PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Formulasi dan Uji Aktivitas Antioksidan Sediaan Serum Ekstrak Etanol Ubi Banggai Dengan Metode DPPH AzimaA. WahyuniA. Iciyanti DjamadinA. Prayitno SetiawanA. Agriawan Sudirman5. Sri wahyuningsih6. Ikbal7 Program Studi Farmasi. Universitas Megarezky. Makassar1,2,3,4,5,6 Program Studi Farmasi. Universitas Almarisah Madani. Makassar7 Email Korespondensi Author: azimahakim21@gmail. This is an open access article under the CC BY 4. 0 license. Kata kunci: Ubi banggai (Dioscoerata L). Serum. Antioksidan. DPPH. Keywords: Banggai Sweet Potato (Dioscoerata aleta L. Serum. Antioxidant. DPPH. Abstrak Ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) memiliki kandungan senyawa kimia yaitu flavonoid, flavonol, proanthocynidins dan senyawa fenolik yang berkhasiat sebagai antioksidan alami. Tujuan dari penelitian ini agar dapat mengetahui ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) stabil secara fisik dan kimia, memiliki aktivitas antioksidan, dan dapat dibuat menjadi sediaan serum dengan menggunakan metode DPPH. Pendekatan ini dilakukan dilaboratorium secara eksperimental. Daging ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) dimaserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) dapat dibuat dalam sediaan serum wajah dengan konsentrasi FI . ,5%). FII . %), dan Fi . ,5%). Produk kemudian dievaluasi menggunakan uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas, uji daya sebar, cycling test dan uji aktivitas antioksidan. Berdasarkan hasil penelitian, uji aktivitas antioksidan pada FI menghasilkan nilai ICCICA sebesar 199 ppm, pada FII nilai ICCICA sebesar 280,6 ppm, pada Fi nilai ICCICA sebesar 71,29 ppm, dan pada perbandingan kontrol positif nilai ICCICA sebesar 293,1 ppm. Menyimpulkan bahwa sediaan serum ekstrak ubi jalar Banggai (Dioscoerata aleta ) memiliki nilai ICCICA terbaik pada Fi . ,5%) dengan nilai ICCICA sebesar 71,29 ppm, sehingga dapat dikategorikan sebagai antioksidan kuat. Serum ini juga ditetapkan sebagai antioksidan yang stabil secara fisik dan kimia. Abstrack Banggai sweet potato (Dioscoerata aleta L. ) contains chemical compounds, namely flavonoids, flavonols, proanthocyanidins and phenolic compounds which are efficacious as natural antioxidants. The purpose of this study was to determine whether Banggai sweet potato (Dioscoerata aleta L. ) is physically and chemically stable, has antioxidant activity, and can be made into a serum preparation using the DPPH method. This approach was carried out in the laboratory experimentally. Banggai sweet potato (Dioscoerata aleta L. ) flesh was macerated using 96% Ethanol extract of Banggai sweet potato (Dioscoerata aleta L. ) can be made into a facial serum preparation with a concentration of FI . ,5%). FII . %), and Fi . ,5%). The product was then evaluated using organoleptic tests, homoneity tests, pi tests, viscosity test, spreadability tests, cycling tests and antioxidant activity test on FI produced an ICCICA value of 199 ppm, on FII the ICCICA value was 280,6 ppm, on Fi the ICCICA value 71,29 ppm, and in the comparison of positive controls the ICCICA value was 293,1 ppm. This study concluded that the serum preparation of Banggai sweet potato extract (Dioscoerata aleta L. ) has the best ICCICA value on Fi . ,5%) with an ICCICA value of 71,29 ppm, so it can be categorized as a strong antioxidant. This serum was also determined as a physical and chemically stable antioxidant. Pendahuluan Fase penuaan ialah tahapan dalam rangkaian hidup yang ditunjukan oleh terjadinya penurunan kemampuan organ tubuh dan juga yang menyebabkan tingginya kerentanan tubuh terhadap berbagai penyakit (Nursolihah et al. Agar dapat melindungi diri dari radikal bebas, tubuh kita perlu antioksidan (Suena et al. Kulit merupakan organ yang melindungi tubuh dari kontaminan, radiasi UV dari matahari, mikroba, dan bahaya yang terkait dengan bahan kimia. Kulit juga membantu tubuh tetap seimbang dengan lingkungan sekitarnya (Muldiyana et al. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Saat ini produk kecantikan dan perawatan pribadi telah menjadi kebutuhan sehari-hari, terutama di kalangan perempuan (Taurhesia et al. Kosmetik merupakan bahan ataupun produk dirancang guna diaplikasikan diatas permukaan tubuh manusia . iantaranya kulit, rambut, kuku, bibir, serta area genital lua. maupun pada gigi dan lapisan mulut, guna menghilangkan kotoran atau noda, mengharumkan, memperbaharui tampilan, menghilangkan bau badan, serta menjaga kesehatan dan kondisi tubuh (Fauzela et al. Salah satu produk kosmetik yang saat ini berkembang pesat adalah serum, karena memiliki efek yang lebih baik dengan teknologi pelembab yang didasarkan pada fisiologi kulit (Seer et al. Konsentrasi tinggi bahan kimia aktif dalam suatu formula dapat menangani permasalahan kulit tertentu pada wajah di dalam produk serum wajah. Karena serum wajah terdiri dari molekul yang berukuran kecil, maka dapat dengan cepat masuk ke dalam lapisan kulit (Amanda et al. Ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) termaksud satu diantara beberapa tanaman yang memungkinkan bermanfaat untuk dijadikan bahan alami dalam formulasi serum. Ubi Banggai (Dioscoerata aleta L. ) adalah tanaman endemik yang telah menjadi makanan lokal di Kepulauan Banggai selama berabad-abad. Tanaman ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai komoditas unggulan pengganti beras karena kandungan nutrisinya dan manfaatnya untuk Kesehatan (Kadekoh et al. Ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) menyimpan komponen flavonoid, flavonol, proanthocynidins serta senyawa fenolik yang berpotensi sebagai antioksidan alami (Khaerati et al. Penelitian ini diperkuat dari hasil yang telah ditemukan oleh (Tandi et al. ,2. , membuktikan dengan mengonsumsi ubi banggai (Dioscoerata alata L. ) bermanfaat untuk kesehatan mikroflora usus dan berperan sebagai agen antioksidan dalam proses oksidatif. Oleh karena itu, penelitian ini dilatarbelakangi oleh potensi ubi banggai (Dioscoerata aleta L. untuk diformulasikan dan diuji aktivitas antioksidannya dalam sediaan serum dengan metode 2,2difenil-1- pikrilhidrazil (DPPH). Metode Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium yang bertujuan untuk melakukan formulasi dan uji aktivitas antioksidan sediaan serum tanaman endemik khas banggai ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) dengan metode DPPH. Alat dan Bahan Alat yang dipakai dalam penelitian ini diantaranya aluminium foil, batang pengaduk, beaker glass (@iwak. , blender, botol gelap, cawan porselin, corong, gelas ukur (@iwak. , hotplate, kaca arloji, kertas saring, kuvet, labu ukur (@iwak. , lumping dan alu porselin, mikropipet, oven, penjepit tabung, pH meter (Ohau. , pipet tetes, rak tabung, sendok tanduk, seperangkat alat rotary evaporator, spatula, spektrofotometer UV-Vis, tabung reaksi (@pyre. , timbangan analitik (Ohau. , tip mikropipet, toples kaca, tempat serum. Bahan yang dipakai dalam penelitian ini diantaranya aquadest, ekstrak ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ), etanol 96%, etanol p. a, 2,2-difenil-1- pikrilhidrazil (DPPH). FeClCE 1%. HCl pekat, magnesium, natrium benzoate, propilen glikol, serum herbal plush vitamin C, trietanolamin, xanthan gum. Pengolahan Sampel Ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) diperoleh dari Kabupaten Banggai Kepulauan. Provinsi Sulawesi Tengah. Dilakukan sorotasi basah pada sampel ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) dengan cara bersihkan sampel menggunakan air lalu disaring kemudian dikeringkan pada suhu kamar. Ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) yang telah kering dilakukan sorotasi kering dengan cara dihaluskan menggunakan PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Proses Ekstraksi Proses maserasi dilakukan dengan menimbang simplisia sebesar 200 g kemudian masukan kedalam toples lalu tambahkan 2000 mL etanol 96 % aduk hingga larut. Selanjutnya disimpan selama 3 hari dengan pengadukan berkala. Hasil filtrasi yang dididapatkan dilanjutkan dengan proses evaporasi pada suhu 60AC kemudian ekstrak diangin-anginkan sampai diperoleh ekstrak kental dan dihitung kadar air dan rendemennya. Skrining Fitokimia Flavonoid 0,04 gram ekstrak dicampurkan dengan 2 mL aquadest yang telah dipanasi dalam waktu 5 menit menggunakan suhu 50AC, kemudian disaring. Selanjutnya larutan dimasukan kedalam tabung reaksi, masukan 0,5 mg magnesium dan 1 mL HCl lalu digojok. Ekstrak dapat dikatakan mengandung senyawa flavonoid jika larutan berubah menjadi warna merah, kuning, atau jingga (Putri et al. Saponin 0,04 gram ekstrak dicampur dengan 10 mL aquadest yang dipanasi, masukan larutan kedalam tabung reaksi lalu digojok dalam waktu 1 menit, selanjutnya masukan 2 tetes HCl 1 N. apabila buih yang dihasilkan tahan sampai A 7 menit, ekstrak dapat dikatakan memiliki senyawa saponin jika terjadi pembentukan busa yang konstan (Putri et al. Tanin 0,04 gram ekstrak dicampurkan dengan aquadest yang dipanasi dalam waktu 5 menit, kemudian masukan larutan pada tabung reaksi. Setelah itu, tambahkan 3 tetes FeClCE 1%. Ekstrak dapat dikatakan mengandung senyawa tanin jika terjadi perubahan warna biru gelap atau hijau pekat (Putri et al. Pengukuran Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Ubi Banggai (Dioscoerata aleta L. Pembuatan Larutan standar DPPH 100 ppm Dimasukan sebanyak 0,01 gram senyawa DPPH pada beaker glass, tambahkan secukupnya pelarut etanol pro analisis lalu dilarutkan. Selanjutnya, pindahkan larutan pada labu ukur 100 mL dan tambahkan lagi pelarut etanol pro analisis hingga mencapai penandaan garis pada labu ukur, digojok sampai larutan homogen (Rusli et al. Pengukuran panjang gelombang maksimum DPPH 2 mL larutan standar DPPH dan 1 mL etanol pro analisis ditambahkan ke dalam vial. Selanjutnya, dilakukan analisis dengan spektrofotometer UV-Vis, dan diukur absorbansi pada panjang gelombang antara 400 dan 800 nm hingga panjang gelombang 515 nm tercapai (Rusli et al. , 2. Pembuatan dan pengukuran serum herbal plus vitamin C (K )100 ppm Dimasukkan Sebanyak 0,01 gram sampel serum herbal plus pada beaker glass, tambahkan secukupnya pelarut etanol pro analisis lalu dilarutkan. Selanjutnya, larutan dipindahkan pada labu ukur 100 mL, tambahkan lagi pelarut etanol pro analisis sampai mencapai penandaan garis pada labu ukur, digojok sampai tercampur sempurna. Dari larutan induk serum herbal plus 100 ppm, pipet sebesar 1 mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL, dan 5 mL, selanjutnya masukkan larutan dalam setiap labu ukur 10 mL. campurkan pelarut etanol p. a hingga mencapai batas yang ditentukan, maka dihasilkan konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm. Setiap seri konsentrasi larutan pembanding dari serum herbal plus vitamin C . ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 pp. pipet sebesar 2 mL, selanjutnya tempatkan ke dalam vial. Tambahkan 1 mL larutan DPPH, lalu inkubasi dalam ruangan gelap dengan suhu 37AC dalam waktu 30 menit. Sesudah itu, ukur nilai absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 515 nm (Rusli et al. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Pembuatan dan pengukuran sediaan serum 100 ppm Ditimbang 0,01 gram sampel serum yang mengandung ekstrak ubi banggai (Dioscoerata aleta L. kemudian masukkan dalam beaker glass, campurkan dengan sedikit pelarut etanol pro analisis, lalu Selanjutnya, campuran tersebut dipindahkan didalam labu ukur 100 mL, masukan pelarut etanol pro analisis sampai mencapai penandaan garis pada labu ukur, kemudian digojok sampai tercampur rata. Dari larutan induk sediaan serum ekstrak etanol ubi banggai (Dioscorea aleta L. ), pipet sebanyak 1 mL, 2 mL, 3 mL, 4 mL, dan 5 mL, selanjutnya masukkan larutan di setiap labu ukur 10 mL. Campurkan pelarut etanol pro analisis sampai mencapai penandaan garis pada labu ukur, agar menghasilkan konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 ppm. Setiap seri konsentrasi larutan uji sediaan serum ekstrak etanol ubi banggai (Dioscorea aleta L. ) . ppm, 20 ppm, 30 ppm, 40 ppm, dan 50 pp. dipipet 2 mL sediaan, kemudian pindahkan ke dalam vial. Tambahkan larutan DPPH sebanyak 1 mL, kemudian inkubasi dengan suhu 37AC dalam 30 menit. Setelah itu, ukur serapannya menggunakan spektrofotometer UV-Vis dalam panjang gelombang 515 nm (Rusli et al. , 2. Perhitungan persentase penghambatan (% inhibis. dan IC50 ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. Konsentrasi sampel yang mampu menyerap 50% radikal DPPH dikenal dengan nama Inhibition Concentration 50% (ICCICA), dan dipakai untuk menyatakan aktivitas antioksidan. Untuk menghitung nilai ICCICA yang didasarkan pada persentase Pencegahan radikal DPPH pada tiap konsentrasi larutan sampel menggunakan perhitungan sebagai berikut : ycIyceycycaycyycaycu ycaycoycaycuycoycu Oe ycIyceycycaycyycaycu ycycaycoycyyceyco yaycu. yaycEycEya (%) = ycu 100% ycIyceycycaycyycaycu ycaycoycaycuycoycu Keterangan : Serapan blanko : Absorbansi DPPH tanpa sampel Serapan sampel : Absorbansi sampel DPPH Dengan menggunakan rumus y : a bx, di mana x adalah konsentrasi (AAg/m. dan y adalah persentase penghambatan (%), perhitungan regresi linier dilakukan setelah persentase penghambatan dari setiap konsentrasi telah ditentukan. Nilai IC50 dihitung menggunakan rumus berikut untuk menemukannya (Rahmavika et al. , 2. 50 Oe yca yaya50 = yca Keterangan : y : Inhibisi DPPH (%) a : Intercept (Pemotongan garis di sumbu Y) b : Slope (Kemiringa. x : Konsentasi Formula Sediaan Serum Dari Ekstrak Etanol Ubi Banggai (Dioscoerata aleta L. Tabel 1. Rancangan Formula Sediaan Serum Ekstrak Etanol Ubi Banggai Bahan Fungsi Ekstrak Ubi Banggai (Dioscoerata aleta L. Xanthan gum Natrium Benzoate Trietanolamin Propilen glikol Aquadest Zat aktif Basis Pengawet Penetral pH Humektan Pelarut Formula (%) Ad 20 FII Ad 20 Ad 20 K(-) Ad 20 Keterangan : : Formula ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) 0,5% FII : Formula ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) 1% Fi : Formula ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) 1,5% K(-) : Formula tanpa ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Pembuatan Sediaan Serum Proses pembuatan serum wajah, larutkan xanthan gum dalam aquadest sampai membentuk massa serum, lalu larutkan natrium benzoat dalam sedikit aquadest. Kemudian, tambahkan propilen glikol dan trietanolamin dan campurkan dengan massa serum yang dihasilkan. Selanjutnya, campurkan massa serum dengan ekstrak etanol ubi jalar Banggai (Dioscoerata aleta L. ), gerus sampai tercampur sempurna, lalu pindahkan ke wadah serum. Evaluasi Sediaan Pengujian organoleptik Pengujian organoleptik melibatkan penggunaan kelima indra untuk mendeteksi perubahan dalam bentuk fisik, warna, tekstur, dan bau pada larutan serum (Hanifah et al. Pengujian homogenitas Sampel ditempatkan secara merata pada kaca objek untuk mengevaluasi sediaan serum. Sediaan berkualitas tinggi harus seragam dan bebas dari butiran partikel yang tidak terkonsolidasi (Hanifah et Pengujian pH pH meter digunakan untuk menentukan nilai pH formula. Pertama, larutan penyangga standar dengan nilai pH 4 . dan 7 . digunakan untuk mengkalibrasi pH meter. Elektroda kemudian dikeringkan dan dibersihkan dengan air suling setelah kalibrasi selesai. Setelah itu, celupkan elektroda ke dalam serum yang telah disiapkan dan perhatikan alat tersebut hingga muncul nilai pH yang stabil. Nilai