JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. POLA ASUH NARSISTIK PERSONALITY DISORDER (NPD) TERHADAP PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK USIA DINI Fitri Amaliya Institut Miftahul Huda Email: n. fitriamaliya@stai-mifda. ABSTRAK Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua memainkan peran yang sangat penting dalam perkembangan psikologis anak. Pola asuh yang salah, seperti otoriter, permisif, atau mengabaikan kebutuhan emosional anak, dapat memberikan dampak negatif pada perkembangan mereka, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Artikel ini membahas pengaruh pola asuh orang tua dengan Narsistic Personality Disorder (NPD) terhadap perkembangan psikologis anak usia dini. NPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh kebutuhan berlebihan untuk mendapatkan perhatian dan pengakuan, serta kurangnya empati terhadap orang lain. Pola asuh yang diberikan oleh orang tua dengan NPD dapat memengaruhi perkembangan emosional, sosial, dan kognitif anak pada usia dini. Penelitian ini juga mengulas bagaimana anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang dipengaruhi oleh NPD cenderung mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dan berfungsi dengan baik di masyarakat. serta dampaknya dalam jangka Temuan menunjukkan bahwa anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan dengan pola asuh narsistik berisiko mengalami masalah dalam perkembangan emosional dan sosial, termasuk rendahnya harga diri, kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, serta masalah dalam membangun identitas diri yang sehat. Kata Kunci: Narsistic Personality Disorder. Pola Asuh. Psikologi Perkembangan Anak ABSTRACT The parenting styles adopted by parents play a crucial role in children's psychological Incorrect parenting approaches, such as authoritarian, permissive, or neglecting a child's emotional needs, can negatively impact their development, both in JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. the short and long term. This article discusses the influence of parenting styles of parents with Narcissistic Personality Disorder (NPD) on the psychological development of young children. NPD is a personality disorder characterized by an excessive need for attention and recognition, as well as a lack of empathy for others. The parenting style practiced by parents with NPD can affect a child's emotional, social, and cognitive development in early childhood. The study also explores how children raised in environments influenced by NPD tend to struggle with building healthy social relationships and functioning effectively in society, along with its long-term impacts. Findings indicate that children raised in environments with narcissistic parenting are at risk of experiencing challenges in emotional and social development, including low self-esteem, difficulties in interacting with others, and issues in developing a healthy selfidentity. Keywords: Narcissistic Personality Disorder. Parenting Styles. Child Development Psychology. Personality Disorders PENDAHULUAN Pola asuh merupakan salah satu faktor penting dalam perkembangan anak usia dini. Pada tahap ini, anak mengalami masa keemasan . olden ag. , di mana otak berkembang dengan pesat dan pengalaman yang diperoleh memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan fisik, emosional, kognitif, dan sosialnya. Pola asuh yang baik dapat membantu anak membangun kepercayaan diri, kemandirian, kemampuan sosial, serta fondasi karakter yang kuat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hubungan yang sehat antara orang tua dan anak, yang didasari oleh kasih sayang, komunikasi efektif, dan pemberian batasan yang jelas, sangat berkontribusi pada terciptanya lingkungan tumbuh kembang yang optimal. Selain itu, pola asuh yang konsisten dengan nilai-nilai positif membantu anak belajar mengatasi tantangan dan memahami peran mereka dalam keluarga dan masyarakat. Sebaliknya, pola asuh yang kurang tepat dapat berdampak buruk pada perkembangan emosional dan perilaku anak di masa depan. (Lindawati & Tarlam, 2024. Perkembangan psikologi anak usia dini ditentukan oleh pola asuh yang diterapkan oleh orang tua terhadap anaknya. Rentang usia anak usia dini menurut para ahli pada umumnya dimulai dari usia 0-6 tahun, dan 8 tahun menurut WHO berdasarkan konteks kesehatan dan perkembangan holistik anak. Namun, umumnya usia 0-6 tahun dianggap sebagai masa JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. yang paling kritis dalam pembentukan dasar perkembangan anak. ukatma et al. , 2024. