UJI TOKSISITAS AKUT DAN ALERGI EKSTRAK BIJI KAKAO (Theobroma cacao L. ) TERHADAP MENCIT (Mus Muculus L. Setiawan*. Putu Sulistiawati Dewi**. Ni Nyoman Laksmi Adhiarini Bagian Oral Surgery. Fakultas Kedokteran Gigi. Universitas Mahasaraswati Denpasar E-mail : laksmiadhiarini96@gmail. ABSTRAK Biji kakao biasa digunakan oleh masyarakat sebagai obat herbal dalam proses mempercepat penyembuhan luka, sehingga perlu diuji dalam keamanan penggunaannya. Penelitian berjudul Uji Tokisistas Akut dan Alergi Ekstrak Biji Kakao terhadap Mencit (Mus Muculus L. ) bertujuan untuk mengetahui Lethal Dose 50, klasifikasi ketoksikan serta melakukan pengamatan gejala alergi secara dermal ekstrak biji kakao terhadap Pada uji toksisitas akut menggunakan metode perhitungan Aritmatik dari Karber dengan menggunakan mencit sebagai hewan coba sebanyak 25 ekor yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan dengan rangkaian uji utama kelompok I sebagai kelompok kontrol dengan aquades, kelompok 2-5 diberi ektrak uji dengan dosis 4500, 5500, 6500 dan 7500mg/kgBB dengan sekali pemberian secara oral dan diamati jumlah kematian pada tiap hewan uji selama 7 hari. Pada pengujian alergi menggunakan metode Wilocoxon. Dari hasil penelitian uji toksisitas akut didapatkan nilai LD50 ekstrak biji kakao yaitu sebesar 3000 mg/kgBB termasuk dalam kategori supertoksik (<5 mg/kgBB) dan pada uji alergi tidak menyebabkan alergi . idak ada ruam dan merah-mera. Untuk toksisitas akut, bobot mencit dianalisis dengan menggunakan uji ANOVA dan LSD serta pada uji alergi menggunakan Wilocoxon. Dari hasil analisis menunjukan terdapat perbedaan secara bermakna pada taraf uji 0,05 . uU < 0,. pada uji alergi memperoleh hasil uji statistik yang menyatakan bahwa tidak ada reaksi alergi pada mencit selama perlakuan dengan nilai yuU 1,000 > 0,05. Kata kunci : getah biji kakao. Toksisitas akut. Uji alergi. LD50 PENDAHULUAN Pengobatan tradisional masih diyakini sebagian besar masyarakat di dunia sebagai penunjang kesehatannya. Masyarakat mulai menyadari pentingnya penggunaan bahan alami dalam pengobatan termasuk di Indonesia dimana bahan alami tersebut sangat berkembang pesat untuk diproses menjadi salah satu alternatif pengobatan tradisional. Saat ini berbagai obat-obatan alternatif dipilih sebagai pengobatan yang lebih aman daripada pengobatan dengan obat berbahan kimia (Purwaningsih dkk 2. Pengobatan tradisional telah ada sejak zaman dahulu dan dilestarikan penggunaannya secara empiris. Saat ini, legilasi penggunaan pengobatan tradisional pun masih dalam sistem toleran. PT. Eisai pada 1986 melakukan inventarisasi dimana hasilnya menyebutkan sekitar tujuh ribu spesiel tanaman di Indonesia digunakan masyarakat sebagai obat tradisional atau herbal. Penggunaan obat tradisional tidak dilarang oleh undang Ae undang dalam sistem pelayanan kesehatan kedokteran modern (Dewoto 2. Berbagai tanaman banyak dimanfaatkan sebagai alternatif pengobatan suatu penyakit maupun pemeliharaan kesehatan. Salah satunya adalah biji kakao (Theobroma cacao ) yang diyakini dapat mempercepat penyembuhan luka. Tanaman ini diyakini memiliki banyak manfaat di bidang kesehatan (Misnawi 2. Indonesia memiliki tanaman kakao yang cukup banyak, terbukti bahwa Indonesia merupakan produsen kakao terbesar di dunia urutan ke tiga (Rukmana dkk 2. Tanaman kakao dapat tumbuh di sebagian besar wilayah Indonesia terutama di Pulau Sulawesi. Pulau Jawa, dan Pulau Sumatera (Fowler 2. Biji kakao (Theobroma cacao L. ) mempunyai peranan penting bagi tubuh manusia, senyawa kimia pada biji kakao antara lain flavonoid, katekin, epikatekin (Etherton 2. theobromine, kafein, dan polifenol (Kayaputri 2. Senyawa flavonoid berfungsi sebagai antiinflamasi serta antioksidan. Diketahui juga bahwa saponin, tannin dan katekin memiliki fungsi sebagai antioksidan (Etherthon 2. , sedangkan theobromine memiliki fungsi sebagai antimikroba (Kayaputri 2. Mekanisme biji kakao yang berfungsi sebagai antioksidan adalah dengan memotong reaksi berantai radikal bebas (Lingga Selain itu, senyawa flavonoid yang berfungsi sebagai antiinflamasi juga berpengaruh terhadap proliferasi sel fibroblas. Flavonoid mampu mengurangi proses inflamasi melalui hambatan terhadap pembentukan