Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Ke Ae 2 Jakarta, 23 November 2022 DOI http://dx. org/10. 36722/psn. [SN . Upaya Peningkatan Pengetahuan tentang Perilaku Seksual Berisiko dengan Kombinasi Focus Group Discussion dan Studi Kasus pada Kelompok Remaja Laki-Laki di Pondok Pesantren Fajar Cendekia Lukman Handoyo1*. Widya Naralia2. Diksi Hera Berliana3 Tegar Aco Ismail2. Fadhlurrohman Siroj2 Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang. Tangerang Selatan. Banten, 15417 Akademi Keperawatan PELNI. Jakarta Pusat. DKI Jakarta, 10610 Lembaga Swadaya Masyarakat Rufaidah Humanity Care. Tangerang. Banten, 15116 Email Penulis Korespodensi: lukmanhandoyo@wdh. Abstrak Perilaku seksual berisiko merupakan perilaku destruktif yang dapat mengganggu dan berdampak negatif pada sistem kesehatan remaja secara menyeluruh. Perilaku seksual berisiko cenderung lebih banyak diterapkan oleh laki-laki daripada perempuan. Guna mencegah hal tersebut, remaja laki-laki perlu meningkatkan pengetahuannya sebagai dasar dalam memproteksi diri dari perilaku seksual Di Pondok Pesantren Fajar Cendekia. Bekasi, sebagian besar remaja laki-lakinya memiliki tingkat pengetahuan tentang perilaku seksual berisiko yang rendah. Tujuan program ini adalah untuk memberikan pengetahuan pada kelompok remaja laki-laki di Pondok Pesantren Fajar Cendekia. Metode yang digunakan adalah kombinasi focus group discussion dengan studi kasus. Setelah kegiatan dilakukan, terjadi peningkatan rata-rata skor pengetahuan sebesar 14 poin. Hal ini memberikan makna bahwa metode kombinasi focus group discussion dengan studi kasus dapat berperan dalam meningkatkan pengetahuan remaja laki-laki tentang perilaku seksual berisiko. Diharapkan tenaga kesehatan yang memiliki peran khusus dan kuat sebagai edukator . eperti perawat komunita. dapat mempertimbangkan pendekatan gender ketika ingin memberikan paparan pengetahuan pada sasaran agar metode dan strateginya tepat dan sesuai. Kata kunci: Edukasi. Focus Group Discussion. Perilaku Seksual Berisiko. Remaja Laki-Laki. Studi Kasus PENDAHULUAN konten pornografi. Penelitian lain dari Alpiani et al. mengungkap fakta, yakni sebesar 1% remaja yang berasal dari beberapa SMA di Provinsi Jawa Barat memiliki persepsi yang negatif terhadap perilaku seks pranikah. Artinya, remaja tersebut tidak setuju untuk menghindari seks pranikah. Padahal, ketika diidentifikasi lebih lanjut ternyata 70. remaja dalam studi ini pernah mendapatkan penyuluhan tentang perilaku seks berisiko. Hal itu memberikan makna, bahwa pernah terpapar edukasi atau penyuluhan tidak selalu Kasus remaja yang berperilaku seksual berisiko di Indonesia saat ini semakin Kondisi mengkhawatirkan tersebut didukung dengan banyak studi yang menggambarkan ragam problematika remaja. Studi yang dilakukan oleh Maisya & Masitoh . menunjukkan, sebesar 94. 5% siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di wilayah DKI Jakarta dan Banten sudah pernah terpapar Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Ke Ae 2 Jakarta, 23 November 2022 berbanding lurus dengan sikap dan perilaku yang positif. Berdasarkan ilustrasi dari studi diperlukannya variasi strategi intervensi guna pengetahuan remaja serta mencegah dan mengendalikan perilaku seksual berisiko. Perilaku seksual berisiko dapat didefinisikan sebagai praktik seksual tidak sehat dan tidak aman yang menyebabkan penurunan status kesehatan (Senn, 2. Beberapa contoh praktik dari perilaku seksual berisiko pada remaja adalah berciuman, berhubungan seksual dengan atau tanpa pengaman, masturbasi, menonton konten pornografi, dan meraba area sensitif pasangan. Praktik perilaku seksual berisiko ini disebut oleh banyak riset lebih berpotensi diinisiasi remaja laki-laki (Hasanah et al. , 2020. Rahyani et al. , 2012. Suparmi & Isfandari, 2. Salah satu alasannya adalah karena adanya perbedaan dinamika norma sosial antara remaja laki-laki dengan perempuan (Suparmi & Isfandari, 2. Pengetahuan yang adekuat sangat dibutuhkan oleh remaja sebagai basis terbentuknya perilaku proteksi terhadap aktivitas seksual berisiko. Saat ini, intervensi khusus yang meningkatkan pengetahuan dan mencegah