50 E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. Pelayanan Tuan Rumah Homestay dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based-Touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogor Rustinia* Hospitaliti dan Pariwisata. Institut STIAMI Jakarta Pusat * ninysuharriansyah@gmail. A R T IC L E I N F O Article history Received Revised Accepted Keywords Service Homestay Community based-tourism ABSTRACT During pandemic, people still want to take some vacation. Desa wisata is an alternative of tourism destinations to go without connecting to many people simultaneously. Spending time by staying at homestay is an alternative way for tourists to do their vacations. The purpose of this study was to know how the service of homestayAos host gave its support to the development of community based-tourism in Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogor. This study was conducted by using Purposive Sampling sample technique and descriptive-qualitative method which will result in findings without the assistance of statistical procedure or form of calculations in its analysis. The primary data of this study was carried out through interviews and observation. While secondary data was taken from various written sources and documentation. The theory used was according to Zithaml dan Bitner . , that service has 5 . aspects, namely reliability, assurance, tangible, empathy and The result of this study could be concluded that the service of homestayAos host in supporting the development of community based-tourism in Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogor was considered still had lacks of the 5 aspects mentioned-above. http://ojs. journaldestinesia@gmail. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Pendahuluan Tren Pariwisata 2021 Sudah hampir 2 tahun pandemi COVID-19 melanda dunia pada umumnya dan Indonesia pada Dampak pandemi COVID-19 sangat terasa sekali dalam industri pariwisata dan ekonomi kreatif . di Indonesia. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekra. dalam Buku Tren Pariwisata 2021 yang diterbitkannya merangkum data bahwa sejak Februari 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia menurun sangat drastis, di mana puncaknya pada bulan April 2020 hanya 158 ribu wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia. Jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia sepanjang tahun 2020 sekitar 4,052 juta saja. Angka ini sangat mengkhawatirkan karena totalnya hanya sekitar 25% dari jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia pada tahun 2019. Akibatnya pendapatan negara di sektor pariwisata pun terdampak. Diterapkannya peraturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) serta ditutupnya akses keluar-masuk Indonesia, mengakibatkan penurunan pendapatan negara di sektor pariwisata sebesar Rp 20,7 miliar. Dampak langsung akibat penurunan wisatawan mancanegara tercatat pada okupansi hotelhotel di Indonesia. Bulan Januari-Februari 2020, angka okupansi masih di 49,17% dan 49,22%, tetapi di bulan Maret 22020 turun menjadi 32,24%, dan memburuk di bulan April 2020, yaitu sebesar 12,67%. Dampak pandemi COVID-19 lainnya pada sektor pariwisata Indonesia juga terlihat dari pengurangan jam kerja. Terdapat sekitar 12,91 juta orang mengalami pengurangan jam kerja di sektor pariwisata ini, dan 939 ribu orang sementara tidak bekerja/dirumahkan. Dan parahnya, pandemi COVID-19 juga berdampak sangat hebat pada berbagai lapangan pekerjaan di sektor Menurut data BPS 2020, akibat pandemi COVID-19 sekitar 409 ribu tenaga kerja di sektor pariwisata kehilangan pekerjaan. Penyelamatan Pariwisata Indonesia Pemerintah Indonesia, dalam hal ini Kemenparekraf/Baparekraf, berupaya melakukan penyelamatan pariwisata Indonesia. Ada tiga fase AupenyelamatanAy yang dilakukan, yaitu Tanggap Darurat. Pemulihan, dan Normalisasi. Fase Tanggap Darurat, memfokuskan pada kesehatan, seperti menginisiasi program perlindungan sosial, mendorong kreativitas dan produktivitas saat WFH, melakukan koordinasi krisis pariwisata dengan daerah pariwisata, serta melakukan persiapan Fase Pemulihan, dilakukan pembukaan secara bertahap tempat wisata di Indonesia. Persiapannya sangat matang, mulai