pH sediaan serum direpresentasikan oleh angka yang ditampilkan pH meter (Hanifah et al. , 2. Sediaan serum memiliki rentang pH yang baik berkisar antara 4,5 sampai 6,5 (Suleman et al. Pengujian viskositas Dimasukan sediaan serum yang akan diuji tingkat kekentalannya kedalam gelas kimia. Selanjutnya diatur alat viscometer menggunakan rotor 4, spindel 4, dan dengan kecepatan 60 rpm, sediaan serum diletakan tepat dibawah spindle hingga spindelnya terendam. Sediaan serum yang memiliki rentang viskositas yang baik berkisar antara 230 Ae 1150 mPas (Suleman et al. Pengujian daya sebar Sebanyak 0,5 gram sampel serum ditempatkan ditengah kaca berskala, lalu tutup dengan kaca lain lalu letakan pemberat 150 gram. Setelah dibiarkan dalam jangka waktu 1 menit, dilakukan pengukuran diameter penyebarannya (Rahmavika et al. , 2. Serum dinyatakan memiliki kualitas baik jika daya sebarnya berkisar antara 5-7 cm (Yuanda et al. Pengujian Cycling test Uji ini dikerjakan sebanyak 6 rangkaian, di mana sediaan serum wajah dimasukan pada kulkas dengan suhu 4AC dalam jangka waktu 1 hari, setelah itu pindahkan pada oven dengan suhu A40AC dalam jangka waktu 1 hari. Setiap perpindahan terhitung sebagai 1 rangkaian. Kondisi fisik sediaan kemudian diamati apakah terdapat perbedaan antara sebelum dan sesudah dilakukan cycling test (Suhendro et al. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Hasil dan Diskusi Hasil Rendamen Ekstrak Etanol Ubi Banggai (Dioscoerata aleta L. Tabel 2. Hasil Presentase rendamen Ekstrak Sampel Metode Pelarut Berat simplisia Berat ekstrak Rendamen (%) Ubi banggai Maserasi Etanol 96% 500 gr 14 gr 2,8 % Hasil Skrining Fitokimia Tabel 3. Hasil skrining fitokimia ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. No Senyawa Pereaksi Hasil Hasil literatur Ket Flavonoid Mg HCl pekat Warna Kuning Warna kuning/jingga Saponin HCl 1N Terbentuk Buih Terbentuk busa Tanin FeClCE Hijau Kehitaman Warna hijau atau biru kehitaman Evaluasi Sediaan Hasil Pengujian Organoleptik Tabel 4. Hasil Pengujian Organoleptik Uji Organoleptik Formula Sebelum cycling test Sesudah cycling test K(-) Bau Bentuk Warna Khas basis Sedikit kental Bening Bau Bentuk Warna Khas basis Sedikit kental Bening Bau Bentuk Warna Khas ubi banggai Sedikit kental Kuning kecoklatan Bau Bentuk Warna Khas ubi banggai Sedikit kental Kuning kecoklatan FII Bau Bentuk Warna Khas ubi banggai Sedikit kental Kuning kecoklatan Bau Bentuk Warna Khas ubi banggai Sedikit kental Kuning kecoklatan Fi Bau Bentuk Warna Khas ubi banggai Sedikit kental Kuning kecoklatan Bau Bentuk Warna Khas ubi banggai Sedikit kental Kuning kecoklatan Hasil Pengujian Homogenitas Tabel 5. Hasil Pengujian Homogenitas Uji Homogenitas Formula Sebelum cycling test Sesudah cycling test K(-) Homogen Homogen Homogen Homogen FII Homogen Homogen Fi Homogen Homogen Syarat Tidak adanya partikel-partikel (Suleman et al. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Hasil Pengujian pH Tabel 6. Hasil Pengujian pH Uji pH Formula Kontro (-) Sebelum cycling test 4,9 5,0 Sesudah cycling test Formula I Formula II *Formula i Range Nilai Signifikan 4,5-6,5 . (Suleman et al. Keterangan : Suatu data dikatakan terdistribusi normal apabila nilai signifikasi yang dihasilkan lebih dari 0,05 (Sig >0,. (*) : (Sig >0,. Hasil Pengujian Viskositas Tabel 7. Hasil Pengujian Viskositas Uji Viskositas Formula Sebelum Sesudah cycling test cycling test Kontro (-) Formula I Formula II *Formula i Range Nilai Signifikan . 230-1150 mPas (Suleman et al. Keterangan : Suatu data dikatakan terdistribusi normal apabila nilai signifikasi yang dihasilkan lebih dari 0,05 (Sig >0,. (*) : (Sig>0,. Hasil Pengukuran Daya Sebar (Leba. Tabel 8. Hasil Pengujian Daya Sebar (Leba. Uji Daya Sebar (Leba. Formula Sebelum Sesudah cycling test cycling test Kontro (-) 6,5 6,4 6,0 5,9 5,0 Formula I Formula II *Formula i Range Nilai Signifikan . 