EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024. Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680-. P-ISSN x-x Journal Website: https://ejournal. stai-mas. id/index. php/p3m/index SOSIALISASI PREVENTIF BULLYING DENGAN PENDIDIKAN EMPATIF PADA ANAK SEKOLAH DASAR Kamim Tohari1. Muhammad Fathur RoAouf2. Fakhruddin Al Farisy3. Muhammad Fauzi Ridwan4. Muhammad Saiqul Huda5 STAI KH. Muhammad Ali Shodiq Tulungagung1,2,3,4,5 masmiem94@gmail. com1, fathurrouf567@gmail. com2, farisy. mpi@stai-mas. id3, rfaouzie@gmail. saiqhuda@gmail. Abstrak: Praksis bullying menurut data Federasi Serikat Guru Indonesia tahun 2023 menjadi kasus tertinggi terutama di lingkungan sekolah. Tindakan bullying sendiri melibatkan berbagai bentuk seperti kekerasan fisik, verbal, dan sosial. Kasus semacam ini tampaknya memerlukan perhatian khusus, karena setiap tahunnya selalu ada kasus bullying yang mengemuka. Salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam mencegah bullying yakni dengan mensosialisasikan dan mengimplementasikan pendidikan empatif. Pendidikan empatif dapat menjadi solusi integral dalam mencegah perilaku bullying karena selain memberikan pemahaman mengenai perasaan dan pengalaman pribadi, di sisi lain membangun kepekaan terhadap perasaan dan perspektif orang lain sejak dini. Metode yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah service learning. Dalam service learning ini dirancang dalam bentuk pemaparan materi, diskusi interaktif, dan sesi tanya jawab. Sasaran pengabdian masyarakat adalah Pimpinan Anak Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Rejotangan yang para pengurusnya beragam latar belakang dan kebanyakan guru sekolah Harapannya para pengurus dapat menjadi agen anti bullying di lembaganya dengan mendiseminasikan serta mengimplementasikan pendidikan empatif dalam rangka mencegah perilaku bullying di lingkungan sekolah dasar. Karena pendidikan empatif dapat memengaruhi perilaku positif, meningkatkan kualitas interaksi sosial, dan membangun hubungan yang bernilai guna mencegah perilaku Kata Kunci: Preventif Bullying. Pendidikan Empatif. Sekolah Dasar Abstract: According to data from the Indonesian Teachers' Union in 2023, bullying is the highest case, especially in the school environment. Bullying itself includes various forms such as physical, verbal, and social This type of case seems to require special attention because every year there are cases of bullying that come to the fore. One of the efforts that can be made to prevent bullying is the socialization and implementation of empathic education. Empathic education can be an integral solution in preventing bullying behavior because, in addition to providing an understanding of personal feelings and experiences, on the other hand, it builds sensitivity to the feelings and perspectives of others from an early age. The method used in this activity is service learning. This service learning is designed in the form of material presentation, interactive discussions, and question and answer sessions. The target of the community service is the Rejotangan branch of the Nahdlatul Ulama Bachelor Association, whose administrators come from different backgrounds and are mostly elementary school teachers. The hope is that the administrators can become anti-bullying agents in their institutions by disseminating and implementing empathic education to prevent bullying behavior in the elementary school environment. Because empathic education can influence positive behavior, improve the quality of social interactions, and build valuable relationships to prevent bullying behavior. Keywords: Bullying Prevention. Empathic Education. Elementary School EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x Pendahuluan Sekolah seharusnya menjadi tempat ternyaman dan teraman bagi peserta didik untuk perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya. Namun belakangan