Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 ISSN Print 2685-7553 ISSN Online 2581-1134 Optimasi Penempatan Tower Crane dengan Mempertimbangkan Beban Angkatan (Studi Kasus: Proyek High-Rise Building di Kota Surabay. Jessica Natalia Hartono1. Harbert Kuanda2. Ambrosius Matthew Junius Reynaldo*3. Handoko Sugiharto4 1,2,3,4 Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan. Universitas Kristen Petra. Surabaya e-mail: 1b11190012@alumni. id, 2b11190073@alumni. junius@petra. id, 4hands@petra. Received 03th October 2025. Reviewed 19th October 2025. Accepted 13th November 2025 Journal Homepage: http://jurnal. id/index. php/bejts Doi : https://doi. org/10. 35334/be. Abstract Tower cranes are among the most essential equipment in high-rise building projects, playing a critical role in material distribution. Improper placement of tower cranes can reduce productivity, leading to project delays. This study aims to analyze the optimization of tower crane placement based on conflict index . cAy. , workload balance . , project duration, and total cost. The research method applies spatial modeling by dividing the project area into demand zones determined by material requirements, lifting capacity, and floor elevation. Iterative calculations were then performed under three scenarios: . existing condition, . optimized placement with three tower cranes, and . optimized placement with two tower cranes. The results show that in scenario 1, the conflict index reached 141,236 and the workload balance was 603. 18 minutes, with a project duration of 165 days. In scenario 2, the conflict index decreased to 42,706 and workload balance improved to 417. minutes with a shorter duration of 148 days, though costs increased. Meanwhile. Scenario 3 achieved zero conflict, improved workload balance to 346. 06 minutes, and reduced operational costs compared to both scenario 1 and 2, although the project duration extended to 169 days. Therefore, scenario 3 can be considered the most effective solution as it provides a more balanced workload distribution, eliminates conflicts, and ensures cost efficiency, despite a slightly longer project Keywords: Tower Crane. Workload Balance. Conflict Index. Cost Efficiency Abstrak Tower crane merupakan salah satu peralatan utama dalam proyek konstruksi gedung bertingkat yang berperan penting dalam distribusi material. Penempatan tower crane yang tidak optimal dapat menyebabkan penurunan produktivitas sehingga jadwal proyek terlambat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis optimasi penempatan tower crane berdasarkan nilai konflik . cAy. , keseimbangan beban kerja . , durasi proyek, dan total biaya. Metode penelitian menggunakan pemodelan spasial dengan membagi area proyek ke dalam zona demand yang ditentukan berdasarkan kebutuhan material, kapasitas angkatan, serta elevasi lantai. Selanjutnya dilakukan iterasi perhitungan pada tiga skenario: . kondisi eksisting, . optimasi penempatan dengan tiga tower crane, dan . optimasi penempatan dengan dua tower crane. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada skenario 1 nilai konflik sebesar 141. 236 dan keseimbangan beban kerja 603,18 menit Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 dengan durasi proyek 165 hari. Pada skenario 2, konflik turun menjadi 42. 706 dan keseimbangan beban kerja menjadi 417,09 menit dengan durasi 148 hari, tetapi ada peningkatan biaya. Sementara itu, skenario 3 menghasilkan nilai konflik nol, keseimbangan beban kerja 346,06 menit, dan biaya operasional lebih rendah dibanding skenario 1 maupun 2, meskipun durasi proyek lebih lama yaitu 169 hari. Dengan demikian, skenario 3 dapat dianggap sebagai solusi terbaik karena memberikan distribusi beban kerja yang lebih merata, eliminasi konflik, dan efisiensi biaya, meskipun memiliki durasi proyek yang sedikit lebih panjang. Kata kunci: Tower Crane. Keseimbangan Beban Kerja. Nilai Konflik. Efisiensi Biaya Pendahuluan Pertumbuhan penduduk Indonesia pada tahun 2025 mencapai 1,09% (Rahmawati, 2. , mendorong pergeseran pola pembangunan hunian horisontal menuju pembangunan vertikal seperti apartemen dan gedung bertingkat. Pada