun, terdapat beberapa tantangan, antara lain keterbatasan pelatihan guru, keragaman karakteristik siswa, serta keterbatasan waktu dan fasilitas pendukung. Kata Kunci: Pedagogi. Pendidikan Inklusi. Anak Berkebutuhan Khusus. PAI Corresponding Author: Shulu Khiyah, shuluhiyahahmad@gmail. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia. Jakarta. Indonesia 184 |Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . Pedagogical Experiences of Islamic Education (PAI) Teachers in Instilling Islamic Values among Students with Special Needs at MA Al-Whatoniyah Pusat. Klender. East Jakarta PENDAHULUAN Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran penting dalam membentuk nilai moral, etika, dan karakter religius peserta didik. Pada anak berkebutuhan khusus (ABK), proses penanaman nilainilai keislaman seperti kejujuran, berbuat baik, kasih sayang, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari menjadi lebih kompleks karena adanya perbedaan karakteristik. Pendidikan Agama Islam dalam konteks anak berkebutuhan khusus di sekolah umum . endidikan inklusi. tentunya tidaklah mudah bagi seorang pendidik menghadapi tantangan dalam menerapkan nilai-nilai keislaman kepada anak berkebutuhan khusus yang belajar bersama siswa regular (Fadhli Ramadhan, 2. Hal ini juga terjadi di MA Al-Wathoniyah Pusat sebagai sekolah menengah berbasis keagamaan yang menyelenggarakan pendidikan bagi peserta didik dengan latar belakang dan kebutuhan yang beragam sebanyak 2 orang. Keberadaan anak berkebutuhan khusus ini menghadirkan tantangan baru bagi guru khususnya dalam Pendidikan Agama Islam yang menuntut pemahaman nilai-nilai Anak berkebutuhan khusus juga perlu ditanamkan nilai-nilai keislaman sebagaimana anak reguler pada umumnya, karena anak berkebutuhan khusus juga harus memahami dan mengetahui nilai-nilai Agama yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari (MaAorifah et al. Pada realitanya di sekolah umum guru PAI belum sepenuhnya dibekali kompetensi khusus dalam menangani anak berkebutuhan khusus, kondisi ini menuntut guru PAI untuk memiliki pengalaman pedagogis yang adaptif agar pembelajaran PAI dapat diterima dan diinternalisasi secara optimal oleh peserta didik baik reguler ataupun anak berkebutuhan khusus. Oleh sebab itu, pengalaman pedagogis guru PAI menjadi kunci keberhasilan penanaman nilai-nilai keislaman. Hikmah, . menegaskan bahwa guru PAI dituntut untuk memiliki kemampuan pedagogis yang adaptif dan inklusif serta strategi pengajaran inklusif seperti penyesuaian kurikulum dan kolaborasi dengan tenaga ahli pendidikan khusus, sebagai langkah penting dalam menjamin aksesibilitas pembelajaran PAI bagi siswa penyandang disabilitas. Pengalaman pedagogis guru PAI tercermin dalam penerapan berbagai strategi pembelajaran adaptif yang disesuaikan dengan karakteristik anak berkebutuhan khusus. Guru PAI menggunakan metode inovatif, seperti mendongeng dan simulasi, untuk membantu peserta didik memahami nilainilai Islam secara konkret dan relevan dengan kehidupan sehari-hari (Isneini, 2. Pendekatan tersebut menunjukkan pengalaman pedagogis guru PAI terus berkembang dengan mengupayakan penyampaian nilai keislaman yang kreatif dan kontekstual. Pengalaman pedagogis guru juga terlihat dalam kegiatan evaluasi dan pemberian umpan balik secara berkelanjutan, yang memungkinkan guru menyesuaikan metode pembelajaran serta memberikan dukungan yang lebih tepat sesuai kebutuhan masing-masing peserta didik (Maulida & Ilahiyah, 2. Selain itu, penerapan program pembelajaran individual dengan penggunaan bahasa yang sederhana serta variasi intonasi suara terbukti mampu meningkatkan keterlibatan dan pemahaman anak berkebutuhan khusus terhadap materi PAI (Saputri & Hasibah, 2. Di lingkungan sekolah umum dengan karakteristik yang beragam, kemampuan guru PAI dalam menyesuaikan strategi pembelajaran menjadi faktor utama keberhasilan proses pembelajaran inklusif. Penelitian Arif et al. , . menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran Pendidikan Agama Islam bagi anak berkebutuhan khusus sangat ditentukan oleh strategi pedagogis guru yang 185 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Shulu Khiyah & Yudril Basith bersifat adaptif, fleksibel, dan individual. Dengan menggunakan strategi yang sesuai kebutuhan anak berkebutuhan khusus penanaman nilai-nilai keagamaan lebih mudah diterima oleh anak berkebutuhan khusus dengan treatment yang berbeda dari peserta didik regular oleh guru PAI. Penelitian Fadhli Ramadhan, . menyatakan strategi guru PAI yang efektif meliputi perencanaan pembelajaran yang sistematis, penggunaan media dan metode yang disesuaikan dengan karakteristik peserta didik, pembiasaan ibadah, keteladanan guru, pendekatan individual, serta pemberian motivasi dan dukungan emosional yang berkelanjutan. Selain strategi pembelajaran, pengalaman pedagogis guru PAI juga ditunjukkan melalui kemampuannya membangun lingkungan pembelajaran yang kolaboratif. Keterlibatan orang tua dan teman sebaya dalam proses pembelajaran PAI berperan penting dalam menciptakan suasana yang mendukung dan memperkuat internalisasi nilai-nilai Islam pada anak berkebutuhan khusus (Isneini, 2024. Zahroo et al. , 2. Lingkungan yang mendukung dapat membantu peserta didik berkebutahan khusus merasa aman, diterima, dihargai, dan termotivasi dalam menjalani proses pembelajaran agama. Guru PAI berperan penting dalam pembelajaran Agama, tidak hanya sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan, fasilitator, mentor, dan motivator bagi peserta didik (Fazida & Prayogi. Guru PAI tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing spiritual dan teladan moral bagi anak