Jurnal Penelitian Kesehatan Pelamonia Indonesia Volume 06, Nomor 02, September - Februari 2024 pISSN 2620-9683, eISSN 2654-9921 ANALISIS PENGARUH LINGKUNGAN KERJA FISIK DAN DUKUNGAN SOSIAL TERHADAP STRES KERJA PADA PERAWAT DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) HAJI MAKASSAR ANALYSIS OF THE INFLUENCE OF PHYSICAL WORK ENVIRONMENT AND SOCIAL SUPPORT ON JOB STRESS IN NURSES IN THE INPATIENT ROOM REGIONAL GENERAL HOSPITAL (RSUD) HAJI MAKASSAR Ricky Perdana Poetra 1, Adriyana Adevia Nuryadin2, Ryryn Suryaman Prana Putra3, Annastya Dewi Yusrifah4 Department of Hospital Administration, Institut Ilmu Kesehatan Pelamonia Makassar, Indonesia E-mail: rickyperdana_poetra@yahoo.com.au, adriyana.nuryadin@yahoo.com, uyaputra17@gmail.com, annastyadewi16@gmail.com ABSTRAK Saat ini rumah sakit mengalami berbagai masalah yang berhubungan dengan tenaga keperawatan dan pelayanan keperawatan, masalah-masalah tersebut diantaranya adalah yang berhubungan dengan lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial yang kurang baik yang dapat mempengarui tingkatan stres kerja pada perawat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Jenis penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan desain cross sectional study dimana jumlah sampel sebanyak 160 responden perawat rawat inap. Data penelitian ini diperoleh melalui kuesioner yang telah diuji validitas, reliabilitas. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi square, analisis multivariat dengan uji regresi binari dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel lingkungan kerja fisik (p=0,000) dan dukungan sosial (p=0,001) berpengaruh terhadap stress kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Sebagai kesimpulan, dalam meningkatkan lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial pada perawat dengan pengelolaan yang baik di tempat kerja dapat memberikan dampak positif dalam mengurangi tingkat stres kerja pada perawat di ruang rawat inap RSUD Haji Makassar. Kata Kunci: Lingkungan Kerja Fisik, Dukungan Sosial, Stres Kerja ABSTRACT Currently, hospitals are experiencing various problems related to nursing staff and nursing services, including those related to the physical work environment and poor social support that can affect the level of job stress in nurses. The purpose of this study was to analyze the effect of physical work environment and social support on work stress in nurses in the inpatient room of the Regional General Hospital (RSUD) Haji Makassar. The type of research used in this study is quantitative research with a cross sectional study design approach where the sample size is 160 inpatient nurse respondents. This research data was obtained through a questionnaire that had been tested for validity, reliability. Data analysis techniques used were univariate analysis, bivariate analysis with chi square test and multivariate analysis with binary regression test with the help of SPSS application. The results showed that the variables of physical work environment (p=0.000) and social support (p=0.001) affect work stress in nurses in the inpatient room of the Regional General Hospital (RSUD) Haji Makassar. In conclusion, in improving the physical work environment and social support in nurses with good management in the workplace can have a positive impact in reducing the level of work stress in nurses in the inpatient room of the Makassar Hajj Hospital. Keywords : Physical Work Environment, Social Support, Job Stress. PENDAHULUAN Salah satu ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia adalah rumah sakit. Menurut World Health Organization (WHO) 2018, rumah sakit adalah bagian integral dari suatu organisasi sosial dan kesehatan dengan fungsi menyediakan pelayanan paripurna (komprehensif), penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat. Rumah sakit adalah penyedia layanan kesehatan yang membutuhkan investasi besar dalam modal, teknologi, dan tenaga kerja, serta berperan strategis dalam meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat di Indonesia (Anandyta, 2020). Rumah sakit merupakan lembaga pelayanan kesehatan yang menyediakan layanan kesehatan komprehensif bagi individu, meliputi upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, Ricky, dkk : Analisis Pengaruh… JPKPI Vol 06 No 02 September-Februari 2024 pengobatan, dan rehabilitasi. Fasilitas ini menyediakan layanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat guna memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat (UU RI nomor 44, 2009 dalam Nafi’ah, 2018). Studi yang dilakukan oleh National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH) menyimpulkan bahwa profesi perawat memiliki risiko yang sangat tinggi terhadap stres (Schultz, 1994 dalam Rahmadia et al., 2019). Tenaga keperawatan merupakan sumber daya manusia yang menjalankan sebagian besar aktivitas pelayanan serta merupakan komponen utama dalam sebuah rumah sakit. Dalam