Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu ISSN 2656-7202 (P) ISSN 2655-6626 (O) Volume 6 Nomor 1. Januari-Juni 2023 DOI: https://doi. org/10. 35961/perada. DEFRAGMENTASI BUDAYA POLITIK ARISTOKRAT MELAYU: STUDI TERHADAP MANUSKRIP SEJARAH PALEMBANG Komaruddin Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang komaruddin_uin@radenfatah. Ahmad Syukri Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang Ahmadsyukri@radenfatah. Abstrak Palembang sebagai salah satu pusat peradaban Islam di dunia Melayu pada abad ke-19. Manuskrip adalah salah satu bentuk peradaban Islam di Palembang yang masih bisa dikaji sampai saat ini. Manuskrip yang dikaji dalam riset ini adalah manuskrip Sejarah Palembang, manuskrip yang berisikan histori dan budaya politik penguasa Palembang pada abad ke 18 dan 19 Masehi. Isu yang dikaji dalam riset ini berkenaan dengan defragmentasi historis dan tipologi budaya politik Aristokrat Melayu abad ke XVi Ae XIX M dalam Manuskrip Sejarah Palembang. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan sumber data utamanya hasil transliterasi Manuskrip Sejarah Palembang Cod. Or. 2276c dengan analisis kontekstual Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa bentuk defragmentasi historis budaya politik aristokrat Melayu Palembang pada periode abad 18 dan 19 Masehi, yaitu: Perang Saudara. Perjanjian Politik VOC -Palembang. Perjanjian Politik. Konflik Inggris Palembang. Konflik Palembang Belanda Inggris. Konflik Palembang Belanda (Muntingh. Konflik Palembang Belanda (De Koc. Mengenai tipologi budaya politik aristokrat Melayu yang terdeskripsi dalam manuskrip berupa. Pola Suksesi. Dinasti. Putera Raja tertua menggantikan ayahnya. Peperangan. Wasiat dari raja sebelumnya dan Penunjukan oleh pihak eksternal. Politik Pembangunan. Politik Ekonomi. Tradisi Penghormatan Perjanjian Politik. Pelanggaran Perjanjian Politik Palembang Belanda. Tragedi Loji Belanda. Diplomasi Gratifikasi, dan. Epilog Kekuasaan Aristokrat Melayu di Palembang. Kata Kunci: Budaya Politik. Aristokrat Melayu. Palembang. Manuskrip. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu PENDAHULUAN Palembang sebagai salah satu kota yang menjadi pusat kekuasaan Kedatuan Sriwijaya. Kerajaan Palembang Kesultanan Palembang. 1 Kedatuan Sriwijaya adalah model negara maritim di Nusantara pada abad ke VII sampai abad ke Ae Xi 2. Berdasarkan prasasti Kedukan Bukit, dapat dikatakan bahwa Palembang sebagai kota paling tua di Indonesia yang diperkirakan umurnya sekitar 13 abad lebih3. Akhir eksistensi Kedatuan Sriwijaya sendiri bisa dilihat dari sumber berita Cina pada masa dinasti Ming, dimana pada tahun 1377 terjadinya pengambilalihan kekuasaan Kedatuan Sriwijaya oleh Kerajaan Majapahit Setelah dikuasai Majapahit, penguasa di Palembang adalah Ario Damar atau Ario Dilah Ae anak Prabu Brawijaya Sri Kertawijaya - yang berkuasa di Palembang dari tahun 1455 - 1486 5. Setelah itu. Palembang Dipati Karangwidara. Setelah itu Palembang mengalami era kekosongan kekuasaan. Periode Kesultanan Palembang dideklarasikan oleh Ario Kusumo Abdul Rahim di tahun 1653 6. Wilayah kekuasaannya termasuk Lampung. Bangka Belitung dan Palembang. Kesultanan Palembang masuk masa kejayaan pada ke-XVi. Sultan Muhammad Badaruddin II, mengakselerasi perdagangan timah dan lada antar daerah dan antar wilayah lintas negara lebih intensif, demi kesejahteraan rakyat Palembang 7. Corak pemerintahan Kesultanan Palembang, mencirikan kultur Melayu Jawa. Gelar dan nama-nama Jawa, masih melekat pada priyayi Palembang. Di sisi lain, keterkaitan Palembang dalam dunia Melayu sangat kuat 8. Dalam Sejarah Melayu, istilah Melayu digunakan sebagai tanda perbedaan yang disediakan khusus untuk mereka bagi leluhur orang Melayu yang asalnya dari Palembang. Dalam Pemerintahannya. Kesultanan Palembang dipimpin oleh Sultan dibantu oleh menteri dan didukung oleh kelompok bangsawan dan ulama kesultanan Kelompok elit ini adalah kaum aristokrat Kesultanan Palembang. Berdasarkan 1 Jeki Sepriady and Muhamad Idris. AoJejak Kesultanan Palembang Darussalam Di Kabupaten BanyuasinAo. Kalpataru: Jurnal Sejarah Dan Pembelajaran Sejarah 3, no. : 56Ae63. Nanda Julian Utama. AoHegemoni Maritim Dan Militer Kerajaan Sriwijaya Di Kawasan Asia Tenggara Abad 7-10 MAo. Yupa: Historical Studies Journal 5, no. : 78Ae90. Ahmad Berkah. AoDampak Kekuasaan Maritim Sriwijaya Terhadap Masuknya Pedagang Muslim Di Palembang Abad VII-IX MasehiAo. MedinaTe 13, no. : 51Ae60. 