ada ancaman serius yang dapat menghambat atau bahkan menghancurkan proses transformatif peserta didik. Ancaman itu bernama bullying atau perundungan. Bullying menjadi musuh bersama dalam rangka membebaskan pendidikan kita dari praktik-praktik yang merugikan bagi perkembangan psikologis, emosional, dan sosial anak. Fenomena ini dapat berdampak dalam jangka waktu yang cukup panjang, seperti rasa percaya diri yang menurun, gangguan kesehatan mental, degradasi moral, bahkan meningkatnya risiko perilaku destruktif lainnya. Data dari Federasi Serikat Guru Indonesia di tahun 2023 menunjukkan bahwa 25% kasus bullying terjadi di lingkungan sekolah dasar. Angka persentase yang cukup tinggi tersebut membuktikan bahwa sekolah dasar menjadi lahan subur bagi tumbuhnya perilaku bullying. Data di atas juga menunjukkan bahwa prevalensi bullying di kalangan anak-anak sekolah dasar masih cukup tinggi di Indonesia. Hal demikian sangat kontradiktif dengan tujuan bersekolah itu sendiri yakni untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan memupuk akhlak mulia. Adapun sebab kasus bullying di sekolah dasar tergolong tinggi dilatari berbagai faktor, seperti kurangnya pemahaman tentang empati, rendahnya kesadaran sosial, dan minimnya pengawasan serta intervensi dari pihak sekolah maupun orang tua. Sekolah dasar merupakan gerbang awal yang tepat untuk menanamkan pendidikan karakter bagi peserta didik. Selain tentunya aspek kognitif dan psikomotorik, yang tidak kalah penting adalah aspek afektif. Aspek afektif inilah yang akan menjadi karakter ketika anak menjadi orang dewasa, untuk itu menanamkan aspek afektif dalam hal ini lewat pendidikan empatif sejak dini menjadi penting. Sebab habituasi positif yang ditanamkan sejak dini akan mudah menjadi karakter atau nilai yang melekat pada diri Sehingga mulai dari usia anak-anak akan memiliki hubungan interpesonal yang cakap, dengan demikian dapat mencegah perilaku bullying utamanya di sekolah Salah satu pendekatan preventif yang mengemuka adalah pendidikan empatif dipandang efektif dalam mengatasi masalah bullying di sekolah. Pendidikan empati sendiri diartikan sebagai mendidik anak untuk memiliki kemampuan untuk memahami dan merasakan perasaan orang lain sehingga dapat mambangun pola hubungan sosial yang sehat di antara anak-anak. Selain itu, juga mempunyai peranan vital dalam mengonstruksi lingkungan sekolah yang harmonis, inklusif, ramah, dan toleran. Melalui pendidikan empatif, peserta didik tidak hanya diajarkan untuk memahami perasaan orang lain, namun juga dilatih untuk menghormati perbedaan, menjalin hubungan positif, dan menyelesaikan konflik secara konstruktif. Namun, implementasi pendidikan empatif di sekolah dasar masih dihadapkan dengan berbagai kendala, seperti minimnya pelatihan untuk guru, sumber daya yang masih kurang, dan belum spesifiknya panduan kurikulum yang ada. Oleh karenanya. KAMIM TOHARI. MUHAMMAD FATHUR ROAoUF. FAKHRUDDIN AL FARISY. MUHAMMAD FAUZI RIDWAN. MUHAMMAD SAIQUL HUDA EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x sosialisasi terkait pendidikan empatif menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan para guru, peserta didik, dan orang tua dalam menciptakan lingkungan yang lepas dari bullying. Dalam kegiatan pengabdian masyarakat ini sosialisasi dilakukan kepada pengurus Pimpinan Anak Cabang Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama Rejotangan (PAC ISNU Rejotanga. yang berlatarbelakang sebagai pendidik baik di lembaga formal maupun nonformal dan notabene aktivis di Dengan adanya kegiatan sosialisasi di PAC ISNU Rejotangan mengenai pendidikan empatif untuk preventif bullying pada anak sekolah dasar, diharapkan para pengurus PAC ISNU Rejotangan dapat menjadi agen anti bullying baik di lembaganya masing-masing sebagai pendidik maupun di lingkungannya sebagai aktivis. Kegiatan sosialisasi ini dirancang dengan pemaparan materi kaitan pendidikan empatif