Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Manna Rafflesia Article History: Submitted : 13/06/2025 Reviewed : 25/09/2025 Accepted : 15/10/2025 Published : 31/10/2025 ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu KEPEMIMPINAN KRISTEN DAN NILAI-NILAI HAK ASASI MANUSIA SEBAGAI STRATEGI TEOLOGIS DALAM MENANGKAL RADIKALISME Elisa Nimbo Sumual1*. Yohana Fajar Rahayu2. Samuel Rudy Angkow3 1,3Sekolah Tinggi Alkitab Batu, 2Sekolah Tinggi Teologi Nusantara Salatiga *)Email Correspondence: esumual@yahoo. Abstract: Radicalism developing within religious educational institutions poses a serious threat and challenge to social life and harmony. Religious institutions, which should serve as spaces for character building and spirituality, have the potential to become fertile ground for the spread of extremist ideologies and hatred. The failure to integrate universal human values and theology that respects others is one of the main causes of the weakness of religious Moreover, the phenomenon of increasing intolerance among the younger religious generation shows a crisis in moral leadership and education based on religious This study aims to examine the strategic role of Christian leadership and human rights education as a theological approach to countering radicalism in religious educational Using a descriptive qualitative method based on literature review, it can be concluded that the role of Christian leadership theology as the foundation of anti-radicalism and human rights education from a Christian theological perspective are interdependent elements that must be integrated, encompassing both Christian leadership and human rights This serves as a preventive theological strategy, thereby presenting both the value of implementation and the challenges of theological strategy within religious educational Keywords: Christian Leadership. Education. Human Rights. Radicalism. Theology Abstraksi: Radikalisme yang berkembang di tengah lembaga pendidikan keagamaan menjadi bom waktu dan tantangan serius bagi kehidupan masyarakat sosial dan kerukunan. Institusi keagamaan yang semestinya menjadi ruang pembentukan karakter dan spiritualitas justru berpotensi menjadi lahan subur bagi penyebaran paham kejahatan dan kedengkian dengan fanatik yang Kegagalan dalam mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan yang umum dan teologi menghormati sesama menjadi salah satu penyebab utama lemahnya organisasi keagamaan. Terlebih adanya fenomena meningkatnya intoleransi di kalangan generasi muda keagamaan memperlihatkan adanya krisis dalam kepemimpinan moral dan pendidikan yang berbasis nilainilai ajaran agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran strategis kepemimpinan Kristen dan pendidikan hak asasi manusia sebagai pendekatan teologis dalam menangkal radikalisme di lembaga pendidikan keagamaan. Menggunakan metode kualitatif deskriptif berbasis studi pustaka maka dapat disimpulkan bahwa peran dari teologi kepemimpinan Kristen sebagai fondasi anti-radikalisme dan juga pendidikan hak asasi manusia dalam perspektif teologi Kristen, merupakan bagian yang harus bersinergi yang memuat unsur kepemimpinan Kristen dan pendidikan hak asasi manusia. Hal itu sebagai strategi teologis preventif sehingga ada nilai implementasi dan tantangan strategi teologis di lembaga pendidikan keagamaan. Kata kunci: Kepemimpinan Kristen. Hak Azasi manusia. Radikalisme. Teologi Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 175 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Kepemimpinan Kristen sejati berakar pada nilai alkitabiah dalam dasar nilai kasih, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia sebagai gambar dan rupa Allah, sehingga secara esensial menjunjung tinggi nilai-nilai Hak Asasi Manusia. Namun, realitas global menunjukkan bahwa radikalisme, baik dalam bentuk ideologi, agama, maupun politik, sering kali mengancam dan HAM Oleh kepemimpinan Kristen dipanggil untuk menjadi suara profetis yang menegakkan terhadap segala bentuk radikalisme yang menggerus nilai-nilai kemuliaan Allah dalam diri manusia. Radikalisme terhadap keagamaan dewasa ini menjadi salah satu tantangan besar yang perdamaian antarumat beragama, dan stabilitas ideologis bangsa. Sebab sejatinya faham radikalisme sering dikaitkan dengan fundamentalisme, di mana individu kembali ke prinsip inti Hal menyebabkan konflik ketika keyakinan semacam itu dianggap mengancam norma sosial. Bahkan faham radikalisme sering berasal dari ideologi yang menyimpang dari ajaran agama. Seperti yang dinyatakan oleh Hidayat juga bahwa ada persoalan lain yang juga dapat menjadi pemicu faham ini yaitu keterbatasan ekonomi dan tingkat pendidikan yang rendah merupakan Faktor-faktor ini dapat mengarahkan individu untuk mencari Yuminah Rahmatullah. AuRadicalism. Jihad and Terror,Ay Al-Albab 6, no. 2 (December 1, 2. : 157, https://doi. org/10. 