Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 GAMBARAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG PEMANFAATAN DAUN KELOR (MORINGA OLEIFERA) DALAM MENCEGAH ANEMIA PADA IBU HAMIL Ni Luh Widiastiti1. Gusti Ayu Tirtawati2. Gusti Ayu Marhaeni3. Made Widhi Gunapria Darmapatni4. Listina Ade Widya Ningtyas5 1,2,3,4,5 Poltekkes Kemenkes Denpasar amertasedana3@gmail. ABSTRAK Kadar zat besi yang tinggi dapat ditemukan pada olahan daun kelor dengan manfaat yang baik sebagai pencegah anemia, namun tidak semua masyarakat mengetahui manfaat daun kelor tersebut. Tujuan penelitian ini adalah adalah untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa Oleifer. Dalam Mencegah Anemia pada Ibu Hamil. Metode penelitian merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif dan menggunakan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di UPTD Puskesmas II Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Barat pada bulan Februari Ae April Tahun 2025 dengan jumlah populasi 56 orang ibu hamil dan teknik pengambilan sampel menggunakan total populasi yang sesuai kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian didapatkan 89,3% berumur antara 20 Ae 35 tahun, 50% berpendidikan menengah dan 51,2% merupakan primigravida. Responden memiliki pengetahuan baik sebesar 83,9%. Responden yang memiliki pengetahuan baik 87,2% berumur 20 Ae 35 tahun, 38,3% berpendidikan tinggi dan 51,1% merupakan primigravida. Bidan diharapkan terus memberikan informasi terkait pemanfaatan daun kelor untuk mencegah anemia pada ibu hamil, sehingga dapat menurunkan angka anemia pada ibu hamil khususnya di provinsi Bali. Kata kunci : Anemia. Daun kelor. Ibu hamil. Pengetahuan ABSTRACT High iron levels can be found in processed moringa leaves with good benefits as a prevention of anemia, but not all people know the benefits of moringa leaves. The purpose of this study was to determine the Level of Knowledge of Pregnant Women about the Utilization of Moringa Leaves (Moringa Oleifer. in Preventing Anemia in Pregnant Women. Research method is a type of quantitative research with a descriptive research design and using a cross-sectional approach. The study was conducted at the UPTD Puskesmas II. West Denpasar District Health Office in February - April 2025 with a population of 56 pregnant women and the sampling technique used the total population that met the inclusion and exclusion criteria. The results of the study showed 3% were between 20 - 35 years old, 50% had secondary education and 51. 2% were Respondents had good knowledge of 83. Respondents who had good knowledge 2% aged 20 - 35 years, 38. 3% had higher education and 51. 1% were primigravida. Midwives are expected to continue to provide information regarding the use of Moringa leaves to prevent anemia in pregnant women, so that it can reduce the number of anemia in pregnant women, especially in the province of Bali Keywords : Anemia. Moringa Oleifera. Pregnant Women. Knowledge LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 PENDAHULUAN untuk dikonsumsi setiap hari antara lain bayam, daun katuk, brokoli, hati ayam, dan kacang-kacangan. Berdasarkan penelitian, kadar zat besi yang tinggi juga ditemukan pada olahan daun kelor (Ferdiana, 2. Berbagai nutrisi penting dikandung oleh daun kelor (Moringa Oleifer. antara lain zat besi, vitamin C, kalsium, serta kalium. Hal ini membuat daun kelor sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi masalah anemia. Dalam setiap 100 gr daun kelor segar, terkandung sekitar 28,29 mg zat besi, yang hampir setara dengan kandungan zat besi dalam satu tablet suplemen Fe yang biasanya mengandung 30 mg. Selain itu, kandungan