dan bahaya bullying pada anak di sekolah dasar secara komprehensif. Kemudian dilakukan sesi diskusi interaktif untuk menggali gagasan konstruktif mengenai pendidikan empatif untuk diterapkan di sekolah maupun lingkungan dan diakhiri dengan sesi tanya jawab. Melalui sosialisasi ini prisma pemikiran anti bullying diharapkan akan terbangun, muaranya para pengurus PAC ISNU Rejotangan tergerak untuk ikut ambil bagian mencegah maupun menangani perilaku bullying pada anak sekolah dasar. Ini sejalan dengan bentuk negara Indonesia yang berlandaskan ideologi Pancasila yang membincang ihwal jati diri bangsa ini dibentuk melalui pendidikan. Yang mana jati diri bangsa tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional tahun 2005-2025 (UU Nomor 17 Tahun 2. , bahwa prioritas dari pembangunan nasional yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang berakhlak mulia dan beradab sesuai Pancasila. Maka pendidikan memiliki peranan penting dalam membentuk masyarakat bangsa yang untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak. Metode Pengabdian Kepada Masyarakat Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah service learning. Service learning sendiri merupakan suatu metode pengabdian masyarakat dengan pelaksanaan kegiatan secara langsung di komunitas, organisasi maupun instansi serta menerapkan program dan pembelajaran di tengah masyarakat. Pendekatan dalam kegiatan ini dengan sosialisasi, yakni dimulai dengan tahap perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi. Tahap perencanaan melakukan koordinasi dengan pengurus harian PAC ISNU Rejotangan, menetapkan waktu pelaksanaan, menyiapkan materi, dan persiapan alat atau media yang diperlukan. Dalam pelaksanaannya, kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan pada 11 Agustus 2024 bertempat di Kantor Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Rejotangan. Adapun sasarannya adalah pengurus PAC ISNU Rejotangan. Dalam tahap pelaksanaan dilakukan pemaparan materi mengenai pendidikan empatif sebagai solusi mencegah bullying pada Agus Afandi, dkk. Metodologi Pengabdian Masyarakat, (Jakarta: Diktis Kementerian Agama RI, 2. KAMIM TOHARI. MUHAMMAD FATHUR ROAoUF. FAKHRUDDIN AL FARISY. MUHAMMAD FAUZI RIDWAN. MUHAMMAD SAIQUL HUDA EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x anak di sekolah dasar dengan ditunjang ppt dan video. Dilanjutkan sesi diskusi interaktif dan diakhiri tanya jawab. Sementara tahap monitoring dan evaluasi dilakukan untuk meninjau serta mengukur sejauh mana keberhasilan, kebermanfaatan, kelebihan maupun kekurangan kegiatan yang sudah dilaksanakan. Adapun tujuan dari monitoring dan evaluasi untuk memberikan masukan konstruktif dalam kegiatan yang sama atau lainnya di waktu mendatang. Hasil dan Pembahasan Pengertian Bullying Bullying atau disebut juga perundungan merupakan tindakan yang sangat tidak dibenarkan baik secara normatif maupun agama Islam. Bahkan Islam menyimpulkan orang yang yang melakukan tindakan bullying termasuk orang yang berperilaku tercela. Sebab Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, termasuk menghormati, menjaga, memuliakan, dan menyayangi sesama manusia. Oleh karenanya Islam melarang segala bentuk tindakan yang menyakiti maupun merendahkan orang lain. Kata bullying jika ditelusuri berakar dari kata AubullAy yang dalam bahasa Inggris berarti banteng. Banteng sendiri merupakan hewan yang digambarkan ganas dan suka menyerang siapa pun yang ada di sekitarnya yang agresif. Lalu dalam KBBI bullying diartikan sebagai suatu penindasan perundungan, perisakan, atau pengintimidasian dengan menggunakan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Secara etimologis bullying berarti menggertak, yakni seseorang yang mengganggu yang orang lain yang dianggap lemah. Bullying biasanya tidak hanya bersifat fisik, namun acapkali juga bersifat non fisik. Bullying acapkali dilakukan oleh seseorang yang merasa