24260/alalbab. Rahmat Hidayat. AuRadicalism in Religion: Causes. Consequences, and Countermeasures,Ay Jurnal Ar RoAois Mandalika (Armad. 4, no. 2 (May 28, 2. : 93Ae104, https://doi. org/10. 59613/armada. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 ideologi alternatif yang menjanjikan perubahan dan perbaikan dalam keadaan 3 Kekekrasan terhadap sesama dan kepada pemerintahan menjadi fenomena yang tidak hanya tumbuh subur di ruang-ruang publik dan media sosial, tetapi juga mulai menyusup ke lembaga-lembaga pendidikan, termasuk lembaga pendidikan keagamaan yang seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter damai dan spiritualitas yang Data dari berbagai sumber berita portal Nasional, faham ini melahirkan peningkatan narasi-narasi intoleran dan ekstrem di kalangan generasi muda, yang ironisnya banyak bersumber dari institusi yang berbasis keagamaan. Bahkan pengaruh kuat dari platform digital yaitu media sosial memainkan peran penting dalam menyediakan informasi kepada publik mengenai berbagai isu, sehingga publik dapat terpropaganda oleh isu-isu radikal yang disebarkan melalui media. Fakta ini dibuktikan oleh sejumlah kelompok teroris yang menggunakan media sosial membangun situs khusus sebagai media Radikalisme merupakan sebuah paham atau aliran yang mendorong terjadinya perubahan secara cepat dan drastis, bahkan sering kali disertai dengan tindakan kekerasan. Dalam konteks sejarah Indonesia, fenomena radikalisme kerap menampilkan identitas kelompok mengatasnamakan Islam. Catatan sejarah menunjukkan bahwa sejumlah organisasi yang mengklaim berlandaskan Islam pernah terlibat dalam berbagai aksi kekerasan yang berorientasi pada gerakan radikal di Indonesia. Sejumlah Hidayat. Imam Fauzi Ghifari. AuRadikalisme Di Internet,Ay Religious: Jurnal Studi Agama-Agama Dan Lintas Budaya, 2017, https://doi. org/10. 15575/rjsalb. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 176 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf aksi terorisme di Indonesia menunjukkan keterkaitan erat dengan jaringan-jaringan radikal tertentu. Peristiwa besar seperti Bom Bali I. Bom Gereja Serentak pada Malam Natal. Bom Kedutaan Besar Australia, hingga Bom Bali II pada tahun 2005 tercatat sebagai bagian dari aksi jaringan Jamaah Islamiyah (JI). Selanjutnya, bom di Hotel JW Marriot dan Ritz Carlton pada tahun 2009 juga dilakukan oleh kelompok yang sama. Gelombang teror berlanjut dengan Bom Thamrin pada tahun 2016 yang dilancarkan oleh Jamaah Ansharut Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan ISIS, disusul dengan Bom Mapolres Surakarta pada tahun yang sama oleh kelompok JAD. Tahun 2017. Bom Kampung Melayu mengguncang Jakarta dengan aktor pelaku berasal dari jaringan JAD. Sementara itu, di Sulawesi Tengah, kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) terlibat dalam serangkaian aksi penyerangan dan pengeboman. Pada tahun 2018. Bom Gereja Surabaya menjadi salah satu tragedi besar yang juga dilakukan oleh jaringan JAD. Lebih lanjut, pada tahun 2021. Bom Katedral Makassar keterlibatan jaringan JAD dalam aksi terorisme di Indonesia. 5 Seperti yang dinyatakan oleh Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempua. tidak membiarkan terulangnya peristiwa intoleransi yang tidak menghormati hak asasi manusia di berbagai wilayah Indonesia. Sepanjang tahun 2025, lembaga ini tidak menutup mata terhadap sedikitnya delapan kasus intoleransi, termasuk insiden di Padang. Sumatera Barat. Dalam catatannya. Komnas Perempuan menegaskan bahwa perempuan dan anak tidak luput dari dampak negatif pelanggaran kebebasan Susanto Jumaidi and Nibras Nada Nailufar. AuAksi-Aksi Radikaslime Mengatasnamakan Islam Di Indonesia,Ay Kompas. com, 2023, https://w. com/stori/read/2023/07/19/ 021500779/aksi-aksi-radikaslimemengatasnamakan-islam-di-indonesia?page=2. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 beragama dan tidak jarang menjadi korban utama trauma berkelanjutan akibat tindakan intoleran seperti persekusi terhadap jemaat GKSI di Padang pada 27 Juli 2025. Di tengah krisis ini, kekristenan sebagai agama yang menjunjung tinggi nilai kekristenan dan martabat manusia terpanggil untuk memperkuat perannya dalam menghadirkan strategi-strategi teologis yang dapat meredam arus Yaitu mengaktualisasikan peran pendidikan agama Kristen dalam memerangi radikalisme dengan mempromosikan nilai-nilai universal seperti cinta, perdamaian, dan rasa hormat kepada sesama dalam nilai kemanusiaan. Dimana pendekatan pendidikan ini membantu mengembangkan pemahaman mendalam tentang ajaran Kristen yang menekankan pengampunan, pengertian, dan toleransi7 Dan juga gereja mampu membangun pendekatan