perilaku seksual berisiko pada kelompok remaja laki-laki di tatanan sekolah belum banyak dilakukan. Selain setting sekolah umum, tempat berkumpulnya kelompok remaja laki-laki adalah di setting pondok pesantren. Pondok pesantren merupakan unit pendidikan yang juga perlu penguatan pada aspek kesehatan Meski pondok pesantren memiliki struktur pembelajaran yang didominasi dengan agama, tetapi tidak berarti remaja di dalamnya pasti aman dari perilaku seksual berisiko. Bahkan, penelitian yang dilakukan oleh Masni . menyebutkan, tidak ada hubungan antara pemahaman agama dengan perilaku seksual berisiko pada santri. Pondok Pesantren Fajar Cendekia merupakan salah satu pondok pesantren yang berada di Bekasi. Jawa Barat. Pondok Pesantren ini memiliki jumlah santri laki-laki lebih sedikit daripada santri perempuan. Jumlah santri laki-laki secara keseluruhan adalah 26 orang, sedangkan jumlah santri perempuan adalah 33 orang. Rata-rata jumlah santri dalam setiap kelas, baik jenjang SMP maupun SMA adalah 10 orang. Survei awal dengan metode wawancara yang penulis lakukan pada Kamis, 6 Oktober 2022 dengan salah seorang pengurus pesantren menunjukkan bahwa selama ini kegiatan edukasi tentang kesehatan reproduksi masih hanya terbatas di dalam kelas . ntegrasi materi pelajaran biologi atau ilmu pengetahuan Belum pernah ada kegiatan edukasi kesehatan reproduksi, khususnya pada remaja laki-laki secara spesifik. Wawancara secara acak pada dua orang remaja laki-laki yang diambil dengan teknik accidental sampling di lokasi tersebut memberikan informasi: . Remaja Pertama (Kelas Vi SMP) dan Remaja Kedua (Kelas X SMA) belum mengetahui strategi mencegah perilaku seksual berisiko. Remaja Pertama dan Remaja Kedua menganggap wajar ketika laki-laki melakukan perilaku seksual berisiko karena menurutnya merupakan bagian dari perjalanan hidup. Hasil observasi juga menunjukkan belum tersedianya Pos Kesehatan Pesantren yang mendukung pelayanan kesehatan reproduksi bagi remaja. Metode focus group discussion (FGD) dengan studi kasus merupakan dua metode yang telah terbukti memberikan dampak positif bagi peningkatan pengetahuan seseorang, bahkan dapat menjadi fondasi dalam membentuk sikap dan perilaku yang lebih sehat (Elfi & Fitrianingsih, 2017. Harun, 2020. Rasumawati & Azriani, 2. Kedua metode tersebut cocok dengan karakteristik remaja yang ditunjukkan oleh kekritisan dalam Namun, kombinasi keduanya untuk diterapkan guna meningkatkan pengetahuan belum pernah dilakukan, khususnya dengan sasaran remaja laki-laki di Pondok Pesantren Fajar Cendekia. Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan, maka penulis memutuskan untuk melaksanakan pengabdian kepada masyarakat dengan judul AuUpaya Peningkatan Pengetahuan tentang Perilaku Seksual Berisiko dengan Kombinasi Focus Group Discussion dan Studi Kasus pada Kelompok Remaja Laki-Laki di Pondok Pesantren Fajar CendekiaAy. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan pengetahuan tentang perilaku seksual berisiko pada kelompok remaja laki-laki di Pondok Pesantren Fajar Cendekia. METODE Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan pada Minggu, 16 Oktober 2022 00 Ae 16. 30 WIB di Aula Pondok Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Ke Ae 2 Jakarta, 23 November 2022 Pesantren Fajar Cendekia. Bekasi. Jawa Barat. Indonesia. berisiko, maka akan dirahasiakan dari pihak yang tidak berkepentingan. Menyampaikan materi inti dengan metode brainstorming, ceramah, dan tanya jawab . engantar tentang perilaku seksual . Membentuk melakukan FGD dan studi kasus dengan bahan yang telah disediakan. Jumlah kelompok kecil adalah 3 yang dibentuk berdasarkan kelompok usia. Kelompok 1 berusia antara 11 sampai 14, kelompok 2 berusia antara 14 sampai 15, dan kelompok 3 berusia antara 15 hingga 18. Fasilitator berpencar ke masing-masing kelompok. Melakukan proses kombinasi FGD dan studi kasus dalam masing-masing kelompok Alat Bantu dan Media: Media yang digunakan dalam kegiatan ini adalah: . Slide presentasi yang diproyeksikan melalui LCD-Proyektor. Lembar kasus yang berisi berita tentang dampak dari perilaku seksual berisiko. Booklet yang berisi gambar dan teks