88 5-7 cm (Yuanda et al. Keterangan : Suatu data dikatakan terdistribusi normal apabila nilai signifikasi yang dihasilkan lebih dari 0,05 (Sig >0,. (*) : (Sig>0,. PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Hasil Pengukuran Daya sebar (Tingg. Tabel 8. Hasil Pengujian Daya Sebar (Tingg. Uji Daya Sebar (Tingg. Formula Sebelum Sesudah cycling test cycling test Kontro (-) 6,4 6,6 5,9 6,0 6,1 Formula I Formula II *Formula i Range Nilai Signifikan . 5-7 cm (Yuanda et al. Keterangan : Suatu data dikatakan terdistribusi normal apabila nilai signifikasi yang dihasilkan lebih dari 0,05 (Sig >0,. (*) : (Sig>0,. Hasil Pengukuran Aktivitas Antioksidan Aktivitas Antioksidan Sediaan Serum Herbal Plus dan Serum Ekstrak Etanol Ubi Banggai (Dioscoerata aleta L. Tabel 9. Hasil pengukuran aktivitas antioksidan sediaan serum herbal plus dan serum ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. Sampel Konsentrasi Absorbansi % Inhibisi ICCICA Blanko Sampel 0,9584 11,43 Serum herbal 0,911 15,81 1,0821 0,9093 15,96 (K ) 0,9055 16,32 0,8901 17,74 0,9217 14,82 0,8945 17,33 93,38 1,0821 0,8532 21,15 0,7811 27,81 0,7435 31,29 0,9047 16,39 0,8814 18,54 81,79 FII 1,0821 0,8422 22,16 0,7512 30,27 0,7018 35,14 0,8915 17,61 0,8307 23,23 1,0821 0,8256 71,29 0,7345 32,12 0,6385 40,49 Keterangan : : Part per milion : Inhibition Concentration : Persen K( ) : Kontrol positif serum herbal plus : Formula ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) 0,5% FII : Formula ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) 1% Fi : Formula ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) 1,5% PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals Pembahasan Ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) merupakan varietas ubi lokal yang banyak dilestarikan di Kabupaten Banggai, baik itu Banggai Laut maupun Banggai Kepulauan yang bertempat di Provinsi Sulawesi Tengah. Ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) tergolong ke dalam famili Dios-coreae dan genus Dioscorea. Ditemukan sekitar 38 variates ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) dan setiap variates ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) mempunyai bentuk dan warna yang khas. Warna ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) yang beragam dapat disebabkan karena teridentifikasi senyawa fenol yang menunjukan efektivitas efektifitas sebagai antioksidan (Amar et al. Ekstrak ubi banggai (Dioscoerata aleat L. ) memiliki kandungan komponen flavonoid, flavonol, proanthocynidins serta senyawa fenolik (Khaerati et al. Senyawa fenolik yang terkandung dalam tanaman tidak stabil terhadap pemanasan. Kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman ada yang tidak stabil terhadap suhu tinggi dan ada yang tidak tahan terhadap suhu tinggi, oleh sebab itu pemilihan metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian dapat dipertimbangkan sifat bahan alam apakah tahan terhadap pemanasan atau tidak (Ulfah et al. Hal inilah yang membuat peneliti lebih memilih metode ekstraksi maserasi atau metode dengan cara dingin dikarenakan ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) mengandung senyawa kimia fenolik dan flavonoid yang mana senyawa ini sangat berpotensi sebagai antioksidan sehingga untuk meminimalisir kerusakan senyawa yang berpotensi sebagai antioksidan ini peneliti memilih menggunakan metode ekstraksi maserasi. Pada Tabel 2. sampel ubi banggai diekstraksi menggunakan metode maserasi dengan presentase rendemen sebanyak 2,8%. Pada Tabel 3. hasil skrining fitokimia menunjukan hasil bahwa ekstrak ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) teridentifikasi mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tannin. Penelitian ini diperkuat dari hasil yang telah ditemukan oleh (Radikasari et al. Bahwa ubi banggai positif mengandung flavonoid, saponin dan