superior kepada pihak yang dianggap inferior. Bullying sendiri bukan semata-mata bermotif ingin menyakiti orang lain, namun kadang kala juga berupa candaan yang mengarah pada merendahkan harga diri orang lain. Kerugian yang diderita korban bullying tak sekadar fisik yang tersakiti namun secara mental juga berakibat buruk. Sementera kecenderungan perilaku bullying terjadi dalam relasi yang intens, yakni hubungan yang terjalin setiap hari sehingga antara pelaku dan korban pastinya saling kenal. Bahkan baik pelaku dan korban sama-sama mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga yang memiliki kelebihan lebih cenderung menjadi pelaku dan yang lemah menjadi korban. Hal demikian banyak terjadi semisal di lingkungan sekolah maupun lingkungan bermain. Perilaku bullying sebenarnya bisa dilakukan dan menimpa siapa saja, namun paling sering memang terjadi pada anak-anak di lingkungan sekolah. Bahkan angka tindakan bullying dan kekerasan fisik masih menjadi kasus yang mendominasi di bidang 3 Bentuk-bentuk perilaku bullying yang terjadi di sekolah pun beragam. Bentuk bullying yang paling mudah diidentifikasi adalah bullying fisiologis atau kekerasan Putu Yulia Angga Dewi. AuPerilaku Scholl Bullying Pada Siswa Sekolah DasarAy. Edukasi: Jurnal Pendidikan Dasar. Vol. 1 No. 1, 2020, hlm. Widya Ayu Safitri. Cegah dan Stop Bullying Sejak Dini, (Semarang: Guepedia, 2. , hal, 12-13 KAMIM TOHARI. MUHAMMAD FATHUR ROAoUF. FAKHRUDDIN AL FARISY. MUHAMMAD FAUZI RIDWAN. MUHAMMAD SAIQUL HUDA EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x terhadap fisik. Adapun perilaku bullying fisik ini bisa berupa tamparan, tendangan, pukulan, dorongan, dan jenis tindakan kekerasan fisik lainnya. Biasanya hal demikian sengaja dilakukan untuk menolak teman maupun merusak pertemanan. Sementara bullying bentuk non fisik dikategorikan menjadi dua bentuk yakni verbal dan non verbal. Secara verbal dapat berupa tindakan mengancam, menakut-nakuti, mengintimidasi, menyebarkan kekurangan fisik korban, menyebarkan aib korban, serta perkataan yang membuat korban merasa malu atau minder. 5 Untuk non verbal biasanya berupa ekspresi wajah yang mengancam, maupun bahasa-bahasa tubuh lainnya yang bermakna mengancam. Sedangkan Trisnani dan Wardani menambahkan dua bentuk tindakan bullying yakni bullying relasional dan cyber bullying. 6 Bullying relasional dapat berupa pelemahan harga diri seseorang secara sistematis dengan cara mengabaikan, mengucilkan, mengecualikan, hingga menyingkirkan dan bentuk ini paling sulit Sedangkan cyber bullying dapat diidentifikasi dari namanya yakni tindakan bullying lewat media sosial bisa berupa pesan intimidatif yang dikirim persisten sehingga membuat korban merasa takut maupun tertekan. Dari pelbagai pengertian di atas dapat penulis simpulkan bahwa bullying merupakan perilaku menyimpang dari segi normatif maupun dogmatisme agama Islam yang berkaitan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Secara garis besar perilaku bullying terbagi menjadi dua bentuk, yakni secara fisik dan non fisik yang keduanya sama-sama bedampak buruk terhadap kualitas interaksi sosial, gangguan kesehatan fisik dan mental seseorang yang menjadi korban perilaku bullying. Dan biasanya suatu saat korban bisa saja menjadi pelaku bullying baru dengan korban orang yang lebih lemah darinya. Konsep Preventif Bullying di Sekolah Dasar Sekolah merupakan tempat belajar yang harusnya ramah, aman, dan nyaman baik bagi peserta didik maupun orang tua yang menitipkan anaknya untuk bersekolah. Namun belakangan muncul masalah yang cukup memprihatinkan, yakni perilaku bullying yang terjadi di lingkungan sekolah. Bullying bisa menimpa siapa saja, tak hanya dilakukan atau korbannya selalu anak-anak, bisa jadi seluruh elemen yang ada di lingkungan sekolah sama-sama mempunyai peluang untuk menjadi pelaku maupun korban bullying. Namun dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang berupa sosialisasi kepada pengurus PAC ISNU Rejotangan untuk menjadi agen anti bullying ini memfokuskan preventif bullying pada anak sekolah dasar dengan pendekatan pendidikan empatif. Sebenarnya perilaku bullying tidak mengenal tempat dan waktu, akan tetapi seperti pemaparan di atas, bahwa kebanyakan tindakan bullying dikarenakan relasi yang instens. Angga Damayanto. Wening Prabawati, dan Muhammad Nurrohman Jauhari. AuKasus Bullying Pada Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah InklusiAy. Jurnal Ortopedagogia. Vol. 6 No. 2, 2020, hlm. https://doi. org/10. 