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan pengaruh dari berbagai pola asuh yang dilakukan terhadap perkembangan anak khususnya pada perkembangan psikologi anak usia dini. Penelitian yang telah dilakukan oleh Putri menunjukkan pada keluarga yang broken home dan kurang adanya interaksi serta kebersamaan dalam keluarga dengan ditambah perlakukan pola asuh otoriter dari orang tua cenderung menghasilkan anak yang bermasalah dan akan berdampak pada kualitas karakter anak (Putri et al. , 2. Sedangkan untuk pola asuh permisif, anak cenderung akan merasa bebas sehingga pembentukan karakter pada anak tidak kondusif. Penelitan yang dilakukan oleh Utami menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pola asuh dengan perkembangan psikologi anak usia prasekolah di TK Pertiwi dengan hasil perkembangan psikologi baik dan pola asuh yang banyak dilakukan oleh orang tua adalah pola asuh demokratis (Utami et al. , 2. Pada anak rentang usia antara 3-6 tahun, anak mengalami pertumbuhan fisik yang melambat dan perkembangan psikologi serta kognitifnya meningkat. Rasa ingin tahu dan kemampuan berkomunikasi pada anak di masa ini juga mulai berkembang. Dalam teori perkembangan psikologi anak menurut Erik Erikson, masa anak usia 3-6 tahun adalah proses dimana perkembangan kemampuan anak dalam menyelesaikan masalahnya sendiri sesuai dengan pengetahuannya (Sanggelorang & Malonda, 2. Di masa ini juga anak belajar bagaimana merencanakan dan melaksanakan tindakannya. Jika dalam tahapan ini anak tidak belajar dalam mengambil inisiatif atau suatu keputusan, maka anak bisa kehilangan rasa percaya dirinya saat ia dewasa (Syaibani et al. , 2. Pada masa ini jika sikap lingkungan sekitar anak suka melarang dan menyalahkan dapat membuat sikap insiatif anak hilang dan mudah mengalami rasa bersalah. Keluarga merupakan lingkungan terdekat bagi anak usia dini. Pada usia ini anak lebih banyak berinteraksi dengan keluarga khususnya orang tua. Orang tua mempunyai peranan penting dalam perkembangan psikologi anaknya. jika Salah satu yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologi ini ialah pola asuh dari orang tua. Pada rentang usia 3-6 tahun ini, sesuai dengan klasifikasi teori perkembangan psikosial menurut Erik Erikson. Perkembangan psikologi anak berada di tahap ketiga yaitu Iniative versus Guilt . nisiatif versus rasa Pada tahap ini, anak belajar untuk melakukan tindakan dalam JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. penyelesaian masalahnya sendiri dan ditahap ini seharusnya orang tua bisa mendorong dan membimbing anak untuk menumbuhkan kemampuan inisiatifnya serta rasa percaya diri. (Alam Tarlam & Koriah, 2. Namun, apa yang terjadi jika orang tua memiliki pola asuh otoriter yang salah satunya adalah Narcissistic Personality Disorder (NPD)? Pola asuh berperan penting dalam pembentukan karakter dan perkembangan psikologis anak usia dini. Ketika orang tua memiliki gangguan kepribadian seperti Narsistic Personality Disorder (NPD), pola asuh yang diterapkan dapat berdampak signifikan terhadap anak. Narsistic Personality Disorder (NPD) adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan rasa superioritas yang berlebihan, kebutuhan akan pengakuan, dan kurangnya empati terhadap orang lain (Association, 2. Pola asuh ini juga sering kali termasuk dalam kategori pola asuh manipulatif, atau pengabaian emosional. Pola asuh yang dilakukan oleh orang tua dengan NPD sangat dipengaruhi oleh kebutuhan mereka sendiri, yang biasanya mendominasi perhatian dan interaksi dengan anak yang lebih berorientasi kepada adanya permintaan tinggi dari orangtua dan juga menerapkan disiplin yang tinggi terhadap anak yang mungkin bisa memberikan dampak baik ataupun buruk terhadap tahapan ketiga dari perkembangan sosial anak. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering kali menghadapi tantangan emosional dan sosial yang lebih besar dibandingkan dengan anak-anak dari keluarga dengan pola asuh yang lebih sehat. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pola asuh orang tua dengan Narsistic Personality Disorder (NPD) memengaruhi psikologi perkembangan anak usia dini, dengan menyoroti beberapa aspek penting dalam perkembangan tersebut, termasuk perkembangan emosional, sosial, dan kognitif. Berdasarkan uraian tersebut, penulis ingin melihat lebih dalam mengenai dampak dari pola asuh Narsistic Personality Disorder (NPD) terhadap perkembangan psikologi anak usia dini. Dalam pencarian data dan informasinya digunakan metode studi literatur berupa artikel jurnal dengan mencari kata kunci terkait. METODE PENELITIAN Penulisan dalam artikel ini menggunakan metode studi literatur. Studi literatur merupakan isitilah lain dari tinjauan pustaka, kajian teoritis, kajian pustaka, landasan teori, literature review, dan tinjaun teoritis. Penelitian dengan studi literatur dilakukan berdasarkan atas karya tertulis. JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. baik hasil penelitian tersebut telah terpublikasi atau belum (Melfianora. Pengumpulan data berasal dari textbook, jurnal, artikel ilmiah, dan situs internet yang terpercaya. Pengumpulan data dalam artikel ini diperoleh dari artikel jurnal ilmiah yang sesuai dengan topik artikel. Pencarian referensi diperoleh melalui Google dan Google Scholar dengan memasukkan kata kunci AuPola AsuhAy. Narsistic Personality Disorder (NPD), dan Aupsikologi perkembangan anak usia diniAy. Data yang diperoleh kemudian dianalisis secara mendalam dan dituangkan ke dalam sub babsub bab untuk menjawab rumusan masalah penelitian. HASIL DAN PEMBAHASAN Pola Asuh Orang Tua dan Perkembangan Anak Pola asuh adalah cara orang tua atau pengasuh dalam membimbing, mendidik, dan merawat anak-anak mereka. Pola asuh mencakup berbagai cara yang diterapkan untuk memenuhi kebutuhan fisik, emosional, sosial, dan intelektual anak. Ini mencakup sikap, perilaku, dan tindakan yang diambil oleh orang tua