menjalankan tugasnya tersebut, seorang perawat dituntut memahami proses dan standar praktik keperawatan. Perawat adalah orang yang dididik menjadi tenaga para medis untuk menyelenggarakan perawatan orang sakit atau secara khusus untuk mendalami bidang perawatan itu (Sudarma, 2008 dalam Rahmadia et al., 2019). Stres kerja perawat dapat terjadi apabila perawat dalam bertugas mendapatkan beban kerja yang melebihi kemampuannya sehingga perawat tersebut tidak mampu memenuhi atau menyelesaikan tugasnya, maka perawat tersebut dikatakan mengalami stres kerja. Stres kerja perawat antara lain akibat karakterisasi pasien, pengkajian terhadap pasien, dan aspek lingkungan kerja yang mengganggu merupakan langkah awal dalam menangani masalah-masalah yang datang mengenai tingkat kepadatan ruangan emergency, efisiensi pelaksanaan tugas, serta adanya tuntutan untuk menyelamatkan pasien (Aini & Purwaningsih, 2013). Stres di tempat kerja dapat menjadi risiko bagi kesehatan dan keselamatan pekerja ketika pekerjaan yang dilakukan melebihi kemampuan,masalah stres dengan nilai 27% dan aspek pekerjaan yang menyebabkan stres paling tinggi, di antara pekerja 46% yang menganggap tingkat stres di tempat kerja sebagai tingkat stres yang sangat tinggi. Angka prevalensi stres kerja di Vietnam sebesar 18,5%, sementara di Hongkong mencapai 41,1%. Stres kerja perawat menempati ranking 40 kasus teratas stres pada pekerja menurut American National Association for Occupational Health (Mayasari, 2022). Di Amerika, stres di tempat kerja adalah masalah umum dan merugikan bagi pekerja. Sekitar 8% kasus depresi atau stres tercatat, sedangkan di Indonesia, stres kerja juga menjadi salah satu masalah dengan angka yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil penelitian Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), ditemukan bahwa 50,9% perawat mengalami stres kerja dan stres pada kelompok kerja lebih tinggi dibanding populasi umum. Dimana contohnya adalah Jakarta dengan tenaga kesehatannya terjadi stres mencapai 25% (Elizar et al., 2020). Saat ini rumah sakit justru mengalami berbagai masalah yang berhubungan dengan tenaga keperawatan dan pelayanan keperawatan, masalah-masalah tersebut diantaranya adalah yang berhubungan dengan lingkungan kerja fisik yang kurang baik yang dapat mempengaruhi psikologis perawat itu sendiri ketika bekerja. Lingkungan yang kondusif menjadi perhatian khusus rumah sakit, sebab hal ini sangat mempengaruhi stres kerja pada perawat dalam bekerja. Tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya sebab lingkungan kerja ini adalah sesuatu hal yang bersifat relatif bagi perawat, yang mana lingkungan kerja ini tergantung dari sudut pandang dan kebiasaan perawat itu menilainya, baik bagi rumah sakit namun belum tentu bagi perawat itu sendiri (Abdillah, 2016). Lingkungan kerja fisik adalah yaitu semua yang berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja dimana terdapat mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun tidak langsung (Sedarmayanti, 2009 dalam Rastana et al., 2021). Studi-studi mengemukakan bahwa seseorang lebih menyukai keadaan fisik yang tidak berbahaya atau merepotkan temperatur, cahaya, kebisingan, dan faktor lingkungan lain juga dapat mempengaruhi stres kerja pada perawat (Aritonang et al., 2019). Dukungan sosial yaitu bentuk perhatian yang ditunjukkan seseorang dalam mendukung pekerjaan perawat. Bentuk dukungan sosial ini dapat berupa kasih sayang, perhatian, penghargaan, pujian, dan komunikasi (King, 2012 dalam Pasaribu et al., 2021). Salah satu faktor yang mempengaruhi stres kerja adalah faktor sosial yaitu dukungan sosial. Dukungan sosial memberikan kontribusi bagi seseorang dalam menghadapi stres. Dukungan sosial memainkan peran yang sangat penting dalam mencegah masalah kesehatan mental. Individu yang kurang mendapatkan dukungan sosial cenderung lebih rentan terhadap dampak negatif secara psikologis. Di sisi lain, individu yang mendapatkan dukungan sosial yang kuat cenderung lebih optimis dalam menghadapi tantangan hidup, memiliki kemampuan yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan psikologisnya, dan memiliki jaringan sosial yang kuat. Hal ini membantu mengurangi tingkat kecemasan, meningkatkan keterampilan interpersonal, dan memungkinkan individu untuk mengatasi stres dengan lebih baik (Setyaningrum, 2014). Dukungan sosial didefinisikan sebagai interaksi sosial yang memberikan bantuan nyata atau perasaan kasih sayang kepada individu atau kelompok, yang dapat dirasakan oleh individu atau kelompok yang bersangkutan sebagai perhatian, cinta, dan penghargaan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial dapat membantu individu untuk beradaptasi dengan segala situasi atau peristiwa yang tidak diharapkan (Sarason, et al., 1990 dalam Amylia, 2013). Perawat yang bertugas di ruang rawat inap sangat sering bertemu dengan pasien dengan berbagai macam karakter dan penyakit yang diderita. Pasien sering mengeluh akan penyakitnya, hal ini yang membuat perawat mengalami kelelahan. Tidak hanya dari sisi pasien saja yang dapat membuat perawat mengalami kelelahan fisik, emosi dan juga mental tetapi dari sisi keluarga pasien yang banyak menuntut atau mengeluh, rekan kerja yang tidak sejalan, kurangnya dukungan dari pihak keluarga pada perawat dan kondisi lingkungan kerja 2 Ricky, dkk : Analisis Pengaruh… JPKPI Vol 06 No 02 September-Februari 2024 di ruangan yang kurang mendukung seperti suhu udara di ruangan yang kurang sejuk. Hal ini dapat menyebabkan perawat mengalami stres (Afra & Putra, 2017). Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. METODE Peneliti menggunakan rancangan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional study. Rancangan cross sectional pada penelitian ini digunakan untuk mempelajari dinamika korelasi (pengaruh). Antara variabel dependent yaitu stres kerja pada perawat dan variabel independent yaitu lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial. Metode kuantitatif bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan yang digunakan untuk meneliti pada populasi maupun sampel tertentu, pengumpulan data dengan menggunakan instrument penelitian, serta analisis data yang bersifat kuantitatif atau statistik karena penelitian ini menggunakan angkaangka dengan perhitungan statistik serta bertujuan untuk menguji hipotesis yang telah dibuat, Pengumpulan data dilaksanakan pada saat bersamaan dalam waktu kurun tertentu artinya dimana setiap responden hanya dilakukan observasi dan dimintai keterangan sekali saja serta variabel dependen dan independen diukur menurut suatu kondisi pada saat pengumpulan data tersebut. Pendidikan Ruangan NERS SI DIII S2 PNS NPNS PNS NPNS PNS NPNS Al-Fajar 0 5 1 1 0 11 5 Ad-Dhuha 0 8 2 0 0 3 5 Al-Kautsar 0 9 1 3 0 5 0 Ar-Raudah 1 0 7 2 4 0 3 2 Ar-Raudah 2 0 7 3 0 0 4 4 Ar-Raudah 3 0 8 1 0 0 5 3 0 9 1 0 0 8 1 0 8 3 0 0 7 0 Arraihan 0 4 0 3 0 2 0 Instalasi Rawat Inap 1 1 0 0 0 0 0 Total 1 66 14 11 0 48 20 Rinra Sayang Lt.1 Rinra Sayang Lt.2 Keseluruhan 160 Perawat HASIL Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa tenaga keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar tahun 2022 dimana, jumlah tertingginya 66 perawat dengan status pendidikan NERS PNS dan 48 perawat dengan status pendidikan DIII PNS. Dari data pada tabel tersebut menunjukkan bahwa total keseluruhan tenaga keperawatan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar sebanyak 160 perawat. Kemudian dapat dilihat bahwa jumlah tenaga keperawatan dengan status pendidikan D3 lebih besar dibanding jumlah tenaga keperawatan dengan status pendidikan S1. Hal tersebut dikarenakan pada saat penerimaan kerja, khususnya bagi tenaga keperawatan di RSUD Haji Makassar kebanyakan dari pendaftar dengan status pendidikan D3. Akan tetapi, tetap dilakukan pengangkatan jabatan bagi para tenaga keperawatan yang melanjutkan tingkat pendidikannya. Seperti yang diketahui bahwa perawat adalah salah satu tenaga medis yang berperan penting di sebuah rumah sakit. Apabila tingkat stres kerjanya tinggi terhadap lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial yang kurang baik, maka akan berdampak terhadap cara pelayanannya kepada pasien, dan apabila pelayanan seorang perawat yang kurang baik maka akan membuat pasien merasa kurang puas. Hal tersebut bisa saja berdampak terhadap citra suatu rumah sakit. Kesimpulannya, lingkungan kerja fisik yang baik dan dukungan sosial yang baik sangat penting bagi para perawat, maka semakin rendah tingkat stres kerja pada perawat tersebut. Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti memilih untuk mengambil judul penelitian yang berjudul Analisis Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik dan Dukungan Sosial terhadap Stres Kerja pada Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Karakteristik Jenis Kelamin Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 Jenis Kelamin n % Laki-laki 42 26,25 Perempuan 118 73,75 160 100 Total Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4.1 di atas, distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik jenis kelamin Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, yang memiliki jumlah tertinggi yaitu jenis kelamin perempuan dengan frekuensi 118 (73,75%) responden. Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Karakteristik Umur Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 Umur 3 n % < 30 Tahun 20 12,5 31-35 Tahun 42 26,25 36-40 Tahun 40 25,0 > 40 Tahun 58 36,25 Ricky, dkk : Analisis Pengaruh… Total JPKPI Vol 06 No 02 September-Februari 2024 160 Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 100 Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4.2 di atas, distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik umur Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, yang memiliki jumlah paling tinggi yaitu umur >40 tahun dengan frekuensi 58 (36,25%) responden, sedangkan jumlah terendah yaitu umur <30 tahun dengan frekuensi 20 (12,5%) responden. Lama Bekerja n % DIII 68 42,5 S1 11 6,9 NERS 80 50,0 S2 1 0,6 160 100 Total % PNS 126 78,75 NON PNS 34 21,25 160 100 Total 3 1,875 1-5 Tahun 42 26,25 6-10 Tahun 47 29,375 > 10 Tahun 68 42,5 160 100 Tabel 4.6 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Lingkungan Kerja Fisik pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 Lingkungan Kerja Fisik n % Baik 130 81,25 Kurang Baik 30 18,75 160 100 Total Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4.6 di atas, distribusi frekuensi responden berdasarkan variabel Lingkungan Kerja Fisik pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, sebagian besar menyatakan lingkungan kerja fisik yang baik sebanyak 130 (81,3%) responden. Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Karakteristik Status Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah SakitUmum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 n < 1 Tahun Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4.5 di atas, distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik lama kerja Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, yang memiliki jumlah paling tinggi yaitu lama kerja selama >10 tahun dengan frekuensi 68 (42,5%) responden, sedangkan jumlah terendah yaitu lama kerja selama <1 tahun dengan frekuensi 3 (1,875%) responden. Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4.3 di atas, distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik pendidikan terakhir Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, yang memiliki jumlah tertinggi yaitu tingkat pendidikan terakhir NERS dengan frekuensi 80 (50%) responden, sedangkan jumlah terendah yaitu tingkat pendidikan terakhir S2 dengan frekuensi 1 (0,625%) responden. Status % Total Tabel 4.3 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Karakteristik Pendidikan Terakhir Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 Pendidikan Terakhir n Tabel 4.7 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Dukungan Sosial pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Dukungan Sosial Berdasarkan tabel 4.4 di atas, distribusi frekuensi responden berdasarkan karakteristik status Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, yang memiliki jumlah tertinggi yaitu status PNS dengan frekuensi 126 (78,75%) responden. n % Baik 135 84,4 Kurang Baik 25 15,6 160 100 Total Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4.7 di atas, distribusi frekuensi responden berdasarkan variabel Dukungan Sosial pada Perawat di Ruang Rawat Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Karakteristik Lama Bekerja 4 Ricky, dkk : Analisis Pengaruh… JPKPI Vol 06 No 02 September-Februari 2024 Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, sebagian besar menyatakan dukungan sosial yang baik sebanyak 135 (84,4%) responden. Tabel 4.10 Crosstabulation Responden Dukungan Sosial terhadap Stres Kerja pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 Tabel 4.8 Distribusi Frekuensi Responden berdasarkan Stres Kerja pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 Stres Kerja n % Tinggi 77 48,1 Rendah 83 51,9 160 100 Total Stres Kerja Dukungan Sosial Stres Kerja Jumlah Rendah n % n % N % Baik 53 33,1 77 48,1 130 81,2 Kurang Baik 24 15 6 3,8 30 18,8 Total 77 48,1 83 51,9 160 100 P n % n % N % Baik 57 35,6 78 49,8 135 84,4 Kurang Baik 20 12,5 5 3,1 25 15,6 Total 77 48,1 83 51,9 160 100 0,0 01 Berdasarkan tabel 4.10 di atas, Crosstabulation responden berdasarkan variabel Dukungan Sosial terhadap Stres Kerja Pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, yang menyatakan dukungan sosial yang baik dan tingkat stres kerja yang tinggi sebanyak 57 (35,6%) responden, dan yang menyatakan dukungan sosial yang baik dan tingkat stres kerja yang rendah sebanyak 78 (49,8%) responden. Sedangkan yang menyatakan dukungan sosial yang kurang baik dan tingkat stres kerja yang tinggi sebanyak 20 (12,5%) responden, dan yang menyatakan dukungan sosial yang kurang baik dan tingkat stres kerja yang rendah sebanyak 5 (3,1%) responden. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,001, karena nilai p < α = 0,001 < 0,05 maka H0 ditolak, ini berarti bahwa terdapat pengaruh yang bermakna secara statistik terhadap variabel Dukungan Sosial terhadap Stres Kerja pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Tabel 4.9 Crosstabulation Responden Lingkungan Kerja Fisik terhadap Stres Kerja pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 Tinggi Rendah Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4.8 di atas, distribusi frekuensi responden berdasarkan variabel Stres Kerja pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, sebagian besar menyatakan stres kerja yang tinggi sebanyak 77 (48,1%) responden. Lingkungan Kerja Fisik Jumlah Tinggi P 0,0 00 Tabel 4.11 Analisis Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik dan