konstruksi gedung bertingkat, keberadaan alat angkat seperti tower crane berperan penting untuk meningkatkan produktivitas di berbagai tahap pelaksanaan (Aprizaldi & Saputro, 2. Tower crane merupakan peralatan mekanis untuk mengangkat dan memindahkan material bangunan berat maupun peralatan secara vertikal dan horisontal pada area dengan ruang gerak terbatas dan lokasi yang padat (Rostiyanti, 2008. Ji & Leite, 2020. Gransberg et al. , 2. Tower crane kini telah menjadi peralatan yang lazim digunakan di lokasi konstruksi, bahkan dikategorikan sebagai peralatan vital dalam operasional konstruksi gedung bertingkat (Al Hattab et , 2017. Huang et al. , 2. Penggunaan tower crane mencakup hampir seluruh tahapan konstruksi, terutama untuk mengangkat objek berat dan berukuran besar seperti balok baja, beton ready mix, elemen pracetak, serta berbagai peralatan proyek lainnya. Penggunaan beberapa tower crane merupakan praktik yang lazim dijumpai dalam proyek konstruksi, sehingga pemilihan jenis, jumlah, serta lokasi penempatan menjadi aspek krusial yang harus diperhatikan karena berhubungan langsung dengan keterbatasan ruang dan tingkat kepadatan proyek, area penyimpanan material, kondisi lalu lintas sekitar, faktor keselamatan, jenis beban yang akan diangkat, jangkauan crane, dan kebutuhan operasional di lapangan (Al Hattab et al. , 2. Secara khusus, pemilihan lokasi tower crane yang digunakan di proyek konstruksi dipandang sebagai salah satu isu terpenting dalam perencanaan operasional (Abdelmegid et al. , 2. Dalam praktiknya, tower crane perlu ditempatkan pada posisi aman dan strategis agar mampu menangani sebagian besar material berat dan berukuran besar. Pemilihan jenis tower crane dan perencanaan tata letak tower crane akan memberikan dampak signifikan terhadap biaya maupun jadwal konstruksi (Fu et al. , 2024. Moussavi Nadoushani et al. , 2. Penentuan lokasi tower crane dilakukan dengan tujuan untuk memastikan jangkauan yang memadai dan operasi yang aman tanpa adanya potensi tabrakan (Zhang et al. , 1. Lokasi yang optimal ditetapkan pada koordinat titik dengan nilai indeks konflik terendah dan tingkat keseimbangan beban kerja antar tower crane yang paling baik (Pagassang & Rostiyanti, 2. Kesalahan dalam pemilihan lokasi akan menyebabkan tower crane tidak dapat memenuhi kebutuhan dari tenaga kerja atau peralatan lain sehingga produktivitas proyek menurun dan jadwal terlambat. Oleh karena itu, diperlukan optimasi penempatan tower crane agar kebutuhan operasional proyek dapat tercapai secara efektif dan efisien. Permasalahan optimasi telah menjadi kajian luas dalam dunia teknik sipil, meliputi berbagai aspek seperti optimasi penjadwalan proyek (Reynaldo et al. , 2024. Lin et al. , 2022. Wang et al. , 2021. ElAbbasy et al. , 2. , optimasi tata letak lokasi pada proyek (Yin, 2024. Xu et al. , 2020. Prayogo et , 2. , optimasi rute distribusi material konstruksi (Reynaldo et al. , 2025. Sun & Wang, 2025. Yan et al. , 2. , dan bentuk optimasi lainnya. Penelitian terdahulu mengenai optimasi penempatan tower crane dilakukan tanpa mempertimbangkan frekuensi pengangkatan material. Hal ini tentunya tidak sesuai dengan kenyataan dikarenakan dalam praktiknya setiap aktivitas pengangkatan tidak dapat diasumsikan hanya terjadi satu kali. Dengan demikian, penelitian ini difokuskan untuk melakukan optimasi penempatan tiga tower crane secara simultan dengan mempertimbangkan beban Hartono, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 maksimum yang dapat diangkut pada radius terjauh lengan tower crane . Proses optimasi dilakukan dengan menentukan titik koordinat yang menghasilkan keseimbangan beban kerja dan meminimalkan nilai konflik antar tower crane. Metode Penelitian Penelitian dimulai dengan melakukan studi literatur dari berbagai buku dan jurnal untuk mengetahui dasar teori yang relevan dan mendukung penelitian ini. Selanjutnya, data-data proyek meliputi gambar denah bangunan, spesifikasi tower crane, denah pembagian zona pekerjaan, lokasi titik supply dan tower crane aktual, serta volume pekerjaan setiap zona dikumpulkan dari kondisi aktual di lapangan. Pekerjaan yang dianalisis