dari penerapan protokol CHSE (Cleanliness. Healthy. Safety, and Environmental Sustainabilit. di tempat wisata, serta mendukung optimalisasi kegiatan MICE (Meeting. Incentive. Convention, and Exhibitio. di Indonesia. Fase Normalisasi, yaitu persiapan destinasi dengan protokol CHSE, meningkatkan minat pasar, hingga diskon untuk paket wisata dan MICE. Salah satu program yang telah dilaksanakan adalah Virtual Travel Fair di bulan Agustus-September 2020. Perubahan Tren Pariwisata di Masa Pandemi COVID-19 Kemenparekraf dalam Buku Tren Pariwisata 2021 menyebutkan bahwa memiliki kemampuan adaptasi, inovasi, dan kolaborasi yang baik merupakan kunci utama bagi pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif saat ini agar dapat bertahan di tengah pandemi. Perilaku masyarakat mulai berubah dengan dibarengi tren pariwisata yang telah bergeser. Rustini (Pelayanan Tuan Rumah Homestay dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based-Touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogo. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. Pergeseran tersebut dapat dilihat misalnya pada pola liburan wisatawan, di mana sebelum pandemi kita bisa bebas liburan ke destinasi wisata mana saja di Indonesia maupun luar negeri, namun di saat pandemi seperti ini tren pariwisata berubah, yaitu kita melakukan liburan tanpa banyak bersentuhan dengan orang lain agar tetap aman, misalnya staycation. Salah satu tempat staycation yang bisa dijadikan referensi wisatawan di masa pandemi ini adalah homestay. Homestay merupakan jenis usaha pariwisata yang menyediakan fasilitas berupa bangunan sebagai tempat penginapan sementara yang dilengkapi dengan atau tanpa makan dan minum serta pelayanan lainnya yang dikelola secara komersil atau semikomersil. Menurut ASEAN Tourism Standard, 2007, homestay adalah salah satu bentuk akomodasi yang menggunakan rumah tinggal, menyediakan kesempatan bagi tamu/wisatawan untuk menjalani kehidupan sehari-hari keluarga atau komunitas sekaligus sebagai daya tarik wisata. Lama tinggal . ength of sta. wisatawan di suatu homestay bisa 1 malam, 1 minggu bahkan 1 bulan atau lebih tergantung pada kebutuhan dan maksud berwisata wisatawan. Homestay adalah jenis akomodasi yang berasal dari rumah rakyat yang telah ditingkatkan fasilitas dan sarananya sebagai penginapan yang disewakan kepada wisatawan. Lokasi homestay biasanya berdekatan dengan tempat wisata. Keberadaan homestay tidak hanya sebagai tempat menginap tetapi juga untuk mempelajari budaya masyarakat setempat. Tingkat okupansi homestay di tempat wisata juga ikut terdampak akibat pandemi, tentu saja sebagai pelaku pariwasata, tuan rumah homestay harus mulai beradaptasi agar bisa bertahan, seperti harus melaksanakan CHSE agar pengunjung merasa lebih aman saat berlibur. Untuk menjamin tamu agar merasa aman dan nyaman tinggal di homestay, salah satu aspek yang mesti diperhatikan adalah pelayanan dari tuan rumah kepada tamu/wisatawan yang menginap di homestay-nya. Menurut Zithaml dan Bitner . ada 5 aspek pelayanan, yaitu reliability, assurance, tangibles, emphaty, responsiveness . ntuk mudah diingat, disingkat menjadi RATER). Selanjutnya akan dibahas di bab 4. Keinginan liburan tanpa banyak bertemu orang lain telah mengubah tren layanan paket Para pelaku industri pariwisata harus mulai memberikan layanan paket wisata eksklusif atau kelompok kecil . ini grou. , agar wisatawan merasa lebih aman . dan meminimalisir potensi penularan virus ketika berlibur. Kampung Wisata Lengkong yang terletak di Desa Wates Jaya. Kecamatan Cigombong. Kabupaten Bogor. Jawa Barat adalah tempat dilakukannya penelitian ini. Mengacu pada Peraturan Daerah (Perd. No. 3 Tahun 2003 Tentang Pembentukan dan Perda No. 40 Tahun 2004 Tentang OTK Kecamatan. Kabupaten Bogor memiliki 40 Kecamatan, salah satunya adalah Kecamatan Cigombong, yang merupakan pemekaran dari Kecamatan Cijeruk, berdasarkan Peraturan Daerah (Perd. No. 26 Tahun 2005 tanggal 17 Juni 2005. Lokasi Desa Wates Jaya yang berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi, khususnya berbatasan dengan rencana theme park berskala internasional milik PT. MNC Land. Tbk. bekerja sama dengan perusahan milik mantan presiden Amerika Serikat. Donald