atau pengasuh dalam menjalankan peran mereka sebagai figur otoritas dan pendukung dalam kehidupan anak. Pola asuh juga didefinisikan sebagai pola interaksi orang tua dengan anak untuk memenuhi kebutuhan fisik . akan, minum, dan hal lai. dan kebutuhan psikologis . asa aman, kasih sayang, dan lain-lai. serta mengenalkan norma-norma yang berlaku di masyarakat sehingga anak dapat hidup sesuai dengan lingkungannya (Latifah, 2. Pola asuh juga dapat diartikan sebagai pola interaksi orang tua dengan anak untuk membangun pendidikan karakter anak (Ayun, 2. Pola asuh terdiri dari tiga jenis yaitu otoriter, demokratis dan permisif. Pada pola asuh otoriter, pengasuh menerapkan aturan yang ketat, mengharapkan kepatuhan tanpa banyak memberikan ruang bagi anak untuk berargumentasi. Biasanya, pengasuh ini mengutamakan kontrol dan Pada pola asuh permisif. Pengasuh cenderung sangat mendukung kebebasan anak dan sedikit memberikan batasan. Mereka lebih mengutamakan hubungan yang hangat dan mendukung tanpa memberikan banyak aturan yang jelas. Dan pada pola asuh demokratis atau Autoritatif, pengasuh menggabungkan disiplin dengan empati dan Mereka menetapkan aturan yang jelas namun juga memberikan kesempatan bagi anak untuk berdiskusi dan memahami JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. alasan di balik aturan tersebut. Gaya ini dikenal sebagai pola asuh yang paling seimbang dan sehat. Pola asuh yang diterapkan oleh orang tua atau pengasuh memiliki pengaruh yang besar terhadap berbagai aspek perkembangan anak, baik secara fisik, emosional, sosial, maupun kognitif. Pola asuh mencakup cara orang tua mendidik, memberi perhatian, memberikan batasan, dan berinteraksi dengan anak. Pengaruh pola asuh yang baik akan membantu anak berkembang secara optimal, sedangkan pola asuh yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai masalah dalam perkembangan anak, diantaranya adalah : Perkembangan Emosional Anak. Pola asuh yang penuh perhatian dan konsisten membantu anak mengembangkan kemampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosinya dengan sehat. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang penuh kasih sayang dan dukungan emosional lebih cenderung memiliki kesehatan emosional yang baik, kemampuan untuk menghadapi stres, serta hubungan yang sehat dengan orang lain. Perkembangan Kognitif dan Akademik. Pola asuh yang mendukung perkembangan kognitif, seperti memberikan stimulasi intelektual, berbicara dengan anak, dan membacakan buku, berperan penting dalam perkembangan kemampuan kognitif anak. Anak yang menerima tantangan intelektual yang sesuai dengan usia mereka cenderung memiliki kemampuan berpikir yang lebih baik dan lebih siap untuk sukses secara akademis. Perkembangan Sosial Anak. Pola asuh memengaruhi keterampilan sosial anak. Anak yang dibesarkan dalam pola asuh yang mendorong komunikasi terbuka dan memberi contoh interaksi yang sehat dengan orang lain cenderung mengembangkan keterampilan sosial yang lebih baik, seperti berbagi, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik. Pola asuh yang tidak mendukung atau terlalu otoriter dapat menghambat perkembangan keterampilan sosial anak. Perkembangan Perilaku Anak Pola asuh yang konsisten dan tegas berpengaruh pada pengembangan perilaku anak. Anak yang dibesarkan dengan batasan yang jelas dan disiplin yang konsisten cenderung memiliki kontrol diri yang lebih baik dan perilaku yang lebih Sebaliknya, pola asuh yang permisif atau otoriter dapat mengarah pada masalah perilaku, seperti agresi, kecemasan, atau kesulitan dalam beradaptasi dengan norma sosial. JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. Perkembangan Kepribadian Anak, pola asuh berperan dalam pembentukan kepribadian anak, termasuk aspek-aspek seperti kemandirian, empati, dan rasa percaya diri. Pola asuh yang mendukung anak untuk mandiri dan memberikan mereka kesempatan untuk membuat keputusan sendiri dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan mereka untuk mengatasi tantangan di masa depan. Kesejahteraan Mental Anak Pola asuh yang sehat sangat penting untuk kesejahteraan mental anak. Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang mendukung dan tidak terlalu keras atau terlalu permisif lebih cenderung memiliki tingkat kecemasan dan depresi yang lebih rendah. Pola asuh yang mengajarkan pengelolaan stres dan memberikan dukungan emosional juga berkontribusi pada kesehatan mental (Lindawati & Tarlam, 2. Pola asuh yang salah atau tidak sehat dapat memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap perkembangan anak, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Dampak ini dapat memengaruhi aspek fisik, emosional, sosial, dan kognitif anak. Berikut adalah beberapa dampak dari pola asuh yang salah: Dampak terhadap perkembangan emosional dan mental . Rendahnya Harga Diri: Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang tidak mendukung, seperti pola asuh otoriter atau negligensia, cenderung mengalami perasaan rendah diri dan kurang percaya diri. Anak mungkin merasa tidak dihargai atau selalu merasa gagal dalam memenuhi harapan orang tua . Kecemasan dan depresi: Pola asuh yang mengabaikan kebutuhan emosional anak, atau terlalu menekankan kontrol dan disiplin tanpa empati, dapat