Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, pp. 191Ae200 Rasionalitas Praktik Arisan Uang Ibu PKK di Kampung Jedong. Kecamatan Tambaksari. Surabaya Yoppy Ilham Ramadhan1. Refty Handini Listyani2 Program Studi Sosiologi. Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Negeri Surabaya 20034@mhs. Abstract The purpose of this study is to identify the motives of PKK mothers in Jedong Village. Tambaksari Subdistrict participating in the practice of arisan money. Therefore, this research uses the perspective of Max Weber's social action theory. It aims to provide an explanation of the subjective meaning of the arisan practice from the perspective of those who participate in the activity. Then, it reveals their reasons or motives for continuing to participate and preserve it. The results found that there are three forms of rationality of PKK mothers in Jedong Village. Tambaksari Subdistrict following the practice of arisan First, value-oriented rationality, namely as a means of increasing social solidarity and providing assistance for underprivileged members. Second, traditional rationality, which follows the activity as a form of adjusting to the habits of the people in the neighborhood. Third, instrumental rationality, which assesses the practice of arisan as a means to increase income. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi motif ibu-ibu PKK di Kampung Jedong. Kecamatan Tambaksari berpartisipasi dalam praktik arisan uang. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan perspektif teori tindakan sosial Max Weber. Hal ini bertujuan untuk memberikan eksplanasi mengenai makna subjektif tentang praktik arisan dalam sudut pandang pihak yang ikut serta dalam kegiatan tersebut. Kemudian, mengungkapkan alasan atau motif mereka senantiasa turut berpartisipasi dan melestarikannya. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat tiga bentuk rasionalitas ibu PKK di Kampung Jedong. Kecamatan Tambaksari mengikuti praktik arisan uang. Pertama, rasionalitas berorientasi nilai, yakni sarana meningkatkan solidaritas sosial dan memberikan bantuan bagi anggota yang kurang mampu sebagai nilai gotong royong dan kekeluargaan. Kedua, rasionalitas tradisional, yakni mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat di lingkungan tersebut. Ketiga, rasionalitas instumental, yakni menilai praktik arisan sebagai sarana untuk menambah pendapatan. Keyword: rasionalitas, praktik arisan. PKK Pendahuluan Arisan adalah salah satu budaya tradisional masyarakat pedesaan di Indonesia. Selain itu, perkotaan-perkotaan di Indonesia yang memiliki wilayah perkampungan masih mempraktikkan hal Praktik arisan dilakukan oleh komunitas perempuan, khususnya dari kalangan ibu-ibu. Jika merujuk pada KBBI, arisan adalah kegiatan mengumpulkan uang atau barang yang bernilai sama oleh beberapa orang kemudian diundi di antara mereka untuk menentukan siapa yang Pertemuan tersebut dilakukan sesuai dengan jadwal rutin yang telah ditetapkan dan tiap kelompok masyarakat memiliki sistem pengundian yang beragam. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, pp. 191Ae200 Selain itu, terdapat perbedaan mengenai objek yang dipertukarkan dalam praktik arisan. Berkaitan dengan itu, praktik arisan dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu arisan uang, logam mulia, dan barang. Arisan uang adalah sistem arisan yang objek penyetorannya menggunakan uang. Kemudian, arisan logam mulia adalah sistem arisan yang objek penyetorannya juga menggunakan uang seperti arisan uang, tetapi perbedaannya terletak pada penggunaan uang tersebut. Fungsi uang dalam praktik arisan logam mulia berguna untuk membeli emas, perak, ataupun perunggu bagi Terakhir, arisan barang adalah sistem arisan yang objek penyetorannya berupa barang yang digunakan untuk mengadakan acara tertentu. Barang yang dimaksud berupa sembako, minyak goreng, dan kebutuhan lain dari acara yang akan diadakan. Umumnya, pelaksana praktik arisan adalah kelompok ibu rumah tangga yang masuk dalam keanggotaan organisasi Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PPK). Fungsi ibu-ibu PKK tidak hanya untuk mengadakan acara bagi komunitas ibu-ibu, tetapi juga terjun di bidang pendidikan dan Misalnya, mereka mengorganisir kegiatan pembelajaran PAUD bagi anak-anak dan ikut serta dalam pelayanan posyandu. Selain itu, organisasi PKK juga berperan dalam mengadakan pengajian, sosialisasi KB, dan pelatihan UMKM bagi-ibu rumah tangga. Pelaksanaan kegiatan arisan memiliki sisi keuntungan maupun kerugian. Dari sisi keuntungan, arisan dapat menjadi sarana para ibu untuk bersosialisasi yang bisa menjaga kerukunan, sarana untuk saling membantu jika ada anggotanya yang sedang mengalami kesusahan, misalnya memberikan sedekah berupa sembako bagi anggota yang salah satu keluarganya meninggal, lalu arisan juga membuat para ibu rajin menabung sesuai dengan komitmen awal mengikuti kegiatan tersebut, dan dapat dijadikan sumber pinjaman tanpa bunga. Dengan demikian, praktik arisan sebagai tradisi mengandung nilai-nilai sosial yang bermanfaat sebagai perekat solidaritas sosial. Tidak hanya itu, tergantung dari sistem dan tujuannya, hal tersebut juga dapat menjadi sarana aktualisasi diri kepada masyarakat ataupun bantuan bagi orang yang Sehingga, praktik arisan pun dianggap memiliki fungsi untuk meningkatkan nilai diri, baik secara sosial maupun ekonomi. Walaupun demikian, praktik arisan juga dapat menyebabkan kerugian karena seringkali praktik tersebut tidak disertai payung hukum yang jelas. Akibatnya, ketika ada anggota yang mendapatkan pinjaman ataupun bagian membawa kabur uang yang ia bawa sulit untuk dipidanakan, terkadang bisa menjadi sarana pemborosan jika uang yang terkumpul digunakan untuk befoya-foya bagi para Bahkan, praktik arisan juga dapat menjadi sarana penipuan. Dalam hal ini, ibu-ibu PKK di Kampung Jedong. Kecamatan Tambaksari mengadakan praktik arisan uang secara rutin tiap 1 bulan sekali. Pada kegiatan tersebut pihak pengurus mengawalinya dengan mengajukan penawaran jumlah biaya iuran yang ditangguhkan kepada anggota organisasi. Dengan demikian, pada jumlah iuran praktik arisan tiap bulannya berbeda-beda tergantung pada hasil putusan musyarawah. Kemudian, pihak pengurus mengundi dan menyebutkan nama pihakpihak yang mendapatkan uang dari hasil iuran pada kegiatan tersebut. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, pp. 191Ae200 Berkaitan dengan itu, penelitian ini berusaha mengidentifikasi motif ibu-ibu PKK di Kampung Jedong. Kecamatan Tambaksari menggunakan perspektif teori tindakan sosial Max Weber. Hal ini bertujuan untuk memberikan eksplanasi mengenai makna subjektif tentang praktik arisan dalam sudut pandang pihak yang ikut serta dalam kegiatan tersebut. Kemudian, mengungkapkan alasan atau motif mereka senantiasa turut berpartisipasi dan melestarikannya. Kajian Pustaka 1 Penelitian Terdahulu Penelitian oleh Intan . dengan judul AuPeran Arisan dan Simpan Pinjam PKK bagi Ekonomi Rumah di Kauman Kidul SalatigaAy dengan hasil bahwa arisan bermanfaat bagi masyarakat karena pengalokasian dana dari kegiatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rekreasi dan pendidikan anak usia