17977/um031v6i22020p104-107 Wisnu Sri Hertijung. Bentuk-bentuk Perilaku Bullying di Sekolah Dasar, (Universitas Muhammadiyah Surakarta: Prosiding Seminar Nasional Parenting 2. , hal. Rischa Pramudia Trsinani dan Silvia Yula Wardani. AuPerilaku Bullying di SekolahAy. G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling. Vol. 1 No. 1, 2016, hlm. KAMIM TOHARI. MUHAMMAD FATHUR ROAoUF. FAKHRUDDIN AL FARISY. MUHAMMAD FAUZI RIDWAN. MUHAMMAD SAIQUL HUDA EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x dan salah satu relasi intens itu terjadi di sekolah. Maka dari itu, banyak sekali ditemukan kasus bullying yang terjadi berlatar lingkungan sekolah. Tindakan bullying yang acapkali terjadi di sekolah biasanya berbentuk fisik, verbal, dan psikologis. 7 Untuk itu perlu kiranya tindakan pencegahan bullying di sekolah agar suasana belajar peserta didik lebih Lingkungan belajar yang kondusif berimplikasi pada prestasi belajar peserta didik yang baik dan tentunya tercipta peserta didik yang berkarakter anti bullying. Sekolah, apalagi sekolah dasar harusnya menjadi tempat terbaik dalam menanamkan akhlak mulia, saling menghormati, saling menghargai, saling menyayangi antar sesama, dan toleran. Namun karena lingkungan sekolah merupakan lingkungan yang kompleks di mana menjadi tempat berkumpulnya peserta didik dari pelbagai latar belakang baik sosial, ras, suku, bahkan agama membuka peluang terjadi gesekan. Kompleksitas yang ada dan intensitas pergaulan antar peserta didik membuka peluang untuk saling mengetahui kelebihan dan kekurangan masing-masing. Relasi antara anak yang superior dan inferior jika tidak dikelola dengan baik dan didasari nilai-nilai pendidikan empatif, maka relasi tersebut bisa berujung tindakan bullying. Konsep preventif bullying di sekolah sebenarnya telah diterbitkan dalam bentuk juknis kegiatan pondok ramadan 2023 oleh Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Yakni berupa penyampaian materi tentang pencegahan bullying pada warga sekolah sebagai upaya menciptakan lingkungan sekolah kondusif untuk pembelajaran dan bebas Untuk itu, dalam kegiatan sosialisasi ini membekali para pengurus PAC ISNU Rejotangan hal-ihwal materi preventif bullying dengan pendekatan pendidikan empatif. Para PAC ISNU Rejotangan yang sebagian besar adalah guru dan aktivitas di lingkungan sosial dapat menyebarluaskan nilai-nilai pendidikan empatif guna mencegah maupun mengatasi tindakan bullying yang terjadi di lapangan. Sosialisasi sendiri merupakan proses pembelajaran yang efektif dalam rangka mengenalkan segala sesuatu yang bernilai manfaat dan dilakukan secara intensif. Materi-materi yang disampaikan mengenai konsep preventif bullying di sekolah di antaranya pertama, mengedukasi dan membangun kesadaran bahwa bullying berdampak negatif bagi korban, pelaku dan lingkungan sekolah. Kemudian seluruh elemen sekolah harus mampu menghargai perbedaan dengan cara mengaktualisasikan nilai-nilai toleransi, berempati, dan menghormati keberagaman yang ada. Kedua, membangun budaya sekolah yang positif dapat dilakukan dengan cara penerapan kode etik sekolah berupa larangan tegas perilaku bullying berikut sanksinya. Dapat juga mengadakan program kebersamaan guna memupuk kerja sama hingga memberikan apresiasi kepada peserta didik yang menunjukkan perilaku baik di sekolah. Ketiga, peningkatan kapasitas sivitas akademika sekolah dan pelibatan orang tua. Muhammad Nur. Yasriuddin, dan Nor Azijah. AuIdentifikasi Perilaku Bullying Di Sekolah (Sebuah Upaya Preventi. Ay. Al-Madrasah: Jurnal Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah. Vol. 6 No. 3, 2022, hlm. https://doi. org/10. 