PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . ISSN . SAUDARA SEKANDUNG. SEPERJUANGAN: KUALITAS HUBUNGAN SAUDARA DAN FLOURISHING PADA DEWASA AWAL BOUND BY BLOOD: SIBLING RELATIONSHIP QUALITY AND FLOURISHING IN EMERGING ADULTHOOD Caroline Deviarga. Setiasih. Yuan Yovita Setiawan Fakultas Psikologi Universitas Surabaya yuanyovita@staff. carolinedeviarga02@gmail. setiasih@staff. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kualitas hubungan saudara dengan flourishing di masa dewasa awal. Beberapa variabel seperti, tinggal terpisah atau bersama, intensitas kehangatan dan konflik yang dialami antar saudara dapat memberikan dampak bagi pertumbuhan flourishing seseorang. Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini berjumlah 395 orang, berusia 18-25 tahun, berjenis kelamin laki-laki dan perempuan, memiliki setidaknya 1 saudara serta sudah tinggal terpisah selama minimal 1 tahun. Pengukuran dalam penelitian ini dilakukan menggunakan 2 skala yaitu Adult Sibling Relationship Questionnaire (ASRQ) dan PERMA Profiler. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa ada hubungan signifikan antara flourishing dengan aspek-aspek kualitas hubungan saudara, warmth . =0. p=0. , conflict . =0. p=0. namun tidak berkorelasi dengan aspek rivalry . =-0. p=0. Hal ini menegaskan bahwa kualitas hubungan persaudaraan pada masa dewasa awal berkontribusi dalam pencapaian flourishing melalui konflik dan kehangatan yang dirasakan, serta permusuhan yang semakin berkurang. Konflik tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang negatif namun berkontribusi terhadap peningkatan kehangatan dan menunjang kualitas hubungan saudara. Kata Kunci: dewasa awal, flourishing, kualitas hubungan, saudara ABSTRACT This research aims to examine the relationship between the quality of sibling relationships and flourishing in emerging adulthood. Several variables such as living apart or together, the intensity of warmth, and conflicts experienced between siblings can impact an individual's flourishing growth. 395 participants involved in this study, aged 18-25 years, of both male and female genders, having at least 1 sibling, and having lived apart for a minimum of 1 year. The measurement in this study was conducted using two scales, namely the Adult Sibling Relationship Questionnaire (ASRQ) and the PERMA Profiler. The results of the statistical tests show that there is a significant relationship between flourishing and aspects of sibling relationship quality, warmth . =0. p=0. , conflict . =0. p=0. , but not correlated with the aspect of rivalry . =-0. p=0. This emphasizes that the quality of sibling relationships in early adulthood contributes to the achievement of flourishing through perceived conflict and warmth, as well as decreasing hostility. Conflict cannot be viewed as something negative but rather contributes to the increase in warmth and supports the quality of sibling relationships. Keywords: emerging adulthood, flourishing, sibling relationship, quality http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . ISSN . PENDAHULUAN Hubungan persaudaraan dalam keluarga seringkali dijumpai dan berlanjut terus sepanjang hidup (Van et al. , 2017. Witte et al. , 2. Relasi dengan saudara kandung merupakan bagian yang penting, namun seringkali tidak mendapatkan perhatian yang Hal ini dapat dilihat dari riset yang dilakukan Artanti & Wulandari . yang menunjukkan hubungan diadik antar saudara dapat menentukan respon yang diterima di lingkungan. Idealnya hubungan antar saudara kandung dibangun atas cinta, kepercayaan, dan komunikasi terbuka, saling menghargai, memberikan dukungan moral, dan kesiapan membantu dalam situasi sulit. Lebih dari itu, saudara dapat berperan sebagai figur percontohan dalam menanggulangi stres dan mampu mendukung perkembangan sikap prososial individu (Cox, 2. Temuan positif lain berkaitan dengan peran saudara dalam keluarga, juga didapatkan melalui penelitian yang dilakukan oleh (Kitzmyller et al. , 2. bahwa saudara dapat menjadi pengasuh dan model resiliensi bagi saudara mereka yang memiliki gangguan mental. Terdapat tiga dimensi hubungan yang terbentuk dalam kualitas hubungan antar saudara, yang ditandai dengan dimensi kehangatan atau warmth, dimensi konflik atau