3 Lenni Lestari. AoMushaf Al-QurAoan Nusantara: Perpaduan Islam Dan Budaya LokalAo. Jurnal AtTibyan: Jurnal Ilmu AlqurAoan Dan Tafsir 1, no. 173Ae98. 4 Sri-Bintang Pamungkas. Ganti Rezim Ganti Sistim-Pergulatan Menguasai Nusantara (Sri-Bintang Pamungkas, 2. 5 DEA LESTARI. Syafruddin Yusuf, and Adhitya Rol Asmi. AoPerlawanan Kesultanan Palembang Terhadap Belanda Tahun 1819-1821 (Sumbangan Materi Pelajaran Mata Kuliah Sejarah Indonesia Masa Kolonia. Ao (Sriwijaya University. Sepriady and Idris. AoJejak Kesultanan Palembang Darussalam Di Kabupaten BanyuasinAo. 6 Suwardi Mohammad Samin. AoKerajaan Dan Kesultanan Dunia Melayu: Kasus Sumatera Dan Semenanjung MalaysiaAo. Criksetra: Jurnal Pendidikan Sejarah 4, no. Jeki Sepriady. AoFundamentalisme Dalam Syair Perang Palembang 1819Ao. Kalpataru: Jurnal Sejarah Dan Pembelajaran Sejarah 5, no. : 19Ae24. 7 Agus Susilo and Sarkowi Sarkowi. AoSejarah Surulangun Sebagai Ibukota Onder Afdeling Rawas Tahun 1901-1942Ao. AGASTYA: JURNAL SEJARAH DAN PEMBELAJARANNYA 10, no. : 48Ae66. Anastasia Wiwik Swastiwi. Sasangka Adi Nugraha, and Hendri Purnomo. Lintas Sejarah Perdagangan Timah Di Bangka Belitung Abad 19-20 (Direktorat Jenderal Kebudayaan, 2. 8 Muhammad Lufika Tondi and Sakura Yulia Iryani. AoNilai Dan Makna Kearifan Lokal Rumah Tradisional Limas Palembang Sebagai Kriteria Masyarakat MelayuAo. Langkau Betang: Jurnal Arsitektur 5, no. : 15Ae32. 9 Yudi Armansyah. AoDinamika Perkembangan Islam Politik Di Nusantara: Dari Masa Tradisional Hingga Indonesia ModernAo. Fokus: Jurnal Kajian Keislaman Dan Kemasyarakatan 2, no. : 27Ae46. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu pendapat 10 istilah aristokrat adalah kelompok orang dengan berstatus sosial tinggi, berkuasa dan berpengaruh pada struktur sosial politik. Kemakmuran negeri Palembang dari segi perekonomian, menunjang Palembang sebagai pusat peradaban Islam di dunia Melayu pada abad ke -19 11. Konsekuensi logis sebagai tempat pembelajaran Islam, adalah melimpahnya manuskrip keagamaan Islam yang ada di Palembang saat itu. Salah satu manuskrip yang menjadi bukti ekspresi warisan budaya intelektualisme Islam nusantara di Palembang yang akan dikaji dalam penelitian ini adalah manuskrip Sejarah Palembang Cod. Or. Sebagian besar teks manuskrip ini berkisah histori Palembang, dan ketiadaan kolofon yang menuliskan judul secara khusus. Manuskrip ini berupa fragmentasi histori yang mendeskripsikan karakteristik budaya politik Kesultanan Palembang periode abad ke 18 19 M. Menurut Sumartono . , budaya politik ditandai dengan kesadaran politik yang kuat pada sebuah sistem masyarakat multi etnis. Sistem budaya politik mengandung tiga aspek, iaitu struktur, pemerintah dan aturan hukum 12. Kajian tekstual manuskrip jamak dilakukan, namun dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan analisis kontekstual Manuskrip Sejarah Palembang berkenaan dengan budaya politik aristokrat Melayu Palembang abad ke XVi Ae XIX M. Kajian yang dibahas dalam artikel ini adalah defragmentasi historis dan tipologi budaya politik Aristokrat Melayu abad ke XVi Ae XIX M dalam Manuskrip Sejarah Palembang Cod. Or. Adanya hasil penelitian ini untuk menginisiasi konsep pengetahuan tentang budaya politik aristokrat Melayu abad ke XVi Ae XIX M, dari perspektif kajian kontekstual manuskrip Sejarah Palembang Cod. Or. Secara metodologis menghubungkan lebih banyak data dalam manuskrip menjadi informasi historis politis sebagai bagian dari peradaban Islam di Nusantara yang unik, yang berlangsung di Palembang pada abad ke 18 Ae 19 M. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan riset yang lain mengenai budaya politik aristokrat Melayu yang dari perspektif kajian kontekstual manuskrip Sejarah Palembang. Sebagai masukan model analisis menghidupkan analisis manuskrip sebagai khazanah unggulan Islam Nusantara di Indonesia. Jenis Penelitian ini adalah penelitian Penulis mengambarkan keadaan, kondisi atau peristiwa sosial politik yang mengkaji Budaya Politik Aristokrat Melayu berdasarkan teks dalam manuskrip Sejarah Palembang Ditinjau dari bidang ilmu, riset ini merupakan kajian bidang ilmu sejarah Jika dilihat dari jenis data dan proses penelitian, penelitian ini adalah Penelitian kualitatif memerlukan data tulisan dan analisis, untuk mendapatkan interpretasi data yang akurat (Zuriah, 2006: . Data yang akan dianalisis adalah data teks dalam manuskrip Sejarah Palembang, yang dikaji secara kontekstual untuk memahami budaya politik aristokrat Melayu di Palembang. Analisis kontekstual terhadap manuskrip yang sudah digitalisasi. Analisis kontekstual manuskrip secara umum untuk mengkaji kontekstual sosial sebuah manuskrip, yang berkemungkinan berkaitan dengan kajian manuskrip lain yang lebih luas. Untuk mengkaji kontekstual sebuah manuskrip, tidak harus dari manuskrip yang otentik, bisa Paul Magdalino. AoCourt Society and AristocracyAo. A Social History of Byzantium 216 . 