SILABUS: Jurnal Ilmu dan Inovasi Pendidikan Vol. 2 No. Maret 2025, pages: 21-27 DOI: https://doi. org/10. 62667/silabus. e-ISSN: 3047-1044 https://berugakbaca. org/index. php/silabus RELEVANSI SEMBOYAN KI HAJAR DEWANTARA SEBAGAI PEDOMAN GURU Siti Asiah1. Nafiah2. Indah Shaum Muliawati3 Universitas Islam 45 Bekasi. Indonesia1,2,3 sitiasiah@unismabekasi. nfiah384@gmail. indahshaummuliawati@gmail. Coresponding author email: nfiah384@gmail. Article History Manuscript submitted: 18 Maret 2025 Manuscript revised: 25 Maret 2025 Accepted for publication: 30 Maret 2025 Keywords Relevance. Motto of KI Hajar Dewantara. Teacher's Guide Abstract This research aims to determine the relevance of Ki Hajar Dewantara's motto as a teacher's guide. The method applied in this research is qualitative by conducting literary research using journals and books available on the internet. The research results show that the three mottos coined by Ki Hajar Dewantara are Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso. Tut Wuri Handayani. Having a strong bond, with the teacher as a facilitator must be a role model for students, because in the world of formal education, it is the teacher who controls the students' cognitive, emotional and psychomotor development. There is a very strong influence on the education system in Indonesia which no longer applies like the education system outside but has implemented a character and culture education system in the world of education. Due to the existence of an education system, an ideal educator can become a role model for his students so that they can determine the true future of the world. SILABUS@ 2024 Introduction Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kemajuan suatu bangsa. Seperti halnya investasi yang memberikan hasil, hal yang sama juga berlaku pada suatu pendidikan, yaitu sebuah kegiatan yang melibatkan investasi pada manusia . umber daya manusi. dalam jangka waktu yang sangat lama. (Aflaha et al. , 2. Sehingga, dibutuhkan suatu kerja sama dari segala pihak dalam menciptakan pendidikan yang bermutu. Pendidikan dapat diartikan sebagai pemberian persediaan yang tidak ada dimasa anak-anak tetapi dibutuhkan ketika dewasa. Pendidikan sendiri memiliki tujuan, dimana manusia di didik supaya ia terdidik dan mampu mendidik manusia lainnya. (IstiqAofaroh, 2. Dalam proses pendidikan formal dan nonformal, guru memegang peranan penting dalam menentukkan capaian tujuan pendidikan. Guru adalah seseorang yang menentukan keberhasilan atau prestasi siswa baik secara akademik maupun secara sikap. Dalam konteks akademik, guru harus memiliki pengetahuan yang mendalam untuk memotivasi siswa dalam meningkatkan prestasinya. Sedangkan dari segi sikap, hendaknya guru mempunyai budi pekerti yang baik, ketaatan dalam beribadah, dan lain-lain, sehingga bisa menjadi teladan untuk siswa. Tugas guru tidak hanya memimpin jalannya materi. pelajaran, tetapi juga bertingkahlaku yang baik agar siswa dapat meniru tingkah laku guru dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Jika seorang guru bertingkahlaku buruk dalam kehidupan sehari-hari, tidak menutup keamungkinan siswa akan menirunya, karena hal tersebut merupakan bagian dari pendidikan tidak langsung yang dilakukan guru. Menurut Ki Hajar Dewantara, sosok guru tidak hanya harus mengajarkan ilmu-ilmu tertentu, tetapi juga mampu menjadi alat untuk mempertemukan nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, patriotisme, nilai-nilai agama dan (Tohir, 2. Sementara itu, guru juga harus menjadi teladan untuk anak didiknya, bahkan orang tua pun harus dapat membimbingnya kapan saja, menjadi tempat untuk menyelesaikan masalah dalam setiap penghambat pengetahuan dan wacana bagi orang disekitarnya. Seorang guru yang baik tentunya perlu memanfaatkan kelebihan yang dimilikinya, baik dalam hal pengajaran maupun dalam hubungannya dengan siswa dan anggota komunitas sekolah. Selain itu, guru juga harus menunjukkan profesionalisme dan keinginan untuk meningkatkan dan mengikuti perkembangan saat ini. Di Indonesia, pendidikan mengalami berbagai macam masalah. Banyak sekali kasus pelanggaran yang terjadi di sekolah. Contohnya seperti, seorang guru yang melakukan tindakan asusila