dalam penelitian ini adalah pekerjaan tulangan baja, bekisting, dan perancah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan lokasi titik optimal dari setiap tower crane dalam kelompoknya melalui pemodelan penempatan pada denah proyek aktual dengan pembagian zona berdasarkan data lapangan yang sekaligus menunjukkan titik demand. Pemodelan dilakukan melalui tiga skenario, yaitu skenario 1 yang menempatkan tower crane dan titik supply sesuai kondisi aktual dengan radius lengan TC1. TC2, dan TC3 sama seperti di lapangan, sehingga diperoleh nilai konflik, keseimbangan beban kerja, waktu pemakaian, dan biaya operasional berdasarkan keadaan Skenario 2 berfokus pada pencarian lokasi titik tower crane yang lebih optimal, dengan tetap mempertahankan lokasi serta jumlah titik supply tetapi memodifikasi posisi dan panjang jib tower crane agar tetap dapat menjangkau titik supply dan demand. Skenario 3 digunakan sebagai pembanding skenario 2 dengan pengurangan jumlah tower crane dan panjang jib dimodifikasi untuk memenuhi kebutuhan jangkauan, sedangkan titik supply tetap tidak berubah. Pada setiap skenario akan dilakukan iterasi perhitungan nilai konflik . cAy. dan keseimbangan beban kerja . dengan membandingkannya terhadap kondisi eksisting. Proses iterasi dimulai dengan menghitung nilai konflik pada skenario 1 sebagai acuan dasar. Pemodelan feasible area dilakukan pada skenario 2 dan 3 untuk menentukan daerah perpotongan yang memungkinkan sebagai lokasi penempatan tower crane. Feasible area tersebut dibagi menjadi kotak-kotak kecil sesuai dengan ukuran section tower crane, dan ditentukan titik penempatan tower Apabila hasil perhitungan nilai konflik skenario 2 dan 3 lebih besar dari skenario 1 maka titik tersebut tidak dapat digunakan dan dilanjutkan pada titik lokasi yang lain. Dari titik dengan nilai konflik terkecil tersebut kemudian dihitung keseimbangan beban kerja . , dan hasilnya kembali dibandingkan dengan kondisi eksisting. Skenario terbaik dipilih apabila nilai ycAya dan yua yang diperoleh lebih baik daripada skenario 1, sehingga lokasi yang terpilih merupakan titik penempatan tower crane yang optimal. 1 Penentuan Lokasi Optimal Group Tower Crane 1 Kapasitas Angkat dan Feasible Area Kapasitas angkat ditentukan berdasarkan kurva radius beban. Semakin besar beban yang dapat diangkat, maka semakin kecil lokasi yang dapat dijangkau. Apabila beban dari titik lokasi supply diasumsikan yc dan radius yang dapat dijangkau crane adalah yc, maka crane hanya dapat melayani area sejarak yc. Berdasarkan fungsi utama crane yaitu membantu pengangkutan material dari titik supply . cI) ke titik demand . , maka crane harus diletakkan di lokasi perpotongan antara titik supply dan demand. Daerah perpotongan tersebut disebut feasible area yang dapat dilihat pada Gambar 1. Selanjutnya, terdapat hubungan geometris antara dua feasible area yang dapat dilihat pada ilustrasi Gambar 2. Pada ilustrasi Gambar 2. , tower crane dapat diletakkan pada area A karena task 1 dan 2 berada dalam satu area yang sama dan berdekatan. Hal ini berlaku pula pada task 1 dan 3 yang saling beririsan, sehingga tower crane dapat diletakkan pada area B. Akan tetapi, jarak antara task 2 dan 3 terlalu jauh, sehingga dibutuhkan lebih dari satu tower crane untuk melayani keduanya. Hartono, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Selanjutnya, pada Gambar 2. diperlihatkan feasible area C dari ketiga task dan jika terdapat task 4 dan task 5, maka tower crane paling mungkin diletakkan di area D karena memiliki irisan yang lebih besar dengan area C seperti pada Gambar 2. Apabila tidak terbentuk irisan, maka dibutuhkan lebih dari satu tower crane untuk melayani masing-masing feasible area. Gambar 1. Feasible Area untuk Lokasi Tower Crane Gambar 2. Overlap Feasible Area Sumber: Zhang et al. , 1999 Sumber: Zhang et al. , 1999 2 Perhitungan Waktu Siklus. Matriks Aksesibilitas. Keseimbangan Beban Kerja, dan Nilai Konflik Perhitungan waktu siklus adalah untuk menentukan waktu yang dibutuhkan crane melakukan pengangkutan dari titik supply ke titik demand tertentu. Persamaan yang digunakan untuk menghitung waktu siklus adalah