menyebabkan anak merasa cemas, tertekan, atau bahkan mengalami depresi. Mereka mungkin merasa terisolasi, tidak aman, atau tidak dicintai . Kesulitan mengelola emosi: Pola asuh yang kurang mengajarkan pengaturan emosi atau tidak memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang sehat dapat membuat anak kesulitan mengelola emosi mereka. Ini bisa berlanjut hingga masa dewasa, menyebabkan masalah dalam hubungan interpersonal dan karier. (Alam Tarlam, & Neneng Hasanah, 2. JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. Dampak terhadap perkembangan sosial . Kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain: Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang tidak mendukung . eperti pola asuh permisif atau otorite. mungkin kesulitan membangun hubungan yang sehat dengan teman-temannya atau orang lain di luar keluarga. Mereka bisa mengalami kesulitan dalam berempati, bekerja sama, atau menjaga batasan yang sehat dalam hubungan . Perilaku agresif atau menarik diri: Anak yang sering mendapat perlakuan tidak adil atau terlalu dikendalikan cenderung menunjukkan perilaku agresif atau menarik diri. Anak-anak yang sering dihukum atau dimarahi mungkin merespons dengan menjadi agresif, sementara anak-anak yang kurang diberi perhatian bisa menjadi lebih pendiam dan menarik diri dari interaksi sosial . Ketergantungan emosional: Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang tidak memberikan kebebasan atau otonomi dapat menjadi sangat bergantung pada orang tua atau pengasuh untuk semua keputusan mereka, dan ini dapat menghambat kemampuan mereka untuk berkembang menjadi individu yang mandiri. Dampak Terhadap Perkembangan Kognitif . Kesulitan belajar dan berprestasi: Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang tidak mendukung perkembangan mereka . isalnya, pola asuh yang sangat permisif atau terlalu otorite. mungkin kesulitan dalam hal pembelajaran dan pencapaian Mereka mungkin kurang memiliki keterampilan untuk mengatur waktu, menyelesaikan tugas, atau mengelola stres yang muncul dari tantangan akademis Kurangnya Keterampilan problem solving: Pola asuh yang terlalu mengontrol atau terlalu membiarkan anak tanpa arahan dapat menghambat kemampuan anak untuk mengembangkan keterampilan pemecahan masalah. Anak-anak mungkin tidak belajar bagaimana menghadapi tantangan atau beradaptasi dengan perubahan dalam hidup mereka. Dampak terhadap perilaku dan tanggung jawab . Perilaku tidak disiplin atau tidak bertanggung jawab: Pola asuh yang terlalu permisif atau tidak memberikan batasan yang jelas sering kali menghasilkan anak yang kurang disiplin, tidak mampu menghargai waktu dan usaha, serta kesulitan dalam mematuhi aturan. Mereka mungkin tidak memahami konsekuensi dari tindakan mereka atau JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. merasa tidak perlu bertanggung jawab atas keputusan yang mereka . Mengembangkan perilaku buruk: Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang kasar atau tidak peduli . eperti pola asuh yang sangat otoriter atau negligensi. mungkin mengembangkan perilaku buruk seperti agresi, kebohongan, atau bahkan perilaku anti-sosial. (Khotimah et al. , 2. Dampak jangka panjang . kesulitan dalam hubungan dewasa: Pola asuh yang salah di masa kanak-kanak sering kali menciptakan pola hubungan yang tidak sehat yang terbawa hingga dewasa. Sebagai contoh, anak yang dibesarkan dengan pola asuh otoriter mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan dalam berkomunikasi dan berbagi perasaan dengan pasangan atau teman. Anak yang tidak diberikan cukup perhatian emosional mungkin tumbuh menjadi orang dewasa yang kesulitan membangun kedekatan emosional. Gangguan kesehatan mental pada masa dewasa: Anak-anak yang dibesarkan dalam pola asuh yang penuh tekanan atau ketidakpedulian dapat berisiko lebih tinggi mengembangkan gangguan kesehatan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, atau gangguan kepribadian di kemudian hari. Ketidakmampuan untuk menangani perasaan atau mengelola stres dapat menjadi masalah jangka panjang yang mempengaruhi kualitas hidup mereka. Dampak terhadap pengambilan keputusan dan pengelolaan diri . Kesulitan mengambil keputusan: Anak yang dibesarkan dengan pola asuh yang terlalu ketat atau terlalu longgar sering kali merasa bingung dalam membuat keputusan sendiri. Anak yang selalu diarahkan atau dibatasi mungkin kesulitan untuk merespons tantangan hidup dengan cara yang mandiri dan berpikir kritis. Pengelolaan diri yang buruk: Anak yang tidak diajari untuk mengelola waktu, emosi, dan perilaku mereka dengan cara yang sehat cenderung mengalami kesulitan dalam mengatur diri mereka sendiri di masa depan. Ini dapat mempengaruhi kehidupan profesional, sosial, dan pribadi mereka. ukatma et al. , 2. Gangguan kepribadian Narsistic Personality Disorder (NPD) Narcissistic Personality Disorder NPD merupakan gangguan kepribadian yang melibatkan perasaan berlebihan terhadap pentingnya JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. diri sendiri, dorongan untuk mendapatkan perhatian, serta ketidakmampuan untuk merasakan empati terhadap orang lain. Menurut DSM-5, individu dengan NPD seringkali menunjukkan perilaku yang manipulatif dan eksploitatif, serta membutuhkan