dini. Kemudian, penentuan pihak yang mendapatkan arisan dilakukan dengan cara undian. Walaupun demikian, praktik arisan tersebut juga memiliki fungsi jaminan sosial, yakni sebagai bentuk keaktifan warga memberi bantuan sosial bagi pihak yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Kemudian, penelitian serupa juga dilakukan oleh Wati . dengan judul AuModal Dalam Praktik Arisan SosialitaAy yang mengomparasikan praktik arisan kelompok sosialita di Kota Malang dan Jakarta. Penelitian tersebut menemukan bahwa praktik arisan kelompok sosialita di Kota Malang cenderung menggunakan modal budaya dan sosial sebagai modal utama. Pasalnya, kelompok sosial di kota tersebut dalam rangka gotong royong. Sementara itu, kelompok sosialita di Kota Jakarta cenderung menggunakan modal ekonomi dan simbolik untuk menentukan individu yang lebih Hal tersebut karena kelompok arisan tersebut menjadi arena pertarungan kepemilikan barang branded dan selera fashion. Berkaitan dengan itu, penelitian lain oleh Abdullah. dengan judul AuArisan Sebagai Gaya Hidup (Sebuah Kritik Terhadap Masyarakat Konsumtif Perkotaa. Ay menjelaskan kritikan terhadap budaya konsumtif masyarakat perkotaan dalam praktik arisan di Ciputat. Tangerang Selatan. Penelitian tersebut menjabarkan bahwa dalam praktik arisan terdapat pola-pola konsumsi tertentu yang dibentuk oleh ketua arisan. Hal tersebut melahirkan kompetisi antaranggota untuk menentukan tingkat kehormatan dalam identitas diri mereka di kelompok arisan. Sementara itu, penelitian dari Ma'rifah dkk. dengan judul AuPeran Arisan Ibu PKK dalam Mempererat Tali Persaudaraan dan Kolaborasi Komunitas di Desa Bangah Kabupaten Sidoarjo. Ay Memberikan hasil temuan bahwa praktik arisan berfungsi untuk mempererat tali persaudaraan Melalui praktik tersebut, ibu-ibu PKK di Desa Bangah menjadika kegiatan rutin arisan sebagai wadah mempererat hubungan antar ibu rumah tangga dan kerja sama seperti mengadakan program bantuan sosial. Selain itu, mereka melaksanakan praktik arisan dalam rangka melestarikan tradisi dan mewujudkan pemberdayaan sosial. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, pp. 191Ae200 Terdapat beberapa antara penelitian terdahulu dengan penelitian yang akan dilakukan, yakni kajian ilmiah terhadap praktik arisan yang dilakukan ibu-ibu PKK atau ibu rumah tangga. Selain itu, penelitian terdahulu lebih menekankan pada dampak atau manfaat dari praktik arisan daripada motif subjektif individu yang mengikuti kegiatan tersebut. Dengan demikian, belum ditemukan penelitian yang menganalisis fenomena tersebut menggunakan pisau analisis teori tindakan sosial Max Weber. 2 Teori Tindakan Sosial Max Weber Tindakan sosial merupakan teori yang digagas oleh sosiolog Jerman bernama Max Weber. Weber . alam Sunarto, 2. berpendapat bahwa sosiologi bertujuan untuk memahami (Verstehe. alasan tindakan sosial memiliki tujuan dan akibat tertentu, serta menjelaskan makna subjektif yang berbeda bagi pelakunya terhadap setiap tindakan tersebut (Sunarto, 2. Tindakan sosial adalah suatu tindakan individu yang mempunyai arti atau makna subjektif bagi dirinya sendiri sebagai pelaku dan diarahkan atau dikaitkan dengan orang lain (Damsar, 2. Dengan demikian. Weber menekankan perhatiannya teorinya tentang tindakan sosial dengan berorientasi pada tujuan dan motivasi pelaku (Jones dkk. , 2. Berkaitan dengan itu, suatu tindakan tidak semuanya termasuk dalam kateori tindakan sosial. Sebab, hanya tindakan yang mempertimbangkan dan berorientasi pada perilaku orang lain yang disebut tindakan sosial (Sunarto, 2. Misalnya, tindakan seseorang