Trump, menjadi alasan mengapa akhirnya Kemenparekraf melakukan percepatan pembangunan desa wisata di Wates Jaya. Menurut informasi, mega proyek tersebut rencananya akan beroperasi pada tahun 2022 mendatang dan di satu sisi tentu saja ini diharapkan akan mendatangkan devisa bagi negara karena banyaknya wisatawan mancanegara yang akan berkunjung, namun di sisi lain hal tersebut berbanding terbalik dengan prinsip ekonomi kerakyatan berbasis pariwisata yang beberapa tahun belakangan ini menjadi perhatian dari Kemenparekraf. Untuk menyambut kunjungan wisatawan. Desa Wisata Wates Jaya sudah memiliki beberapa rumah . yang siap menerima tamu . Sejak beberapa tahun terakhir, sebagian rumah sudah digunakan sebagai homestay bagi para peserta program pelatihan Lemhannas RI (Lembaga Ketahanan Nasional RI) secara rutin setiap tahunnya. Secara fisik sebagian bangunan homestay terbilang cukup baik, namun untuk kualitas pengelolaan homestay masih diperlukan perbaikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelayanan tuan rumah homestay dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis-masyarakat . ommunity based-touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogor. Rustini (Pelayanan Tuan Rumah Homestay dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based-Touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogo. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Konsep Teoritis Konsep Pelayanan James Fitzsimmons, 2003 dalam Herlan Suherlan . mendefinisikan pelayanan sebagai berikut: AuA A service is a time perishable, intangible experience performanced for customer acting in the role of a producerAy. Sedangkan Valerie Zeithaml dan Mary Jo Bitner, 1996 masih dalam Herlan Suherlan . mengemukakan bahwa AuA services are deeds, process, and performancesAy. Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pelayanan merupakan suatu perbuatan, proses, dan merupakan unjuk kerja dan memberikan pengalaman kasat mata, tidak tahan lama yang dilakukan untuk pelanggan sebagai duta perusahaan kita. Pelayanan menurut Ika Tcn . adalah suatu cara yang dilakukan oleh individu/seseorang dalam memenuhi kebutuhan tamunya dengan mencurahkan segenap kemampuan, perasaan dan keterampilan yang dimilikinya sehingga tercapai kepuasan yang dirasakan oleh orang yang Selanjutnya, pelayanan menurut Fitzsimmons, dalam Herlan Suherlan . merupakan kumpulan dari barang dan jasa yang terdiri dari beberapa bentukan, yaitu: Supporting Facility, merupakan sarana fisik yang harus tersedia untuk kepentingan penyampaian pelayanan atau yang sering disebut dengan prasarana. Facilitating Goods, merupakan fasilitas pendukung yang dapat dikonsumsi maupun digunakan oleh konsumen atau yang sering disebut dengan sarana pendukung. Explicit Service, merupakan bentukan pelayanan tidak langsung yang bentuknya lebih bersifat tidak nyata namun dapat dirasakan oleh konsumen dan mendukung explicit service. Adapun ciri pelayanan menurut Zeithaml dan Bitner . dalam Herlan Suherlan . Tidak nyata (Intangibl. , artinya suatu pelayanan tidak berwujud dan tidak dapat disentuh namun hanya dapat dirasakan melalui proses yang diberikan oleh penyedia pelayanan . Heterogen (Heterogenou. , karena pelayanan dihasilkan oleh manusia, maka hasil dari suatu pelayanan yang dilakukan akan berbeda hasilnya tergantung dari persepsi yang menerimanya, di mana persepsi tersebut akan dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan dari masing-masing penerima pelayanan. Diproduksi pada saat dikonsumi atau tidak terpisahkan (Simultaneous Production and Consumptio. , produk pelayanan merupakan proses pelayanan itu sendiri dalam artian pada saat provider memproduksi produk pelayanan, pada waktu yang sama produk pelayanan dijual. Rentan (Perishablit. , suatu pelayanan tidak dapat disimpan, dijual kembali, atau dikembalikan, karena sifatnya yang tidak dapat dipisahkan antara produksi dan konsumsi. Masih menurut Zithaml dan Bitner . Dimensi Pelayanan mencakup: Reliability . : kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan akurat dan terpercaya termasuk di dalamnya ketepatan waktu, pelayanan yang sama bagi semua tamu, tingkat kesalahan minim dan hal lainnya. Assurance . aminan