Dukungan Sosial terhadap Stres Kerja di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar Tahun 2023 Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4.9 di atas, Crosstabulation responden berdasarkan variabel Lingkungan Kerja Fisik terhadap Stres Kerja Pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar menunjukkan bahwa dari total 160 responden, yang menyatakan lingkungan kerja fisik yang baik dan tingkat stres kerja yang tinggi sebanyak 53 (33,1%) responden, dan yang menyatakan lingkungan kerja fisik baik dan tingkat stres kerja yang rendah sebanyak 77 (48,1%) responden. Sedangkan yang menyatakan lingkungan kerja fisik yang kurang baik dan tingkat stres kerja yang tinggi sebanyak 24 (15%) responden, dan yang menyatakan lingkungan kerja fisik yang kurang baik dan tingkat stres kerja yang rendah sebanyak 6 (3,8%) responden. Hasil uji statistik diperoleh nilai p = 0,000, karena nilai p < α = 0,000 < 0,05 maka H0 ditolak, ini berarti bahwa terdapat pengaruh Lingkungan Kerja Fisik terhadap Stres Kerja pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Variabel B Sig. Exp(B) Lingkungan Kerja 1,628 0,001 5,095 Fisik (X1) Dukungan Sosial 1,538 0,005 4,656 (X2) Sumber Data Olahan Penulis Tahun 2023 Berdasarkan tabel 4.11 di atas, hasil analisis regresi binari logistik variabel independen terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar, menunjukkan bahwa setelah dilakukan analisis multivariat dengan menggunakan regresi binari logistik diperoleh bahwa variabel dengan nilai Exp (B) terbesar adalah variabel Lingkungan Kerja Fisik dengan nilai Exp (B) sebesar 5.095, sehingga variabel tersebut yang ditetapkan sebagai faktor yang paling berpengaruh secara simultan terhadap 5 Ricky, dkk : Analisis Pengaruh… JPKPI Vol 06 No 02 September-Februari 2024 stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Berdasarkan jawaban responden untuk variabel lingkungan kerja fisik terhadap stres kerja pada perawat menyatakan bahwa lingkungan kerja fisik di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar sebagian besar berada pada kategori baik, namun masih ada beberapa dalam kategori kurang baik. Hal tersebut didukung dari jawaban responden yang sebagian besar menjawab setuju pada pernyataan “Saya merasa tidak nyaman karena ruang kerja saya terasa panas sehingga mengakibatkan saya kurang fokus dalam bekerja”. Kemudian didukung dari jawaban responden yang sebagian besar menjawab tidak setuju pada pernyataan “Tidak adanya suara yang mengganggu didalam ruangan sehingga mempengaruhi aktifitas saya” dan “Dengan adanya pemasangan CCTV disetiap ruangan tempat kerja yang membuat saya merasa aman”. Dengan demikian, meskipun sebagian besar responden menganggap lingkungan kerja fisik di ruang rawat inap RSUD Haji Makassar baik, namun terdapat sejumlah perawat yang menyatakan bahwa lingkungan kerja fisik masih kurang baik. Sehingga masih terdapat beberapa masalah terkait lingkungan kerja fisik yang dihadapi oleh perawat, seperti ruangan yang terasa panas, suara yang mengganggu, atau kurangnya keamanan dalam ruangan. Untuk menciptakan lingkungan kerja fisik yang baik, maka RSUD Haji Makassar harus memastikan sistem pendingin udara berfungsi dengan baik. Jika diperlukan, perbaiki atau perbarui sistem tersebut untuk menciptakan suhu yang nyaman di ruangan rawat inap. Kemudian memastikan pintu dan jendela memiliki kualitas yang baik juga akan membantu mengurangi kebisingan dari luar. Selain itu, manajemen dapat mengambil langkah-langkah untuk mengurangi penggunaan peralatan berisik di sekitar area kerja perawat. Serta pemasangan CCTV di setiap ruangan tempat kerja perawat dapat membantu meningkatkan keamanan dan memberikan rasa aman, juga memastikan sistem keamanan yang memadai dan melaksanakan pemantauan keamanan yang ketat akan memberikan perlindungan tambahan bagi perawat. Dengan demikian dapat mengurangi tingkat stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Noordiansah, 2013) yang menunjukkan bahwa hasil uji statistik yang telah dilakukan, maka hasil uji yang diperoleh yaitu nilai signifikan = 0,011 < 0,05 artinya terdapat pengaruh antara lingkungan kerja fisik terhadap stres kerja perawat studi pada Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang. Pada penelitian (Noordiansah, 2013) menggunakan metode explanatory research yang menjelaskan hubungan kasual antara variabelvariabel melalui pengujian hipotesis dengan jumlah sampel sebanyak 36 responden dan yang menjadi sasaran pada penelitian Pasih Noordiansah adalah perawat di Rumah Sakit Muhammadiyah Jombang. PEMBAHASAN Pembahasan dari hasil penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Analisis Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik dan Dukungan Sosial terhadap Stres Kerja pada Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Dalam melakukan penelitian ini, dilakukan penyebaran kuesioner atau angket kepada 160 responden. Dalam penelitian ini, peneliti mengelola data kuesioner dalam bentuk data yang terdiri dari 10 pernyataan untuk variabel lingkungan kerja fisik (X1), 8 pernyataan untuk variabel dukungan sosial (X2) dan 6 pernyataan untuk variabel stres kerja (Y). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar tahun 2023. Setelah memperoleh hasil penelitian melalui proses pengolahan, analisa dan penyajian data, selanjutnya akan dilakukan pembahasan sesuai dengan variabel yang diteliti. Pembahasan dari penelitian ini sebagai berikut: Pengaruh antara Lingkungan Kerja Fisik terhadap Stres Kerja Lingkungan kerja fisik dapat berpengaruh terhadap pegawai, sehingga dapat menimbulkan gangguan psikologis berupa terjadinya stres kerja (Nitisemito, 2000 dalam Ningsih & Fitri, 2016). Lingkungan kerja fisik adalah faktor-faktor fisik di sekitar tempat kerja terkhususnya pada perawat yang dapat mempengaruhi tingkat stres mereka. Hal ini meliputi pewarnaan, penerangan, suhu udara, kebisingan, ruang gerak, keamanan dan kebersihan. Jika lingkungan kerja fisik tidak memadai, perawat dapat mengalami peningkatan stres dan mengganggu kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang mendukung kondisi perawat saat melakukan pekerjaan. Dalam penelitian ini, didukung oleh data di lapangan dari hasil pembagian kuesioner mengenai variabel lingkungan kerja fisik yang dimana respon pengguna diambil menggunakan kuesioner dengan jumlah 10 pernyataan dari 160 responden menunjukkan bahwa responden yang menjawab lingkungan kerja fisik yang baik sebanyak 130 (81,25%) responden, sedangkan yang menjawab lingkungan kerja fisik yang kurang baik sebanyak 30 (18,75%) responden. Dari hasil analisis bivariat dengan uji chi-square responden berdasarkan variabel lingkungan kerja fisik terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar, diperoleh nilai p = 0.000, karena nilai p < α = 0.000 < 0.05 maka H0 ditolak, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh lingkungan kerja fisik terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Pengaruh antara Dukungan Sosial terhadap Stres Kerja 6 Ricky, dkk : Analisis Pengaruh… JPKPI Vol 06 No 02 September-Februari 2024 Dukungan sosial memberikan kontribusi bagi seseorang dalam menghadapi stres. Dukungan sosial memiliki peranan penting untuk mencegah dari ancaman kesehatan mental. Individu yang memiliki dukungan sosial yang lebih kecil, lebih memungkinkan mengalami konsekuensi psikis yang negatif. Keuntungan individu yang memperoleh dukungan sosial yang tinggi akan menjadi individu lebih optimis dalam menghadapi kehidupan saat ini maupun masa yang akan datang serta lebih dapat membimbing individu untuk beradaptasi dengan stres (Setyaningrum, 2014). Dukungan sosial merujuk pada interaksi ataupun bantuan yang diberikan terkhususnya kepada perawat oleh rekan kerja ataupun keluarga. Dukungan sosial bertujuan untuk mengurangi stres kerja yang dialami oleh perawat dengan memberikan perasaan didengar, dipahami, dan diterima, serta sumber daya emosional, informasional, dan instrumental yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan pekerjaan yang tinggi. Penting bagi orang sekitar atau terdekat yang terkait untuk menciptakan dukungan sosial terkhususnya bagi perawat agar dapat mengurangi stres kerja dan meningkatkan kesejahteraan mereka. Dalam penelitian ini, didukung oleh data di lapangan dari hasil pembagian kuesioner mengenai variabel dukungan sosial yang dimana respon pengguna diambil menggunakan kuesioner dengan jumlah 8 pernyataan dari 160 responden menunjukkan bahwa responden yang menjawab lingkungan kerja fisik yang baik sebanyak 135 (84,4%) responden, sedangkan yang menjawab dukungan sosial yang kurang baik sebanyak 25 (15,6%) responden. Dari hasil analisis bivariat dengan uji chi-square responden berdasarkan variabel dukungan sosial terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar, diperoleh nilai p = 0.001, karena nilai p < α = 0.001 < 0.05 maka H0 ditolak, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh dukungan sosial terhadap stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Berdasarkan jawaban responden untuk variabel dukungan sosial terhadap stres kerja pada perawat menyatakan bahwa dukungan sosial di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar sebagian besar berada pada kategori baik, namun masih ada beberapa dalam kategori kurang baik. Hal tersebut didukung dari jawaban responden yang sebagian besar menjawab tidak setuju pada pernyataan “Pimpinan saya sering memberikan bonus setiap kali saya bekerja lembur”. Kemudian didukung dari jawaban responden yang hampir sebagian menjawab tidak setuju pada pernyataan “Ketika saya berada dalam kondisi kekurangan uang, teman saya dengan senang hati membantu saya meminjamkan uangnya” dan “Keluarga saya selalu memastikan bahwa keadaan ekonomi saya cukup dan membantu ketika saya merasa kurang”. Dengan demikian, meskipun sebagian besar responden menganggap dukungan sosial di ruang