persamaan 1-8 dan gambaran setiap variabel dapat dilihat pada Gambar 3. Variabel ycN menunjukkan waktu siklus total yang merupakan kombinasi dari waktu perjalanan horisontal dan vertikal pengait. Waktu perjalanan vertikal pengait dinyatakan dalam ycNyc, sedangkan ycNEa menggambarkan waktu perjalanan horisontal pengait. Selanjutnya, ycNyca menyatakan waktu pergerakan radial trolley dan ycNyui menunjukkan waktu pergerakan tangensial trolley. Parameter yu dan yu berfungsi sebagai derajat koordinasi pergerakan antara arah radial dan tangensial pada bidang horisontal maupun vertikal, dengan rentang nilai antara 0 hingga 1. Jarak antara titik supply dan titik demand masing-masing dilambangkan yuU . cIy. dan yuU . , sedangkan ycoyc menunjukkan jarak linear antara kedua titik tersebut. ycN ycNyc ycNEa ycNyca = ycoycaycu . cNEa, ycNy. yu O ycoycnycu . cNEa, ycNy. csycIycn Ae ycsyayc. ycOEa = ycoycaycu . cNyca, ycNyu. yu y ycoycnycu . cNyca, ycNyu. uU . Oe yuU . cIy. | ycOyca ycNyui = yui ycu ycaycyca ycaycuyc ( 2 ycu yuU . ycu yuU . cIy. ) . O ycaycyca cos. uE) O yuU) ycoyc 2 Oe yuU . Oe yuU . cIy. yuU . = Oo. cUyaycn Oe ycUyaycycn )2 . cUyaycn Oe ycUyaycycn )2 yuU . cIy. = Oo. cUycIycn Oe ycUyaycycn )2 . cUycIycn Oe ycUyaycycn )2 ycoyc = Oo. cUyaycn Oe ycUycIycn )2 . cUyaycn Oe ycUycIycn )2 . Matriks aksesibilitas digunakan untuk menjelaskan kemampuan crane dalam mengakses tiap pekerjaan dengan mengasumsikan seluruh crane diletakkan pada lokasi awal dan dinyatakan dalam variabel biner yuycnyc . Nilai yuycnyc = 1, jika tower crane ycn mampu melayani pekerjaan yc dan nilai yuycnyc = 0, jika tower crane ycn tidak dapat melayani pekerjaan yc. Kriteria pengukuran efektivitas pengangkatan ditentukan berdasarkan keseimbangan beban kerja antar tower crane dan nilai konflik terkecil. Keseimbangan beban kerja diukur menggunakan standar deviasi waktu pengangkutan setiap crane Hartono, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 . yang dapat dihitung dengan persamaan 9 dan nilai ycNycn adalah waktu pengangkutan tower crane ycn yang dihitung dengan persamaan 10. Waktu pengangkutan ycNycn dihitung berdasarkan jumlah pekerjaan yang dilayani oleh crane ke-ycn dan total durasi yang dibutuhkan untuk setiap siklus pengangkatan. Nilai ycEyc menyatakan jumlah pengangkutan untuk pekerjaan yc, sedangkan ycycnyc dan ycycnyc masing-masing menunjukkan waktu perjalanan pengait dengan beban dan tanpa beban. Selain itu, ycycnyc merepresentasikan waktu jeda rata-rata pengait saat pengangkatan dan ycycnyc adalah waktu jeda ratarata saat pembongkaran beban. Rata-rata waktu pengangkutan dari seluruh crane dinotasikan dengan ycNI, yang digunkana untuk menilai tingkat keseimbangan beban kerja antar crane. Semakin kecil nilai yua, maka semakin merata distribusi beban kerja antar tower crane, yang menandakan kinerja pengangkatan yang lebih efisien dan terkoordinasi dengan baik. I OeT. 2 = yua (A11 . A12 . A . A21. A21 . A . Aycnyc ) ya yc = Ocyc=1 Aycnyc ycEyc . cycnyc ycycnyc = oc1ycn ycNycn Perhitungan nilai konflik menggunakan parameter yang disebut conflict index . cAy. Setiap task dihubungkan dengan tower crane yang melayani dan terbentuk sebuah segitiga. Apabila segitiga dari masing-masing task berjauhan maka tidak ada konflik yang terjadi. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 4. Jumlah perpotongan antara dua segitiga menunjukkan tingkat keparahan konflik. Semakin banyak perpotongan antara dua segitiga maka semakin besar kemungkinan terjadinya konflik. Oleh karena itu, konflik pada Gambar 4. lebih mungkin terjadi dibandingkan Gambar 4. Perhitungan nilai ycAya dengan persamaan 11, yang mempertimbangkan jumlah perpotongan antar bidang kerja crane . cuycnyc,ycoyco ), serta jumlah pengangkatan dari setiap kelompok tugas . cEycnyc dan ycEycoyco ). Variabel ycuycnyc,ycoyco merepresentasikan banyaknya perpotongan antara dua segitiga kerja, sementara ycEycnyc dan ycEycoyco masingmasing menunjukkan jumlah pengangkatan pekerjaan pada kelompok tugas ycn dan yco. Semakin besar besar nilai ycAya, semakin tinggi tingkat konflik antar tower crane yang terjadi, sehingga tujuan optimasi diarahkan untuk