pengakuan yang terusmenerus. Narcissistic Personality Disorder (NPD), menurut para ahli psikologi, adalah gangguan kepribadian yang ditandai oleh pola perilaku dan pemikiran yang berfokus pada diri sendiri, perasaan grandiositas, kebutuhan berlebihan akan perhatian dan pengakuan, serta kurangnya empati terhadap orang lain. Individu dengan NPD sering merasa superior, istimewa, dan berhak mendapatkan perlakuan istimewa, serta cenderung mengabaikan kebutuhan dan perasaan orang lain. Dari beberapa definisi para ahli yaitu (Association, 2. , (Tuttman, 1. , (Herman. Perry. C, 1. , dan (Kernberg, 1. sepakat bahwa NPD adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan pola perilaku yang melibatkan perasaan superioritas, keinginan kuat untuk mendapatkan kekaguman, serta ketidakmampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain. Hal ini mengarah pada kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dan saling menguntungkan dengan orang lain. Narcissistic Personality Disorder (NPD), atau dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai Gangguan Kepribadian Narsistik, adalah suatu kondisi psikologis yang termasuk dalam kategori gangguan kepribadian. Individu dengan NPD memiliki pola pikir dan perilaku yang ditandai dengan rasa grandiositas . erasa diri lebih penting dari orang lai. , kebutuhan berlebihan akan kekaguman, dan kurangnya empati terhadap orang lain. Mereka sering kali mengejar perhatian dan pengakuan dari orang lain, serta cenderung mengabaikan perasaan dan kebutuhan orang lain. Gangguan ini biasanya terlihat pada masa dewasa muda dan dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan interpersonal, pekerjaan, dan sosial. Ciri-ciri Perilaku yang Tampak pada NPD sering kali menunjukkan beberapa ciri atau perilaku, diantaranya adalah: Perasaan Grandiositas (Rasa Punya Diri yang Sangat Tingg. Individu dengan NPD sering merasa bahwa mereka lebih unggul, lebih istimewa, atau lebih penting daripada orang lain. Mereka mungkin meyakini bahwa hanya orang-orang tertentu yang dapat memahami atau menghargai mereka. JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. Kebutuhan Berlebihan untuk Mendapatkan Kekaguman dan Perhatian. Mereka mungkin sering membanggakan pencapaian mereka atau menceritakan cerita tentang kesuksesan mereka dalam cara yang Orang dengan NPD cenderung mencari perhatian dan pengakuan yang terus-menerus dari orang lain. Mereka mungkin terobsesi dengan citra diri mereka di mata orang lain dan sering merasa tidak puas jika mereka tidak mendapatkan pujian atau pengakuan yang mereka harapkan. Eksploitasi terhadap Orang Lain. Mereka sering memanipulasi atau mengeksploitasi orang lain untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan Dan mereka mungkin menggunakan orang lain untuk mencapai tujuan pribadi mereka tanpa mempertimbangkan perasaan atau kebutuhan orang tersebut. Kurangnya Empati. Salah satu ciri utama NPD adalah ketidakmampuan atau keengganan untuk memahami atau merasakan perasaan orang lain. Ini membuat mereka tampak dingin atau tidak peka terhadap kebutuhan emosional orang lain. Mereka sering kali tidak bisa merasakan atau peduli jika tindakan mereka menyakiti orang . Perasaan Hak (Entitlemen. Individu dengan NPD merasa bahwa mereka berhak mendapatkan perlakuan istimewa atau hasil yang lebih baik daripada orang lain, bahkan jika mereka tidak berusaha lebih Mereka merasa bahwa orang lain seharusnya memberi mereka apa yang mereka inginkan tanpa banyak usaha atau pengorbanan. Cemburu atau Merasa Orang Lain Cemburu pada Mereka. Mereka cenderung merasa cemburu terhadap orang lain yang mereka anggap lebih sukses atau lebih dihargai, dan sebaliknya mereka sering merasa bahwa orang lain cemburu terhadap mereka. Kesulitan dalam Menjalin Hubungan yang Sehat. Ini terkait dengan rasa superioritas yang mereka rasakan terhadap orang lain. Karena kurangnya empati dan fokus yang berlebihan pada diri mereka sendiri, orang dengan NPD sering mengalami kesulitan dalam mempertahankan hubungan yang sehat, baik dalam keluarga, pertemanan, maupun hubungan romantic. Perilaku Arrogant atau Sombong dan Reaksi Berlebihan terhadap Kritik. Mereka cenderung tidak sabar dengan orang yang menurut mereka "kurang penting. " Orang dengan NPD sangat sensitif terhadap kritik dan dapat merespons dengan kemarahan atau rasa malu yang JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. Mereka mungkin menganggap kritik sebagai serangan pribadi dan bisa bereaksi dengan defensif atau bahkan agresif. Mereka mungkin juga berusaha membenarkan perilaku mereka atau mencari cara untuk menyalahkan orang lain atas kegagalan atau masalah yang mereka hadapi. Faktor Penyebab Narcissistic Personality Disorder (NPD) Menurut para ahli psikologi, penyebab seseorang mengembangkan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering kali merupakan kombinasi dari berbagai factor diantaranya adalah: Faktor pengasuhan. Para ahli seperti Heinz Kohut dan Otto Kernberg, yang dikenal dalam psikologi psikoanalitik, menyatakan bahwa pola asuh selama masa kanak-kanak memainkan peran penting dalam pembentukan narsisme patologis. Beberapa pola asuh yang dapat memicu NPD adalah Pengasuhan yang terlalu memanjakan. Pengabaian atau pelecehan emosional, dan