menyanyi untuk menghibur diri sendiri dan berolahraga untuk menyehatkan tubuh. Namun, jika tindakan menyanyi tersebut diarahkan ke orang lain, di mana ia bernyanyi untuk menghibur orang lain dan berolahraga agar pacarnya terkesan atas fisik yang ia miliki, maka tindakan tersebut merupakan tindakan sosial. Setiap tindakan sosial tidak harus memiliki dimensi rasional, tetapi juga terdapat hal yang sifatnya nonrasional, termasuk dalam tindakannya pada berbagai aspek kehidupan (Damsar, 2. Dalam teori ini. Weber membagi tindakan sosial menjadi empat tipe antara lain, tindakan rasional instrumental yang dilakukan dengan mempertimbangkan dan memilih tindakan yang dilakukan sebagai alat atau cara dalam meraih tujuan yang ada (Damsar, 2. Dalam mencapai tujuannya, individu sebagai aktor atau pelaku tidak harus menilai cara yang dilakukannya benar sesuai nilai dan norma (Ritzer, 2. Hal tersebut karena tindakan rasional instrumental mencerminkan sisi efektivitas dan efisiensi suatu tindakan untuk mencapai tujuan (Syam, 2. Kemudian, terdapat tindakan rasional nilai adalah tindakan sosial yang tujuannya telah ditentukan dan bernilai absolut, yakni nilai dan norma yang menjadi patokan (Damsar, 2. Ketika melakukan tindakan ini, individu tidak bisa menilai kemungkinan bahwa tindakan yang dipilihnya paling efektif atau lebih efektif sebagai cara untuk mencapai tujuan lain, melainkan sebagai petunjuk tujuan itu sendiri (Ritzer, 2. Hal tersebut berbanding terbalik dengan tindakan rasionalitas intrumental, di mana tindakan rasional nilai mengedepankan tindakan meraih tujuan dengan cara yang sesuai nilai dan nilai Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, pp. 191Ae200 Selain itu, terdapat, tindakan afeksi yang dilakukan karena pengaruh emosi atau perasaan tanpa refleksi intelektual atau perencanaan sadar, maka sifatnya tidak rasional, implusif, serta merupakan ekspresi emosi pribadi (Ritzer, 2. Terakhir, tindakan tradisional yang berlandaskan adat istiadat atau kebiasaan di masa lampau (Ritzer, 2. Dengan demikian, individu sebagai pelaku melakukan tindakan tersebut tanpa perencanaan, melainkan hanya mengikuti kebiasaan yang ada di Metode Penelitian Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Menurut Taylor dan Bogdan . alam Suyanto, 2. pendekatan kualitatif merupakan metode penelitian yang menghasilkan data deskriptif mengenai kata-kata lisan maupun tertulis, dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti. Pendekatan kualitatif menilai realitas sosial bersifat ganda yang merupakan hasil konstruksi pemikiran serta bersifat holistik, peranan nilai dalam proses penelitian tidak bebas nilai, hubungan peneliti dengan subjek yang diteliti tak dapat dipisahkan dan bersifat interaktif, dan pengumpulan data bersifat fleksibel karena selalu disesuaikan dengan konteks di lapangan (Yusuf, 2. Dengan demikian, metode kualitatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk memahami fenomena perihal apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain (Moleong, 2018: . Selanjutnya, dalam proses pengumpulan data penelitian ini menggunakan metode wawancara sebagai data primer. Wawancara dalam penelitian kualitatif bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang makna-makna subjektif yang dipahami individu berkaitan dengan topik penelitian (Mulyadi et al. , 2. Kemudian, peneliti menggunakan teknik purposive sampling, yakni pemilihan subjek berdasarkan karakteristik atau kriteria tertentu (Morissan, 2. Sehingga, peneliti mengeskplorasi lebih mendalam perspektif yang dimiliki narasumber yang otoritatif dan