meminimalkan nilai ycAya agar operasi pengangkatan material dapat berlangsung secara aman dan efisien. ycAya = Ocyayco=1 Ocyayc=1 ycuycnyc,ycoyco . cEycnyc ycEycoyco ) . Gambar 3. Variabel Perhitungan Waktu Siklus Gambar 4. Ilustrasi Konflik Pekerjaan Sumber: Zhang et al. ,1999 Sumber: Zhang et al. , 1999 Hartono, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 2 Perhitungan Biaya Operasional dan Sewa Biaya merupakan faktor penting dalam merencanakan sebuah proyek konstruksi dan peralatan yang Biaya total alat dalam suatu proyek biasanya memperhitungkan biaya investasi atau biaya sewa alat, biaya operasional dan biaya pemeliharaan. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Nomor 28/PRT/M/2016 pada bagian 1: Analisis Harga Satuan Pekerjaan Umum (AHSP) Bidang Umum menjelaskan bahwa estimasi perhitungan biaya operasional adalah sebagai berikut: Bahan Bakar Biaya pengeluaran bahan bakar per jam dapat di estimasi dari kebutuhan bahan bakar per jam. Nilai 12% apabila tergolong kerja alat ringan dan 15% apabila tergolong kerja alat berat. Nilai yaycE merupakan kapasitas tenaga mesin . orse powe. Perhitungan kebutuhan bahan bakar per jam didapat dari persamaan 12. ya = . yc/ycc . % y yaycE Minyak Pelumas (Oil Greas. Pemakaian minyak pelumas pada 1 jam kerja dapat dihitung dengan persamaan 13. Nilai 2,5% apabila tergolong kerja alat ringan dan 3% apabila tergolong kerja alat berat. Nilai yaycE merupakan kapasitas tenaga mesin . orse powe. ya = . ,5 yc/ycc . % y yaycE Operator Indonesia menetapkan bahwa upah operator/driver . dan pembantu operator . cA) dapat dihitung dengan persamaan 14 dan 15. Nilai ycO1 merupakan upah untuk operator sebesar Rp 14. 285,71 dan nilai ycO2 merupakan upah untuk pembantu operator sebesar 7. 142,86. ycuycycaycuyci ya = 1 ycycayco y ycO1 ycuycycaycuyci = 1 ycycayco y ycO2 Total biaya operasional . cE) didapat dari penjumlahan keempat komponen seperti pada persamaan Setelah diperoleh biaya operasional, tahap berikutnya adalah menghitung biaya tower crane. Perhitungan biaya sewa didapat dari konversi biaya sewa perbulan menjadi per hari dikalikan dengan jumlah hari operasional dan dapat dilihat pada persamaan 17. Jadi, biaya operasional dan biaya sewa dapat dijumlahkan dengan menggunakan persamaan 18. = ya ya ya ycA yaycaycyciyca ycyceycyca ycyyceyc ycaycycoycaycu yaAycnycaycyca ycyceycyca = y Eaycaycycn ycuycyyceycycaycycnycuycuycayco ycNya 30 Eaycaycycn ycNycuycycayco = ycE yaAycnycaycyca ycyceycyca Hasil dan Pembahasan 1 Data Proyek dan Spesifikasi Tower Crane Penelitian ini dilakukan pada proyek pembangunan high-rise building di Surabaya yang terdiri dari dua tower berfungsi sebagai apartemen dan hotel, serta podium di bagian bawah yang difungsikan sebagai mall seperti pada Gambar 5. Bangunan ini memiliki 42 lantai dengan satu lantai basement yang digunakan untuk utilitas, seperti seawage treatment plant, ground water tank, dan raw water Tiga lantai pertama difungsikan sebagai mall, 10 lantai berikutnya sebagai area parkir dan hall, sedangkan lantai di atasnya difungsikan sebagai unit apartemen dan hotel. Pada sisi timur terdapat bangunan eksisting berupa apartemen dan mall, di sisi utara terdapat rumah warga, dan di sisi selatan terdapat area ruko. Denah proyek kemudian dibagi menjadi enam zona besar dengan titik supply material sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 6. Titik S1. S3, dan S5 melayani zona ramp putar, zona 5, zona 2, serta sebagian zona 4, sedangkan titik S2. S4, dan S6 melayani zona 3, zona 1, serta Hartono, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 sebagian zona 4. Titik S1 dan S3 berfungsi sebagai lokasi supply sekaligus fabrikasi besi, titik S3 dan S4 sebagai supply perancah, sementara titik S5 dan S6 sebagai supply bekisting, dengan koordinat elevasi A0,00 yang menunjukkan letak pada permukaan tanah asli. Koordinat titik supply diperoleh dari kondisi eksisting di proyek dan dapat dilihat pada Tabel 1. Gambar 5. Denah Pembangunan Gambar 6. Pembagian Zona dan Titik Supply Tabel 1. Koordinat Titik Supply Titik Material Supply x . Besi Besi Perancah Perancah Bekisting Bekisting Sumber: Olahan Penulis, 2025 Koordinat y . 