conflict dan dimensi permusuhan atau rivalry. Dimensi kehangatan menyatakan bahwa saudara dapat berperan menjadi sumber rasa nyaman dan dukungan emosional. Sementara dimensi konflik merujuk pada adanya pertentangan emosi negatif antar saudara (Lestari, 2. Meski demikian, sebenarnya konflik merupakan tanda hubungan yang sehat pada ambang batas tertentu karena cara coping yang baik (Ruff et al. , 2. Apabila dibiarkan terus menerus tanpa ada penyelesaian yang memadai, maka akan cenderung mengarah pada rasa bermusuhan atau rivalry. Sibling rivalry didefinisikan sebagai persaingan antar saudara untuk mendapatkan cinta dan perhatian dari orang tua (Phillips & Schrodt, 2015. Sibling rivalry terjadi sejak kecil dan dapat bertahan hingga masa dewasa jika tidak disikapi dengan baik oleh kedua orang tua (Cindy & Hendriati, 2. Sibling rivalry dapat membawa dampak buruk bagi saudara yang mengalaminya seperti suasana hati yang cenderung negatif dan menjadi agresif terhadap individu yang menjadi fokus kecemburuannya (Isaacs, 2016. Jatmiko & Mulya, 2. Meski muncul sejak usia dini, seiring dengan perkembangan individu, sibling rivalry dapat menurun. Pada masa dewasa awal, penurunan konflik dan persaingan dapat terjadi sebab saudara mulai hidup terpisah dan memiliki komitmen hidup yang berbeda, seperti meninggalkan rumah, menyelesaikan pendidikan, bekerja, http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 menikah, dan memiliki anak (Gungordu et al. , 2. Selain itu, fokus individu pada hubungan sosial yang baru juga berkontribusi pada penurunan intensitas konflik dalam hubungan persaudaraan (Sommantico et al. , 2. Hal ini menyebabkan hubungan saudara cenderung menjadi lebih positif dengan sedikit konflik, lebih banyak kehangatan, tetapi juga kurangnya kontak dan kedekatan. Hubungan saudara memainkan peran penting dalam membentuk kepribadian dan kesejahteraan individu selama masa dewasa awal. Pada fase ini, individu aktif membina hubungan dekat dengan lingkungan sekitarnya, termasuk hubungan persaudaraan (Tessy et al. , 2. Menurut Phillips & Schrodt . hubungan saudara yang dekat terkait dengan tingkat depresi yang lebih rendah dan penurunan perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan narkoba, alkohol, dan perilaku seksual berisiko. Selain itu, dukungan yang diberikan oleh saudara-saudara, baik secara emosional maupun instrumental, dapat meningkatkan kebahagiaan dan kepuasan hidup individu (Hamwey et al. , 2. Dukungan ini juga berperan sebagai faktor pelindung terhadap masalah eksternal, seperti kenakalan remaja, penyalahgunaan zat dan perilaku agresi (Buist et al. Tak hanya itu, hubungan yang baik antar saudara kandung dapat memberikan dampak positif bagi kondisi psikologis individu (Iram Fatima & Hadiqa Noor, 2. Relasi antar saudara yang positif, dapat meningkatkan emosi positif seseorang. Emosi positif yang muncul dan terakumulasi dapat memprediksi terjadinya flourishing (Gilchrist et al. , 2. Tak hanya itu, emosi positif juga membuat hubungan interpersonal seseorang menjadi lebih positif (Sels et al. , 2. , yang kemudian berkontribusi pula dalam meningkatkan flourishing dalam kehidupan individu. Flourishing adalah sebuah keadaan seseorang dalam keadaan baik, seperti mengalami emosi positif, fungsi psikiologis yang positif dan fungsi sosial yang positif, secara konsisten stabil di sepanjang waktu (Vanderweele, 2. Pada tahap ini, individu menganggap setiap momen dalam hidupnya berarti dan meraih pencapaian dalam hidup, mempunyai relasi yang baik dengan orang lain, dan turut serta dalam kegiatan bermasyarakat (Sekarini et al. , 2. Dengan demikian, terbentuknya emosi positif diprediksi dapat memunculkan flourishing pada individu dan membantu menikmati keadaan emosi yang menyenangkan seperti kegembiraan, inspirasi, rasa syukur, ketenangan, dan sebagainya (Fredrickson & Kurtz, 2. Flourishing juga berhubungan kuat dengan fungsi sosial dan emosional yang tinggi (Lebares et al. , 2. Hal ini diproyeksikan menguntungkan individu dalam segala aspek kehidupannya. Keberhasilan mencapai perkembangan optimal atau kondisi http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 psikologis yang optimal dalam kehidupan dapat diukur melalui lima aspek utama, yaitu positive