11 Berkah. AoDampak Kekuasaan Maritim Sriwijaya Terhadap Masuknya Pedagang Muslim Di Palembang Abad VII-IX MasehiAo. Raudatun Jannah. AoPeran Tarekat Sammaniyah Dalam Perang Menteng Melawan Kolonial Belanda Di PalembangAo. MedinaTe: Jurnal Studi Islam 13, no. : 119Ae31. 12 Steve G. Chr Gaspersz. AoMasuk Melayu Menegosiasikan Islam Dan Kemelayuan Di MalaysiaAo. Civic-Culture: Jurnal Ilmu Pendidikan PKN Dan Sosial Budaya 1, no. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu Apapun manuskrip layak untuk dikaji kontekstual. hadapan kaum priyayi Palembang tinggi dan rendah dan kepala interior atau peroatin. Perjanjian Politik VOC -Palembang Dalam Manuskrip dideskripsikan mengenai perjanjian Politik antara Pangeran Jayawikrama dengan VOC Belanda, dimana perjanjian tersebut dilatarbelakangi dengan Belanda Pangeran Jayawikrama untuk mengalahkan kakaknya. Sultan Anom Alimudin. Semua ditulis dalam Manuskrip Sejarah Palembang hal 6, 7, dan Adapun kontrak perjanjian yang dibuat antara Pangeran Jaya Wikrama dengan Belanda antara lain: Pangeran Jaya Wikrama harus membayar empat puluh laksa ringgit dan delapan puluh budak . mpat puluh budak laki-laki dan empat puluh budak perempua. kepada Kompeni saat ia menjadi penguasa. Semua timah yang ditambang di Bangka dijual kepada perusahaan. Gading, cula, dan sahang tidak boleh dijual di tempat lain, semuanya harus dijual kepada Kompeni. Perusahaan adalah satu-satunya yang diizinkan untuk menetap di Palembang Tidak ada kapal perang yang diizinkan di Palembang, kecual kapal milik perusahaan. Setiap tahun armada kapal akan dikirim ke Batavia sarat dengan Ini diselesaikan dengan harga yang disepakati. PEMBAHASAN Defragmentasi Historis Budaya Politik Aristokrat Melayu Palembang Perang Saudara Dalam Manuskrip ini menyajikan suasana pertempuran epik, dua saudara yang tadinya berhubungan baik, namun karena permasalahan yang mungkin dianggap biasa bahkan sepele, namun menjadi awal sengketa yang berkepanjangan. Perseteruan antara Sultan Anom Muhammad Alimudin dan adiknya Pangeran Jayawikrama. Dimana salah satu pemicu utama konflik ini adalah karena memperebutkan seorang perempuan yang sama. Perang saudara ini berlangsung selama masa pemaksaan peralihan kekuasaan Sultan Anom Alimudin dari pamannya. Sultan Agung Komarudin Sri Teruno, sekitar tahun 1724 M. Catatan perang saudara ini ditulis dalam Manuskrip Sejarah Palembang pada halaman 4, 9, 10, 11,12, dan Berbagai upaya yang dilakukan oleh Sultan Anom untuk membunuh Pangeran Jayawikrama, serta untuk menghindari konflik yang berkepanjangan, akhirnya Pangeran Jaya Wikrama memutuskan untuk pindah ke tempat lain yang bernama Kampung Kadipan bersama rakyatnya. Sementara di kampunya. Sultan Anom berjaga keras, siang dan malam tidak boleh Apabila ada rakyat dari Kampung Kadipan berjalan di kampunya, maka akan dibunuh oleh rakyatnya. Maka dari itu. Pangeran Jaya Wikrama juga berjaga-jaga di kampunya dan tidak perlu lagi menghadap Sultan Anom agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Sultan Agung pada tanggal 15 Maret 1724 wafat, dan lima hari kemudian para bangsawan memilih Pangeran Jayawikrama sebagai penguasa, memasangnya dengan gelar Sultan Mahmud Badaruddin di Konflik Inggris Palembang Palembang pada periode pada abad ke-19 menghadapi konflik besar dengan Inggris. Kekuatan armada perang Inggris, begitu menggetarkan Sultan Palembang. Narasi tentang awal mula konflik dan fragmentasi historis konflik dengan Inggris, ditulis dalam Manuskrip Sejarah Palembang Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu pada halaman 30, 31, 32, 33, 34, 35, 36, 37, 38 dan 39 13. Pada tahun 1821 situasi menjadi menjadi berubah karena terjadi perebutan keraton Palembang oleh pemerintah kolonial Belanda. Semenjak saat itulah, secara berangsur-angsur peran kesultan dan para bangsawan merosot karena keraton pun ikut dalam dilenyapkan dan pemerintah dan pemerintah kolonial Belanda mengambil ahli Maka dari situ yang dimana pangeran Syarif Muhammad membuat dirinya bersekutu dengan