terhadap siswanya, guru memukul siswa, serta masih terdapat guru yang senang ketika dikenal sebagai guru killer. Hal ini berbanding terbalik dengan konsep pendidikan sistem Ki Hajara Dewantara Among. Tut Wuri Handayani dan Tringa yang sebenarnya perlu diterapkan dalam dunia pendidikan. (Salsabilah et al. , 2. Menurut salah satu ahli pendidikan Islam, pendidikan di Indonesia saat ini lebih berkembang ke arah pengetahuan, walaupun terlihat baik akan tetapi pada realitanya pandangan dunia tentang manusia ialah hati, yang seharusnya pendidikan diarahkan ke hati supaya membentuk siswa yang memiliki kepribadian yang baik. (Huda, 2. Mayoritas masyarakat memahami bahwa konsep pendidikan yang digunakan di Indonesia merupakan hasil pemikiran Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara juga di juluki sebagai AuBapak Pendidikan NasionalAy dikarenakan jasa dan karya yang telah ia berikan untuk pendidikan Indonesia. Didalam konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara terdapat penjelasan mengenai ciri guru yang ideal yang dapat dilihat melalui semboyan pendidikan dan Tri Pantangan. Menjadi guru yang profesional tidaklah mudah karena guru harus mempunyai kemampuan mengajar yang beragam. Oleh karena itu, guru patut dihormati dan diberi kedudukan yang sangat tinggi karena mereka memberikan kontribusi yang besar dalam membimbing dan mendidik siswa, membentuk prinsip-prinsip moral dan mempersiapkan mereka untuk masa depan dengan penuh keyakinan dan (Rahman, 2. Belajar dari sejarah yang Jepang alami, ketika kota Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh Sekutu dan melapor kembali kepada komandannya. Hal pertama yang ditanyakan oleh para pemimpin negara tersebut ialah berapa banyak guru yang selamat. Baginya, peran guru sangat penting bagi kemajuan negaranya kedepan. (Yusmad & SH, 2. Dengan demikian, kalau melihat dari peristiwa yang terjadi, sering terjadi polemik pada pendidikan Indonesia. Tokoh pendidikan di Indonesia sangatlah banyak. Namun bapak pendidikan nasional yang paling dikenal ialah Ki Hadjar Dewantara. Salah satu semboyan pendidikannya adalah AuIng Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso. Tut Wuri HandayaniAy (Memimpin dengan memberi contoh di depan, menentukan arah di tengah, memberi semangat di belakan. (Bakar & Daulai, 2. Artinya guru harus menjadi teladan bagi siswanya, menjadi pemimpin yang baik dan mengetahui cara mendorong siswanya menjadi manusia yang cerdas dan berguna bagi negara, bangsa, dan agama. Namun kenyataannya masih banyak guru yang menganggap pekerjaannya hanya sekedar mencari penghasilan Hal ini sejalan dengan perkataan (Herlambang, 2. bahwa saat ini terdapat pemikiran yang keliru mengenai pemahaman profesi guru diantaranya : mencetak manusia yang siap untuk bekerja, dengan mengetahui bahwa pendidikan adalah tugas sederhana yang dapat dilakukan siapa saja dan tujuan utamanya adalah mendapatkan penghasilan. Padahal seorang guru harus menjalankan kewajibannya sebagai mana seharusnya yaitu guru mempunyai kewajiban dalam mendidik, mengajar, membimbing, melatih, dan menilai Dengan demikian tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui relevansi semboyan Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman guru. Berdasarkan penjelasan diatas, bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek kunci dalam pembentukan karakter dan peradaban suatu bangsa. Filosofi pendidikan dari Ki Hajar Dewantara bukan hanya sekadar teori, melainkan juga menjadi pedoman bagi para guru dalam melaksanakan tugas mereka dalam membentuk suatu bangsa yang maju. Lantas bagaimanakah relevansi semboyan Ki Hajar Dewantara tentang pedoman guru? Materials and Methods Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif, yakni menggunakan metode deskriptif dan studi literatur pada jurnal dan buku. Peneliti melakukan teknik pengumpulan data dengan mengumpulkan berbagai sumber jurnal dan buku mengenai semboyan Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman guru. Selanjutnya, peneliti mengkaji untuk menarik kesimpulan serta menggabungkan dengan temuan-temuan lainnya. Results and Discussions Relevansi Semboyan Ki Hajar Dewantara Sebagai Pedoman Guru Pendidikan menduduki peranan