strategis yang sangat relevan yaitu dengan melalui penguatan kepemimpinan Kristen yang teosentris dan pendidikan hak asasi manusia (HAM) yang berbasis nilai-nilai Injili. Dan juga memberikan pemahaman pada kepemimpinan Kristen yang bertumpu pada keteladanan Kristus bukan hanya berfungsi sebagai pengarah kebijakan, tetapi juga sebagai pemikul nilai, pembentuk karakter, dan penjaga Bila melihat kembali adanya Sonya Hellen Sinombor. AuIntoleransi Berulang. Perempuan Dan Anak Jadi Korban Utama Kasus Intoleransi Di Beberapa Daerah Menambah Potret Surat Praktik Intoleransi Di Indonesia. Langkah Serius Pemerintah Sangat Dinantikan. ,Ay Kompas. id, 2025, https://w. id/artikel/kasus-intoleransiberulang-perempuan-dan-anak-jadi-korbanutama. Jefrit Johanis Messakh and Esti Regina Boiliu. AuPeran Pendidikan Agama Kristen Dalam Memerangi Radikalisme Dan Ekstremisme: Menumbuhkan Cinta. Perdamaian. Dan Rasa Hormat,Ay MAWAR SARON: Jurnal Pendidikan Kristen Dan Gereja 6, no. (November 6, 2. : 81Ae99, https://doi. org/10. 62240/msj. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 177 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf konflik antara nilai-nilai teologis dan penetrasi ideologi radikal sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah gereja maupun pendidikan Kristen. Namun tantangan saat ini semakin kompleks karena berhadapan dengan era digital ideologi ekstrem secara masif dan cepat, terutama melalui media sosial yang menjadi konsumsi utama generasi muda. Internet merupakan media yang dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, termasuk kelompok radikal yang memanfaatkannya sebagai sarana untuk memperluas jaringan dan merekrut anggota di berbagai belahan dunia. Melalui internet, propaganda dapat dengan mudah disebarkan guna menarik simpati dan dukungan. Namun, seperti yang telah diketahui bersama, paham radikalisme sangat berbahaya karena ideologi ekstrem yang dianut. Oleh karena itu, berbagai negara di dunia telah mengambil langkah pencegahan dengan melakukan tindakan resistensi, seperti memblokir akun-akun media sosial milik kelompok radikal, guna menghambat penyebaran dan pertumbuhan pengaruh 8 Bahkan tidak dipungkiri perkembangan teknologi internet di satu sisi menghadirkan kemajuan besar bagi kehidupan manusia, namun di sisi lain juga menimbulkan dampak negatif yang serius bagi peradaban. Salah satu ancaman berbahaya muncul ketika internet dimanfaatkan oleh kelompok radikal dan teroris. Bagi kelompok tersebut, internet berfungsi sebagai sarana strategis untuk menyebarkan sekaligus melakukan perekrutan anggota Fenomena cyberterrorism pun menjadi realitas yang telah lama mewarnai dinamika sosial global. 9 Oleh Rohimi. AuTERORISME DI MEDIA SOSIAL: TINJAUAN AKSI DAN RESISTENSI PREVENTIF,Ay JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat. Teologi Dan Humaniora, 2023, https://doi. org/10. 37567/jif. AuMelawan Radikalisme Melalui Kontra Narasi Online,Ay Journal of Terrorism P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 karena itu, integrasi antara teologi kepemimpinan dan HAM menjadi semakin mendesak sebagai bentuk tanggapan konkret terhadap tantangan Maka itu adanya kepemimpinan radikalisme dan terorisme, harus menjadi perhatian bersama, 10 dalam kepemimpinan Kristen dan pendidikan hak asasi manusia tidak boleh dilihat sebagai dua entitas terpisah, melainkan sebagai kesatuan strategis yang saling identitas iman yang dialogis dan Kajian-kajian terdahulu telah menyingkap kepemimpinan Kristen dan pendidikan hak asasi manusia sebagai strategi teologis dalam menangkal radikalisme di lembaga pendidikan Merensiana Hale dalam penelitiannya membahas bahwa faham dan aktualisasi dari radikalisme merupakan paham ekstrem yang mengancam keutuhan kekerasan, intoleransi, dan ideologi yang merusak tatanan sosial-politik, bahkan sering dikaitkan dengan terorisme. Untuk merespons bahaya tersebut dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultural, pendidikan multikultural menjadi sangat penting sebagai sarana penghargaan terhadap perbedaan, dan resolusi konflik tanpa kekerasan. Pendidikan multikultural tidak hanya membentuk peserta didik untuk hidup harmonis dalam keberagaman, tetapi juga menjadi strategi preventif dalam Studies, 2019, https://doi. org/10. 7454/jts. Doly Andhika Putra and Andriyas Rulloh. AuMODEL KEPEMIMPINAN STRATEGIS DALAM MENGHADAPI RADIKALISME DAN TERORISME,Ay MARAS: Jurnal Penelitian Multidisiplin, 2023, https://doi. org/10. 60126/maras. Merensiana Hale. AuMengantisipasi Bahaya Radikalisme Melalui Pendidikan Multikultural Dalam Keluarga,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika 5, no. : 193Ae211. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 178 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf membangun masyarakat yang damai dan Berbagai seperti yang dinyatakan oleh Yonatan Alex Arifianto . Elisa Nimbo Sumual dan Yohana Fajar Rahayu yang menarasikan gembala sidang sebagai pembela kemanusiaan dalam peran etis teologis kristen dalam menanggapi isu HAM dan tanggung jawab sosial. Arifianto dkk membahas bahwa gembala dalam tradisi Kristen memiliki peran strategis sebagai pemimpin moral dan agen perubahan sosial yang bertanggung jawab membela hak asasi manusia melalui teladan hidup, pelayanan yang rendah hati, dan pengajaran alkitabiah yang menekankan keadilan, kasih, dan Dengan Yesus sebagai Gembala yang baik, gembala masa kini dipanggil untuk mengintegrasikan ajaran iman dengan isu-isu sosial kontemporer, serta mendorong jemaat untuk terlibat aktif ketidakadilan dan penindasan di Meskipun berbagai penelitian telah menyoroti pentingnya pendidikan multikultural dan peran gembala sebagai pembela HAM, namun belum ada kajian yang secara integratif menghubungkan kepemimpinan Kristen dan pendidikan HAM sebagai strategi teologis dalam menangkal radikalisme di lembaga pendidikan keagamaan. Oleh karena itu dalam peneliti menarasikan dan mengkajinya. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskritif,13 dengan Yonatan Alex Arifianto. Elisa Nimbo Sumual, and Yohana Fajar Rahayu. AuGembala Sidang Sebagai Pembela Kemanusiaan: Peran Etis Teologis Kristen Dalam Menanggapi Isu HAM Dan Tanggung Jawab Sosial,Ay ELEOS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen 4, no. : 111Ae20. Sugiyono. Methode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Dari R&D. (Bandung: Alfabeta, 2. , 89. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 pendekatan studi pustaka . ibrary researc. yang bertujuan untuk menggali secara mendalam konsep teologis mengenai kepemimpinan Kristen dan pendidikan hak asasi manusia (HAM) sebagai strategi dalam menangkal radikalisme di lembaga pendidikan Sumber penelitian ini terdiri dari literatur primer seperti Alkitab, serta literatur sekunder berupa jurnal ilmiah, buku akademik, laporan riset, dan kebijakan pendidikan yang relevan dengan isu radikalisme dan HAM. Langkah penelitian ini dimulai dari menarasikan peran dari teologi kepemimpinan kristen sebagai fondasi anti-radikalisme pendidikan hak asasi manusia dalam perspektif teologi Kristen. Peneliti menganalisis berbagai sumber literatur dengan melakukan proses kategorisasi dan interpretasi terhadap temuan-temuan yang berkaitan dengan radikalisme dalam konteks pendidikan dan teologi. Setiap data yang diperoleh kemudian dinarasikan secara sistematis dengan mengaitkan antara konsep teologis kepemimpinan Kristen, nilai-nilai HAM, serta tantangan radikalisme di era digital untuk menghasilkan pemahaman yang komprehensif dan kontekstual. Dan hal itu dinarasikan sebagai bagian dari sinergi kepemimpinan kristen dan pendidikan ham sebagai strategi teologis Sehingga gereja perlu strategi teologis di lembaga pendidikan HASIL Hasil penelitian menunjukkan bahwa teologi kepemimpinan Kristen memiliki peran fundamental dalam membangun paradigma anti-radikalisme yang berakar pada nilai-nilai kasih, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai Imago Dei. Kepemimpinan Kristen terbukti mampu menjadi benteng moral dan spiritual penyebaran ideologi radikal, terutama Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 179 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf melalui pendidikan keagamaan yang nilai-nilai perdamaian, dan keadilan sosial. Sinergi antara kepemimpinan Kristen dan pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) menciptakan strategi teologis preventif yang relevan dalam membentuk karakter pemimpin dan peserta didik agar memiliki daya tangkal terhadap paham Dalam konteks era digital, pentingnya pemimpin Kristen untuk menggunakan media sosial secara bijaksana sebagai sarana edukasi dan rekonsiliasi, bukan sebagai ruang konflik dan provokasi. Dengan demikian, diharapkan menjadi pusat formasi iman yang transformatif, yang menumbuhkan kesadaran teologis, moral, dan sosial untuk mewujudkan perdamaian sejati di tengah masyarakat yang plural. PEMBAHASAN Teologi Kepemimpinan Kristen sebagai Fondasi Anti-Radikalisme Teologi kepemimpinan Kristen berakar pada teladan Yesus Kristus yang mewujudkan kepemimpinan sebagai pelayanan, bukan dominasi kekuasaan untuk memerintah yang menyalahi HAM. Namun pemimpin Kristen membimbing jemaat mereka untuk melawan ideologi radikal dengan menumbuhkan rasa komunitas dan Mereka jawab untuk memberikan bimbingan dan mendorong keterlibatan jemaat dalam gerakan nasionalistik, yang membantu menjaga integritas negara terhadap ancaman radikal. 14 Ini bukan sekedar retorika namun harus diaktualisasikan dengan tindakan mereka menguntungkan semua orang dalam keadilan dan P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 melawan ideologi radikal. 