tanin. Berdasarkan hasil uji organoleptik pada Tabel 4. baik sebelum dan sesudah cycling test pada FI . ,5%). FII . %) dan Fi . ,5%) menunjukan sediaan serum dari ekstrak ubi banggai (Dioscoerata aleta ) tidak mengalami perubahan warna, bau dan tekstur sehingga Dapat ditarik kesimpulan bahwa analisis sensorik pada sediaan serum stabil secara organoleptik. Penelitian ini diperkuat dari hasil yang telah ditemukan oleh (Suleman et al. baik sebelum dan sesudah dilakukan cycling test stabil secara organoleptik. Berdasarkan hasil uji homogen dapat dilihat dalam Tabel 5. menunjukan bahwa sebelum maupun sesudah cycling test sediaan serum ekstrak ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) tetap homogen, dimana tidak terdapat partikel-partikel kasar pada sediaan tersebut. Penelitian ini diperkuat dari hasil yang telah ditemukan oleh (Zaky et al. pada pengujian homogenitas setiap formula menunjukan homogenitas yang baik sebelum dan setelah dilakukan cycling test. Berdasarkan hasil uji pH derajat asam basa pada Tabel 6. menunjukan bahwa sebelum dan setelah cycling test sediaan serum ekstrak ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) mengalami penurunan pH. Penurunan nilai pH tersebut dikarenakan pencemaran ion positif pada bahan yang dipakai pada pembuatan serum, hal ini mempengaruhi derajat keasaman atau kebasaan sediaan serum. Hal penyebab lain terjadinya penurunan pH karena ketahanan bahan aktif, hubungan antara bahan aktif dan bahan tambahan, tahapan pembuatan sediaan, serta kondisi lingkungan selama penyimpanan. Namun walaupun mengalami penurunan, semua formula masih berada dalam rangge pH kulit yang baik, dimana nilai pH yang dianjurkan untuk sediaan topical yaitu 4,5Ae6,5 dan juga masih memenuhi syarat pada pengujian pH. Penelitian ini diperkuat dari hasil yang telah ditemukan oleh (Zaky et al. sebelum dan sesudah dilakukan cycling test dari semua formula serum mengalami penurunan nilai pH. Dari hasil evaluasi diatas data yang diperoleh akan dianalisis dengan menggunakan uji test of normality yakni dilihat pada hasil Shapiro-wilk menunjukan hasil normalitas pH sebelum cycling test adalah FI 1,000 FII 1,000 Fi 1,000 K- 0,463 dan sesudah cycling test adalah FI 0,637 FII 1,000 Fi 1,000 K- 0,253 dimana ini menunjukan bahwa data sebelum dan sesudah cycling test terdistribusi secara PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals normal karena memiliki nilai p value > 0,05 sedangkan pada hasil uji paired sample test pH memiliki nilai probabilitas FI 0,074 FII 0,074 Fi 0,095 K- 0,063 dimana ini > 0,05 yang artinya tidak adanya perubahan bermakna baik bermakna sebelum ataupun setelah cycling test. pada Tabel 7. hasil viskositas formulasi sediaan serum menunjukan pengurangan setelah melakukan cycling test. Pengurangan viskositas ini disebabkan oleh penyimpanan sediaan pada temperatur rendah ketemperatur tinggi secara berulang sehingga menghasilkan perubahan fisik dan kimia dari sediaan. Meskipun terjadi penurunan viskositas pada formulasi ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) namun masih memenuhi persyaratan viskositas yaitu dari range 230-1150 mPas. Penelitian ini diperkuat dari hasil yang telah ditemukan oleh (Zaky et al. dimana pada setiap formulasi setelah dilakukan cycling test terjadi penurunan viskositas. Dari hasil evaluasi diatas data yang dihasilkan akan dianalisis dengan menggunakan uji test of normality yakni dilihat pada hasil Shapiro-wilk menunjukan hasil normalitas viskositas sebelum cycling test adalah FI 0,637 FII 1,000 Fi 1,000 K- 0,637 dan setelah cycling test adalah FI 0,843 FII 0,948 Fi 0,948 K- 0,637 dimana ini menunjukan bahwa data sebelum dan sesudah dilakukan cycling test terdistribusi secara normal karena memiliki nilai p value > 0,05 sedangkan pada hasil uji paired samples test viskositas memiliki nilai probabilitas FI 0,079 FII 