inggris. Awal mulainya jenderal Rafles serta mendengarkan pengaduan dari pangeran Syarif Muhammad dengan mengatakan segala holanda bahwa di Palembang sudah habis semuanya. Meskipun begitu Betawi sudah dikeluarkan dan di gantikan oleh Inggris. Maka jendral Rafles itu pun terkejut pada suatu hari jenderal Raffles keluar dari kantor dengan membicarakan negeri Betawi, ia memanggil tumenggung dari utusan Palembang itu. Pada saat dating ia di periksa dari utusan untuk mengaku bicara holanda-holanda Palembang itu. Maka dari ada dua utusan yang di ambil kerisnya lalu di bawah ke kapal perang ditutub Dan perahu utusan dari Palembang tersebut dirampas secara paksa bahkan di buang talinya. Maka dari itu masa saat jenderal Raffles untuk menyuruh kepada jenderal galispi agar dapat membawa angkatan masuk Palembang. Dan utusan Palembang itu semua di bawa ke dalam kapal tempat jenderal galispi pangeran Syarif Muhammad itu juga. Maka dari itu jenderal pergi ke Palembang dengan membawa beberapa kapal dan perahu lainnya untuk menjadikan alat perang. Berdasarkan perjanjian Tuntang tanggal 18 Septermber 1811 Masehi yang dibuat antara Belanda dan Inggris 14. Belanda menyerahkan Palembang kepada Inggris, karena Palembang di samping Timor dan Makasar oleh Belanda dihitung sebagai daerah takluk pulau jawa. Utusan Inggris agar menerima warisan dari Belanda tetapi dengan tegas ditolak oleh Sultan Mahmud Badaruddin II. Untuk Palembang. Raffles mengirim ekspedisi militer pada tanggal 20 Maret 1812 Masehi. Setelah dengan segala kekuatan dan upaya dalam mengadakan perlawanan terhadap angkatan perang Inggris di kota. Sultan Mahmud Badaruddin II menghindar ke daerah pedalaman agar bisa mengatur perang gerilya bersama rakyat. Pera gerilya dipimpin langsung oleh Sultan Mahmud Badaruddin II di daerah pedalaman, sehingga memaksa Inggris harus mengakui Sultan ketetapannya sebagai Raja. 13 Magdalino. AoCourt Society and AristocracyAo. 14 Leni Mastuti Mubarokah. AoPalembang Pada Endang Rochmiatun. AoElit Lokal Palembang Dan Polemik Kebangkitan Kesultanan Palembang: Menggali Sumber Sejarah Melalui ManuskripAo. Manuskripta 8, no. : 107Ae27. Konflik Palembang Belanda Inggris Pada masanya. Palembang terlibat dalam pusaran konflik internal dan eksternal Antara palembang. Belanda dan Inggris. Narasi dalam manuskrip Sejarah Palembang mengenai konflik tiga negara ini dalam halaman 46, 47, 48, 49, 50, 51, 52 dan Keluhan, yang diajukan oleh penduduk yang bersangkutan dan penduduk Inggris Benkoelen kepada perwakilan otoritas kolonial di Palem, tetap tanpa hasil. Pemerintah Belanda yang impoten, jika siap untuk ikut campur dalam politik dalam negeri, tentu tidak mampu melakukannya. Apalagi Residen Heynes mementingkan kepentingan pribadinya Palembang. Dia bersalah atas perusakan ekstensif dan, setelah penyelidikan atas Masa Penjajahan Inggris . : Hegemoni Inggris Atas Kesultanan Palembang DarussalamAo. Soeloeh Melajoe: Jurnal Peradaban Melayu Islam 1, no. : 51Ae57. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu Dewan Keuangan, yang terdiri dari R. Kandang a Hijau dan J. du Puy, dipecat. Dewan kemudian diamati oleh komite ini yang berlaku mulai 29 Juni 1817. Du Puy kembali 16 Desember karena alasan kesehatan kembali ke Batavia, di mana Coop terus mengantisipasi kedatangan Bapak Herman Wamer Muntinghe, yang sudah dengan keputusan Komisaris Jenderal dd. Pada 27 Oktober 1817, ia dibebastugaskan dari Dewan Keuangan dan diangkat sebagai komisaris Palembang dan Bangka. Muntinghe telah memegang beberapa jabatan tinggi dalam pemerintahan tertinggi di Batavia sejak tahun 1804 berturut-turut di bawah Wiese dan Daendels dan setelah jatuhnya Jawa oleh Raffles, yang sangat menghargainya adalah anggota perguruan tinggi pemerintah tertinggi Dewan Hindia. Namun, pada tahun 1813, ia menarik diri dari kelompok Setelah pemulihan otoritas Belanda, ia memasuki kembali kehidupan publik, pertama sebagai presiden Dewan Kehakiman, kemudian sebagai presiden Dewan Keuangan 15 manuskrip Sejarah Palembang pada halaman 54, 55, 56, 57, 58, 59, 60, 61 dan 62 16. Pada tanggal 30 Juli, situasi di Palembang dibahas di tempat dan ekspedisi militer di bawah komando tertinggi komandan angkatan laut sendiri diputuskan. Ditetapkan bahwa ekspedisi harus berangkat selambat-lambatnya pertengahan Agustus . ahkan sebelum fajar monsun bara. dan bahwa Muntinghe Yang terakhir mengeluarkan saran tertulis pada hari berikutnya, menggambarkan potensi perang dan pertahanan