emotion, engagement, relationships, meaning, dan achievement, yang dikenal sebagai "PERMA" (Seligman, 2. Apabila individu dapat memenuhi semua lima pilar ini secara optimal, maka mereka akan mengalami kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup (Seligman, 2. Sebaliknya, ketidakmampuan mencapai flourishing dapat mengakibatkan ketidakpuasan hidup, rentan terhadap depresi, kesulitan dalam membangun hubungan interpersonal, dan dipengaruhi oleh tekanan sosial. Individu juga akan kesulitan dalam mengelola masalah sehari-hari, menilai kehidupan secara negatif, dan memiliki keterbatasan dalam membentuk perilaku positif. Hubungan persaudaraan yang erat dan positif memberikan berbagai manfaat yang mendukung mencapai kondisi flourishing. Dalam hubungan positif, individu merasakan dukungan emosional, inspirasi untuk pertumbuhan pribadi, dan dukungan dalam aktivitas sosial, yang memfasilitasi kesejahteraan sosial-emosional (Dirks et al. , 2. Hubungan yang mendukung ini menciptakan jaringan sosial kuat dan emosi positif sehingga mendukung ketercapaian flourishing. Ketika saudara saling mendukung, individu lebih terlibat dalam kegiatan menyenangkan, merasa dihargai dan memiliki makna (Erfiana, 2. , dan dapat merasakan keterlibatan penuh dalam momen Hubungan saudara yang mendukung juga memotivasi pencapaian dalam pendidikan dan karier (Alfaro & Umaya-Taylor, 2. Di Indonesia sendiri belum banyak studi yang mengungkap pentingnya peran kualitas hubungan persaudaraan di masa dewasa awal yang mendorong keberfungsian individu yang positif. Studi di Indonesia masih banyak berfokus pada optimalisasi pola pengasuhan orang tua yang dipandang sentral dalam perkembangan individu (Borualogo et al. , 2024. Hidayatin et al. , 2021. Suci, 2. Tak hanya itu, studi yang lebih banyak mendapatkan perhatian adalah mengenai permusuhan antar saudara . ibling rivalr. (Hidayatin et al. , 2021. Muarifah & Fitriana, 2019. Putri et al. , 2. Beberapa riset serupa yang sudah pernah dilaksanakan, seperti (Naibaho et al. , 2017. Yolanda & Rusli, 2. , hanya menjelaskan kualitas hubungan persaudaraan di Indonesia secara deskriptif serta memperlihatkan adanya hubungan positif antara kualitas hubungan saudara dengan prestasi akademik di sekolah. Riset yang dilakukan oleh (Jannah & Saleh, 2. memperlihatkan bahwa kualitas hubungan yang hangat antar saudara dapat memprediksi adaptabilitas karir di masa yang akan datang. Meski membawa beberapa http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 dampak baik bagi individu, namun belum ada yang mengkaji hubungan kualitas hubungan antar saudara dengan kesejahteraan psikologi tertinggi yaitu flourishing. Berdasarkan beberapa argumen di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kualitas hubungan persaudaraan dengan flourishing. Terdapat tiga hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini yaitu . Terdapat hubungan antara kehangatan . dan flourishing. Terdapat hubungan antara konflik . Terdapat hubungan antara persaingan . dan flourishing. Hasil penelitian ini dapat memberikan wawasan mengenai dinamika hubungan antara saudara dapat berdampak bagi kondisi psikologis individu di masa yang akan datang. Dengan mengetahui hal tersebut, maka peran saudara dapat dimaksimalkan guna memberikan dorongan yang positif, bagi aktualisasi diri masing-masing saudara. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan metode kuantitatif korelasional, dengan menghubungkan dua variabel, yaitu kualitas hubungan persaudaraan dengan flourishing. Teknik sampling yang digunakan untuk pengambilan data adalah convenience sampling, dengan menyebarkan kuesioner secara online yang menyasar pada individu usia 18 hingga 25 tahun, yang sedang atau pernah tinggal terpisah dengan saudara minimal satu Hal ini bertujuan untuk melihat dimensi-dimensi hubungan saudara meski tidak tinggal serumah. Pengukuran variabel dilakukan dengan menggunakan skala. Kualitas hubungan saudara diukur dengan menggunakan Adult Sibling Relationhip Questionnaire (ASRQ) yang disusun oleh (Stocker et al. , 1. kemudian dilakukan validasi oleh (Tani et al. dan mengalami pengurangan butir. Koefisien alpha cronbach sebesar 0,90 untuk dimensi warmth, 0,93 untuk dimensi conflict, dan 0,88 untuk dimensi rivalry. Pilihan jawaban dalam alat ukur ini menggunakan skala likert dengan opsi jawaban . hampir tidak sama sekali hingga . Variabel flourishing akan diukur dengan PERMA-profiler yang disusun oleh (Butler & Kern, 2. dan didapatkan alpha cronbach 0,929. Terdapat 11 poin pilihan jawaban dalam skala likert dengan dengan 0 menunjukkan sangat rendah dan 10 menunjukkan sangat tinggi. Alat ukur ini berisi 23 butir yang mengukur 9 aspek, yaitu 5 aspek utama dan 4 aspek pendukung. Kelima aspek utama tersebut adalah positive emotion, engagement, relationship, meaning, accomplishment. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Alat ukur PERMA-profiler dan ASRQ belum memiliki edisi dalam Bahasa Indonesia, sehingga alat ukur ini mengalami translasi dan kemudian dilakukan pengujian reliabilitas dan validitas. Pengujian validitas yang dilakukan menggunakan content validity ratio dengan 3 orang panelis. Hasil menunjukkan butir-butir PERMA-profiler dan ASRQ hasil terjemahan sesuai dengan butir aslinya. Uji reliabilitas alat ukur juga menunjukkan koefisien alpha cronbach yang baik, yaitu 0. 936 untuk alat ukur PERMA-profiler. Koefisien alpha cronbach untuk alat ukur ASRQ juga menjukkan hasil yang memuaskan dengan 956, conflict 0. 849, rivalry 0. Pengujian statistik korelasional pearson sederhana dilakukan menggunakan perangkat lunak SPSS 25. Uji normalitas data dilakukan dengan menggunakan metode kolmogorov-smirnov sedangkan uji linearitas dilakukan dengan menggunakan metode curve estimation. HASIL PENELITIAN Partisipan yang terlibat dalam penelitian ini sejumlah 395 orang dengan komposisi perempuan . ,1%) dan laki-laki . ,9%). Usia partisipan tersebar diantara 18-25 tahun, dengan penyebaran usia 20 tahun . ,7%), 21 tahun . ,4%) dan 22 tahun . ,7%). Partisipan yang terlibat mayoritas merupakan anak pertama . ,5%) dan anak kedua . %). Mereka memiliki saudara dan mayoritas tidak tinggal lagi satu rumah, melainkan berbeda kota . ,2%) dan diikuti dengan respons terbanyak kedua yaitu berbeda pulau . %). Sebanyak 181 partisipan perempuan memiliki saudara perempuan . ,8%) dan 159 partisipan perempuan memiliki saudara laki-laki . ,1%). Sementara, sebanyak 24 partisipan laki-laki memiliki saudara perempuan . ,3%) dan sebanyak 31 partisipan laki-laki memiliki saudara laki-laki . ,8%). Tabel 1. Kategorisasi Skor Dimensi Warmth Ae Adult Sibling Relationship Quality Kategori Interval Frekuensi Sangat Rendah X O 2,09 9,11 Rendah 2,09 < X O 2,89 16,46 Sedang 2,89 < X O 3,70 39,49 Tinggi 3,70 < X O 4. 29,87 Sangat Tinggi X > 4,51 5,06 Kategorisasi nilai pada dimensi warmth menunjukkan bahwa mayoritas partisipan merasakan adanya kehangatan dalam tingkatan yang sedang hingga tinggi dengan http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 saudaranya . ,49% dan 29,87%). Menariknya di saat yang bersamaan, partisipan juga merasakan adanya konflik pada tingkatan yang sedang dengan saudaranya yang berarti kehangatan dan konflik dapat terjadi bersamaan dan lazim dirasakan oleh partisipan. Tabel 2. Kategorisasi Skor Dimensi Conflict Ae Adult Sibling Relationship Quality Kategori Interval Frekuensi Sangat Rendah X O 1,67 7,34 Rendah 1,67 < X O 2,39 22,53 Sedang 2,39 < X O 3,10 39,49 Tinggi 3,10 < X O 3,82 23,04 Sangat Tinggi X > 3,82 7,59 Di sisi lain, pada dimensi rivalry atau permusuhan, partisipan mayoritas merasakan tingkat permusuhan yang rendah yaitu sebanyak 47,85%. Tabel 3. Kategorisasi Skor Dimensi Rivalry Ae Adult Sibling Relationship Quality Kategori Interval Frekuensi Sangat Rendah X O (-0,. 0,00 Rendah (-0,. < X O 0,36 47,85 Sedang 0,36 < X O 1,05 25,32 Tinggi 1,05 < X O 1,74 15,44 Sangat Tinggi X > 1,74 11,39 Pada variabel selanjutnya yaitu flourishing, dapat dilihat bahwa mayoritas dari partisipan penelitian memiliki tingkat flourishing yang sedang sebanyak 40,8%. Disusul dengan Tingkat flourishing yang tinggi sebanyak 30,4%. Tabel 4. Kategorisasi Floursihing Kategori Interval X O 117 Sangat Rendah 117 < X O 142 Rendah 142 < x O 167 Sedang 167 < x O192 Tinggi X > 192 Sangat Tinggi Frekuensi Uji validitas alat ukur ASRQ dan PERMA-profiler dilakukan dengan melibatkan tiga orang panelis serta uji reliabilitas yang menyatakan bahwa alat ukur telah layak untuk digunakan dalam Bahasa Indonesia. Rentang reliabilitas alat ukur ASRQ dan PERMAprofiler mulai 0,7 hingga 0,9. Setelah kaidah alat ukur terpenuhi, dilakukan pengujian asumsi untuk memastikan normalitas dan linieritas data. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 5. Hasil Uji Normalitas Variabel Flourishing dan Sibling Relationship Quality Variabel Sig Kolmogorov-Smirnov Keterangan Flourishing Data tidak normal SRQ Ae Warmth Data tidak normal SRQ Ae Conflict Data tidak normal SRQ Ae Rivalry Data tidak normal Tabel 5 menunjukkan seluruh variabel memiliki persebaran data yang tidak normal, sehingga pengujian hipotesis akan dilanjutkan dengan metode non-parametrik. Tabel 6. Hasil Uji Linearitas Variabel Flourishing dan Sibling Relationship Quality Variabel Sig. Keterangan Flourishing - Dimensi Warmth Sibling Data linier Relationship Quality Flourishing - Dimensi Conflict Sibling Data linier Relationship Quality Flourishing - Dimensi Rivalry Sibling Data tidak linier Relationship Quality Tabel diatas menunjukkan hasil pengujian linearitas dari variabel-variabel yang terlibat dalam riset ini. Terdapat 1 variabel yang tidak linier. Hal ini semakin memperkuat peneliti untuk melakukan analisis dengan menggunakan metode non-parametrik. Tabel 7. Hasil Uji Hipotesis antara Flourishing dengan Sibling Relationship Quality Variabel Koefisien Sig. 0,229 0,000 Flourishing Ae SRQ Warmth Flourishing Ae SRQ Conflict Flourishing Ae SRQ Rivalry 0,128 -0,077 0,011 0,129 Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, dapat disimpulkan bahwa ada hubungan antara flourishing dengan kualitas hubungan persaudaran, dimensi warmth dan dimensi conflict. Korelasi yang terdeteksi adalah positif meski tidak terlalu kuat, artinya semakin tinggi flourishing maka semakin tinggi juga kehangatan dalam hubungan saudara. Begitu juga dengan korelasi antara flourishing dan konflik, semakin tinggi flourishing juga diiringi dengan tinggi nya konflik di dalam hubungan keluarga. Berbeda dengan hasil pengujian sebelumnya, hasil korelasi antara flourishing dengan rivalry tidak menunjukkan hasil yang signifikan, artinya perubahan skor pada flourishing tidak berdampak pada rivalry. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Tabel 8. Hasil Uji Asosiasi Variabel Sibling Relationship Quality Variabel Sig. Dimensi Warmth Ae Frekuensi menghubungi saudara 0,000 Dimensi Conflict Ae Frekuensi menghubungi saudara 0,019 Dimensi Rivalry Ae Gender Saudara 0,010 Keterangan Ada asosiasi Ada asosiasi Ada asosiasi Berdasarkan hasil pengujian asosiasi ditemukan bahwa terdapat asosiasi antara dimensi warmth dan conflict dengan frekuensi menghubungi saudara. Hal ini menandakan bahwa frekuensi menghubungi saudara dapat memberikan dampak bagi kehangatan maupun terciptanya konflik antara hubungan persaudaraan. Tak hanya itu, data menunjukkan bahwa ada asosiasi antara jenis kelamin pasangan saudara dengan dimensi rivalry. Artinya rasa permusuhan yang muncul antar saudara dapat saja ditentukan dengan kesamaan atau perbedaan jenis kelamin saudara yang dimiliki. DISKUSI Penelitian ini menemukan bahwa terdapat hubungan positif antara dimensi warmth dan conflict dari sibling relationship quality dengan flourishing. Hal ini dapat dimaknai sebagai adanya peningkatan pada flourishing, juga akan diikuti dengan peningkatan pada dimensi warmth dan conflict. Kehangatan yang muncul antar saudara, dan tak menutup kemungkinan, konflik yang terjadi dalam hubungan persaudaran berkontribusi terhadap munculnya emosi positif serta fungsi sosial yang positif individu, yang kemudian dinamakan flourishing. Hasil pengujian hipotesis ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Hollifield & Conger, 2. dan (Milevsky, 2. Penelitian Hollifield dan Conger . mengungkapkan bahwa perilaku saudara yang hangat dan mendukung secara positif memengaruhi kepuasan hidup pada masa dewasa awal. Hal ini terjadi karena perilaku saudara yang mendukung dapat meningkatkan rasa percaya diri atas kemampuan, kompetensi dalam merencanakan, sesuatu serta mencapai tujuan dalam hidup. Milevsky . menemukan bahwa individu dewasa yang memiliki hubungan saudara yang hangat akan berkembang dan mencapai penerimaan diri, dan berdampak pada kepuasan hidup. (Stormshak et al. , 2. juga menyampaikan bahwa hubungan antar saudara dapat menurunkan