rangkuman seluruh materi tentang perilaku seksual berisiko. Alat Tulis Kantor (ATK) sesuai kebutuhan seperti kertas kosong dan pulpen. Sedangkan alat bantunya adalah: . Microphone. Pengeras suara . Langkah Pelaksanaan Langkah-langkah yang dilakukan dalam kegiatan ini, yaitu: Sebelum Kegiatan Inti Sebelum Hari Pelaksanaan: Melakukan survei pendahuluan untuk menganalisis masalah yang terjadi. Melakukan perijinan kepada pihak Pondok Pesantren Fajar Cendekia. Menyiapkan media dan alat bantu yang diperlukan saat kegiatan inti. Melakukan pembagian tugas: pemateri utama, fasilitator, notulen, dan observer. Saat Hari Pelaksanaan: Melakukan pendataan/registrasi peserta yang hadir. Menyebar kuesioner pengetahuan tentang perilaku seksual berisiko . re-tes. Kuesioner terdiri dari 15 soal Multiple Choice Question. Sistem penilaian dari angka 0-100 . umlah benar dibagi 0. Dimensi yang ditanyakan dalam kuesioner yaitu: . pengertian pubertas. ciri-ciri . fakta tentang tanda pubertas. perubahan emosi remaja. kebersihan organ reproduksi. jenis perilaku seksual . pencegahan perilaku seksual dan . pencegahan kejahatan Gambar 1. Proses FGD dan Studi Kasus Kegiatan FGD Fasilitator menyampaikan dua topik utama untuk masing-masing remaja berbicara tentang pengalamannya: . pengalaman menyukai terhadap lawan jenis. pengalaman perilaku seksual berisiko lainnya: misal menonton pornografi atau Fasilitator mempersilahkan remaja untuk Pada sesi ini, terdapat remaja yang bercerita tentang pengalaman pernah masturbasi dan upayanya untuk menahan hasrat seksual. Ada pula remaja yang bercerita tentang rasa takjub dan tertariknya pada lawan jenis. Fasilitator menjamin kerahasiaan remaja. Jika remaja malu, maka Kegiatan Inti . Tim pengabdi memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan, dan menjelaskan bahwa pengalamannya tentang perilaku seksual Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Ke Ae 2 Jakarta, 23 November 2022 fasilitator mempersilahkan remaja untuk menuliskannya dalam selembar kertas tanpa Fasilitator meminta masing-masing remaja saling menanggapi pengalaman yang diceritakan atau dibacakan. Tanggapan dapat berupa solusi mengontrol perilaku seksual berisiko atau dampak yang dapat Salah seorang remaja menanggapi remaja lain yang bingung tentang mencegah kebiasaan masturbasi dengan mengatakan masturbasi adalah dengan memperbanyak menyibukkan diri dengan hobi. Remaja lainnya ada pula yang menanggapi dengan bercerita bahwa ketika banyak perilaku seksual berisiko yang dilakukannya maka akan membuat ketenangan jiwa menjadi Setelah itu. Fasilitator membagikan Lembar kasus kepada masing-masing remaja. Fasilitator menceritakan secara singkat tentang kasus yang tertera. Remaja diminta untuk berbicara secara Hal-hal yang harus ditanggapi: apa kira-kira akar masalah dari kasus yang disajikan? Bagaimana solusinya untuk mencegah perilaku dalam kasus tersebut? Apa dampak yang dapat terjadi dari kasus tersebut? Jika, anda sebagai teman dalam kasus tersebut, apa yang anda lakukan? Setiap tanggapan, fasilitator tidak langsung menjustifikasi benar atau salah, namun meminta remaja lain untuk memberikan Fasilitator memberikan pandangan dan simpulan setelah tidak ada lagi remaja yang menyampaikan pendapatnya. dan yang paling tua berusia 18 tahun. Rata-rata usia peserta adalah 14 tahun. Data lebih lengkap dapat dilihat pada Tabel 1. Rata-rata skor tingkat pengetahuan sebelum dilakukan kegiatan adalah 52. Kemudian, rataratanya meningkat 14 poin menjadi 66 setelah Data pengetahuan dapat dilihat pada Tabel 2 dan Gambar 2. Tabel 1. Usia peserta kegiatan Peserta Remaja 1 Remaja 2 Remaja 3 Remaja 4 Remaja 5 Remaja 6 Remaja 7 Remaja 8 Remaja 9 Remaja 10 Remaja 11 Remaja 12 Remaja 13 Remaja 14 Remaja 15 Remaja 16 Remaja 17 Remaja 18 Usia . Min. Max Rata-Rata Tabel 2. Tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan . Variabel Pengetahuan (Pre-Tes. Pengetahuan Sesudah (Post-Tes. Min. Max. RataRata Perbedaan Stelah Kegiatan Inti . Menyebar kuesioner pengetahuan tentang perilaku seksual berisiko . ost-tes. yang sama seperti pre-test. Melakukan evaluasi kualitatif dengan metode wawancara. Pre-Test