vitamin C juga tinggi pada daun kelor, vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi. Oleh karena itu, daun kelor sangat bermanfaat untuk membantu meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah (Hastuty & Nitia, 2. Anemia adalah permasalahan gizi yang terjadi pada jutaan orang di negara permasalahan signifikan bagi kesehatan Kekurangan zat besi dalam tubuh merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan anemia. Kurangnya asupan zat besi yang berasal dari makanan merupakan salah satu penyebab terjadinya anemia. Kebutuhan zat gizi meningkat saat hamil untuk memproduksi lebih banyak sel darah merah guna mendukung kesehatan ibu dan janin. Selain itu, kehamilan juga menyebabkan perubahan-perubahan dalam komposisi darah dan fungsi sumsum tulang (Hartati & Sunarsih. Tanda-tanda anemia umumnya muncul ketika konsentrasi hemoglobin berada dibawah 11,0 g/dl. Beberapa efek yang terjadi pada bayi antara lain Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT), risiko abortus, kelahiran prematur, serta kematian bayi setelah lahir (Farhan & Dhanny, 2. Menurut hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, sekitar 27,7% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, angka kejadian anemia ibu hamil di Indonesia sebesar 48,9%. Di tahun yang sama, sekitar 84,6% kasus anemia pada ibu hamil terjadi pada antara umur 15 tahun sampai 24 tahun (Kemenkes RI, 2. Pada tahun 2020, prevalensi anemia di kalangan ibu hamil di Provinsi Bali mencapai 7,4%, yang setara dengan sekitar 5. 305 kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2. Berdasarkan penelitian (Bujani et al. , 2. didapatkan hasil dari 100 orang ibu hamil di UPTD Puskesmas Sukawati I, sebanyak 38 orang . %) dikategaorikan anemia dan sebanyak 62 orang . %) dikategorikan tidak anemia. Hal tersebut menunjukkan bahwa kasus anemia yang tinggi dikarenakan masih kurangnya asupan zat besi pada ibu hamil. Terapi utama untuk mengatasi anemia adalah dengan memberikan suplemen zat besi (F. setiap hari sebanyak 60 mg. Ibu hamil penderita anemia zat besi dianjurkan untuk menjalani diet yang kaya akan zat besi serta memastikan asupan nutrisi yang memadai. Beberapa bahan makanan yang dianjurkan LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ervin . menunjukkan bahwa masih banyak ibu hamil yang memiliki pengetahuan terbatas mengenai manfaat daun kelor dalam menurunkan risiko anemia. Dari total 41 ibu hamil yang diteliti, terungkap bahwa 12 orang . ,3%) memiliki pengetahuan yang cukup, sedangkan sembilan orang . %) diketahui memiliki pengetahuan yang kurang. Selain itu, sebanyak 14 ibu hamil . ,1%) tidak pernah mengonsumsi daun kelor selama kehamilan, yang disebabkan oleh ketidakpahaman mereka tentang manfaatnya (Rufaindah. Patemah, & Jayanti, 2. Berdasarkan penelitian (Atika et al. , 2021. didapatkan adanya pengaruh secara signifikan pemberian daun kelor terhadap kadar hemoglobin ibu hamil. Dalam 100 mg sup daun kelor mengandung 0,85 mg zat besi, juga terdapat 6,7 mg protein, serta 1,7 mg lemak, energi sebesar 92 Kkal, 440 mg (C. kalsium, 0,8 mg Niasin atau yang biasa dikenal dengan B3, 0,05 mg Riboflavin atau biasa dikenal dengan Vitamin B2, 0,06 mg Tiamin atau yang biasa dikenal dengan B1 dan yang terakhir yaitu 220 mg Vitamin C (Thenmozhi et al. , 2. Penelitian lain juga dilakukan oleh (Satriawati et al. , 2. yang menyatakan sayur daun kelor dapat meningkatkan kadar hemoblobin ibu hamil. Selain pada ibu hamil, pemberian olahan daun kelor juga dapat meningkatkan kadar Hb pada remaja putri, dimana peningkatan rata-rata Hb Jurnal Kesehatan Husada Gemilang sebelum intervensi adalah 10,71 g/dl dan setelah 15 hari intervensi, meningkat