Ekspektasi yang tidak Anak yang terus-menerus dipuji secara berlebihan tanpa dasar yang realistis mungkin mengembangkan ekspektasi tidak realistis terhadap perlakuan istimewa. Selain itu bagi anak yang seringkali mendapatkan pengabaian atau pelecehan emosional, dan anak yang tidak menerima perhatian, validasi, atau cinta yang konsisten dari orang tua dapat membangun rasa harga diri yang rapuh, yang kemudian diekspresikan melalui narsisme sebagai mekanisme pertahanan. Bahkan, ekspektasi yang tidak realistis. Tekanan untuk menjadi "sempurna" atau memenuhi standar yang terlalu tinggi dapat memaksa anak untuk mengembangkan citra diri yang berlebihan. Faktor Genetik dan Biologis, berdasarkan Penelitian genetic. Beberapa ahli seperti Thomas Widiger, seorang profesor psikologi, menunjukkan bahwa kecenderungan genetik dapat memengaruhi risiko seseorang mengembangkan gangguan kepribadian, termasuk Narcissistic Personality Disorder (NPD). Contohnya adalah kecenderungan temperamental tertentu, seperti impulsivitas atau sensitivitas emosional. Sedangkan berdasarkan Neurologi: Studi tentang aktivitas otak, termasuk fungsi sistem limbik dan korteks prefrontal, ini menunjukkan bahwa individu dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) mungkin memiliki pola aktivitas otak yang berbeda dalam hal regulasi emosi dan empati. JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. Teori Psikodinamik. Sigmund Freud berpendapat bahwa narsisme dapat berkembang sebagai respons terhadap rasa tidak aman atau trauma di masa kecil. Dalam teori ini Narsisme dijadikan sebagai mekanisme pertahanan, hal ini berdasar kepada Individu dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering menggunakan narsisme untuk melindungi diri dari perasaan rendah diri yang mendalam, juga dari perasaan Pengabaian atau penghinaan dini, yaitu ketika anak mengalami perlakuan merendahkan atau diabaikan oleh figur otoritas . isalnya, orang tu. , mereka mungkin mengembangkan rasa superioritas untuk mengatasi rasa inferioritas. Teori Perkembangan Ahli psikologi perkembangan seperti Erik Erikson mengaitkan narsisme dengan hambatan dalam tahap-tahap perkembangan psikososial. Kegagalan dalam tahap tertentu, terutama dalam pembentukan identitas dan harga diri, dapat menyebabkan narsisme patologis. Faktor Sosial dan Budaya. Menurut Jean Twenge dan W. Keith Campbell, penulis buku The Narcissism Epidemic, budaya yang mempromosikan individualisme ekstrem, kesuksesan material, dan penghargaan atas citra diri dapat memperkuat perilaku narsistik. Faktor sosial yang mendukung perkembangan NPD meliputi Tekanan media sosial bahwa Eksposur konstan terhadap penghargaan berbasis penampilan dan popularitas dapat memperkuat narsisme. Dan budaya kompetitif yakni dalam masyarakat yang sangat menghargai kesuksesan pribadi, beberapa orang mungkin mengadopsi narsisme sebagai alat untuk bertahan hidup. Pola asuh Narcissistic Personality Disorder (NPD) terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini Menurut para psikolog, pola asuh memiliki dampak besar terhadap perkembangan psikologis anak usia dini, termasuk risiko perkembangan Narcissistic Personality Disorder (NPD) di kemudian hari. Berikut adalah pandangan para ahli tentang hubungan antara pola asuh tertentu dengan perkembangan psikologi anak usia dini: Pola Asuh yang Overprotektif atau Memanjakan, menurut Diana Baumrind, yang dikenal dengan teori gaya pengasuhan, mencatat bahwa pola asuh permisif atau terlalu memanjakan dapat membentuk rasa harga diri yang tidak realistis pada anak. Anak cenderung merasa bahwa mereka lebih istimewa dibandingkan orang lain. Dampak yang JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. terjadi pada perkembangan anak adalah Anak mungkin tidak belajar menghargai usaha dan kerja keras karena semua kebutuhan mereka terpenuhi tanpa batas. Anak menjadi tergantung pada pujian eksternal untuk membangun rasa percaya diri. Selain itu. Anak dapat mengembangkan ekspektasi tidak realistis terhadap perlakuan khusus dari orang lain. Contohnya Seorang anak yang selalu diberi apa pun yang diinginkannya tanpa pembelajaran tanggung jawab bisa merasa berhak atas segalanya di masa depan. Pola Asuh yang Menolak atau Mengabaikan, menurut Heinz Kohut, pendiri teori psikologi narsistik, menyatakan bahwa pola asuh yang kurang memberikan kasih sayang dan perhatian emosional bisa menyebabkan anak mencari validasi secara ekstrem. Anak merasa harus "membuktikan" dirinya untuk mendapatkan perhatian. Dampak yang terjadi pada perkembangan anak adalah: Anak merasa tidak dihargai atau tidak dicintai, yang menyebabkan mereka mengembangkan mekanisme pertahanan berupa narsisme. Perasaan rendah diri atau malu tersembunyi yang memicu perilaku arogan atau mencari perhatian. Ketidakmampuan untuk mengembangkan hubungan emosional yang sehat. Contohnya Seorang anak yang jarang mendapatkan pujian atau kasih sayang dari orang tua mungkin tumbuh menjadi pribadi yang selalu berusaha menunjukkan kehebatannya untuk mendapatkan pengakuan. Pola Asuh Perfeksionis atau Tekanan Tinggi, menurut Karen Horney, seorang psikolog psikoanalitik, orang tua yang menetapkan standar tinggi atau perfeksionis sering kali menciptakan rasa takut gagal pada Ini bisa