kepastia. : jaminan akan mendapatkan pelayanan secara benar dan tepat sehingga dapat menimbulkan rasa kepercayaan dan kenyamanan bagi pelanggan, di dalamnya termasuk pengetahuan, kepercayaan, kesopanan, keamanan . ompetence, credibility, courtesy, dan securit. Tangible . : bentukan penampilan dan kemampuan fasilitas, perlengkapan, peralatan, maupun sarana dan prasarana fisik yang dapat dihandalkan. Emphaty (Empat. : merupakan pemberian perhatian se cara khusus atau pribadi kepada para pelanggan dalam hal pemenuhan kebutuhan konsumen. Empati juga mencakup Rustini (Pelayanan Tuan Rumah Homestay dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based-Touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogo. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. mengenai komunikasi . , kontak dan keberadaan . ase of contact and approachabilit. dan mengerti kebutuhan konsumen . nderstanding custome. Responsiveness . : pemberian pelayanan yang cepat kepada pelanggan dan mengerti akan apa yangdibutuhkan, di dalamnya termasuk ketanggapan, kesadaran melayani dan hal lainnya. Pelayanan adalah AurasaAy . enyenangkan atau tidak menyenangka. yang dialami oleh penerima pelayanan pada saat memperoleh pelayanan. Sulit untuk diukur, sifatnya lebih emosional daripada rasional. Setelah pelayanan diberikan, pelanggan mungkin merasa mendapatkan sesuatu atau tidak mendapatkan sesuatu. Bagaimana suatu pelayanan itu dipandang, akan tergantung seberapa besar harapan orang yang mengalaminya. Mungkin karena pengaruh iklan, rekomendasi dari orang lain. Konsep Homestay Wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata memerlukan tempat tinggal sementara . yang akan digunakan sebagai rumah sementara, dan makanan selama berada di luar rumah tempat tinggal tetapnya atau selama perjalanan wisata (Oroh, 2. Paket wisata live in . inggal bersam. penduduk setempat destinasi wisata merupakan salah satu daya tarik wisata yang memicu kunjungan wisatawan. Homestay bisa menjadi sumber pendapatan utama bagi desa yang sangat strategis dalam kepengelolaan desa wisata karena ia merupakan sarana kebutuhan dasar bagi wisatawan yang ingin berkunjung dalam rangka menikmati daya tarik desa dalam waktu yang lebih lama . ength of sta. Menurut Lynch dalam Sweeney . , homestay is a special term used variously to refer to types of accommodation where visitors or guests pay directly or indirectly to stay in private . homes, where interaction takes place to a greater or lesser degree with a host and/or family who usually live upon the premises and with whom public space is shared to a greater or lesser degree. Sedangkan menurut Lashley dan Morrison dalam Seubsamarn . , homestay accommodation types include farmstay accommodation, some small hotels, host families, and bed and breakfasts. It is used to refer to types of accommodation where tourists or guests pay directly or indirectly to stay in private homes. Jadi, konsep homestay adalah salah satu usaha pariwisata yang menggunakan rumah tinggal pribadi sebagai akomodasi bagi wisatawan untuk menginap. Pada akomodasi homestay umumnya wisatawan mendapatkan pelayanan kamar, makanan dan minuman. Konsep Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community based-touris. Community based-tourism (CBT) merupakan konsep pariwisata yang berbasis masyarakat, dalam CBT masyarakat diberdayakan untuk mengelola obyek wisatanya sendiri. Salah satu bentuk dari CBT adalah pengembangan desa wisata (Fildzah AAoinun N dkk. , 2. Definisi CBT menurut Garrod . , yaitu: . bentuk pariwisata yang memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengontrol dan terlibat dalam manajemen dan pembangunan pariwisata, . masyarakat yang tidak terlibat langsung dalam usaha-usaha pariwisata juga mendapat keuntungan, . menuntut pemberdayaan secara politis dan demokratisasi dan distribusi keuntungan kepada komunitas yang kurang beruntung di pedesaan. Dalam Tourism Forum International. Hausler . mendefinisikan CBT sebagai bentuk pariwisata yang memberikan kesempatan kepada masyarakat lokal untuk mengontrol dan terlibat dalam manajemen dan pengembangan pariwisata. Ada tiga elemen penting dalam CBT masih menurut Hausler . , yaitu . adanya keterlibatan masyarakat lokal dalam manajemen dan pengembangan pariwisata, . pemerataan akses ekonomi bagi seluruh lapisan masyarakat, dan Rustini (Pelayanan Tuan Rumah Homestay dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based-Touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogo. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 pemberdayaan kapasitas . apacity buildin. masyarakat lokal yang bertujuan meletakkan masyarakat lokal sebagai pengambil keputusan. Anstrand, 2006 . alam Suansri, 2003:. mendefinisikan CBT sebagai pariwisata yang memperhitungkan dan menempatkan keberlanjutan lingkungan, sosial dan budaya, diatur dan dimiliki oleh komunitas, untuk komunitas. Anstrand . mencoba melihat CBT bukan dari aspek ekonomi terlebih dahulu melainkan aspek pengembangan kapasitas komunitas dan lingkungan, sementara aspek ekonomi menjadi Aoinduced impactAo dari aspek sosial, budaya dan Suansri . menguatkan definisi CBT sebagai pariwisata yang memperhitungkan aspek keberlanjutan lingkungan, sosial dan budaya dalam komunitas. CBT merupakan alat bagi pembangunan komunitas dan konservasi lingkungan. Sementara itu, prinsip dasar CBT menurut UNEP dan WTO . adalah sebagai berikut. mengakui, mendukung dan mengembangkan ketuan rumahan komunitas dalam industri pariwisata, . mengikutsertakan anggota komunitas dalam memulai setiap aspek, . mengembangkan kebanggaan komunitas, . mengembangkan kualitas hidup komunitas, . menjamin keberlanjutan lingkungan, . mempertahankan keunikan karakter dan budaya di area lokal, . membantu berkembangnya pembelajaran tentang pertukaran budaya pada komunitas, . menghargai perbedaan budaya dan martabat manusia, . mendistribusikan keuntungan secara adil kepada anggota komunitas, dan . berperan dalam menentukan prosentase pendapatan . endistribusian pendapata. dalam proyek-proyek yang ada di komunitas. Pariwisata berbasis masyarakat di desa wisata menjadikan masyarakat lebih menjaga keaslian budaya dan alam di desanya agar dapat mempertahankan minat wisatawan dalam berwisata di desa wisata. Konsep yang digunakan dalam CBT erat sekali kaitannya dengan pemberdayaan, di mana masyarakat diberdayakan terlebih dahulu agar mampu mengembangkan potensinya sendiri, dengan pemberdayaan tersebut masyarakat dilatih untuk bisa menolong dirinya sendiri . elf-hel. , sehingga, pada pembangunan desa wisata, masyarakat dikembangkan dan diberdayakan untuk mampu mengelola desa wisatanya sendiri. Konsep Desa Wisata Definisi desa wisata menurut Nuryanti . adalah suatu bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara dan tradisi yang berlaku. Sebuah desa bisa disebut sebagai desa wisata jika desa tersebut memiliki potensi wisata yang dapat dikembangkan, tradisi dan kebudayaan yang menjadi ciri khas, aksesibilitas dan sarana prasarana yang mendukung program desa wisata, keamanan yang terjamin, ketertiban dan kebersihan yang terjaga. Selanjutnya, desa wisata merupakan suatu kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan baik dalam kehidupan sosial ekonomi, sosial budaya, adat istiadat, keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta memiliki potensi untuk dikembangkannya berbagai komponen kepariwisataan, misalnya atraksi, akomodasi, makananminuman, cindera-mata, dan kebutuhan wisata lainnya (Priasukmana & Mulyadin, 2. Keberadaan desa wisata dalam perjalanan pembangunan pariwisata di Indonesia sudah penting sekali. Desa wisata telah mampu mewarnai variasi destinasi yang lebih dinamis dalam suatu kawasan pariwisata, sehingga pariwisata tidak terus terjebak dalam tren pengembangan berpola mass tourism. Dengan adanya desa wisata, pariwisata membuktikan keberpihakannya kepada semangat pariwisata sebagai penyerap tenaga kerja pedesaan . ro jo. , sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi wilayah . ro growt. , dan sebagai alat pengentasan kemiskinan . ro Metodologi Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Berdasarkan hal tersebut, terdapat empat kata kunci yang perlu diperhatikan yaitu cara ilmiah, data, tujuan dan kegunaan. Sedangkan penelitian deskriptif kualitatif adalah berupa penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus (Sugiyono, 2. Rustini (Pelayanan Tuan Rumah Homestay dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based-Touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogo. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. Dalam penelitian ini, peneliti memilih menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif untuk menentukan cara mencari, mengumpulkan, mengolah dan menganalisis data hasil penelitian tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan memakai teknik pengambilan sampel Purposive Sampling. Teknik purposive sampling dilakukan dengan menarik atau mengambil sampel/informan penelitian dengan sengaja, yakni penentuan informan dengan syarat tertentu. Pada penelitian ini, informan yang diambil adalah tuan rumah homestay dan tamu/wisatawan yang pernah menginap di homestay di Kampung Lengkong. Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogor. Sumber data pada penelitian ini berasal dari sumber primer . uan rumah dan tamu homesta. Data sekunder diambil dari berbagai sumber tertulis. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Hasil dan Pembahasan Hasil Dalam penelitian ini, peneliti melalukan wawancara dengan dua narasumber, yaitu: Tuan rumah homestay (Yayan Rohaya. Tamu/wisatawan homestay (Heni Pridi. Indikator yang diberikan dalam tahap wawancara mengacu pada Dimensi Pelayanan (Zithaml dan Bitner, 1996:. , yaitu: Reliability . : kemampuan untuk memberikan jasa yang dijanjikan dengan akurat dan terpercaya termasuk di dalamnya ketepatan waktu, pelayanan yang sama bagi semua tamu, tingkat kesalahan minim dan hal lainnya. Assurance . aminan kepastia. : jaminan akan mendapatkan pelayanan secara benar dan tepat sehingga dapat menimbulkan rasa kepercayaan dan kenyamanan bagi pelanggan, di dalamnya termasuk pengetahuan, kepercayaan, kesopanan, keamanan . ompetence, credibility, courtesy, dan securit. Tangible . : bentukan penampilan dan kemampuan fasilitas, perlengkapan, peralatan, maupun sarana dan prasarana fisik yang dapat dihandalkan. Emphaty (Empat. : merupakan pemberian perhatian se cara khusus atau pribadi kepada para pelanggan dalam hal pemenuhan kebutuhan konsumen. Empati juga mencakup mengenai komunikasi . , kontak dan keberadaan . ase of contact and approachabilit. dan mengerti kebutuhan konsumen . nderstanding Responsiveness . : pemberian pelayanan yang cepat kepada pelanggan dan mengerti akan apa yang dibutuhkan, di dalamnya termasuk ketanggapan, kesadaran melayani dan hal lainnya. Hasil wawancara dapat dilihat dari Tabel 4. 1 berikut: Tabel 4. Dimensi Pelayanan No. Nama Dimensi Pelayanan Reliability/ Kehandalan Yayan Rohayan (Tuan Ruma. - pemberian jasa kurang akurat dan terpercaya Assurance/ Jaminan Kepastian - pelayanan Tangible/ Tampilan Empathy/ Empati Responsiveness/ Ketanggapan - fasilitas kurang lengkap - komunikasi kurang terjalin - pelayanan cepat Rustini (Pelayanan Tuan Rumah Homestay dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based-Touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogo. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. - ketepatan waktu baik - tidak memiliki pelayanan yang sama bagi semua - tingkat kesalahan minim secara benar dan tepat - kepercayaan - perlengkapan kurang lengkap - kesopanan - peralatan kurang lengkap - keamanan - sarana dan kurang baik - kebersihan - pengetahuan Heni Pridia (Tamu/ - pemberian jasa kurang akurat dan terpercaya - ketepatan waktu baik - tidak memiliki pelayanan yang sama bagi semua - tingkat kesalahan minim - pelayanan secara benar dan tepat - kepercayaan - kesopanan - fasilitas kurang lengkap - keamanan - sarana dan kurang baik - pengetahuan - kebersihan - perlengkapan kurang lengkap - peralatan kurang lengkap - kontak dan - kurang E-ISSN 2686-2042 - kurang mengerti kebutuhan tamu - ketanggapan melayani baik - kesadaran melayani baik - komunikasi kurang terjalin - pelayanan cepat - kontak dan - kurang mengerti kebutuhan tamu - kurang - kesadaran melayani baik 2 Pembahasan Berdasarkan informasi pada tabel di atas, dapat dikatakan bahwa: Untuk indikator Reliabilitas/Keandalan, baik tamu maupun tuan rumah memberikan penilaian kurang dalam indikator pemberian jasa yang akurat dan terpercaya serta pelayanan yang sama bagi semua tamu, sedangkan untuk indikator ketepatan waktu