35931/am. Ismail. AuPentingnya Sosialisasi Bagi AnakAy. JISA: Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama. Vol. 2 No. 1, 2019, hlm. https://doi. org/10. 30829/jisa. KAMIM TOHARI. MUHAMMAD FATHUR ROAoUF. FAKHRUDDIN AL FARISY. MUHAMMAD FAUZI RIDWAN. MUHAMMAD SAIQUL HUDA EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x Walhasil, dengan adanya konsep preventif bullying yang ada di sekolah diharapkan perilaku bullying dapat turun bahkan segenap insan di lingkungan sekolah dapat terbebas dari laku bullying. Sebab pencegahan bullying bukan tanggung jawab individu tertentu, melainkan harus melibatkan seluruh elemen sekolah. Dengan saling bekerjasama dengan baik antar insan sekolah diharapkan tercipta transformasi positif dan lingkungan sekolah dasar yang kondusif sehingga proses belajar mengajar berlangsung dengan lancar. Pendidikan Empatif Empati dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah keadaan mental yang membuat seseorang merasa dirinya berada dalam keadaan perasaan atau pemikiran yang serupa dengan orang lain. Empati bukan sekadar mengetahui dan merasakan apa yang dirasakan orang lain, namun juga mengomunikasikannya dengan cara dan sikap yang baik, pengetahuan serta pemahaman tentang pengalaman emosional orang lain. Lebih lanjut, empati merupakan usaha untuk memahami bagaimana orang lain berpikir tanpa menghilangkan kemampuan orang lain untuk mengontrol dirinya sendiri. Maka dapat penulis simpulkan empati merupakan proses psikologis yang membuat seseorang seolah-olah menjadi orang lain dan memungkinkan mereka untuk memahami, memperkirakan perilaku seseorang, serta merasakan emosi yang disebabkan oleh emosi mereka. Hal ini memungkinkan mereka untuk memahami situasi emosional dari perspektif orang lain. Dalam keberhasilan suatu pendidikan nyatanya tidak berdasarkan aspek kognitif Melainkan juga melibat dimensi sosial-emosional khususnya kemampuan peserta didik untuk berinteraksi dan berempati dengan orang lain, menjadi tolok ukur efektivitas suatu pendidikan. Pendidikan empatif dalam membentuk peserta didik berkarakter bukan hanya sebagai langkah preventif bullying, melainkan juga sebagai strategi proaktif untuk menghadapi tantangan kompleksitas dan dinamika masyarakat Sebab berkembangnya sikap empati dengan baik selain menjadi kunci dalam membentuk pribadi yang inklusif dan bertanggungjawab juga memberikan dampak positif dalam hubungan sosial di lingkungan sekolah. Peserta didik yang mempunyai kemampuan berempati akan berdampak positif pada tingkah laku anak terhadap orang lain, mendukung hubungan sosial, dan meningkatkan interaksi sosial di lingkungan sekitarnya. Berempati juga berkontribusi pada ketaatan anak terhadap norma, aturan, dan memperkokoh kecenderungan untuk membantu sesama. Dengan demikian kemampuan sosial anak akan kuat dan berimplikasi positif dalam hubungan sosial yang lebih bermakna. Untuk itu sekolah perlu Riani Sukma Wijaya dan Indrayeni. AuPengaruh Narsisme dan Empati dalam Pengambilan Keputusan Etis Pada Mahasiswa AkuntasiAy. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Dharma Andalas. Vol. 23 No. 1, 2021, hlm. KAMIM TOHARI. MUHAMMAD FATHUR ROAoUF. FAKHRUDDIN AL FARISY. MUHAMMAD FAUZI RIDWAN. MUHAMMAD SAIQUL HUDA EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x memberikan perhatian khusus dengan mengembangkan pendidikan empatif sebagai solusi mengatasi perilaku bullying yang acapkali terjadi di sekolah dasar. Empati yang ditanamkan sejak dini dapat membentuk karakter dan kepribadian yang peka terhadap kebutuhan dan kondisi sesama. Sebaliknya, kurangnya rasa empati berimbas pada sikap acuh tak acuh terhadap kesulitan yang tengah diderita orang lain. Peserta didik yang berkarakter empatif akan tercermin dalam kemampuan mereka dalam memahami bahasa-bahasa non verbal, memahami pemikiran dan perasaan orang lain. Oleh karenanya pendidikan empatif pada anak di sekolah dasar tidak boleh diabaikan begitu saja. Dalam pengimplementasiannya memerlukan komitmen yang serius dari seluruh insan sekolah agar dapat berjalan secara kontinuitas. Sikap empati utamanya di pendidikan dasar menjadi benang merah dalam membangun pondasi sosial dan moral seorang peserta didik. Signifikansi pendidikan dasar dalam membentuk sikap empati peserta didik menjadi pondasi amat penting dalam rangka memberikan kepastian perkembangan sosial dan moral yang sehat. Nilai-nilai pendidikan empatif berupa nilai toleransi, kerja sama, dan kepedulian menjadi aspek penting yang patut terapkan ke dalam pembelajaran. Namun tidak sebatas pemahaman teoritis, peserta didik perlu diajarkan nilai-nilai tersebut dengan cara mengintegrasikannya ke dalam aktivitas praktis dan pengalaman keseharian. Dalam melaksanakan nilai-nilai pendidikan empatif di sekolah dasar dapat melalui tiga tahapan berikut ini, pertama, moral knowing yakni kesadaran nilai dan moral, menentukan cara pandang, serta pemahaman diri yang disampaikan lewat pemberian pengetahuan tentang hal-hal tersebut. Kedua, moral feeling bagaimana memperkuat aspek emosi untuk menyesuaikan perilaku agar sesuai dengan norma yang berlaku. Ketiga, moral action yakni upaya nyata dalam mewujudkan pemahaman tentang pendidikan karakter empati lewat tindakan nyata. 12 Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mendapatkan pemahaman secara teoritis tentang nilai-nilai tersebut, melainkan mereka juga dapat menginternalisasikan prinsip-prinsip tersebut lewat pengalaman mereka sendiri. Ini juga memastikan sikap empati tidak berhenti dalam pemahaman saja, namun juga dapat diaktualisasikan dalam kehidupan nyata. Peserta didik yang dibiasakan bersikap empatik cenderung lebih terbuka terhadap perbedaan serta mampu menciptakan lingkungan yang menghargai keragaman, dan menjadikan keragaman sebagai kekuatan. 13 Dengan demikian, pendidikan karakter Bety Agustina Rahayu dan Iman Permana. AuBullying di Sekolah: Kurangnya Empati Pelaku Bullying dan PencegahanAy. Jurnal Keperawatan Jiwa. Vol. No. https://doi. org/10. 26714/jkj. Ridho Rismi, dkk. AuBimbingan Kelompok Dalam Pemahaman Nilai Empati Untuk Meningkatkan Sikap Proporsial SiswaAy. Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia. Vol. No. 1, 2022, hlm. https://doi. org/10. 29210/1202221496 Mulyasa. Manajemen Pendidikan Karakter, (Jakarta: Bumi Aksara, 2. , hlm. Sri Haryanto dan Achmad Zainuri Rosid. AuImplementasi dan Aktualisasi Pendidikan Humanis Religius di SekolahAy. Jurnal Cakrawala Ilmiah. Vol. No. https://doi. org/10. 53625/jcijurnalcakrawalailmiah. KAMIM TOHARI. MUHAMMAD FATHUR ROAoUF. FAKHRUDDIN AL FARISY. MUHAMMAD FAUZI RIDWAN. MUHAMMAD SAIQUL HUDA EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x empatif tidak hanya mencetak peserta didik yang cakap secara akademis, tetapi juga sebagai penggerak pembentukan karakter dan berkepribadian empatik. Sebab akhlak atau juga kepribadian peserta didik dapat terbentuk dengan internalisasi pendidikan empatif, sehingga dapat mendasari cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak peserta didik yang anti bullying. Dalam mengimplementasikan nilai-nilai pendidikan empatif di atas, tentu akan menemui beberapa faktor yang memengaruhi keberhasilannya. Mulai dari konteks sekolah dasar itu sendiri, budaya lokal, dan ragam karakteristik peserta didik. Untuk itu diperlukan fleksibilitas dalam menjalankan program pendidikan empatif agar mampu menyesuaikan dengan keunikan setiap sekolah dan kelompok peserta didik. Dengan fleksibilitas tersebut dapat meningkatkan peluang suksesnya pendidikan empatif di Walhasil, dapat membentuk peserta didik yang ramah, saling memahami suka dan duka orang lain, peduli, dan menjadi pribadi yang menyenangkan sekaligus menenangkan, serta terbuka kepada orang lain. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa sosialiasi preventif bullying dengan pendidikan empatif memberikan perspektif segar bagi para pengurus PAC ISNU Rejotangan. Dari sisi pemaparan materi dapat diterima dengan baik, sesi diskusi yang interaktif dengan saling bertukar pandangan mengenai pencegahan bullying, hingga tanya jawab yang cukup aktif. Setelah sosialisasi, para pengurus PAC ISNU Rejotangan tergerak untuk menyebarluaskan apa yang didapat baik di lembanga sekolah masingmasing dan lingkungan masyarakat. Semua bersemangat untuk menjadi agen anti bullying, di mana siap melakukan tindakan pencegahan dengan mengedukasi bahaya bullying hingga berperan sebagai konselor baik bagi korban maupun pelaku bullying. Hal demikian dilakukan sebagai upaya nyata pengahapusan perilaku bullying yang masih marak terjadi utamanya dilingkungan sekolah yang melibatkan anak-anak usia sekolah Kamim Tohari. Retno Intan Kuswari, dan Riyanto. AyPengembangan Buku Ajar Bergambar Berbasis Karakter ProfetikAy. JIPSKi: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Studi Keislaman. Vol. 1 No. 1, 2023, hlm. KAMIM TOHARI. MUHAMMAD FATHUR ROAoUF. FAKHRUDDIN AL FARISY. MUHAMMAD FAUZI RIDWAN. MUHAMMAD SAIQUL HUDA EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x Gambar 1. Dokumentasi Sosialisasi Preventif Bullying dengan Pendidikan Empatif pada Anak Sekolah Dasar Kesimpulan Kesimpulan Pengabdian masyarakat berupa sosialisasi preventif bullying dengan pendidikan empatif pada anak sekolah dasar yang sasarannya para pengurus PAC ISNU Rejotangan mendapatkan respon positif. Dari hasil refleksi pasca pelaksanaan sosialisasi beberapa pengurus PAC ISNU Rejotangan yang mengemukakan pendapat tentang sosialisasi ini menyatakan mendapatkan pemahaman dan perspektif yang baru tentang bullying dan cara yang tepat menanganinya maupun mencegahnya. Pengurus PAC ISNU Rejotangan menyatakan kesiapan diri untuk menjadi agen anti bullying baik di lembaganya masingmasing dan pada lingkungannya secara luas. Pengurus PAC ISNU Rejotangan lebih mengenal beberapa bentuk bullying yang acapkali terjadi di lingkungan sekolah dasar. Sehingga dapat menentukan tindakan yang tepat dalam mencegah terjadi perilaku bullying dengan pendekatan pendidikan empatif. Para pengruus PAC ISNU Rejotangan juga berkomitmen untuk mengimplementasikan nilai-nilai moral dan etika baik di lembaga, lingkungan sekitar, dan tentunya keluarganya secara holistik. Bagaimanapun pendidikan empatif dapat meningkatkan sensivitas sosial peserta didik, membentuk dasar kepribadian yang terbuka, toleran, dan tentunya berkontribusi dalam pembentukan karakter moralistis. KAMIM TOHARI. MUHAMMAD FATHUR ROAoUF. FAKHRUDDIN AL FARISY. MUHAMMAD FAUZI RIDWAN. MUHAMMAD SAIQUL HUDA EL-KHIDMAH: JURNAL DISEMINASI PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Volume 2. Nomor 1. Desember 2024 Halaman 41-52 E-ISSN 3062-7680. P-ISSN x-x Saran Tentu dengan terlaksananya kegitan ini dapat membuka kesempatan kolaborasi antar lembaga baik formal dan non formal, organisasi masyarakat, maupun pemangku kebijakan untuk menyelenggarakan kegiatan sejenis yang dapat mensukseskan pencegahan bullying, utamanya di usia anak sekolah dasar. Kolaborasi ini penting sebagai upaya bersama membebaskan sekolah dari praktik bullying dan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan kondusif. Dengan adanya pengabdian masyarakat ini, diharapkan para pengurus PAC ISNU Rejotangan terbangun kesadaran bahwa bullying merupakan perilaku laten yang berdampak buruk. Sehingga muncul gerakan nyata untuk melakukan preventif bullying dengan pendidikan empatif atau lainnya guna menurunkan perilaku bullying baik di lembaga sekolah dan lingkungan sekitar. Daftar Pustaka