0,120 Fi 0,133 K- 0,0,074 dimana ini > 0,05 yaitu tidak adanya perubahan yang bermakna baik sebelum ataupun sesudah dilakukan cycling test. Berdasarkan hasil pengujian daya sebar pada Tabel 8. mengalami kenaikan setelah dilakukan cycling test pada setiap formulasi Dimana dengan meningkatnya nilai daya sebar, distribusi zat aktif akan semakin luas dan efektif sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian daya sebar pada semua formulasi sesuai dengan persyaratan yaitu 5-7 cm. Penelitian ini diperkuat dari hasil yang telah ditemukan oleh (Zaky et al. bahwa semua formulasi serum mengalami kenaikan diameter daya Dari hasil evaluasi diatas data yang dihasilkan akan dianalisis dengan menggunakan uji test of normality yakni dilihat pada hasil Shapiro-wilk menunjukan hasil normalitas untuk uji daya sebar sebelum cycling test . adalah FI 0,637 FII 0,637 Fi 1,000 K- 0,637 serta sebelum cycling test . adalah FI 0,637 FII 0,637 Fi 0,843 K- 0,463 dan setelah cycling test . adalah FI 0,253 FII 0,843 Fi 0,637 K- 1,000 serta setelah cycling test . adalah FI 0,463 FII 0,220 Fi 0,463 K- 0,174 dimana ini menunjukan bahwa data sebelum dan sesudah cycling test terdistribusi secara normal karena memiliki nilai p value > 0,05 sedangkan pada uji paired samples test untuk uji daya sebar . memiliki nilai probabilitas sebesar 0,092 memiliki nilai probabilitas FI 0,078 FII 0,082 Fi 0,184 K0,069 dan pada uji paired samples test untuk uji daya sebar . memiliki nilai probabilitas FI 0,074 FII 0,088 Fi 0,102 K- 0,063 dimana ini > 0,05 yang artinya tidak ada perbedaan yang bermakna antara sebelum dan setelah cycling test. Suatu senyawa dapat dikategorikan efektivitas antioksidan golongan sangat tinggi apabila nilai ICCICA kurang dari 50 ppm, golongan tinggi jika nilai ICCICA antara 50-100 ppm, golongan moderat jika nilai ICCICA antara 100-150 ppm, golongan rendah jika nilai ICCICA antara 150-200 ppm, golongan sangat rendah jika nilai ICCICA lebih dari 200 ppm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai ICCICA memiliki hubungan invers dengan aktivitas antioksidan. nilai ICCICA cenderung menurun seiring dengan meningkatnya efektivitas antioksidan. Berdasarkan hasil uji aktivitas antioksidan pada Tabel 9. dengan metode DPPH pada formulasi sediaan serum dengan panjang gelombang 515 nm yang diperoleh. Hasil pengujian pada FI . ,5%) diperoleh nilai ICCICA sebesar 93,38 ppm . ntioksidan kategori kua. , pada FII . %) diperoleh nilai ICCICA sebesar 81,87 ppm . ntioksidan kategori kua. , pada Fi . ,5%) diperoleh nilai ICCICA sebesar 71,29 ppm . ntioksidan kategori kua. , sedangkan pada pengujian K . erum herbal plu. diperoleh nilai ICCICA sebesar293,1 ppm . ntioksidan kategori sangat lema. Dari keempat pengujian untuk tiga formulasi sediaan dan satu kontrol positif sebagai pembanding dapat diketahui bahwa perbedaan konsentrasi PAPS Journals E-ISSN: 2830-7070 Vol. No. Juni 2025. Pharmacology and Pharmacy Scientific Journals dapat mempengaruhi aktivitas antioksidan pada suatu sediaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai ICCICA mengindikasikan bahwa peningkatan jumlah ekstrak dalam sediaan berbanding lurus dengan peningkatan kekuatan aktivitas antioksidannya. Kesimpulan Hasil penelitian menunjukan bahwa sediaan serum ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta ) dianggap tahan terhadap perubahan fisika maupun kimia. Dan uji efektifitas antioksidan sediaan serum ekstrak etanol ubi banggai (Dioscoerata aleta L. ) Pada pengujian FI dengan nilai ICCICA 93,38 ppm, pada FII dengan nilai ICCICA 81,79 dan Fi dengan nilai ICCICA 71,29 ppm. Dari ketiga formulasi dapat disimpulkan bahwa semua formulasi tergolong dalam kategori antioksidan kuat, sedangkan pada pengujian K didapatkan hasil nilai ICCICA 280,6 ppm yakni kandungan antioksidannya tergolong dalam kategori antioksidan sangat lemah. Referensi