15 Maka itu pemimpin Kristen dipanggil untuk menolak segala bentuk kekerasan dan penindasan kepada sesama manusia, serta dituntut untuk membangun kehidupan bersama yang damai dan adil melalui pengajaran alkitabiah yang mencerminkan nilai-nilai Injil seperti kasih . Kor 13:. , keadilan (Mik 6:. , dan pengampunan (Kol 3:. Dengan demikian, kepemimpinan Kristen bukan hanya bersifat internal gerejawi, tetapi juga memiliki misi sosial yang masyarakat secara menyeluruh. Radikalisme yang mengakar dalam kekerasan ideologis, penindasan kelompok berbeda, serta pemaksaan kebenaran tunggal, bertentangan secara diametral dengan esensi kepemimpinan Kristiani yang menolak kekerasan dan menegaskan penghargaan terhadap martabat setiap individu. Sebab gereja sebagai bagian dari kehidupan manusia memiliki panggilan untuk keluar dari kegelapan dan menjadi terang, sekaligus menjalankan mandat ilahi di tengah dunia yang terus bergerak menuju penggenapan nubuat akhir zaman. Fenomena seperti memudarnya kasih dan meningkatnya sikap individualistis manusia menjadi tanda yang nyata. Dalam konteks penelitian ini, gereja dituntut untuk mengambil peran aktif radikalisme dengan meneladani ajaran serta keteladanan Yesus Kristus dan para Rasul. Dengan demikian, gereja dapat menghadirkan semangat kerukunan dan kedamaian sebagai wujud nyata dari misinya di tengah masyarakat. 16 Oleh sebab itu gereja dan kepemimpinan Kristen membutuhkan pemimpin yang Gabriel Bala. AuTakut Akan Tuhan Sebagai Awal Kebijaksanaan,Ay Felicitas 3, no. (December 18, 2. : 105Ae16, https://doi. org/10. 57079/feli. Yohana Fajar Rahayu. Karyo Utomo, and Yonatan Alex Arifianto. AuGereja Menyikapi Radikalisme Di Era Disruptif,Ay Jurnal EFATA: Jurnal Teologi Dan Pelayanan, 2023, https://doi. org/10. 47543/efata. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 180 Novi Saria Harita and David Eko Setiawan. AuPeranan Pemimpin Gereja Bagi Jemaat Dalam Menjaga Keutuhan NKRI Dari Ancaman Radikalisme,Ay KINAA: Jurnal Kepemimpinan Kristen Dan Pemberdayaan Jemaat 3, no. 1 (June 26, 2. : 1Ae13, https://doi. org/10. 34307/kinaa. Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf menjalankan perannya sebagai gembala yang menjaga kawanan jemaat agar tidak Dan tentunya juga dapat membina dalam kasih serta gembala dapat menghadirkan kedamaian di tengah konflik. Dalam konteks lembaga pendidikan keagamaan, peran ini menjadi vital, sebab pemimpin tidak hanya berfungsi sebagai pengambil keputusan administratif, tetapi juga pembentuk atmosfer edukatif yang mencerminkan nilai-nilai Injili. nilai-nilai toleransi, dan penghargaan terhadap perbedaan, sehingga menutup ruang bagi tumbuhnya benih-benih radikalisme. Dalam menghadapi tantangan radikalisme yang merusak tatanan sosial dan kemanusiaan, teologi kepemimpinan Kristen menjadi fondasi kuat untuk membangun narasi yang menekankan penghargaan terhadap martabat manusia sebagai gambar Allah atau Imago Dei yang secara jelas dinyatakan dalam Kejadian 1:27. Sehingga dasar ini dapat menjadi pijakan pada pemimpin gereja tanggung jawab untuk membina warga jemaat di tingkat lokal, membangkitkan kepedulian melalui pelayanan diakonia, serta mendorong 17 Terlebih menguatkan nilai pendidikan agama yang inklusif dan pemberdayaan masyarakat yang dapat mengurangi potensi konflik dan 18 Sehingga pemimpin Kristen dituntut untuk tidak hanya bersikap kebenaran, keadilan, dan perdamaian sebagai bagian dari panggilan suci mereka dari Allah seperti yang Yesaya 1:17. Harita and Setiawan. AuPeranan Pemimpin Gereja Bagi Jemaat Dalam Menjaga Keutuhan NKRI Dari Ancaman Radikalisme. Ay Fatmawati Fatmawati Hilal. AuTransformasi Gerakan Radikalisme Menuju Moderasi Beragama,Ay KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Dan Keagamaan, 2023, https://doi. org/10. 35905/kur. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Pendidikan keagamaan yang dipimpin oleh tokoh Kristen harus mengakar pada nilai-nilai injili tersebut dan menjadi ruang pembinaan karakter yang toleran anti-kekerasan. Dengan berlandaskan teologi kepemimpinan Kristen mampu menjadi benteng terhadap radikalisme dan Teologi Kepemimpinan Kristen dalam era digital dewasa ini menegaskan bahwa setiap pemimpin dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia, termasuk di ruang maya yang kini menjadi arena pengaruh ideologis yang Di tengah derasnya arus informasi dan potensi penyebaran paham radikal kepemimpinan Kristen berfungsi sebagai fondasi moral dan spiritual yang menuntun pemimpin untuk menegakkan nilai injil dan kebenaran. 