problematika individu di masa datang. Hubungan antar saudara yang positif dapat berperan menjadi faktor pendukung terhadap individu yang sedang mengalami kesulitan (Edels et al. , 2. Dalam penelitiannya (Ruff et al. , 2. , dikatakan bahwa keberadaan saudara dapat menjadi kompensasi bagi individu yang mengalami konflik dalam keluarga. Sejalan dengan hal itu, http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 saudara dapat berperan sebagai pemberi rasa aman secara emosional di tengah konflik dalam kelurga, khususnya antara orang tua dan terbukti melindungi individu dari perilaku bermasalah di masa mendatang (Geerts-Perry et al. , 2. Dari segi pengembangan diri, hubungan saudara yang positif nyatanya membantu individu untuk membentuk identitas dirinya dengan lebih adaptif (Aurellya & Muttaqin, 2. Hubungan saudara menjadi hubungan yang paling lama terbentuk dan dipertahankan dalam hidup, sehingga memiliki dampak yang signifikan bagi seseorang. Meski dipertahankan melalui kontak atau interaksi. Hasil penelitian yang juga menarik adalah adanya asosiasi dengan frekuensi menghubungi sudara dengan dimensi warmth atau kehangatan disebabkan mayoritas partisipan sudah tinggal terpisah dengan saudaranya. Hal ini juga didukung oleh (Stocker et al. , 2. yang menyatakan bahwa semakin bertambah usia seseorang, maka kehangatan antara hubungan saudara semakin meningkat. Lebih jauh, terdapat dugaan bahwa semakin sering menghubungi saudara, maka kehangatan dan pengenalan satu sama lain dapat meningkat. Namun, (Scharf et al. , 2. dalam risetnya menyampaikan bahwa frekuensi kontak yang minim justru memungkinkan saudara kandung menjadi lebih memperhatikan kebutuhan satu sama lain dan tidak terlalu terlibat dalam konflik, sehingga individu cenderung menunjukkan perilaku yang hangat dan mendukung ketika bertemu dengan saudara-saudaranya. Sejalan dengan penelitian sebelumnya, (Lindell et al. , 2. mengungkapkan bahwa individu yang tinggal jauh dari rumah orang tua memiliki kedekatan emosional yang lebih besar dan konflik yang lebih sedikit dengan saudara dibandingkan dengan saat mereka masih tinggal di rumah orang tua mereka. Tinggal terpisah nyatanya menekan munculnya konflik dan mendorong kesempatan untuk memperbaiki hubungan, serta dapat menghilangkan pola interaksi negatif pada hubungan di masa hidup sebelumnya. Semakin dewasa usia individu, dapat meningkatkan kualitas hubungan antar saudara. Dimensi conflict dalam hubungan saudara juga berdampak pada flourishing, dibuktikan dengan adanya korelasi dalam hasil analisis. Sesuai dengan hasil dari riset ini, review yang disusun oleh (Gilligan et al. , 2. mengemukakan bahwa konflik yang terjadi dalam hubungan saudara dapat meningkatkan rasa depresi serta berdampak pada konsep diri yang negatif. Sebaliknya, hubungan yang baik dapat berkontribusi pada kesejahteraan individu. Sejalan dengan riset sebelumnya, penelitian yang dilakukan oleh http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 (Ponti & Smorti, 2. juga mengungkap bahwa ada hubungan antara konflik dengan kepuasan hidup individu. Meski demikian, uniknya dalam penelitian ini dimensi conflict berkorelasi secara positif dengan flourishing. Hal ini memperlihatkan bahwa semakin tinggi konflik, maka semakin tinggi pula tingkat flourishing individu. Meski hasil ini tidak lazim, namun riset yang dilakukan oleh (Sethi, 2. mendukung temuan ini. menyampaikan bahwa konflik pada hubungan saudara kandung dapat berkontribusi secara unik, apabila disertai dengan kehangatan. Kehangatan dalam hubungan antar saudara dapat memberikan pandangan bahwa konflik bukanlah ancaman, melainkan kesempatan untuk membangun kedekatan dan koneksi emosional. Konflik yang seimbang dengan kehangatan dapat mengurangi kesalahpahaman, menghilangkan konflik non-adaptif dan persaingan berlebihan, membentuk landasan yang kuat untuk perkembangan positif pada tingkat kepuasan hidup, penurunan rasa kesepian, serta peningkatan tingkat flourishing seseorang (SzymaEska, 2. Penelitian yang dilakukan oleh Jensen et al. , . ikut mendukung penelitian sebelumnya, bahwa kedekatan dan komunikasi yang terjalin antar saudara berkontribusi pada perkembangan diri yang positif, kesejahteraan dan relasi yang sehat. Temuan lain mengenaim kontribusi