10,45 12,46 4,46 4,46 z . Tower crane yang digunakan dalam penelitian ini adalah berjenis Potain MCT 205 dengan spesifikasi yang dapat dilihat pada Gambar 7 dan Gambar 8. Kapasitas pengangkatan tower crane dengan panjang jib 45 meter adalah 3,5 ton, tetapi dibatasi dikarenakan adanya pengaruh dari ukuran Praktik di lapangan beban angkatan maksimum untuk tulangan besi adalah 2,2 ton, perancah adalah 1 ton, dan bekisting 0,38 ton. Kecepatan vertikal tower crane . cyc ) menggunakan 60 LVF 25 dengan panjang sling belt 550 m. Besarnya kecepatan vertikal bergantung pada beban yang diangkat, dan di lapangan beban maksimum adalah 2,2 ton sehingga kecepatan vertikal dapat mencapai lebih dari 88 meter/menit. Sebaliknya, kecepatan horisontal . dan rotasi tidak bergantung pada beban yang diangkat, sehingga diperoleh kecepatan horisontal mencapai 58 meter/menit dan tower crane berotasi dengan kecepatan mencapai 0,8 rpm. Setiap siklus angkutan material melibatkan jeda waktu pada proses loading akibat pengaitan material dengan hook, serta pada proses unloading ketika material diturunkan dan dilepas dari kait. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan, rata-rata jeda waktu loading maupun unloading adalah sekitar 2 menit untuk seluruh jenis material. Hartono, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Gambar 7. Kapasitas Beban Maksimum Tower Crane Gambar 8. Spesifikasi Tower Crane 2 Studi Kasus Penelitian Titik demand ditentukan dengan membagi zona menjadi luasan yang lebih kecil sebesar maksimum 300 m2 dengan pertimbangan efisiensi pergerakan pekerja dalam distribusi material. Contoh pembagian demand lantai ground dapat dilihat pada Gambar 9. Koordinat titik demand dapat dilihat pada Tabel 2 dan koordinat titik z didasarkan pada elevasi setiap lantai. Koordinat x dan y ini diperoleh dari titik tengah untuk setiap pembagian luasan tersebut sesuai dengan kenyataan di Selanjutnya, frekuensi angkatan . cE) dihitung berdasarkan kebutuhan material tiap titik demand untuk setiap lantai dan dibandingkan dengan kapasitas angkatan maksimum. Data pekerjaan dan nilai ycE pada lantai ground ditampilkan pada Tabel 3. Nilai ycE inilah yang akan digunakan dalam perhitungan konflik dan estimasi waktu siklus. Gambar 9. Pembagian Titik Demand Lantai Ground Tabel 2. Titik Koordinat Demand Koordinat D1-G 9,26 44,52 D2-G 9,14 D3-G 9,08 25,12 D4-G 9,82 D50-G 177,34 Sumber: Olahan Penulis, 2025 Demand Hartono, et. A Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Tabel 3. Pekerjaan dan Frekuensi Angkatan Kebutuhan . D1-G Besi D2-G Besi D1-G Perancah D2-G Perancah D1-G Bekisting 0,21 D2-G Bekisting 0,31 Sumber: Olahan Penulis, 2025 Demand Material Kapasitas Max A A 0,38 0,38 yc 3 Kondisi Eksisting: Skenario 1 Skenario 1 bertujuan untuk memperoleh nilai konflik dan keseimbangan beban kerja berdasarkan kondisi eksisting penempatan tower crane. Hasil perhitungan pada skenario ini menjadi acuan pembanding bagi skenario berikutnya. Pada kondisi ini. TC1 memiliki radius jib 45 meter dengan jangkauan berwarna merah. TC2 radius 50 meter dengan jangkauan berwarna hijau, dan TC3 radius 60 meter dengan jangkauan berwarna biru seperti terlihat pada Gambar 10. Koordinat titik awal dari setiap tower crane disajikan pada Tabel 4. Dari gambar tersebut, diperoleh juga bahwa area irisan antara TC1. TC2, dan TC3 cukup luas, bahkan TC1 tidak mampu berputar penuh 360A karena berpotensi bertabrakan dengan section TC2. Adanya area irisan menunjukkan bahwa beberapa tower crane dapat melayani zona yang sama, yang berimplikasi pada meningkatnya potensi konflik. Selain itu, cakupan area TC3 relatif lebih luas dibandingkan TC1 dan TC2, sehingga beban kerja TC3 cenderung lebih besar karena melayani lebih banyak titik demand. Gambar 10. Kondisi Eksisting dari Tower Crane Tabel 4. Titik Koordinat Tower Crane Kondisi Eksisting Tower Radius Jib TC 1 TC 2 TC 3 Sumber: Olahan Penulis, 2025 Hartono, et. Koordinat y . Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 Hasil perhitungan nilai konflik pada skenario 1 adalah sebesar 141. 