19 Nilai-nilai Injil seperti kasih terhadap sesama, penghargaan terhadap martabat manusia, serta komitmen terhadap perdamaian menjadi dasar dalam membangun budaya digital yang sehat dan bebas dari Pemimpin Kristen harus mampu menggunakan teknologi bukan sebagai alat propaganda, tetapi sebagai sarana pelayanan,20 pendidikan, dan Dengan demikian, teologi kepemimpinan Kristen menjadi benteng anti-radikalisme kontekstual, dan mampu menghadirkan transformasi di tengah dunia digital yang Pendidikan Hak Asasi Manusia dalam Perspektif Teologi Kristen Wahju Astjarjo Rini. Nusriwan Chrismanto Soinbala, and Yonatan Alex Arifianto. AuEfektivitas Kepemimpinan Kristen Yang Berintegritas : Sebuah Perspektif EtisTeologis,Ay Jurnal Teruna Bakit 7, no. 39Ae49. Daniel Ronda. AuKepemimpinan Kristen Di Era Disrupsi Teknologi,Ay Evangelikal: Jurnal Teologi Injili Dan Pembinaan Warga Jemaat 3, no. : 1Ae8. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 181 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Martabat diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago De. menjadi dasar dalam penghormatan terhadap manusia. Sebab dalam teologi kerajaan Allah dan perjanjian memberikan dasar dasar bagi etika Kristen tentang hak asasi manusia. Ia berpendapat bahwa konsep-konsep ini mendesak umat Kristen dan gerejagereja untuk mengadvokasi pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia Perspektif ini mendorong orang Kristen untuk bertindak secara bertanggung jawab sebagai agen moral, memelihara etos hak asasi manusia yang selaras dengan panggilan mereka untuk mencari keadilan, perdamaian, dan 21 Tidak dipungkiri bahwa pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) berakar pada keyakinan bahwa setiap manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Imago De. sebagaimana dinyatakan dalam Kejadian 1:27. Hal ini menegaskan bahwa setiap individu memiliki martabat, nilai, dan hak yang tidak dapat diganggu gugat. Pendidikan HAM dalam kerangka ini bukan hanya bersifat legal atau formal, tetapi merupakan panggilan iman untuk menghormati dan membela kehidupan manusia sebagai ciptaan Allah. mana dalam praktiknya, pendidikan HAM berbasis teologi Kristen harus diarahkan untuk membentuk karakter yang menjunjung tinggi keadilan dan perdamaian, serta mendorong partisipasi warga gereja dan kepemimpinan Kristen aktif dalam membela hak-hak orang lain. Pernyatan pembelaan terhadap Hak asasi manusia juga dinyatakan oleh rasul Paulus yang mengingatkan di dalam Galatia 5:13 bahwa kemerdekaan yang diberikan Allah harus digunakan untuk melayani satu sama lain dalam kasih, bukan untuk kepentingan egois. Koos Vorster. AuKingdom. Covenant, and Human Rights,Ay In Die Skriflig/In Luce Verbi 51, no. 2 (February 28, 2. , https://doi. org/10. 4102/ids. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Oleh karena itu, pendidikan HAM dalam terang iman Kristen tidak hanya berbicara tentang hak, tetapi juga menciptakan masyarakat yang hidup dalam damai. Sebab warga gereja dan para pemimpin Kristen ini sebagai citra Allah atau imago dei harus mengakui dan menghargai hak asasi. 22 Sebab Alkitab menempatkan martabat manusia pada posisi yang sangat tinggi, dengan kebebasan hidup setiap individu. Dengan demikian, pendidikan HAM menjadi bagian integral dari pelayanan mewujudkan kerajaan Allah di tengah dunia yang masih dipenuhi ketidakadilan dan penindasan. Namun tetap membela hak sesama manusia sejatinya ini adalah tindakan iman, bukan hanya kewajiban Penerapan pendidikan HAM harus diarahkan pada pengembangan pemahaman yang menyeluruh tentang martabat manusia, bukan semata-mata dari segi landasan hukum dunia saja, tetapi melalui pendekatan nilai teologis kekristenan yang mendalam. Sebab pendidikan HAM dalam bingkai teologi Kristen memberikan ruang untuk menumbuhkan sikap kritis terhadap ajaran atau tafsiran keagamaan yang cenderung merasa superioritas dan merasa benar. Bahkan pemahaman itu merujuk pada sikap intoleran, dan merendahkan pihak lain. Ini harus direduksi dengan pemahaman yang Yuhananik Yuhananik. AuImplikasi Kemerdekaan Dalam Roh Terhadap Kebebasan Asasi Kristiani Di Era Digital,Ay Ritornera Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia 2, no. : 85, https://doi. org/10. 54403/rjtpi. Herowati Sitorus. AuPemahaman Generasi Millenial Terhadap Hak Asasi Manusia: Studi Hak Asasi Manusia Menurut Alkitab,Ay Jurnal Christian Humaniora 4, no. : 93Ae103, https://doi. org/10. 46965/jch. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 182 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf benar dalam persepktif teologi Kristen. Dengan pendekatan ini, warga gereja dan kepemimpinan Kristen dibekali bukan hanya dengan pengetahuan, tetapi juga dengan kepekaan nurani yang menolak segala bentuk kekerasan ideologis dan struktural. Di tengah meningkatnya pengaruh radikalisme di dunia segala lini kehidupan. Sinergi Kepemimpinan Kristen dan Pendidikan HAM sebagai Strategi Teologis Preventif Kepemimpinan Kristen menyediakan dasar moral dan spiritual yang kuat, yaitu keteladanan hidup yang berakar nilai alkitabiah yang kekal sebagaimana diteladankan oleh Yesus Kristus. Hal ini diharapkan menjadi pedoman bagi para pemimpin Kristen masa kini, baik dalam kapasitas pribadi maupun dalam menjalankan peran kepemimpinannya, sekaligus menjadi rujukan bagi seluruh umat Tuhan yang spiritualitas dan memperkuat karakter 24 Namun bukan hanya nilai kerohanian saja yang dinyatakan, di sisi lain,ada relasi dan sinegisitas yang kuat antara gereja dan pendidikan HAM. Sebab hal ini memberikan kerangka normatif yang rasional dan sistematis untuk mengenali serta menolak setiap bentuk ideologi kekerasan, diskriminasi, dan pelanggaran martabat manusia yang dapat menimbulkan konflik kepentingan atau pertikaian. Permasalahan di atas harus direduksi oleh kepemimpinan Kristen untuk membangun teologi preventif atau pencegahan supaya keragaman di Indonesia yang merupakan kekayaan sosial yang penting untuk menopang kehidupan demokratis dapat terjaga, walaupun hal itu sekaligus menjadi tantangan karena berpotensi Marnaek Nainggolan and Happy Fasigita Paradesha. AuTeladan Spiritualitas Figur Nuh: Standar Kehidupan Rohani Bagi Pemimpin Kristen Masa Kini,Ay EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership 3, no. : 191Ae204, https://doi. org/10. 47530/edulead. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 menimbulkan perpecahan jika tidak dikelola dengan bijak. 25 Terlebih adanya mendapat tantangan dari kelompokkelompok radikal, baik yang berlatar agama maupun etnis. Konflik yang muncul akibat perbedaan ini, baik dalam menyeluruh, mencakup hubungan antara masyarakat dan negara . maupun antar kelompok masyarakat . Dalam konflik keagamaan, intoleransi menjadi faktor utama yang memicu gesekan, sedangkan konflik etnis seringkali dipicu oleh ketimpangan ekonomi dan penyalahgunaan unsur 26 Maka itu sinergi antara kepemimpinan Kristen dan pendidikan Hak Asasi Manusia (HAM) menawarkan pendekatan strategis yang komprehensif radikalisme di lembaga pendidikan Strategi ini tidak bersifat sektoral atau terpisah, melainkan berangkat dari integrasi nilai-nilai teologis yang mendalam dan pendekatan pedagogis yang reflektif. Dalam kepemimpinan Kristen dan pendiidkan HAM dapat diterapkan melalui pelatihan dan pembinaan para pemimpin dan pendidik di gereja agar memiliki pemahaman yang integral mengenai spiritualitas Kristen dan nilai-nilai HAM. Sehingga spiritualitas Kristen dapat menyentuh segmen umat dalam lingkup gereja, keluarga dan sekolah untuk terus membentuk warganya supaya memiliki spiritualitas Kristen penghrmatan terhadap HAM. 27 Dan Rojabi Azharghany. AuPerdamaian Dan Multikulturalisme Di Indonesia (Strategi Dakwah Multikulturalisme Dalam Pertentangan Laten Radikalisme Dan Bias Konfli. ,Ay Jurnal Kopis: Kajian Penelitian Dan Pemikiran Komunikasi Penyiaran Islam, 2019, https://doi. org/10. 33367/kpi. Azharghany. Sujatmoko. Yehuda Indra Gunawan, and Andri Andri. AuSpiritualitas Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 183 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf pelatihan tersebut harus menekankan pembentukan karakter pemimpin yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan teologis terhadap isu-isu keadilan, perdamaian, dan hak-hak manusia yang dihilangkan secara paksa oleh radikalisme. Dengan demikian, kepemimpinan di lembaga pendidikan tidak akan terjebak dalam normatif saja, tetapi akan menjadi kekuatan moral dan transformasional Akhirnya, sinergi ini diwujudkan dalam pembentukan komunitas pendidikan dalam lembaga pendidikan keagamaan dipanggil untuk menjadi ruang yang aman dari kekerasan simbolik maupun fisik yang didasari dari sentimen radikalisme dan penghilangan HAM, serta menjadi wahana pembentukan identitas keagamaan yang sehat dan Dalam kepemimpinan Kristen dan pendidikan HAM inilah strategi teologis preventif diaktualisasikan secara nyata dan Implementasi dan Tantangan Strategi Teologis di Lembaga Pendidikan Keagamaan Radikalisme keagamaan dituntut untuk menjadi agen pembaruan moral dan sosial yang mampu merespons tantangan zaman. Sebab menafsirkan ayat-ayat Alkitab dan para pendidik yang memberikan pendidikan agama Kristen tidak sesuai dengan ajaran Alkitab, atau juga dapat disebabkan oleh orang-orang Kristen yang memiliki kepentingan dengan Kristen Sebagai Dasar Implementasi HAM Bagi Kaum Marginal,Ay PROSIDING PELITA BANGSA, 2021, https://doi. org/10. 