dan tingkat kesalahan pelayanan sudah baik. Untuk indikator Assurance/Jaminan Kepastian, antara tuan rumah dan tamu berbeda Menurut tuan rumah, indikator kepercayaan, kesopanan dan keamanan sudah baik sedangkan indikator pemberian pelayanan secara benar dan tepat serta pengetahuan tentang pelayanan masih kurang. Sementara itu dari sisi tamu, semua indikator masih kurang kecuali untuk kesopanan . Untuk indikator Tangible/Tampilan, baik tuan rumah maupun tamu memberikan penilaian kurang untuk indikator fasilitas, perlengkapan, peralatan, sarana dan prasarana. Namun, untuk indikator kebersihan, kedua pihak sepakat menilai sudah baik. Untuk indikator Empathy/Empati, baik tuan rumah maupun tamu memberikan penilaian kurang untuk semua indikator. Untuk indikator Responsiveness/Ketanggapan, untuk indikator pelayanan yang cepat dan Rustini (Pelayanan Tuan Rumah Homestay dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based-Touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogo. E-ISSN 2686-2042 Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. mengerti kebutuhan, baik tuan rumah maupun tamu memberikan penilaian kurang. Sementara itu, untuk indikator ketanggapan melayani dan kesadaran melayani kedua pihak menilai masih kurang. Selanjutnya, berdasarkan observasi/pengamatan peneliti di lapangan, terlihat bahwa indikator reliabilitas oleh tuan rumah cukup baik, indikator jaminan kepastian cukup baik, indikator tampilan masih kurang, indikator empati tuan rumah sudah baik, dan indikator ketanggapan cukup baik. Dari hasil wawancara dan observasi tersebut di atas, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa dimensi pelayanan tuan rumah homestay harus terus diberikan melalui pelatihan berkelanjutan agar tercipta pelayanan yang hospitalize . amah-tama. Pelayanan yang baik dari tuan rumah homestay akan sangat mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (CBT) di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogor. Penutup Kesimpulan Dari hasil penelitian di bab 4 di atas, dapat disimpulkan bahwa kualitas pelayanan . eliability, assurance, tangible, empathy dan responsivenes. tuan rumah homestay dalam mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (CBT) di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogor dinilai masih kurang, padahal kualitas pelayanan bagi wisatawan adalah sangat penting meskipun bukan berarti homestay itu harus memoles dirinya menjadi seperti hotel tetapi harus tetap memiliki kearifan lokal . ocal wisdo. Oleh karena itu, tuan rumah harus meningkatkan kualitas pelayanannya sambil terus mempertahanan kebersahajaannya supaya homestay bisa mendukung pengembangan pariwisata berbasis masyarakat/CBT dalam menjawab tren perilaku wisata yang mulai bergeser dari organized mass tourism menjadi wisata kelompok kecil . ini grou. di era pandemi ini. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang telah diperoleh, maka saran yang dapat diberikan yaitu sebagai berikut: Dimensi Reliabilitas/Reliabilty harus ditingkatkan, terutama untuk kualitas pemberian jasa yang akurat dan terpercaya serta pelayanan yang sama bagi semua tamu. Dimensi Jaminan Kepastian/Assurance harus ditingkatkan lagi, terutama untuk kualitas pelayanan harus diberikan secara benar dan tepat, kepercayaan, dan keamanan. Dimensi Tampilan/Tangible wajib ditingkatkan, yaitu untuk semua indikator kecuali kebersihan yang sudah cukup baik. Dimensi Empati/Empathy wajib ditingkatkan dalam semua indikator. Dimensi Ketanggapan/Responsiveness harus ditingkatkan, terutama dalam indikator pelayanan yang cepat dan memahami akan kebutuhan tamu. Standarisasi pelayanan homestay dengan lima dimensi di atas harus terus diberikan melalui pelatihan berkelanjutan agar tercipta standar homestay yang sesuai dengan standar dari Kemenparekraf. Perangkat desa dan masyarakat Desa Wisata Wates Jaya diharapkan terus memberikan dukungannya agar kriteria Desa Wisata naik dari kriteria berkembang menjadi maju. Rustini (Pelayanan Tuan Rumah Homestay dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based-Touris. di Desa Wisata Wates Jaya. Kabupaten Bogo. Destinesia: Jurnal Hospitaliti dan Pariwisata Vol. No. September 2021, pp. E-ISSN 2686-2042 Referensi