konflik dalam kehidupan saudara adalah riset yang dilakukan oleh Ruff et al. , . turut mengungkap bahwa konflik di dalam hubungan persaudaraan, memampukan individu untuk belajar cara bernegosiasi dan melakukan pengaturan emosi. Tak hanya itu, konflik yang terjadi juga disinyalir mampu meningkatkan kreativitas seseorang (Jung & Lee, 2. Konflik juga dapat menjadi kesempatan untuk pertumbuhan dan pembelajaran ketika dipandang sebagai tantangan yang dapat diatasi bersama (Bedford et al. , 2. Dengan adanya kehangatan, individu cenderung lebih terbuka terhadap pemahaman dan penghargaan terhadap perspektif saudara kandung, sehingga konflik dapat menjadi pendorong untuk memperdalam hubungan dan membangun keterampilan komunikasi yang lebih baik. Selain itu, pada masa dewasa awal individu akan cenderung berpikir reflektif dan relativistik ketika dihadapkan pada suatu permasalahan (Santrock, 2. Hal ini mengakibatkan individu cenderung menyadari pendapat dan pemikiran orang lain, sehingga lebih menyadari dan menerima kritik dan saran orang lain. Pola pemikiran yang berubah ini meminimalisir konflik yang terjadi antar saudara, dan menciptakan hubungan yang lebih sehat. http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Disisi lain, konflik juga menjadi salah satu penentu individu dalam berkembang. Konflik dapat membuat individu memahami diri dan orang lain, belajar dari kesalahan serta mengembangkan relasi interpersonal (Lin et al. , 2. Secara tidak langsung hal ini berkontribusi terhadap flourishing seseorang, khususnya dalam aspek hubungan. Dalam ranah organisasi, konflik juga sebenarnya memberikan dampak positif seperti perubahan yang lebih positif dan pengalaman belajar menyelesaikan konflik (Cahya Ningtyas, 2. Dengan demikian, adanya kehangatan dan juga dibersamai oleh adanya konflik yang positif, secara tidak langsung memberikan sumbangsih pada pencapaian flourishing seseorang, ditandai dengan emosi positif, pengembangan diri, peningkatan kualitas hubungan dengan orang lain dan rasa kebermaknaan. Hubungan yang seimbang antara kehangatan dan konflik dengan saudara dapat berdampak pada flourishing seseorang. Hal ini disampaikan oleh (Jensen et al. , 2. dalam risetnya. Ia menyatakan bahwa keterkaitan ini dapat dijelaskan menggunakan social learning theory, yakni ketika ada interaksi resiprokal antara individu dengan Lebih jauh, dalam riset terbaru telah dibuktikan bahwa ada kongruensi emosi antar saudara, yang memungkinkan saudara dapat bertukar dan saling mencerminkan emosi satu sama lain (Neufeld, 2. Kehangatan yang dirasakan dapat membentuk rasa aman, yang kemudian membuat individu lebih mampu memahami dan berempati pada emosi orang lain (Dong & Chen, 2. Berbeda dengan kedua dimensi sebelumnya, dimensi bermusuhan atau rivalry dalam alat ukur Sibling Relationship Quality tidak memiliki hubungan atau korelasi dengan flourishing. Hal ini berbeda dengan beberapa riset sebelumnya yang berasumsi bahwa rasa permusuhan sebenarnya bisa menimbulkan perasaan negatif, sehingga secara tidak langsung dapat berdampak pada flourishing seseorang. Penemuan sebelumnya menyatakan bahwa rivalry dapat memberikan dampak seperti emosi negatif, distress yang berkepanjangan (Sunarti et al. , 2. dan gangguan perilaku di masa yang akan datang (Yuliana et al. , 2. (Plamondon et al. , 2. juga menyatakan bahwa sibling rivalry dapat meningkatkan kemungkinan adanya perundungan antar saudara yang memberikan dampak negatif yang serius bagi pertumbuhan individu. Hal yang dapat menjelaskan tidak adanya hubungan antara rivalry dan flourishing dalam penelitian ini ialah konflik yang menurun seiring perkembangan dewasa awal. Mayoritas partisipan penelitian ini merupakan dewasa awal yang mengalami perubahan atau masa transisi menjadi dewasa, yang artinya fokus mereka tidak lagi pada keluarga, http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 melainkan menata masa depan seperti karir, membangun relasi baru dan menjadi orang tua (Whiteman et al. , 2. Mayoritas partisipan penelitian ini juga sudah tinggal terpisah dengan saudaranya dan tidak banyak berinteraksi, sehingga dapat saja mengurangi intensitas konflik yang terjadi. Hal ini diperkuat oleh riset yang dilakukan oleh (Stocker et al. , 2. yang menyatakan bahwa