berkebutuhan khusus. Sebagai pendidik guru PAI juga harus memberikan dukungan emosional serta bimbingan terhadap peserta didik berkebutuhan khusus dalam menghadapi permasalahan yang mereka alami selama proses pembelajaran nilai-nilai Islam (Maulida & Ilahiyah, 2024. Zahroo et al. , 2. Selain itu, penelitian yang dilakukan Al-Ghofir El-Muhtadi Rizal et al. , . menyatakan bahwa penerapan inklusivitas dalam Pendidikan Agama Islam tidak hanya meningkatkan aksesibilitas pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, tetapi juga berkontribusi pada pembentukan lingkungan pembelajaran yang adil dan humanis. Pendidikan Agama yang inklusif tidak hanya dapat mengembangkan nilai spiritual dan moral anak berkebutuhan khusus, akan tetapi juga terciptanya lingkungan sosial yang menghargai keberagaman, toleransi, dan keadilan. Meskipun demikian, pelaksanaan pembelajaran PAI bagi anak berkebutuhan khusus masih menghadapi berbagai kendala. Keterbatasan pelatihan khusus bagi guru serta keterbatasan waktu pembelajaran menjadi kendala dalam mengoptimalkan pembelajaran PAI bagi anak berkebutuhan Tantangan-tantangan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman pedagogis guru PAI tidak hanya dibentuk oleh praktik mengajar, tetapi juga dipengaruhi oleh kesiapan sistem pendidikan Berdasarkan uraian di atas, penelitian ini penting untuk dilakukan, karena penelitian yang menelaah pengalaman pedagogis guru PAI dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak berkebutuhan khusus di sekolah umum berbasis inklusif tergolong terbatas dibandingkan di sekolah khusus atau SLB. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi dan tantangan guru PAI dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak berkebutuhan khusus. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai praktik pembelajaran PAI yang adaptif dan inklusif, serta menjadi rujukan dalam pengembangan strategi pendidikan agama Islam yang adaptif, humanis di sekolah yang menerima peserta didik dengan kebutuhan 186 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . Pedagogical Experiences of Islamic Education (PAI) Teachers in Instilling Islamic Values among Students with Special Needs at MA Al-Whatoniyah Pusat. Klender. East Jakarta METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain grounded theory, yaitu pendekatan yang bertujuan untuk mengembangkan teori berdasarkan data empiris yang diperoleh di lapangan (Karuntu et al. , 2. Pendekatan ini dipilih untuk menggali secara mendalam pengalaman pedagogis guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada peserta didik berkebutuhan khusus, sekaligus merumuskan pola konseptual yang muncul dari praktik pembelajaran tersebut. Penelitian dilaksanakan di MA Al-Wathoniyah Pusat. Klender. Jakarta Timur. Pemilihan lokasi didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan adanya praktik pembelajaran inklusif, ditandai dengan keberadaan dua peserta didik berkebutuhan khusus kategori tunagrahita yang mengikuti pembelajaran di kelas reguler. Kondisi ini menjadi konteks empiris yang relevan untuk mengkaji pengalaman pedagogis guru dalam situasi pembelajaran yang inklusif. Subjek penelitian ini adalah empat orang guru PAI yang terdiri atas guru Fikih. Akidah Akhlak. Sejarah Kebudayaan Islam (SKI), dan Al-QurAoan Hadits. Keempat guru tersebut dipilih sebagai informan utama karena terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran dan penanaman nilainilai keislaman di kelas. Penentuan subjek menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan informan berdasarkan kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian (Bell et al. , 2. Kriteria tersebut meliputi status sebagai guru PAI aktif, pengalaman mengajar yang bervariasi, serta keterlibatan dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus. Secara pengalaman, guru AlQurAoan Hadits telah mengajar selama 25 tahun, guru Akidah Akhlak sekitar 20 tahun, guru Fikih selama 10 tahun, dan guru SKI selama 3 tahun. Selain itu, sebagian guru memiliki pengalaman tambahan seperti mengikuti pelatihan pembelajaran inklusi serta pengalaman mengajar peserta didik berkebutuhan khusus sejak tahun 2001. Tidak adanya guru pendamping khusus di madrasah ini menyebabkan seluruh guru PAI berperan langsung dalam menangani peserta didik berkebutuhan khusus di dalam kelas. Fokus penelitian ini adalah pengalaman pedagogis guru PAI dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada peserta didik berkebutuhan khusus, yang mencakup strategi pembelajaran, bentuk interaksi edukatif, serta kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara non-partisipan, di mana peneliti tidak terlibat secara langsung dalam kegiatan pembelajaran, melainkan mengamati proses pembelajaran dan aktivitas pembiasaan keagamaan secara sistematis (Utami et al. , 2. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur kepada keempat guru PAI dengan menggunakan pedoman wawancara yang disusun berdasarkan fokus Pedoman tersebut mencakup delapan pertanyaan utama yang dapat berkembang secara fleksibel sesuai dengan dinamika di lapangan. Sementara itu, dokumentasi digunakan untuk melengkapi data melalui pengumpulan dokumen seperti modul ajar, lembar kerja peserta didik, serta dokumen lain yang relevan dengan proses pembelajaran. Dalam penelitian ini, peneliti berperan sebagai instrumen utama . uman instrumen. yang secara langsung terlibat dalam proses pengumpulan dan analisis data. Untuk mendukung proses tersebut, digunakan instrumen tambahan berupa pedoman observasi, pedoman wawancara, dan format dokumentasi yang disusun berdasarkan fokus penelitian. 