prostaglandin yang dibentuk oleh asam arachidonate dan mediator inflamasi lain seperti histamin dan serotonin (Ardian dkk Uji toksisitas akut diperlukan dalam mengukur derajat dari efek toksik yang ditimbulkan oleh suatu senyawa dalam waktu yang singkat. Pentingnya uji toksisitas akut sangat perlu di perhatikan. Sehingga, masyarakat dapat mencegah resiko yang timbul akibat paparan senyawa tertentu yang terkadung dalam obat (Hendriani 2. Uji alergi juga diperlukan untuk membuktikan apakah ada kemungkinan terjadinya reaksi hipersensitivitas setelah penggunaan obat yang berbahan dasar ekstrak biji kakao (Hikmah dkk 2. Banyak hewan uji coba yang sering dipakai salah satunya yaitu mencit (Mus musculus L. Mencit (Mus musculus L. ) hampir sebanyak 40% Ae 80% yang menggunakannya dalam melakukan suatu penelitian karena siklus hidupnya yang relative pendek, perkelahiran mencit jumlahnya banyak, variasi sifatnya tinggi, mudah ditangani dan sifat anatomis dan fisiologinya terkarakterisasi dengan baik. Mencit (Mus musculus ) memiliki umur kurang lebih 1-3 tahun dengan terdapat perbedaan usia berdasarkan kepekaan terhadap lingkungan dan penyakit (Tolistiawaty dkk 2. TINJAUAN PUSTAKA Toksisitas Dalam ilmu toksikologi, toksisitas adalah suatu keadaan yang menandakan adanya efek toksik atau racun yang terdapat pada bahan obat sebagai sediaan dosis tunggal atau campuran. Apabila senyawa toksik sudah cukup menumpuk pada organ target, proses kerusakan akan terjadi baik pada organ target maupun organ lainnya. Senyawa toksik akan mengakibatkan kerusakan yang lebih parah ketika senyawa tersebut memiliki jumlah atau konsentrasi yang tinggi pada tubuh. Konsentrasi senyawa toksik dalam tubuh merupakan jumlah racun yang dipaparkan, kemudian berkaitan dengan kecepatan daya serapnya, jumlah yang diserap, dan berhubungan dengan distribusi, metabolisme maupun ekskresi senyawa toksik tersebut (Mansur Alergi Alergi adalah suatu reaksi imun tubuh yang bersifat spesifk terhadap paparan suatu bahan yang dapat disebut sebagai alergen yang memiliki pengaruh berbeda pada tiap orang (Soedarto 2. Istilah alergi digunakan oleh Clemens pada tahun 1906 untuk pertama kalinya yang diartikan sebagai Aureaksi pejamu yang berubahAy apabila terpapar oleh bahan yang sama untuk kedua kalinya atau lebih (Bratawidjaja 2. Kakao Biji kakao mengandung flavonoid yang memiliki efek antioksidan yang dapat mempercepat fase inflamasi dengan cara menangkap radikal bebas dan mecegah reaksi oksidasi dengan meningkatkan aktifitas enzim Superoxide dismutase (SOD) dan glutation transferase. Selain itu, flavonoid memiliki aktivitas antiinflamasi yang bekerja menghambat fase penting dalam biosintesis prostaglandin yaitu pada lintasan siklooksigenase dan juga memiliki aktivitas antibakteri melalui hambatan fungsi gyrase bakteri sehingga kemampuan replikasi dan translasi bakteri dihambat (Hidayat 2. PEMBAHASAN Hasil penelitian, memberikan data kematian mencit yang diakibatkan oleh dosis bahan uji esktrak biji kakao dengan dosis bertingkat serta hasil pengujian alergi secara topikal pada punggung mencit. Mencit yang digunakan diaklimitasi terlebih dahulu selama 1 minggu dengan tujuan agar mencit tersebut dapat beradaptasi pada suasana laboratorium dan untuk menghilangkan stress akibat transportasi. Selama proses aklimatisasi dan pengamatan, mencit ditimbang setiap hari untuk mengetahui perubahan berat badan yang terjadi. Mencit yang digunakan pada penelitian ini merupakan mencit dewasa yang memiliki berat badan antara 20-30gram dengan usia 2-3 bulan. Hasil Uji skrining fitokimia digunakan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa yang terdapat pada ekstrak biji kakao pada (Tabel 5. memperlihatkan adanya kandungan senyawa aktif antara flavonoid dan kuinon. Namun ada perbedaan dengan penelitian yang dilakukan Indira Lanti Kayaputri, dkk . dalam hal ini selain ditemukan senyawa yang sama di atas pada penelitian ini juga ditemukan senyawa flavonoid, tanin, alkaloid dan saponin. Perbedaan hasil ini dicurigai terjadi akibat faktor geografis tanaman kakao itu tumbuh, jenis kakao, perawatan tanaman kakao serta jenis uji fitokimia yang dilaksanakan. Pada uji toksisitas akut diperlukan uji pendahuluan terlebih dahulu