136 yang diperoleh dari penjumlahan semua kemungkinan konflik pada setiap lantai. Contoh perhitungan nilai konflik seperti Gambar 11 adalah pada pekerjaan pengangkatan tulangan besi ke titik D18-M1 dari titik supply S1 oleh TC1 dan pengangkatan tulangan besi ke titik D30-M1 dari titik supply S3 oleh TC3. Jumlah titik perpotongan konflik adalah sebesar 4 titik dan frekuensi angkatan berturut-turut adalah 4 kali dan 6 kali, sehingga perhitungan nilai ycAya sebagai berikut: ycAya = 4 y . = 40 Gambar 11. Ilustrasi Perhitungan Konflik TC1 dan TC3 pada Skenario 1 Proses selanjutnya adalah perhitungan waktu siklus untuk setiap pekerjaan pada setiap lantai. Contoh perhtiungan waktu siklus dari titik supply S1 ke titik demand D10-M1 menggunakan TC 3 sebagai yuU . = Oo. ,81 Oe 57,. ,503 Oe 24,. 2 = 30,127 yuU . cIy. = Oo. ,7 Oe 57,. ,45 Oe 24,. 2 = 19,060 yayc = Oo. ,81 Oe 70,. ,503 Oe 10,. 2 = 48,807 ycNyca ycNyui ycNycyco ycNycycy ycNEa ycN1 ycN2 ycN3 ycN4 ycN . ,127 Oe 19,060 | = 0,191 43,3432 Oe 17,6752 Oe 42,5652 = 0,8 y ycaycyca ycaycuyc ( ) = 0,32 2 y 17,675 ycu 42,565 . Ae. = 88 = 0,068 . Ae. = 44 = 0,136 = ycoycaycu . ,191 ,0,. 0,25 y ycoycnycu . ,191 ,0,. = 0,32 0,25 y 0,191 = 0,367 ycoyceycuycnyc = ycoycaycu . ,367 ,0,136 ) 1 y ycoycnycu . ,367 ,0,136 ) = 0,367 0,136 = 0,504 ycoyceycuycnyc = ycoycaycu . ,367 ,0,068 ) 1 y ycoycnycu . ,367 ,0,068 ) = 0,367 0,068 = 0,435 ycoyceycuycnyc = 2 menit = 2 menit = 1 y 4 y . ,504 0,435 2 . = 24,695 menit Dari perhitungan di atas diperoleh bahwa waktu siklus untuk satu pekerjaan dari S1 menuju ke D10M1 menggunakan TC3 adalah 24,695 menit, dan seluruh waktu siklus pada setiap pekerjaan dihitung Hartono, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 dengan rumus yang sama. Hasilnya, total waktu operasional untuk TC 1 adalah 686,870 jam. TC 2 adalah 1627,246 jam, dan TC 3 adalah 2474,013 jam. Dengan jam operasional kerja harian sebesar 15 jam, maka durasi pekerjaan struktur . eliputi besi, perancah, dan bekistin. untuk TC 1 adalah 46 hari. TC 2 adalah 109 hari, dan TC 3 adalah 165 hari, sehingga total durasi proyek mengikuti TC dengan waktu terlama, yaitu 165 hari. Hasilnya beban kerja lantai ground untuk TC 1 sebesar 3561,778 menit. TC 2 sebesar 2390,7855 menit, dan TC 3 sebesar 4846,9997 menit, sehingga ratarata beban kerja ketiga tower crane adalah 3599,8544 menit. Keseimbangan beban kerja untuk lantai ground diperoleh sebagai berikut: 1,778 Oe3599,8. 0,7855Oe3599,8. 6,9997Oe3599,8. 2 = Oo yua = 1003,11 menit Seluruh keseimbangan beban kerja seluruh lantai di rata-rata dan diperoleh rata-rata sebesar 603,18 menit untuk ketiga tower crane. Perhitungan total biaya yang meliputi biaya operasional dan biaya sewa adalah sebagai berikut: Bahan bakar ya = 15% y 92 Eaycy y 4788,13 ycycayco y ycIycy. = ycIycy449. 119,00 Minyak pelumas (Oil greas. ya = 3% y 92 Eaycy y 4788,13 ycycayco y ycIycy. = ycIycy453. 718,00 Upah operator dan pembantu operator ycuycycaycuyci ya = 1 y ycIycy 14. 285,71 y 4788,13 ycycayco ycycayco ycA = ycIycy68. 837,00 ycuycycaycuyci = 1 ycycayco y ycIycy 7. 142,86 y 4788,13 ycycayco = ycIycy34. 942,00 ycE = ycIycy449. 025 ycIycy453. 717 ycIycy68. 822 ycIycy34. = ycIycy1. 616,00 Biaya sewa yaAycnycaycyca ycyceycyca = 30 Eaycaycycn y 320 = ycIycy1. 333,00 ycNycuycycayco = ycIycy1. 616,00 ycIycy1. 333,00 = ycIycy2. 949,00 4 Hasil Optimasi: Skenario 2 dan Skenario 3 Pada bagian ini akan dibahas hasil optimasi yang dibagi menjadi optimasi dengan tetap menggunakan tiga tower crane yaitu skenario 2 dan dengan mengurangi jumlah tower crane menjadi dua serta modifikasi panjang jib yaitu skenario 3. Langkah pertama pada kedua skenario adalah dengan membagi luasan demand sesuai dengan jumlah tower crane masing-masing. Pada skenario 2, area proyek dibagi menjadi tiga daerah, yaitu area 1 dilayani oleh TC 1, area 2 dilayani oleh TC 2 dan area 3 dilayani oleh TC 3 seperti pada Gambar 12. Hal ini berlaku pada skenario 3, area proyek dibagi menjadi dua daerah yaitu area 1 dilayani TC 1 dan area 2 dilayani TC2 seperti pada Gambar 13. Proses selanjutnya adalah pembuatan irisan feasible area untuk memperoleh area meletakkan tower Feasible area didapat dengan membuat lingkaran yang berpusat pada