Palembang dan juga membuat rekomendasi untuk perang yang sukses melawan musuh. Beberapa hari kemudian ia juga memberikan pandangannya secara rinci sehubungan dengan pendudukan tahta sultan, menyimpulkan bahwa Badaruddin harus digulingkan dan disarankan untuk menunjuk sebagai pewaris takhta putra ketiga sultan muda. Pangeran Jayaningrat, yang telah mengikuti ayahnya di pengasingan ke Jawa pada tahun berikutnya. Konflik Palembang Belanda (Muntingh. Sejarah hubungan Palembang dan Belanda, mengalami pasang surut. Kadang penuh kedamaian dan relasi saling menguntungkan, namun disatu sisi potensi konflik selalu ada. Nukilan konflik Belanda dan Sultan Palembang, terutama dengan Jenderal Muntinghe. Farida Farida. AoKonflik Politik Di Kesultanan Palembang . Ao. Jurnal Sejarah Lontar 4, no. : 15Ae23. Michiel Otto Woelders. AoHet Sultanaat Palembang 1811-1825: Een Bijdrage Tot de Studie van de Maleise GeschiedschrijvingAo, in Het Sultanaat Palembang 1811-1825 (Brill, 2. Konflik Palembang Belanda (De Koc. Nukilan konflik Belanda dan Sultan Palembang, dalam hal ini Jenderal De Kock dicatat dalam manuskrip Sejarah Palembang pada halaman 65, 66, 67, 68, 69, 70, 71 dan Di bawah komando Komandan Angkatan Darat. Jenderal Mayor De Kock, ekspedisi berangkat setelah inspeksi oleh Gubernur Jenderal pada tanggal 9 Mei di Batavia, terlepas dari kenyataan bahwa kolera baru-baru ini pecah di Jawa dan epidemi ini telah menyebar di antara itu akan menelan biaya ekspedisi lebih dari seratus orang. Ini memang telah menjadi usaha berskala sangat besar: armada empat puluh tujuh kapal perang yang lebih besar dan lebih kecil, enam belas kapal pengangkut dan puluhan prauwen, dengan 16 Rochmiatun. AoElit Lokal Palembang Dan Polemik Kebangkitan Kesultanan Palembang: Menggali Sumber Sejarah Melalui ManuskripAo. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu persenjataan empat ratus empat belas keping artileri angkatan laut dan delapan belas artileri lapangan dan delapan belas keping lapangan dan dengan awak 2580 orang angkatan laut dan 1679 tentara. Setelah perjalanan yang sukses, armada berada di pidato Muntok pada 13 Mei dan dua minggu kemudian di atas bank di Sungsang. kemakmuran ekonomi telah lama menjadi pembangunan, tetapi dalam beberapa tahun terakhir munculnya semakin canggih kumpulan data telah memungkinkan proposisi tersebut untuk diuji dan disempurnakan secara resmi 17. Upaya untuk menafsirkan dan menanggapi dengan cara yang konstruktif terhadap perdebatan tentang hubungan antara keragaman etnis, dinamika politik, dan hasil pembangunan menghadapi dua jenis masalah abadi: pengukuran dan teori. Masalah pengukuran relatif mudah jika asumsi yang mendasarinya adalah bahwa etnis dan ras adalah pada dasarnya kategori demografis tetap dan Yang pasti, kemungkinan besar akan ada kekhawatiran yang sah tentang bagaimana tepatnya mengklasifikasikan masyarakat melayu palembang yang heterogen yang menjadi salah satu faktor pendukung politik pembangunan yang dilaksanakn oleh para Sultan Palembang. Tipologi Budaya Politik Aristokrat Melayu abad 18 dan 19 Pola Suksesi Pada halaman awal Manuskrip Sejarah Palembang mendeskripsikan model suksesi di Kesultanan Palembang. Lembar Manuskrip yang berbicara mengenai suksesi dapat kita lihat pada halaman 1, 2, 14, 16, 18, 22, 36, 42, 63, 64 dan 65. Hasil Transliterasi Manuskrip Sejarah Palembang, menunjukkan secara general, pola suksesi yang berlaku di Kesultanan Palembang Merujuk kepada manuskrip, pola suksesi Kesultanan Palembang ada beberapa bentuk Dinasti. Putera Raja menggantikan ayahnya. Peperangan atau konflik bersenjata Wasiat dari raja sebelumnya Penunjukan oleh pihak eksternal. Politik Pembangunan Konsep politik Pembangunan dalam Manuskrip Sejarah Palembang dapat dilihat pada halaman 3, 16 dan 18. Dalam imajinasi populer dan ilmiah, mungkin manifestasi yang paling sering budaya dalam diskusi tentang politik pembangunan adalah melalui saluran etnisitas. Berbicara mengenai Melayu Palembang sebagai kelompok masyarakat yang berdagang mempunyai argumen dengan tampaknya daya tarik intuitif, misalnya yang lebih "beragam secara etnis" . aitu, secara budaya Melayu Palembang yang heteroge. dimana populasi masyarakat yang heterogen tadi akan berjuang untuk membangun koalisi politik yang luas dan tahan lama dan dengan demikian kecil Politik Ekonomi Perkembangan didukung oleh perkembangan ekonomi, termasuk pada kesultanan Palembang. Kegiatan perdagangan komoditas yang menguntungkan