30995/ppb. Y K Zega. AuRadikalisme Agama Dalam Perspektif Alkitab Dan Implikasinya Bagi P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Terlebih dihadapkan pada berbagai hambatan, seperti pengaruh ideologi radikal, budaya intoleransi. Oleh karena itu, implementasi strategi teologis yang kontekstual dan transformatif menjadi sangat penting untuk menanamkan nilainilai menghargai manusia secara efektif dalam dunia pendidikan keagamaan. Maka itu pengimpletasian terkait kerohanian orang Kristen perlu meresap ke dalam dunia pendidikan dan pembinaan emosi, menjadi bagian integral dari proses pembentukan manusia seutuhnya. Upaya ini sangat mungkin diwujudkan dalam konteks bangsa Indonesia, sebagai bentuk nyata kehadiran Kerajaan Allah di tengah tantangan radikalisme yang terus mengancam kehidupan bersama. 29 Oleh karena itu implementasi strategi teologis di lembaga pendidikan keagamaan dalam mereduksi radikalisme merupakan langkah krusial dan sangat urgent untuk menuntut keseriusan dalam merancang pendidikan yang berakar pada nilai-nilai penghargaan terhadap martabat hak asasi Melalui pendekatan ini, warga gereja dan kepemimpinan Kristen dibentuk untuk memiliki spiritualitas yang relevan dengan nilai penghargaan kepada manusia dan mampu hidup dalam keberagaman, dan menolak segala bentuk kekerasan atas nama agama. Oleh karena itu, dibutuhkan sinergi antara gereja, sekolah, dan masyarakat dalam mengembangkan pendekatan teologis yang transformatif dan relevan guna menghadirkan ruang pendidikan yang mampu menjadi benteng terhadap infiltrasi paham radikal. Untuk itu, strategi teologis harus diwujudkan melalui integrasi nilai-nilai Pendidikan Agama Kristen,Ay Jurnal Shanan 4, 1 . : 1Ae20, http://ejournal. id/index. php/shan/article/vi ew/1765. Martina Novalina. AuSpiritualitas Orang Kristen Dalam Menghadirkan Kerajaan Allah Di Tengah Tantangan Radikalisme,Ay Jurnal Teologi Kontekstual Indonesia 1, no. : 26. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 184 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Alkitabiah pembelajaran, baik melalui pengajaran, keteladanan para pendidik keagamaan. Firman Tuhan dalam 2 Timotius 3:16-17 menegaskan bahwa "segala tulisan yang diilhamkan Allah bermanfaat untuk memperbaiki kelakuan dan mendidik orang dalam kebenaran. " Prinsip ini menjadi dasar bahwa pendidikan pengetahuan, melainkan formasi rohani yang membekali warga gereja dengan daya tangkal terhadap ideologi radikal. Dengan demikian, lembaga pendidikan keagamaan dipanggil tidak hanya untuk mencetak warga gereja yang cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan kuat dalam komitmen terhadap kehidupan yang KESIMPULAN Dari pembahasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa radikalisme tidak hanya menjadi persoalan sosialpolitik, tetapi juga tantangan teologis yang membutuhkan respons serius dari komunitas Kristen, khususnya dalam Kepemimpinan Kristen yang berakar pada nilai-nilai Injil dalam penghargaan terhadap martabat manusia menjadi dasar utama dalam membangun strategi teologis yang transformatif. Pemimpin Kristen dipanggil untuk tidak sekadar menjadi pengajar, tetapi juga gembala dan teladan moral yang mampu memimpin dengan kasih dan kebenaran dalam menghadapi tantangan ideologis yang menyesatkan. Pendidikan agama Kristen yang mengintegrasikan nilainilai Hak Asasi Manusia dalam terang Imago Dei menjadi strategi penting untuk menanamkan kesadaran akan nilai kemanusiaan dan pentingnya hidup dalam damai di tengah masyarakat yang Implementasi strategi teologis ini membutuhkan sinergi antara gereja. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 lembaga pendidikan, dan masyarakat dalam menciptakan ruang edukatif yang tidak hanya informatif tetapi juga transformatif secara spiritual dan sosial. Pendidikan teologi tidak boleh berhenti pada doktrin, tetapi harus berujung pada tindakan nyata yang menolak kekerasan dan merangkul perbedaan sebagai Dengan pendekatan ini, lembaga pendidikan keagamaan dapat menjadi benteng yang kokoh dalam menangkal radikalisme serta tempat lahirnya generasi yang memiliki integritas moral, kepekaan sosial, dan komitmen teologis terhadap misi damai Kristus di dunia. Strategi ini menuntut keseriusan dan komitmen bersama untuk menghadirkan Kerajaan Allah secara memuliakan Allah dalam keberagaman. Dalam konteks digital, kepemimpinan Kristen memiliki tanggung jawab profetis untuk menangkal penyebaran radikalisme yang marak di media sosial. Pemimpin Kristen perlu hadir secara mencerminkan kasih, keadilan, dan kebenaran Injil sebagai kontra-narasi terhadap ujaran kebencian dan ideologi Melalui pendidikan digital yang beretika dan berlandaskan nilainilai Kristiani, umat diajar untuk menggunakan media sosial secara bijak, kritis, dan bertanggung jawab demi menjaga martabat kemanusiaan. Dengan Kristen berperan sebagai penjaga nilai-nilai damai dan kasih Kristus di tengah arus informasi yang dapat menyesatkan serta merusak nilai Hak Asasi Manusia di dunia maya. DAFTAR PUSTAKA