menjadi 11,03 g/dl (Tirtawati et al. , 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Puskesmas II Denpasar Barat didapatkan data dari 10 orang ibu hamil yang diwawancarai sebanyak 80% tidak mengetahui manfaat daun kelor untuk menurunkan risiko anemia pada ibu hamil. Maka dari itu, peneliti tertarik AuGambaran Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa Oleifer. dalam Mencegah Anemia Pada Ibu HamilAy di UPTD Puskesmas II Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Barat Tahun 2025. Anemia adalah permasalahan gizi yang terjadi pada jutaan orang di negara permasalahan signifikan bagi kesehatan Kekurangan zat besi dalam tubuh merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan anemia. Kurangnya asupan zat besi yang berasal dari makanan merupakan salah satu penyebab terjadinya anemia. Kebutuhan zat gizi meningkat saat hamil untuk memproduksi lebih banyak sel darah merah guna mendukung kesehatan ibu dan janin. Selain itu, kehamilan juga menyebabkan perubahan-perubahan dalam komposisi darah dan fungsi sumsum tulang (Hartati & Sunarsih. Tanda-tanda anemia umumnya muncul ketika konsentrasi hemoglobin berada dibawah 11,0 g/dl. Beberapa efek yang terjadi pada bayi antara lain Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Pertumbuhan Janin Terhambat (PJT), risiko abortus, kelahiran prematur, serta kematian bayi setelah lahir (Farhan & Dhanny, 2. Menurut hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, sekitar 27,7% ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Menurut data Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, angka kejadian anemia ibu hamil di Indonesia sebesar 48,9%. Di tahun yang sama, sekitar 84,6% kasus anemia pada ibu hamil terjadi pada antara umur 15 tahun sampai 24 tahun (Kemenkes RI, 2. Pada tahun 2020, prevalensi anemia di kalangan ibu hamil di Provinsi Bali mencapai 7,4%, yang setara dengan sekitar 5. 305 kasus (Dinas Kesehatan Provinsi Bali, 2. Berdasarkan penelitian LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 (Bujani et al. , 2. didapatkan hasil dari 100 orang ibu hamil di UPTD Puskesmas Sukawati I, sebanyak 38 orang . %) dikategaorikan anemia dan sebanyak 62 orang . %) dikategorikan tidak anemia. Hal tersebut menunjukkan bahwa kasus anemia yang tinggi dikarenakan masih kurangnya asupan zat besi pada ibu hamil. Terapi utama untuk mengatasi anemia adalah dengan memberikan suplemen zat besi (F. setiap hari sebanyak 60 mg. Ibu hamil penderita anemia zat besi dianjurkan untuk menjalani diet yang kaya akan zat besi serta memastikan asupan nutrisi yang memadai. Beberapa bahan makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari antara lain bayam, daun katuk, brokoli, hati ayam, dan kacang-kacangan. Berdasarkan penelitian, kadar zat besi yang tinggi juga ditemukan pada olahan daun kelor (Ferdiana, 2. Berbagai nutrisi penting dikandung oleh daun kelor (Moringa Oleifer. antara lain zat besi, vitamin C, kalsium, serta kalium. Hal ini membuat daun kelor sebagai salah satu alternatif untuk mengatasi masalah anemia. Dalam setiap 100 gr daun kelor segar, terkandung sekitar 28,29 mg zat besi, yang hampir setara dengan kandungan zat besi dalam satu tablet suplemen Fe yang biasanya mengandung 30 mg. Selain itu, kandungan vitamin C juga tinggi pada daun kelor, vitamin C dapat membantu penyerapan zat besi. Oleh karena itu, daun kelor sangat bermanfaat untuk membantu meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah (Hastuty & Nitia, 2. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Ervin . menunjukkan bahwa masih banyak ibu hamil yang memiliki pengetahuan terbatas mengenai manfaat daun kelor dalam menurunkan risiko anemia. Dari total 41 ibu hamil yang diteliti, terungkap bahwa 12 orang . ,3%) memiliki pengetahuan yang cukup, sedangkan sembilan orang . %) diketahui memiliki pengetahuan yang kurang. Selain itu, sebanyak 14 ibu hamil . ,1%) tidak pernah mengonsumsi daun kelor selama kehamilan, yang disebabkan oleh ketidakpahaman mereka tentang manfaatnya (Rufaindah. Patemah, & Jayanti, 2. Berdasarkan penelitian (Atika et al. , 2021. didapatkan adanya pengaruh secara signifikan pemberian daun kelor Jurnal Kesehatan Husada Gemilang terhadap kadar hemoglobin ibu hamil. Dalam 100 mg sup daun kelor mengandung 0,85 mg zat besi, juga terdapat 6,7 mg protein, serta 1,7 mg lemak, energi sebesar 92 Kkal, 440 mg (C. kalsium, 0,8 mg Niasin atau yang biasa dikenal dengan B3, 0,05 mg Riboflavin atau biasa dikenal dengan Vitamin B2, 0,06 mg Tiamin atau yang biasa dikenal dengan B1 dan yang terakhir yaitu 220 mg Vitamin C (Thenmozhi et al. , 2. Penelitian lain juga dilakukan oleh (Satriawati et al. , 2. yang menyatakan sayur daun kelor dapat meningkatkan kadar hemoblobin ibu hamil. Selain pada ibu hamil, pemberian olahan daun kelor juga dapat meningkatkan kadar Hb pada remaja putri, dimana peningkatan rata-rata Hb sebelum intervensi adalah 10,71 g/dl dan setelah 15 hari intervensi, meningkat menjadi 11,03 g/dl (Tirtawati et al. , 2. Berdasarkan hasil studi pendahuluan di Puskesmas II Denpasar Barat didapatkan data dari 10 orang ibu hamil yang diwawancarai sebanyak 80% tidak mengetahui manfaat daun kelor untuk menurunkan risiko anemia pada ibu hamil. Maka dari itu, peneliti tertarik AuGambaran Pengetahuan Ibu Hamil tentang Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa Oleifer. dalam Mencegah Anemia Pada Ibu HamilAy di UPTD Puskesmas II Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Barat Tahun 2025. ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 pernyataan, disusun oleh peneliti yang sudah dilakukan teruji valid dengan nilai 0,432-0,707 dan uji reliabilitas menunjukkan cronbachAos alpha 0,916. Proses analisis data penelitian menggunakan analisis univariat dengan bantuan program SPSS. Penelitian ini sudah dinyatakan lolos kaji etik oleh Komisi Etik Penelitian Poltekkes Kemenkes Denpasar dengan no DP. 02/F. xII. 25/595/2025. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa Oleifer. Dalam Mencegah Anemia Berdasarkan Umur Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang Usia <20 20 - 35 th 1 2,1 41 87,2 >35 th Sumber: Data Primer, 2025 METODE PENELITIAN Tabel 1 menunjukkan dari 47 orang responden yang memiliki pengetahuan yang baik, 41 orang . ,2%) berumur 20 Ae 35 tahun, lima orang . ,6%) berumur > 35 tahun dan satu orang . ,1%) berumur < 20 tahun. Responden yang memiliki pengetahuan cukup, enam orang . %) berumur 20-35 tahun dan responden yang memiliki pengetahuan kurang, tiga orang . %) berumur 20 Ae 35 tahun. Metode penelitian adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian deskriptif dan menggunakan pendekatan crosectional. Penelitian ini dilaksanakan di UPTD Puskesmas II Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Barat pada bulan Februari Ae April Tahun 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang berkunjung ke UPTD Puskesmas II Dinas Kesehatan Kecamatan Denpasar Barat dengan rata-rata kunjungan per bulan yaitu 56 orang ibu hamil. Sampel yang digunakan menggunakan teknik total populasi yaitu 56 orang ibu hamil. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemanfaatan daun kelor (Moringa Oleifer. dalam mencegah anemia pada ibu hamil berupa kuesioner yang terdiri dari 15 Umur 20-35 tahun adalah umur reproduksi sehat, hal ini sangat baik untuk terjadinya kehamilan. Salah satu faktor yang mempengaruhi tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) adalah faktor umur, dimana resiko kematian akan lebih besar terjadi pada kelompok umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun. Umur merupakan salah satu faktor resiko yang berhubungan dengan kualitas kehamilan atau berkaitan erat dengan kesiapan fisik ibu dalam reproduksi. Umur merupakan salah satu faktor yang dapat menggambarkan kematangan seseorang secara psikis dan sosial, sehingga membuat seseorang mampu lebih baik dalam merespon informasi yang diperoleh. Hal ini akan berpengaruh terhadap daya tangkap seseorang dalam mencerna informasi yang diperolehnya. LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 sehingga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang (Nurbaniwati et al. , 2. Umur seseorang sangat mempengaruhi pengetahuan dalam hal pemahaman terhadap informasi yang ada dan dengan semakin bertambahnya usia seseorang maka semakin berkembang daya tangkap dan pola pikirnya, sehingga pengetahuan yang diperolehnya semakin baik, pengetahuan juga bertambah menjadi matang. (Ar-Rasily & Dewi, 2. , mengatakan dengan bertambahnya umur maka akan berpengaruh terhadap penambahan pengetahuan yang diperolehnya. Pola pikir dan daya tangkap akan makin matang atau baik pengetahuan yang dimilikinya makin baik (Rahmawati et al. , 2. Hal ini sejalan mempengaruhi pengetahuan adalah usai karena semakin usia seseorang cukup maka semakin matang dalam bekerja dan berfikir. Selain itu Sutarno . berpendapat bahwa umur ibu yang terlalu muda dapat mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan tentang kesehatan (Kurniawati. Tabel 2. Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa Oleifer. Dalam Mencegah Anemia Berdasarkan Pendidikan Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang Dasar 6 12,8 2 33,3 Pendidikan Menengah Tinggi 18 38,3 Sumber: Data Primer, 2025 Tabel 2 menunjukkan dari 47 orang responden yang memiliki pengetahuan baik, 18 orang . ,3%) berpendidikan tinggi. Dari enam orang yang memiliki pengetahuan cukup tiga orang . %) bependidikan menengah dan dari tiga orang yang memiliki pengetahuan kurang dua responden . ,7%) berpendidikan Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori Notoatmodjo yang menyatakan bahwa faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap pengetahuan adalah pendidikan, karena orang dengan pendidikan tinggi dapat memberikan respons yang lebih rasional terhadap informasi LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang yang diterima dan akan berpikir sejauh mana keuntungan yang diberikan seseorang terhadap perkembangan orang lain dalam mencapai cita - cita tertentu. Pendidikan secara umum merupakan upaya yang direncakanan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Sehingga wanita yang mempunyai pendidikan yang baik, mereka mampu mengupayakan rencana untuk mendapatkan pengetahuan oleh pelaku pendidikan, akan tetapi pendidikan rendah tidak memungkinkan membuat seseorang untuk berpikir yang lebih luas, jika pendidikan rendah juga memiliki banyak pengalaman maka lebih luas juga pengetahuan, sama juga dengan pendidikan tinggi, semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan semakin mudah dalam menerima informasi (Notoatmodjo, 2. Tingkat mempengaruhi daya pikir seseorang untuk dapat menerima segala informasi dari lingkungan sekitarnya. Pendidikan yang tinggi atau baik dapat memperluas ilmu pengetahuan ibu hamil. Ibu hamil yang berpendidikan tinggi mempunyai kepedulian yang lebih besar dalam menjaga kehamilannya terutama untuk mengetahui tanda bahaya kehamilan sebagai upaya mencegah timbulnya komplikasi dalam Sementara itu, jika