secara ekonomis antar menguntungkan dipasar global saat itu. Perjanjian dagang biasanya satu paket dengan perjanjian politik. Dalam manuskrip Sejarah Palembang fragmentasi kegiatan politik ekonomi, terdeskripsikandalam halaman 15, 17, dan 23. Pusat ekonomi dan administrasi kerajaan Palembang, di tepi kanan Musi, dekat anak sungai. Sungai Aur, dan secara diagonal di seberang kompleks kraton di tepi kiri Musi, adalah pemukiman Belanda, yang dibuat dari pos perdagangan permanen Perusahaan India Timur, yang didirikan di sana pada tahun 1662. Kontak perdagangan 17 Nicolas van de Walle. AoThe Party Paradox: A Comment Nicolas van de Walle (Cornel. February 20, 2018Ao. Democratization 25, no. : 1052Ae62. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu dengan Perusahaan, yang sudah bertanggal dari tahun 1619, telah memperoleh karakter yang lebih permanen selama bertahuntahun. Antara tahun 1641 dan 1791, "perjanjian disimpulkan mengenai pasokan lada dan kemudian - setelah penemuan sekitar tahun 1710 dari kejadian timah di pulau Bangka di bawah Palembang - juga dari timah. Monopoli Perseroan yang ditetapkan dengan berarti bahwa Palembang berkewajiban untuk memasok Perusahaan dengan total produksi lada dan timah di negara tersebut terhadap Perusahaan, yang telah ditentukannya, tentu saja harga nonkomersial. Tak perlu dikatakan bahwa monopoli ini telah banyak dihindari. Terutama dalam dekade terakhir abad kedelapan belas, ketika posisi Compagnie dennate telah melemah, bahwa ia tidak lagi mampu menegakkan ketaatan terhadap meningkat seiring dengan tangan. Holanda. Demikianlah Raja Palembang jalan berperahu ke hilir, mak a loji Kompeni itu masang meriam hormat kepada Sultan Palembang itu. Dan jika Sultan Palembang berperahu ke hulu, tiada masang meriam di loji Kompeni, sebab tiada kelihatan dari loji Kompeni itu. SelamaIamanya aturan begitulah sudah didalam Kompeni dengan Raja di Palembang bertambah-tambah berkasihkasihan. Tradisi Penghormatan Perjanjian Politik Dalam menghormati perjanjian Politik, aristokrat melayu Palembang ditulis dalam Manuskrip Sejarah Palembang halaman 21 Maka selesailah antara Palembang dengan Betawi. / Tiada sesuatu apa-apa permintaan dari Palembang yang pantas Kompeni turnt dan apa-apa permintaan dari Kompeni yang Sultan Palembang Demikianlah pada tiap-tiap tahun utusan itu di Palembang membaca surat perjanjian di hadapan seisi negeri, siapa suka dengar. Waktu mengarak surat dari Betawi itu terlalu ramainya, pada tiap-tiap tahun masang meriam dan senapang beberapa banyak di hadapan Raja Palembang dengan pytor. Berhimpunlah sekalian punggawa menteri dan orang yang pangkat besar didalam negeri Palembang, sama mengadap di pemarakan besar, makan dan minum. Demikianlah pada tiap-tiap tahun. Dan tempat kota Kompeni itu orang panggil loji pada zaman itu atawa orang panggil gudang Pelanggaran Perjanjian Politik Palembang Belanda Dalam Manuskrip Sejarah palembang halaman 24, 25, 26, 27,dan 28 dituliskan mengenai pelanggaran perjanjian politik oleh Sultan palembang kepada Belanda, dengan mengakibatkan terjadinya tragedi Loji. Telah sampai di Palembang, disampaikannya kepada Sultan Palembang segala bic ara Inggeris itu. Maka Sultan di Palembang itupun bertambah-tambah jaga Di Sungsang beberapa menteri yang jaga dan di Mentokpun beberapa pula menteri menunggu di sana berganti-ganti. kalau ada perahu Inggeris dan perahu Holanda dari Betawi. Sultan hendak sigera Adapun mupakatan segala kepala kepala bicara di Palembang: Akan ngeluarkan Kompeni di Palembang itu semuanya menurut bagaimana bicara Inggeris, itu baik kalau Betawi dapat olyh Inggeris. Kalau tidak dapat negeri Betawi olyh Inggeris jadi tiada baik, kerana Holanda sahabat Palembang selama- lamanya. Dan melainkan kita nantikan siapa juga yang menang akan perang Betawi itu Tragedi Loji Belanda Tragedi Loji ini adalah awal mula dari pelanggaran perjanjian politik Sultan palembang dan VOC Belanda 18, kisah singkatnya bisa dilihat narasinya dalam 18 Ellya Roza. Sejarah Perjuangan Tengku Buwang Menumpas Belanda Di Pulau Guntung Siak . (Aswaja Pressindo, 2. Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu Manuskrip Sejarah Palembang halaman 28. Dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi, di dalam Kota Palembang didatangkannya rakyat uluan (Mata gaw. dilengkapi juga dengan pesirahnya. Kabar yang paling dinanti adalah mengenai kekalahan Jansens di Tutang dengan jatuhnya Kota Batavia ke tangan Inggris. Said Zain Bafakih merupakan seseorang yang memberikan informasi tersebut kepada Sultan. Posisi atau kedudukan masyarakat Belanda di Sungai Aur Palembang tidak menerima bantuan ataupun dukungan dari pemerintah pusat yang yang ada di kota Batavia, sebab diakibatkan oleh jatuhnya Batavia ke tangan Inggris. Pada kala itu juga Sultan menjadi pemimpin sebagai kepala penguasa tradisional. Misi pada daerah tersebut ialah untuk menyudahi dan mengakhiri segala bentuk doktrik ataupun pengaruh dari yang bertempat di Sungai Aur. Maka dari itu, muncullah ide yang cerdik yakni Sultan bersiasat mengundang J. Groenhof van Woortman . ke tempatnya . dalam kegiatan ramah-tamah. Pertemuan tersebut menjadikan hulubalang Palembang menyerbu, menyerang, mendapati, dan menduduki loji yang ada di Sungai Aur. Belanda sendiri ada sekitar 24 orang pria wanita dan anak-anak. Sedangkan, sebanyak 63 orang serdadu Jawa-Belanda dilucuti senjatanya serta ditawan. Kecuali, satu orang lndo Belanda yang dikenal dengan nama Willem van De Wateringbuys yang berhasil melarikan dirinya bersama dengan saudara Hal ini dilakukan yakni menyamar menjadi bagian dari penduduk Namun, tak lama dari itu mereka ditangkap dengan lokasi berada di daerah seberang ilir. Sultan pun memaksanya untuk menjadi seorang muslim. Pada akhirnya dibuang ke Dusun Burai. Diplomasi Gratifikasi Proses diplomasi dengan model gratifikasi dilakukan Sultan Palembang, hal tersebut dapat dilihat dari narasi dalam manuskrip Sejarah Palembang pada halaman Setelah Mayor Robison itu sampai di Muara Rawas, mak a bertemulah dengan Sultan Ulu di byntyng di Muara Rawas, dengan masang bedil, makan dan minum terlalu ramainya. Adapun segala periai dan menteri yang daripada byntyng Palembang itu disuruh olyh Mayor Robison itu minta ampun kepada Sultan Ulu. Sultan Ulu Mahmud Badaruddin dari Muara Rawas dengan rakyatnya ke Palembang. Maka Sultan Mahmud Badaruddin yang dari hulu itupun masuklah kedalam kot a besar itu, sebab sudah dibeli empatpuluh laksa ringgit dan Sultan yang muda Ahmad Najamuddin berpindah duduk di kot a lama dengan sekalian rakyatnya. Adapun myjir yang menjumputi Sultan di Muara Rawas, diberinya pers yn limaribu ringgit. Setelah selesailah Sultan Mahmud Badaruddin itu duduk didalam kota besar itu, maka Myjir Rabsun itu pergi ke Betawi, membawa Pangyran Ratu dan Pangyran Adimenggala, anak Sultan Tua, menerima kasih dapat damai itu lagi diampuni Inggeris. Maka Pangyran Ratu dengan Pangyran Adimenggala itupun pergilah ke Betawi dengan beberapa periai dan menteri temannya itu, dibawa olyh Mayor Robison bersama-sama utusan dari Sultan yang muda Ahmad Najamuddin itu. Maka telah datang ke Betawi, maka Pangyran Wiradiraja, suruhan daripada Sultan Muda Ahmad Najamuddin itu, memberitahu kepada Jynderal Galispie yang dia diturunkan daripada kota besar, dipindahkan di kota lama tiada dengan suatu kesalahan dan Sultan Ulu kembali naik kerajaan di Palembang. Maka Jynderal Rafles itupun terkejut siapa yang punya aturan. Maka nyatalah Mayor Rabison punya menerima uang harga kota itu empatpuluh laksa ringgit. Jynderal Rafles tiada suka. Mayor Robison itupun dipenjara di Betawi empat jam lamanya Badaruddin dinasti, bahkan ada dalam pikirannya tempatkan sedikit otoritas. Oleh karena itu Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu dapat dimengerti bahwa Mayor William Robison, yang telah menggantikan Meares sebagai penduduk dan yang menganggap Raffles, dengan siapa ia telah berkonflik beberapa kali dalam karir resminya, sebagai pelaku utama dalam pembunuhan Belanda, tidak tetap tidak peka terhadap kemajuan sultan lama untuk dikembalikan ke martabatnya - jika perlu terhadap pembayaran sejumlah besar uang. Atas dasar keseimbangan kekuatan tetapi bertentangan dengan instruksinya. Robison menahan diri dari tindakan militer terhadap markas besar Badaruddin yang sangat dibentengi di Muara Rawas. Adapun Sultan yang mengamuk itu tiada mau mengikut, lari dengan rakyatnya mudik ke hulu Musi, ngimpunkan rakyat di Muara Beliti. Maka Pangyran Dipati Muda, saudara Suhunan itu juga, disuruh rysidynt mudik membawa punggawa menteri dengan alat senjata. Dan janji: jikalau Sultan itu dapat, mak a Pangyran Dipati Mudalah yang jadi sultan di Palembang. Maka perahuperahu Suhunan dan Sultan itupun terserahlah kepada Pangyran Dipati itu. gajihnya seribu rupiah dan Pangyran Dipati Jayaningrat seribu rupiah. Maka Pangyran Dipati Muda itupun mudiklah dengan periai dan menteri dengan alat