relevan dengan penelitian Oleh karena itu, jenis wawancara yang digunakan adalah wawancara semi-terstruktur. Pertanyaan yang diajukan pewancara pada wawancara jenis ini adalah pertanyaan yang sudah disiapkan terlebih dahulu dan tanpa disertai pertanyaan abstrak ketika sesi wawancara berlangsung, tetapi memberi ruang improvisasi menyesuaikan jawaban yang diberikan narasumber. Hal ini bertujuan agar sesi wawancara tidak hanya fokus kepada topik pembahasan, tetapi juga dapat mengeksplorasi lebih mendalam makna subjektif narasumber atas topik yang sedang dikaji. Selain itu, metode pengumpulan data pada penelitian ini juga menggunakan metode observasi Menurut Santana . Penggunaan metode observasi di setiap penelitian bervariasi, tergantung pada latar, kebutuhan, dan tujuan penelitian. Berkaitan dengan itu, penelitian ini menggunakan observasi sebagai data sekunder. Pasalnya, penelitian ini lebih menekankan pada uraian makna praktik arisan yang menjadi motif ibu-ibu PKK senantiasa rutin melaksanakan kegiatan tersebut. Sementara itu, data dari hasil observasi digunakan hanya dalam rangka memperoleh data di lapangan secara riil untuk memverifikasi keabsahan penjelasan dari subjek penelitian mengenai sistem pelaksaan praktik arisan dalam organisasi mereka. Maka dari itu, peneliti menggunakan teknik Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, pp. 191Ae200 observasi non-participant . Sebab, peran peneliti di lapangan tidak terlibat dalam aktivitas subjek penelitian, melainkan sebagai pengamat semata (Karsadi, 2. Hasil dan Pembahasan 1 Skema Praktik Arisan Uang Ibu PKK di Kampung Jedong Organisasi Ibu PKK di Kampung Jedong. Kecamatan Tambaksari mengadakan praktik arisan uang secara rutin tiap 1 bulan sekali. Pada kegiatan tersebut pihak pengurus mengawalinya dengan mengajukan penawaran jumlah biaya iuran yang ditangguhkan kepada anggota organisasi. Dengan demikian, pada jumlah iuran praktik arisan tiap bulannya berbeda-beda tergantung pada hasil putusan musyarawah. Kemudian, pihak pengurus mengundi dan menyebutkan nama pihak-pihak yang mendapatkan uang dari hasil iuran pada kegiatan tersebut Organisasi Ibu PKK di Kampung Jedong. Kecamatan Tambaksari mengadakan praktik arisan uang secara rutin tiap 1 bulan sekali. Pada kegiatan tersebut pihak pengurus mengawalinya dengan mengajukan penawaran jumlah biaya iuran yang ditangguhkan kepada anggota organisasi. Dengan demikian, pada jumlah iuran praktik arisan tiap bulannya berbeda-beda tergantung pada hasil putusan musyarawah. Kemudian, pihak pengurus mengundi dan menyebutkan nama pihak-pihak yang mendapatkan uang dari hasil iuran pada kegiatan tersebut. Dalam kegiatan praktik arisan. Ibu PKK di Kampung Jedong secara rutin melaksanakannya 1 bulan sekali pada minggu ke-3. Dalam kegiatan tersebut terdapat sekitar 40 sampai 50 ibu-ibu rumah tangga yang menghadirinya. Kemudian, umumnya hasil musyawarah jumlah iuran arisan pada tiap pertemuan cenderung berada pada nominal Rp20. 000-Rp25. Sementara itu, bagi warga yang kurang mampu diperbolehkan membayar iuran hanya dengan besaran sekitar Rp10. 