penting dalam pembangunan suatu bangsa. Sebagai pendiri pendidikan nasional Indonesia. Ki Hajar Dewantara memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perkembangan sistem pendidikan di Indonesia. Namun makna Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman bagi guru belum sepenuhnya Sebab salah satu nilai mereka adalah Auguru sebagai pahlawan tanpa tanda jasaAy. Ki Hajar Dewantara menghargai peran guru sebagai pembimbing dan pendamping dalam membentuk karakter dan pengetahuan peserta didik. Guru tidak hanya mengajar, namun juga berperan sebagai teladan bagi siswa dalam hal sikap, moral dan kejujuran. (Rahayuningsih, 2. Ki Hajar Dewantara dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama asli RM Soewardi Soerjaningrat. Pada usia 39 tahun, ia mengganti namanya menjadi Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara tutup usia pada tanggal 26 April 1959 dikediamannya Mujamuju Yogyakarta. Ia dikenal sebagai tokoh nasional, yang dihormati dan dikagumi baik kawan maupun lawan. Ki konsisten dan berani. Visinya yang begitu luas hingga ia tak pernah lelah berjuang demi negaranya hingga akhir hayatnya. Perjuangannya didasari oleh rasa keaikhlsan diikuti rasa pengabdian dan pengorbanan yang besar untuk mengantarkan bangsanya menuju dunia (Nurhalita & Hudaidah, 2. Oleh karena itu, pada tanggal 28 November 1959 Ki Hajar Dewantara di tetapkan sebagai AuPahlawan NasionalAy serta pada tanggal 16 Desember 1959, pemerintah menetapkan hari lahir Ki Hajar Dewantara pada tanggal 2 Mei sebagai AuHari Pendidikan NasionalAy. Ki Hajar Dewantara berkata bahwa pendidikan tidak hanya mengenai pengetahuan akademik, tetapi juga tentang pengembangan karakter, keterampilan sosial, dan nilai-nilai kehidupan. Dengan guru mampu membimbing siswa untuk menjadi individu yang seimbang dan berkualitas. Karena dalam suatu pendidikan seharusnya tidak hanya tentang pengetahuan formal, tetapi juga tentang pencerahan jiwa dan karakter. Selain itu, dalam sebuah prinsip utama Ki Hajar Dewantara ialah dengan memiliki kesetaraan dalam (Muzakki, 2. Beliau menegaskan bahwa pendidikan harus dapat dijangkau oleh semua masyarakat tanpa terkecuali. Dalam konteks ini guru menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan pembelajaran inklusif dan merangsang potensi setiap siswa. Oleh karena itu seorang pendidik harusl mengerti bagaimana sifat dan perilaku masyarakat yang sedang dihadapi, agar sistem pendidikan yang sedang diterapkan bisa berjalan dengan baik. Adapun relevansi semboyan Ki Hajar Dewantara sebagai pedoman bagi guru diantaranya : "Ing ngarsa sung tuladha. " Artinya. Ketika guru berdiri di hadapannya, mereka harus memberikan contoh yang baik kepada siswanya. karena guru merupakan sosok teladan yang harus diindahkan dan ditiru baik perkataan maupun perbuatannya. Dengan guru bukan hanya sekedar penyampai informasi, tetapi juga pembimbing yang menunjang siswa dalam menemukan dan mengembangkan bakat serta minat mereka. Dengan demikian. Jika guru mencontohkan yang baik kepada siswanya, maka perilaku mereka akan sama baik dan bahkan mungkin lebih baik dari perilaku kita. (Rambitan, 2. Tetapi sementara itu sudah banyak beberapa kasus seperti kasus seksual yang dilakukan guru terhadap siswa yang kini sudah beberapa kali terjadi dan hal tersebut merupakan suatu tindakan asusila yang membuat lemahnya peran guru sebagai teladan bagi anak didiknya. Namun, dalam kasus kekerasan seperti itu, pemerintah perlu mengevaluasi dan menyeleksi dalam penerimaan guru baru selanjutnya dan memastikan adanya sanksi yang tepat atas kejadian kekerasan yang terjadi. Dengan demikian, menjadi seorang guru bukan hal yang mudah, selain harus menjadi teladan bagi siswanya, guru pun harus bisa di gugu dan ditiru dalam perkataan maupun perbuatannya. (PS et al. , 2. "Ing madya mangun karsa" Artinya, ketika posisi guru di tengah-tengah bersama siswanya ia harus mendukung keinginan anak, membangunkan kreativitas dan keinginan dalam berinisiatif serta bertindak. Dengan terus membangun dan menumbuhkan semangat peserta didik untuk terus mengoreskan karya dengan pentingnya mewujudkan lingkungan belajar yang positif dan mendukung. Karena guru harus mampu untuk bukan hanya memberikan