187 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Shulu Khiyah & Yudril Basith Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tahapan grounded theory yang meliputi open coding, axial coding, dan selective coding. Pada tahap open coding, peneliti melakukan proses identifikasi dan penguraian data secara rinci dengan cara membaca transkrip wawancara, catatan observasi, dan dokumentasi untuk menemukan konsep-konsep awal yang muncul dari data Setiap unit data diberi kode untuk merepresentasikan makna tertentu yang relevan dengan fokus penelitian. Selanjutnya, pada tahap axial coding, peneliti mengelompokkan kode-kode yang memiliki keterkaitan ke dalam kategori dan subkategori. Pada tahap ini dilakukan proses penghubungan antar kategori untuk menemukan pola hubungan, baik dalam bentuk sebab-akibat, konteks, maupun strategi yang digunakan oleh subjek penelitian. Tahap terakhir adalah selective coding, yaitu proses integrasi dan penyempurnaan kategorikategori yang telah terbentuk dengan cara mengidentifikasi tema inti . ore categor. yang menjadi pusat dari keseluruhan temuan penelitian. Tema inti tersebut kemudian digunakan untuk membangun konstruksi konseptual mengenai pengalaman pedagogis guru PAI dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada peserta didik berkebutuhan khusus (Sofwatillah et al. , 2. Keabsahan data diuji melalui teknik triangulasi yang meliputi triangulasi metode dan triangulasi Triangulasi metode dilakukan dengan membandingkan data hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi untuk melihat konsistensi informasi yang diperoleh. Sementara itu, triangulasi sumber dilakukan dengan membandingkan data dari berbagai informan guna memastikan kredibilitas data. Penerapan teknik ini bertujuan untuk meningkatkan validitas dan kepercayaan terhadap hasil penelitian (Susanto et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Tabel 1 Open Coding (Konsep Awa. Temuan Data Guru menerapkan metode cerita dan keteladanan Kegiatan pembiasaan ibadah Pendekatan individual dan bahasa sederhana Pendampingan teman sebaya Penataan tempat duduk dan interaksi sosial Soal khusus untuk ABK Guru belum mendapatkan pelatihan khusus Perbedaan karakter siswa ABK Waktu pembelajaran terbatas Kurangnya fasilitas dan tidak ada GPK 188 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . Open Code Metode konkret Pembiasaan Adaptasi komunikasi Tutor sebaya Manajemen kelas Diferensiasi evaluasi Kompetensi terbatas Variasi karakter Waktu terbatas Keterbatasan sistem Pedagogical Experiences of Islamic Education (PAI) Teachers in Instilling Islamic Values among Students with Special Needs at MA Al-Whatoniyah Pusat. Klender. East Jakarta Tabel 2 Axial Coding (Kategori dan Relas. Kategori Utama Strategi Adaptif Pedagogis Kondisi Inklusif Tantangan Internal Kompetensi terbatas Tantangan Eksternal Waktu terbatas, keterbatasan Pembelajaran Subkategori Metode konkret, pembiasaan, adaptasi komunikasi, tutor sebaya, manajemen kelas, diferensiasi evaluasi Variasi karakter siswa Relasi Bentuk strategi yang digunakan guru Konteks yang Hambatan dari aspek guru Hambatan dari aspek sistem Tabel 3 Selective Coding (Tema Inti / Core Categor. Core Category (Tema Int. Adaptasi Pedagogis Pembelajaran Inklusif Guru PAI Penjelasan Proses dinamis guru dalam menyesuaikan strategi pembelajaran dengan kondisi dan tantangan pembelajaran inklusif Hasil axial coding menunjukkan bahwa strategi adaptif pedagogis guru PAI tidak muncul secara spontan, melainkan sebagai respons terhadap kondisi pembelajaran inklusif yang ditandai dengan keragaman karakter peserta didik. Namun, implementasi strategi tersebut dipengaruhi oleh berbagai keterbatasan, baik internal maupun eksternal, yang membentuk dinamika pengalaman pedagogis guru. PEMBAHASAN Yayasan Pendidikan Islam Al-Wathoniyah Pusat Klender Jakarta Timur, telah menerima siswa berkebutuhan khusus sejak tahun 2001, pada awal penerimaan tersebut, madrasah memiliki satu peserta didik berkebutuhan khusus. Keberadaan peserta didik tersebut menjadi awal berkembangnya kebijakan penerimaan peserta didik berkebutuhan khusus pada tahun berikutnya. Penerimaan tersebut dilatar belakangi berbagai pertimbangan dan alasan dari orang tua yang mempercayakan pendidikan anaknya kepada madrasah. Dalam perspektif psikologi pendidikan islam, orang tua dan guru memiliki tanggung jawab moral untuk menerima, membimbing dan memfasilitasi anak berkebutuhan khusus sebagai bagian dari kehendak Allah, serta memastikan mendapatkan perilaku yang adil dan kesempatan berkembang secara optimal (Siagian et al. , 2. Hal ini sesuai dengan kebijakan pemerintah yaitu setiap sekolah tidak diperkenankan untuk menolak siswa dengan latar belakang tertentu. Peraturan pendidikan inklusi di Indonesia menetapkan peraturan penerimaan anak berkebutuhan khusus ke sekolah umum bertujuan untuk memberikan kesempatan pendidikan yang adil pada seluruh masyarakat dengan berbagai latar belakang. Sesuai dengan peraturan UU No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif yang menyatakan hak atas pendidikan bagi anakanak penyandang disabilitas. Seluruh masyarakat berhak mendapatkan pendidikan setara di 189 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Shulu Khiyah & Yudril Basith sekolah-sekolah umum begitu juga bagi masyarakat yang memiliki kebutuhan khusus (Rizki et al. PP No. 13 Tahun 2020 tentang Akomodasi yang layak bagi peserta didik penyandang disabilitas menegaskan bahwa setiap peserta didik termasuk anak berkebutuhan khusus memiliki hak untuk memperoleh layanan pendidikan yang setara tanpa diskriminasi. Pelaksanaan pendidikan inklusi memberikan kesempatan bagi seluruh anak penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan, kecerdasan dan bakat khusus untuk dapat mengikuti pendidikan di lingkungan bersama siswa reguler (Novrizal & Manaf, 2. Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan guru Fikih. Akidah Akhlak. SKI, dan Al-QurAoan Hadist di MA Al-Wathoniyah Pusat menunjukkan bahwa guru PAI menggunakan berbagai strategi dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak berkebutuhan khusus, di samping itu guru juga mengalami beberapa tantangan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak berkebutuhan Adapun penjelasan lebih lanjut mengenai strategi dan tantangan di atas adalah sebagai Strategi Guru PAI dalam Menanamkan Nilai-nilai Keislaman pada anak berkebutuhan Khusus Metode Pembelajaran Berdasarkan observasi menunjukkan bahwa guru PAI menggunakan metode cerita dan keteladanan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman terhadap anak berkebutuhan khusus. Penggunaan metode cerita dan keteladanan di nilai efektif untuk menanamkan nilai-nilai keislaman pada anak berkebutuhan khusus, karena memudahkan siswa berkebutuhan khusus dalam memahami pesan moral dan nilai keislaman yang disampaikan oleh guru. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru SKI menyatakan bahwa siswa A dapat mengikuti instruksi dengan baik jika di berikan contoh secara langsung dan memahami maksud yang Selain itu, keteladanan, cerita dan kebiasaan positif, menjadi salah satu cara yang efektif untuk membentuk karakter berkualitas. Hal ini sesuia dengan pernyataan AuKami menjelaskan dengan cara yang sederhana dan langsung. Misalnya, kami mengatakan bahwa setelah ini akan melaksanakan shalat, lalu kami memberikan contoh secara langsung. Selain itu, kami juga memberikan penguatan perilaku, seperti mengingatkan agar membuang sampah pada tempatnyaAy (Wawancara Guru SKI). Pembentukan karakter keislaman dapat di tanamkan melalui cerita kisahkisah nabi dengan teknik bercerita yang menarik serta disesuaikan dengan kebutuhan siswa dapat menanamkan nilai-nilai keislaman pada siswa berkebutuhan khusus (Poku et al. , 2. Temuan penelitian ini sesusai dengan penelitian Isneini, . yang menyatakan bahwa pendampingan intensif, penggunaan metode adaptif seperti metode cerita dan keteladanan guru sangat penting dalam membangun pemahaman siswa berkebutuhan khusus mengenai nilai-nilai Islam karena bersifat komunikatif dan mudah dipahami. Kegiatan Pembiasaan Keagamaan Berdasarkan hasil observasi, kegiatan pembiasaan keagamaan di madrasah dilaksanakan secara rutin dan melibatkan seluruh peserta didik, termasuk peserta didik berkebutuhan khusus. Kegiatan tersebut meliputi membaca ratib, pelaksanaan salat dhuha, dan salat dzuhur berjamaah. Dalam pelaksanaannya, peserta didik berkebutuhan khusus mengikuti rangkaian kegiatan bersama peserta didik lainnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembiasaan keagamaan menjadi bagian dari praktik pembelajaran yang mendukung penanaman nilai-nilai keislaman, sejalan dengan karakter madrasah yang berbasis pesantren. Pembiasaan keagamaan yang ada disekolah ini dapat menjadi 190 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Pedagogical Experiences of Islamic Education (PAI) Teachers in Instilling Islamic Values among Students with Special Needs at MA Al-Whatoniyah Pusat. Klender. East Jakarta faktor pendukung yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai Islam agar siswa berkebutuhan khusus terbiasa dengan kegiatan keagamaan (Widiyawati, 2. Hal ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru SKI menyatakan Aumereka ( anak ABK ) tetap ikut, kaya sholat abis itu baca ratib karena memang sudah peraturan sekolah yang harus di ikuti, tapi kalo untuk kegiatanya dia bisa ngikutin apa yang kita lagi acara ituAy (Wawancara Guru SKI). Siswa berkebutuhan khusus mampu mengikuti kegiatan pembiasaan dengan tertib dan dapat mengikuti kegiatan dengan seksama meskipun belum sepenuhnya memahami bacaan dalam kegiatan ibadah. Berdasarkan hasil observasi kedua siswa berkebutuhan khusus dapat mengikuti gerakan dan alur kegiatan dengan baik meskipun terkadang menunjukkan perilaku spontan seperti Gerak-gerak, mengangkat tangan, berdiri. Lingkungan pendidikan berbasis Islam berperan penting dalam membentuk pengalaman belajar peserta didik berkebutuhan khusus. Pendidikan dengan prinsip Rahmah . asih sayan. , inklusivitas menjadi dasar menciptakan suasana yang mendukung perkembangan spiritual, emosional dan sosial peserta didik berkebutuhan khusus (Sangadah et al. Temuan ini sejalan dengan penelitian Fadhli Ramadhan, . menyatakan bahwa strategi guru PAI dalam membentuk karakter religius dilakukan secara terencana dan sistematis melalui keteladanan, pembiasaan ibadah dan penguatan nilai-nilai keislaman serta penciptaan lingkungan Pendekatan Personal Berdasarkan hasil observasi, peserta didik berkebutuhan khusus di MA Al-Wathoniyah Pusat yang menunjukkan karakteristik tunagrahita sedang . oderate mental retardatio. , seperti keterbatasan dalam memahami instruksi yang kompleks serta membutuhkan pengulangan dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, guru PAI terlihat melakukan pendekatan secara personal melalui interaksi langsung dengan peserta didik tersebut. Guru menggunakan bahasa yang sederhana, intonasi yang lembut, serta memberikan arahan secara bertahap. Selain itu, guru juga mendekati siswa saat memberikan penjelasan dan beberapa kali mengulang instruksi untuk memastikan pemahaman. Pola komunikasi yang dilakukan menunjukkan adanya upaya membangun interaksi yang lebih intensif dan terarah dalam mendukung keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam konteks