semakin tua usia individu maka semakin rendah rivalry yang dirasakan. Penemuan yang sama dikemukakan oleh (Aldrich et al. , 2. bahwa individu yang sudah tinggal terpisah dari saudara, lebih menghargai waktu dimana mereka dapat bertemu, sehingga kedekatan emosi dapat terjalin. Kondisikondisi yang demikian mendatangkan dampak baik untuk keadaan psikologis seseorang. Temuan menarik lainnya adalah terdapat beberapa hal yang berkontribusi atau memiliki asosiasi dengan masing-masing dimensi sibling relationship quality. Hasil dari penelitian ini memperlihatkan adanya asosiasi antara frekuensi menghubungi saudara dengan dimensi warmth dan conflict. Dapat diartikan bahwa kehangatan dan konflik yang terjadi bisa saja disebabkan dari seberapa sering individu menghubungi saudaranya. Dalam penelitian ini, partisipan mengaku bahwa mereka jarang hingga kadang-kadang menghubungi saudara. Meski demikian, tingkat kehangatan dan konflik berada pada taraf Hal ini mengisyaratkan bahwa kontak yang terjalin antar saudara dapat memberikan kehangatan namun juga bisa menyebabkan konflik. Penelitian yang dilakukan oleh (Brookes, 2. menyatakan bahwa konflik antar saudara dapat bertahan hingga usia yang sudah tua. Di sisi lain, meski frekuensi kontak sudah berkurang antara saudara pada masa emerging adulthood, hal ini tidak mempengaruhi kedekatan emosional yang sudah terjalin (Aldrich et al. , 2. Hal ini membuat saudara tetap merasa nyaman satu sama lain, meski tidak sering berkontak. Penelitian ini juga memberikan gambaran bahwa jenis kelamin saudara dapat berdampak pada rivalry juga didukung oleh penelitian (Kamil et al. , 2. Ia menyatakan bahwa kesamaan jenis kelamin antar saudara dapat meningkatkan rasa permusahan. Peneliti lain, yaitu (Widhi & Sumijati, 2. juga menyatakan hal yang sejalan bahwa rasa permusuhan diantara saudara dapat dipengaruhi oleh kesamaan jenis kelamin. Individu dengan jenis kelamin yang sama dapat lebih bersaing untuk memenangkan perhatian dan kasih sayang dari orang tua. Rasa permusuhan lebih banyak ditemukan pada saudara yang berjenis kelamin perempuan, dibandingkan laki-laki (Doron & Sharabi-Nov, 2. KESIMPULAN DAN SARAN http://journal. id/TIT https://doi. org/10. 36269/psyche. PSYCHE: JURNAL PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH LAMPUNG Vol. 7 No. Februari 2025 ISSN . 2655-6936 ISSN . 2686-0430 Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi antara kualitas hubungan saudara dan Hasil penelitian menunjukan adanya peran kehangatan dan konflik yang terjadi bersamaan namun dapat membentuk harmoni hubungan dalam persaudaraan. Melalui penelitian ini, saudara memegang peranan penting dalam keluarga untuk menjalankan fungsinya sebagai lingkungan terkecil individu. Saudara dapat menjadi koregulator bagi individu dalam hal melakukan pengaturan emosi, menumbuhkan empati serta memupuk sikap prososial. Peran utama pembentuk kesejahteraan anak, tidak lagi hanya dipegang oleh orang tua saja, namun pemberdayaan saudara juga menjadi salah satu upaya yang signifikan untuk mencapai flourishing di masa yang akan datang. Pengkajian mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi flourishing dan kualitas hubungan saudara seperti pola asuh yang diterapkan oleh orang tua dan persepsi mengenai favoritisme orang tua patut dipertimbangkan. Hal ini kemudian membuat hasil yang diperoleh seperti tingkat konflik yang sedang, belum dapat dijelaskan lebih lanjut. Iklim keluarga serta perspektif budaya juga belum dieksplorasi dengan baik. Padahal budaya, kebiasaan serta nilai yang ditanamkan dalam keluarga dapat mempengaruhi hubungan persaudaraan dan lebih jauh berdampak pada flourishing seseorang. Kepribadian juga disinyalir berkaitan dengan cara saudara berinteraksi serta memaknai interaksinya dengan saudara. Namun, hal ini juga belum dapat digambarkan dalam penelitian ini. Selain itu, meski dapat diketahui bahwa hubungan antar saudara berkorelasi dengan flourishing, namun derajat signifikansi peran kualitas hubungan saudara terhadap flourishing belum dijelaskan. Wawasan baru mengenai hal ini dapat berimplikasi praktis bagi praktisi kesehatan mental untuk memanfaatkan dukungan dari saudara sebagai salah satu intervensi yang diterapkan bagi individu yang membutuhkan. DAFTAR PUSTAKA