000-Rp15. Bagi warga yang namanya keluar pada hasil undian mendapatkan uang 70% dari hasil uang yang terkumpul pada kegiatan tersebut. Sisa uang sebesar 30% digunakan untuk menambah anggaran bagi kas organisasi. Kas tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai wadah simpan pinjam antaranggota, tetapi juga pengadaan kegiatan bantuan sosial dan operasional pendidikan anak usia dini (PAUD) yang diadakan oleh organisasi Ibu PKK Kampung Jedong 2 Persepsi Ibu PKK terhadap Praktik Arisan Uang di Kampung Jedong Praktik arisan uang yang dilaksanakan Ibu PKK Kampung Jedong memiliki tiga fungsi, yakni sarana silaturahmi mempererat hubungan antara ibu-ibu, sarana simpan-pinjam, pengumpulan dana bantuan sosial, dan operasional PAUD yang dilaksanakan organisasi PKK Kampung Jedong di Balai RW. Dengan demikian, praktik arisan tersebut bukan dalam rangka persaingan gaya hidup sosialita antarkaum ibu-ibu, melainkan sebagai bentuk ikatan sosial. Mengenai hal itu. Ibu AN selaku ketua organisasi Ibu PKK menyatakan bahwa praktik arisan uang selama ini adalah skema yang telah lama diberlakukan. Salah satu pertimbangannya adalah karena banyak dari warga ibu-ibu Kampung Jedong yang tidak memiliki pendapatan mandiri karena Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, pp. 191Ae200 hanya berperan sebagai ibu rumah tangga. Selain itu, praktik ini bertujuan dalan rangka mempererat silaturahmi antarkaum ibu-ibu. Untuk itu, uang yang terkumpul dalam arisan ini juga digunakan untuk sarana simpan pinjam, pengadaan bantuan sosial, dan penalangan dana kegiatan PAUD bagi anak-anak di Kampung Jedong. Sejalan dengan itu. Ibu IK menganggap praktik arisan uang sebagai ruang ibu-ibu untuk berkumpul saling bersilaturahmi. Menurutnya, melalui kegiatan yang diprakarsai organisasi Ibu PKK tersebut dapat mempererat hubungan di antara kaum ibu-ibu di Kampung Jedong. Sehingga, menumbuhkan rasa paguyuban atau kekeluargaan dan gotong royong di antara mereka. Sementara itu. Ibu RS merasa tidak perlu ambil pusing untuk memikirkan fungsi, tujuan, dan manfaat dari praktik arisan yang telah dijalankan selama ini. Menurutnya, asalkan kegiatan tersebut telah berlangsung lama, maka sebagai warga tinggal mengikuti dan melestarikannya. Untuk itu, bagi Ibu DU selaku warga baru/pindahan menganggap bahwa praktik arisan sebagai tempat membentuk relasi dengan warga yang lain dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Tidak hanya itu, terdapat warga yang mengganggap praktik arisan sebagai bantuan atau dukungan ekonomi seperti Ibu WA yang menjadikan dana arisan sebagai alternatif pinjaman dan Ibu SH yang mengharapkan dana dari undian praktik arisan. Pasalnya, kedua ibu tersebut memiliki kondisi ekonomi yang terbilah cukup rendah. Dengan demikian. Ibu PKK Kampung Jedong memiliki persepsi yang beragam terhadap praktik arisan uang. Perbedaan tersebut berkaitan dengan posisi dalam kepengurusan organisasi Ibu PKK, dan kondisi sosial-ekonomi warga. Secara singkat, deskripsi mengenai persepsi Ibu PKK terhdap Praktik Arisan Uang dapat dilihat pada tabel 4. 1 berikut ini. Tabel 4. 1 Persepsi Ibu PKK terhadap Praktik Arisan Uang No. Subjek Persepsi Ibu AN Praktik arisan menjadi ruang ibu-ibu berkumpul saling bersilaturahmi. Selain itu, iuran yang dikumpulkan tidak memberatkan dan digunakan untuk dalam rangka gotong royong membantu bagi yang membutuhkan dan dana kegiatan warga Ibu IK Praktik arisan sebagai kegiatan perekat solidaritas ibu-ibu dalam berorganisasi dan bermasyarakat untuk melestarikan budaya paguyuban di kampung. Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, pp. 191Ae200 Ibu RS Menganggap praktik arisan sebagai kebiasaan atau rutinitas kegiatan organisasi Ibu PKK yang tidak perlu dipertanyakan fungsi dan manfaatnya. Sebab, praktik tersebut telah lama dilaksanakan dan merasa bagi generasi atau warga baru wajib Ibu DU Praktik arisan sebagai tempat beradaptasi dengan lingkungan baru dan membentuk relasi dengan tetangga bagi dirinya selaku warga baru/pindahan Ibu WA Menganggap iuran yang terkumpul dalam praktik arisan sebagai alternatif untuk Terlebih, dalam pinjaman tersebut dikenakan bunga 0%. Ibu SH Merasa senang dengan praktik arisan uang karena iurannya tidak memberatkan. Selain itu, baginya uang arisan yang diperoleh lewat undian cukup membantu dirinya. 