Post-Test Gambar 2. Grafik peningkatan pengetahuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengabdian menunjukkan bahwa kelompok remaja laki-laki di Pondok Pesantren Fajar Cendekia setelah dilaksanakan kegiatan Jumlah peserta dalam kegiatan ini sebesar 18 remaja laki-laki yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menangah Atas. Usia termuda adalah 11 tahun Prosiding Seminar Nasional Pemberdayaan Masyarakat Ke Ae 2 Jakarta, 23 November 2022 kombinasi focus group discussion dan studi Hasil tersebut sejalan dengan studi Riaty et al. yang mengungkapkan bahwa metode yang menggunakan kasus sebagai bahan diskusi terbukti dapat meningkatkan skor dibandingkan dengan metode ceramah klasikal. Studi lain dari Harun . menjabarkan, metode focus group discussion juga berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan Metode studi kasus merupakan metode yang memicu daya nalar dan proses berpikir kritis. Melalui metode studi kasus, seseorang dapat mengintegrasikan kumpulan pengetahuan yang dimilikinya guna menyelesaikan satu masalah (Mahdi et al. , 2. Pada konteks kegiatan pengabdian ini, sebelum masuk ke sesi kombinasi focus group discussion-studi kasus, remaja telah mendapat pengetahuan dasar tentang perilaku seksual berisiko dengan metode brainstorming-ceramah-tanya jawab. Berbekal dari pengetahuan dasar tersebut, saat masuk sesi kombinasi, remaja distimulasi untuk mengingat dan mencoba menerapkan ilmu yang baru didapatnya dan kemudian memikirkan solusi dari kasus yang disajikan. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dapat terjadi. Studi kasus juga tidak berdiri sendiri. Metode focus group discussion turut mendukung dan saling melengkapi dengan studi kasus dalam pengabdian ini. Focus group discussion memungkinkan seseorang untuk dapat melengkapi pengetahuan orang lain dalam satu kelompok ketika sedang membahas satu kasus atau topik tertentu (Waluyati, 2. Pada pengabdian ini, saat satu remaja sedang berbicara tentang sudut pandangnya mengenai kasus atau pengalamannya mengenai perilaku seksual berisiko, maka remaja lainnya dapat turut memberikan saran atau masukan. Dampaknya, pengetahuan remaja menjadi semakin adekuat. Jika melihat dari perspektif gender, menurut Hammerslag & Gulley . , ada perbedaan perkembangan sistem kortikolimbik pada otak remaja perempuan dengan laki-laki yang membuat remaja laki-laki lebih gemar pada aktivitas yang berisiko atau penuh tantangan. Selain itu, remaja laki-laki yang sedang pubertas dan kemudian hormon testosteronnya sedang bergejolak membuat mereka cenderung suka berargumen gagasan atau konsep (Amin. Berdasarkan mengindikasikan bahwa untuk meningkatkan pengetahuannya, remaja laki-laki memang perlu adanya hal-hal yang menantang dan cukup kompleks, salah satunya adalah melalui metode kombinasi focus group discussion dan studi kasus. SIMPULAN DAN SARAN Metode kombinasi focus group discussion dan studi kasus dapat meningkatkan pengetahuan tentang perilaku seksual berisiko pada remaja laki-laki. Program pengabdian ini meningkatkan pengetahuan ke deviasi yang lebih baik atau positif, maka tenaga kesehatan perlu mempertimbangkan adanya pendekatan gender dan kompleksitas suatu metode. Dengan pendekatan gender yang dilakukan, diharapkan tenaga kesehatan yang berperan sebagai edukator dapat menyesuaikan strategi, metode, dan konten yang diberikan pada sasaran sehingga tujuan dapat tercapai dengan optimal. Disarankan bagi pengelola yayasan/pesantren agar dapat melakukan permintaan secara berkala kepada pihak Puskesmas setempat untuk dikirimkan tenaga kesehatan yang dapat memberikan layanan kesehatan reproduksi bagi Selain itu, pihak pesantren juga perlu membentuk kader kesehatan reproduksi remaja, baik bagi laki-laki maupun perempuan agar pengetahuan dapat dipertahankan dan seruan UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih ditujukan kepada Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN yang telah memberikan pendanaan dalam program pengabdian ini serta tidak lupa pihak Rufaidah Humanity Care (RHC) yang juga telah memfasilitasi segala aspek teknis saat sebelum dan selama kegiatan dilaksanakan. DAFTAR PUSTAKA