untuk memperoleh dosis yang tepat pada saat pengujian toksisitas utama, sehingga diperoleh dosis yang dapat membunuh separuh dari hewan uji. Pada uji pendahuluan mencit dikelompokkan menjadi 6 kelompok yang masing masing kelompok terdiri dari 1 mencit. Dosis yang digunakan yaitu 400, 800, 1600, 3200, 6400, 12800 mg/kg BB, perhitungan tersebut berdasarkan pada OECD 420 fix dose procedure. Dari hasil yang diperoleh pada uji pendahuluan, yaitu terdapat kematian pada dosis V dan VI. Pada dosis I terdapat 0% kematian, dosis II 0% kematian, dosis i 0% kematian, dosis IV 0% kematian, dosis V 100% kematian, dan dosis VI 100% kematian. Dari hasil tersebut, dosis yang digunakan pada uji toksisitas utama akan dimulai dengan dosis yang lebih rendah karena persentase kematian pada uji pendahuluan melebihi dari Dari hasil uji pendahuluan yang dimulai dari dosis 400 mg/kg BB sampai dengan 12800 mg/kg BB diatas, maka diambil keputusan untuk penggunaan dosis pada uji utama terendah yaitu sebesar 4500 mg/kg BB dan untuk menentukan dosis selanjutnya yaitu degan menggunakan selisih 1000 sampai dengan 7500 mg/kg BB. Penggunaan dosis uji utama 4500 mg/kg BB dan 5500 mg/kg BB yang mana lebih rendah dari 6400 mg/kg BB untuk menguji kembali apakah terdapat dosis yang aman diantara 3200 mg/kg BB dan 6500 mg/kg BB serta melihat apakah terjadi kerusakan pada hepar mencit yang diberi dosis berulang. Dosis 6500 mg/kg BB dan 7500 mg/kg BB digunakan untuk membuktikan kembali apakah dosis tersebut menyebabkan 100% kematian pada mencit serta melihat kondisi kerusakan hepar yang terjadi setelah diberi sediaan uji dengan dosis tinggi secara berulang. Pengamatan dilakukan selama 7 hari untuk mengetahui hewan uji yang mati dan melihat gejala toksik yang terjadi. Dalam waktu 24 jam telah terjadi kematian sebanyak 7 ekor yaitu pada dosis II sebanyak 1 mencit, dosis i sebanyak 1 mencit dan pada dosis 4 sebanyak 5 mencit. Pada hari kedua jumlah kematian mencit terjadi pada perlakuan dosis I sebanyak 3 ekor, dosis II sebanyak 2 ekor mencit dan dosis i sebanyak 4 mencit, kematian selanjutnya terjadi pada hari ke-3 pada perlakuan dosis I sebanyak 1 ekor dan dosis II sebanyak 2 ekor. Kematian terakhir terjadi pada hari ke-4 dengan perlakuan perlakuan dosis I sebanyak 1 ekor. Gejala toksik yang umum terjadi yaitu tremor, kejangkejang, lemas serta penurunan aktifitas. Sedangkan untuk mencit lainnya tetap dilakukan pengamatan hingga 7 hari. Kematian pada mencit disebabkan oleh beberapa faktor yang menjadi landasan peneliti dapat menyimpulkan penyebab dari kematian mencit yang diberikan ekstrak biji kakao yang di sonde secara oral dengan rangkaian dosis pada tiap kelompoknya. Bahan uji yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kandungan senyawa aktif seperti flavonoid dan kuinon yang sudah dilakukan banyak penelitian akan manfaat baiknya bagi suatu jaringan atau organ hidup. Seperti flavonoid yang memiliki kandungan yang serupa dengan antioksidan serta dapat melindungi struktur sel, antiinflamasi dan sebagai Akan tetapi, apabila diberikan dengan dosis besar dengan sekali pemberian di waktu yang sama pada mencit, akan menyebabkan gangguan pada tanda tanda yang vital, misalnya suhu tubuh, denyut nadi, sistem pernafasan, tekanan darah hingga kematian. Menurut Marlinda dkk . , senyawa aktif yang terdapat dalam tanaman obat hampir selalu toksik apabila diberikan dalam dosis tinggi. Semua keracunan terjadi akibat reaksi antara zat beracun dengan reseptor dalam tubuh. Pemberian oral ekstrak biji kakao menyebabkan zat aktif yang terdapat dalam ekstrak biji kakao terabsorbsi dalam saluran pencernaan kemudian mengalami proses distribusi dan metabolisme. Produk metabolisme yang bersifat toksik bekerja sebagai inhibitor enzim untuk tahap metabolisme selanjutnya. Reaksi antara zat aktif dengan reseptor dalam organ efektor menyebabkan timbulnya gejala keracunan (Katzung 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dapat ditarik kesimpulan bahwa : Pemberian ekstrak biji kakao pada dosis 4500 mg/kgBB, 5500 mg/kgBB, 6500 mg/kgBB, dan 7500 mg/kgBB memberikan efek toksik pada mencit yang menyebabkan kematian. Ektrak biji kakao tidak menyebabkan alergi . idak ada ruam dan merah Ae DAFTAR PUSTAKA