senjatanya lengkap. Tiadalah berapa lamanya, maka sampailah di ilir dusun Muara Beliti, tempat Sultan itu. Maka Sultanpun tiada mau bicara damai, maka dinaiki olyh Pangyran Dipati, dari hutan seberang dusun itu dipasang dengan bedil. Dan beberapa kali dipasang itu, maka Sultan itupun terkejut, lalu berlari dengan segala rakyatnya lari ke hulu membuat byntyng, di ulu Ogan satu dan di ulu Lematang satu, serta ngimpunkan orang Pasemah dan segala marga dengan alat senjatanya lengkap. Maka Pangyran Dipati Muda itupun sakit, lalu milir segala angkatan dari Palembang itu. Maka telah waras Pangyran Dipati Muda itu, mak a mudik pula angkatan Pangyran Dipati dari Palembang itu dengan periai dan menteri, beberapa banyak perahunya dengan alat senjatanya lengkap. Maka Kirangga Wirasentika mudik pula, lain angkatan dari batangari lain. Maka Pangyran Dipati Muda itupun belum berapa jauh angkatannya mudik, maka sakit pula. milir, lalu mati di Syahdan maka Rangga Wirasentika itupun bertahan di dusun Limbun. Disuruh Sultan langgar kepada Pangyran Jayadilaga. namanya masagus, diangkat Sultan nama kemas di ulu itu juga. Maka angkatan Pangyran Jayadilaga / itupun bertemulah dengan angkatan Kirangga Wirasentika, lalu perang sama-sama di darat terlalu ramainya. Maka Pangyran Jayadilaga itupun ken a Epilog Kekuasaan Aristokrat Melayu di Palembang Dalam manuskrip ditulis juga fase akhir kesultanan Palembang, dalam halaman 73, 74, 75, 76, 77, 78 dan 79. Tiada berapa lamanya dengan takdir Allah subhanahu wa taCala, mak a suatu ketika Sultan itupun menghimpunkan rakyat mengamuk kota, kepada tahun seribu duaratus empatpuluh, betul kepada sembilan- likur hari bulan Rabicul-awal, malam Isnin, pukul empat Dan kepada waktu itu juga Sultanpun undur dengan segala rakyatnya itu, bertahan di Suakbata, di tempat Suhunan Husin Dia'uddin itu. Dan rakyat Sultan yang mati diluar kota masa malam mengamuk itu: Pangyran Citra Putang, kedua Radyn Gubir, ketiga Khatib Jabaruddin, keempat nama Si Luncuk. Adapun malam Sultan / mengamuk itu Pangyran Dipati Muda dengan Pangyran Dipati Jayaningrat ada dalam kota dan Pangyran Bupati Panembahan undur di Kertapati membawa anak-isterinya. Dan pada siang hari itu Suhunan Husin Dia'uddinpun turunlah. pada malam yang kedua pergi ke Betawi, disywakan olyh Rysidynt Rinis di koci Masagus Caguk. Dan kepada masa itu tiada ada kapal perang di Palembang. Maka Suhunan Husin Dia'uddin itu mintarlah ke Betawi dengan sekalian Perada: Jurnal Studi Islam Kawasan Melayu . Vol. No. Juni 2023 http://ejournal. id/index. php/perada Komaruddin dan Ahmad Syukri Defragmentasi Budaya Politik Aristokrat Melayu peluru kepalanya, jatuh, lalu mati. Dan banyak juga temannya itu mati. Maka semuanya rakyat Sultan- pun lari. Tinggallah Sultan itu dengan Pangyran Puspadiprana yang dipanggil orang Palembang Pangyran Cingot itu. sebagai perantara bicara, makanya Sultan jadi mengamuk kota itu. Setelah rakyat sudah habis lari itu, maka Sultan dan Pangyran Cingot dan Masagus Abdul jamil lalu dari Ogan ke Palembang menyerahkan diri kepada Kompeni. Masa itu komisaris sudah ada di Palembang. Sultan lagi di ulu negeri, disuruhnya temenggung polisi menjemput Sultan itu dengan perahu Tunggul Kuning. Maka Sultanpun setelah sampai ia ke Palembang, naiklah ke kapal perang. Diberi makan pagi Kompeni. Temenggung Astramenggala yang mengantarkan makanan Sultan itu pagi sory dengan sepertinya adat raja-raja Palembang. Demikianlah kira-kira tujuh bulan lamanya Sultan Ahmad Najamuddin itu di kapal perang di Palembang itu, maka keluarlah dari Palembang di kapal perang itu juga, dibawa di negeri Bandan. Kekuasaan Aristokrat Melayu di Palembang. PENUTUP Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa bentuk defragmentasi historis budaya politik aristokrat Melayu Palembang pada periode abad 18 dan 19 Masehi, yaitu: Perang Saudara. Perjanjian Politik VOC Palembang. Perjanjian Politik. Konflik Inggris Palembang. Konflik Palembang Belanda Inggris. Konflik Palembang Belanda (Muntingh. Konflik Palembang Belanda (De Koc. Mengenai tipologi budaya politik aristokrat Melayu yang terdeskripsi dalam manuskrip berupa. Pola Suksesi. Dinasti. Putera Raja tertua menggantikan ayahnya. Peperangan. Wasiat dari raja sebelumnya dan Penunjukan oleh pihak eksternal. Politik Pembangunan. Politik Ekonomi. Tradisi Penghormatan Perjanjian Politik. Pelanggaran Perjanjian Politik Palembang Belanda. Tragedi Loji Belanda. Diplomasi Gratifikasi, dan. Epilog REFERENSI