3 Rasionalitas Mengikuti Praktik Arisan Uang Ibu PKK di Kampung Jedong Berdasarkan enam subjek yang peneliti telusuri, hasil wawancara dapat motif subjek mengikuti arisan dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu . Mengikuti arisan untuk melestarikan nilai budaya paguyuban dan silaturahmi antarwarga, . Mengikuti arisan dalam rangka meneruskan kebiasaan dan rutinitas warga sekitar, dan . Mengikuti arisan berharap untuk mendapat keuntungan dari kegiatan tersebut. Dengan demikian, anggota Ibu PKK memiliki tiga tipologi motif tindakan sosial yang berbeda dalam mengikuti kegiatan praktik arisan, antara lain sebagai berikut. Pertama. Ibu PKK mengikuti praktik arisan uang dengan motif berorientasi nilai. Dalam hal ini, rasa silaturahmi, gotong royong, dan kekeluargaan menjadi nilai dan norma yang menjadi pondasi bagi pelaksanaan praktik tersebut. Nilai-nilai ini juga menjadi landasan skema praktik arisan yang tidak memberatkan warga, melainkan menjadi sarana membantu bagi warga yang membutuhkan. Kedua. Ibu PKK mengikuti praktik arisan uang dengan motif tradisional. Pasalnya, bagi warga yang mmengikuti arisan dengan motif tersebut sekadar berpartisipasi untuk menjalani kebiasaan Paradigma. Volume 13. Number 3, 2024, pp. 191Ae200 warga atau tetangga sekitar tanpa mempertimbangkan manfaat dan tujuan. Selain itu, bagi warga baru/pindahan menjadikan praktik arisan untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Ketiga. Ibu PKK mengikuti praktik arisan uang dengan motif instrumental. Motif ini cenderung dimiliki bagi ibu-ibu rumah tangga yang memiliki kesulitan ekonomi. Mereka mengikuti praktik tersebut berharap mendapatkan dana hasil undian. Sehingga, mereka dapat memperoleh uang tanpa perlu mencari pekerjaan sampingan sementara, misalnya menjadi tukang pijat atau pembantu rumah tangga. Selain itu, dengan ikut serta dalam kegiatan arisan menjadikannya dapat mengajukan pinjaman dana arisan. Kesimpulan Ibu-ibu PKK di Kampung Jedong. Kecamatan Tambaksari mengadakan praktik arisan uang secara rutin tiap 1 bulan sekali. Pada kegiatan tersebut pihak pengurus mengawalinya dengan mengajukan penawaran jumlah biaya iuran yang ditangguhkan kepada anggota organisasi. Dengan demikian, pada jumlah iuran praktik arisan tiap bulannya berbeda-beda tergantung pada hasil putusan musyarawah. Selain itu, bagi warga yang kurang mampu diperbolehkan membayar iuran lebih rendah dari jumlah yang telah ditentukan. Maka dari itu, praktik arisan tersebut merepresentasikan nilai guyub atau gotong royong. Dengan demikian, kegiatan ini bukan dalam rangka persaingan siapa yang memberikan iuran lebih banyak untuk membentuk identitas sebagai orang kaya, melainkan bertujuan untuk mempererat silahturahmi dan solidaritas sosial antar ibu rumah tangga. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat tiga bentuk rasionalitas ibu PKK di Kampung Jedong. Kecamatan Tambaksari mengikuti praktik arisan uang. Pertama, rasionalitas berorientasi nilai, yakni sebagai sarana meningkatkan solidaritas sosial dan memberikan bantuan bagi anggota yang kurang mampu. Kedua, rasionalitas tradisional, yakni mengikuti kegiatan tersebut sebagai bentuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat di lingkungan tersebut. Ketiga, rasionalitas instumental, yakni menilai praktik arisan sebagai sarana untuk menambah pendapatan. Daftar Pustaka