pendidikan inklusi membangun komunikasi edukatif dengan peserta didik berkebutuhan khusus menjadi faktor penentu keberhasilan pembelajaran. Menurut Suryanti et al. penyesuaian strategi komunikasi adaptif sesuai kebutuhan individu, termasuk pada pendekatan komunikasi sederhana, personal, dan kontekstual, hal ini terbukti mampu meningkatkan keterlibatan dan pemahaman siswa berkebutuhan khusus. Pernyataan di atas sesuai dengan temuan penelitian dari hasil wawancara dengan guru AlQurAoan Hadits dan Fikih. SKI guru tersebut aktif bertanya mengenai kegiatan sehari-hari peserta didik seperti kebiasaan ibadah di luar rumah, sikap ketika menginginkan sesuatu, perilaku membantu orang tua. Hal tersebut sebagaimana diungkapkan Auseperti kemarin kan sudah liburan saya tanya kemarin pas lagi liburannya sholat atau tidak, dirumah suka marah-marah atau tidak dengan orang tua kalau ingin sesuatuAy (Wawancara Guru Fiki. Auberbicara kepada orang tua harus keras atau lembut, dia jawab lembut, sholat atau tidak. AusholatAy, tapi dia tidak mengerti bacaan sholat. Tapi dia itu ngerti sholatAy (Wawancara Guru SKI). Komunikasi personal tersebut menjadi strategi 191 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Shulu Khiyah & Yudril Basith edukatif bagi guru dalam menanamkan nilai-nilai Islam seperti nilai tanggung jawab, kesabaran, kejujuran dan kepedulian terhadap orang lain. Selain itu, guru menggunakan bahasa yang mudah dan jelas disertai dengan nada pelan dan Hal tersebut dikatakan lebih efektif untuk menanamkan nilai-nilai keislaman terhadap anak berkebutuhan khusus tunagrahita, karena dapat memberikan pemahaman lebih mudah. Penggunaan strategi tersebut penting dilakukan karena penggunaan bahasa yang kurang baik dapat memicu reaksi emosional pada anak berkebutuhan khusus serta menimbulkan rasa takut. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian (Arif et al. , 2. yang menyatakan penggunaan bahasa yang sederhana dapat diterima dan dipahami oleh peserta didik tunagrahita karena anak tunagrahita mengalami hambatan dalam perkembangan kognitif yang menghambat perkembangan Dalam penelitian ini disebutkan juga penggunaan suara yang lantang agar jelas dan dapat dipahami, namun bukan berarti cepat dan keras, melainkan penyampaian informasi harus tersampaikan dengan jelas. Pendekatan individual juga dilakukan guru dengan modifikasi alokasi waktu pembelajaran berdasarkan hasil wawancara dengan guru Akidah Akhlak yang menyatakan Ausaya biasanya mengalokasikan waktu 10 menit terakhir untuk memfokuskan pada anak berkebutuhan khusus dikelasAy (Wawancara Guru Akidah Akhla. Kutipan tersebut menunjukkan upaya pendekatan personal adaptif guru dengan mengalokasikan waktu khusus di menit-menit terakhir pembelajaran di fokuskan untuk pendampingan dan penguatan materi pada siswa berkebutuhan khusus. Selain itu terdapat guru yang menambahkan waktu belajar di luar jam pelajaran reguler. Di samping itu, menurut keterangan guru Al-QurAoan Hadits dilakukan Upaya menanamkan nilai kemandirian pada siswa berkebutuhan khusus. Upaya ini dilakukan bertahap menyesuaikan kemampuan siswa baik dalam pembelajaran maupun dalam kegiatan keseharian di sekolah. Menurut keterangan, guru Al-QurAoan Hadits melatih perlahan siswa berkebutuhan khusus untuk melakukan aktivitas secara mandiri dan juga berkoordinasi dengan orang tua siswa berkebutuhan khusus untuk melakukan pengawasan jarak jauh sebagai upaya kemandirian. Menurut MaAorifah et al. , . penekanan pembelajaran berbasis keterampilan, yang berfokus pada pengembangan keterampilan praktis yang relevan dengan kehidupan sehari-hari anak berkebutuhan khusus dapat membantu mempersiapkan kemandirian dan berfungsi optimal dalam Hal ini sesuai dengan pembiasaan siswa berkebutuhan khusus untuk bertanggung jawab terhadap kebutuhannya sendiri di lingkungan sekolah, seiring dengan proses pendampingan guru melihat perubahan positif pada anak berkebutuhan khusus yaitu meningkatnya kemampuan dalam beraktivitas secara mandiri, seperti memakai sepatu sendiri, mengambil jatah MBG sendiri, pergi ke kantin, bahkan pulang sekolah tanpa pendampingan secara langsung. Pendekatan Kelompok Pendekatan kelompok juga menjadi salah satu strategi yang dilakukan guru PAI dalam menanamkan nilai-nilai Islam pada siswa berkebutuhan khusus. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Fikih bentuk pendekatan kelompok yang dilakukan yaitu pendampingan teman sebaya baik dalam pembelajaran atau aktivitas sehari-hari di sekolah seperti membantu membaca, belajar. Salah satu pendekatan keterampilan sosial pada anak berkebutuhan khusus adalah dengan pendekatan intervensi melalui teman sebaya . eer mediated interventio. , pendekatan ini melatih teman sebaya untuk menjadi mediator bagi siswa berkebutuhan khusus dalam melatih 192 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Pedagogical Experiences of Islamic Education (PAI) Teachers in Instilling Islamic Values among Students with Special Needs at MA Al-Whatoniyah Pusat. Klender. East Jakarta keterampilan mendengar, meminta bantuan, mengucapkan terima kasih, dan berdiskusi (Marlina. Selain itu pendekatan kelompok dalam pembelajaran menurut Shifa et al. , . dapat dilakukan dengan pembelajaran kooperatif. Pendekatan ini mengajarkan anak untuk saling membantu, berbagi, dan menghargai pendapat orang lain. Hal ini berdampak pada peningkatan kepercayaan diri, dan kemampuan membentuk ikatan sosial. Melalui metode cooperative learning internalisasi nilai karakter membantu anak-anak secara tidak langsung mempraktekkan nilai-nilai ajaran Islam seperti solidaritas, empati, tanggung jawab, dan gotong royong. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru fikih peserta didik regular diarahkan untuk mengajak dan melibatkan siswa berkebutuhan khusus dalam kegiatan di luar pembelajaran seperti bermain bersama, dan memberikan contoh yang baik dalam keseharian. Hal ini menjadi upaya guru dalam meningkatkan interaksi sosial siswa dengan teman sebayanya Kusumadewi, . menyatakan terapi bermain kelompok . roup play therap. merupakan pendekatan yang berpusat pada anak . hild centere. berlandaskan prinsip kehangatan, penerimaan dan empati. Interaksi antar teman di dalam kelompok mendorong anak untuk mempertimbangkan perasaan orang lain dan bereaksi secara realistis terhadap lingkungan sosial. Bermain atau play therapy dengan pendekatan yang berpusat pada anak merupakan salah satu bentuk terapi secara ilmiah terbukti efektif membantu perkembangan emosi, komunikasi, dan interaksi sosial pada anak-anak dengan karakteristik autisme. Pengelolaan Kelas Menurut (Fazida et al. , 2. peran guru sebagai pengelola kelas sangat penting dalam menciptakan pembelajaran yang kondusif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Guru sebagai pengelola kelas harus mampu mengendalikan dan menangani seluruh kelas. Selain itu guru di tuntut untuk memiliki kompetensi dalam merancang rencana pembelajaran, memutuskan kegiatan pembelajaran, dan menciptakan suasana kelas yang nyaman dan aman untuk seluruh peserta didik. Kondisi tersebut sesuai hasil wawancara peneliti di MA Al-Wathoniyah Pusat dengan guru AlQurAoan Hadits yang menggunakan strategi pengelolaan kelas dalam proses pembelajaran inklusi. Ausetiap pelajaran saya siswa ABK ini biasanya saya wajibkan duduk di depan agar bisa saya perhatikan, saya juga membuat sitem rolling tempat duduk dengan siswa regular secara bergantianAy (Wawancara Guru Al-QurAoan Hadit. Berdasarkan hasil observasi siswa berkebutuhan khusus ditempatkan di bagian depan kelas berhadapan dengan bangku guru. Sedangkan sistem tempat duduk berdampingan antara siswa berkebutuhan khusus dengan siswa reguler, bergantian . itu dilakukan oleh peserta didik reguler secara bergiliran duduk berdampingan dengan peserta didik berkebutuhan khusus. Strategi ini menjadi salah satu faktor pendukung dalam menanamkan nilai-nilai Islam pada anak berkebutuhan khusus dan juga meningkatkan interaksi sosial dengan teman disekitarnya. Penggunaan strategi tersebut menunjukkan bahwa guru mengadaptasi strategi pembelajaran ke dalam bentuk konkret. Hal ini mengindikasikan bahwa pengalaman pedagogis guru berkembang melalui proses reflektif dalam menghadapi keterbatasan. Temuan tersebut sejalan dengan penelitian Ashabul Kahfi et al. , . yang menjelaskan mengenai strategi pengelolaan kelas meliputi penataan fisik ruang kelas agar aksesibel, penggunaan metode pembelajaran yang berdiferensiasi, pemberian dukungan individual melalui scaffolding, dan pelaksanaan evaluasi reflektif guru. Strategi pengelolaan kelas inklusi tersebut berlandaskan prinsip 193 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Shulu Khiyah & Yudril Basith utama yaitu terciptanya suasana belajar yang ramah, non diskriminatif, dan menumbuhkan rasa memiliki bagi siswa berkebutuhan khusus. Pada umumnya anak berkebutuhan khusus membutuhkan suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan. Kebutuhan tersebut sulit di penuhi jika anak berkebutuhan khusus merasa tidak dihargai, tidak diterima, bahkan di olok-olok. Hal tersebut mempengaruhi rasa percaya diri siswa berkebutuhan khusus. Kepercayaan diri dan rasa nyaman memberi motivasi yang kuat terhadap keberhasilan pembelajaran di kelas. Sejalan dengan hal tersebut, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengelolaan kelas di MA Al Wathoniyah Pusat bertujuan untuk mendorong interaksi sosial antara peserta didik reguler dan anak berkebutuhan khusus. Sistem rolling tersebut menciptakan kesempatan bagi siswa berkebutuhan khusus untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman sekelasnya. Kondisi tersebut dapat membantu peserta didik berkebutuhan khusus merasa diterima dan tidak dibeda-bedakan. Penempatan anak berkebutuhan khusus di bagian depan kelas berdampak positif terhadap proses pembelajaran. Peserta didik berkebutuhan khusus lebih percaya diri dan berani bertanya kepada guru Al-QurAoan Hadits. Hal ini menunjukkan bahwa dukungan lingkungan kelas yang suportif dan sikap teman yang baik, serta menerima dan tidak mendiskriminasi dapat mendukung keberhasilan pengelolaan kelas. Hubungan yang baik antara teman di kelas menciptakan suasana yang inklusi dan kondusif, sehingga siswa berkebutuhan khusus merasa nyaman dalam mengikuti pembelajaran. Diferensiasi Evaluasi Menurut Masseru & Ishartiwi, . menyatakan bahwa pembelajaran diferensiasi untuk anak berkebutuhan khusus melibatkan evaluasi yang disesuaikan dengan kemampuan individu, minat, dan gaya belajar, serta memastikan penilaian efektif di dukung dengan ruang kelas inklusif yang berkontribusi pada keberhasilan pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru Fikih. Akidah Akhlak. SKI, dan Al-QurAoan Hadist menerapkan diferensiasi evaluasi dalam pembelajaran bagi siswa berkebutuhan khusus. Bentuk diferensiasi dilaksanakan pada aspek instrumen soal ujian dan pengaturan pelaksanaan evaluasi. Guru PAI menyesuaikan tingkat kesulitan soal ujian sesuai kemampuan dan kebutuhan siswa berkebutuhan khusus, sehingga instrumen soal tidak disamakan dengan siswa reguler. Hal ini sesuai dengan pernyataan Ausoal soalnya, iya ada, beda karena kan mereka bacanya saja belum lancar ya, jadi misalkan SKI atau Fikih, kalau fikih soal besarnya tentang sholat, orang tua begitu, terus kalau SKI cerita-cerita nabi Muhammad, jadi bukan soal yang berat sama seperti yang lain di kelasnya begitu kakAy (Wawancara Guru SKI). Selain itu, pengaturan kelas untuk pelaksanaan ujian bagi siswa berkebutuhan khusus dilaksanakan di ruangan khusus, dengan tujuan menciptakan suasana yang lebih kondusif, aman dan nyaman untuk mendukung konsentrasi peserta didik berkebutuhan khusus selama ujian berlangsung. Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Karoso et al. , . mengenai evaluasi dan penilaian berbasis diferensiasi bahwa penyesuaian evaluasi pembelajaran dan penyesuaian materi sesuai dengan kemampuan siswa berkebutuhan khusus mendapatkan skor rata-rata 4,71%, menunjukkan guru berhasil menerapkan pendekatan diferensiasi dalam pembelajaran. Selain itu, diferensiasi evaluasi dan penilaian juga menumbuhkan rasa percaya diri dengan skor peningkatan sebesar 4,71%. Pendekatan diferensiasi ini memastikan tingkat kesiapan, minat dan gaya belajar masingmasing, sehingga proses evaluasi berjalan adil serta mendukung perkembangan psikologi dan akademik siswa berkebutuhan khusus. 194 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Pedagogical Experiences of Islamic Education (PAI) Teachers in Instilling Islamic Values among Students with Special Needs at MA Al-Whatoniyah Pusat. Klender. East Jakarta Dengan demikian temuan penelitian menunjukkan diferensiasi evaluasi merupakan bentuk perhatian pedagogis guru dalam menilai capaian pembelajaran peserta didik berkebutuhan khusus secara adil sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Tantangan Guru PAI dalam Menanamkan Nilai-nilai Keislaman pada Anak Berkebutuhan Khusus Kurangnya Pelatihan Guru Penerapan pendidikan agama Islam pada anak berkebutuhan khusus menghadapi berbagai tantangan terutama terkait sumber daya manusia dan kurangnya pelatihan khusus bagi guru. Tantangan tersebut menunjukkan bahwa peran guru sangat fundamental dalam menciptakan pembelajaran yang adaptif dan inklusi (Arif et al. , 2. Hal ini sejalan dengan hasil wawancara guru Fikih. Akidah Akhlak. SKI, dan Al-QurAoan Hadist dalam menghadapi tantangan menanamkan nilainilai keislaman pada anak berkebutuhan khusus yaitu keterbatasan pengetahuan dan pengalaman sebagai guru PAI di sekolah umum menjadi tantangan dalam mendidik siswa berkebutuhan khusus secara optimal. Kurangnya pelatihan guru terutama guru sekolah umum untuk mendidik siswa berkebutuhan khusus menuntut guru PAI untuk mengembangkan strategi pembelajaran agar lebih kreatif dan adaptif, serta dapat menyesuaikan metode, pendekatan dan cara menyampaikan materi agar dapat diterima dengan baik oleh siswa berkebutuhan khusus meskipun dengan keterbatasan pengalaman Oleh sebab itu pelatihan guru sangat penting diselenggarakan untuk menambah pengetahuan dan pengalaman guru dalam mendidik siswa terutama anak berkebutuhan khusus yang memerlukan penanganan lebih intensif. Menurut Kumar, . pelatihan guru dan program pengembangan profesional seperti lokakarya, pelatihan, kursus daring, komunitas pembelajaran daring merupakan komponen penting dalam meningkatkan efektivitas guru pendidikan khusus dan meningkatkan hasil belajar. Pelatihan kompetensi guru sangat penting terutama di era teknologi yang pesat ini serta perubahan kurikulum pendidikan menuntut guru untuk beradaptasi dengan cepat dan efektif. Pelatihan kompetensi guru berfungsi untuk meningkatkan keahlian pedagogis guru. Dalam konteks pendidikan inklusi guru perlu mampu memahami dan menanggapi kebutuhan emosional siswa serta menciptakan hubungan positif di dalam kelas. Pelatihan yang mencakup pengembangan keterampilan interpersonal membantu guru membangun iklim kelas yang kondusif untuk belajar sehingga siswa merasa didukung dan dihargai serta dapat berpartisipasi aktif dalam pembelajaran (Fitriawati, 2. Perbedaan Karakter Anak Berkebutuhan Khusus Anak berkebutuhan khusus memiliki ciri unik yang mempengaruhi cara belajar, berinteraksi dan berkembang, sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda dari anak yang berkembang secara normal. Anak berkebutuhan khusus memiliki kombinasi hambatan fisik, intelektual, emosional, sosial, dan komunikasi yang sangat beragam, setiap anak memiliki keunikan meskipun dalam kategori yang sama . utisme, tuna rungu, tuna netra. ADHD, tunagrahita dl. sebab itu perbedaan karakteristik pada anak berkebutuhan khusus memerlukan penanganan yang berbeda-beda hal ini menjadi tantangan bagi guru PAI di sekolah umum yang tentunya menghadapi berbagai karakter siswa baik dari peserta didik reguler dan juga anak berkebutuhan khusus (Irwana et al. , 2. 195 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Shulu Khiyah & Yudril Basith Berdasarkan hasil observasi peserta didik berkebutuhan khusus di MA Al-Wathoniyah Pusat memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan karakter antara dua peserta didik berkebutuhan khusus yang menjadi fokus pengamatan peneliti, terlihat di mana siswa berkebutuhan khusus (A) di kategorikan tunagrahita yang memiliki karakter relatif terbuka, percaya diri, mampu beradaptasi dengan lingkungan, serta dapat bersosialisasi dengan teman sebaya. Sedangkan siswa berkebutuhan khusus (B) memiliki karakter tertutup dan pemalu serta cenderung pasif sehingga butuh waktu sedikit lambat dalam beradaptasi dengan lingkungan. Hal tersebuut sebagaimana di ungkapkan guru Al-QurAoan Hadits Aukalau ABK dengan karakter yang pendiam lebih sulit karena tidak mau atau kadang malu untuk sekedar berbicara atau berinteraksi dengan temanAy (Wawancara Guru Al-QurAoan Hadit. Perbedaan karakter anak berkebutuhan khusus tersebut menjadi tantangan bagi guru PAI dalam menanamkan nilai-nilai Islam. Guru dituntut untuk