pada titik pusat demand dan supply dengan radius sebesar panjang jib yang digunakan tower crane. Irisan dari lingkaranlingkaran feasible area kemudian dibagi menjadi beberapa kotak berukuran 2 m x 2 m sesuai dengan ukuran section tower crane yang digunakan seperti pada Gambar 14 untuk skenario 2 dan Gambar 15 untuk skenario 3. Setiap titik sampel dicoba dan disesuaikan dengan kondisi aktual lapangan Hartono, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 seperti radius jib tower crane tidak boleh melebihi batas utara lahan dan tidak melewati apartemen yang berada di sisi timur proyek, serta disesuaikan dengan letak kolom, shear wall, void tangga, dan Titik sampel yang tidak memenuhi syarat dieliminasi. Hasil dari proses iterasi untuk skenario 2 diperoleh bahwa titik penempatan tower crane paling optimal adalah TC 1 . ,217 . TC 2 . ,217 . , dan TC 3 . ,217 . , dengan nilai konflik sebesar 42. 706 dan keseimbangan beban kerja . antar tower crane sebesar 417,09 menit yang dapat dilihat pada Gambar 16. Total biaya operasional dan sewa tower crane untuk skenario 2 sebesar Rp2. 180,00. Sementara itu, hasil dari proses iterasi untuk skenario 3 diperoleh bahwa titik penempatan tower crane paling optimal adalah TC 1 . ,321 . dan TC 2 . ,938 . , dengan tidak ada konflik yang terjadi dan keseimbangan beban kerja . antar tower crane sebesar 346,06 menit yang dapat dilihat pada Gambar 17. Total biaya operasional dan sewa tower crane untuk skenario 2 sebesar Rp2. 791,00 . Gambar 12. Daerah Demand Skenario 2 Gambar 13. Daerah Demand Skenario 3 Gambar 14. Feasible Area Skenario 2 Gambar 15. Feasible Area Skenario 3 Gambar 16. Titik Tower Crane Skenario 2 Gambar 17. Titik Tower Crane Skenario 3 Hartono, et. Borneo Engineering: Jurnal Teknik Sipil Vol. 9 No. 3 Desember 2025 5 Perbandingan Hasil Optimasi Perbandingan hasil optimasi antar skenario didasarkan pada nilai konflik . cAy. , keseimbangan beban kerja . , dan total biaya dari masing-masing skenario yang dirangkum pada Tabel 5. Pada kondisi eksisting . , keseimbangan beban kerja tercatat sebesar 603,18 menit. Setelah dilakukan optimasi penempatan tower crane . , nilai tersebut menurun menjadi 417,09 menit, dan lebih rendah lagi ketika hanya menggunakan dua tower crane . , yaitu sebesar 346,06 Tren yang sama juga terlihat pada nilai konflik, di mana skenario 1 memiliki 141. 236, skenario 2 turun menjadi 42. 706, dan bahkan bernilai nol pada skenario 3. Namun, hasil ini berbanding terbalik dengan durasi pekerjaan struktur . embesian, bekisting, dan peranca. Pada skenario 1 durasi proyek adalah 165 hari, skenario 2 menjadi lebih cepat yaitu 148 hari, sedangkan skenario 3 justru lebih lama, yakni 169 hari. Dari segi biaya, hasil perhitungan meliputi biaya operasional dan biaya sewa tower crane. Total biaya skenario 1 sebesar Rp2. 949,00, skenario 2 meningkat menjadi Rp2. 180,00, sedangkan skenario 3 justru lebih rendah yaitu Rp2. 791,00. Selisih biaya antara skenario 1 dan 2 mencapai Rp176. 231,00, sementara selisih antara skenario 1 dan 3 hanya Rp11. 159,00. Biaya pada skenario 2 mencerminkan penggunaan 3 tower crane dengan hasil optimasi, sedangkan skenario 3 menunjukkan kondisi setelah iterasi dengan hanya 2 tower crane. Tabel 5. Perbandingan Hasil Kondisi Eksisting dan Hasil Optimasi Skenario yyO . 603,18 417,09 346,06 Sumber: Olahan Penulis, 2025 ycAyc Durasi Waktu . Total Biaya Rp2. 949,00 Rp2. 180,00 Rp2. 791,00 Kesimpulan Berdasarkan hasil analisis, dapat disimpulkan bahwa skenario 3 merupakan alternatif terbaik jika ditinjau dari aspek keseimbangan beban kerja, nilai konflik, dan total biaya. Pada skenario ini, keseimbangan beban kerja tercapai paling optimal dengan nilai rata-rata keseimbangan beban kerja terendah, serta tidak terdapat konflik antar tower crane. Selain itu, total biaya pada skenario 3 juga lebih rendah dibandingkan kondisi eksisting maupun hasil optimasi dengan tiga tower crane. Walaupun durasi proyek pada skenario 3 relatif lebih lama dibandingkan skenario lainnya, keunggulan pada distribusi beban kerja, eliminasi konflik, dan efisiensi biaya menjadikannya sebagai solusi yang lebih efektif. Daftar Pustaka