seorang ibu hamil yang mempunyai pendidikan rendah maka dapat mengakibatkan terhambatnya atau kurangnya pengetahuan atau informasi yang bisa diperoleh pada tingkat pendidikan yang lebih tinggi. Jadi, semakin tinggi pendidikan maka akan semakin mudah seseorang dalam menerima informasi sehingga lebih mudah Penelitian lainnya yang meneliti tentang AuHubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Tingkat Pengetahuan tentang Tanda Bahaya pada Kehamilan di Puskesmas Sidoharjo Kabupaten SragenAy menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendidikan dengan tingkat pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan dengan nilai 0,007 . <0,. (Astuti, 2. Pendidikan dapat mempengaruhi seseorang termasuk perilaku seseorang. Pendidikan memotivasi untuk sikap berperan seta dalam pembangunan pada umumnya makin tinggi pendidikan maka seseorang akan semakin Jurnal Kesehatan Husada Gemilang ISSN 2615-3068. Vol : 9. No 1. Februari 2026 mudah menerima informasi (Notoatmodjo. Tabel 3. Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Pemanfaatan Daun Kelor (Moringa Oleifer. Dalam Mencegah Anemia Berdasarkan Paritas Tingkat Pengetahuan Primipara Baik 24 51,1 Cukup 2 33,3 Kurang Sumber: Data Primer, 2025 Paritas Multipara Grande Multipara Tabel 3 menunjukkan dari 47 orang responden pengetahuan baik, 24 orang . ,1%) merupakan primigravida. Dari enam orang yang memiliki pengetahuan cukup, empat orang . ,7%) merupakan multigravida dan dari tiga orang yang memiliki pengetahuan kurang, tiga orang . %) merupakan Paritas adalah keadaan wanita berkaitan dengan jumlah anak yang dilahirkan. Semakin banyak paritas semakin banyak pula pengalaman dan pengetahuannya sehingga mampu memberikan hasil yang lebih baik dan suatu pengalaman masa lalu mempengaruhi Semakin banyak paritas ibu maka pengalaman dan pengetahuannyapun akan Namun dalam penelitian ini paritas primigravida memiliki pengetahuan lebih baik dibandingkan dengan multigravida dan Hal ini disebabkan ibu primipara memiliki pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan ibu multiprara maunpun Menurut teori Notoatmodjo . , pengalaman yang bersumber dari pengalaman positif atau negatif, baik dari diri sendiri maupun orang lain, menjadi sarana untuk meraih pemahaman yang lebih dalam tentang Selain paritas, ada faktor lain yang mempengaruhi tingkat pengetahuan seseorang yaitu sumber informasi. Sumber informasi berasal dari pendidikan formal maupun informal, memiliki pengaruh yang signifikan dalam jangka pendek terhadap peningkatan Kemajuan teknologi membawa beragam media massa yang mampu LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Husada Gemilang tentang inovasi-inovasi baru (Notoatmodjo. Seseorang yang baru pertama kali hamil akan cenderung mencari tahu lebih banyak informasi dan pengetahuan tentang kehamilan. Ibu hamil dengan usia muda atau primigravida kehamilannya sehingga mereka akan lebih sering membaca atau memahami informasi yang ada di dalam Buku KIA (Cahyawati. KESIMPULAN Pengetahuan pemanfaatan daun kelor sebagai pencegahan anemia sebagian besar baik pada ibu hamil yang berumur 20-35 tahun, memiliki pendidikan tinggi dengan paritas primigravida. Penelitian ini masih bersifat deskriptif, sehingga belum diketahui faktor apa saja yang mempengaruhi tingkat pengetahuan ibu hamil tentang pemanfaatan daun kelor (Moringa Oleifer. dalam mencegah anemia UCAPAN TERIMAKASIH Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada seluruh responden atas partisipasinya dalam penelitian ini. Terimakasih juga disampaikan kepada seluruh reviewer dan editor Jurnal Kesehatan Husada Gemilang atas apresiasinya terhadap blind reviewer. DAFTAR PUSTAKA