dapat menyesuaikan strategi pembelajaran dengan karakter dan kebutuhan masing-masing siswa berkebutuhan khusus sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan efektif. Temuan ini memperkuat hasil penelitian (Fadhli Ramadhan, 2. yang menyatakan pelaksanaan pembelajaran PAI pada anak berkebutuhan khusus menghadapi tantangan lebih kompleks karena perbedaan karakteristik seperti keterbatasan intelektual, pendengaran, penglihatan, maupun gangguan komunikasi, kondisi tersebut menuntut guru PAI untuk mampu menyesuaikan strategi pembelajaran agar nilai-nilai keislaman dapat tersampaikan dan diterima dengan baik. Keterbatasan Waktu Keterbatasan waktu juga menjadi tantangan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman pada peserta didik berkebutuhan khusus di sekolah umum. Kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus dengan pendampingan dan penjelasan lebih intensif membutuhkan waktu lebih lama sedangkan waktu pembelajaran agama terbatas dalam jam pelajaran reguler. Guru sering kali memiliki waktu terbatas untuk memberikan pendampingan individual secara intensif dikarenakan harus memperhatikan siswa reguler lainnya, oleh karena itu pembelajaran terhadap anak berkebutuhan khusus kurang optimal (Isneini, 2. Keterbatasan waktu yang ada dirasa belum sepenuhnya mampu mengakomodasi kebutuhan belajar siswa berkebutuhan khusus di MA Al Wathoniyah Pusat, menimbang dari hasil analisis dokumen siswa berkebutuhan khusus merupakan kategori tunagrahita yang memiliki hambatan dalam fungsi intelektual dan kemampuan adaptif sehingga mengalami kesulitan dalam berpikir dan memahami informasi karena daya tangkapnya lambat. Anak berkebutuhan khusus membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai tujuan akademis dibanding anak normal, oleh sebab itu pendidik harus memahami kebutuhan siswa berkebutuhan khusus termasuk dalam Pendidikan Agama Islam yang harus disesuaikan dengan kemampuan peserta didik (Dian Rusydianti et al. Hal ini sejalan dengan penelitian Assabil, . yang menyatakan anak berkebutuhan khusus umumnya memiliki taraf belajar yang lambat dan kapasitas informasi yang sangat terbatas dibandingkan anak sebayanya hal ini menjadi tantangan bagi guru PAI dalam proses pembelajaran di kelas, di mana siswa reguler tentunya memiliki kecepatan pembelajaran relatif lebih cepat dari anak berkebutuhan khusus, kondisi ini memerlukan pendampingan lebih intensif yang memerlukan waktu lebih lama. 196 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . 2026 Pedagogical Experiences of Islamic Education (PAI) Teachers in Instilling Islamic Values among Students with Special Needs at MA Al-Whatoniyah Pusat. Klender. East Jakarta Menurut Isneini, . keterbatasan waktu guru harus di atasi dengan diferensiasi dan dukungan shadow teacher agar dapat mencapai tujuan dalam menanamkan nilai-nilai keislaman. Kurangnya Fasilitas Pendukung Keterbatasan fasilitas menjadi tantangan bagi guru di sekolah umum dalam menanamkan nilainilai Islam pada anak berkebutuhan khusus. Dikarenakan sekolah umum belum sepenuhnya di rancang untuk mendukung kebutuhan pendidikan siswa berkebutuhan khusus yang tentunya sangat berbeda dengan sekolah luar biasa (SLB) yang memang di khususkan untuk siswa berkebutuhan khsusus, dengan fasilitas yang mendukung dan juga sumber daya pendidik yang Guru berperan penting dalam menangani anak berkebutuhan khusus, terutama guru khusus yang berasal dari pendidikan luar biasa atau guru pendamping khusus yang memiliki kemampuan menangani anak berkebutuhan khusus. Kurangnya peran guru pendamping menjadi tantangan bagi guru di sekolah inklusi, kondisi tersebut menuntut guru untuk lebih kreatif dan adaptif dalam mendidik siswa berkebutuhan khusus agar berjalan efektif dengan keterbatasan fasilitas yang ada (Widiyawati, 2. Di samping itu, keterbatasan fasilitas juga menjadi tantangan bagi guru dalam memenuhi ekspektasi orang tua siswa berkebutuhan khusus dengan harapan anaknya mendapatkan layanan pendidikan yang optimal. AuNamanya orang tua menitipkan anaknya pasti punya ekspektasi agar anaknya lebih baik lagi ketika di titipkan di sekolah iniAy (Wawancara Guru Akidah Akhla. Kutipan tersebut menunjukkan bahwa guru di tuntut untuk lebih mengupayakan kondisi tersebut di tengah keterbatasan fasilitas yang tersedia, oleh sebab itu pengalaman pedagogis guru terus berkembang melalui proses reflektif dalam menghadapi keterbatasan Syukur et al. , . menyatakan penting untuk mengemukakan pemikiran dari teori pendidikan inklusif UNESCO yang menekankan pentingnya memberikan akses pendidikan yang setara bagi semua anak, yang di mana hal tersebut dapat diartikan bahwa fasilitas dan alat bantu pembelajaran harus sesuai dengan kebutuhan peserta didik terutama bagi anak berkebutuhan Keterbatasan buku ajar dan modul ajar adaptif yang sesuai dengan CP PAI dan karakteristik anak berkekbutuhan khusus menjadi tantangan di banyak sekolah inklusi. Tantangan ini berdampak pada ketidaktercapaian kompetensi spiritual siswa secara optimal (Dian Rusydianti et al. , 2. SIMPULAN Penelitian ini menunjukkan bahwa pengalaman pedagogis guru PAI MA Al-Wathoniyah Pusat di integrasikan melalui beberapa strategi pendidikan yang adaptif dan inklusif. yaitu metode cerita dalam pembelajaran, pembiasaan keagamaan, pendekatan personal, pendekatan kelompok, pengelolaan kelas, diferensiasi evaluasi. Selain itu tantangan yang dihadapi antara lain yaitu kurangnya pelatihan guru, perbedaan karakter anak berkebutuhan khusus, keterbatasan waktu, kurangnya fasilitas pendukung. 197 | Bestari: Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. Vol 7 . Shulu Khiyah & Yudril Basith DAFTAR PUSTAKA