rawat inap RSUD Haji Makassar baik, namun terdapat sejumlah perawat yang menyatakan bahwa dukungan sosial masih kurang baik. Sehingga masih terdapat beberapa masalah terkait dukungan sosial yang dihadapi oleh perawat, seperti perawat merasa bahwa pimpinan kurang memberikan penghargaan berupa bonus saat bekerja lembur. Untuk menciptakan dukungan sosial yang baik, maka RSUD Haji Makassar dapat mengambil kebijakan yang memastikan perawat mendapatkan penghargaan dan pengakuan yang layak, termasuk bonus yang pantas saat bekerja lembur. Ini akan membantu meningkatkan motivasi dan merasa dihargai oleh pimpinan. Kemudian RSUD Haji Makassar dapat menyediakan program pelatihan dan pengembangan yang fokus pada pengembangan soft skills, seperti komunikasi efektif, empati, dan keterampilan sosial lainnya. Hal ini akan membantu perawat dalam membangun hubungan yang lebih baik dengan rekan kerja dan meningkatkan dukungan sosial di tempat kerja. Dengan demikian dapat mengurangi tingkat stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Janice & Wijaya, 2017) yang menunjukkan bahwa hasil uji statistik yang telah dilakukan, maka hasil uji yang diperoleh yaitu nilai signifikan = 0,000 < 0,05 artinya terdapat pengaruh antara dukungan sosial terhadap stres kerja perawat bangsal rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan. Pada penelitian (Janice & Wijaya, 2017) menggunakan metode kuantitatif kausal, dengan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 75 responden dan sasaran pada penelitian Janice & Wijaya adalah perawat bangsal rawat inap di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan. Pengaruh yang Simultan antara Lingkungan Kerja Fisik dan Dukungan Sosial terhadap Stres Kerja Stres kerja dapat diartikan sebagai sumber atau stressor kerja yang menyebabkan reaksi individu berupa reaksi fisiologis, psikologis, dan perilaku. Lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial berpotensi sebagai stres kerja. Stres kerja merupakan segala kondisi pekerjaan yang dipersepsikan perawat sebagai suatu tuntutan dan dapat menimbulkan stress kerja (Asih et al., 2018). Stres kerja pada perawat adalah suatu kondisi yang timbul ketika perawat mengalami tekanan, tuntutan, atau beban kerja yang berlebihan. Stres kerja pada perawat bisa dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kondisi lingkungan kerja fisik yang kurang baik dan kurangnya dukungan sosial. Kedua hal ini dapat menjadi pemicu stres bagi perawat dalam menjalankan tugas-tugasnya. Stres kerja dapat mempengaruhi kesejahteraan dan kinerja perawat, serta berpotensi menyebabkan dampak negatif seperti kelelahan, kecemasan, depresi, penurunan kualitas pelayanan, dan risiko kesehatan yang lebih tinggi. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh mengenai pengaruh lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial secara simultan terhadap stres 7 Ricky, dkk : Analisis Pengaruh… JPKPI Vol 06 No 02 September-Februari 2024 kerja pada perawat di ruang rawat inap RSUD Haji Makassar, dapat disimpulkan bahwa kedua variabel independen tersebut secara simultan atau bersamasama, artinya lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial secara bersama-sama berpengaruh terhadap stres kerja. Pada penelitian ini, ditemukan bahwa lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial berpengaruh simultan terhadap stres kerja perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Haji Makassar. Hasil uji regresi binari logistik menunjukkan bahwa nilai Exp(B) dari variabel lingkungan kerja fisik adalah 5,095 dan nilai Exp(B) dari variabel dukungan sosial adalah 4,656. Hal ini menandakan bahwa pengaruh lingkungan kerja fisik lebih besar daripada dukungan sosial terhadap stres kerja perawat. Hal ini sejalan dengan temuan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa lingkungan kerja fisik memiliki pengaruh yang lebih kuat dalam memengaruhi stres kerja perawat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan (Rahmadia et al., 2019) yang menunjukkan bahwa variabel lingkungan kerja fisik berpengaruh lebih besar dibandingkan dengan variabel dukungan sosial yang dimana diperoleh nilai thitung sebesar 2,597 dan ttabel sebesar 1,984 dengan nilai signifikan 0,002 < 0,05. Pada penelitian (Rahmadia et al., 2019) menggunakan metode deskriptif dan kausatif, dengan jumlah sampel sebanyak 103 responden dan sasaran pada penelitian Rahmadia adalah perawat di Rumah Sakit Islam (RSI) Ibnu Sina Payakumbuah. dengan cara menciptakan suasana keterbukaan rekan kerja, membuat sesi konseling dengan perawat yang mengalami permasalahan dengan rekan kerja maupun keluarga, membuat acara atau kegiatan rekreasi guna mempererat hubungan perawat, melakukan evaluasi secara berkala untuk mengurangi tingkatan stres kerja dan juga melaksanakan pengembangan diri terutama pelatihan atau seminar pada perawat, serta disarankan bagi peneliti selanjutnya agar menambah subjek penelitian contohnya pasien dan variabel lainnya secara mendalam serta melakukan penelitian di unit lain misalnya rawat jalan dann UGD. DAFTAR PUSTAKA Abdillah, H. (2016). Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Kepuasan Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Cibabat Kota Cimahi Tahun 2016. Urnal Ilmiah Kesehatan Dan Keperawatan, 2(1), 1– 13. Afra, Z., & Putra, A. (2017). Stres Kerja Perawat di Ruang Rawat Inap RSUD Dr. Zainoel Abidin Banda Aceh. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Fakultas Keperawatan, 2(4), 1–7. Aini, F., & Purwaningsih, P. (2013). Hubungan Antara Beban Kerja dengan Stres Kerja Perawat di Instalasi Gawat Darurat RSUD Kabupaten Semarang. Mei, 1(1), 48–56. id.portalgrauda.org Amylia, Y. (2013). HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI DUKUNGAN SOSIAL DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PENDERITA LEUKEMIA. 1–14. Anandyta, M. D. (2020). Analisis Perbandingan Pengalaman Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Umum Daerah Haji Makassar Dengan Rumah Sakit Stella Maris Makassar. Asih, G. Y., Widhiastuti, H., & Dewi, R. (2018). Stres Kerja. Elizar, Lubis, & Yuniati. (2020). Pengaruh Stress Kerja, Beban Kerja, Kepuasan Kerja Terhadap Kinerja Perawat di RSUD Datu Beru. Jurnal JUMANTIK, 5(1), 78–89. Janice, & Wijaya, Y. D. (2017). Pengaruh Dukungan Sosial Terhadap Stres Kerja Perawat Bangsal Rawat Inap Di Rumah Sakit Jiwa Dr. Soeharto Heerdjan. Journal Universitas Esa Unggu, 3(November), 70–78. Mayasari, S. (2022). Hubungan Interpersonal dengan Tingkat Stres Perawat di Ruang Selincah Lantai 2 RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang Tahun 2022 (XIV+59. Nafi’ah, J. (2018). Hubungan Persepsi Beban Kerja Perawat Dengan Stres Kerja Perawat Dalam Kegiatan Mempertahankan Akreditasi Rumah Sakit Paripurna Di Rumah Sakit Tk. Iii Baladhika Husada Jember. Skripsi, Jember, Fakultas Keperawatan Universitas Jember. http://repository.unej.ac.id/handle/12345678 9/86941 Ningsih, K. W., Fitri, R. P., Ilmu, J., Masyarakat, K., Ilmu, J., & Masyarakat, K. (2016). Stress KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian maka dapat di tarik kesimpulan, dalam meningkatkan lingkungan kerja fisik dan dukungan sosial pada perawat dengan pengelolaan yang baik di tempat kerja dapat memberikan dampak positif dalam mengurangi tingkat stres kerja pada perawat di ruang rawat inap RSUD Haji Makassar. Oleh karena itu, manajemen rumah sakit perlu memperhatikan dan meningkatkan kondisi lingkungan kerja fisik yang mendukung serta mendorong adanya dukungan sosial yang memadai bagi perawat. Upaya perbaikan fasilitas fisik, seperti peningkatan pewarnaan, penerangan, suhu udara yang nyaman, pengurangan kebisingan, dan peningkatan kebersihan serta keamanan, dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik. Selain itu, manajemen juga perlu memperhatikan pentingnya pengakuan dan penghargaan terhadap kerja keras perawat serta memfasilitasi komunikasi dan kolaborasi yang lebih baik antara perawat satu dengan perawat yang lain. Dengan demikian dapat mengurangi tingkat stres kerja pada perawat di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar. Saran dari peneliti diharapkan bagi pihak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Haji Makassar perlu lebih meningkatkan kualitas lingkungan kerjanya, baik itu di sektor lingkungan fisik yang meliputi pewarnaan, penerangan, suhu udara, kebisingan, ruang gerak, keamanan, dan kebersihan, meningkatkan lagi dukungan sosial 8 Ricky, dkk : Analisis Pengaruh… JPKPI Vol 06 No 02 September-Februari 2024 Kerja Pada Pekerja Industri Bengkel Las Di. Stress Kerja Pada Pekerja Industri Bengkel Las Di, 27–32. Noordiansah, P. (2013). Pengaruh Lingkungan Kerja terhadap Stres Kerja Perawat. 1(August), 117–125. http://repository.ub.ac.id/id/eprint/106978/ Pasaribu, M. D., Lumbanraja, P., & Rini, E. S. (2021). Anaisis beban kerja dan dukungan sosial terhadap kinerja perawat Rumah Sakit Umum Bethesda Gunungsitoli dengan kejenuhan perawat sebagai variabel intervening. Jurnal Manajemen Terapan Dan Keuangan (Mankeu), 10(03), 606–618. Setyaningrum, P. (2014). Hubungan antara Dukungan Sosial dengan Stres Kerja pada Tenaga Kesehatan Non Keperawatan di RS. Ortopedi Prof. Dr. R. Soeharso Surakarta. Applied Microbiology and Biotechnology, 85(1), 2071–2079. Rahmadia, F., Sarianti, R., & Fitria, Y. (2019). Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik Dan Dukungan Sosial Terhadap Stres Kerja Pada Perawat Rumah Sakit Islam (Rsi) Ibnu Sina Payakumbuh. Jurnal Ecogen, 2(2), 110. https://doi.org/10.24036/jmpe.v2i2.6145 Rastana, I. M. S., Mahayasa, I. G. A., & Premayani, N. W. W. (2021). Pengaruh Lingkungan Kerja Fisik dan Disiplin Kerja Terhadap Kinerja Pegawai pada Badan Keuangan Daerah di Kabupaten Tabanan. Widya Amrita: Jurnal Manajemen, Kewirausahaan Dan Pariwisata, 1(3), 834–843. https://ejournal.unhi.ac.id/index.php/widyaa mrita/article/view/1403 9