pengetahuan saja, tetapi juga membentuk karakter siswa agar terciptanya suasana belajar yang kondusif dan nyaman. (Ruth et al. , 2. Dalam semboyan tersebut memperoleh sebuah kode bagi para guru supaya bisa berpartisipasi dalam kehidupan siswa serta menjadi sahabat yang baik untuk siswa. Karena kadang pemikiran siswa lebih cepat tanggap dibandingkan orang yang lebih tua. Oleh karena itu, bangsa Indonesia harus menyerap buah pemikiran KI Hajar Dewantara untuk menjamin kemajuan sebuah bangsa, tanpa adanya diskriminasi berdasarkan keyakinan, adat istiadat, dan status ekonomi, karena orang yang cerdas adalah orang yang mampu mendidik orang lain. (Haerullah & Elihami, 2. "Tut wuri handayani" bermula dari bahasa Jawa yakni: Autut wuriAy yang artinya mengikuti dari belakang, dan AuhandayaniAy yang artinya mendorong, memotivasi, atau membangkitkan semangat. Dengan demikian dapat diterjemahkan bahwa tut wuri handayani adalah penyesuain dengan sifat, bakat atau potensi yang dibawa anak dari lahir. Sertaguru selalu memberikan bimbingan penuh kasih sayang, memberikan dukungan dan dorongan emosional kepada siswa serta dapat memiliki dampak jangka panjang pada perkembangan mereka. (Hermawan & Tan, 2. Namun, ada banyak permasalahan yang terjadi dalam dunia pengajaran saat ini, dimana guru hanya memberikan dukungan komprehensif hanya kepada siswa yang memiliki keterampilan sesuai dengan bidang Misalnya, seorang guru PAI hanya memperhatikan kepada siswa yang berbakat atau ahli dalam aspek serupa, sedangkan untuk siswa yang kurang berbakat dalam aspek tersebut sering kali diabaikan. (Irwanto, 2. Hal ini merupakan sebuah bukti ketidakmampuan guru dalam mengontrol karakter peserta didik yang dapat ditanamkannya sesuai dengan minat yang mereka miliki. Oleh sebab itu penting sekali adanya suatu dorongan dan semangat dari guru sangat dibutuhkan sekali oleh siswa dalam menunjang prestasinya, dengan tidak melihat guru tersebut ahli dari bidang manapun, melainkan semua pihak sekolah akan ikut serta dalam mendukung prestasi dari siswanya sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Dengan begitu tidak aka nada lagi kesenjangan antara guru dan siswa dalam dunia (Syaparuddin et al. , 2. Dari ketiga semboyan tersebut mempunyai ikatan yang erat dan saling berhubungan, sebagaimana guru mempunyai kewajiban dalam menumbuhkan nilai-nilai pada diri siswa. (Astuti & Arif, 2. Dalam hal ini, guru tidak hanya dapat memotivasi dan membimbing siswanya untuk mencapai nilai-nilai tersebut, melainkan guru harus menunjukkan bagaimana nilai-nilai tersebut mengakar dalam diri mereka. Oleh karena itu, guru dapat mewariskan nilai-nilai kepada siswa agar dapat bertindak sesuai dengan nilai-nilai tersebut. Dengan demikian untuk menjadi seorang guru yang baik harus mempunyai sifat-sifat tertentu, baik dalam mengajar ataupun dalam menjalin hubungan dengan siswa, bahkan baik pula dalam menjalin hubungan di luar lingkungan sekolah. Dengan seorang guru juga harus memiliki sikap profesional yang tinggi, yakni dengan kata lain adanya keinginan untuk terus berkembang dalam mengikuti perkembangan zaman. Sehingga, guru sangat penting untuk dapat mengembangkan etos kerja yang baik, berkesinambungan, kepedulian diri dalam menjalankan pekerjaan dan keinginan mengabdi pada masyarakat. Sehingga dapat membentuk siswa menjadi pribadi yang mengembangkan pemahaman dan kesadarannya terhadap realitas dunia. Conclusion Dari pemaparan diatas, disimpulkan bahwa relevansi tiga semboyan yang di cetuskan KI Hajar Dewantara yakni Ing Ngarso Sung Tulodo. Ing Madyo Mangun Karso. Tut Wuri Handayani. mempunyai ikatan kuat, dengan guru sebagai fasilitator harus menjadi teladan yang baik bagi siswanya, karena dalam dunia pendidikan formal, gurulah yang mengontrol perkembangan kognitif, emosional, dan psikomotorik siswa. Sekurang-kurangnya dengan guru mampu memberikan stimulus kuat yang diperlukan siswa dalam proses pendidikan. Karena sebagai seorang pendidik seyogyanya harus memiliki kepribadian baik untuk menjadi role model . bagi anak didiknya. Dengan guru dapat membantu membentuk generasi muda yang bukan hanya cerdas secara akademis namun juga berkarakter dan siap menghadapi tantangan masa depan. References