menyebabkan anak mengembangkan narsisme untuk menutupi rasa tidak cukup baik. Dampak yang terjadi pada perkembangan anak adalah anak merasa bahwa nilai dirinya hanya didasarkan pada pencapaian, bukan siapa mereka sebagai individu. Anak tumbuh dengan rasa takut terhadap kegagalan dan kebutuhan untuk mempertahankan citra "sempurna. " Anak mungkin menghindari situasi yang menunjukkan kelemahannya. Contohnya Orang tua yang hanya memberikan perhatian ketika anak mendapatkan nilai sempurna di sekolah dapat mendorong anak untuk terus mencari pengakuan eksternal melalui prestasi. Pola Asuh Tidak Konsisten. Pandangan psikolog, menurut John Bowlby, dengan teori keterikatan . ttachment theor. menjelaskan bahwa hubungan emosional yang tidak konsisten antara anak dan JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. orang tua dapat memengaruhi rasa aman anak. Anak yang merasa tidak aman mungkin mengembangkan narsisme untuk mendapatkan Dampak yang terjadi pada perkembangan anak adalah Anak kesulitan memahami nilai dirinya karena perhatian yang berubah-ubah dari orang tua. Anak menjadi sangat bergantung pada pengakuan dan validasi dari luar, dan ketidakmampuan membangun hubungan yang stabil dengan orang lain di masa depan. Contohnya Anak yang kadang dipuji berlebihan tetapi di lain waktu diabaikan atau dikritik tajam akan mengalami kebingungan emosional yang dapat berdampak pada rasa harga dirinya. Sedangkan Dampak dalam Jangka Panjang pada Psikologi anak . Harga Diri yang Tidak Stabil, sehingga Anak mungkin tumbuh dengan rasa harga diri yang rapuh, yang membutuhkan pengakuan konstan dari orang lain untuk mempertahankannya. Kesulitan Mengembangkan Empati: Pola asuh tertentu, terutama yang terlalu memanjakan atau mengabaikan, dapat menghambat perkembangan empati karena anak fokus pada kebutuhan dan perasaannya sendiri. Kebutuhan Berlebih Akan Pengakuan Eksternal: Anak terbiasa mencari validasi melalui pencapaian atau perhatian, yang bisa menjadi ciri khas perilaku narsistik. Mekanisme Pertahanan Psikologis: Sebagai respons terhadap pola asuh yang bermasalah, anak mungkin mengembangkan perilaku narsistik untuk melindungi dirinya dari perasaan rendah diri atau tidak aman. Penelitian lain juga menemukan bahwa anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) cenderung mengalami kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat, serta memiliki masalah dalam mengembangkan empati dan regulasi Pola asuh yang didominasi oleh orang tua yang fokus pada diri mereka sendiri, serta sering kali menuntut perhatian dan pengakuan tanpa memberikan perhatian yang cukup pada kebutuhan emosional anak, mengarah pada perkembangan yang tidak seimbang dalam diri anak. Anak-anak usia dini sangat terpengaruh oleh lingkungan emosional di sekitarnya. Pola asuh orang tua dengan NPD dapat menciptakan ketidakstabilan emosional, mengurangi rasa aman anak, serta menghambat perkembangan empati dan keterampilan sosial anak. JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. Berdasarkan penelitian sebelumnya, anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan NPD lebih rentan terhadap gangguan kecemasan, masalah hubungan interpersonal, serta kesulitan dalam memahami dan mengelola emosi mereka. Beberapa aspek perkembangan yang terganggu pada anak-anak ini antara lain: Emosional: Anak-anak ini sering merasa diabaikan atau tidak dihargai, yang dapat menyebabkan rendahnya rasa percaya diri dan masalah dengan identitas diri. Sosial: Anak-anak cenderung mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan yang sehat dengan teman sebaya, akibat dari pola asuh yang tidak mendukung perkembangan keterampilan sosial yang baik. Kognitif: Terkadang, anak-anak dari orang tua dengan NPD tidak mendapatkan stimulasi yang cukup untuk pengembangan kognitif mereka, karena perhatian orang tua sering kali berfokus pada kebutuhan pribadi mereka sendiri. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) cenderung mengalami berbagai kesulitan dalam perkembangan psikologis dan sosial mereka. Berikut adalah beberapa kesulitan yang mungkin dialami oleh anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD): Kesulitan dalam Membangun Rasa Percaya Diri. Anak-anak dari orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering merasa bahwa mereka tidak pernah cukup baik atau tidak dihargai. Orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) cenderung mengabaikan kebutuhan emosional anak atau bahkan mungkin menggunakan anak untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri . isalnya, untuk mendapatkan pengakuan atau validas. Akibatnya, anak-anak ini bisa tumbuh dengan rasa rendah diri, merasa tidak cukup berharga, dan kesulitan membangun rasa percaya diri yang sehat. Masalah dalam Mengelola Emosi. Karena orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering kali tidak memberikan contoh empati yang sehat atau mendukung perkembangan emosional anak, anak-anak ini mungkin kesulitan dalam mengidentifikasi, memahami, dan mengelola perasaan mereka sendiri. Mereka mungkin belajar untuk menekan perasaan atau merasa bingung tentang bagaimana seharusnya merespons perasaan mereka. Ini bisa berlanjut hingga dewasa. JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. mengarah pada kesulitan dalam mengatur emosi atau memiliki kecenderungan untuk meledak dalam situasi yang penuh tekanan. Kesulitan dalam Menjalin Hubungan Sosial yang Sehat. Anak-anak dari orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) cenderung kesulitan dalam membangun hubungan sosial yang sehat dengan teman-teman sebaya atau orang lain di luar keluarga. Mereka mungkin belajar dari orang tua bahwa hubungan interpersonal bersifat eksploitatif atau tidak seimbang, dan mereka sering kali tidak belajar bagaimana cara berkomunikasi dengan penuh empati atau membangun hubungan yang saling mendukung. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan dalam bergaul dengan orang lain dan mempertahankan hubungan yang bermakna. Kurangnya Kemampuan Empati. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) cenderung kekurangan kemampuan untuk merasakan dan memahami perasaan orang lain. Ini disebabkan oleh kurangnya contoh empati dari orang tua mereka, yang lebih berfokus pada diri mereka sendiri dan kebutuhan mereka. Anak-anak ini mungkin tidak belajar bagaimana memperhatikan dan merespons perasaan orang lain dengan cara yang sehat, yang dapat mengarah pada kesulitan dalam membentuk hubungan yang penuh kasih dan penuh perhatian. Kesulitan dalam Mengembangkan Identitas Diri yang Sehat. Orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) seringkali mengharapkan anak-anak mereka untuk mencerminkan atau memenuhi citra diri yang mereka inginkan, daripada menerima anak sebagaimana adanya. Anakanak ini mungkin merasa tertekan untuk memenuhi standar yang tinggi atau untuk mengutamakan kepentingan orang tua daripada mengembangkan identitas diri mereka sendiri. Akibatnya, mereka mungkin kesulitan untuk mengenali siapa diri mereka sebenarnya, apa yang mereka inginkan, dan bagaimana mereka ingin hidup. Perasaan Dituntut dan Tidak Pernah Cukup. Orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering kali memiliki standar yang sangat tinggi dan ekspektasi yang tidak realistis terhadap anak-anak Anak-anak ini mungkin merasa bahwa mereka tidak pernah bisa memenuhi harapan orang tua mereka, meskipun sudah berusaha Ini bisa menyebabkan kecemasan, stres, dan perasaan tidak pernah cukup, karena anak merasa harus selalu berprestasi atau menjadi "sumber kebanggaan" bagi orang tua mereka. JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. Masalah dengan Penilaian Diri dan Citra Tubuh. Karena orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) sering kali terlalu menekankan penampilan atau kesuksesan di luar, anak-anak dapat tumbuh dengan kecenderungan untuk menilai diri mereka berdasarkan penampilan fisik atau prestasi eksternal, bukan berdasarkan nilai internal mereka. Ini dapat mengarah pada masalah citra tubuh, perasaan tidak cukup baik, atau keinginan untuk memenuhi standar sosial yang tidak realistis. Mungkin Mengembangkan Sifat Narsistik atau Penghindaran. Beberapa anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) mungkin meniru perilaku narsistik sebagai cara untuk bertahan dalam keluarga tersebut, atau mereka mungkin mengembangkan sikap penghindaran sebagai cara untuk melindungi diri dari kritikan atau tuntutan orang tua. Hal ini dapat mengarah pada pengembangan gangguan kepribadian narsistik pada anak tersebut di kemudian hari, atau mereka bisa menjadi sangat tertutup dan menghindari hubungan interpersonal yang dekat. Gangguan Kecemasan dan Depresi. Karena ketegangan emosional yang dihasilkan dari pola asuh yang tidak sehat, anak-anak ini berisiko tinggi mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Perasaan terabaikan, cemas untuk mendapatkan pengakuan, dan ketidakmampuan untuk memenuhi ekspektasi orang tua dapat menyebabkan stres emosional yang mendalam, yang sering kali berlanjut hingga usia dewasa. Kesulitan dalam Beradaptasi dengan Lingkungan Luar. Anak-anak yang dibesarkan oleh orang tua dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) mungkin juga mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan lingkungan sekolah atau sosial lainnya, karena mereka mungkin merasa kesulitan dalam membangun kepercayaan diri atau hubungan dengan orang lain. Jika mereka tidak mendapatkan dukungan yang memadai dalam keluarga, mereka mungkin merasa terasing atau cemas dalam berinteraksi dengan orang lain di luar keluarga. KESIMPULAN Pola asuh orang tua dengan Narsistic Personality Disorder (NPD) dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap perkembangan psikologis anak usia dini. Anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan ini cenderung mengalami masalah emosional, sosial, dan kognitif, yang JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 2 . 88- 107 Pola Asuh Narsistik Personality Disorder (Np. Terhadap Perkembangan Psikologi Anak Usia Dini JUPIDA : Jurnal Pendidikan Islam Anak Usia Dini Miftahul Huda Volume 02 Nomor 02 . 88-107 https://ejournal. stai-mifda. id/index. php/JUPIDA ISSN 3026-2739 (Onlin. dapat mempengaruhi kehidupan mereka dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi para profesional, seperti psikolog dan pendidik, untuk mengidentifikasi pola asuh yang tidak sehat dan memberikan dukungan yang diperlukan untuk mendukung perkembangan anak yang lebih baik. DAFTAR PUSTAKA